cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI)
ISSN : 20874855     EISSN : 26142872     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) merupakan media untuk publikasi tulisan ilmiah dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang berkaitan dengan berbagai aspek dalam bidang hortikultura. Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) terbit tiga kali setahun (April, Agustus, dan Desember).
Arjuna Subject : -
Articles 322 Documents
NAA Lebih Efektif Dibanding IBA untuk Pembentukan Akar pada Cangkok Jambu Bol (Syzygium malaccense (L.) Merr & Perry) Agustiansyah; Jamaludin; Yusnita; Dwi Hapsoro
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 1 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.864 KB) | DOI: 10.29244/jhi.9.1.1-9

Abstract

ABSTRACTA study to determine the effect of auxin talcum on rooting of air layered malay apple (Syzygium malaccense (L.) Merr. & Perry) was conducted from March to May 2016. The experiment was arranged in a randomized complete block design with three replications, five branches per experimental unit. Auxin talcum treatment consisting of 7 level of auxin concentrations, i.e., (in ppm) 0 (control), 2000 IBA, 4000 IBA, 2000 NAA, 4000 NAA, 1000 NAA + IBA 1000 and 2000 IBA + 2000 NAA in the form of talcum-paste were applied in the upper region of the girdled branches prior to being covered with soil medium. The results showed that after two months, all treatments containing NAA, either singly or in combination with IBA produced 100% rooting, whereas the control treatment was only 22%. The IBA treatments singly at 2000 and 4000 ppm produced 44.4% and 55.6% rooting, respectively. The superiority of NAA upon IBA treatments was also shown by the higher number and length of primary roots as well as earlier root formation. The best treatment for Malay apple rooting was 4000 ppm NAA which produced 33.3 roots, and formed roots three weeks earlier than the control treatment.Key words: air layering, auxin, IBA, NAA, rootingABSTRAKPenelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh formulasi pasta auksin yang mengandung IBA, NAA atau kombinasi keduanya terhadap pengakaran cangkok jambu bol (Syzygium malaccense L.) Merr. & Perry). Percobaan dilaksanakan dari bulan Maret sampai Mei 2016 menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan, 5 cabang cangkokan per unit percobaan. Perlakuan terdiri atas 7 taraf konsentrasi auksin (dalam ppm) yaitu 0 (kontrol), 2000 IBA, 4000 IBA, 2000 NAA, 4000 NAA, 1000 NAA + IBA 1000 dan 2000 IBA + 2000 NAA. Hasil pengamatan pada dua bulan setelah perlakuan, semua perlakuan yang mengandung NAA, baik secara tunggal maupun dalam kombinasi dengan IBA menghasilkan 100% cangkok berakar, sementara kontrol hanya menghasilkan 22%, dan perlakuan IBA saja pada 2000 dan 4000 ppm menghasilkan 44.4% and 55.6% cangkok berakar. Efektivitas NAA yang lebih tinggi dibandingkan IBA juga ditunjukkan oleh lebih tingginya jumlah akar, panjang akar dan waktu terbentuknya akar yang lebih awal dibandingkan kontrol. Perlakuan auksin terbaik didapatkan pada 4000 ppm NAA yang menghasilkan 33.3 akar primer dan mempercepat terbentuknya akar hingga tiga minggu lebih awal dibandingkan dengan pada cangkok tanpa auksin.Kata kunci: auksin, cangkok, IBA, NAA, pengakaran
Pengelolaan dan Pemupukan Fosfor dan Kalium pada Pertanian Intensif Bawang Merah di Empat Desa di Brebes Muliana; Syaiful Anwar; Arief Hartono; Anas D. Susila; Supiandi Sabiham
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 1 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.407 KB) | DOI: 10.29244/jhi.9.1.27-37

