cover
Contact Name
T Heru Nurgiansah
Contact Email
setiawan1000@gmail.com
Phone
+6281322551635
Journal Mail Official
nurgiansah@upy.ac.id
Editorial Address
Jl. IKIP PGRI I Sonosewu No.117, Sonosewu, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55182
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kewarganegaraan
ISSN : 19780184     EISSN : 27232328     DOI : https://doi.org/10.31316/jk.v7i1.5299
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Kewarganegaraan is published 2 times in 1 year in June and December. The scope of the article includes: 1. Pancasila Education 2. Citizenship Education 3. Social Sciences 4. Politic 5. Law
Articles 1,679 Documents
PUDARNYA NILAI-NILAI PANCASILA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT DI ERA GLOBALISASI Regiani, Ega; Dewi, Dinie Anggraenie
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.143 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i1.1402

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memberi gambaran akan bagaimana kondisi penerapan nilai-nilai pancasila di era gelobalisasi saat ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode telaah pustaka. Pancasila sendiri merupakan pegangan untuk semua warga negara Indonesia dalam bertabiat serta berperangai. Dengan adanya pancasila, masyarakat Indonesia dapat memiliki pedoman dalam mengenali serta memecahkan suatu masalah yang berbau politik, sosial, budaya, hukum, dan lain-lain. Maka dari itu, nilai-nilai pancasila bagi masyarakat Indonesia dalam beraktivitas sangatlah penting. Pada era globalisasi ini, nilai-nilai pancasila mulai luntur. keadaan ini bisa diamati dari munculnya beragam macam masalah timbul karena tidak diaplikasikannya nilai-nilai dari pancasila, dan jika tidak segera diatasi mungkin bisa saja nilai-nilai dari pancasila atau makna pancasila itu sendiri akan lenyap. Kata kunci: pancasila, nilai, globalisasi. AbstractThis study aims to provide an overview of the conditions for the application of Pancasila values in the current globalization era. The method used in this research is using the literature review method. Pancasila itself is a guideline for all Indonesian people in behaving and behaving. With the existence of Pancasila, Indonesian people can have guidelines in recognizing and solving problems that are political, social, cultural, legal, and others. Therefore, Pancasila values in social life are very important. In this era of globalization, Pancasila values are starting to fade. This situation can be observed from the emergence of various kinds of problems arising from not applying the values of Pancasila, and if they are not immediately resolved, the values of Pancasila or the meaning of Pancasila itself may disappear.Keywords: Pancasila, values, globalization.
PERSEPSI GURU TERHADAP PENILAIAN AUTENTIK KURIKULUM 2013 DI SMPN 3 KOMODO LABUAN BAJO MANGGARAI BARAT Jemalu, Vinsensius Zwei De Orans; Kurnia, Heri; Budiutomo, Triwahyu
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.016 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i1.1433

