cover
Contact Name
Ekasatya Aldila Afriansyah
Contact Email
ekafrian@gmail.com
Phone
+628979550972
Journal Mail Official
mosharafajournal@institutpendidikan.ac.id
Editorial Address
Gedung B, Lantai 2, Program Studi Pendidikan Matematika Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Garut Jalan Pahlawan No. 32 Sukagalih, Garut, Jawa Barat
Location
Kab. garut,
Jawa barat
INDONESIA
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika
ISSN : 20864280     EISSN : 25278827     DOI : https://doi.org/10.31980/mosharafa
Core Subject : Education,
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika (p-ISSN: 2086-4280 & e-ISSN: 2527-8827) mempublikasikan artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang pendidikan matematika yang belum pernah dipublikasikan. Penulis dapat berasal dari berbagai level, seperti mahasiswa (S1, S2, S3), guru, dosen, praktisi, maupun pemerhati pendidikan matematika. Mosharafa terbit tiga kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Januari, Mei, dan September. Penerbit Mosharafa adalah Program Studi Pendidikan Matematika Institut Pendidikan Indonesia.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 1,006 Documents
Perbandingan Kemampuan Berpikir Reflektif Antara Siswa Yang Mendapatkan Pendekatan Open Ended Dengan Konvensional Andriani, Yofi Nurul; Madio, Sukanto Sukandar
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 2 No. 2 (2013): Mei
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v2i2.279

Abstract

The results of this Researcher that is data analysis and hypothesis testing to test the end of retrieved Zcounting = 2.57 and at significances level 0.01 retrieved Zcounting = 2.33, then Zcounting (2.57) > Ztable (2,33), so the Ha is received. Therefore, it can be concluded that the results of the students learn math using the open-ended approach is better than using the conventional learning. There are factors other than open ended approach against the results of learning math students, factors that include an understanding of the concept of a sum against the material and approach the open-ended character of the students as well as heterogeneous learning operates on the students more active in seeking and finding method in solving math problems. Hasil Peneliti ini yaitu analisis data dan pengujian hipotesis untuk tes akhir diperoleh Zhitung = 2,57 dan pada taraf siginifikansi 0.01 diperoleh Ztabel = 2,33, maka Zhitung (2,57) > Ztabel (2,33), sehingga Ha diterima. Oleh karena itu dapat kesimpuian bahwa hasil belajar matematika siswa yang menggunakan pendekatan open ended lebih baik dari pada yang menggunakan pembeiajaran konvensional. Ada faktor-faktor lain dari pendekatan open ended terhadap hasil belajar matematika siswa, faktor itu meliputi pemahaman konsep seorang sum terhadap materi dan pendekatan open ended maupun karakter siswa yang heterogen yang menitik beratkan pembeiajaran pada siswa lebih aktif dalam mencari dan menemukan metode dalam menyelesaikan soal matematika.
Perbandingan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Antara Siswa Yang Mendapatkan Strategi Giving Reward Dengan Konvensional: Studi Penelitian di SMP Negeri 3 Garut Nurulhaq, Hilma; Margana, Akhmad
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 2 No. 3 (2013): September
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v2i3.299

Abstract

Research using experimental methods with the group design is randomized control group pre-test-posttest design, with this method, the file that will be examined are group into two classes namely the control class and the experimental class. Instrument used to measure the ratio of the mathematical problem-solving skills is objective test or description test be given before researcher provide treatment and after treatment. File analyses performed using Chi Squared test and Mann-Whitney test. This study aimed to knowing the ratio of the mathematical problem-solving skills between students who get giving reward strategies with students who get conventional learning. The results of research showing that the mathematical problem-solving skills between students who get giving reward strategies better than students who get conventional learning. Penelitian dengan menggunakan metode eksperimen dengan desain kelompok randomized control group pre-test-postest design, dengan metode tersebut data yang akan diteliti dikelompokan menjadi dua yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen. Instrumen yang digunakan untuk mengukur perbandingan kemampuan pemecahan masalah matematika yaitu berupa tes objektif / uraian yang diberikan sebelum peneliti memberikan perlakuan dan sesudah perlakuan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Uji Chi Kuardat dan Uji Mann-Whitney. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kemampuan pemecahan masalah matematika antara siswa yang mendapatkan strategi giving reward dengan siswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika antara siswa yang mendapatkan strategi giving reward lebih baik dibandingkan dengan siswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional.
Perbedaan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Yang Mendapatkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray Dengan Yang Mendapatkan Model Pembelajaran Numbered Head Together: Studi Penelitian kuasi Eksperimen di SMP Negeri 1 Sukawening - STKIP Garut Tahun 2012/2013) Hidayatilah, Lia Nurul; Rahadi, Moersetyo
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 2 No. 3 (2013): September
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v2i3.300

