cover
Contact Name
T Heru Nurgiansah
Contact Email
setiawan1000@gmail.com
Phone
+6281322551635
Journal Mail Official
nurgiansah@upy.ac.id
Editorial Address
Jl. IKIP PGRI I Sonosewu No.117, Sonosewu, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55182
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kewarganegaraan
ISSN : 19780184     EISSN : 27232328     DOI : https://doi.org/10.31316/jk.v7i1.5299
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Kewarganegaraan is published 2 times in 1 year in June and December. The scope of the article includes: 1. Pancasila Education 2. Citizenship Education 3. Social Sciences 4. Politic 5. Law
Articles 1,679 Documents
PERANAN PEMERINTAH DESA DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR Simbolon, Dewi Sarah; Sari, Julita; Purba, Yowisa Yolanda; Siregar, Nurtia Indah; Salsabilla, Risa; Manulang, Yohana
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5, No 2 (2021): Desember 2021 ( In Press )
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1465

Abstract

AbstrakPenelitian ini secara umum bertujuan mengetahui gambaran nyata mengenai bagaimana peran pemerintah desa dalam pembangunan. Peran menjadi indicator awal berhasil tidaknya seorang kepala desa dan perangkat desa dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan Teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian mengenai peran pemerintah desa dalam pembangunan dapat disimpulkan bahwa masyarakat mempunyai peran yang kurang baik karena apparat desa kurang mengoptimalkan peran tersebut. macetnya suatu pembangunan desa disebabkan pemerintah desa belum dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. Hal ini dipengaruhi oleh adanya kurangnya koordinasi antara pemerintah dengan perangkat desa lainnya, kurangnya ketegasan dalam menjalankan fungsinya sebagai pemerintah desa atau kepala desa.Kata Kunci: Pembangunan, Pemerintah Desa AbstractThis research generally aims at knowing the real picture of how the role of village government in development. The role is an indicator early success or failure of a village head and village officials carry out its duties. In this study, researchers used techniques observation, interview, and documentation. Based on the results of research on the role of village government in development can be concluded that the community has a bad role because the village apparatus is not optimizing it that role. The stalling of a village development is caused by the village government has not been able to improve the standard of living of the community. This is influenced by the existence lack of coordination between the government and other village officials, lack of assertiveness in carrying out its functions as village government or village head.Keywords: Development, Village Government
EKSISTENSI ETNIS TIONGHOA DI ERA GLOBALISASI Khasanah, Alfa
Jurnal Kewarganegaraan Vol 2, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.842 KB) | DOI: 10.31316/jk.v2i2.1292