Abstract

AbstrakPendidikan adalah suatu proses bagi peserta didik sebagai generasi penerus bangsa dimasa depan, yang memiliki rasa kebangsaan, dan cinta tanah air. Sehingga sumber daya manusia yang mampu bersaing di era global. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang menggantikan “Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006”. Salah satu standar penilaian pada kurikulum 2013 adalah penilaian autentik. Penilaian autentik merupakan suatu sistem penilaian pada kurikulum 2013 yang   komprehensif   dalam  menjelaskan   dan   menggambarkan secara detail hasil belajar siswa. Sistem penilaian ini telah dilaksanakan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Komdo Labuan Bajo, tetapi penilaia ini masih belum terlaksana dengan sempurna. Oleh karena itu, peneliti ingin mengetahui lebih jauh tentang pelaksanaan sistem penilaian untuk guru, serta kendala yang dihadapinya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan penilaian autentik serta kendala yang dialami oleh guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kendala yang dihadapi oleh guru diantaranya: (1) Kegiatan pelatihan dan kesempatan mengikuti seminar tentang persepsi guru terhadap penilaian autentik kurikulum 2013 yang belum merata. (2) Belum mampu mengelola waktu untuk melakukan penilaian sesuai dengan tuntutan kurikulum. (3) Kurang lengkap jenis penilaian yang digunakan. (4) Belum terbiasa menyusun rubrik penilaian.Kata Kunci: Penilaian autentik, kurikulum 2013, Sekolah Menengah Pertama. AbstractEducation is a process for learners as the next generation of the nation in the future, who have a sense of nationality, and love of the homeland. So that human resources are able to compete in the global era. Curriculum 2013 is a curriculum that replaces "Education Unit Level Curriculum (KTSP) 2006". One of the assessment standards in the 2013 curriculum is authentic assessment. Authentic assessment is an assessment system in the 2013 curriculum that is comprehensive in explaining and describing in detail the student's learning outcomes. This assessment system has been implemented at Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Komdo Labuan Bajo, but this assessment is still not implemented perfectly. Therefore, researchers want to know more about the implementation of the assessment system for teachers, as well as the obstacles they face. This study aims to describe the application of authentic assessments as well as the obstacles experienced by teachers. The results showed that the obstacles faced by teachers include: (1) Training activities and the opportunity to attend seminars on teacher perception of authentic assessment of the 2013 curriculum that has not been evenly distributed. (2) Not yet able to manage the time to conduct assessments in accordance with the demands of the curriculum. (3) Incomplete type of assessment used. (4) Not yet used to compiling assessment rubrics.Keywords: Authentic assessment, curriculum 2013, Junior High School.
PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN SEBAGAI PENDIDIKAN HUKUM Santoso, Marcello Imam
Jurnal Kewarganegaraan Vol 1, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.544 KB) | DOI: 10.31316/jk.v1i1.921

Abstract

AbstrakArtikel ini merupakan hasil pengamatan mengenai “Pengembangan Pendidikan Kewarganegaraan Sebagai Pendidikan Hukum”. Bagaimana penerapan pendidikan hukum agar dapat saling berkaitan dengan pendidikan kewarganegaraan. Pengumpulan data dilakukan dengan membaca naskah ilmiah dan penumpulan data survey penerapan hukum. Dari penerapan hukum yang berjalan masih terdapat tidak kesesuaian di masyarakat, sehingga keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia masih diragukan. Sering kali sebagian kalangan merasa masih tidak diberlakukan sama dan adil didepan hukum. Pendapat ini karena ketidak pahaman dari sebagian orang mengenai hukum karena minimnya pengetahuan yang dimiliki. Masyarakat juga harus memahami dan mengerti hukum agar pendapat ini bukan hanya disalahkan untuk pemerintah saja. Perlu pembiasaan sejak dini akan pentingnya hukum di masyarakat. Pendidikan kewarganegaraan menjadi pengajaran untuk memahamkan warga negaranya agar dapat dijalankan dengan baik. Perlunya pengembangan dari pengajaran ini agar hukum yang berjalan semakin membaik dan menjadi pengetahuan yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Metode yang digunakan berarti juga harus ditinjau melalui dunia kenyataan yang berjalan seperti di masyarakat. Agar harapannya dapat ditemukan permasalahan yang terjadi sehingga pengembangan pendidikan kewarganegaraan dapat lebih baik lagi.Kata kunci: Pendidikan Hukum, Masyarakat, Pendidikan Kewarganegaraan. AbstractThis article is an observation about "Development of Citizenship Education as Legal Education". How the application of legal education in order to be interrelated with citizenship education. Data collection is done by reading scientific manuscripts and collecting survey data on the application of the law. From the application of the current law, there is still no conformity in the community, so social justice for all Indonesians is still in doubt. Often some people feel that it is still not enforced equally and fairly before the law. This opinion is due to the ignorance of some people about the law because of the lack of knowledge possessed. The public must also understand and understand the law so that this opinion is not just blamed for the government alone. It is necessary to habituate early on the importance of the law in the community. Citizenship education is teaching to understand its citizens in order to be carried out properly. The need for the development of this teaching in order for the law to improve and become knowledge that is interrelated with each other. The method used means it must also be reviewed through the world of reality that goes as it does in society. So that the hope can be found problems that occur so that the development of citizenship education can be better.Keywords: Legal Education, Community, Citizenship Education
RADIKALISME SEBAGAI BIBIT PERPECAHAN ANTAR UMAT BERAGAMA Salsabila, Febrina Yasmin
Jurnal Kewarganegaraan Vol 3, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.825 KB) | DOI: 10.31316/jk.v3i2.1309

