cover
Contact Name
Yohanes Krismantyo Susanta
Contact Email
yohanessusanta@gmail.com
Phone
+6281330719928
Journal Mail Official
jurnalsophia@gmail.com
Editorial Address
Jl. Poros Makale-Makassar Km. 11,5 Mengkendek, Tana Toraja
Location
Kab. tana toraja,
Sulawesi selatan
INDONESIA
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
ISSN : 27228851     EISSN : 2722886X     DOI : https://doi.org/10.34307
Sophia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani. Artikel yang dimuat dalam Jurnal Sophia merupakan hasil penelitian dari Mahasiswa, Alumni, Dosen & Para Peneliti baik dari dalam maupun luar negeri yang ingin berkontribusi di dalamnya. Tim editor akan menyeleksi artikel sebelum menyerahkannya kepada Peer Reviewer atau Mitra Bestari untuk dinilai kelayakannya, sebelum diterbitkan sesuai dengan ketentuan yang ada. Fokus dan ruang lingkup Jurnal Sophia: Manajemen Pendidikan Kristen Teologi Biblika Injil & Kebudayaan / Teologi Kontekstual Agama & Masyarakat Teologi Praktika Studi Agama
Articles 51 Documents
WAHYU DALAM ALUK MAPPURONDO: Studi Cross-Textual Reading terhadap Kisah Masuknya Injil di Buntu Malangka’ dan Kisah Kornelius sebagai Kritik Terhadap Label To Malillim Saputra, Jefri Andri
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 3 No. 2 (2022): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v3i2.102

Abstract

Abstract: “Wahyu dalam Aluk Mappurondo” is the author's critique which is motivated by concern about the stereotypes that develop among Christians against Aluk Mappurondo. The stereotype in question is the label "to malillim", which literally means "people who are in the dark". This label is used to distinguish Christians from Aluk Mappurondo adherents. In this paper, the author identifies the label attached to Aluk Mappurondo as a Christian error in understanding God's work in other religions. To prove this error, the author examines the story of the development of the Bible in Buntu Malangka' and also the story of Cornelius (Acts 10:1-48). Both of these texts tell about the work or revelation of God that occurs in religions outside of Christianity. The approach used is cross-textual reading. At the end of this paper, the author finds that the story of the arrival of the Gospel in Buntu Malangka and the story of Cornelius indicates that religions other than Christianity also receive revelations from God, and are able to guide them towards God's plan. This conclusion confirms that the stereotype that regards Aluk Mappurondo as To Malilim is a wrong assumption. Abstrak: “Wahyu dalam Aluk Mappurondo” adalah kritik penulis yang dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap stereotip yang berkembang dikalangan penganut agama Kristen terhadap Aluk Mappurondo. Stereotip yang dimaksud adalah label “to malillim”, yang secara harafiah diartikan sebagai “orang yang berada di dalam kegelapan”. Label ini digunakan untuk membedakan  orang Kristen dengan penganut Aluk Mappurondo. Dalam tulisan ini, penulis mengidentifikasi label yang disematkan pada Aluk Mappurondo sebagai sebuah kekeliruan kekristenan memahami karya Allah dalam agama lain. Untuk membuktikan kekeliruan tersebut, penulis mengkaji kisah perkembangan Injil di Buntu Malangka’ dan juga kisah Kornelius (Kis. 10:1-48). Kedua teks ini mengisahkan tentang pekerjaan atau wahyu Allah yang terjadi dalam agama di luar kekristenan. Pendekatan yang digunakan adalah cross-textual reading. Di akhir tulisan ini, penulis menemukan bahwa baik kisah masuknya Injil di Buntu Malangka’ maupun kisah Kornelius, mengindikasikan bahwa agama di luar Kristen juga menerima wahyu dari Allah, dan mampu menuntun mereka sampai kepada rencana Allah. Kesimpulan ini menegaskan bahwa stereotip yang menganggap Aluk Mappurondo sebagai To Malillim adalah asumsi yang keliru.
Menyoal Panggilan Yunus: Suatu Pembacaan Interkultural Terhadap Yunus 1-4: Sriyuni, Sriyuni
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 4 No. 1 (2023): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v4i1.139

