FOUNDASIA
FOUNDASIA is an open access, and peer-reviewed journal. FOUNDASIA will publish the selected articles under the Attribution-Share Alike 4.0 International Creative Commons license. The results of research and analysis contained in the journal accommodate manuscripts on foundations of education include: philosophy of education, socio-anthropology of education, educational psychology, educational economics, educational history, political education, and comparative education.
Articles
9 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 1 No. 9 (2008)"
:
9 Documents
clear
PENDEKATAN FENOMENOLOGIS TERHADAP KOMPONEN PENDIDIKAN
PRIYOYUWONO, PETRUS
FOUNDASIA Vol. 1 No. 9 (2008)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21831/foundasia.v1i9.5869
Secara agregat ada tiga pendekatan terhadap pendidikan yaitu pendekatan secara ilmiah (keilmu-alaman), filsafati (abstrak-spekulatif) dan fenomenologis (praktis = normatif). Fenomenologi sebagai metode menurut Husserl dibagi dua tahap (1) reduksi fenomenologis (fenomena tentang pendidikan akan tampak setelah segala yang bersifat subyektif individual insidental disaring dengan tuntas, (2) reduksi ciditis = rneningkatkan hasil pengamatan fenomena sampai pada esensinya). Aplikasi metode fenomenologi pada pendidikan nampak pada proses membaca apa yang tampil dalam pendidikan atau membaca situasi pendidikan dengan jalan mengamati secara tajam.
RESPECT: PENDIDIKAN UNTUK MENCEGAH KEKERASAN DI SKOTLANDIA
HAJAROH, MAMI
FOUNDASIA Vol. 1 No. 9 (2008)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21831/foundasia.v1i9.5870
Strategi Nasional Untuk Kekerasan dalam Keluarga di Scotlandia mengimplementasikan Strategi Pencegahan (Prevention Strategy), baik secara lokal maupun nasional Elemen-elemen kunci dari Prevention Strategy adalah: 1) Meningkatkan kesadaran publik (Public Awareness Raising); 2) Pendidikan (Education). 3) Pelatihan (Training); 4) Layanan untuk perempuan, anak-anak dan pemuda (Service,for women, children and young people); 5) Legislasi (legislation); 6) Strategi Tempat Kerja (workplace strategies); 7) Bekerja dengan Iaki-laki yang menggunakan kekerasan (Work with men who use violence). Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah pelatihan 'Respect" bagi guru. Pelatihan ini tentang cara bagaimana mengajarkan kesetaraan pada anak. Target curriculum dalam pelatihan antara lain: 1) Komitmen untuk belajar; 2) menghargai dan menjaga diri; 3) menghargai dan menjaga orang lain; dan 4) tanggung jawab social. Konsep dari Skotlandia ini dapat diambil nilai-nilai dan prinsip pendidikannya untuk diimplemantasikan di Indonesia. Pelatihan terhadap guru dan calon guru tentang "pcmbclajaran yang menghargai" (respect) dapat diberikan agar guru dan calon guru memiliki "sense of respect" yang menjadi bagian dari diri yang tercermin dalam setiap perilaku guru baik di kelas maupun di dalam kelas. Selanjutnya, guru melatih dan membiasakan perilaku anak didiknya untuk memiliki "sense of respect" terhadap teman-teman dan lingkungan sehingga generasi kita menjadi generasi yang sanggup mengubah kekerasan menjadi perdamaian.
FlLSAFAT PENGEMBANGAN KURIKULUM
GHUFRON, ANIK
FOUNDASIA Vol. 1 No. 9 (2008)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21831/foundasia.v1i9.5863
Aliran filsafat pendidikan manakah yang dijadikan landasan dalam pcngembangan kurikulum yang berlaku secara resmi di Indonesia? Secara teori, scmua pihak sepakat bahwa kurikulum resmi yang berlaku di Indonesia dikembangkan berlandaskan aliran filsafat tertentu. Namun, jika melihat reality implcmentasi kurikulum di kolas terkesan bertentangan dan bahkan bertentangan dengan yang diteorikan. Seolah-olah implementasi kurikulum lepas dari desainnya. Kita sepakat jika filsafat pendidikan dapat dipakai sebagai landasan pengembangan kurikulum, terutama untuk kepentingan menentukan frame of reference tentang rumusan tujuan pendidikan, hakekat pembelajaran, dan sistem penilaian. Apapun desain dan model pengembangan kurikulum yang berlaku di sekolah hares memiliki landasan filosofi guna optimalisasi implcmcntasi kurikulum. Ada beberapa aliran filsafat pendidikan yang dapat dipakai sebagai landasan pengembangan kurikulum. antara lain; perenialism, esensialism, progresivism, dan rekonstruksionism. Dari beberapa aliran filsafat tersebut, nampaknya kira perlu memutuskan bahwa Pancasila harus dijadikan landasan filosofi dalam pengembangan kurikulum.
PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU
PURWANTO, NURTANIO AGUS
FOUNDASIA Vol. 1 No. 9 (2008)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21831/foundasia.v1i9.5871
Guru memiliki tanggung jawab yang sangat penting dalam menjaga kualitas pendidikan. Hal itu didasarkan pada tugas dan fungsinya sebagai ujung tombak dalam aktivitas pembelajaran di kelas. Kelas sebagai unit pendidikan dan manajemen terkecil merupakan kunci pokok dalam keberhasilan pendidikan secara Iebih besar. Berbagai permasalahan yang dihadapi guru dalam rnenjalankan kewajiban dan tugasnya terletak pada upaya peningkatan profesionalisme yang kurang diperhatikan secara maksimal. Tanggung jawab peningkatan kemarnpuan professional guru terletak pada: 1) individu guru yang bersangkutan, 2) lembaga penghasil tenaga keguruan, 3) organisasi profesi, dan 4) sekolah yang menaungi guru yang bersangkutan. Peningkatan kemampuan professional guru saat ini mcntpakan aktivitas yang berkelanjutan bukan sekedar kegiatan insidental semata. Kegiatan-kegiatan insidental yang sering dilakukan pada masa lampau kurang membawa perubahan yang mendasar dalam diri guru. Strategi peningkatan kemampuan professional dapat dilakukan baik secara individual maupun kolektif. Tuntutan perkembangan global adalah professional dalarn segala bidang termasuk dalam bidang pendidikan yang dalam hal ini dari sudut sumber daya manusia khususnya guru. Peningkatan yang berkelanjutan (continuous Improvement) akan membawa peruhahan kemampuan profesional guru secara berkelanjutan pula.
ASPEK-ASPEK FIISAFAT DAN KAITANNYA DENGAN PENDIDIKAN
DARDIRI, ACHMAD
FOUNDASIA Vol. 1 No. 9 (2008)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21831/foundasia.v1i9.5866
Antara filsafat dan pendidikan terdapat kaitan yang sangat erat. Filsafat memiliki aspek-aspek utama yang dapat dijadikan landasan bagi pendidikan. Aspek-aspek yang dimaksud adalah aspek-aspek: metafisis, epistemologis, dan aksiologis. Aspek metafisis antara lain berkaitan dengan persoalan realitas yang tercermin pada bahan ajar, pengalaman dan keterampilan. Aspek epistemologis berkaitan dengan persoalan pengetahuan dan kebenaran trrmasuk di dalamnya sumber belajar dan metode belajarmengajar; aspek aksiologis berkaitan dengan nilai kebaikan dan keindahan yang akan ditanamkan kepada peserta didik.
PERAN PENGELOLAAN PENDIDIKAN DI TAMAN KANAK-KANAK
WIJAYANTI, WIWIK
FOUNDASIA Vol. 1 No. 9 (2008)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21831/foundasia.v1i9.5872
Pendidikan TK merupakan salah satu bentuk pendidikan anak usia dini. Menurut berbagai hasil penelitian, usia dini (0-8 tahun) merupakan masa peka yang amat penting bagi pendidikan anak. Pada masa tersebut tempaan akan memberi bekas yang kuat dan tahan lama. Kesalahan menempa memiliki efek negatif dalarn jangka panjang yang sulit diperbaiki. Saat yang paling baik bagi seorang anak untuk memperoleh pendidikan yang pas disebut masa peka (golden age) yaitu usia dini. Mengingat betapa pentingnya pendidikan anak sejak dini, maka penyelenggaraan pendidikan usia dini harus direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi dengan baik. Tugas pengelolaan lembaga pendidikan anak usia dini dapat dikatakan tidak ringan ketika merefleksi bahwa usia dini adalah saat yang tepat untuk menempa. Pengelola harus dapat memberdayakan segala sumberdaya yang dimiliki dapat mencakup siswa, kurikulum, pegawai, sarana prasarana, biaya, dan hubungan TK dengan rnasyarakat. Ketika semua sumberdaya yang ada dikelola dengan baik, direncanakan dengan akurat, dilaksanakan dengan tepat dan diawasi dengan ketat maka efisiensi dan efektifitas pendidikan akan tercapai.