Abstract

Abstrak Pandangan radikal yang kerap dianggap suatu paham atau aliran keras yang memiliki keterikatan terhadap suatu perubahan dalam sosial dan politik tetapi sering terjadi dan membawa agama pada kehidupan lingkungan sosial yang memiliki peluang terjadinya suatu perpecahan antar umat beragama dan tentunya akan berdampak juga pada sistem tatanan pemerintah. Terjadinya radikalisme ini bisa kapan saja terjadi karna adanya suatu tujuan tertentu yang memiliki kepentingan sendiri dan sering dikaitkan dengan terorisme karena kelompok radikal ini menginginkan suatu perubahan dengan cara apapun itu. Dengan menggunakan metode sampling memudahkan seorang peneliti dalam mengetahui pendapat mengenai hasil dari pemahaman tentang radikalisme yang kebanyakan berpendapat bahwa gerakan radikalisme ini sangat berpengaruh terhadap perpecahan antar umat beragama.Kata kunci: Radikalisme, Perpecahan agama AbstractRadical views are often considered an understanding or hard flow that has an attachment to a change in social and political but often occurs and brings religion to the life of the social environment that has the opportunity of a split between religious people and will certainly have an impact also on the system of government order. The occurrence of this radicalism can happen at any time because there is a certain purpose that has its own interests and is often associated with terrorism because this radical group wants a change in any way it is. By using sampling method makes it easier for a researcher to know the opinion about the results of the understanding of radicalism which most argue that this radicalism movement is very influential to the division between religious people.Keywords: Radicalism, Religious division
UPAYA MENINGKATKAN KOMPETENSI PENYUSUNAN RPP BERKARAKTER MELALUI PRAKTIK UNJUK KERJA Pitoyo, Sareh Joko
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.797 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i1.1285

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk meningkatkan Kompetensi guru dalam menyusun RPP Berkarakter melalui praktik unjuk kerja. Penelitian ini berbentuk Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) yang dilaksanakan dalam 2 (dua) siklus. Lokasi penelitian ini yaitu di SD Negeri 7  Baturetno dengan subjek penelitian semua guru yang berjumlah 8 orang. Penilaian Kemampuan Guru dilakukan dengan teknik observasi dengan lembar observasi. Validasi data dilakukan dengan teknik triangulasi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis deskriptip komparatif. Pada kondisi prasiklus, hanya 2 orang guru (25,0%) yang masuk predikat Baik dengan nilai rata-rata kompetensi guru hanya 61,3 (predikat Cukup). Meningkat pada siklus I menjadi 2 orang (25,0%) yang masuk predikat Amat Baik, 4 orang guru (50,0%) yang masuk predikat Baik dengan nilai rata-rata kompetensi guru adalah 78,8 (predikat Baik), dan meningkat lagi pada siklus II menjadi 3 orang guru (37,5%) yang masuk predikat Amat Baik, sebanyak 6 orang guru (62,5%) yang masuk predikat Baik dengan nilai rata-rata kompetensi guru 90,0 (predikat Baik). Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa praktik unjuk kerja dapat meningkatkan Kompetensi Penyusunan RPP Berkarakter Tahun Pelajaran 2019 /2020.Kata kunci: Kompetensi guru, RPP, Praktik unjuk kerja AbstractThis study aims to improve teacher competence in preparing character lesson plans through performance practices. This research was in the form of School Action Research (PTS) which was carried out in 2 (two) cycles. The location of this research is SD Negeri 7 Baturetno with all 8 teachers as the subject of research. Teacher Ability Assessment is done by observation techniques with observation sheets. The data validation was done by using triangulation technique. Data collection was carried out through observation. Data analysis was performed using comparative descriptive analysis techniques. In the pre-cycle condition, only 2 teachers (25.0%) entered the Good predicate with an average teacher competency score of only 61.3 (Sufficient predicate). Increased in the first cycle to 2 people (25.0%) who were included in the Very Good predicate, 4 teachers (50.0%) who were included in the Good predicate with an average score of teacher competence was 78.8 (Good predicate), and increased again in the second cycle there were 3 teachers (37.5%) who were included in the Very Good predicate, as many as 6 teachers (62.5%) were in the Good predicate with an average teacher competency score of 90.0 (Good predicate). Based on these results, it can be concluded that the practice of performance can increase the Competence of Preparing Characteristic RPPs for the 2019/2020 Academic Year.Keywords: teacher competence, lesson plans, performance practice 
PENTINGNYA IMPLEMENTASI NILAI PANCASILA AGAR TIDAK TERJADI PENYIMPANGAN DALAM MASYARAKAT LUAS Hakim, Aulia Nur; Dewi, Dinie Anggraenie
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.099 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i1.1391

