TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan
TAJDID merupakan jurnal pemikiran keislaman dan kemanusiaan. Frekuensi penerbitan dilakukan sebanyak 2 (dua) kali dalam setahun setiap bulan April dan Oktober oleh LP2M IAI Muhammadiyah Bima. TAJDID akan menyajikan ide-ide yang up to date disertai dengan solusi-solusi yang relevan seputar pemikiran keislaman dan kemanusiaan. Terlepas dari itu, secara tehknisnya bahwa TADJID hadir untuk mempermudah penulis, peneliti, mahasiswa, guru bahkan stakeholder lainnya yang berkepentingan akan teori-teori yang relevan yang dapat dijadikan sebagai bahan rujukan/referensi secara luas. TAJDID berkomitmen kuat akan selalu hadir sebagai solusi dalam konteks pengembangan keilmuan dibidang keagamaan dan kemanusiaan (sosial).
Articles
533 Documents
Larangan Tasyabbuh Dalam Perspektif Hadist
Nablur Rahman Annibras
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol. 1 No. 1 (2017): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52266/tadjid.v1i1.4
Meniru budaya atau tradisi milik bangsa lain merupakan buah dari adanya interaksi sosial antara dua entitas atau kultur yang berbeda. Persinggungan budaya semacam ini membuka peluang adanya keterpengaruhan suatu kelompok atas tradisi atau kebiasaan kelompok lain. Keterpengaruhan yang kemudian melahirkan peniruan-peniruan tradisi seperti yang telah dicontohkan sebelumnya. Dalam ranah kajian Islam, konsep seperti ini dinamakan dengan nama tasyabbuh. Tasyabuh merupakan hal yang dilarang dalam Islam. Sebagaimana yang terdapat dalam banyak hadis, bahwa Rasulullah melarang akan praktek tasyabbuh tersebut khususnya terhadap tradisi atau kebiasaan dari kaum Yahudi dan Nasrani. Dalam memaknai hadis-hadis tentang tasyabuh tersebut, terjadi perbedaan pendapat dikalang para ulama terkait boleh atau tidaknya tasyabuh khususnya meniru tradisi kaum Yahudi dan Nasrani. Melalui kajian matan dan sanad, bahwa hadis-hadis yang menjelaskan tentang larangan tasyabuh terhadap tradisi-tradisi kaum non-Muslim khususnya kaum Yahudi dan Nasrani merupakan bentuk perlindungan atas identitas ke-Islaman umat Muslim. Dalam hal ini, tasyabuh merupakan sebuah pelanggaran apabila bertentangan dengan akidah dan syariah, yaitu tidak menyinggung kaidah-kaidah normatif agama baik itu nash al-Qur ’an maupun al-Sunnah serta bukan bagian dari kebiasaan khusus kaum Yahudi dan Nasrani.
Pendekatan Social Exchange Perspekstif George C. Homans
Umar Umar
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol. 1 No. 1 (2017): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52266/tadjid.v1i1.5
Struktur sosial kehidupan manusia secara hakikat saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Seorang manusia dalam konteks hubungan sosial antar sesamanya, dianggap memiliki kontribusi bagi manusia lainnya bilamana melakukan transaksi sosial kemanusiaan. Konsep transaksi sosial inilah yang dijabarkan George C. Homans dalam teori- nya social exchange yang secara subtantif menjelaskan bentuk-bentuk proposisi sosial manusia mulai dari proposisi sukses, stimulus, nilai, deprivasi-satiasi, dan restu-agresi yang sejatinya muatan proposisi tersebut dapat menjadi fondasi pembelajaran sosial manusia. Teori sosial exchange juga erat hubungan dengan deskripsi perilaku yang saling me- mengaruhi dalam membangun hubungan sosial seperti adanya unsur ganjaran, pengorbanan dan keuntungan yang dapat menciptakan keseimbangan, keselarasan, dan kerharmonisan hubungan sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan Pesantren Menurut Cak Nur Dan Yudian Wahyudi
Yan Yan Supriatman
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol. 1 No. 1 (2017): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52266/tadjid.v1i1.6
Pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan tertua yang ada di Indonesia, dan merupakan lembaga yang bisa dikatakan merupakan wujud proses wajar perkembangan sistem pendidikan nasional. Kyai, santri dan ada masjid serta santri yang tinggal menetap di lingkungan pesantren menjadi kompenen dan syarat sehigga bisa dikatakan sebagai sebuah pesantren. Dalam penelitian ini mengkaji tentang bagaimana konsep pendidikan pesantren menurut Cak Nur dan Yudian Wahyudi dengan eksistensinya di Era Modern sekarang. Fokus kajian dikaji yang terdiri kurikulum, metode pengajaran yang digunakan, materi ajar, sistem sebagai sebuah lembaga pendidikan dan pengaruh kyai serta peran para santri. Dalam memperoleh data, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan library research yang kemudian data di analisis dengan cara komparatif. Diantara hasil penelitian yang didapat adalah masing-masing konsep pesantren baik oleh Cak Nur maupun Yudian Wahyudi memiliki kelebihan tersendiri. Konsep pesantren yang oleh Cak Nur hanya bersifat teoritis saja karena sampai sekarang Cak Nur belum memiliki pesantren. Sedangkan konsep pesantren oleh Yudian Wahyudi selain berguna secara teoritis juga telah diaplikasikan ke dalam pesantren yang dimilikinya sendiri yang terletak di daerah Yogyakarta. Namun kedua tokoh tersebut sama-sama pernah menimba ilmu di pesantren dan sama-sama lulusan salah satu Universitas terkemuka di luar negeri
Oksidentaslisme: Menuju Integralisasi Epistemologi Studi Islam
Anwar Sadat
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol. 1 No. 1 (2017): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52266/tadjid.v1i1.7
Oksidentalisme adalah studi tentang Barat atau segala sesuatu yang berkaitan dengan Barat baik ilmu pengetahuan, budaya, politik, ekonomi dan sosial masyarakat. Oksidentaslisme merupakan gagasan orisinil Hasan Hanafi untuk membendung arus kolonialisasi pemikiran atau membendung arus pemikiran Barat yang superior dan menganggap Timur sebagai wilayah yang dijajah secara pemikiran dan kebudayaan. Barat yang menganggap Timur Islam sebagai daerah koloni (jajahan) era baru pasca orientaslime yang digagas oleh Edward Said. Upaya meretas kolonialisasi pemikiran dan kebudayaan antara ego/al-anâ dan the other/ al-akhâr tersebut perlu adanya kesadaran bersama bahwa Timur Islam pernah memberikan konstribusi atas peradaban Barat sedangkan Barat memberikan sumbangan metodologi keilmuan yang positif atas Timur Islam. Timur dan Barat bukanlah batas geografis dan ideologis yang harus dipandang secara dikotomik-dualistik yang memperuncing perbedaan antara ego/al-anâ dan the other/al-akhâr tetapi satu kesatuan umat atau umatan wa hidah yang telah di diktum oleh Allah dalam al- Quran yang berarti satu kesatuan ummat dan satu kesatuan sumber pengetahuan dan peradaban.
Pemikiran Islam Tentang Nafs
Muh. Aidil Sudarmono
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol. 1 No. 1 (2017): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52266/tadjid.v1i1.8
Pemahaman tentang jiwa pada manusia merupakan salah satu bagian dari kajian filsafat. Jiwa termasuk aspek trasendental yang secara johiriyah dan lahiriyah tidak dipisahkan dalam kajian tentang sisi manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan terutama merujuk kajian skriptual dalam konsepsi teologi Islam. Sehubungan dengan hal itu, beragam pendapat dan pandangan dari para pemikir Islam yang mengkonstruksikan makna jiwa sebagai Nafs yang mempunyai arti sebagai roh manusia, nyawa, seluruh kehidupan batin, sesuatu yang utama menjadi semangat, maksud sebenarnya, arti yang tersirat, dan buah hati. Lebih lanjut lagi, telaah konsepsi teologi Islam tentang jiwa dalam kaitannya dengan filsafat Islam akan bersandar pada dari akarnya yaitu al-nafs. Al-Nafs juga diartikan darah, karena seseorang apabila kehilangan darah maka ia kehilangan jiwanya. Meskipun dalam pemaknaan umum dipahami sesungguhnya jiwa dalam pandangan pemikir Islam terdapat kecnderungan memposisikan Jiwa sabagai Nafs juga berarti roh, hal ini dilihat dari beberapa ayat menyebutkan kata al-nafs dengan arti ruh yang berkaitan langsung dngan jasad manusia sebagai komponen fisik manusia. Pada aspek ini kata al-ruh dengan al- nafs memiliki kedekatan makna, al-nafs berarti bernafas dan al-ruh yang jika dijamakkan, al-arwah adalah penentu hidup atau matinya manusia.
