cover
Contact Name
Obing Katubi
Contact Email
jurnalmasyarakati@gmail.com
Phone
+6281319021904
Journal Mail Official
jurnalmasyarakati@gmail.com
Editorial Address
Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK)-LIPI Gedung Widya Graha Lantai 9, Jalan Gatot Subroto Nomor 10 Jakarta Selatan.
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Masyarakat Indonesia
ISSN : 01259989     EISSN : 25025694     DOI : https://doi.org/10.14203/jmi.v44i2
Artikel yang dimuat dalam Jurnal Masyarakat Indonesia dapat berbasis hasil penelitian maupun pemikiran, dengan fokus bahasan yang berkaitan dengan perihal masyarakat Indonesia. Tiap terbitan memiliki tema yang berbeda-beda dan dapat ditelaah dari berbagai disiplin ilmu berdasar sudut pandang keahlian penulis. Jurnal Masyarakat Indonesia mengutamakan tulisan tentang isu dan tantangan yang dihadapi masyarakat Indonesia yang dikaji dari berbagai sudut pandang ilmu-ilmu sosial kemanusiaan. Artikel yang dikirim ke Jurnal Masyarakat Indonesia, dapat ditulis, baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Inggris. Isi Jurnal Masyarakat Indonesia meliputi artikel ilmiah, ringkasan disertasi, dan review buku-buku terbaru dalam bentuk artikel.
Articles 268 Documents
Stakeholder Engagement for Rebuilding Tourism A Risdawati AP; Dian Karinawati Imron; Adelia Oktarina; Muhammad Fazri; Cita Pertiwi; Febrina Elia Nababan; Marthella Rivera Roidatua
Masyarakat Indonesia Vol 48, No 2 (2022): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v48i2.1243

Abstract

The impact of the pandemic on the tourism sector had led to the paralyzed activities of people who depend on tourism. Bali communities with their tourism strength display how their skills that linked to tourism were challenged by the pandemic situation. Their capabilities in the service sector were not sufficient to overcome the challenges. Initiations arisen from community networks to solve the problems have been conducted through upskilling. A learning community adapts and improves the skills that need to be mastered in the new tourism era.This article aims to analyze how community networks encourage upskilling as a solution through a stakeholder engagement approach employingcase studies as the analytical method. Authors conducted  research of the existing issues and found patterns from examples of villages that carried out upskilling activities. Findings show that the stakeholders engagement approach starts from the stakeholders mapping and they have roles in generating partnership action strategy. In addition, such activities enhance the awareness of the significant roles of stakeholders who are directly involved in those communities actions.
AGAMA DAN KEPERCAYAAN MINORITAS SUKU ANAK DALAM (SAD) JAMBI Muhammad Nur Prabowo Setyabudi
Masyarakat Indonesia Vol 47, No 2 (2021): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v47i2.1046

Abstract

Kehidupan Suku Anak Dalam di Provinsi Jambi Pulau Sumatra tak dapat dipisahkan dari hutan. Namun rusaknya infrastruktur ekologi kini mengancam eksistensi superstruktur yang lain; tidak hanya mengancam eksistensi komunitas masyarakat adatnya, tetapi juga kepercayaannya. Selama ini sistem-kepercayaan Suku Anak Dalam sangat terikat dengan sistem-ekologi. Rusaknya hutan berarti rusaknya sebuah pandangan hidup, sistem, dan tradisi kepercayaan Suku Anak Dalam yang telah dipertahankan berabad-abad. Suku Anak Dalam dengan sistem kepercayaannya akhirnya menjadi minoritas yang paling rentan di Indonesia yang selalu mengalami posisi dilematis di hadapan agama dan budaya mayoritas non-SAD yang lebih superior. Rekognisi terhadap agama lokal di Indonesia semestinya menjadi titik pijak untuk mengurai dilema minoritas Suku Anak Dalam. Stigma “non-religius” yang dilekatkan kepada mereka sebagai minoritas juga tidak berdasar, sebab pada kenyataannya mereka memiliki sistem-keyakinan berupa kepercayaan leluhur yang telah diakui dalam politik agama di Indonesia. Ke depan, diperlukan perubahan menuju pada sikap dan kebijakan yang lebih inklusif, toleran, dan adil, serta menghargai kebebasan beragama bagi kelompok minoritas Suku Anak Dalam dengan segala perbedaan karakteristik agama dan budayanya. The life of the Anak Dalam tribe in Jambi province of Sumatra island is closely tied with the forest. However, the destruction of basic ecological infrastructure currently threatens the existence of other superstructures; Not only threatens the existence of indigenous communities, but also their beliefs. So far, the belief system of the Anak Dalam tribe is closely tied to the ecological system. The destruction of the forest means destruction of the way of life, system, and belief traditions of the Anak Dalam tribe that has been existed for centuries. With their belief system, the Anak Dalam tribe eventually become the most vulnerable minority in Indonesia, who always experience a dilemmatic position in front of the religion and culture of the non-SAD superior majority. Recognition of local religions in Indonesia should be a starting point to resolve the dilemma of the Anak Dalam tribe minority. The "non-religious" stigma attached to them as a minority is also unacceptable, because they have a belief system in the form of ancestral beliefs that have been recognized in the politics of religion in Indonesia. A change is needed towards a more tolerant attitude and fairer policies, and respecting religious freedom for the Anak Dalam minority group with the whole different religious and cultural characteristics.
REFLEKSI DUA PULUH TAHUN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI TANAH PAPUA (2001-2021) Anggi Afriansyah
Masyarakat Indonesia Vol 48, No 1 (2022): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v48i1.1170

