cover
Contact Name
Ari firmanto
Contact Email
arifirmanto2@gmail.com
Phone
+62341-464318
Journal Mail Official
procediamapro@umm.ac.id
Editorial Address
GKB IV Kampus 3 Universitas Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas no. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Procedia Studi Kasus dan Intervensi Psikologi (Procedia) merupakan publikasi berkala yang diterbitkan oleh Program Studi Magister Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang. Procedia terbit mulai tahun 2013, terbit 4 kali setahun pada Maret, Juni, September dan Desember dalam bentuk elektronik/online. Artikel Procedia merupakan artikel hasil penelitian intervensi atau laporan praktik keprofesian psikologi. Procedia adalah publikasi akses terbuka dalam berbagai bidang intervensi psikologi, antara lain: klinis, sosial, pendidian, industri/organisasi dan perkembangan.
Articles 204 Documents
Terapi tawa untuk healing dan recovery trauma pasca bencana Zainul Anwar
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 1 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v3i1.2211

Abstract

Individu yang mengalami bencana dan kehilangan keluarga memiliki kecenderungan me-ngalami gangguan psikologis. Gangguan psikologis yang dimungkinkan terjadi pasca bencana pada korban bencana yaitu stres, psikosomatis, trauma, bahkan mungkin sampai depresi. Bencana menjadi salah satu faktor yang menghasilkan problem atau gangguan psikologi dan akan berpengaruh negatif bagi perjalan-an kehidupan individu-individu yang mengalaminya. Penanganan berupa intervensi psikologi sangat dibutuhkan agar dapat kembali pulih. Terapi tawa merupakan salah satu intervensi psikologi yang sangat sederhana dan ekonomis, prinsipnya hanya dibutuhkan individu dapat tertawa, melalui tertawa akan mampu merelakskan otot-otot yang tegang. Tertawa juga melebarkan pembuluh darah sehingga memperlancaraliran darah ke seluruh tubuh. Selain itu, tertawa juga berperan dalam menurunkan kadar hormon stres epineprine dan kortisol. Jadi, bisa dikatakan bahwa tertawa merupakan teknik relaksasi yang dinamis dalam waktu singkatKata kunci: Terapi tawa, healing dan recovery, trauma pasca bencana
Sekolah aman untuk anak-anak pengungsi akibat bencana tsunami Muhammad Shohib
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 1 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v3i1.2212

Abstract

Pendidikan adalah hak dasar yang harus diberikan kepada anak-anak, bahkan dalam sebuah kondisi darurat sekalipun. Bencana tsunami yang telah meluluhlantakkan Aceh tidak dapat menghalangi pemenuhan hak dasar tersebut. Pendidikan seringkali menjadi prioritas dalam masyarakat dan perlu mendapat perhatian serius sejak tahap awal respon tanggap darurat. Anak-anak merupakan kelompok penting dalam masyarakat yang sedang dalam tahap pemulihan dari krisis. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh dampak negatif dari bencana (tsunami) yang akan dialami oleh anak-anak dan dibawa sepanjang usianya, tetapi juga karena besarnya potensi yang mereka miliki dalam memberikan kontribusi positif terhadap respon dan usaha-usaha pemulihan. “Kembali ke sekolah” adalah keinginan pertama yang diminta oleh anak-anak dan keluarganya dalam sebuah kondisi dararut. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan di sekolah dianggap dapat meringankan beban psikologis, mengembalikan keceriaan anak dan sekaligus sebuah model terapi bagi korban yang mengalami trauma psikologis yang mendalam. Sekolah aman merupakan solusi tepat untuk memberikan respon terhadap kekhawatiran dampak negatif dari bencana tsunami dan usaha-usaha pemulihan psikososial yang lain. Pendirian sekolah aman dapat dijadikan model bagi relawan dan pengambil kebijakan di masa tanggap darurat untuk mengatasi dampak kerawanan yang ditimbulkan dari bencana tsunami. Di samping itu konsep sekolah aman dapat digunakan untuk mengukur ketepatan tindakan dalam manajemen bencana dan akan membuka peluang intervensi-intervensi lain dalam sektor non pendidikan (kesehatan, hukum dan perlindungan anak serta lingkungan hidup).Kata Kunci: Sekolah aman, anak-anak pengungsi, tsunami
Pengembangan resiliensi melalui pemberdayaan perempuan pada masyarakat Aceh akibat bencana Tsunami Effy Wardati Maryam
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 1 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v3i1.2213