WAHDAT AL-ADYAN: MODERASI SUFISTIK ATAS PLURALITAS AGAMA
Nur Kolis
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol. 1 No. 2 (2017): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52266/tadjid.v1i2.42
Perkembangan hubungan antara umat beragama ccenderung kehilangan spirit kemanusiaannya yang universal, berganti dengan semangat kelompok dan individu. Isu agama diangkat untuk keepentingan individu, kelompok, dan kekuasaan. Gagasan tentang pembelaan terhadap Tuhan telah menjadi gagasan yang utopis. Iman kemudian tertuju pada institusi agama, bukan kepada Tuhan. Akhirnya penganut ajaran agama lain dianggap bukan peenyembah Tuhan. Secara bertubi-tubi sikap keagamaan tersebut memicu terjadinya peperangan atas nama agama. Berbagai langkah solutif telah coba diwacanakan. Dikalangan pemikir Islam sufistik, jauh sebelum muncul wacana pluralisme agama, terdapat satu gagasan tentang wa?dat al-adyân atau “kesatuan agama-agama”. Pemikir sufistik wa?dat al-adyân menawarkan satu gagasan moderat yang humanis, dan universal dalam konteks relasi agama-agama, mengandung pesan moral yang terkait secara langsung dengan masalah harmoni kehidupan sosial keagamaan. Universalitas konsep wa?dat al-adyân terdapat pada aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Konsep wa?dat al-adyân dalam tasawuf dipopulerkan oleh dua tokoh sufi ternama, yaitu Husin Mansur al-?allâj (w. 922 M) dan Muhyi al-Din Ibn ‘Arabi wahdat al-wujûd (w. 1240 M). Al-?allâj menggandengkan konsep wa?dat al-adyân dengan hulûl, sedangkan Ibn ‘Arabi. Pemikiran dua sufi tersebut saling melengkapi, al-?allâj sebagai penggagas wa?dat al-adyân sedangkan Ibn ‘Arabi membuat ide-ide al-?allâj menjadi sistematis.
FILSAFAT ISLAM: KEJAYAAN DAN KONFLIK DENGAN ORTODOKSI
Ruslan Ruslan
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol. 1 No. 2 (2017): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52266/tadjid.v1i2.43
Dinamika sejarah filsafat Islam pernah mengalami kejayaan sekaligus menghadapi masalah pertentangan yang membuatnya tidak bisa berkembang secara pesat disebabkan penolakan dari kaum ortodoksi Islam. Era Ibnu Sina merupakan era kejayaan filsafat Islam dimana gagasan dan konsep pemikiran filosofisnya menjadi rujukan masyarakat pada zamannya. Berbeda dengan Sang Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali. Berdasarkan proses pencarian yang dilakukannya, ia menemukan bahwa kebenaran atau Islam yang orisinal itu ada pada konsep dan pemikiran yang ortodoks (murni). Konsep sang pembela Islam tidak berjalan mulus, karena Ibnu Rusyd yang merupakan salah satu tokoh penting dunia Muslim yang sering melontarkan kritikannya terhadap pemikiran Islam ortodoksi yang diwakili oleh Imam al-Ghazali. Bahkan al-Ghazali sering dituduh sebagai penyebab kejumudan dalam dunia Islam.
NILAI DASAR PENDIDIKAN DALAM AL-QUR’AN
Muh Sya’rani
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol. 1 No. 2 (2017): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52266/tadjid.v1i2.44
Al-Quran sebagai sumber utama dan menjadi petunjuk dalam Islam, tidak bisa hanya dipahami secara normative oleh umat Islam sebagai teks yang mengatur hukum-hukum syar’i dalam bentuk hubungan-hubungan antara tuhan dan manusia semata saja, namun lebih dari itu al-Quran juga harus dipahami sebagai petunjuk yang berisi konsep-konsep jika umat Islam ingin mencapai peradaban yang paripurna. Sebut saja misalkan pendidikan sebagai bagaian terpenting dalam peradaban manusia, al-Qur’an yang merupakan petunjuk mesti hadir sebagai konsep dasar dan pengembangan pendidikan Islam, sehingga peradaban yang hadir sebagai hasil dari usaha pendidikan tidak terlepas dari nilai-nilai Qur’ani. Bila kita selami lebih dalam, kita bisa mendapati cukup banyak ayat-ayat dalam al-Qur’an yang bisa dijadikan landasan berpijak, atau memiliki relevansi yang cukup kuat untuk dijadikan sebagai alasan akan adanya konsep pendidikan dalam Islam, baik itu dari segi keutamaan ilmu, penuntut ilmu sampai bagaimana ayat-ayat al-Qur’an menjelaskan tata cara dalam pendidikan seperti bagaimana Allah memberikan pelajaran bagi Rasul-rasulnya. Oleh sebab itu al-Qur'an sendiri telah memberi isyarat bahwa permasalahan pendidikan sangatlah penting, jika al-Qur'an dikaji lebih mendalam maka kita akan menemukan beberapa prinsip dasar pendidikan, yang selanjutnya bisa kita jadikan inspirsi untuk dikembangkan dalam rangka membangun pendidikan yang bermutu, oleh karenaya para pemikir dan pemerhati pendidikan harus selalu mejadikan al-Qur’an sebagai inspirasi, bahkan gren-teory dalam merumuskan konsep-konsep pendidikan yang bertujuan membina manusia secara pribadi dan kelompok, sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah SWT.