Abstract

Quasi experiment studies with experimental design (the statistic group posttest design) aimed to determine differences in mathematical problem-solving ability of students get the learning model two stay two stray with again learning model Numbered Head Together, as well as the attitude of students towards learning mathematics for teaching model Two stay Two stray with learning model Numbered Head Together. Data analysis can be carried out with test data normality. Mann Whitney. The results of this study indicate: (1) there is a difference mathematical problem-solving ability of students get the learning model Two stay two stray with a gain learning model Numbered Head Together; (2) student’s attitudes toward learning model Two stay Two stray and learning model Numbered Head Together in general the students to be kind to both the learning model. Penelitian kuasi eksperimen dengan desain eksperimen (the statistic group posttes design) bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendapatkan model pembelajaran Two stay Two Stray dengan yang mendapatkan model pembelajaran Numbered Head Together, serta mengetahui sikap siswa terhadap pembelajaran matematika terhadap model pembelajaran Two stay Two Stray dengan model pembelajaran Numbered Head Together. Analisis data dilakukan dengan uji normalitas data, Mann Whitney. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendapatkan model pembelajaran Two stay Two Stray dengan yang mendapatkan model pembelajaran Numbered Head Together; (2) sikap siswa terhadap model pembelajaran Two stay Two Stray dan model pembelajaran Numbered Head Together secara umum siswa bersikap baik terhadap kedua model pembelajaran tersebut.
Perbedaan Prestasi Belajar Matematika Siswa Antara Yang Mendapatkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Dan Kontekstual: Penelitian Terhadap Mahasiswa Program Studi Matematika STKIP Garut Tahun Pelajaran 2012-2013 Lestari, Nursuci; Madio, Sukanto Sukandar
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 2 No. 3 (2013): September
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v2i3.301

Abstract

Quasi-experimental research designs the static group pretest- posttest design was aimed to know the differences of students' achievement in learn mathematic between students who get cooperative learning in Jigsaw and Contextual types. The technique of collecting data uses subjective tests from description, this instrument is clarified have complied the validity, reliability, and level of difficulty distinguishing power. Data analysis is Mann-Whitney test. The result can be summed up that there are the significance differences in initial ability between students who get cooperative learning in Jigsaw dan Contextual types. As any rate, in data analysis of students' affective base on questionnaire, which is given, most of these responses are positive. This is because, the average of neutral affective is most little than students affective. Penelitian kuasi eksperimen dengan desain kelompok the static group pretest-posttest design ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar matematika siswa antara yang mendapatkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan Kontekstual. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tes tulis berbentuk uraian, instrumen tersebut dinyatakan telah memenuhi syarat validitas, reliabilitas, daya pembeda dan tingkat kesukaran. Analisis data dilakukan dengan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat perbedaan kemampuan awal yang signifikan antara siswa yang mendapatkan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dengan siswa yang mendapatkan pembelajaran Kontekstual. Pada analisis data sikap siswa yaitu berdasarkan angket yang diberikan, responnya sebagian besar bernilai positif. Ini terlihat dari rata-rata sikap netral lebih kecil daripada sikap siswa, sehingga dapat disimpulkan bahwa sikap siswa terhadap model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw maupun model pembelajaran Kontekstual mempunyai respon positif.
Perbandingan Kemampuan Proses Pemecahan Masalah Antara Siswa Yang Menggunakan Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) Dan Konvensional: Studi Penelitian di SMA Negeri 19 Garut Lestari, Teguh Panji; Sofyan, Deddy
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 2 No. 3 (2013): September
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v2i3.302