Abstract

Bencana tsunami mengakibatkan masyarakat Aceh kehilangan pekerjaan, tempat tinggal, bahkan keluarga. Salah satu dampak bencana tsunami pada perempuan adalah kehilangan pasangan hidup, sehingga membuat perempuan harus menjadi tulang punggung keluarga. Perempuan lebih menderita akibat bencana, antara lain kehilangan keluarga dan pasangan sehingga harus berjuang keras untuk mempertahankan hidup, kehilangan harta benda, dan mengalami luka fisik. Resiliensi merupakan kemampuan seseorang untuk beradaptasi secara positif meskipun berada dalam kesulitan yang signifikan.Resiliensi mencakup dua komponen, yaitu pengalaman dalam kesulitan atau stres, dan kesehatan yang mendukung. Pemberdayaan perempuan (women’s empowerment) merupakan upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan atau mengembangkan resiliensi dalam masyarakat. Pemberdayaan (empowerment) merupakan sebuah proses atau mekanisme dimana sekelompok orang, organisasi atau masyarakat memiliki penguasaan atas masalah yang dialami. Beberapa bentuk kegiatan yang bisa dilakukan melalui pemberdayaan perempuan untuk meningkatkan atau mengembangkan resiliensi akibat bencana Tsunami di Aceh yaitu pemberdayaan ekonomi, pemberdayaan psikologis, dan pembentukan kelompok dukungan (support group). Secara ringkas, artikel ini menggambarkan peranan pemberdayaanperempuan sebagai upaya untuk meningkatkan atau mengembangkan resiliensi pada masyarakat (khususnya perempuan) akibat bencana Tsunami di Aceh.Kata kunci : Resiliensi, pemberdayaan perempuan, tsunami, bencana
Religiusitas dan kecemasan menghadapimasa depan pada remaja korban bencana alam Tsunami Safril syah; Dewi Andawiyah
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 1 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v3i1.2214

Abstract

Remaja korban dari bencana alam tsunami yang kehilangan keluarga, rumah dan harta benda, merupakan kondisi yang memprihatinkan dan mempunyai kecendrungan untuk merasakan cemas dalam menghadapi masa depan. Religiusitas mempunyai peran dalam membantu remaja korbanbencana alam dan tsunami dalam menghadapi masa depan. Oleh karena itu penelitian mengulas hubungan religiusitas dengan kecemasan menghadapi masa depan pada remaja korban bencana alam tsunami. Penelitian ini dilakukan di Lembaga Pendidikan Islam Al-Ishlah Al- Aziziyah Lueng Bata, Banda Aceh. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasi product moment. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja di LPI Al-Ishlah Al-Aziziyah Lueng Bata Banda Aceh yang berjumlah 50 remaja yang terdiri dari remaja perempuan dan laki-laki. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian dari populasi, yaitu: berjumlah 44 orang dengan tekhnik sampling probabilitas. Hasil penelitian analisis data pada penelitian ini didapat nilai r =-0,204 dansignifikansi P= 0,183 (P >0,05) artinya hipotesis yang diajukan oleh peneliti ditolak yaitu tidak ada hubungan antara religiusitas dengan kecemasan mengahadapi masa depan pada remaja korban bencana alam tsunami di LPI Al-Ishlah Al-Aziziyah Lueng Bata Banda Aceh. Rendahnya kecemasan menghadapi masa dapan subjek penelitian ini disebabakan oleh faktor selain religiusitas, seperti factor penerimaan sosial, kenyamanan lingkungan tempat tinggal, factor usia, faktor masapasca tsunami yang terlalau lama dan factor pendidikan.Kata kunci: Kecemasan menghadapi masa depan, religiusitas, korban bencana alam tsunami
Trauma dalam kalangan Orang Kurang Upaya fizikal akibat kemalangan: Satu perkongsian pengalaman dalam menghadapi krisis Zuhda Binti Husain; Nor Shafrin Ahmad
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 1 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v3i1.2215