PENDIDIKAN DAN PEMAJUAN PEREMPUAN: MENUJU KEADILAN GENDER
EFIANINGRUM, ARIEFA
FOUNDASIA Vol. 1 No. 9 (2008)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21831/foundasia.v1i9.5867
Pendidikan yang tidak diskriminatif dan berkeadilan disadari sangat bermanfaat dalam upaya mewujudkan kesetaraan dalam relasi interaksi antara laki-laki dan perempuan. Namun dalam kenyataannya, perempuan masih banyak mengalami diskriminasi, khususnya dalam bidang pendidikan. Ada sejumlah faktor yang mempengaruhi terjadinya ketidakadilan tersebut, yaitu faktor struktural dan kultural. Selain kebijakan pembangunan yang kurang sensitif gender, di masyarakat juga macih terdapat praktik-praktik budaya yang bias gender. Menghadapi kondisi semacam itu, tentunya diperlukan upaya nyata dalam upaya pemajuan perempuan menuju pendidikan yang Iebih berkeadilan gender. Terbukanya akses pendidikan yang lebih luas adalah satu kunci untuk meningkatkan pemberdayaan perempuan agar dapat berpartisipasi di segala bidang kehidupan di masyarakat.
MENSTIMULASI KECERDASAN EMOTIONAL ANAK SEJAK USIA DINI
HAYATI, NUR
FOUNDASIA Vol. 1 No. 9 (2008)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21831/foundasia.v1i9.5873
The success of people in their life is influenced by various factors. According to the research of some psychologists, the intellectual intelligence factor has only little influences to the life success, while the rest influenced by emotional intelligence factor and other support factors. Emotional intelligence will not appear just like that, however, it needs to be growth and trained as early as possible. Early age children have capability to grow their emotional intelligence although it still conforms to their egocentric dominated development. That gold potentiality witl develop very well when it is often stimulated and sharpened. It is realized that an early age child who has emotional intelligence will be more adaptable to his/her environment and be more competent to cope with his/her lift problem. The life success of people will be easier to be attained if he%she has emotional and intellectual intelligence. To grow children emotional intelligence, there are some areas that need to he developed those are introducing self-emotion, managing emotion, self motivating, knowing other emotion or empathy and building relationship. To actualize those five areas is a genius first step in stimulated children emotional intelligence skill. The parents can actualizefilve areas emotional intelligence with develop love gjfirur, how to teach altitude, how to develop empathy, hew to teach honesty and realistic thinking.
PENDIDIKAN AGAMA DALAM MASYARAKAT MAJEMUK
DWI K, SIGIT
FOUNDASIA Vol. 1 No. 9 (2008)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21831/foundasia.v1i9.5868
Konflik yang berbau SARA (suku antar golongan ras dan agama) dan kepentingan politik sering terjadi di seluruh wilayah Indonesia; Aceh, Papua, Kalimantan, Ambon, Tantena, Poso, dan Situbondo. Potensi konflik memungkinkan terjadi secara masif dimana-mana, karena kondisi yang kondusif dari masyarakat untuk memperjuangkan kepentingannya sendirl-sendiri yang tidak direspon dengan baik oleh wakil-wakil rakyat maupun pemerintah. Demokrasi fundamentalis dikembangkan oleh kelompok-kelompok komunitas tertentu yang tidak mengedepankan dialog, tetapi mengedepankan kekerasan dan eksklusifisme. Ruang dialog dapat dikatakan tidak ada, pintu komunikasi ditutup rapat-rapat, sehingga amarah menjadi model psikologis dalam penyelesaian setiap masalah dan kekerasan menjadi strategi politik dalam mencapai setiap tujuan. Dalam kondisi di atas perlu adanya dialog dan pengembangan demokrasi multikultural yang didukung oleh demokrasi kultural yang memadai dengan mengedepankan nilai-nilai toleransi, keterbukaan, dialogis dan inklusifisme. Nilai-nilai diatas dapat terwujud dalam kehidupan berbangsa, jika pendidikan agama berhasil dilaksanakan dengan tepat sehingga mampu mengeliminasi segala permasalahan yang berbau SARA dan pada gilirannya terjadi integrasi nasional. Pendidikan agama yang berhasil adalah pendidikan yang membangun ruang dialog antar umat, toleransi, komunikasi yang cerdas produktif dan sinergis antar umat beragama.