Abstract

AbstrakKurangnya kesadaran pengimplementasian nilai pancasila dalam kehidupan masyarakat membuat ideology pancasila tersisihkan. Penyimpangan terhadap nilai pancasila masih sering terjadi di dalam kehidupan bernegara dan tidak mencerminkan sikap yang sesuai pancasila. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peran Pancasila dalam membangun karakter bangsa, mengkaji permasalahan atau urgensi  pengimplementasian setiap makna yang terkandung dalam nilai pancasila serta menginternalkan atau mengimplementasikan Pancasila melalui mata kuliah Pendidikan Pancasila. Melalui mata kuliah tersebut, mahasiswa diharapkan dapat menjadi generasi penerus bangsa menjadi manusia yang bermutu, bermoral, berjiwa pancasilais dan dapat membumikan setiap nilai-nilai pancasila. Tidak hanya mahasiswa namun masyarakat juga perlu ditanamkan jiwa pancasilais. Metode penelitian yang digunakan disini adalah metode kualitatif yaitu menggunakan cara menganalisis atau mengkaji data yang sudah ada. Hasil dari penelitian ini menunjukkan jika pengimplementasian setiap nilai yang ada dalam pancasila belum terealisasikan dengan baik, terlihat dari sejumlah kasus yang telah terjadi di Indonesia dari tahun-tahun yang lalu yang menggambarkan ketidakseimbangan antara nilai pancasila dengan pengaktualisasiannya sehingga hal tersebut perlu menjadi perhatian khusus pemerintah dan warga negara agar dapat menjalankan setiap nilainya dengan benar  Kata Kunci: Penyimpangan Nilai Pancasila, Implementasi Nilai Pancasila, Membangun Karakter Bangsa AbstractLack of awareness of the implementation of Pancasila values in people's lives has made the Pancasila ideology marginalized. Deviations to the value of Pancasila still often occur in state life and do not reflect attitudes that are in accordance with Pancasila. The purpose of this research is to find out how the role of Pancasila in building the character of the nation, then to study the problems or urgency of implementing each meaning contained in the values of Pancasila and internalizing or implementing Pancasila through the Pancasila Education course. Through these courses, students are expected to become the nation's next generation to become human beings with quality, moral, Pancasila spirit and can ground every Pancasila values. Not only students but the community also needs to instill a Pancasila spirit. The research method used here is a qualitative method, namely using a way of analyzing or reviewing existing data. The results of this study show that if the implementation of each value in Pancasila has not been well realized, it can be seen from a number of cases that have occurred in Indonesia from the past years which illustrate the imbalance between the value of Pancasila and its actualization so that this needs to be of special concern to the government and citizens in order to be able to carry out each of its values properly Key Words: Deviation of Pancasila Values, Implementation of Pancasila Values, Build national character
EKSPLORASI KEKAYAAN KULINER MASYARAKAT SUKU DAYAK NGAJU DI DESA MANDOMAI KALIMANTAN TENGAH Septo, Septo; Wulandari, Lala Aprilia; Tiwo, Caroline Yunita; Yanti, Eri; Karliani, Eli; Tryani, Tryani
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5, No 2 (2021): Desember 2021 ( In Press )
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (935.668 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1729