Abstract

Dilahirkan sebagai Orang Kurang Upaya (OKU), mengalami kurang upaya akibat serangan penyakit dan kehilangan anggota badan akibat kemalangan merupakan mimpi ngeri kepada sesiapa sahaja yang mengalaminya. Individu yang terpaksa melalui situasi ini akan mengalami perasaan putus asa kerana kesukaran untuk bergerak dan tidak berupaya melaksanakan tugasan harian dengan sempurna. Mereka akan menunjukkan tingkah laku dan gangguan emosi yang tidak stabil seperti terkejut, cemas, murung, marah, penyesuaian serta mengalami perubahan signifikan dalam perhubungansosial. Kesan seterusnya akan membawa kepada trauma dalam kehidupan harian mereka. Trauma yang dialami oleh OKU fizikal akibat sesuatu kemalangan didapati boleh mendatangkan kesan yang sangat mendalam. Sehubungan itu, kajian ini dijalankan untuk mengenal pasti bagaimana OKU fizikal akibat kemalangan mengawal dan mengatasi trauma apabila menghadapi krisis sebagai OKU. Oleh itu, pendekatan kaunseling pemulihan secara berkelompok telah digunakan bertujuan membantu OKUmengenal pasti faktorpenyumbang kepada kebangkitan semula selepas mengalami kurang upaya fizikal akibat kemalangan. Kajian ini telah menggunakan pendekatan kualitatif terhadap 11 orang OKU fizikal akibat kemalangan. Kaedah ini sangat berkesan dalam membantu subjek menghuraikan secara mendalam pengalaman menghadapi krisis sebagai OKU dan langkah yang dilakukan untuk mengawal serta mengatasi trauma melalui luahan perkongsian, pendedahan kendiri dan perkembangan diri. Hasil kajian mendapati terdapat dua faktor utama iaitu dalaman dan luaran yang menjadi penyumbang kepada mengawal dan mengatasi trauma kesan daripada kehilangan anggota badan.Faktor dalaman melibatkan diri subjek sendiri manakala faktor luaran terbahagi kepada empat sub tema iaitu keluarga, ibu bapa, rakan dan masyarakat. Implikasi kajian menunjukkan individu yang mengalami kurang upaya fizikal sangat memerlukan perkhidmatan sokongan yang dapat membantu mereka untuk kembali pulih daripada krisis kehilangan anggota badan dan perasaan trauma tersebut.Kata kunci: OKU, kemalangan, trauma, krisis, upaya fizikal
Life after trauma in aceh: consequences and therapies Yulia Direzkia
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 1 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v3i1.2216

Abstract

Longstanding war conflict in Aceh as well as the earthquake and tsunami in 2004 not only resulted in many deaths and destruction in many other aspects of life. In 2012-2013 this study was conducted to determine the events related to the trauma experienced by children in Aceh, consequencesand effectiveness of a psychotherapy. Intervention was given using the Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR). A total of 56 children from Banda Aceh and Aceh Besar were taken as samples of this study, with an age range of 5 to 17 years. To measure the effectiveness of the therapy treatment used the Children Behavior Checklist (CBCL) with 112 items for older children from 11 years on and the standard CBCL for smaller kids. The CBCL versions used the Indonesian language that has been validated. In other hand, the traumatic stressors was obtained from a list of Traumatic Events. The result shows that based on the large number of events, then the order of the highest number of cases was traumatized by the earthquake and tsunami (20%), domestic violence (15%), war conflict (13%), bullying (13%), accident (8%) , lost (4%) and trafficking (2%). Almost 75% of all children have improved in their condition and become more adaptive or in other word belong now in the “normal” category. The improvement is there can then be attributed to the therapy. About 25% remains in a clinical or borderline condition.Keywords: trauma, Eye Movement Desensitization and Reprocessing therapy, effectiveness
Portrait of psychological condition people in Banda Aceh and Aceh Besar after ten years of earthquake and tsunami Nursan Junita; Eka Rumaisha; Yulia Direzkia
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 1 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v3i1.2217