Abstract

ABSTRACTThe management and fertilization of shallot cultivation in Brebes is very intensive. The purpose of this research was to study crop management and phosphorus (P) and potassium (K) fertilizations of shallot cultivation by smallholder farmers in four villages in Brebes. The data were collected through survey method, interview, and questionnaires to 14 respondent farmers, and analysis of P and K content of farmer's soil samples. The results showed that the cropping index (IP) was 400-500% comprised of three to four times of shallot cultivation and one rice cultivation. The fertilizations of P and K were 22-171 kg of P2O5 ha-1 and 22-213 kg K2O ha-1, respectively, while the recommended rates were 54 kg P2O5 ha-1 and 78 kg K2O ha-1, respectively. This varied fertilizations were not significantly correlated with productions, except fertilization of K with production in rainy season that was significantly correlated at P < 0.05 (n = 14, r = 0.532). The soil P status was very high at all locations and at all depths (0 - 80 cm), while the soil K status ranged from medium to very high. Keywords: nutrient accumulation, nutrient availability, nutrient residue, nutrient status, smallholder farmersABSTRAKPengelolaan dan pemupukan pada budidaya bawang merah di Brebes sangat intensif. Tujuan penelitian ini ialah mengkaji pengelolaan pertanaman dan pemupukan fosfor (P) dan kalium (K) bawang merah yang dilakukan petani di empat desa di Brebes. Pengumpulan data dilaksanakan melalui metode survei, wawancara, dan pengisian kuisioner kepada 14 petani responden, dan analisis kadar P dan K sampel tanah lahan petani responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks pertanaman (IP) adalah 400-500% dengan pertanaman bawang merah tiga sampai empat kali dan satu kali pertanaman padi. Pemupukan P dan K berturut-turut berkisar 22–171 kg P2O5 ha-1 dan 22–213 kg K2O ha-1, sementara rekomendasi Distan Brebes berturut-turut adalah 54 kg P2O5 ha-1 dan 78 kg K2O ha-1. Pemupukan bervariasi ini tidak berkorelasi nyata dengan produksi, kecuali pemupukan K dengan produksi pada musim hujan yang berkorelasi nyata pada taraf 5% (n=14, r=0.532). Status P tanah sangat tinggi pada semua lokasi dan pada semua kedalaman (0 – 80 cm), sementara status K tanah lebih bervariasi, yaitu dari sedang sampai sangat tinggi.Kata kunci: akumulasi hara, ketersediaan hara, petani kecil, residu hara, status hara
Penetapan Kebutuhan Air Tanaman Cabai Merah (Capsicum annuum L.) dan Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.) Devie Rienzani Supriadi; Anas D. Susila; Eko Sulistyono
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 1 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.333 KB) | DOI: 10.29244/jhi.9.1.38-46

Abstract

ABSTRACTCrop production can not be separated from the management provided, such as cultivation techniques in determining of water requirements. Water availability determines the success of crop production, either vegetative or generative because water is a basic need for plants. This study was conducted from March to June 2016 in a greenhouse of Cikabayan Experimental Station, Bogor Agricultural University. It consisted of 2 sets of experiment. The first experiment used a red pepper (Capsicum annuum L.) and second experiment used a cayenne pepper (Capsicum frutescens L.). Each experiment was arranged in a single factor randomized block design (RBD) with irrigation level treatment (V) consisted of 5 levels, i.e. v1 = 1 kc.Eo, v2 = 2 kc.Eo, v3 = 3 kc.Eo, v4 = 4 kc.Eo, and v5 = 5 kc.Eo. kc is a plant coefficient and Eo is pan evaporation measured every two days before irrigation. The results showed that the response of red pepper (Capsicum annuum L.) and cayenne pepper (Capsicum frutescens L.) on growth and production parameters were linear. The water requirement of red pepper (Capsicum annuum L.) and cayenne pepper (Capsicum frutescens L.) was still higher than the highest irrigation level of treatment given in this experiment i.e. 5 kc.Eo.Keywords: evapotranspiration, irrigation, number of flowers, plant coefficient, plant heightABSTRAKKeberhasilan tanaman untuk berproduksi secara maksimal tidak terlepas dari pengelolaan yang diberikan seperti teknik budidaya dalam penetapan jumlah air yang dibutuhkan. Ketersediaan air menentukan keberhasilan produksi tanaman, baik secara vegetatif maupun generatif karena air merupakan kebutuhan dasar bagi tanaman. Percobaan ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juni 2016, bertempat di rumah kaca Kebun Percobaan Cikabayan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini terdiri atas 2 set percobaan, percobaan 1 menggunakan cabai merah (Capsicum annuum L.) dan percobaan 2 menggunakan cabai rawit (Capsicum frutescens L.). Masing-masing percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor perlakuan yaitu tingkat irigasi (V) yang terdiri atas 5 taraf, yaitu: v1 = 1 kc.Eo, v2 = 2 kc.Eo, v3 = 3 kc.Eo, v4 = 4 kc.Eo, dan v5 = 5 kc.Eo. kc adalah koefisien tanaman dan Eo adalah evaporasi panci yang diukur setiap dua hari sekali sebelum irigasi. Hasil percobaan menunjukkan bahwa respon tanaman cabai merah (Capsicum annuum L.) dan cabai rawit (Capsicum frutescens L.) pada parameter pertumbuhan dan produksi merupakan respon linier. Kebutuhan air tanaman cabai merah (Capsicum annuum L.) dan cabai rawit (Capsicum frutescens L.) masih lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan tingkat irigasi tertinggi yang diberikan pada percobaan ini yaitu 5 kc.Eo.Kata kunci: evapotranspirasi, irigasi, jumlah bunga, koefisien tanaman, tinggi tanaman
Pengujian Kualitas Kompos di Kebun Raya Cibodas terhadap Pertumbuhan Sawi Hijau (Brassica rapa) Fitri Kurniawati M. I . L.
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 1 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.924 KB) | DOI: 10.29244/jhi.9.1.47-53

