cover
Contact Name
Muhammad Aditya Pratama
Contact Email
adityapratama@ikj.ac.id
Phone
+6285693972062
Journal Mail Official
imaji@ikj.ac.id
Editorial Address
Jalan Sekolah Seni No.1 (Raden Saleh, Kompleks Taman Ismail Marzuki Jl. Cikini Raya No.73, RT.8/RW.2, Cikini, Jakarta, Central Jakarta City, Jakarta 10330
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal IMAJI
ISSN : 19073097     EISSN : 27756033     DOI : https://doi.org/10.52290/JI
Core Subject : Humanities, Art,
Journal IMAJI accommodates a collection of various topics of film / audio-visual studies that contain ideas, research, as well as critical, fresh, and innovative views on the phenomenal development of cinema in particular and audio-visual in general. This journal aims to provide research contributions to film and audio-visual media which are expected to encourage the development of film, including photography, television and new media in Indonesia, so that they are superior and competitive at the national level and in the international world.
Articles 212 Documents
Analysis of the Development Typology of Film Content Creators: Seen from Content Strategy on the Instagram Platform. Ananda Syafitri; Yola Yulfianti; Iwan Gunawan
IMAJI Vol. 17 No. 1 (2026): Film Artistik dan Film Komersial: Estetika, Industri dan Ideologi Hiburan
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/imaji.v17i1.425

Abstract

Pesatnya perkembangan media sosial telah melahirkan profesi kreator konten, termasuk dalam bidang film di berbagai platform, termasuk instagram. Meskipun jumlah kreator konten film di Instagram terus meningkat dengan beragam fokus dan gaya penyajian, kajian akademis yang mencakup sejauh mana perkembangan serta tipologi kreator konten film pada platform instagram masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tipologi perkembangan kreator konten film di Instagram ditinjau dari strategi konten yang diterapkan. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dengan metode etnografi digital. Subjek penelitian dibatasi pada akun pembuat konten film berbasis konten yang aktif dan konsisten. Data dikumpulkan melalui observasi akun Instagram yang diseleksi berdasarkan tingkat keaktifan dan dianalisis melalui aspek fokus konten, konsistensi visual akun, variasi format konten, serta relevansi konten. Hasil penelitian menunjukkan ekosistem pencipta konten film di Instagram sangat beragam. Kreator konten film global mendominasi jumlah dan menunjukkan variasi bahasan serta kekuatan identitas visual yang lebih konsisten dibandingkan kreator konten film nasional, yang masih cenderung mengandalkan materi visual bawaan film.
Relevansi Struktur The Replay Victoria Lynn Schmidt pada Film SORE: Istri dari Masa Depan (2025) Yohanes Yogaprayuda
IMAJI Vol. 17 No. 1 (2026): Film Artistik dan Film Komersial: Estetika, Industri dan Ideologi Hiburan
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/imaji.v17i1.429

Abstract

Artikel ini menelaah apakah kerangka struktur the replay dari Victoria Lynn Schmidt masih relevan untuk menjelaskan film SORE: Istri dari Masa Depan (2025) yang menggabungkan time travel dan time loop. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis naratif struktural, melalui segmentasi cerita ke dalam tiga babak serta pemetaan adegan-adegan loop ke dalam elemen the replay yaitu traditional elements, new elements, dan questions. Hasil analisis menunjukkan bahwa struktur the replay tetap sesuai pada level fungsi dramatik dan model character-driven. Film memberi penanda awal pengulangan melalui time merge, menggerakkan cerita lewat reversal, menaikkan ketegangan pada problem intensifies, dan memutus siklus pada climax melalui perubahan cara pandang Sore dari kontrol menuju penerimaan. Struktur ini melampaui the replay pada empat titik, yaitu jumlah loop yang berjumah 23 loop sehingga perlu dibagi sebagai tiga fase besar, pivot strategi yang muncul lebih awal, hadirnya Waktu sebagai entitas transendental, serta penutup berupa timeline alternatif yang menuntut reintegrasi memori agar makna pengulangan tidak hilang.
Antara Tradisi dan Trauma: Ritual Sirompak dalam Praktik Film Esai yolla sari
IMAJI Vol. 17 No. 1 (2026): Film Artistik dan Film Komersial: Estetika, Industri dan Ideologi Hiburan
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/imaji.v17i1.431