Abstract

"Regarding the Call of Jonah" is a simple study conducted by the author on two Christian groups from different ethnic backgrounds in interpreting the text of Jonah. The ethnic groups referred to here are the Torajanese and Ambonese. In this study, the author employed intercultural hermeneutics as a method to observe how both groups understand the text of Jonah based on their backgrounds as Ambonese and Torajanese individuals as theology students. Through this method, the author also aimed to examine the extent to which intercultural readings could be conducted with these two groups, as well as the transformations that could be achieved through intercultural interpretation. The study found that both the Torajanese and Ambonese groups had interpretations of the text influenced by their specific theological education and ethnic background as readers. Although the intercultural readings were still relatively simple, they were considered favorable, as evidenced by the exchange of interpretations that solidified each group's understanding and the acquisition of new perspectives. Thus, the study's transformation was achieved through a positive response to the readings of the other group. “Menyoal Panggilan Yunus” merupakan penelitian sederhana penulis terhadap 2 kelompok Kristen dengan latar belakang suku yang berbeda dalam membaca teks Yunus. Suku yang dimaksud di sini adalah suku Toraja dan Ambon.  Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode hermeneutik interkultural untuk melihat bagaimana kedua kelompok memahami teks Yunus berdasarkan latar belakang mereka sebagai orang Ambon dan orang Toraja yang merupakan pelajar Teologi. Melalui metode ini penulis juga mau melihat sejauh mana pembacaan interkultural dapat dilakukan terhadap dua kelompok ini serta transformasi seperti apa yang diperoleh melalui pembacaan interkultural. Dalam penelitian ini diperoleh bahwa baik kelompok Toraja maupun Ambon memiliki pemahaman terhadap teks yang dipengaruhi oleh latar belakang mereka sebagai individu yang belajar teologi secara khusus serta suku pembaca. Pembacaan interkultural yang dilakukan walaupun masih sangat sederhana namun sudah termasuk kategori baik yang nampak dari hasil pertukaran pembacaan yang membuat masing-masing kelompok merasa diteguhkan dengan adanya pembacaan dari kelompok lain serta adanya perspektif baru yang diperoleh. Dengan demikian tranformasi dalam penelitian dapat tercapai melalui respon positif terhadap hasil pembacaan kelompok lain.
Persoalan Etis Dalam Menyikapi Kematian Ternak Babi di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur Dikaji Dari Teori Etika Lingkungan Ibu, Akwila Priska; Nendissa, Julio
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 4 No. 1 (2023): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v4i1.166