Abstract

ABSTRACTThe experiment to find out the best quality of compost made by using two merck of decomposer (Katalek and Promi) as a medium for planting green mustard (Brassica rapa var. parachinensis L.), has been conducted from February to March 2015 at Compost Unit of Cibodas Botanical Gardens - LIPI. The purpose of this experiment was to obtain a good quality of compost for plant growth. The experimental design used was randomized block design (RAK) with four replications. The treatment used consisted of 3 combinations of compost using Katalek decomposer and soil media, 3 compost combinations using Promi decomposer and soil media and one control (soil only). Variables measured consist of height, leaf number, root length, and fresh weight of green mustard. Data were analyzed by univariate analysis of variance (ANOVA) at α = 0.05 level when significant it was followed by Duncan test. The results showed that compost with Katalek decomposer was the best quality compost compared to compost with Promi decomposer. Planting media which was a combination of compost and soil, whether using a Katalek or Promi decomposer could support growth of green mustard greens, especially at the level of 2:1. The best medium for green mustard was shown by the 2-part compost medium with the Katalek decomposer and 1 part of soil.Keyword: compost decomposer, high growth, leaf number, root length and wet weightABSTRAKPercobaan untuk mengetahui kualitas kompos terbaik yang dibuat dengan menggunakan dua jenis merek perombak kompos (Katalek dan Promi) sebagai media tanam tanaman sawi (Brasica rapa), telah dilaksanakan pada bulan Februari sampai Maret 2015 di Unit Pengolahan Kompos Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Tujuan pengujian ini ialah untuk memperoleh produk kompos sampah organik yang berkualitas baik untuk pertumbuhan tanaman. Rancangan percobaan yang digunakan ialah rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat ulangan. Perlakuan yang digunakan terdiri atas 3 kombinasi kompos yang menggunakan perombak Promi dan media tanah, 3 kombinasi kompos yang menggunakan perombak Katalek dan media tanah serta satu kontrol (media tanah saja). Variabel yang diamati ialah tinggi, jumlah daun, panjang akar dan bobot sawi hijau. Data dianalisis dengan sidik ragam (ANOVA) pada taraf α= 0.05. Jika efek perlakuan nyata, selanjutnya diuji dengan uji Duncan. Hasil menunjukkan bahwa kompos dengan perombak Katalek merupakan kompos dengan kualitas terbaik dibandingkan kompos dengan perombak Promi. Media tanam yang merupakan kombinasi kompos dan tanah, baik yang menggunakan perombak Katalek ataupun Promi merupakan media tanam yang dapat menunjang pertumbuhan sawi hijau terutama pada taraf 2:1. Media terbaik untuk pertumbuhan sawi hijau ditunjukkan oleh media 2 bagian kompos dengan perombak Katalek dan 1 bagian tanah.Kata kunci: jumlah daun, panjang akar dan bobot basah, perombak pengomposan, pertumbuhan tinggi.
Mutasi Induksi Dendrobium sylvanum var. flava Menggunakan Kolkisin secara In Vitro Musalamah; Ni Made Armini Wiendi; Sri Rianawati
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 1 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.541 KB) | DOI: 10.29244/jhi.9.1.54-62