Abstract

This study aims to determine the ratio between the problem-solving ability of students to use learning model Creative Problem Solving (CPS) with Conventional of the students SMAN 19 Garut. The method used in this study is quasi-experimental method with two groups of students, as the experimental group is the group of students who get teaching Creative Problem Solving (CPS) and the control group is the group of students who received conventional learning. The instrument used in this study is a written test with a description of the subject form the Differential Function. The population in this study were all students of class XI of SMAN 19 Garut with the sample selected class XI IPA-3 and XI IPA-4. From the results of preliminary tests of normality test (pretest), initial test scores obtained in the experimental class are not normally distributed so that the test followed by Mann Whitney test and obtained zcounting = 2.73 and ztable = 1.96 thus zcounting > ztable, or zcounting be outside the acceptance of the null hypothesis can be concluded that the average ability of students beginning the experimental class and the control class was different. Proceed with the test and the normalized gain of normality test results and that both classes are not normally distributed then proceed with the Mann witney test. Retrieved zcounting = 2.61 and = ztable 1.96 thus zcounting > ztable then Ho is rejected. Thus, it can be concluded that the mathematical problem-solving ability among students who received learning model Creative Problem Solving (CPS) is better than the students who received conventional learning models. This is because teaching Creative Problem Solving (CPS) students are more active, creative and innovative in finding solutions to any given problem. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kemampuan pemecahan masalah antara siswa yang menggunakan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dengan Konvensional pada siswa SMAN 19 Garut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen semu dengan dua kelompok siswa, sebagai kelompok eksperimen yaitu kelompok siswa yang mendapatkan pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dan kelompok kontrol yaitu kelompok siswa yang mendapatkan pembelajaran Konvensional. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tes tulis berbentuk uraian dengan pokok bahasan turunan fungsi. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMAN 19 Garut dengan sampel kelas yang dipilih yaitu XI IPA-3 dan XI IPA-4. Dari hasil uji coba normalitas tes awal (pretes), diperoleh skor tes awal pada kelas eksperimen tidak berdistribusi normal sehingga pengujian dilanjutkan dengan uji Mann Withney dan diperoleh zhitung = 2,73 dan ztabel=1,96 dengan demikian zhitung > ztabel, atau zhitung berada diluar penerimaan hipotesis nol di dapat kesimpulan bahwa rata-rata kemapuan awal siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah berbeda. Dilanjutkan dengan uji gain ternormalisasi dan dari hasil uji normalitas dan ternyata kedua kelas tidak berdistribusi normal maka pengujian data dilanjutkan dengan uji mann witney. Diperoleh zhitung = 2,61 dan ztabel= 1,96 dengan demikian zhitung > ztabel maka Ho ditolak. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematik antara siswa yang mendapatkan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) lebih baik dari pada siswa yang mendapatkan model pembelajaran Konvensional. Hal ini disebabkan karena pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) siswa lebih aktif, kreatif dan inovatif dalam mencari solusi dari setiap masalah yang diberikan.
Perbandingan Peningkatan Kemampuan Penalaran Matematis Siswa Yang Memperoleh Pembelajaran Melalui Metode Problem Based Instruction (PBL) Dengan Metode Konvensional Nadz, Tsani Farhatun; Haq, Cici Nurul
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 2 No. 3 (2013): September
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v2i3.303

Abstract

Reasoning is activity or process of thinking to interest or make a new right expression. However, in fact, the activity mathematics is still low. This research uses two models of learning, they are Problem Based Instruction (PBI) method and convensional method. The purpose of this research is to find out the comparison of the students' achievement of know activity mathematics between using PBI method learning and convensional method learning, to find out the students' activity who get PBI and Convensional method learning, this research uses a significant level 5%. Having the posttest can be concluded that the outcomes of know avtivity mathematics between students who get PBI method learning is better than the students who get Convensional method learning. Penalaran merupakan suatu kegiatan, suatu proses atau suatu aktivitas berpikir untuk menarik kesimpulan atau membuat suatu pernyataan baru yang benar berdasarkan beberapa pernyataan yang kebenarannya telah dibuktikan atau diasumsikan sebelumnya. Akan tetapi pada kenyataannya penalaran matematis siswa masih rendah. Penelitian ini menggunakan 2 metode pembelajaran yaitu metode pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) dan Konvensional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan Kemampuan penalaran matematis antara siswa yang mendapatkan model pembelajaran PBI dan Konvensional, untuk mengetahui sikap siswa terhadap model pembelajaran PBI dan Konvensional, untuk mengetahui aktvitas siswa yang mendapatkan model pembelajaran PBI dan Konvensional dengan taraf signifikan 5%. Setelah melakukan tes akhir dan uji gain dapat diambil kesimpulan peningkatan kemampuan penalaran matematis antara siswa yang mendapatkan model pembelajaran PBI lebih baik dibandingkan dengan siswa yang mendapatkan model pembelajaran Konvensional.
Perbedaan Kemampuan Komunikasi Matematik Siswa Antara Yang Mendapatkan Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together Dengan Student Teams Achievement Divisions Nurbayani, Yesi; Nanang
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 2 No. 3 (2013): September
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v2i3.304

