cover
Contact Name
Muhammad Aditya Pratama
Contact Email
adityapratama@ikj.ac.id
Phone
+6285693972062
Journal Mail Official
imaji@ikj.ac.id
Editorial Address
Jalan Sekolah Seni No.1 (Raden Saleh, Kompleks Taman Ismail Marzuki Jl. Cikini Raya No.73, RT.8/RW.2, Cikini, Jakarta, Central Jakarta City, Jakarta 10330
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal IMAJI
ISSN : 19073097     EISSN : 27756033     DOI : https://doi.org/10.52290/JI
Core Subject : Humanities, Art,
Journal IMAJI accommodates a collection of various topics of film / audio-visual studies that contain ideas, research, as well as critical, fresh, and innovative views on the phenomenal development of cinema in particular and audio-visual in general. This journal aims to provide research contributions to film and audio-visual media which are expected to encourage the development of film, including photography, television and new media in Indonesia, so that they are superior and competitive at the national level and in the international world.
Articles 206 Documents
Model Industri Eagle Awards Documentary Competition 2022: Pendampingan Produksi Hingga Distribusi Film Dokumenter untuk Sineas Muda : Pendampingan Produksi Hingga Distribusi Film Dokumenter untuk Sineas Muda Pangestu, Panji
IMAJI Vol. 15 No. 3 (2024): Ruang, Penonton, dan Wacana Sinematik
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v15i3.207

Abstract

Keterbatasan pemahaman produksi dan distribusi bagi sineas muda atau pemula di industri film dokumenter tidak dapat dipungkiri faktanya. Tidak adanya sinergi antara produksi hingga distribusi membuat perkembangannya menjadi kurang signifikan. Melihat perkembangan infrastruktur dokumenter di Indonesia, Eagle Institute Indonesia hadir melalui ajang tahunan bertajuk Eagle Awards Documentary Competition (EADC). Penelitian memaparkan keberadaan Eagle Institute Indonesia di industri nasional atas perannya dalam membangun infrastruktur film dokumenter Indonesia melalui model industri yang dijalankan. Metode penelitian menggunakan pendekatan campuran. Pengolahan data kuantitatif yang didapat dari laporan akhir acara dan dielaborasi melalui data kualitatif dengan melakukan wawancara kepada penyelenggara dan peserta. Secara garis besar cita-cita mewujudkan para sineas muda untuk dapat tergabung dalam ekosistem film dokumenter nasional dapat disimpulkan sudah terpenuhi melalui konsistensi model industri EADC mencakup pendampingan produksi hingga distribusi film dokumenter.
Konsep Kepenontonan dan Penanda Sinematik dalam Teori Film Psikoanalisis Ariansah, Mohamad
IMAJI Vol. 15 No. 3 (2024): Ruang, Penonton, dan Wacana Sinematik
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v15i3.208