Abstract

ABSTRACTIn Vitro mutation using colchicine on 2 month of self-pollinated protocorm like bodies of Dendrobium sylvanum var. flava was conducted to determine the effects of concentration and immersion duration in colchicine on proliferation of PLBs, and to identify of ploidy variants based on stomatal variable. Research was arranged using factorial completely randomized design with three factors in three replications. The first factor was concentration of colchicine, consisted of five concentrations (0.02; 0.04, 0.06; 0.08; dan 0.1%). The second factor was duration of immersion in the colchicine, consisted of four durations (1; 24; 48; 72 hours). The third factor was proliferation medium consisted of two concentrations of BAP (1; 0.5 mg L-1). Analysis of variance showed the significant effect of colchicine treatment on percentage of survived explants. LD50 in media 1 mg L-1 BAP was obtained at a colchicine concentration of 0.069% with duration immersion of 58.19 hours. On Media 0.5 mg L-1 BAP, LD50 was obtained at colchicine concentration of 0.054% with duration immersion of 47.63 hours. Percentage of solid polyploid mutant of Dendrobium sylvanum var. flava can not be determined on MV2 generation because the stomata leaf showed chimeras based on the chloroplast number in cell guard and stomata size.Keywords: colchicines, Dendrobium sylvanum, mutation, number of chloroplast stomatal density.ABSTRAKMutasi dengan kolkisin pada PLBs hasil selfing Dendrobium sylvanum var. flava umur 2 bulan dilakukan secara In Vitro dengan tujuan mempelajari pengaruh konsentrasi kolkisin, durasi perendaman dalam kolkisin, media proliferasi terhadap pertumbuhan PLBs Dendrobium sylvanum var. flava serta mengidentifikasi variasi ploidi berdasarkan variabel stomata. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Lengkap Faktorial 3 Faktor dengan 3 ulangan. Faktor pertama ialah konsentrasi kolkisin yang terdiri atas 5 taraf (0.02; 0.04, 0.06; 0.08; dan 0.1%). Faktor kedua ialah durasi perendaman yang terdiri atas 4 taraf (1; 24; 48; 72 jam). Faktor ketiga ialah media proliferasi media V&W yang ditambah BAP terdiri atas 2 taraf (1; 0.5 mg L-1). Hasil analisis ragam menunjukkan pengaruh kolkisin yang nyata terhadap variabel persentase hidup. LD50 pada media 1 mg L-1 BAP diperoleh pada konsentrasi 0.069 % dengan durasi perendaman 58.19 jam. Pada media 0.5 mg L-1 BAP, LD50 diperoleh pada konsentrasi 0.054 % dengan durasi perendaman 47.63 jam. Persentase mutan poliploid pada MV2 Dendrobium sylvanum var. flava ini belum dapat ditentukan karena stomata daunnya masih kimera berdasarkan karakter jumlah kloroplas sel penjaga dan ukuran stomata.Kata kunci: Dendrobium sylvanum, jumlah kloroplas, kerapatan stomata, kolkisin, mutasi.
Evaluasi Karakter Agro-fisiologi dan Analisis Kekerabatan 10 Aksesi Tempuyung (Sonchus arvensis L.) di Lingkungan Alami Tatik Raisawati; Maya Melati; Sandra A. Aziz; Mohammad Rafi
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 1 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (726.422 KB) | DOI: 10.29244/jhi.9.1.63-72