Abstract

AbstrakIndonesia merupakan salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Hal ini dapat dilihat dari kondisi sosio-kultural, agama maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Sekarang ini, jumlah pulau yang ada di wilayah Negara Kesatuan republik Indonesia (NKRI) sekitar 13.000 pulau besar dan kecil. Populasi penduduknya berjumlah lebih dari 200 juta jiwa, terdiri dari 300 suku yang menggunakan hampir 200 bahasa yang berbeda. Kebudayaan yang biasa menjadi perhatian masyarakat adalah kebuadayaan makanan suatu daerah. Makanan seperti yang kita tahu merupakan suatu kebutuhan utama bagi manusia. Selain sebagai sumber energi dan tenaga, makanan juga memiliki makna dan nilai budaya tersendiri. Sistem Kuliner atau makanan khas dari setiap daerah memiliki keunikan tersendiri yang berbeda dari tiap daerah begitu pula di daerah Kalimantan Tengah. Hal inilah yang membuat makanan kami mangangkat Eksplorasi Kekayaan Kuliner Masyarakat Suku Dayak Kalimantan Tengah. Tujuan dari Penelitian ini untuk mengetahui apa saja ragam  kekayaan kuliner Masyarakat Suku Dayak Ngaju di Desa Mandomai Kalimantan Tengah. Sebagai syarat menyelesaikan mata kuliah Seminar PPKn. Untuk mengetahui bagaimana upaya masyarakat dalam mempertahankan Kekayaan Kuliner Masyarakat Suku Dayak Ngaju Kalimantan Tengah. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan selama 1 bulan, untuk di presentasikan dan diseminarkan. Kegiatan observasi kami laksanakan di daerah yang kami tentukan, untuk mewawancarai narasumber serta mengali informasi tentang rasa Kekayaan Kuliner Masyarakat Suku Dayak Ngaju di Desa Mandomai Kalimantan Tengah di daerah tersebut. Kalimantan Tengah merupakan Provinsi terbesar kedua setelah Papua, yang didominasi oleh penduduk Dayak, Jawa dan juga Banjar. Selain memiliki potensi alam yang indah, yang bisa dijadikan destinasi wisata, Kalimantan Tengah juga memiliki potensi wisata kuliner yang bisa dikenalkan hingga pelosok dunia. Berikut adalah beberapa daftar makanan khas Kalimantan Tengah: juhu umbut sawit, Kalumpe/kaluang, wadi, juhu taya, juhu umbut rotan, keripik kelakai, lemang, kue gagatas, dan masih banyak masakan atau ragam kuliner di daerah Kalimantan Tengah, yang masih dipertahankan dan masak dari dulu sampai sekarang ini.Kata Kunci: Kuliner Dayak Ngaju, Masakan Tradisional Kalimantan Tengah, Kuliner Masyarakat Dayak Ngaju, Desa Mandomai AbstractIndonesia is one of the largest multicultural countries in the world. This can be seen from the socio-cultural, religious and geographical conditions that are so diverse and broad. Currently, the number of islands in the territory of the Unitary State of the Republic of Indonesia (NKRI) is around 13,000 large and small islands. Its population is more than 200 million people, consisting of 300 tribes who speak almost 200 different languages. The culture that usually gets people's attention is the food culture of an area. Food as we know it is a basic need for humans. Apart from being a source of energy and energy, food also has its own cultural meaning and value. Culinary system or typical food from each region has its own uniqueness that is different from each region as well as in the Central Kalimantan area. This is what makes our food promote the Exploration of Culinary Wealth of the Central Kalimantan Dayak Tribe. The purpose of this study is to find out what are the various culinary riches of the Ngaju Dayak Tribe in Mandomai Village, Central Kalimantan. As a condition for completing the Civics Seminar course. To find out how the community's efforts in maintaining the Culinary Wealth of the Ngaju Dayak Tribe, Central Kalimantan. This research activity was carried out for 1 month, for presentation and seminars. Our observation activities were carried out in the areas that we determined, to interview sources and gather information about the taste of the Culinary Wealth of the Ngaju Dayak Tribe in Mandomai Village, Central Kalimantan in the area. Central Kalimantan is the second largest province after Papua, which is dominated by the Dayak, Javanese and Banjar people. Besides having beautiful natural potential, which can be used as a tourist destination, Central Kalimantan also has the potential for culinary tourism that can be introduced to all corners of the world. The following is a list of typical Central Kalimantan foods: palm umbut juhu, Kalumpe/kaluang, wadi, juhu taya, rattan umbut juhu, kalakai chips, lemang, gagatas cake, and many other dishes or culinary varieties in the Central Kalimantan area, which are still preserved and preserved. cook from the past until now.Keywords: Ngaju Dayak Culinary, Central Kalimantan Traditional Cuisine, Culinary of the Ngaju Dayak Community, Mandomai Village
PERAN ORANGTUA DALAM OPTIMALISASI TUMBUH KEMBANG ANAK UNTUK MEMBANGUN KARAKTER ANAK USIA DINI Bayna, Iqra Mulyati
Jurnal Kewarganegaraan Vol 1, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.488 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i1.928