Abstract

This paper aims to explain and analyze the problems that occur in Kupang City, namely about ethical issues in responding to the death of pigs. As for the background of the community in Kupang City, East Nusa Tenggara. East Nusa Tenggara is one of Indonesia's provinces with the highest pig population. The incident in early 2020 was the African Swine Fever (ASF) virus that hit pigs on the island of Timor. This caused thousands of pigs to die in succession. The city of Kupang is also one of the places where the ASF virus in pigs is affected. In response to this incident, some of them, the farmers took action by disposing of pig carcasses in several places such as garbage dumps, beaches, and around public roads. This becomes an issue related to ethical issues. This problem will not stop if each individual sticks with their thinking that they don't care about other life in the universe. The results of the study show that people already know ethical things that also care about life in the universe based on their notifications or understanding. However, they are with their minds that are still focused on themselves and seem eager to fulfill and achieve life's needs by prioritizing their personal life. Thus, the community needs more insight into the problems of ecocentrism and biocentrism in their lives. So that the cleanliness and preservation of the environment can be arranged and become a healthy environment for both humans and all creatures in nature. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan dan menganalisis permasalahan yang terjadi di Kota Kupang yaitu tentang masalah etika dalam menyikapi kematian babi. Kejadian di awal tahun 2020 ini adalah virus African Swine Fever (ASF) yang menyerang babi di Pulau Timor tepatnya di Kota Kupang. Adapun latar belakang masyarakat di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Dimana Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu provinsi dengan populasi babi tertinggi di Indonesia. Ini menyebabkan ribuan babi mati berturut-turut. Kota Kupang juga menjadi salah satu tempat yang terjangkit virus ASF pada babi. Menanggapi kejadian tersebut, beberapa di antaranya, para peternak mengambil tindakan dengan membuang bangkai babi di beberapa tempat seperti tempat pembuangan sampah, pantai, dan sekitar jalan umum. Hal ini menjadi isu yang berkaitan dengan isu etika. Masalah ini tidak akan berhenti jika masing-masing individu tetap pada pemikirannya bahwa mereka tidak peduli dengan kehidupan lain di alam semesta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manusia sudah mengetahui hal-hal etis yang juga peduli terhadap kehidupan di alam semesta berdasarkan pemberitahuan atau pemahamannya. Namun, mereka dengan pikirannya yang masih terfokus pada diri sendiri dan tampak bersemangat untuk memenuhi dan mencapai kebutuhan hidup dengan mengutamakan kehidupan pribadinya. Dengan demikian, masyarakat perlu diberikan wawasan yang lebih dalam tentang permasalahan ekosentrisme dan biosentrisme dalam kehidupannya. Sehingga kebersihan dan kelestarian lingkungan dapat tertata dan menjadi lingkungan yang sehat bagi manusia dan seluruh makhluk di alam.
Penginjilan Melalui Youtube Studio Sentosa Yayasan Pelayanan Pekabaran Injil Indonesian (YPPII Batu), Malang, Jawa Timur Sufratman, Sufratman; Fahrinadi, Mohamad Dary
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 4 No. 1 (2023): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v4i1.138

Abstract

This research aims to analyze the implementation of evangelism through Youtube channels, especially on the Studio Sentosa Youtube channel initiated by the Indonesian Missionary Foundation (YPPII Batu), Malang, East Java especially in the era of the Covid-19 pandemic. As a field research, this study uses descriptive method. The result is that the Studio Sentosa Youtube channel initiated by YPPII Batu, Malang, East Java, presents eight evangelistic segments as its flagship program namely; Life is Beautiful, Talking About The Way of Life (BIJAK), Prayer and Worship Night Coffee Life, Millennial Stories of Young People (CEMILAN), Multigenerational Service, Bible Kids Gallery (GBK), and Revival Night. These eight excellent programs are broadcasted live by Indonesian Missionary Foundation (YPPII Batu), Malang, East Java through the Studio Sentosa Youtube channel regularly and consistently. Therefore, for Indonesian Missionary Foundation (YPPII Batu), Malang, East Java, considers that the Studio Sentosa Youtube channel is the right alternative virtual evangelism media in supporting the spiritual needs of the Christian congregation, especially in the era of the Covid-19 pandemic. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan penginjilan melalui channel Youtube, khususnya pada channel Youtube Studio Sentosa yang diinisiasi oleh Yayasan Pelayanan Pekabaran Injil Indonesia (YPPII Batu), Malang, Jawa Timur khususnya pada era pandemi Covid-19. Sebagai sebuah kajian lapangan, penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Hasilnya bahwa channel Youtube Studio Sentosa yang diinisiasi oleh YPPII Batu, Malang Jawa Timur, menyajikan delapan segmen penginjilan sebagai program unggulannya yaitu; Life is Beautiful, Bincang-bincang Jalan Kehidupan (BIJAK), Prayer and Worship Night, Coffe Life, Cerita Milenial Anak Muda (CEMILAN), Kebaktian Multigenerasi, Galeri Bible Kids (GBK), dan Revival Night. Delapan program unggulan ini disiarkan secara langsung (Live Streaming) oleh YPPII melalui channel Youtube Studio Sentosa secara teratur dan konsisten. Karena itu, bagi YPPII Batu, Malang, Jawa Timur, menganggap bahwa channel Youtube Studio Sentosa merupakan media penginjilan virtual alternatif yang tepat dalam menunjang kebutuhan rohani jemaat umat kristiani, khususnya pada era pandemi Covid-19.
Komunikasi Injil Lintas Budaya Mengenai Roh Kudus dalam Tradisi Ari-ari pada Masyarakat Jawa di Surakarta Lukmono, Irawan Budi; Nelwan, Richard Leonardo Arnic
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 4 No. 2 (2023): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v4i2.152