Abstract

Artikel ini membahas ritual Sirompak dalam kebudayaan Minangkabau melalui praktik film esai berbasis arsip. Alih-alih memverifikasi kebenaran ritual sebagai tradisi, tulisan ini membaca Sirompak sebagai narasi budaya yang berada di antara legitimasi tradisi dan pengalaman trauma yang tidak selalu terselesaikan. Film tidak melakukan proses produksi gambar baru, melainkan menyusun ulang arsip visual dan audio melalui strategi layering, fragmentasi, dan komposisi suara. Pendekatan ini memosisikan film esai sebagai cara berpikir visual yang menguji bagaimana ritual diproduksi, direpresentasikan, dan dipertontonkan dalam kebudayaan visual kontemporer. Analisis difokuskan pada tiga ranah: ritual sebagai tafsir visual, tubuh perempuan sebagai medan kerja mitos, serta ritual dalam logika tontonan. Hasil pembacaan menunjukkan bahwa film esai tidak menyelesaikan makna ritual, melainkan mempertahankan ketegangan antara tradisi dan trauma sebagai strategi kritis. Dengan demikian, artikel ini menempatkan film esai sebagai praktik artistik yang membuka ruang negosiasi ideologis atas representasi ritual.
Sore: Istri dari Masa Depan (2025) dalam Ruang Ekonomi Rasa: Kerentanan, Care, dan Komodifikasi Kerja Emosional Kintan Labiba Manggarsari; Hanandhia Lindsy
IMAJI Vol. 17 No. 1 (2026): Film Artistik dan Film Komersial: Estetika, Industri dan Ideologi Hiburan
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/imaji.v17i1.432

Abstract

Artikel ini menganalisis Sore: Istri dari Masa Depan dengan menelusuri bagaimana daya afektifnya muncul dari pertemuan antara kerentanan ontologis, tuntutan relasional yang melekat pada praktik care, serta strategi sinematik yang mengestetisasi kerja emosional. Dengan merujuk pada teori relasi-objek Nancy Chodorow, konsep ontologi relasional Judith Butler, gagasan kerja emosional Arlie Russell Hochschild, serta kerangka affective economies dari Sara Ahmed, tulisan ini menunjukkan bahwa kerentanan Sore tidak sekadar berfungsi sebagai perangkat naratif, melainkan sebagai refleksi kondisi relasional manusia yang sekaligus disirkulasikan dan diberi nilai dalam suatu ruang ekonomi rasa. Motif repetisi temporal dibaca sebagai figur dari siklus care yang dituntut untuk terus berlanjut—menunda kehilangan sembari mempertahankan kemungkinan. Dengan demikian, film ini memperlihatkan bagaimana kerentanan dan kerja emosional tidak hanya dialami secara personal, tetapi juga diolah menjadi resonansi afektif yang dapat dikenali, dibagikan, dan dikonsumsi secara kultural.
Film Film Artistik Sebagai Ideologi Hiburan Baru: Studi Pada Jatuh Cinta Seperti di Film-Film karya Imajinari: : Studi Pada Jatuh Cinta Seperti di Film-Film karya Imajinari Eko Pebryan Jaya
IMAJI Vol. 17 No. 1 (2026): Film Artistik dan Film Komersial: Estetika, Industri dan Ideologi Hiburan
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/imaji.v17i1.434