Abstract

AbstrakPentingnya pendidikan dini pada anak telah menjadi perhatian pemerintah. Anggapan bahwa pendidikan baru bisa dimulai setelah usia sekolah dasar, ternyata tidak benar, bahkan pendidikan yang dimulai usia taman kanak2 pun sebenarnya sudah terlambat. Menurut hasil penelitian di bidang neurologi seperti yang dilakukan oleh Dr. Benyamin S. Bloom, seorang ahli pendidikan dari universitas Chicago, Amerika Serikat, mengemukakan bahwa pertumbuhan sel jaringan otak pada anak usia 0-4 tahun mencapai 50%. Artinya bila pada usia tersebut otak anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal maka segala tumbuh kembang anak baik fisik maupun mental tidak akan berkembang secara optimal. Peran yang sangat strategis dalam optimalisasi pendidikan usia dini adalah peran orang tua. Pembiasaan yang disertai dengan teladan dan diperkuat dengan penanaman nilai-nilai yang mendasari secara bertahap akan membentuk budaya serta mengembangkan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Dengan cara ini lingkungan keluarga dapat menjadi pola penting dalam pembudayaan karakter bangsa bagi anak dan generasi muda. Atas dasar itu, pendidikan karakter bukan sekedar mengajarkan mana yang baik dan mana yang sala tetapi lingkuan keluarga juga memiliki peran dalam mengajarkan keterampilan seorang anak agar anak memiliki keterampilan di masa yang akan datang.Kata Kunci: Orang Tua, Karakter, Anak Usia Dini AbstractThe importance of early childhood education in children is a concern of the government. Assuming that new education can begin after primary school age, that's not true, even education that starts kindergarten age is actually too late. According to the results of research in the field of neurology as conducted by Dr. Benyamin S. Bloom, an education expert from the University of Chicago, USA, shows that the growth of brain tissue cells in children aged 0-4 years reached 50%. This means that if at that age the child's brain does not get maximum stimulation then all child development both physically and mentally will not develop optimally. A very strategic role in optimizing early childhood education is the role of parents. Habituation that is accompanied by example and strengthened by the planting of the underlying values will gradually form a culture and develop a relationship with The One True God. In this way, the family environment can be an important pattern in the culture of the nation's character for children and young people. On that basis, character education not only teaches which ones are good and which are sala but the family environment also has a role in teaching children skills so that the child has skills in the future.Keywords: Parents, Characters, Early Childhood
FENOMENA KEMUNCULAN SUNDA EMPIRE KAITANNYA DENGAN KEBEBASAN BEREKSPRESI Dian Pertiwi, Garnis Fibria
Jurnal Kewarganegaraan Vol 3, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.449 KB) | DOI: 10.31316/jk.v3i2.1304