Abstract

The aim of this research is to find the communication of the gospel regarding the Holy Spirit in the ari-ari tradition in Javanese society. This research uses a qualitative approach with phenomenological methods. In this research, the data aggregation technique used by researchers is a literature study or written document review. The result of this research is the communication of the gospel regarding the Holy Spirit (local pneumatology) in the ari-ari tradition in the Javanese community in Surakarta.
Pemahaman GMIT dalam Pokok – Pokok Eklesiologi Gereja Masehi Injili di Timor (PPE GMIT) tentang Budaya Lokal, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berdasarkan Perspektif Glokalisasi Nayuf, Henderikus
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 4 No. 1 (2023): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v4i1.153

Abstract

This paper focuses on the effort to interpret the relationship between the Evangelical Church of Timor (Gereja Masehi Injili di Timor – GMIT) and local culture, as well as GMIT and science and technology within the Ecclesiology Principles of GMIT. The aim is to understand and interpret the relationship between GMIT and culture, as well as GMIT's position in interpreting the advancements of science and technology, which are tangibly experienced through the force of globalization. This paper adopts a qualitative method with a phenomenological approach. This approach is used to comprehend how GMIT is confronted with both the force of globalization and the strengthening of local wisdom values within the GMIT region. The phenomenon of interest is whether GMIT rejects local and global cultures or accepts both and elaborates them as instruments of service. The conclusion drawn is that in order to interpret these two forces consciously adopted as foundations in the endeavors of GMIT through the Ecclesiology Principles, a new perspective is needed, namely "glocalization." This perspective pays attention to both forces, being open to globalization while simultaneously not neglecting local culture. Both must be combined as instruments of service within GMIT. Tulisan ini difokuskan pada upaya memaknai relasi Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) dan budaya lokal serta GMIT dan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam Pokok-pokok Eklesiologi GMIT.Tujuannya adalah agar memahami serta memaknai relasi GMIT dan budaya serta posisi GMIT dalam memaknai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang secara konkrit penetrasinya dirasakan melalui kekuatan globalisasi. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pendekatan ini digunakan untuk memahami GMIT yang diperhadapkan pada dua hal sekaligus yakni kekuatan globalisasi sekaligus menguatnya nilai-nilai kearifan lokal dalam wilayah GMIT. Fenomena yang diberi perhatian adalah apakah GMIT menolak budaya lokal dan budaya global? Atau menerima keduanya lalu mengelaborasinya sebagai instrument pelayanan? Kesimpulan yang diambil adalah dalam rangka memaknai kedua kekuatan yang secara sadar dijadikan sebagai fondasi dalam kiprah GMIT melalui Pokok – Pokok Eklesiologi, maka perlu perspektif baru, yakni glokalisasi. Perspektif ini memberi perhatian pada dua kekuatan tersebut, yakni terbuka terhadap globalisasi tetapi pada saat yang sama tidak boleh mengabaikan budaya lokal. Keduanya mesti dipadukan sebagai instrument dalam pelayanan GMIT.
Muatan Pengembangan Sikap Pluralisme Agama dalam Buku Pendidikan Agama Katolik Kelas 12 Kurikulum 2013 Widyawati, Fransiska; Bule, Oswaldus
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 5 No. 1 (2024): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v5i1.192

