cover
Contact Name
Ira Risye Manggribeth
Contact Email
risyemanggribeth@gmail.com
Phone
+6281340277108
Journal Mail Official
jpai@unsrat.ac.id
Editorial Address
Jln. Kampus, Bahu, Malalayang Manado, Sulawesi Utara - 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal Perempuan dan Anak Indonesia
ISSN : -     EISSN : 26862891     DOI : https://doi.org/10.35801/jpai
JPAI adalah Jurnal Perempuan dan Anak di Universitas Sam Ratulangi yang terbit secara berkala 2 kali dalam setahun atau terbit 6 bulan sekali. JPAI merupakan jurnal elektronik (e-journal) ilmiah yang diterbitkan oleh Pusat Kajian Perempuan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyrakat Universitas Sam Ratulangi Manado Sulawesi Utara. E-Journal ini merupakan wadah publikasi dan informasi terhadap hasil karya tulis, skripsi, tesis, disertas, hasil penelitian dan hasil pengabdian masyarakat, dari mahasiswa, dosen, dan peneliti lainnya. E-Journal menggunakan Bahasa Inggris ini danBahasa Indonesia.
Articles 63 Documents
Kolaborasi Antar Aktor Dalam Pencegahan dan Penanganan Pelecehan Seksual di Universitas Kristen Satya Wacana: (Collaboration Between Actors in Preventing and Handling Sexual Harassment at Satya Wacana Christian University) Cintana Amara Sadmoko; Sri Suwartiningsih; Rizki Amalia Yanuartha
JPAI: Jurnal Perempuan dan Anak Indonesia Vol. 5 No. 2 (2024): JPAI: Jurnal Perempuan dan Anak Indonesia
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35801/jpai.5.2.2023.54338

Abstract

Sexual harassment occurs because of the practice of patriarchal domination. The places that still often dominated by cases of sexual harassment are universities. When the facts case of the sexual harassment were discovered, a policy was issued, that was Regulation of the Minister of Education, Culture, Research and Technology Number 30 of 2021 concerning the Prevention and Handling of Sexual Violence in Higher Education Environments. This policy requires all universities, one of which is UKSW, to form a special task force, namely PPKS. PPKS collaborates with several supporting partners to facilitate the flow of task implementation. Apart from officially authorized actors, there are other media in the form of Instagram accounts which indirectly contribute to the prevention and handling of sexual harassment cases. PPKS and other media that are not officially connected have their respective roles and actions in carrying out their duties. So, this research will be analyzed using Bruno Latour's Actor Network Theory with descriptive qualitative methodology which sees reality as "what is". This research found whether or not there was collaboration between actors in preventing and handling sexual harassment at UKSW. So recommendations emerge to maximize future strategies in preventing and handling cases of sexual harassment. ABSTRAK Pelecehan seksual terjadi karena adanya praktik dominasi patriarki. Tempat yang masih sering didominasi oleh kasus pelecehan seksual adalah perguruan tinggi. Ditemukannya fakta kasus pelecehan seksual maka terbit suatu kebijakan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi. Kebijakan tersebut mewajibkan seluruh perguruan tinggi salah satunya UKSW untuk membentuk satgas khusus yaitu PPKS. PPKS menjalin kerjasama bersama beberapa mitra pendukung guna mempermudah alur pelaksanaan tugas. Selain aktor resmi yang berwenang, terdapat media lain berupa akun instagram yang secara tidak langsung memiliki kontribusi dalam pencegahan dan penanganan kasus pelecehan seksual. PPKS dan media yang tidak terhubung secara resmi memiliki peranan dan aksi masing-masing dalam pelaksanaan tugas. Maka, penelitian ini akan dianalisis menggunakan Actor Network Theory milik Bruno Latour dengan metodologi kualitatif deskriptif yang melihat realitas sebagai “apa adanya”. Dalam penelitian ini menemukan ada atau tidaknya kolaborasi antar aktor yang terjalin dalam pencegahan dan penanganan pelecehan seksual di UKSW. Sehingga muncul rekomendasi guna memaksimalkan strategi ke depan dalam pencegahan dan penanganan kasus pelecehan seksual.
Media dan Representasi: Analisis Kriminologis Pemberitaan Media Terhadap Perempuan Pelaku Pembunuhan: Media and Representation: A Criminological Analysis of Media Reporting on Women Perpetrators of Murder in Indonesia Amirah Hi Wahab; Orlen Adzano Putra Bayu
JPAI: Jurnal Perempuan dan Anak Indonesia Vol. 6 No. 1 (2024): JPAI: Jurnal Perempuan dan Anak Indonesia
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35801/jpai.6.1.2024.55923