Abstract

AbstrakTujuan penuliasan artikel ini adalah: (1) untuk mengetahui sejarah masuknya etnis tionghoa di Indonesia karena etnis tionghoa sudah ada ada di Indonesia lama sekali. (2) untuk mengetahui populasi etnis tionghoa di Indonesia, tercatat sampai saat ini ada sekitar 1-2 % dari populasi penduduk Indonesia. (3) untuk mengetahui peran etnis tionghoa baik di sector social budaya, perokonomian, politik, maupun pendidikan. Hasil penelitian yang didapat: (1) Orang dari Tiongkok daratan telah ribuan tahun mengunjungi dan mendiami kepulauan Nusantara. Menurut catatan dalam kitab sejarah Tiongkok, pada zaman Dinasti Han (tahun 131 M), sudah ada hubungan resmi antara Dinasti Han di Tiongkok dengan Yavadwipa di Indonesia. Pada abad ke-7 kerajaan Tang mulai ada hubungan kebudayaan dan keagamaan Budha dengan kerajaan Sriwijaya. Pada abad ke-15 masa Dinasti Ming, seorang muslim Tiongkok Zhenghe memimpin barisan kapal telah 3 kali mendarat di kerajaan Majapahit untuk menjalin hubungan perdagangan dan kebudayaan. Sejak itu banyak orang keturunan Tionghoa mulai merantau dan menetap di Nusantara. (2) Dalam sensus penduduk pada tahun 2000, ketika untuk pertama kalinya responden sensus ditanyai mengenai asal etnis mereka, hanya 1% atau 1.739.000 jiwa yang mengaku sebagai Tionghoa. (3) Memasuki abad ke-20, ranah hiburan dan seni budaya di Tanah Air disemarakkan oleh kehadiran seniman atau pegiat seni keturunan Tionghoa.di bidang pendidikan etnis tionghoa berperan dalam pembangunan Universitas Trisakti yang kini menjadi salah satu universitas terkenal di Indonesia juga merupakan salah satu sumbangsih warga Tionghoa di Indonesia.Kata Kunci: Tionghoa, Globalisasi AbstractThe purpose of this article is: (1) to know the history of the entry of ethnic Chinese in Indonesia because ethnic Chinese have existed in Indonesia for a long time. (2) to know the ethnic Chinese population in Indonesia, there is currently about 1-2% of the population of Indonesia. (3) to know the role of ethnic Chinese in the social culture, smoking, politics, and education sectors. The results of the study obtained: (1) People from mainland China have visited and inhabited the archipelago for thousands of years. According to records in Chinese history, during the Han Dynasty (131 AD), there was already an official relationship between the Han Dynasty in China and Yavadwipa in Indonesia. In the 7th century, the Tang kingdom began to have a Buddhist cultural and religious relationship with the Srivijayan kingdom. In the 15th century during the Ming Dynasty, a Chinese Muslim Zhenghe led a line of ships having three times landed in Majapahit kingdom to establish trade and cultural relations. Since then many people of Chinese descent began to wander and settle in the archipelago. (2) In the population census in 2000, when for the first time census respondents were questioned about their ethnic origin, only 1% or 1,739,000 people claimed to be Chinese. (3) Entering the 20th century, the realm of entertainment and cultural arts in the country is enlivened by the presence of artists or art activists of Chinese descent.in the field of ethnic Chinese education plays a role in the development of Trisakti University which is now one of the famous universities in Indonesia is also one of the contributions of Chinese people in Indonesia.Keywords: Chinese, Globalization
KONSTRUKSI EDUKASI BAGI WARGA NEGARA MUDA PADA AKUN MEDIA SOSIAL TWITTER @asumsico Apandie, Chris
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.39 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i1.1291

Abstract

AbstrakMedia sosial kini menjelma menjadi sarana berbagi informasi bagi warga negara hingga dapat dikatakan sebagai sumber pengetahuan yang terstruktur. Informasi edukatif yang terdapat di media sosial juga turut melatih keterampilan seorang warga negara untuk mampu memilah konten yang berkualitas dan tidak. Media sosial Twitter banyak menyajikan konten edukatif melalui sebuah utas ataupun trending topic. Banyak segmen di media sosial Twitter yang dapat menjadi sumber edukasi informal bagi warga negara, termasuk edukasi perihal politik. Dari banyak akun media sosial yang memiliki konten politik dalam setiap cuitannya, Asumsi.co (@asumsico) merupakan salah satu akun twitter kekinian yang menyajikan konten politik serta isu-isu kenegaraan yang up to date. Melalui telaah studi literatur pada akun Twitter @asumsico, dapat disimpulkan bahwa konstruksi edukasi bagi warga negara pada akun Twitter @asumsico meliputi politik dan isu-isu aktual kenegaraan. Edukasi yang dimaksud disajikan melalui judul yang menggelitik, kemudian melalui sebuah hashtag dan utas. Fenomena ini menjadi sebuah pendidikan demokrasi di era digital (cyberdemokrasi) sekaligus sebagai sarana mengasah literasi digital warga negara.  Namun demikian konstruksi edukasi warga negara di dunia digital perlu diimbangi dengan kematangan pemahaman yang didapat dari lembaga pendidikan secara umum.Kata kunci: Digital, Negara, Politik, Twitter, Warga AbstractSocial media is now transformed into a sharing information platform for citizens that can become a source of structured knowledge. Educational information contained on social media also trains the skills of citizen to be able to sort out quality content. Social media especially Twitter provides a lot of educational content through threads or trending topics. There are many segments on Twitter as social media that can become sources of informal education for citizens, including education about politics. One of many social media accounts that have political content in each of their tweets is @asumsico. This is one of the most recent Twitter accounts that presents up to date political content and actual states issues. Through a review of literature study on the @asumsico Twitter account, it can be concluded that construction of education for citizens on the @asumsico Twitter account are includes politics and actual state issues. That means education are presented through an encourage title, then through a hashtag and thread. This phenomenon has become a democratic education in the digital era (cyberdemocracy) as well as means of honing citizens' digital literacy. However, the construction of citizen education in the digital world needs to be balanced with the maturity of understanding obtained from educational institutions in general.Keywords: Citizen, Politics, Digital, State, Twitter
IMPLEMENTASI NILAI-NILAI PANCASILA SEBAGAI KARAKTER DASAR PARA GENERASI MUDA DALAM MENGHADAPI ERA REVOLUSI INDUSTRIAL 4.0 Sakinah, Regina Nurul; Dewi, Dinie Anggraenie
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.291 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i1.1432