Abstract

Intolerance, radicalism, and violence towards groups with divergent ideas continue to be a concerning issue in Indonesia. One reason is that the religious education paradigm offered does not promote a mindset of religious pluralism. This study aims to examine the substance of religious pluralism education in Catholic Religious Education (PAK) designed for Senior High School (SMA/SMK) students following the 2013 Curriculum. This study employs a qualitative methodology, utilizing text analysis techniques. This study discovered that using PAK content significantly contributes to cultivating a religiously pluralistic mindset among students. The pluralistic content in the resources, objectives, competencies, procedures, and tasks for students enhances and reinforces the students' pluralist nature. If PAK is effectively developed, pupils have the potential to become individuals who embrace pluralism, engage in dialogue, and possess an open mindset. Intoleransi, radikalisme dan kekerasan terhadap kelompok yang memiliki keyakinan berbeda masih menjadi masalah memprihatinkan di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah karena model pendidikan agama yang diberikan tidak mendukung sikap pluralisme beragama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis muatan edukasi pluralisme beragama dalam Materi Pendidikan Agama Katolik (PAK) bagi siswa SMA/SMK Kurikulum 2013. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis teks. Penelitian ini menemukan bahwa materi PAK memiliki edukasi yang kuat untuk membentuk sikap pluralisme agama bagi siswa. Hal ini ditemukan dalam materi, tujuan, kompetensi, proses dan penugasan bagi para siswa yang mengandung muatan pluralisme dan memperkuat karakter siswa yang pluralis. Jika PAK dikembangkan dengan baik maka siswa dapat menjadi insan yang pluralis, dialogal dan terbuka.
Teologi Bambu: Menemukan Makna Bambu Dengan Pendekatan Mimetik Terhadap Sastra Untuk Merumuskan Konsep Berteologi Ramah Lingkungan di Toraja Harun, Harun
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 5 No. 1 (2024): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v5i1.205

Abstract

This research aims to formulate a concept of environmentally friendly theology in Toraja. Through a mimetic approach, it was found that bamboo has an essential meaning for the Toraja people but receives little attention. Bamboo is used excessively in implementing the Rambu Solo' and Rambu Tuka' ceremonies due to the Torajan people's lack of understanding of the meaning of bamboo in everyday life. To find the meaning of bamboo and provide a comprehensive understanding, the author uses a mimetic approach to Toraja literature to create a bamboo theology. In this context, bamboo theology appears as a theological concept that wants to tell the story of who God is for the Toraja people: who is present, works, protects, and nurtures through His creation. Bamboo theology was born from the Toraja people's understanding of the importance of bamboo in their entire life journey as part of the community on earth. Bamboo theology is a bridge to see God's creation (humans, animals, and plants) as God's partners in caring for and preserving the universe. Tujuan penelitian ini adalah untuk merumuskan konsep berteologi yang ramah lingkungan di Toraja. Melalui pendekatan mimetik ditemukan bahwa bambu memiliki makna penting bagi masyarakat Toraja, tetapi kurang diperhatikan. Bambu dipergunakan secara berlebihan dalam pelaksanaan upacara rambu solo’ dan rambu tuka’, karena kurangnya pemahaman masyarakat Toraja tentang makna bambu dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menemukan makna bambu dan memberi pemahaman yang komprehensif, penulis menggunakan pendekatan mimetik terhadap sastra Toraja sebagai upaya melahirkan teologi bambu. Teologi bambu dalam konteks ini, hadir sebagai konsep teologi yang mau menceritakan siapa Allah bagi masyarakat Toraja yang secara nyata telah hadir, berkarya, melindungi, dan memelihara melalui ciptaanNya. Teologi bambu lahir dari pemaknaan masyarakat Toraja terhadap arti penting bambu dalam seluruh perjalanan hidup mereka sebagai bagian dari komunitas masyarakat di bumi. Teologi bambu menjadi jembatan untuk melihat seluruh ciptaan Allah (manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan) sebagai mitra kerja Allah dalam merawat dan melestarikan alam semesta ini.
Pendekatan Sintesis Narasi Sabat Tanah dan Tradisi Ma’pebulam serta Implementasinya Bagi Penanganan Krisis Ekologi Tanah dan Air Sucipto, Jimmy
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 5 No. 1 (2024): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v5i1.216