Abstract

Problems in research in general can decide whether there are differences in the ability of mathematical communication between students who get a cooperative learning type of Numbered Heads Together with Student Teams Achievement Divisions? His way is to experiment with the dwarf in the methods of collecting data on the use and provision of pretest posttest data analysis done with test normality result of the research showed that ho and ha accepted rejected. Then you can conclude that there is a difference between the student mathematical communication skills that get learning cooperative type of Numbered Heads Together with the Student Teams Achievement Divisions. Permasalahan dalam penelitian ini secara umum dapat dirumuskan apakah terdapat perbedaan kemampuan komunikasi matematik siswa antara yang mendapatkan pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together dengan Student Teams Achievement Divisions ?. Cara penelitiannya adalah dengan metode eksperimen, dengan teknik pengumpulan data yang digunakan pemberian pretest dan posttest. Analisis data dilakukan dengan uji normalitas data, Mann Whitney. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, maka dapat di simpulkan bahwa terdapat perbedaan komunikasi matematik siswa antara yang mendapatkan pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together dengan Student Teams Achievement Divisions.
Perbandingan Kemampuan Komunikasi Matematik Siswa Antara Yang Mendapatkan Model Pembelajaran Student Facilitator And Explaining Dengan Konvensional Rahmayanti, Dewi
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 3 No. 1 (2014): Januari
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v3i1.305

Abstract

Dalam penelitian ini, peneliti membandingkan dua model pembelajaran yaitu model pembelajaran student facilitator and explaining dan pembelajaran konvensional untuk melihat sejauh mana kedua model pembelajaran tersebut berperan dalam meningkatkan kemampuan komunikasi matematik siswa. Kemampuan komunikasi matematik yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah komunikasi tertulis. Sedangkan untuk kemampuan komunikasi lisan dapat dilihat ketika proses pembelajaran, yaitu berupa kemampuan siswa dalam menyampaikan ide atau pendapatnya. Sehingga dengan demikian, yang menjadi fokus utama dalam penelitian ini yaitu kemampuan komunikasi tertulis.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil perbandingan komunikasi matematik siswa yang mendapatkan model pembelajaran student facilitator and explaining dengan siswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional.
Perbandingan Prestasi Belajar Matematika Siswa Antara Yang Mendapatkan Model Active Learning Tipe Giving Question And Getting Answer Dengan Konvensional Aisyah, Euis Siti; Sofyan, Deddy
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 3 No. 1 (2014): Januari
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v3i1.306

Abstract

Dalam pembelajaran matematika sering terjadi masalah dalam hal rendahnya prestasi belajar siswa yang diawali dengan anggapan bahwa matematika itu sulit. Salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya masalah tersebut adalah kemampuan dalam memilih dan menggunakan model pembelajaran yang efektif. Pada pembelajaran konvensional siswa lebih sering bersikap pasif. Kebiasaan bersikap pasif dapat mengakibatkan sebagian besar siswa takut dan malu bertanya akan mengenai materi yang kurang dipahaminya. Adapun active learning tipe giving question and getting answer dengan potongan-potongan kertas sebagai medianya dapat digunakan guru untuk mengetahui informasi tertentu, yaitu materi yang kurang dipahami siswa serta materi yang dapat dijelaskan oleh siswa. Penelitian ini bertujuan untuk:1) mengetahui perbandingan prestasi belajar matematika antara siswa yang mendapatkan model active learning tipe GQGA dengan siswa yang mendapatkan model pembelajaran konvensional, beserta peningkatannya; 2) mengetahui perbedaan prestasi belajar matematika antara siswa kelompok tinggi, sedang, dan rendah setelah mendapatkan model active learning tipe GQGA, beserta peningkatannya; 3) mendeskripsikan sikap siswa terhadap pembelajaran matematika dan model active learning tipe GQGA. Penelitian ini dilaksanakan secara eksperimental pada Sekolah Menengah Atas Negeri di Kota Garut. Tahapan penelitian dimulai dari pembuatan instrumen, pelaksanaan pembelajaran, dan pelaksanaan tes prestasi belajar. Tes dilakukan sebelum dan sesudah pembelajaran. Khusus di kelas eksperimen, dilaksanakan pengisian angket oleh siswa. Pengolahan data secara kuantitatif dilakukan perhitungan secara manual dengan bantuan Microsoft Office Excel. Adapun pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji Mann Whitney, Anova Satu Jalur (One Way Anova), dan Kruskall Wallis.
Model Pembelajaran Reciprocal Teaching Pada Pelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Berfikir Kritis Dan Prestasi Belajar Sadiyono, Bambang
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 3 No. 1 (2014): Januari
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v3i1.307