Abstract

ABSTRACTPerennial sowthistle (Sonchus arvensis L.) is known as a medicinal plant but rarely cultivated, perennial sowthistle grows wild. Characterization is needed to determine the variation and relationship of perennial sowthistle in situ. Differences environment affect plant growth and bioactive content. Phenotype characterization of plant species is the basis for selection and improvement of properties. The purpose of this study was to evaluate the variation of agrophysiological characters and to analyze the relationship of 10 accessions of sowthistle based on agro-physiological characters. The experiment was conducted in October 2015 to February 2016. Descriptive variation characteristic of agrophysiological, correlation coefficient, principal component analysis (PCA) and cluster analysis (CA) were used to evaluate the phenotypic variability. The PCA and CA generated similar results. The first five principal component axes explained 91.7% of the total variation with PC1 (43.7%) and PC2 (22.9%). The CA showed that the degree of intraspecific similarity was 52.04%. Three clusters were formed among the 10 accessions especially with the separation of accessions that were collected from similar environments.Keywords: cluster, similarity, principal component, Sonchus arvensis L.ABSTRAKTempuyung dikenal sebagai tanaman obat tradisional namun belum banyak dibudidayakan, tempuyung tumbuh liar di alam. Perbedaan lingkungan tumbuh aksesi berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kadar bioaktif tempuyung. Karakterisasi diperlukan untuk mengetahui keragaman dan kekerabatan tempuyung in situ. Karakterisasi fenotip spesies tanaman merupakan dasar untuk seleksi dan perbaikan sifat. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi keragaman karakter agro-fisiologi, dan menganalisis kedekatan hubungan antar 10 aksesi tempuyung in situ berdasarkan karakter agro-fisiologi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2015 sampai Februari 2016. Deskripsi keragaan karakter agro-fisiologi, koefisien korelasi, analisis gerombol dan analisis komponen utama digunakan untuk mengevaluasi keragaman fenotip. Aksesi Tawangmangu menunjukkan keragaan tertinggi pada karakter jumlah daun, lebar daun, diameter batang, bobot basah daun, bobot kering daun, total bobot basah, total bobot kering, tebal daun dan total flavonoid. Analisis gerombol (AG) dan analisis komponen utama (AKU) memberikan hasil yang mirip. Lima sumbu komponen utama menjelaskan 91.7% total keragaman dengan KU 1 (43.7%) dan KU 2 (22.9%). AG menunjukkan tingkat kemiripan sebesar 52.04%. Tiga kelompok terbentuk dari 10 aksesi yang dikoleksi yang diduga berdasarkan kesamaan lingkungan tumbuh.Kata kunci: gerombol, kemiripan, komponen utama, Sonchus arvensis L.
Aplikasi Kalsium dan NAA untuk Mengendalikan Getah Kuning Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) Yulinda Tanari; Darda Efendi; Roedhy Poerwanto; Didy Sopandie; Ketty Suketi
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 1 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.793 KB) | DOI: 10.29244/jhi.9.1.10-18

Abstract

ABSTRACTThe yellow sap is produced naturally in mangosteen organ except in the root. The yellow sap contaminated the aryl and rind if the epithelial cell walls rupture due to deficiency of calcium (Ca). Calcium is one of structural component of cell walls, whereas naphthaleneacetic acid (NAA) has its role in improving cell division and cell elongation. Interaction of Ca and NAA can improve sink strength and capacity because the newly formed cells need Ca to construct wall structure. This experiment aimed at finding out the effect of Ca and NAA applications in reducing the contamination of yellow sap in mangosteen. The experiment was conducted by using factorial random block design consisting of 2 factors and 3 replications. The first factor was Ca dosage (0 and 4.8 kg/tree), and the second factor was NAA concentration (0, 200, 400 and 600 ppm). The results showed that application of 4.8 Ca/tree and 200 ppm NAA as much as 5 ml / fruit effectively improve the content of Ca pectate in pericarp, reduced the percentage of yellow sap contamination on the fruit segment, aryl and rind to 0% and 12.3% respectively compared to control (17.8% on fruit segment, 36.8% on aryl and 56.1% on rind).Key words: aryl, Ca pectate, cell wall, middle lamela.ABSTRAKGetah kuning adalah getah yang dihasilkan secara alami pada setiap organ manggis, kecuali pada akar. Getah kuning akan keluar dan mencemari aril serta kulit jika dinding sel epitel pecah karena kekurangan kalsium (Ca). Kalsium adalah komponen dinding sel, berperan dalam struktur dan permeabilitas membran sedangkan asam naftalenasetat (NAA) berperan penting dalam meningkatkan pembelahan dan pembesaran sel. Interaksi keduanya dapat meningkatkan kapasitas sink buah karena sel yang baru terbentuk membutuhkan Ca dalam menyusun struktur dinding sel. Percobaan bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi Ca dan NAA dalam menurunkan cemaran getah kuning manggis. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok faktorial 2 faktor dengan 3 ulangan. Faktor ke-1 yaitu dosis Ca (0 dan 4.8 kg Ca/pohon) dan faktor ke-2 yaitu konsentrasi NAA (0, 200, 400 dan 600 ppm) dengan volume semprot 5 ml perbuah. Hasil percobaan menunjukkan bahwa aplikasi 4.8 kg Ca/pohon dengan NAA 200 ppm sebanyak 5 ml/buah efektif meningkatkan kandungan Ca pektat perikarp dan menurunkan persentase buah tercemar getah kuning menjadi 0% pada juring dan aril serta 12.3% pada kulit dibandingkan dengan perlakuan kontrol (17.8% pada juring, 36.8% pada aril dan 56.1% pada kulit buah).Kata kunci: aril, Ca pektat, dinding sel, lamela tengah
Studi Akumulasi Pigmen β-Cryptoxanthin untuk Membentuk Warna Jingga Buah Jeruk di Daerah Tropika Sumiasih, Inanpi Hidayati; Arzam, Taruna Shafa; Poerwanto, Roedhy; Efendi, Darda; Agusta, Andria; Yuliani, Sri
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (934.285 KB) | DOI: 10.29244/jhi.9.2.73-83

