cover
Contact Name
Ari firmanto
Contact Email
arifirmanto2@gmail.com
Phone
+62341-464318
Journal Mail Official
procediamapro@umm.ac.id
Editorial Address
GKB IV Kampus 3 Universitas Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas no. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Procedia Studi Kasus dan Intervensi Psikologi (Procedia) merupakan publikasi berkala yang diterbitkan oleh Program Studi Magister Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang. Procedia terbit mulai tahun 2013, terbit 4 kali setahun pada Maret, Juni, September dan Desember dalam bentuk elektronik/online. Artikel Procedia merupakan artikel hasil penelitian intervensi atau laporan praktik keprofesian psikologi. Procedia adalah publikasi akses terbuka dalam berbagai bidang intervensi psikologi, antara lain: klinis, sosial, pendidian, industri/organisasi dan perkembangan.
Articles 204 Documents
Terapi supportif dan psikoedukasi untuk meningkatkan pemahaman diri pada penderita skizofrenia paranoid Triharim K. S. Pilpala
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 1 No. 1 (2013): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v1i1.1376

Abstract

Problem schizophrenia paranoid di rumah sakit jiwa banyak dijumpai. Tujuan studi kasus ini adalah untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan psikoterapi suportif dan psikoedukasi keluarga dilakukan pada pasien yang mengalami Schizophrenia Paranoid. Studi kasus ini melibatkan 1 pasien yang memenuhi kriteria schizophrenia paranoid. Instrumen adalah observasi, wawancara dan tes psikologi (Rorschach). Intervensi dalam studi kasus dilakukan dalam 3 tahapan yaitu initation, working process, dan evaluasi. Hasil intervensi menunjukkan pasien belum mampu memberikan perubahan yang signifikan serta belum adanya keinginan untuk mengontrol suara-suara yang menggangunya.Kata kunci: Terapi suportif, psikoedukasi keluarga, schizophrenia paranoid
Belajar dan mangambil hikmah dari tsunami Latipun editor
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 1 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v3i1.2176

Abstract

TSUNAMI Aceh 2004 sebagai peristiwa besar. Setelah sepulub tahun terjadi patut untuk direnungi dan sebagai akademisi sepatutnya mengkaji untuk memberi pemahaman yang lebih baik mengenai tanda-tanda alam dan segala kaitannya dengan kehidupan kemanusiaan. Sebuah peristiwa seperti tsunami bersifat multidimensional, sehingga kajian tentang tsunami semestinya juga bersifat multidimensional.
Trauma, tsunami dan perdamaian Latipun Latipun
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 1 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v3i1.2177

Abstract

Tsunami Aceh tahun 2004 merupakan peristiwa yang penuh makna. Meskipun secara saintifik terjadi karena pergeseran lempeng dasar bumi di sepanjang Samudera India, peristiwa itu dengan juga dikaitkan perkembangan psikososial dan spiritual yang ada hidup dalam masyarakat Aceh. Masalah keamanan, kemakmuran, dan perubahan perilaku spiritual masyarakat Aceh dijadikan “alasan” mengapa Tsunami terjadi. Peristiwa tersebut juga telah menimbulkan korban yang luar biasa yang tidak terlupakan oleh masyarakat dunia, dan sekarang telah memberikan efek bagi banyak perubahan secara psikososial dan spiritual masyarakat dan kesadaran dunia terhadap perubahan alamiah. Setelah sepuluh tahun berlaku, Tsunami menyisakan akibat trauma bagi sebagian korbannya. Namun di balik semua itu, perdamaian justru diperolehnya dengan sangat cepat, perkembangan ekonomi dan infratruktur, kesadaranbersama dan ketahanan terhadap bencana, kesiapsiagaan dan perubahan positif terus tumbuh berkembang di masyarakat Aceh.Kata kunci: Tsunami, perdamaian, Aceh, trauma, bencana, resiliensi, recovery
Relasi antara perasaan kognitif dengan persepsi kendali survivor bencana tsunami Aceh di Indonesia Tulus Winarsunu
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 1 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v3i1.2178