Abstract

Pasca terbit Undang-Undang No. 21 Tahun 2001 mengenai Otonomi khusus bagi Provinsi Papua, pembangunan  pendidikan masih menghadapi berbagai situasi problematik dan kompleks. Situasi tersebut menyebabkan anak-anak Papua belum mendapatkan hak yang utuh untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu dan berkualitas, pendidikan yang responsif terhadap kondisi geografis, demografis, sosial, dan budaya. Dalam artikel ini, saya berargumen bahwa pendidikan sebagai bagian dari hak asasi manusia dan janji pencerdasan bagi anak-anak bangsa belum sepenuhnya ditunaikan di Tanah Papua. Hal tersebut tampak dari implementasi kebijakan yang belum memberi prioritas kepada peningkatan kapasitas dan berpihak kepada orang asli papua.  Artikel ini bertujuan untuk, pertama, memaparkan janji pendidikan di masa otonomi khusus.  Kedua, ketimpangan antara amanat kebijakan pendidikan dan implementasi kebijakan di masa otonomi khusus. Dan ketiga, imaji manusia papua masa depan melalui konstruksi pendidikan. Berdasar ketiga tujuan tersebut artikel ini berupaya untuk memaparkan refleksi dua puluh tahun Pembangunan pendidikan di Tanah Papua.
MIGRASI DI KAWASAN LAUT SAWU: DARI PERAHU TERDAMPAR HINGGA MANUSIA TERSERET ARUS Rahmat Saleh, S.Sos.
Masyarakat Indonesia Vol 47, No 2 (2021): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v47i2.1204

Abstract

Didik Pradjoko, seorang ahli sejarah dari Universitas Indonesia, dapat dikatakan telah berhasil memberikan kontribusi analisisnya dalam kajian sejarah migrasi di suatu wilayah laut di kawasan Indonesia timur, tepatnya di kawasan Laut Sawu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui perspektif sosio-historis, Pradjoko menyajikan runut proses migrasi para pendatang di kawasan itu dan interaksi mereka, baik dengan penduduk asli maupun dengan sesama pendatang lainnya, sehingga terjadi integrasi penduduk. Dalam bukunya, Pradjoko secara tegas berpijak pada suatu hipotesis bahwa laut dapat “menyatukan” wilayah-wilayah daratan melalui aktivitas pergerakan manusia yang menjadikan laut sebagai jalur transportasi dan perdagangan.Setidaknya terdapat dua hal yang membuat buku ini menarik. Pertama buku ini bercerita tentang asal-usul nenek moyang masyarakat di kawasan Laut Sawu, baik itu yang berasal dari sekitar kepulauan NTT maupun wilayah yang jauh seperti Maluku, Sulawesi, Majapahit, Semenanjung Tanah Melayu, dan negeri Cina. Kedua, buku ini juga mengungkapkan praktik-praktik budaya maritim dari kehidupan masyarakat tersebut yang masih bertahan hingga saat ini.
The Undeclared, Declassified: West New Guinea and the 1969 Act of Free Choice Greg Poulgrain
Masyarakat Indonesia Vol 48, No 1 (2022): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v48i1.1185