Abstract

ABSTRACTDegreening is a transformation process on peel which enables it to change color from green to orange on citrus fruits. The orange color of the peel comes from the mixture of carotenoid pigments, such as β-cryptoxanthin and β-citraurin. The pigments contributed in the formation of β-citraurin are β-cryptoxanthin and zeaxanthin. The objectives of this study were (1) to obtain proper degreening temperature in the orange color formation of several citrus varieties, and (2) to identify and determine pigments of β-cryptoxanthin pigment and total chlorophyll content in citrus peel after degreening. This study was conducted at PKHT IPB and LIPI Cibinong from July 2013 to December 2013, and from February 2016 to May 2017. About 100 ppm of ethylene gas was injected into a citrus-containing box using 5 ml syringe, then the box was placed in cool storage at 15 0C, 20 0C and room temperature, for 72 hours. The results showed that the best colors of Keprok Selayar and Keprok Tejakula were obtained by the degreening at 15 0C, in Siam Kintamani it was obtained by degreening at 20 0C. Degreening significantly reduced the total chlorophyll content, and increased β-cryptoxanthin content. The content of β-cryptoxanthin after degreening was 3 folds higher on highland Citrus reticulata than lowland citrus.Keywords: citrus color index, chlorophill, degreening, ethylene, tropical citrusABSTRAKDegreening adalah proses perombakan warna hijau pada kulit jeruk diikuti dengan proses pembentukan warna jingga. Warna jingga adalah campuran antara β-cryptoxanthin dengan β-citraurin. Pigmen yang berkontribusi dalam pembentukan β-citraurin adalah β-cryptoxanthin dan zeaxanthin. Tujuan penelitian ini ialah (1) Mendapatkan suhu degreening yang tepat dalam pembentukan warna jingga pada beberapa varietas jeruk, (2) Identifikasi dan penentuan kadar pigmen β-cryptoxanthin dan kandungan total klorofil pada kulit jeruk setelah degreening. Penelitian ini dilakukan di PKHT IPB dan LIPI Cibinong pada bulan Juli 2013 sampai Desember 2013, dan bulan Februari 2016 sampai Mei 2017. Degreening dilakukan dengan menginjeksikan gas etilen konsentrasi 100 ppm ke dalam wadah tertutup yang berisi jeruk menggunakan syringe 5 ml, kemudian disimpan pada suhu 15 0C, 20 0C dan suhu ruang, selama 72 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warna terbaik jeruk Keprok Selayar dan Tejakula diperoleh dengan degreening pada suhu 15 0C, Siam Kintamani diperoleh dengan degreening pada suhu 20 0C. Degreening dapat menurunkan kandungan total klorofil secara tajam, dan terbukti meningkatkan kandungan pigmen β-cryptoxanthin. Kandungan pigmen β-cryptoxanthin setelah degreening 3 kali lebih tinggi pada jeruk keprok dataran tinggi dibandingkan dengan dataran rendah.Kata kunci: citrus color index, degreening, etilen, jeruk tropika, klorofil
Respon Delapan Genotipe Melon (Cucumis melo L.) terhadap Perlakuan KNO3 Huda, Amalia Nurul; Suwarno, Willy Bayuardi; Maharijaya, Awang
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.337 KB) | DOI: 10.29244/jhi.9.2.84-92