Abstract

AbstrakPada tahun 2045, ketika Indonesia berusia genap 100 tahun, akan terjadi revolusi besar pada Negara ini. Kemajuan dan perkembangan terjadi di semua aspek kehidupan masyarakat. Baik bidang ekonomi, sosial, budaya, politik, pendidikan, dan masih banyak lagi. Dan jika ditinjau dari masa ini, Indonesia memiliki populasi warga Negara dengan usia produktif atau kisaran usia 15-65 tahun terbesar di dunia. Dimana dengan populasi sebanyak itu, dan potensi yang dimiliki warga Negara produktif, maka Indonesia akan mampu menjadi Negara maju pada tahun 2045 nanti. Lalu hal yang harus disiapkan oleh pendidik untuk membekali para generasi muda dalam menghadapi era revolusi industial 4.0 nanti adalah menanamkan nilai-nilai pancasila pada karakter anak bangsa sejak dini. Karena dengan mengamalkan dan mengimplementasikan nilai-nilai pancasila pada kehidupan sehari-hari, pasti generasi muda ini akan menjadi agen perubahan yang mampu bersikap jujur, adil, kritis, revolusioner, dengan berlandaskan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.Kata Kunci: Negara maju, generasi muda, revolusi industrial 4.0, nilai-nilai pancasila AbstractIn 2045, when Indonesia turns 100 years old, there will be a big revolution in this country. Progress and development occur in all aspects of community life. Both in the fields of economy, social, culture, politics, education, and many more. And when viewed from this period, Indonesia has the largest population of citizens with productive age or age range 15-65 years in the world. Where with such a large population and the potential of productive citizens, Indonesia will be able to become a developed country in 2045. Then the thing that must be prepared by educators to equip the younger generation in facing the industrial revolution era 4.0 later is to instill Pancasila values in the character of the nation's children from an early age. Because by practicing and implementing Pancasila values in everyday life, surely this young generation will become agents of change who are capable of being honest, fair, critical, revolutionary, based on faith and piety in God Almighty.Keywords: Developed countries, young generation, industrial revolution 4.0, Pancasila values
PENGARUH PENGGUNAAN GADGET TERHADAP KEMAMPUAN INTERAKSI SOSIAL SISWA SEKOLAH DASAR Sianturi, Yohana R. U.
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.224 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i1.1430

Abstract

Abstrak Isu-isu pokok penelitian ini adalah bagaimana pengaruh penggunaan teknologi informasi dan komunikasi terhadap kemampuan siswa Sekolah Dasar (SD). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sampai sejauhmana perkembangan teknologi dapat mempengaruhi interaksi social siswa SD. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitan deskriptif kuantitatif dan kajian pustaka dari berbagai literatur yang berkaitan dengan apa yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gadget tidak hanya mempengaruhi pola pikir atau perilaku orang dewasa, tetapi juga mempengaruhi perilaku anak-anak terutama siswa SD, gadget sangat mempengaruhi perkembangan siswa SD terutama perkembangan dalam interaksi sosial. Ketergantungan terhadap gadget pada anak disebabkan karena lamanya durasi dalam menggunakan gadget. Bermain gadget dengan durasi yang cukup panjang dan dilakukan setiap hari, bisa membuat anak berkembang ke arah pribadi yang antisosial.Kata Kunci: Gadget, Interaksi Sosial, Siswa Sekolah Dasar.  Abstract The main issues of this study are how the use of information and communication technology affects the ability of elementary school students. The purpose of this study is to find out the extent to which technological developments can affect the social interaction of elementary school students. The research method used in this study is quantitative descriptive research method and literature study of various literature related to what is studied. The results showed that gadgets not only affect the mindset or behavior of adults, but also affect the behavior of children, especially elementary school students, gadgets greatly affect the development of elementary students, especially developments in social interaction. Dependence on gadgets in children is caused by the length of time in using gadgets. Playing gadgets with a long duration and done every day, can make the child develop towards an antisocial person. Keywords: Gadgets, Social Interaction, Elementary School Students.
PENERAPAN NILAI-NILAI PANCASILA DALAM MENANGGULANGI COVID-19 Dermawan, M Saldi; Nurchotimah, Aulia Sholichah Iman
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5, No 2 (2021): Desember 2021 ( In Press )
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (786.838 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1741