Abstract

Penanda sinematik adalah sistem yang bersifat internal dalam sebuah film. Sebagai sebuah konsep, penanda sinematik merupakan salah satu aspek yang khas dari kajian sinema sebagai sebuah disiplin ilmu pengetahuan. Sehingga analisis terhadap penanda sinematik merupakan sebuah langkah awal yang wajib dilakukan untuk memahami makna sebuah film. Sementara itu, teori film psikoanalisis berusaha memahami penanda sinematik melalui konsep kepenontonan yang berasal dari luar film itu sendiri. Tulisan ini berusaha untuk memahami problem analisis film berdasarkan pendekatan terhadap penanda sinematik melalui kajian kepustakaan atas teori film semiologi dan psikoanalisis.
Sinema Modern: Sebuah Persoalan Historiografi dalam Sejarah Film Ariansah, Mohamad
IMAJI No. 6 (2011): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu persoalan utama dalam setiap seni adalah memberikan perspektif baru dalam memandang dunia. Berdasarkan itu ambisi untuk menghasilkan berbagai kemungkinan baru, secara isi, struktur ataupun bentuk menjadi ambisi utama sepanjang sejarah seni. Dalam sinema ide ten tang kebaruan terwujud dalam diskursus tentang Sinema modern. Masalahnya kemudian ide tentang yang modern bukanlah sebuah tema eksklusif dan temuan dari bidang seni semata, tetapi menyebar dalam perdebatan di semua disiplin ilmu pengetahuan dan filsafat. Lantas model seperti apakah yang tepat untuk menjadi definisi modern dalam sinema. Yang diyakini sepenuhnya telah mun cul dalam perjalanan sejarah sinema.
Menata Artistik dalam Film dan Televisi Doena, Bintang B.
IMAJI No. 6 (2011): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tata Artistik Film dan Televisi di Indonesia mengalami perkembangan yang pesat dengan majunya industri pertelevisian. Dengan banyaknya hasil karya yang diproduksi oleh stasiun televisi atau oleh rumah produksi untuk kebutuhan program harian dari stasiun televisi tersebut, maka dibutuhkan Tata Artistik yang berkualitas, dimana Tata Artistik mempunyai peranan penting dalam produksi Film dan Televisi. Dengan demikian dibutuhkan seorang Penata Artistik yang memahami akan unsur-unsur Tata Artistik yaitu: setting, properti, kostum, make up dan special effect yang dapat menunjang kualitas dari produksi tersebut.
'Mata' Hasrat dalam Ponirah Terpidana Gunawan, Eric
IMAJI No. 6 (2011): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sinema didekati sebagai bahasa oleh Christian Metz. Pendekatan ini menuai sikap kritis karena mereduksi semua elemen sinematik menjadi makna. Padahal sinema bukan persoalan pemaknaan. Tulisan ini ingin memperlihatkan pendekatan lain terhadap sinema yakni melalui hasrat. Teori yang digunakan adalah teori figural hasil pembacaan Lyotard atas psikoanalisis Freud berjudul Die Verneinung. Teori ini memperlihatkan peran figural sebagai hasrat melalui kehadiran "mata" pada bahasa. Pada saat bersamaan, kehadiran ini meruntuhkan pemaknaan pada sinema sebagai kealamiahan hubungan antara penanda dan petanda.
Poster Film Indonesia Prakosa, Gotot
IMAJI No. 6 (2011): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebuah poster film atau juga sering disebut onesheet adalah alat yang sangat berguna dalam distribusi film. Pada dasarnya selain penanda, sebuah poster film untuk menarik penonton bioskop yang digunakan dan membuat mereka ingin melihat film. Untuk desainer poster itu bisa menjadi hal yang dilematis antara keinginan untuk membuat nilai estetika yang memenuhi dogma atau prinsip kerja grafis murni, tapi di sisi lain ia juga dibebani oleh tujuan untuk menghasilkan "iklan yang menjual': Tapi kemudian setelah semua, apapun namanya, ketika poster selesai dengan semua fiturnya, satu-satunya hal yang kemudian penting adalah bahwa semua harus terus berlangsung, apapun hasilnya, apakah baik atau buruk untuk film pemilik.
Gerakan Avant-Garde Poster Film Soviet Saptatia, Henny
IMAJI No. 6 (2011): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasca runtuhnya Imperium Rusia, Uni Soviet dianggap mampu mencapai sukses besar dalam penciptaan karya sinematografi. Kebangkitan Gerakan avant-garde memiliki keterkaitan politis dengan munculnya gerakan anti Imperium. Revolusi rakyat dan kelahiran Uni Soviet sebagai negara baru dengan ideologi baru justru menjadi stimulan bagi munculnya bentuk-bentuk seni baru. Seniman Grafis terlibat dalam maraknya gerakan avant-garde lewat aneka genre poster, termasuk poster film. Senafas dengan gerakan ini, seni Grafis poster film Soviet dianggap berkembang dengan inovasi dan teknik baru. Dalam gerakan ini hanya ada satu prinsip yang dipertahankan, yaitu memberikan ruang gerak seluas-luasnya bagi para seniman Grafis untuk bermain penuh menuangkan imajinasinya. Keistimewaan poster film avant-garde Soviet terlihat pada bentuk ekspresi individual sang seniman Grafis, inilah yang membedakannya dari kebanyakan jenis poster lain pada umumnya. Dalam poster film avant-garde nilai artistik dan estetik sebuah poster semata mata memang hanya ditentukan oleh kualitas Grafis.
Kesenian dan Industri dalam Era Digital: Studi Kasus: Pengembangan Kreatifitas Musik melalui Perekaman Komputer Sarim, Safi'i
IMAJI No. 6 (2011): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebuah bakat adalah kata yang sangat penting dalam bidang apapun, termasuk dalam bidang musik atau kesenian pada umumnya. Tetapi sebuah bakat seringkali terkendala dengan berbagai hal, sehingga bakat itu tidak berkembang atau tak pernah punya bentuk yang dapat dikenal secara luas. Menurut Joe Khatena dan Nelly Khatena dalam buku Developing creative talent in art; a guide for parents and teachers, adalah penting untuk familiar dengan sebuah bakat alam, tetapi adalah juga penting untuk memberi kesempatan berkembang, meningkatkan, mewujudkan dan memberikan pengakuan. Seorang Raden Saleh pun menjadi terkenal karena bakatnya ditemukan oleh seorang Belanda yang bernama Auguste Joseph Paijen yang dapat mengenali bakat unik Raden Saleh. Kemudian ia mengajari menggambar dan melukis dan memungkinkan Raden Saleh dapat pergi ke Belanda dan menjadi terkenal seperti yang kita ketahui saat ini. Tulisan ini berisi penelitan tentang sebuah proyek seni dalam pengembangan bakat didalam musik. Tentang sebuah band yang mencoba membuat sebuah demo/contoh lagu-lagu mereka untuk dikirim pada perusahaan rekaman musik. Dengan segala keterbatasan dan persoalan mereka untuk dapat menyelesaikan demo mereka. Penulis melatih mereka untuk dapat rekaman sendiri, sebab setelah rekaman cukup lama disebuah studio ternyata kurang bagus atau boleh dikatakan buruk. Walaupun esensi dasar sebuah band untuk dapat maju dan berkembang telah mereka punyai, yaitu mampu menciptakan lagu yang bagus dan diterima pasar. Tapi sebuah bakat saja ternyata tidak cukup. Untuk dapat membuat sebuah demo rekaman yang cukup baik mereka harus punya kemampuan bermain dan mengaransemen dengan baik dan hal itu bisa terwujud dengan meminta bantuan orang lain untuk menyelesaikan lagu-lagu mereka.
Film Dokumenter dalam Perkembangan Suatu Komunitas Olahraga, dengan Media Tayang Digital Pratama, Mochamad Rizky
IMAJI No. 6 (2011): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemajuan teknologi digital benar-benar memfasilitasi pembuat film di dunia untuk membuat film dengan genre yang berbeda tak terkecuali, dokumenter bagi olahraga urban, didukung oleh berbagai media elektronik semakin mudah, membuat mereka tidak hanya seorang atlet tetapi juga penghibur. Jadi film ini memainkan kontribusi penting tidak hanya untuk memperkenalkan komunitas, tetapi mengambil keuntungan dari uang dalam film dokumenter.
Seluk Beluk Kolaborasi Film dan Bioskop di Indonesia Hariyani, Ratna Muthya
IMAJI No. 6 (2011): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bioskop dan film merupakan dua hal yang tidak bisa di pisahkan. Bioskop mendapatkan keuntungan dari film-film yang diputar, dan begitu juga sebaliknya, film mendapatkan keuntungan karena diputar oleh bioskop. Namun hal yang signifikan dari keduanya adalah film bisa menunjang kualitas dan kuantitas bioskop, sedangkan bioskop tidak bisa menunjang kualitas dan kuantitas film. Karena dalam hal ini, bioskop hanya sebagai eksibitor. Begitu pula dengan bioskop dan film Indonesia, di mana saat ini perkembangan bioskop Indonesia semakin pesat dan teknologi yang digunakan semakin maju. Sedangkan perkembangan film Indonesia itu sendiri mengalami kemunduran dalam hal kualitas dan kuantitasnya . Menyangkut hal ini, bagaimana pemerintah ingin memperbanyak bioskop, sedangkan film Indonesia mengalami kemunduran. Apakah bioskop dihadirkan hanya untuk mengharapkan film asing semata ?