Abstract

ABSTRACTPotassium (K) is a mineral nutrient needed by crops that influences the quality of fruits and vegetables. The objective of this study was to elucidate the interaction effects of genotype by KNO3 treatment (G × KNO3) on fruit traits of melon. The experiment was conducted from August to October 2016 at Tajur II Experimental Station of IPB, Bogor, following a split plot design with three replicates. The main plot was two levels of KNO3 and the subplot was eight genotypes, consisting of seven test genotypes and one check variety (Eagle). The KNO3 treatments were applied weekly, started from 7-49 DAP with 5 g L-1 concentration, ±200 ml plant-1. G × KNO3 interaction effects were significant for sugar content and titratable acidity (TA). P34 had relatively high sugar content and TA. P25 showed a significant increase of sugar content when KNO3 is added, while Eagle, P311, and P34 showed significant decrease of sugar content. Days to male flowering, days to hermaphrodite flowering, and fruit weight had high broad sense heritability (repeatability), while days to harvest, fruit diameter, flesh thickness, rind thickness, and sugar content had moderate heritability. Fruit weight had significant positive correlation with fruit diameter, flesh thickness, and rind thickness. Application of KNO3 fertilizer in practical is therefore suggested for the postive-response genotypes to KNO3.Key words: fruit quality, KNO3, melon, sugar contentABSTRAKKalium (K) merupakan mineral yang dibutuhkan oleh tanaman yang berpengaruh terhadap kualitas buah dan sayur. Pada budidaya melon umumnya, sumber mineral K diperoleh dalam bentuk KNO3. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pengaruh interaksi genotipe × perlakuan KNO3 (G × KNO3) terhadap peningkatan kualitas buah melon. Percobaan dilakukan pada bulan Agustus sampai Oktober 2016 di Kebun Percobaan IPB Tajur II, Bogor menggunakan rancangan petak terbagi (split plot design) dengan tiga ulangan. Petak utama merupakan perlakuan KNO3 dengan dua taraf, dan anak petak merupakan genotipe dengan delapan taraf, yang terdiri dari tujuh genotipe uji dan satu varietas pembanding (Eagle). Perlakuan KNO3 dilakukan setiap minggu mulai 7–49 HST dengan konsentrasi 5 g L-1 dan volume aplikasi ± 200 ml tanaman-1. Interaksi G × KNO3 berpengaruh nyata terhadap karakter kadar gula dan total asam tertitrasi (TAT). Genotipe P34 memiliki kadar gula dan TAT yang relatif tinggi. P25 merupakan genotipe yang menunjukkan respon positif berupa peningkatan kadar gula pada perlakuan KNO3, namun sebaliknya genotipe Eagle, P311, dan P34 justru menunjukkan penurunan kadar gula yang signifikan pada perlakuan KNO3. Karakter yang memiliki nilai heritabilitas (repeatabilitas) arti luas yang tergolong tinggi adalah umur berbunga jantan, umur berbunga hermaprodit, dan bobot buah, sedangkan yang heritabilitasnya tergolong sedang adalah umur panen, diameter buah, tebal daging buah, tebal kulit buah, dan kadar gula. Bobot buah berkorelasi positif dengan diameter buah, tebal daging buah, dan tebal kulit buah. Aplikasi pemupukan KNO3 secara praktis disarankan pada genotipe melon yang memiliki respon positif terhadap KNO3.Kata kunci: kandungan gula, KNO3, kualitas buah, melon
Pengaruh Varietas dan Paket Pemupukan pada Fase Produktif terhadap Kualitas Melon (Cucumis melo L.) di Quartzipsamments Firmansyah, Muhammad Anang; Nugroho, Wahyu Adi; Suparman
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.449 KB) | DOI: 10.29244/jhi.9.2.93-102