Abstract

From this research, it was found that ecological crises, especially soil and water, can be prevented by providing space for soil and water to "breathe or rest for a while" and interpreting the word rest with postulates of the consequences that can be caused. The Mamasan people  understanding of the ma’pebulam tradition can be interpreted in a new understanding as God's way of playing the role of man in His care and resting His ecological creation through a mandate for humans as empowerment partners. From this research, it was found that ecological crisis that occurs to land and water can be prevented by providing an understanding that land and water must be given enough rest time for them to renew themselves, followed by a description of the consequences as a complement so that there is full attention to it. The ma’pebulam tradition emphasizes the importance of mystical matters that build community beliefs with consequences if they are not followed and the land sabbath as a 'commandment of God', followed by implications if it is not obeyed. The assertion of 'consequences' will allow space for mindfulness of the need for the land and water to 'breathe' or rest. Penelitian ini bertujuan memberikan sumbangsi dalam menciptakan keadilan ekologi dalam hal penanganan krisis tanah dan air, serta memberikan pemahaman baru terhadap masyarakat Mamasa mengenai tradisi ma’ pebulam. Metode penelitian yang digunakan adalah model teologi kontekstual yakni sintesis yang diperkenalkan oleh Stephen B. Bevans. Metode ini dilakukan dengan cara, penyusunan kembali elemen-elemen, penekanan pada kesamaan, atau bahkan penciptaan kerangka kerja teologis yang baru yang mencangkup bagian yang didialogkan tersebut. Dari penelitian ini ditemukan bahwa Krisis ekologis yang terjadi terhadap tanah dan air dapat dicegah dengan memberikan pemahaman bahwa tanah dan air harus diberikan waktu istirahat yang cukup baginya untuk memperbaharui “diri” namun diikuti dengan pemaparan akibat yang ditimbulkan sebagai pelengkap agar ada perhatian penuh terhadap hal tersebut. Tradisi ma’pebulam menegaskan betapa pentingnya hal-hal mistik yang membangun kepercayaan masyarakat dengan akibat jika tidak mengikutinya serta sabat tanah sebagai perintah Tuhan, yang juga diikuti akibat Ketika hal itu tidak dipatuhi. Penyataan akibat akan memberikan ruang untuk perhatian penuh bagi perlunya tanah dan air “bernapas sejenak” atau beristirahat.
Analisis Konsep Iman dan Pengorbanan Abraham dalam Film His Only Son Setiawan, Yohanes
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 5 No. 1 (2024): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v5i1.228

Abstract

This article aims to analyze the concept of Abraham's faith and sacrifice from the perspective of Christian faith through the dialogue between Abraham and other characters in the film His Only Son. This research uses a descriptive-qualitative approach with Mikhail Bakhtin's dialogical semiotic analysis. The results of the study show that the use of Bakhtin's dialogical analysis in this film enriches the narrative by presenting various emotional and intellectual perspectives through polyphony, heteroglossia, and carnivalesque that display the complexity of dialogue between characters and deepen the understanding of internal and external conflicts. Sacrificing Isaac (his son) in His Only Son shows a significant shift in power by transcending traditional fatherly authority to obey God's command. It shows Abraham's true faith and full trust in God. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis tentang konsep iman dan pengorbanan Abraham dari perspektif iman Kristen melalui dialog antara Abraham dengan karakter-karakter lain yang ada di dalam film His Only Son. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dengan analisis semiotika dialogis Mikhail Bakhtin. Hasil analisis menunjukkan penggunaan analisis dialogis Bakhtin dalam film ini memperkaya narasi dengan menghadirkan beragam perspektif emosional dan intelektual melalui polifoni, heteroglossia, dan carnivalesque yang menampilkan kompleksitas dialog antar karakter serta memperdalam pemahaman tentang konflik internal maupun eksternal. Tindakan mengorbankan Ishak (anaknya) dalam film His Only Son menunjukkan pergeseran kekuasaan yang signifikan dengan melampaui otoritas tradisional kebapakan untuk taat pada perintah Tuhan. Hal tersebut menunjukkan iman sejati dan kepercayaan penuh Abraham pada Tuhan.