Abstract

AbstrakPandemi covid-19 menjadi pandemi di seluruh dunia yang berdampak pada segala aspek kehidupan di dunia. Di Indonesia sendiri, Pandemi covid-19  telah mengubah kebiasaan masyarakat Indonesia yang suka berkumpul dan melakukan aktivitas secara normal hingga dipaksa untuk berjaga jarak serta melakukan segala aktivitas melalui trying atau advanced. Di satu sisi, digitalisasi akibat pandemi covid-19  ini memberikan berbagai kemudahan namun di sisi yang lain juga menyimpan berbagai hambatan dan tantangan. Hambatan dan tantangan tersebut berkaitan dengan cara menanggulangi pandemi covid-19 ini. Artikel ini  mengemukakan penerapan nilai-nilai Pancasila dalam menanggulangi covid-19 dengan metode Literature review dengan Teknik membuat ringkasan (summarize) yang akan memberikan solusi bagaimana strategi dan cara menanggulangi pandemi covid-19 ini dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila yang dapat menjadi langkah yang tepat untuk mengingatkan  masyarakat, akan nilai-nilai Pancasila harus dikonstruksikan dan di terapkan sebagai filosofi kehidupan. Oleh sebab itu kita warga negara Indonesia jangan pernah lupa untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman hidup dalam menanggulangi pandemi covid-19Kata Kunci: Pancasila, Nilai, Covid-19 AbstractThe Coronavirus pandemic is a worldwide pandemic that affects all aspects of life in the world. In Indonesia itself, the Coronavirus Pandemic has changed the habits of Indonesian people who like to gather and carry out normal activities so that they are forced to be on guard and carry out all activities through trying or advancing. On the one hand, digitization due to the Coronavirus pandemic provides various conveniences but on the other hand it also saves various obstacles and challenges. These obstacles and challenges are related to how to deal with this Coronavirus pandemic. This article proposes the application of Pancasila values in tackling COVID-19 with the Literature review method with a summary technique that will provide solutions on how to strategy and how to deal with this Coronavirus pandemic by applying Pancasila values which can be the right step to remind the public, Pancasila values must be constructed and applied as a philosophy of life. Therefore, Indonesian citizens should never forget to apply the values of Pancasila in the life of the nation and state to cope with the COVID-19 pandemic.Keyword: Pancasila, Values Covid-19,
PENDIDIKAN MULTIKULTURAL SEBAGAI WAHANA PEMBENTUKAN SIKAP TOLERANSI MAHASISWA Prabowo, Adikara
Jurnal Kewarganegaraan Vol 1, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.578 KB) | DOI: 10.31316/jk.v1i1.881