Abstract

This article deals with the ‘Act of Free Choice’ (AFC/Pepera) whereby Indonesia officially took control of West New Guinea under the auspices of the United Nations (UN).  The event itself took place in 1969 as preordained in the terms of the New York Agreement of August 1962 drawn up by US diplomat, Ellsworth Bunker. In both the 1962 Agreement and the 1969 AFC, Adam Malik was the principal Indonesian participant; and in both, according to his 1969 Report, the role of the UN was really no more than a bystander. Yet it was the authority of the UN which ultimately provided approval of Indonesian sovereignty as the outcome of the AFC. How this came about is evident from a close inspection of US declassified telegrams from 1966-1999. Two principal questions arise: the first pertains to the motivation of the various US diplomats involved, such as Bunker, Marshall Green (US Ambassador to Indonesia 1965-69) and Henry Kissinger, who were linked to Rockefeller mining interests focused on gaining access to the world’s largest gold mine in West New Guinea; and the second pertains to the rights of the Papuan people as the inhabitants of the territory in question. In the written words and opinions of the persons who were actually involved in the preparation and execution of the AFC/Pepera, there is often no compunction in disregarding UN principles, and yet there is a willingness, when it suits, to utilize UN authority as the arbiter of international justice.
Pemulihan Pascapandemi COVID-19 dari Perspektif Ilmu Sosial Kemanusiaan Yuliana .
Masyarakat Indonesia Vol 48, No 2 (2022): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v48i2.943

Abstract

Pandemi COVID-19 has been more than one year. The COVID-19 pandemic attacks more than 200 countries in the world. Although the vaccine has been developed, it is not known when the COVID-19 pandemic will be ended. The COVID-19 infection might become endemic and it is always there. This paper aims to describe how to restore the condition after the COVID-19 pandemic from the humaniora aspect. This article is a literature review, by searching from PubMed and Google Scholar. The conclusion is to restore the condition after the COVID-19 pandemic, economic, physical, and mental health must be developed. It must be accompanied by the growth in educational sector, giving scholarship, building infrastructures, and researches collaborations at domestic and international area.Keywords: COVID-19, pemulihan, sosial kemanusiaanABSTRAKPandemi COVID-19 telah berlangsung lebih dari setahun. Pandemi ini menyerang lebih dari 200 negara di dunia. Walaupun vaksin sudah ditemukan, belum diketahui kapan pandemic COVID-19 ini akan berakhir. Mungkin juga COVID-19 hanya menjadi endemi dan terus ada. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana pemulihan pascapandemi COVID-19 terutama dari segi sosial kemanusiaan. Artikel ini merupakan tinjauan pustaka dengan mencari studi literatur dari PubMed dan Google Scholar. Kesimpulan yang didapat adalah untuk memulihkan keadaan pada pascapandemi COVID-19 maka yang perlu diperhatikan adalah segi ekonomi dan kesehatan fisik maupun mental. Pemulihan ini juga harus diikuti dengan peningkatan kemajuan di bidang pendidikan, beasiswa, transportasi, dan kerjasama penelitian di dalam maupun luar negeri.Kata kunci: COVID-19, humaniora, restoration
Identifikasi Status Vitalitas Bahasa Mentawai Dialek Sipora Pagai di Kabupaten Kepulauan Mentawai Satwiko Budiono; Rita Novita
Masyarakat Indonesia Vol 47, No 2 (2021): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v47i2.1110