Abstract

Persepsi pada kesanggupan mengendalikan situasi memiliki kontribusi yang sangat penting ketika individu menghadapi situasi atau lingkungan yang sangat kritis, menekan, dan tidak menentu. Tanpa adanya keyakinan tentang kesanggupan mengatasi kesulitan hidup, maka akan sedikit sekali pemahaman individu pada rencana yang akan disusun dan tindakan-tindakan yang akan dilakukan untuk mengatasi kesulitan hidupnya. Dalam menghadapi kesulitan hidup, individu membutuhkan keyakinan bahwa ia memiliki kesanggupan yang berada diatas kesulitan itu sendiri. Persepsi pada kesanggupan mengendalikan situasi merupakan suatu yang sangat krusial bagi para korban selamat akibat bencana (survivor). Hal ini akan membantu mereka untuk menemukan ide mengenai tindakan apa saja yang dibutuhkan, meyakini bahwa tindakannya benar, dan memunculkan rasa optimisme ketika mengatasi kesuitan dalam hidupnya. Makalah ini ingin menjawab pertanyaan mengapa ada survivor yang memiliki keyakinan bahwa mereka sanggup mengatasi situasi sementara yang lain tidak. Dengan menggunakan perspektif availibility heuristic approach dalam makalah ini diajukan gagasan bahwa perasaan kognitif mengenai kejadian-kejadian menyedihkan yang dialami sebelumnya memiliki hubungan dengan terbentuknya persepsi kendali pada survivor korban tsunami.Kata Kunci: persepsi kendali, perasaan pada ingatan, availibility heuristic approach
Public awareness untuk mengurangi risiko bencana Wiwik Sulistyaningsih
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 1 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v3i1.2179

Abstract

Wilayah Indonesia yang secara geografis terletak diantara tiga lempeng benua yang selalu bergerak, memiliki 127 gunung api, dan dengan kondisi sosial politik yang dinamis, mengandung risiko terjadinya bencana. Dengan demikian pada masyarakat khususnya yang tinggal di kawasan berisiko bencana, sangat diperlukan adanya pemahaman yang cukup tentang kondisi dan risiko bencana yang mungkin terjadi di daerah tempat tinggal mereka. Hal ini dimaksudkan agar mereka memiliki kesiapan yang cukup untuk dapat menghadapi bencana dan kemudian dapat pula secepatnya pulih kembali seandainya terjadi bencana. Sementara bila masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi bencana, maka yang terjadi adalah timbulnya korban yang terlalu besar dan pemulihan yang memakan waktu panjang untuk masyarakat dapat kembali menjalani hidup yang normal selepas bencana. Beberapa dampak yang timbul akibat bencana diantaranya adalah korban jiwa, hilangnya harta benda, serta rusaknya infrastuktur dan lingkungan. Selain itu situasi chaos selepas terjadinya bencana biasanya juga diwarnai dengan rumor atau isu-isu yang tidak bertanggung jawab yang semakin memperkeruh keadaan untuk pemulihan masyarakat. Lambatnya proses rehabilitasi dan rekons-truksi pasca bencana juga dapat terjadi apabila masyarakat menolak untuk mengikuti dan mendukung program-program yang dicanangkan oleh pemerintah. Bahkan upaya edukasi tentang bencana yang dilakukan oleh pemerintah juga akan berjalan kurang optimal jika masyarakat belum memahami sepenuhnya tentang pengurangan risiko bencana yang sebenarnya sangat mereka butuhkan. Sikap masyarakat yang seperti ini umumnya bersumber dari kurang dimilikinya pemahaman dan pengetahuan tentang risiko bencana serta upaya penanggulangan bencana yang dapat dilakukan. Pentingnya peran pengetahuan dan inovasi ini bertujuan agar budaya keselamatan dan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana di semua tingkat dapat terwujud. Sebagai contoh, kemajuan pengetahuan di bidang geologi dapat menjelaskan banyak hal terkait dengan sejarah bencana di suatu tempat, sehingga masyarakat mendapatkan pemahaman yang tepat untuk menjelaskan mengapa suatu bencana terjadi. Dengan memberikan kesadaran dan pemahaman (public awareness) tentang risiko bencana tersebut diharapkan masyarakat akan dapat berperan aktif dalam upaya pengurangan risiko bencana.Kata kunci: bencana, public awareness, pengurangan risiko bencana
Memahami kedukaan dan daya tindak mangsa tsunami di Batu Ferringhi, Pulau Pinang Zulkifli Bin Hussain; Nor Shafrin Binti Ahmad
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 1 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v3i1.2188