Abstract

AbstrakIndonesia sebagai bangsa yang memiliki begitu banyak keragaman baik dari segi agama maupun etnis yang dimiliki warga masyarakatnya, berkeyakinan bahwa Bhineka Tunggal Ika merupakan simbol yang mampu mempersatukan bangsa yang memiliki budaya beraneka ragam ini, untuk bekerja sama dalam hidup bernegara dan membangun Indonesia untuk kepentingan bersama. Namun disisi lain, bangsa dan negara kita juga memiliki titik-titik rawan konflik berdasarkan agama, kedaerahan dan gender (sara) yang cukup menghawatirkan. Oleh karena itu, pengetahuan, penilaian, sikap dan perilaku serta pendidikan karakter yang menunjang tercapainya ke Bhineka Tunggal Ika-an dan Pendidikan Multikultural itu perlu dikembangkan sehingga menjadi milik keseluruhan warga republik ini. Untuk itu diperlukan pendidikan yang berorientasi multikultural. Sebenarnya, dalam  praktik pendidikan kita mulai dari jenjang pendidikan taman kanak-kanak telah banyak dilakukan pendidikan yang menerapkan prinsip multikulturalisme itu. Lebih-lebih disekolah lanjutan atas atau universitas, dalam ilmu-ilmu sosial khususnya antropologi, dipelajari lebih luas dan mendalam berbagai budaya dan pola kehidupan yang merupakan ciri khas budaya daerah. Memang betul bahwa pendidikan multikultural itu belum dimuat secara khusus dalam dokumen pendidikan, misalnya dalam Undang-Undang Sisdiknas. Jangan sampai peserta didik hanya mengenal multikulturalisme deskriptif (ada pengakuan kesetaraan atau kesamaan derajat) tapi tidak sampai kepada multikulturalisme normatif (ada niatan untuk bersatu).Kata Kunci : Pendidikan Multikultural, Toleransi, Mahasiswa AbstractIndonesia as a nation that has so much diversity both in terms of religion and ethnicity owned by its citizens, believes that Bhineka Tunggal Ika is a symbol that is able to unite a nation that has a diverse culture, to work together in state life, and build Indonesia for the common good. But on the other hand, our nation and country also have conflict-prone points based on religion, regionality, and gender (Sara) which is quite worrying. Therefore, the knowledge, assessment, attitude and behavior, and character education that supports the achievement of Bhineka Tunggal Ika-an and Multicultural Education need to be developed so that it belongs to the entire citizens of this republic. Therefore, a multicultural-oriented education is required. Actually, in the practice of education, we start from the level of kindergarten education has been done a lot of education that applies the principle of multiculturalism. More and more high school or university, in social sciences especially anthropology, studied more broadly and deeply the various cultures and patterns of life that are characteristic of regional cultures. It is true that multicultural education has not been specifically contained in educational documents, for example in the Sisdiknas Law. Do not let learners only know descriptive multiculturalism (there is recognition of equality or equality of degrees) but not normative multiculturalism (there is an intention to unite).Keywords: Multicultural Education, Tolerance, Students
PENINGKATAN HASIL BELAJAR PPKN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING Hidayati, Sri
Jurnal Kewarganegaraan Vol 3, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.849 KB) | DOI: 10.31316/jk.v3i2.1308

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn melalui model Problem Based Learning (PBL). Model problem based learning (PBL) merupakan pelajaran dengan menghadapkan siswa dengan permasalaha - permasalahan peaktis sebagai pijakan dalam belajar atau dengan kata lain siswa belajar melalui masalah. Subjek penelitian siswa kelas V SDN 113/X Pandan Makmur Jambi yang berjumlah 18 siswa. Alat pengumpulan data berupa lembar tes, lembar observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data berupa persentase. Penelitian ini menggunakan dua siklus, dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil analisis data menunjukkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran tipe Problem Based Learning (PBL) dengan tindakan pemberian reward dapat meningkatkan hasil belajar PKN di kelas V SDN 113/X Pandan Makmur Jambi.Kata kunci : PBL, Hasil Belajar Siswa AbstractThis study aims to improve students' learning outcomes in PKn subjects through the Problem Based Learning (PBL) model. Problem based learning (PBL) model is a lesson by confronting students with problems - peaktis problems as a foothold in learning or in other words students learn through problems. The research subject of grade V students at SDN 113/X Pandan Makmur Jambi was 18 students. Data collection tools in the form of test sheets, observation sheets and documentation. Data analysis techniques in the form of percentages. This research uses two cycles, starting from planning, implementation, observation, and reflection. The results of the data analysis showed that by applying a Problem Based Learning (PBL) type learning model with rewarding actions can improve pkn learning outcomes in grade V SDN 113/X Pandan Makmur Jambi.Keywords: PBL, Student Learning Outcomes
UPAYA MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU DALAM PENGUASAAN KURIKULUM 2013 MELALUI IN SERVICE TRAINING Widodo, Martinus
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.785 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i1.1284