Abstract

ABSTRACTMelon (Cucumis melo L.), one of the high-value fruits, has been started to expand by farmers but the heterogeneity in quality may constrain the development. This study aimed to improve the quality of melon in quartz-sand soil (Quartzipsamments). A field experiment based on the split-plot design was conducted on April to June 2016 in Kotawaringin Timur Regency, Central Kalimantan Province, using two factors comprising melon varieties and on-productive-stage fertilization. The varieties consist of Rio F1 (V1), Action 434 F1 (V2), Madesta F1 (V3), Dewo F1 (V4), Gracia F1 (V5), and Okasa F1 (V6). While four fertilization packages which have different dosage on each were tested, including control (P0), low (P2), medium (P3), and high (P3). The result indicated that either varieties or fertilizing significantly affected growth, yield, and the quality of melon. There was a significant interaction between varieties and fertilizing toward yield and quality. Madesta F1 is the only varieties which showed positive response along with increasing fertilizer dosage, and the highest weight (4.55 kg) occurred on the high fertilizing level (P3). While in regard to sweetness level, Rio F1 showed a positive response until medium fertilizing dosage (P2) and resulted in the highest sweetness level by 13.05 oBrix but decreased on the higher dosage (P3). The fruit weight slightly-negative correlated with total sweetness level where the increase in weight may reduce the sweetness level.Keywords: lowland, quartz sand, sweetness levelABSTRAKMelon (Cucumis melo L.) sebagai salah satu komoditas bernilai ekonomis tinggi mulai dikembangkan banyak petani, namun terkendala dengan kualitas buah yang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan mutu buah melon di tanah pasir kuarsa (Quartzipsamment). Percobaan lapangan dengan Rancangan Petak Terbagi dilakukan pada bulan April hingga Juni 2016 di Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah, dengan menggunakan dua faktor, yaitu varietas dan dosis pemupukan pada fase produktif. Faktor varietas terdiri atas: Rio F1 (V1), Action 434 F1 (V2), Madesta F1 (V3), Dewo F1 (V4), Gracia F1 (V5), dan Okasa F1 (V6). Sedangkan faktor pemupukan pada fase produktif terdiri atas: kontrol (P0), rendah (P2), sedang (P3), dan tinggi (P3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor varietas maupun pemupukan berpengaruh terhadap peubah pertumbuhan, hasil, maupun kualitas. Terdapat interaksi yang nyata antara varietas dan pemupukan terhadap peubah hasil maupun kualitas buah. Madesta F1 adalah satu-satunya varietas yang menunjukkan respon positif dengan meningkatnya dosis pemupukan, dengan bobot buah tertinggi sebesar 4.55 kg dicapai pada perlakuan dosis tinggi (P3). Untuk kemanisan buah, varietas Rio F1 menunjukan respon positif dengan adanya peningkatan dosis hingga dosis sedang (P2) dengan nilai kemanisan tertinggi di antara yang lain (13.05 oBrix), namun menurun pada dosis yang lebih tinggi (P3). Bobot buah berkorelasi negatif yang tidak terlalu erat dengan tingkat kemanisan total buah, semakin tinggi bobot cenderung menurunkan tingkat kemanisan buah.Kata kunci: dataran rendah, pasir kuarsa, tingkat kemanisan

Filter by Year

2010 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 16 No. 2 (2025): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 16 No. 1 (2025): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 3 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 2 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 15 No. 1 (2024): Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 14 No. 3 (2023): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 14 No. 2 (2023): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 14 No. 1 (2023): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 13 No. 3 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 13 No. 2 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 13 No. 1 (2022): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 12 No. 3 (2021): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 12 No. 2 (2021): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 12 No. 1 (2021): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 3 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 2 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 1 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 3 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 2 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 1 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 3 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 1 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 3 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 2 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 1 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 3 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 2 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 1 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 3 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 2 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 1 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia Pedoman Penulisan Artikel Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 5 No. 3 (2014): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 5 No. 2 (2014): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 5 No. 1 (2014): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 3 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 2 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 4 No. 1 (2013): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 3 No. 1 (2012): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 2 No. 1 (2011): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 1 No. 2 (2010): Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 1 No. 1 (2010): Jurnal Hortikultura Indonesia More Issue