Abstract

Artikel ini membincangkan kedukaan dan daya tindak mangsa bencana tsunami yang terbina akibat kejadian bencana alam yang dasyat. Temu bual bersama seorang mangsa tsunami telah dijalankan bagi memahami emosinya setelah sedekad kejadian tsunami berlaku. Perbincangan merangkumisenario kejadian tsunami dan pemikiran yang akhirnya membentuk kedukaan emosi mangsa. Penulisan ini akan menggunakan Model Lima Tahap Kedukaan (The Five Stages of Grief) yang telah diperkenalkan oleh Elisabeth Kubler-Ross (1969) serta Model Daya Tindak oleh Kelly dan Sullivan (1992) sebagai model bagi menghuraikan emosi responden. Artikel ini diharap mampu menghuraikan kesan emosi mangsa tsunami dari aspek psikologi serta menjawab persoalan bagaimana seorang mangsa tsunami keluar dari kedukaan yang berlaku akibat musibah yang berlaku. Pemahaman kepada konsep kedukaan dan daya tindak akan membantu seseorang untuk menerima dengan positif setiap cabaran kehidupan yang sedang dan bakal dilalui.Kata kunci: Daya tindak, tsunami, kedukaan, kesan emosi
Pasca penanganan bencana: Diantara anugrah dan bencana kedua Ari Firmanto
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 1 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v3i1.2189

Abstract

Bencana alam merupakan fenomena tak terduga yang tidak dapat terhindarkan. Terkadang dapat terdeteksi keberadaannya namun manusia tidak mampu merubah atau menghindarinya. Tsunami Aceh 2005 merupakan bencana alam yang tak terdeteksi, datang tiba-tiba dan meluluhlantakkan kehidupan yang telah mapan. Berikutnya dapat dipahami bahwa penanganan bencana alam dengan masuknya berbagai bantuan dari segala elemen masyarakat luas, telah menyisakan hal baru berupa masuknya budaya baru, konflik budaya, nilai-nilai baru. Tentunya kehadiran budaya baru tidak serta merta dapat ditolak atau dihindari. Ketika ini sudah terjadi, maka menjadi tugas kita untuk melakukan seleksi, filterisasi atau bahkan asimilasi budaya. Nilai-nilai kearifan lokal yang ada pada masyarakat perlu diidentifikasikan kembali yang selanjutnya menjadi pedoman dalam mensikapi budaya baru yang masuk. Dengan ini maka kita dapat membekali diri terutama generasi muda (anak-anak, remaja) untuk tetap menjunjung tinggi value orang Aceh dan bersikap bijak menghadapi masuknya budaya baru (asing)Kata Kunci: Bencana, penanganan bencana, tsunami, budaya baru, nilai.
Internalisasi nilai-nilai transendensi untuk meningkatkan resilensi pasca tsunami di Aceh: Studi literatur melalui peran keluarga Ghozali Rusyid Affandi
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 1 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v3i1.2192

Abstract

Sepuluh tahun bencana tsunami di Aceh telah berlalu, tentunya banyak bantuan dari dalam dan luar negeri untuk perbaikan infrastruktur yang rusak akibat diterjang tsunami yang telah menewaskan lebih dari 100.000 orang dan total kerusakan diperkirakan mencapai lebih dari 4 juta dolar AS (United Nations Development programme Indonesia, 2007). Namun dampak secara psikologis seperti trauma, depresi karena kehilangan keluarga serta cacat fisik yang dialami tidak begitu saja hilang dari penyintas. Agar seseorang penyintas tsunami Aceh dapat berfungsi kembali dalam kehidup-annya setelah malapetaka yang menimpanya, dibutuhkan kemampuannya untuk bertahan, bangkit, dan menyesuaikan dengan kondisi sulit yang disebut dengan resiliensi. Ada banyak faktor protektif yang digunakan untuk menstimulasi, meningkatkan serta mempertahankan resiliensi para penyintas. Bisa jadi satu faktor protektif dapat secara efektif meningkatkan resiliensi di budaya tertentu, tetapi kurang efektif di budaya yang lain sebab ada batasan-batan budaya (culture bound) yang mempengaruhi pemaknaan konsep psikologi. Budaya Aceh yang berkenaan dengan kemampuan resiliensi penyintas tsunami adalah nilai-nilai Islami serta penerimaan terhadap kehendak Tuhan, yang berkaitan erat de-ngan konsep spiritualitas. Hasil beberapa penelitian menyebutkan bahwa faktor protektif yang berupa spiritualitas dapat meningkatkan resilensi seseorang. Oleh sebab itu, guna mempertahankan serta meningkatkan resiliensi, maka faktor protektif spiritualitas berlandaskan nilai-nilai Islami yang sesuai dengan budaya masyarakat Aceh perlu diinternalisasikan melalui keluarga dan sekolah. Penginternali-sasian spiritualitas tidak hanya berkenaan dengan pelaksanaan ritual Ibadah, akan tetapi lebih pada penguatan nilai-nilai transendensi.Kata kunci: resiliensi, transendensi, keluarga, budaya
Bersyukur ala Nanggroe: Intervensi psikososial berbasis indigenous psychology Johan Satria Putra
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 1 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v3i1.2198