Filter by Year

2005 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 17 No. 1 (2026): Film Artistik dan Film Komersial: Estetika, Industri dan Ideologi Hiburan Vol. 16 No. 3 (2025): Imaji Visual dalam Ruang, Waktu, dan Memori Vol. 16 No. 2 (2025): Film, Masyarakat, Teknologi, dan Identitas Budaya Vol. 16 No. 1 (2025): Identitas dalam Sinema Indonesia Vol. 15 No. 3 (2024): Ruang, Penonton, dan Wacana Sinematik Vol. 15 No. 2 (2024): Fotografi, Bahasa Visual dan Eksotisme Vol. 15 No. 1 (2024): Arsip, Wacana Visual & Film Eksperimental Vol. 14 No. 3 (2023): Suara & Imaji yang Berkelindan Vol. 14 No. 2 (2023): Fotografi, Riwayatmu Hingga Kini Vol. 14 No. 1 (2023): Antara Struktur dan Bahasa Visual Vol. 13 No. 3 (2022): Menuju Layar Personal sebagai Budaya Baru Menonton Vol. 13 No. 2 (2022): Wawancara dan Kedalaman Penelitian Media Audio Visual Vol. 13 No. 1 (2022): Merayakan dan Dirayakan Melalui Sinema Vol. 12 No. 3 (2021): Membingkai Realitas melalui Imaji Visual Vol. 12 No. 2 (2021): Panorama Mengamplifikasi Gagasan melalui Media Audio-Visual Vol. 12 No. 1 (2021): Sinema dan Wacana Vol. 11 No. 2 (2020): Sinema, Ideologi, dan Kritik Sosial Vol. 11 No. 1 (2020): Bentuk, Gaya, dan Persepsi Penonton Vol. 10 No. 2 (2018): Karakter dan Konsep-Konsep Psikoanalisis dalam Film Vol. 10 No. 1 (2018): Teknologi dan Storytelling dalam Medium Audio-Visual Vol. 9 No. 1 (2017): Mitos dalam Film dan Televisi Vol. 8 No. 1 (2016): IMAJI Vol. 5 No. 2 (2013): IMAJI Vol. 5 No. 1 (2013): IMAJI Vol. 4 No. 2 (2012): IMAJI Vol. 4 No. 1 (2012): IMAJI No. 6 (2011): IMAJI No. 5 (2009): IMAJI No. 4 (2008): IMAJI No. 3 (2007): IMAJI No. 2 (2006): Dimana Posisi Kritik Sinema Indonesia? No. 1 (2005): Antara Melihat dan Membaca More Issue