Abstract

A Women are constructed by the patriarchal society as weak and gentle, loving, forgiving, polite and well-mannered. Which is then passed down into a patriarchal culture, patriarchal culture makes men in a dominant position towards the community environment, and women only submit to listening and following orders. Patriarchal culture in practice constructs a perspective or thought and view that women are just an object (property) to be owned. In the tightness felt by women with feelings of being marginalized by a society that contributes to patriarchal practices, it implies that women find it difficult to move out of the domestic space into a wider public space. The media becomes one of the agents that carry values and norms that implement the practice of marginalizing women. This article will discuss the framing and construction of the media embedded in female murderers in Indonesia, which is part of the media's representation of women as perpetrators of murder. This research also reviews from a criminological aspect. The method used is a qualitative approach with text analysis method and data management in the form of document study and text observation.   ABSTRAK Perempuan dikonstruksi oleh masyarakat pelaku patriarki sebagai sosok yang lemah dan lembut, penyayang, pemaaf, sopan dan santun. Yang kemudian diturun-temurunkan menjadi sebuah budaya yang patriarki, budaya patriarki membuat laki-laki berada dalam posisi yang dominan terhadap lingkungan masyarakat, dan perempuan hanya tunduk mendengar dan mengikuti perintah. Budaya patriarki dalam praktiknya mengkonstruksi sebuah prespektif atau pemikiran serta pandangan bahwa perempuan hanyalah sebuah objek (properti) untuk dimiliki. Dalam kesesakkan yang dirasakan perempuan dengan perasaan yang termarginalkan oleh masyarakat yang turut andil dalam praktik patriarki mengimplikasikan perempuan susah untuk keluar dari ruang gerak domestik ke ruang publik yang lebih luas. Media justru menjadi salah satu agen pembawa nilai dan norma yang menerapkan praktik marginalisasi perempuan. Dalam artikel ini akan dibahas terkait framing dan konstruksi media yang disematkan kepada para perempuan pelaku pembunuhan di Indonesia yang merupakan bagian dari representasi media terhadap perempuan sebagai pelaku pembunuhan. Penelitian ini juga meninjau dari aspek kriminologis. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode analisis teks dan pengolaan data berupa studi dokumen dan observasi teks.
Pelatihan Pengukuran Antropometri Balita pada Kader Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Tombulu Kabupaten Minahasa: (Training on Anthropometric Measurement of Toddlers for Posyandu Cadres in the Working Area of Tombulu Health Center, Minahasa Regency) Malonda, Nancy Swanida; Kawatu, Paul A.T.; Magfirah, Andi N
JPAI: Jurnal Perempuan dan Anak Indonesia Vol. 6 No. 2 (2025): Jurnal Perempuan dan Anak Indonesia (JPAI)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35801/jpai.6.2.2025.64495

Abstract

Monitoring children's growth is crucial for determining their nutritional status. This is useful for improving nutritional status if a child is found to be malnourished. One way to monitor the growth of infants and toddlers is through integrated health service post (Posyandu) activities. Active community participation, through the role of health cadres, is necessary to support the achievement of Posyandu activities' objectives. Active, agile, and knowledgeable cadres can contribute to the success of improving the nutritional status of infants and toddlers. Anthropometric measurements on infants and toddlers must be performed correctly to avoid measurement deviations that could lead to nutritional misdiagnosis. Tombulu Community Health Center in Minahasa Regency has 11 Posyandus with 79 cadres. In recent years, these cadres have not received assistance in anthropometric measurements and determining the nutritional status of toddlers. The purpose of this activity is to improve the knowledge and skills of Posyandu cadres regarding anthropometric measurements and assessing the nutritional status of toddlers. The methods implemented include outreach, counseling, and training. The tools and materials used are Child Growth Monitoring Leaflets, Presentation Slides, LCD, toddler scales for weight training, infantometer and microtoise for height and length measurement training. Pretests and posttests were conducted to determine changes in the knowledge and skills of Posyandu cadres. The results showed that the training had a positive impact on improving the knowledge and skills of Posyandu cadres. Successful monitoring of toddler growth requires the support and active role of the government, through Community Health Centers (Puskesmas) and Posyandu Operational Working Groups (Pokjanal), to facilitate the implementation of various community health activities at Posyandu. ABSTRAK  Pemantauan pertumbuhan anak adalah hal penting untuk mengetahui bagaimana status gizinya. Hal ini berguna untuk memperbaiki status gizi apabila ditemukan anak dengan keadaan gizi yang tidak baik. Salah satu cara pemantauan pertumbuhan bayi dan balita adalah melalui kegiatan posyandu. Partisipasi aktif Masyarakat melalui peran kader kesehatan,  diperlukan untuk menunjang tercapainya tujuan pada kegiatan posyandu.  Kader yang aktif, cekatan, dan berpengetahuan luas dapat membantu keberhasilan dalam meningkatkan status gizi bayi dan balita. Pengukuran antropometri pada bayi dan balita harus dilakukan dengan benar agar tidak terjadi penyimpangan pengukuran yang mengakibatkan kesalahan diagnosis gizi.  Puskesmas Tombulu di kabupaten Minahasa, memiliki 11 posyandu dengan jumlah kader 79 orang. Dalam beberapa tahun terakhir para kader belum mendapatkan pendampingan pengukuran antropometri dan penentuan status gizi balita. Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader posyandu mengenai pengukuran antropometri dan penilaian status gizi balita. Jenis metode yang dilaksanakan adalah  kegiatan sosialisasi penyuluhan dan petatihan. Alat dan bahan yang digunakan adalah Leaflet Pemantauan Pertumbuhan pada Anak, Slide Presentasi, LCD, timbangan balita untuk pelatihan penimbangan berat badan, infantometer dan microtoise untuk pelatihan pengukuran tinggi badan dan panjang badan. Kegiatan pretest dan posttest dilakukan untuk mengetahui adanya perubahan pengetahuan dan keterampilan pada kader posyandu.  Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pelatihan ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader posyandu. Keberhasilan dalam pemantauan pertumbuhan balita, diperlukan dukungan dan peran aktif pemerintah melalui Puskesmas dan Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) Posyandu  dalam memfasilitasi pelaksanaan berbagai kegiatan kesehatan masyarakat di posyandu.