Abstract

AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kompetensi guru dalam penguasaan Kurikulum 2013 melalui in-service training. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Sekolah yang dilaksanakan dalam 2 (dua) siklus. Tempat penelitian yaitu SD Negeri 2 Sendangrejo dengan subjek penelitian berjumlah 8 orang guru. Penilaian kemampuan guru dilakukan dengan teknik observasi dengan lembar observasi. Validasi data dilakukan dengan teknik triangulasi. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis deskriptip komparatif. Setelah diberikan tindakan pada siklus I dan siklus II diketahui bahwa kompetensi guru dalam menguasai kurikulum 2013 mengalami peningkatan.  Hasil tersebut menunjukkan bahwa In Service Training terbukti dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menguasai kurikulum 2013 di SD negeri 2 Sendangrejo.Kata kunci: kompetensi guru, Kurikulum 2013, in-service training AbstractThe purpose of this study is to improve teacher competence in mastering the 2013 Curriculum through in-service training. This research is a school action research conducted in 2 (two) cycles. The place of research is SD Negeri 2 Sendangrejo with 8 teachers as research subjects. Assessment of teacher abilities is carried out by observation techniques with observation sheets. The data validation was done by using triangulation technique. Data analysis was performed using comparative descriptive analysis techniques. After taking action in cycle I and cycle II, it is known that the competence of teachers in mastering the 2013 curriculum has increased. These results indicate that In Service Training has been proven to improve teacher competence in mastering the 2013 curriculum at SD Negeri 2 Sendangrejo.Keywords: teacher competence, 2013 curriculum, in-service training
IMPLEMENTASI NILAI PANCASILA SEBAGAI TINJAUAN ATAS MENTALITAS ANAK BANGSA INDONESIA Robi'ah, Fajriyatur; Dewi, Dinie Anggraenie
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.371 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i1.1461

Abstract

AbstrakPenelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis lebih dalam mentalitas bangsa Indonesia khususnya dalam diri anak muda bangsa Indonesia. Kajian penelitian ini menggunakan metode kualitatif atau pendekatan secara deskriptif dimana teori ataupun dasar pembahasannya diperoleh dari hasil studi kepustakaan dengan berbagai sumber seperti buku, jurnal dan artikel. Metode ini digunakan untuk mencari kebenaran dalam suatu fakta yang terjadi dan berfokus kepada pemahaman fenomena sosial yang terjadi di masyarakat. Dalam penelitian ini, dapat diketahui bahwa moral dan mentalitas anak bangsa dapat menjadi cerminan masa depan bangsa. Dengan adanya revolusi mental guna memperbaiki mentalitas anak bangsa dapat menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Maka pentingnya penerapan nilai-nilai Pancasila dalam berperilaku guna menciptakan individu yang bermoral. Dengan mengkiblatkan perilaku kepada nilai-nilai Pancasila diharapkan dapat menjadi awal kemajuan bangsa Indonesia. Dan dibuatnya artikel ini sebagai langkah awal dalam membuka perhatian mengenai pentingnya memperbaiki mentalitas anak bangsa.Kata Kunci: Pancasila, mentalitas, moral AbstractThis research was conducted to determine and analyze more deeply the mentality of the Indonesian nation, especially in the Indonesian youth. This research study uses a qualitative method or a descriptive approach where the theory or basis of discussion is obtained from the results of literature studies with various sources such as books, journals and articles. This method is used to find the truth in a fact that occurs and focuses on understanding social phenomena that occur in society. In this research, it can be seen that the morality and mentality of the nation's children can be a reflection of the nation's future. With the mental revolution in order to improve the mentality of the nation's children, it can create quality human resources. So the importance of implementing Pancasila values in behavior in order to create moral individuals. By cultivating behavior to the values of Pancasila, it is hoped that it can be the beginning of the progress of the Indonesian nation. And this article was made as a first step in opening attention to the importance of improving the mentality of the nation's children.Keywords: Pancasila, mentality, morals

Page 5 of 168 | Total Record : 1679