Abstract

The aim of this study was obtained a portrait of Psychological condition of people in Banda Aceh & Aceh Besar After ten years of Earthquake and Tsunami Disaster. The traumatic event of December 26th, 2004, seriously impacts of psychological aspect of human being in Aceh. Moreover, people who experienced the disaster will predict to have seriously psychological problem in their life which is called PTSD (Post Traumatic Stress Disorder). Therefore, the study would like to see how the psychological condition of people in Banda Aceh, recently after ten years of earthquake and tsunami disaster through mental health aspect. The method was applied in this study was the qualitativeapproach that used the technique of Focus Group Discussion (FGD) by collecting the data from three (3) group of society. The subject were from kota Banda Aceh that representative of three (3) zone area that affected by earthquake and tsunami. The criteria of this zone were; Zone (1) is the most severe exposure to tsunami (within 0-3 km of the coastline); Zone (2) is a moderate impairment area that exposed to tsunami (within 3-5 km of coastline); Zone (3) is the area not exposed to tsunami (within 5-7 km of coastline). The result of study showed that people in zone 1 and zone 2, still have psychological reaction of trauma symptom such as numbing when re-experiencing the earthquake, easily worried, anxious, panic, and have sleep disturbance. However, the symptom does not disturbing their daily activities of life, so they are productive. Their coping skill also improves in facing the problem as well as more religious, acceptance, resilience, stronger, patience and more alert of disaster preparedness. However, the people in zone 3 does not show the psychological symptom of trauma, but they also become aware as well as take it this as the lesson learn for them this experienced.Key words: psychological of trauma, PTSD, tsunami Aceh, resilience
Psychological well-being pada single mother karena kematian pasangan Evi Kurniasari Purwaningrum; Nuraida Wahyu Sulistyani
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 1 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v3i1.2218

Abstract

Kehilangan pasangan akibat kematian menimbulkan duka yang mendalam bagi wanita. Kehidupan selanjutnya yang harus ia lalui sendiri tanpa seorang suami menimbulkan kecemasan akan masa depan dan rasa frustasi. Peran sebagai orang tua tunggal berarti wanita harus menjalankan peran ganda sebagai ibu sekaligus sebagai ayah bagi anak-anaknya, single mother memiliki tanggung jawab yang lebih sulit dan lebih rumit dibandingkan sebelumnya. Penelitian ini ditujukan untuk mengungkap dan mendeskripsikan psychological well being pada wanita dewasa madya dengan status single parent karena kematian pasangan dengan mengunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data mengunakan teknik wawancara mendalam terhadap 4 orang subyek dan significan other. Rentang usia subyek 40 s.d 50 tahun. Hasil penelitian menunjukkan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam psychological well being pada single mother karena kematian pasangan yaitu cara kematian pasangan, cara individu memandang peristiwa yang dialami, kemampuan untuk beradaptasi dan mengatasi peristiwa yang mereka alami, religiusitas, penerimaan diri, kelekatan pada pasangan, hubungan dengan orang lain, otonomi, tujuan hidup, penguasaan lingkungan dan pertumbuhan pribadi.Kata kunci: Psychological well being, wanita single parent, kematian pasangan
Kemahiran Daya Tindak Remaja Ponteng Rohani Che Hashim; Marini Kasim
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 1 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v3i1.2219