Abstract

Perdebatan antara film artistik dan film komersial selama ini cenderung dipahami sebagaioposisi biner antara otonomi seni dan logika pasar. Artikel ini menganalisis bagaimana film“Jatuh Cinta Seperti di Film-Film” karya Imajinari mereposisi estetika artistik sebagai bentukhiburan dalam lanskap sinema Indonesia kontemporer. Melalui teori arena produksi budayaPierre Bourdieu, penelitian ini membaca film sebagai praktik kultural yang bernegosiasi dalammedan produksi film nasional. Metode yang digunakan adalah analisis semiotika John Fiskepada level realitas, representasi, dan ideologi untuk mengidentifikasi kode-kode estetika yangmembangun makna hiburan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini mengartikulasikanhiburan bukan sebagai spektakel, melainkan sebagai pengalaman reflektif yang dilegitimasimelalui strategi visual hitam-putih, ritme naratif kontemplatif, dan dialog metasinematik.Strategi tersebut menempatkan film dalam posisi ambivalen antara kutub otonom danheteronom, sehingga mengaburkan dikotomi artistik–komersial. Temuan ini menegaskanbahwa film tersebut tidak sekadar memadukan dua logika produksi, tetapi memproduksikonfigurasi ideologis baru tentang hiburan yang bermutu dalam arena sinema Indonesia.Kata kunci: Arena Produksi Budaya, Film Artistik, Ideologi Hiburan, Semiotika John Fiske,Sinema Indonesia Kontemporer
English: Pembingkaian Adegan Romansa dalam Serial Film dengan Rasio Vertikal Erina Adeline Tandian
IMAJI Vol. 17 No. 1 (2026): Film Artistik dan Film Komersial: Estetika, Industri dan Ideologi Hiburan
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/imaji.v17i1.437

Abstract

Movies first appeared in the late 1800s using a horizontal 4:3 (1.33:1) aspect ratio. Over time, film aspect ratios have undergone various changes to meet needs. In today's digital era, many films and videos have emerged with vertical formats, adapting to the shape of smartphones as one of the streaming media. This article aims to determine how framing is used in several Indonesian vertical screen format film series, also known as microdramas, especially romantic dramas that often highlight intimate scenes between two people. This study uses qualitative research methods, with observation technique or textual analysis on visual scenes from several Indonesian microdramas. The results of the analysis indicate that the vertical aspect ratio in romance series can restrain intimacy between characters. This disruption in framing is also attempted to be overcome by several creative strategies, one of which is rotating the camera position ninety degrees to accommodate medium two shot.
Layar Tumbuh Papua: Community Exhibition Networks and Audience Formation beyond Commercial Cinemas in Jayapura Tindia Febriyati; Muhammad Ilham Mustain Murda
IMAJI Vol. 17 No. 2 (2026): Pemasaran dan Eksibisi Film
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/imaji.v17i2.448

Abstract

Artikel ini mengkaji Layar Tumbuh Papua sebagai praktik community exhibition network dan audience formation di luar bioskop komersial di Kota Jayapura. Dengan berfokus pada program antikorupsi “Papua Tra Boleh Korupsi,” penelitian ini melihat bagaimana pemutaran film, diskusi publik, games, pelatihan audiovisual, dan pertunjukan seni bekerja sebagai bentuk cultural mediation dalam ruang-ruang nonkomersial. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus kualitatif berbasis observasi, dokumentasi, dan wawancara semi-terstruktur yang dilakukan selama kegiatan di SMA Negeri 4 Jayapura, KedIAMan Indonesia Art Movement, dan Asrama Nayak II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Layar Tumbuh Papua tidak hanya memperluas akses menonton film di luar bioskop komersial, tetapi juga membentuk pengalaman menonton yang partisipatif melalui diskusi reflektif, games berbasis Quizizz, rap battle, tari, stand-up comedy, dan pelatihan audiovisual. Setiap lokasi memiliki fungsi yang berbeda: sekolah menjadi simpul edukasi, KedIAMan bekerja sebagai pusat ekosistem seni dan film komunitas, sedangkan Asrama Nayak II menjadi ruang literasi audiovisual dan refleksi generasi muda. Artikel ini berargumen bahwa eksibisi film komunitas di Papua dapat dipahami sebagai cultural infrastructure yang memungkinkan sirkulasi film, produksi makna lokal, dan pembentukan audiens melalui relasi antara film, ruang, fasilitator, dan partisipasi komunitas.
Qualitative Content Analysis of Soft-Selling Marketing Messages in The Short Film “Pulang” Arief Oscar Navero; Nicholas Pranata
IMAJI Vol. 17 No. 2 (2026): Pemasaran dan Eksibisi Film
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/imaji.v17i2.473