Abstract

Model pembelajaran reciprocal teaching dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar pada pembelajaran matematika model ini dapat meningkatkan kualitas proses, kemampuan berpikir kritis, dan hasil belajar siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuasi esperimen dengan rancangan berbentuk one group postes design. Diperoleh data keterlaksanaan model reciprocal teaching yang dilakukan siswa dan guru yaitu sebesar 85% dengan kualifikasi baik. Rata-rata kemampuan berpikir kritis sebesar 56 dengan kualifikasi kurang, sedangkan hasil belajar siswa sebesar 66 dengan kualifikasi cukup. Adapun koefesien korelasi antara kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar sebesar 0,97 yang menunjukkan bahwa tingkat korelasinya sangat kuat dengan signitikasi t hitung (24.91) > t tabel (2.03). sehingga hipotesis alternatif (Ha) yang diajukan dapat diterima, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara kemampuan berfikir kritis dengan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran reciprocal teaching pada pelajaran matematika. Derajat pengaruh kemampuan berfikir kritis terhadap hasil siswa sebesar 76%. Sehingga sebesar 24% dipengaruhi oleh faktor lain.

Page 45 of 101 | Total Record : 1006


Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 15 No. 1 (2026): January Vol. 14 No. 4 (2025): October Vol. 14 No. 1 (2025): January Vol. 13 No. 4 (2024): October Vol. 13 No. 3 (2024): July Vol. 13 No. 2 (2024): April Vol. 13 No. 1 (2024): January Vol. 12 No. 4 (2023): October Vol. 12 No. 3 (2023): July Vol 12, No 3 (2023) Vol. 12 No. 2 (2023): April Vol 12, No 2 (2023) Vol. 12 No. 1 (2023): January Vol 12, No 1 (2023) Vol 11, No 3 (2022) Vol. 11 No. 3 (2022): September Vol. 11 No. 2 (2022): Mei Vol 11, No 2 (2022) Vol. 11 No. 1 (2022): Januari Vol 11, No 1 (2022) Vol. 10 No. 3 (2021): September Vol 10, No 3 (2021) Vol. 10 No. 2 (2021): Mei Vol 10, No 2 (2021) Vol 10, No 1 (2021) Vol. 10 No. 1 (2021): Januari Vol. 9 No. 3 (2020): September Vol 9, No 3 (2020) Vol. 9 No. 2 (2020): Mei Vol 9, No 2 (2020) Vol 9, No 1 (2020) Vol. 9 No. 1 (2020): Januari Vol 8, No 3 (2019) Vol. 8 No. 3 (2019): September Vol. 8 No. 2 (2019): Mei Vol 8, No 2 (2019) Vol. 8 No. 1 (2019): Januari Vol 8, No 1 (2019) Vol 7, No 3 (2018) Vol. 7 No. 3 (2018): September Vol. 7 No. 2 (2018): Mei Vol 7, No 2 (2018) Vol 7, No 1 (2018) Vol. 7 No. 1 (2018): Januari Vol. 6 No. 3 (2017): September Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol. 6 No. 2 (2017): Mei Vol. 6 No. 1 (2017): Januari Vol 6, No 1 (2017) Vol. 5 No. 3 (2016): September Vol 5, No 3 (2016) Vol. 5 No. 2 (2016): Mei Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol. 5 No. 1 (2016): Januari Vol 4, No 3 (2015) Vol. 4 No. 3 (2015): September Vol. 4 No. 2 (2015): Mei Vol 4, No 2 (2015) Vol. 4 No. 1 (2015): Januari Vol 4, No 1 (2015) Vol. 3 No. 3 (2014): September Vol 3, No 3 (2014) Vol. 3 No. 2 (2014): Mei Vol 3, No 2 (2014) Vol. 3 No. 1 (2014): Januari Vol 3, No 1 (2014) Vol. 2 No. 3 (2013): September Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol. 2 No. 2 (2013): Mei Vol. 2 No. 1 (2013): Januari Vol 2, No 1 (2013) Vol. 1 No. 2 (2012): September Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) Vol. 1 No. 1 (2012): Mei More Issue