Abstract

AbstrakSunda Empire adalah organisasi atau perkumpulan orang yang percaya pada romantisisme sejarah pada zaman dahulu. Kemunculan Sunda Empire menggegerkan dunia, karena petinggi Sunda Empire mengklaim bahwa anggota Sunda Empire adalah kepala negara dari semua negara dan rakyatnya adalah semua penghuni bumi. Tidak hanya itu, Petinggi sunda empire, Rangga Sasana pernah menganggap kerajaannya dapat mengendalikan senjata nuklir dan beranggapan kerajaannyaa adalah kekaisaran matahari dan bumi, mengaku memiliki perdana menteri dan kaisar perempuan, mereka juga memiliki pemikiran dapat berkomunikasi dengan Jack Ma pendiri Alibaba dan berpikir tentang usaha-usaha terbaru yang mengarah pada masa depan, bahkan beranggapan sunda empire adalah pewaris harta benda bumi. Sunda Empire melakukan upaya secara berulang untuk meyakinkan masyarakat, sehingga menimbulkan kepercayaan yang sebenarnya sebuah kebohongan. Sunda Empire ini bisa dikatakan mengajarkan aliran sesat karena mereka mengiming-imingi masyarakat dengan hal-hal yang instan. Perkumpulan Sunda Empire ini juga bisa dikatakan mengandung unsur makar, Pengakuan-pengakuan yang dibuat oleh Sunda Empire ini hanyalah fiktif atau hanyalah halusinasi semata karena semua ide-idenya tidak masuk akal dan tidak akan terwujud. Tujuan dilakukan penelitian ini agar masyarakat Indonesia tidak terjerumus akan hal-hal seperti ini dan jangan pernah mengikuti aliran-aliran sesat yang ide-idenya tidak masuk akal bahkann tidak akan terwujud. Metode penelitian ini menggunkan metode kualitatif dan turun langsung ke lapangan dengan cara wawancara.Kata kunci : Unsur makar, Halusinasi, Ajaran sesat. AbstractSunda Empire is an organization or association of people who believe in historical romanticism in ancient times. The emergence of sunda empire stirred the world, because sunda empire officials claimed that sunda empire members are heads of state of all countries and their people are all inhabitants of the earth. Not only that, sunda empire official, Rangga Sasana once considered his kingdom can control nuclear weapons and assumed his kingdom is the empire of the sun and earth, claimed to have a prime minister and a female emperor, they also had the thought of being able to communicate with Jack Ma the founder of Alibaba and think about the latest efforts that lead to the future, even assume sunda empire is the heir of the earth's treasures. Sunda Empire made repeated attempts to convince the public, thus giving rise to the belief that it was actually a lie. Sunda Empire can be said to teach heresy because they lure people with instant things. Sunda Empire association can also be said to contain elements of makar, Confessions made by the Sunda Empire is only fictitious or just hallucinations simply because all the ideas are absurd and will not materialize. The purpose of this research is so that indonesians do not fall into things like this and never follow heretical traditions whose ideas do not make sense and will not even materialize. This method of research uses qualitative methods and goes directly to the field by interview.Keywords: Elements of makar, Hallucinations, Heresy.
PENINGKATAN PENGGUNAAN PAST TENSE DALAM TEXT RECOUNT MELALUI MODEL STAD PADA SISWA Khotidjah, Dewi
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.956 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i1.1266

Abstract

AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampun penggunaan kosa kata bentuk kedua yang akan digunakan dalam pembuatan text recount bagi siswa kelas VIIIB SMP Negeri 1 Giriwoyo Wonogiri tahun 2015/2016. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini terdiri dari tiga siklus, setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu: planning,acting, observing dan reflecting. Metode pengumpulan data penelitian menggunakan intrumen Tes, observasi, dan dokumentasi. Subjek penelitian ini yaitu siswa kelas VIIIB SMP Negeri 1 Giriwoyo yang berjumlah 28 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan penggunaan kosa kata bentuk kedua setelah tindakan. Terdapat peningkatan nilai sebesar 53,60% pada siklus I dan 29,4% pada silus II. Berdasarkan hasil tersebut dapat mengambil kesimpulan bahwa model pembelajaran STAD yang diterapkan berhasil meningkatkan kemampuan siswa menggunakan kata kerja kedua ( past – tense ) dalam text recount.Kata Kunci: Past Tenses, Text Recount, Model STAD AbstractThe purpose of this study was to determine the ability to use the second form of vocabulary that will be used in making text recounts for grade VIIIB students of SMP Negeri 1 Giriwoyo Wonogiri in 2015/2016. This study uses a classroom action research (CAR) method. This study consisted of three cycles, each cycle consisting of four stages: planning, acting, observing and reflecting. Research data collection methods using test instruments, observations, and documentation. The subjects of this study were 28th grade students of SMP Negeri 1 Giriwoyo, totaling 28 students. The results showed that there was an increase in the ability to use second form of vocabulary after the action. There was an increase in value of 53.60% in the first cycle and 29.4% in the second series. Based on these results it can be concluded that the STAD learning model applied successfully improves students' ability to use the second verb (past - tense) in the recount text.Keywords: Past Tenses, Recount Text, STAD Model

Page 7 of 168 | Total Record : 1679