Abstract

Penggunaan bahasa dalam masyarakat mengalami perubahan sesuai perkembangan zaman. Perubahan penggunaan bahasa dapat bersifat positif maupun negatif. Perubahan bersifat positif apabila sikap masyarakat mengalami peningkatan terhadap penggunaan bahasanya. Sebaliknya, perubahan bersifat negatif apabila sikap masyarakat mengalami penurunan terhadap penggunaan bahasanya. Hal ini menjadi penting karena bahasa dapat dijadikan sebagai penanda identitas dan jati diri suatu kelompok. Dalam hal ini, penggunaan bahasa Mentawai perlu dilihat status vitalitasnya sebagai langkah awal mengidentifikasi penggunaan bahasanya mengarah ke hal positif atau negatif. Maka dari itu, penelitian ini berusaha menentukan status vitalitas bahasa Mentawai, khususnya dialek Sipora Pagai. Hal ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi penggunaan bahasa Mentawai dialek Sipora Pagai dalam masyarakat. Metode penelitian menggunakan metode kuantitatif berupa penghitungan indeks vitalitas dan metode kualitatif berupa analisis dari observasi partisipatoris. Daftar pertanyaan menggunakan kuesioner tertutup sesuai dengan sepuluh indikator vitalitas bahasa dari UNESCO. Responden penelitian sebanyak 120 orang yang terdiri atas kelompok usia <20 tahun, 20—39 tahun, 40—59 tahun, dan >60 tahun dengan proporsi laki-laki dan perempuan seimbang setiap kelompoknya. Penelitian dilakukan di tiga desa penutur bahasa Mentawai dialek Sipora Pagai, yaitu Desa Sioban, Makalo, dan Taikako. Hasilnya, status vitalitas bahasa Mentawai dialek Sipora Pagai adalah mengalami kemunduran dengan perolehan indeks sebesar 0,48. Dari hasil tersebut, dapat diketahui bahwa bahasa Mentawai dialek Sipora Pagai memiliki keunggulan dalam indikator pewarisan bahasa antargenerasi. Sementara itu, bahasa dialek Sipora Pagai memiliki kelemahan dalam indikator ketersediaan bahan ajar dan literasi, serta jenis dan kualitas dokumentasi bahasa.
NARASI DIALOG DAMAI PAPUA-JAKARTA DALAM BINGKAI KETAHANAN NASIONAL DAN IMPLEMENTASINYA Rezya Agnesica Helena Sihaloho
Masyarakat Indonesia Vol 48, No 1 (2022): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v48i1.1184

Abstract

Ketahanan nasional menjadi bentuk upaya suatu negara untuk mengatasi ancaman, hambatan serta tantangan dalam memperjuangkan kepentingan nasional. Hal itu sejalan dengan bagaimana upaya Indonesia dalam menghadapi isu Papua. Keamanan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ketahanan nasional suatu bangsa begitupun persoalan mengenai Papua yang juga turut memberikan pengaruh dalam ketahanan nasional. Meskipun di setiap pemerintahan telah merespons hal tersebut dengan berbagai cara seperti kebijakan pemerintah yang menyasar militerisasi, ekonomi, dan pembangunan. Namun, hanya di pemerintahan Gusdur yang menunjukkan kebijakan pemerintah dapat menurunkan eskalasi konflik yang masih berlangsung hingga saat ini. Sehingga muncul narasi dialog damai papua di era pemerintahan Presiden Jokowi untuk secara langsung berinteraksi dengan Orang Asli Papua (OAP). Melalui artikel ini penulis akan mengkaji narasi dialog damai Papua-Jakarta dalam Bingkai Ketahanan Nasional dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik studi pustaka dan tinjauan historis untuk mengkaji Narasi dialog damai dan implementasinya. Temuan dari tulisan ini melihat bahwa narasi dialog hanya sebatas wacana dan belum dapat direalisasikan karena konsep dialog belum jelas terlihat.
Covid-19 Pandemic in Indonesia: A Critique for Humanitarian Intervention Irin Oktafiani
Masyarakat Indonesia Vol 48, No 2 (2022): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v48i2.1237

Abstract

The Covid-19 pandemic challenged countries worldwide to overcome the complex crisis and resulting in every country’s had to create humanitarian interventions to protect its the citizens. This study paper aims to examine whether Indonesia’s government intervention at the beginning of the pandemic was unsuccessful and gained some issues over it. This study analyses Indonesia’s initial regulations during the pandemic in some news and how the interventions at the beginning of the pandemic were full of blunders in four ways. First is, to explain that the regulation made by Indonesia’s government was not prioritising the most vulnerable groups who was most vulnerable. Second, the blunders in the national media and lack of coordinations to spread the crisis awareness of the crisis. Third, lack of collaborations with with and among stakeholders and as well as complicated bureaucracy. The last is the political intention, which obscureds the intervention for the sake of humanity. It is, therefore, Indonesia’s humanitarian interventions during the commencement of the pandemic that was were not effective and should be reevaluated as a pandemic intervention lesson learnt in the future.
RELASI KELOMPOK ETNIK ANTAR-ORANG KAYO PULAU DENGAN KELOMPOK ETNIK LAINNYA DI KOTA JAYAPURA PROVINSI PAPUA Hanro Yonathan Lekitoo
Masyarakat Indonesia Vol 48, No 1 (2022): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v48i1.1186