Abstract

The 2004 tsunami disaster in Aceh still remain some psychological impact for the victims. On the other hand, the victims have to possess a preparedness to face similar disasters in the future. Therefore, we need not only a preventive intervention program but also curative. Aceh is a region that has a strong attachment with the local customs and culture. These customs and culture based on the norms of Islam. Based on those culture and religious context, one of many concept may be internalized to the public is ‘gratitude’. Gratitude could bring happiness and well-being within individu. The concept of gratitude derived from western theories generally have a lot of mismatches when applied in the context of local wisdom. Based on this problem, the planned psychosocial intervention program would be oriented to the indigenous psychology, which mainly purposed to create a gratitude training accordingly match with the principles of Aceh local wisdom. The psychosocial intervention consist of four steps. Phase I: Qualitative research using ethnographic methods, to produce an empirical construct of ‘kebersyukuran’ in the Acehnese local communities’ point of view. Later the construct would be used to produce a ‘syukur’ scale and training module. Phase II: Creating intervention program plan and building the team. Phase III : Training. Phase IV: Post-test, evaluation, and monitoring. The target of this intervention is the residents in four villages in Meuraksa and Jaya Baru, Banda Aceh.Keyword : syukur, training, Acehnese indigenous
Model kesejahteraan subjektif remaja penyintas bencana Tsunami Aceh 2004 Nefi Darmayanti; H. M. Noor Rachman Hadjam; Tina Afiatin
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 1 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v3i1.2199

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah menguji model kesejahteraan subjektif remaja penyintas bencana tsunami secara empiris, mendasarkan pada faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan subjektif remaja. Mengacu pada teori “top-down” dan “bottom-up” maka dapat dirumuskan bahwa kesejahteraan subjektif individu ditentukan oleh faktor-faktor internal dan eksternal individu. Faktor internal mencakup nilai-nilai hidup dan kepribadian, seperti religiusitas, kepribadian tangguh, optimisme, dan harga diri; sedangkan faktor eksternalnya mencakup kondisi situasional dan lingkungan, yaitu dukungan sosial. Subjek penelitian ini adalah 209 remaja penyintas, berusia antara 15 – 18 tahun yang tinggal di Banda Aceh. Metode pengumpulan data melalui angket dan skala. Data dianalisis dengan menggunakan analisis jalur untuk menguji model teoritis dan hubungan antara religiusitas, kepribadian tangguh, optimisme, harga diri dan dukungan sosial dengan kesejahteraan subjektif. Hasil penelitian menemukan bahwa model teoritis kesejahteraan subjektif remaja penyintas bencana tidak fit dengan data empirisnya. Namun setelah dilakukan modifikasi, model teoritis kesejahteraan subjektif remaja penyintas bencana fit dengan data empirisnya.Kata kunci: kesejahteraan subjektif, religiusitas, kepribadian tangguh, optimisme, harga diri, dukungan sosial dan remaja penyintas.

Page 2 of 21 | Total Record : 204


Filter by Year

2013 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 4 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 3 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 2 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 1 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 4 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 3 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 2 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 1 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 10 No. 4 (2022): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 10 No. 3 (2022): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 10 No. 2 (2022): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 10 No. 1 (2022): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 9 No. 4 (2021): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 9 No. 3 (2021): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 9 No. 2 (2021): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 9 No. 1 (2021): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 8 No. 4 (2020): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 8 No. 3 (2020): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 8 No. 2 (2020): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 8 No. 1 (2020): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 7 No. 2 (2019): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 7 No. 1 (2019): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 6 No. 2 (2018): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 6 No. 1 (2018): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 5 No. 2 (2017): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 5 No. 1 (2017): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 4 No. 2 (2016): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 4 No. 1 (2016): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 2 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 1 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 2 No. 2 (2014): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 2 No. 1 (2014): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 1 No. 1 (2013): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi More Issue