Abstract

In the post-pandemic era, public utilities and transportation services have faced challenges in rebuilding customer trust. PT Kereta Api Indonesia (Persero) addressed this by creating a branded short film, "Pulang" (2023), for its digital marketing and Eid homecoming initiative. This research identifies and analyzes how implicit soft-selling marketing messages are integrated into the film's storytelling and cinematography. Using a descriptive qualitative method and content analysis, 22 key scenes were examined across six aspects: station setting, corporate services, physical features, digital application usage, train amenities, and ambiance. Findings reveal that PT KAI utilized a branded entertainment strategy, featuring mostly soft-selling techniques, with 21 scenes focused on this approach and only 1 scene using hard-selling. The film incorporates heartwarming family reunion themes and appealing visuals, promoting "narrative transportation" to enhance brand memory and reduce ad resistance. This study highlights how public utility organizations can leverage cinematic storytelling as a non-intrusive marketing strategy.
The Market Impact of the Shift from Conventional to Digital Aspect Ratios in the Cinematographer’s Point of View Satrio Pamungkas
IMAJI Vol. 17 No. 2 (2026): Pemasaran dan Eksibisi Film
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/imaji.v17i2.478

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak pasar dari pergeseran penggunaan rasio aspek pada film konvensional ke digital serta implikasinya terhadap framing dan konstruksi point of view (POV) sinematografer. Rasio aspek sebagai elemen fundamental dalam sinematografi tidak hanya berfungsi sebagai parameter teknis, tetapi juga sebagai perangkat estetika yang memengaruhi komposisi visual, kedalaman ruang, dan pengalaman visual penonton. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis visual melalui teknik frame grab pada beberapa versi film, yaitu IMAX, teater, dan digital. Objek penelitian difokuskan pada film Guardians of the Galaxy Vol.3 dan The Dark Knight yang memiliki variasi rasio aspek dalam distribusinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio aspek yang lebih tinggi, seperti IMAX, menghasilkan framing yang lebih luas dan meningkatkan kedalaman visual serta pengalaman immersive. Sebaliknya, rasio aspek widescreen pada versi teater dan digital cenderung menghasilkan framing yang lebih sempit dan fokus pada karakter, sehingga memperkuat keterlibatan emosional penonton. Perbedaan ini juga berdampak pada konstruksi POV, di mana rasio aspek luas menghasilkan perspektif yang lebih objektif dan eksploratif, sementara rasio sempit menghasilkan perspektif yang lebih subjektif dan intim. Penelitian ini menegaskan bahwa rasio aspek merupakan elemen strategis dalam sinematografi yang berperan penting dalam membentuk pasar dan pengalaman visual dan naratif penonton di era media digital.
Estetika sebagai Komoditas: Strategi Visual Poster Film Indonesia di Netflix naziah nilda syah
IMAJI Vol. 17 No. 2 (2026): Pemasaran dan Eksibisi Film
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/imaji.v17i2.483