Abstract

Kelompok etnik Kayo Pulau dan kelompok etnik asli lainnya di teluk Humboldt, Kota Jayapura adalah rumpun kelompok etnik yang oleh Keesing disebut sebagai masyarakat tribal, masyarakat tanpa ekonomi sentral dan politik sentral. Kelompok etnik di sana dapat dikategorikan sebagai masyarakat pra-industri oleh Lewellen, dengan tipe masyarakat yang oleh Fried disebut rank society. Sejarah Perang Dunia Kedua membawa kelompok-kelompok etnik di Kota Jayapura segera masuk dalam dunia modern, di mana  kehadiran Tentara Jepang 1942 dan Sekutu 1944 membuka berbagai infrastruktur perang di sana. Setelah hengkangnya Pemerintah Belanda, dan Papua kembali ke Pangkuan NKRI 1963, hingga kini Kota Jayapura menjadi salah satu daerah yang lebih maju dan sangat polietnik, oleh karena itu sering disebut sebagai Indonesia mini.              Kajian mengenai relasi antar-kelompok etnik dilakukan di Kampung Kayo Pulau kira-kira tiga tahun lamanya, yakni 2015-2018. Penelitan dengan metode etnografi, di mana teknik observasi partisipasi, wawancara, serta studi literatur dari berbagai sumber digunakan. Analisis selain Kampung Kayo Pulau, juga diangkat ke tingkat Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura di mana karakter sosial budaya penduduknya mirip.                        Konsep utama yang dipakai pada kajian ini adalah konsep etnisitas dari Barth dan Eriksen, di mana  relasi antar-etnik bersifat mencair dan konstruktif. Namun demikian penekanan dari Barth lebih pada relasi individu dan keluarga dalam perspektif ekologi dan demografi. Sedangkan Eriksen lebih kepada konteks kesejarahan. Dalam kaitan relasi antar-etnik orang Kayo Pulau dengan kelompok etnik lainnya di Kota Jayapura, saya mencermati empat konteks, yakni kekerabatan, ekonomi, politik dan keagamaan. Dalam kaitan dengan keempat konteks tersebut, sifat inklusif orang Kayo Pulau dan kelompok-kelompok etnik asli di Kota Jayapura yang mana selalu mencari persamaan dan merangkul kelompok etnik lainnya, merupakan nilai-nilai penting dalam mempertahankan kehidupan yang toleran dan harmonis.            Kini penduduk asli Kota Jayapura hanya 3,71 persen dari seluruh penduduk Kota Jayapura. selain itu  khusus orang Kayo Pulau di kampungnya hanya 24,6 persen dibanding dengan kaum migran luar Kayo Pulau yang tinggal di kampung tersebut. Namun mereka mampu bertahan dan beradaptasi di tengah pusaran modernisasi, dan dalam konteks masyarakat yang polietnik serta berbagai tuntutan kehidupan dengan mengedepankan relasi antar-kelompok etnik, baik dalam konteks kekerabatan, ekonomi, politik dan keagamaan.

Filter by Year

2010 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 49, No 2 (2023): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 49, No 1 (2023): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 48, No 2 (2022): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 48, No 1 (2022): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 47, No 2 (2021): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 47, No 1 (2021): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 46, No 2 (2020): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 46, No 1 (2020): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 45, No 2 (2019): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 45, No 1 (2019): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 44, No 2 (2018): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 44, No 1 (2018): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 43, No 2 (2017): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 43, No 1 (2017): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 42, No 2 (2016): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 42, No 1 (2016): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 41, No 2 (2015): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 41, No 1 (2015): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 40, No 2 (2014): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 40, No 1 (2014): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 39, No 2 (2013): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 39, No 1 (2013): Majalah Ilmu-ilmu Sosial Indonesia Vol 38, No 2 (2012): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 38, No 1 (2012): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 37, No 2 (2011): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 37, No 1 (2011): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 36, No 2 (2010): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 36, No 1 (2010): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia More Issue