Abstract

Ponteng sekolah merupakan sejenis perbuatan salah laku yang paling popular dalam kalangan remaja di sekolah bagi mengatasi tekanan hidup yang berlaku dalam kehidupan mereka. Salah laku ponteng senantiasa menduduki tangga teratas dalam senarai salah laku di sekolah. Golongan yang terlibat dengan salah laku ponteng adalah remaja. Kajian mengenai ponteng membuktikan remaja ponteng mengalami tekanan hidup.Tekanan hidup remaja berpunca dari beberapa faktor yang telah dikenal pasti. Kertas kerja ini bertujuan membincangkan tahap penggunaan kemahiran daya tindak remaja ponteng bagi menghadapi tekanan yang berlaku dalam kehidupan seharian mereka. Kajian ini merupakan kajian kuantitatif. Sehubungan dengan itu, kertas kerja ini akan membincangkan dapatan yang diperoleh daripada kajian yang telah dijalankan terhadap 100 orang remaja ponteng di sekolah. Inventori Kemahiran Daya Tindak dalam Keadaan Ketegangan (CISS) telah digunakan bagi mengenal pasti jenis kemahiran daya tindak yang digunakan oleh remaja ponteng jika berlaku tekanan dalam kehidupan mereka. Dapatan kajian menunjukkan remaja ponteng menggunakan tiga jenis kemahiran daya tindak iaitu kemahiran daya tindak orientasi tugas (OT), kemahiran daya tindak orientasi emosi (OE) dan kemahiran daya tindak orientasi pengelakan. Keputusan kajian membuktikan tahap penggunaan kemahiran daya tindak dalam keadaan ketegangan remaja ponteng berada pada tahap sederhana sahaja. Hasil kajian ini diharapkan dapat membantu individu yang signifikan dengan remaja ponteng menjalankan intervensi yang sesuai untuk mereka.Kata kunci: kemahiran daya tindak, tekanan hidup, remaja, ponteng
Pendidikan inklusi berbasis komunitas: Media optimalisasi potensi siswa pasca tsunami Ni’matu zahroh
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 1 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v3i1.2220

Abstract

Peristiwa tsunami membawa begitu banyak duka dan kesedihan bagi semua pihak, terutama bagi para korban dan keluarga yang tersisa, tidak terkecuali bagi anak-anak. Mereka kehilangan kesempatan untuk mendapat kasih sayang dan bimbingan yang sangat mereka butuhkan diusianya. Dampak lain dari tsunami ini adalah anak-anak hidup dalam keluarga dengan kondisi social ekonomi yang dan kondisi mental keluarga dengan gangguan psikologis karena kehilangan anggota keluarga. Situasi semacam ini akan mempengaruhi kondisi psikologis anak serta melemahkan fungsi otak anak, sehingga anak-anak ini membutuhkan layanan khusus untuk untuk mengoptimalkan potensi diri mereka pasca tsunami. Pendidikan inklusif berbasis komunitas dapat menjadi solusi dalam memberikan layanan bagi anak-anak pasca tsunami ini. Prinsip utama dalam pembelajaran inklusif berbasis komunitas ini adalah membangun partisipasi seluruh komponen komunitas sekolah (orang tua anak berkebutuhan khusus, (ABK) orang tua non ABK, siswa reguler, guru, karyawan) untuk ikut andil dalam mensukseskan pembelajaran inklusif. Dalam masyarakat korban tsunami, membentuk masyarakat inklusif sebenarnya menjadi lebih mudah karena pengalaman yang sama yang mereka rasakan mampu menumbuhkan kebersamaan, empati dan ikatan persaudaraan yang kuat untuk bangkit dari keterpurukan. Kondisi psikologis semacam ini justru memudahkan pelaksanaan pendidikan inklusif pasca tsunami. Orang tua , sekolah, guru dan professional perlu dibangun kesadarannya untuk saling bekerjasama membangun kelas inklusif.Keywords: korban tsunami, pendidikan inklusi, komunitas, anak berkebutuhan khusus

Page 3 of 21 | Total Record : 204


Filter by Year

2013 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 4 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 3 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 2 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 1 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 4 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 3 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 2 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 1 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 10 No. 4 (2022): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 10 No. 3 (2022): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 10 No. 2 (2022): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 10 No. 1 (2022): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 9 No. 4 (2021): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 9 No. 3 (2021): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 9 No. 2 (2021): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 9 No. 1 (2021): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 8 No. 4 (2020): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 8 No. 3 (2020): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 8 No. 2 (2020): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 8 No. 1 (2020): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 7 No. 2 (2019): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 7 No. 1 (2019): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 6 No. 2 (2018): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 6 No. 1 (2018): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 5 No. 2 (2017): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 5 No. 1 (2017): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 4 No. 2 (2016): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 4 No. 1 (2016): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 2 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 1 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 2 No. 2 (2014): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 2 No. 1 (2014): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 1 No. 1 (2013): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi More Issue