Abstract

Perkembangan platform Over-The-Top (OTT) seperti Netflix menempatkan poster film sebagai antarmuka visual yang berkompetisi dalam mekanisme attention economy. Penelitian kualitatif deskriptif ini bertujuan menganalisis bagaimana estetika visual pada poster film Indonesia dikonstruksi sebagai strategi komunikasi sekaligus sebagai komoditas dalam ekosistem platform streaming. Objek penelitian terdiri atas lima poster film Indonesia yang menduduki peringkat Top 5 Netflix Indonesia periode 2024–2026, yaitu 24 Jam Bersama Gaspar, Tuhan, Izinkan Aku Berdosa, Malam Pencabut Nyawa, Kabut Berduri, dan Siksa Kubur. Analisis dilakukan melalui pendekatan estetika fotografi formal, semiotika Roland Barthes, serta perspektif ekonomi politik media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elemen-elemen visual seperti pencahayaan, komposisi, warna, perspektif, dan simbol visual dikonstruksi untuk menghasilkan makna pada tingkat denotasi, konotasi, dan mitos sekaligus mengarahkan perhatian audiens melalui penyederhanaan narasi ke dalam penanda visual yang dominan. Temuan ini menunjukkan bahwa dalam ekosistem Netflix, estetika visual tidak hanya membangun identitas film, tetapi juga berfungsi sebagai strategi komunikasi yang meningkatkan visibilitas konten dalam kompetisi perhatian. Penelitian ini berkontribusi dengan memperluas kajian poster film dari pendekatan semiotika menuju pemahaman mengenai hubungan antara konstruksi estetika visual, komodifikasi, dan attention economy pada platform streaming.

Filter by Year

2005 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 17 No. 2 (2026): Pemasaran dan Eksibisi Film Vol. 17 No. 1 (2026): Film Artistik dan Film Komersial: Estetika, Industri dan Ideologi Hiburan Vol. 16 No. 3 (2025): Imaji Visual dalam Ruang, Waktu, dan Memori Vol. 16 No. 2 (2025): Film, Masyarakat, Teknologi, dan Identitas Budaya Vol. 16 No. 1 (2025): Identitas dalam Sinema Indonesia Vol. 15 No. 3 (2024): Ruang, Penonton, dan Wacana Sinematik Vol. 15 No. 2 (2024): Fotografi, Bahasa Visual dan Eksotisme Vol. 15 No. 1 (2024): Arsip, Wacana Visual & Film Eksperimental Vol. 14 No. 3 (2023): Suara & Imaji yang Berkelindan Vol. 14 No. 2 (2023): Fotografi, Riwayatmu Hingga Kini Vol. 14 No. 1 (2023): Antara Struktur dan Bahasa Visual Vol. 13 No. 3 (2022): Menuju Layar Personal sebagai Budaya Baru Menonton Vol. 13 No. 2 (2022): Wawancara dan Kedalaman Penelitian Media Audio Visual Vol. 13 No. 1 (2022): Merayakan dan Dirayakan Melalui Sinema Vol. 12 No. 3 (2021): Membingkai Realitas melalui Imaji Visual Vol. 12 No. 2 (2021): Panorama Mengamplifikasi Gagasan melalui Media Audio-Visual Vol. 12 No. 1 (2021): Sinema dan Wacana Vol. 11 No. 2 (2020): Sinema, Ideologi, dan Kritik Sosial Vol. 11 No. 1 (2020): Bentuk, Gaya, dan Persepsi Penonton Vol. 10 No. 2 (2018): Karakter dan Konsep-Konsep Psikoanalisis dalam Film Vol. 10 No. 1 (2018): Teknologi dan Storytelling dalam Medium Audio-Visual Vol. 9 No. 1 (2017): Mitos dalam Film dan Televisi Vol. 8 No. 1 (2016): IMAJI Vol. 5 No. 2 (2013): IMAJI Vol. 5 No. 1 (2013): IMAJI Vol. 4 No. 2 (2012): IMAJI Vol. 4 No. 1 (2012): IMAJI No. 6 (2011): IMAJI No. 5 (2009): IMAJI No. 4 (2008): IMAJI No. 3 (2007): IMAJI No. 2 (2006): Dimana Posisi Kritik Sinema Indonesia? No. 1 (2005): Antara Melihat dan Membaca More Issue