TRANSMISI IDEOLOGI FUNDAMENTALISME DALAM PENDIDIKAN
Husnatul Mahmudah
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol. 1 No. 2 (2017): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52266/tadjid.v1i2.45
Tulisan ini berusaha menguraikan tentang transmisi ideologi fundamentalisme dalam pendidikan. Eskpansi gerakan keagamaan transnasional membawa serta ideologi fundamentalisme yang melekat padanya. Gerakan keagamaan ini memandang Islam sebagai ideologi dan politik. Karena itu, fundamentalisme merupakan konsekuensi logis penempatan syariat sebagai referensi utama gerakan Islam. Pandangan tentang keterancaman masa depan Islam akibat gencarnya serangan globalisasi kemudian menjadi titik dasar untuk memperjuangkan Islam lewat berbagai bidang kehidupan. Modernisasi pendidikan Islam seiring dengan pertumbuhan kelas menengah Muslim perkotaan di Indonesia, juga diikuti oleh fenomena maraknya sekolah Islam terpadu. Degradasi moral bangsa dan kualitas pendidikan nasional yang masih jauh dari harapan masyarakat semakin menambah kegelisahan masyarakat kelas menengah terhadap masa depan dan kualitas pendidikan anak-anak mereka. Menjawab kegelisahan tersebut, berbagai gerakan keagamaan mengambil peran untuk memberikan solusi praktis dalam bidang pendidikan Islam. Kelompok fundamentalis ini membingkai serta mentransmisikan ideologi fundamentalisme dalam pendidikan dengan menggunakan pola eksklusif protektif. Pola ini dikembangkan untuk menginternalisasikan paham dan nilai-nilai yang dianggap benar sekaligus memproteksi paham dan nilai lain yang datang dari luar. Transmisi idelogi tersebut dilakukan lewat proses kegiatan belajar mengajar yang didalamnya memuat hidden curriculum yang bertentangan dengan unsur-unsur peace education.
PERENCANAAN DISTRIBUSI ZAKAT PADA DOMPET PEDULI UMMAT DARUT TAUHID (DPU DT) CABANG YOGYAKARTA
Ibrahim Ibrahim
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol. 1 No. 2 (2017): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52266/tadjid.v1i2.46
Lembaga yang diamanahi untuk mengelola zakat, berperan untuk melakukan pendistribusian zakat secara lebih baik lagi, melalui sentuhan manajemen pendistribusian zakat yang profesional. Langkah awal dalam mewujudkan hal tersebut, perlu dilakukan perencanaan yang baik, matang, dan mendalam sehingga dapat menghadirkan nilai-nilai kemaslahatan dari disyariatkannya ibadah zakat. Tulisan ini akan menganalisis perencanaan distribusi zakat yang dilakukan oleh Dompet Peduli Ummat Darut Tauhid (DPU DT) cabang Yogyakarta sesuai dengan konsep manajemen perencanaan. DPU-DT cabang Yogyakarta dalam mendistribusikan dana zakat, telah menggunakan sentuhan manajemen yang baik, salah satunya telah menggunakan tahapan dan proses manajemen perencanaan yang yang meliputi tahapan forcessting, objective, police, program, procedure, schedule, dan budget. Dengan tetap berpedoman pada visi, misi, dan tujuan DPU-DT cabang Yogyakarta yaitu mengantarkan mustahik menjadi muzakki. Selain itu juga membawa misi memperdayakan dan merubah mental ekonomi masyarakat, serta menyiarkan nilai-nilai Islam melalui pembelajaran dan pembinaan agama dalam rangka menguatkan keimanan masyarakat.