Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika (p-ISSN: 2086-4280 & e-ISSN: 2527-8827) mempublikasikan artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang pendidikan matematika yang belum pernah dipublikasikan. Penulis dapat berasal dari berbagai level, seperti mahasiswa (S1, S2, S3), guru, dosen, praktisi, maupun pemerhati pendidikan matematika. Mosharafa terbit tiga kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Januari, Mei, dan September. Penerbit Mosharafa adalah Program Studi Pendidikan Matematika Institut Pendidikan Indonesia.
Articles
1,006 Documents
Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematika Siswa Sekolah Menengah Pertama
Sari, Lisna Siti Permana;
Rahadi, Moersetyo
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 3 No. 3 (2014): September
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v3i3.318
Teacher-centered mathematics learning is one of factors that decrease students’ communication ability. In the learning process, teachers dominate class activities whereas students become passive listeners. Consequently, students are not able to improve their mathematical communication ability. This experimental research used randomized control group pretest-posttest design which was aimed to improve students’ mathematical communication ability in problem-based learning and to discover students’ responses toward problem-based mathematics learning. Population of this research was VIII grade students in MTs Negeri 1. The result of research showed that: (1) the increase of students’ mathematical communication ability with problem-based learning was better than students’ with conventional learning; (2) most of students (81,82%) gave positive responses toward problem-based learning and only small number of students (18,18%) gave negative responses. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya kemampuan komunikasi matematika siswa adalah pembelajaran matematika yang berpusat pada guru. Dalam proses pembelajaran, sebagian besar guru mendominasi sedangkan siswa menjadi pendengar yang pasif. Akibatnya siswa tidak dapat mengembangkan kemampuan komunikasi matematikanya. Penelitian eksperimen dengan randomizedcontrol group pretest–posttest design ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematika siswa dalam pembelajaran berbasis masalah, dan untuk mengetahui sikap siswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunkan pembelajaran berbasis masalah. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa MTs Negeri 1 Garut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1)peningkatan kemampuan komunikasi matematika siswa yang mendapat pembelajaran berbasis masalah lebih baik dari siswa yang mendapat pembelajaran konvensional; (2)sebagian besar siswa (81,82%) memberikan sikap positif terhadap pembelajaran berbasis masalah dan sebagian kecil siswa (18,18%) memberikan sikap negatif.
Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap Kemampuan Koneksi Matematis Siswa Dalam Pembelajaran Matematika
Sugiarti, Sri;
Basuki
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 3 No. 3 (2014): September
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v3i3.319
Learning mathematics is meaningful if the students can connect the mathematical ideas, connecting between mathematical topic, connecting mathematics to other disciplines, and connecting mathematics in daily activity. The study quasi experiment with Non-Equivalent Control Groups Design was aimed to find out that the ability of mathematical connections that students gain in problem-based learning were better than getting a conventional learning and students' attitudes toward problem-based learning. The sample of this study was the students at Senior High School 2 Garut. Then, the results showed that: (1) The Ability of mathematical connections that students gain in problem-based learning were better than getting a conventional learning, (2) Students’ attitudes toward problem-based learning were positive. Pembelajaran matematika akan bermakna apabila siswa dapat menghubungkan ide-ide matematika, menghubungkan antartopik matematika, menghubungkan matematika dengan disiplin ilmu lain, dan menghubungkan matematika dengan kehidupan sehari-hari. Penelitian kuasi eksperimen dengan Nonequivalent Control Group Design. ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan koneksi matematis siswa yang mendapatkan pembelajaran berbasis masalah lebih baik daripada yang mendapatkan pembelajaran konvensional, serta sikap siswa terhadap pembelajaran berbasis masalah. Sampel populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMA Negeri 2 Garut. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa: (1) Kemampuan koneksi matematis siswa yang mendapatkan pembelajaran berbasis masalah lebih baik daripada yang mendapatkan pembelajaran konvensional, (2) Sikap siswa terhadap pembelajaran berbasis masalah adalah positif.
Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Melalui Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP)
Latifah, Dewi;
Madio, Sukanto Sukandar
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 3 No. 3 (2014): September
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v3i3.320
Mathematics is a universal science that underlies the development of technology and have an important role in advancing the human intellect. Problem solving is the focus in the study of mathematics as a problem-solving type of learning that most high level and complex. Quasi-experimental study with Nonequivalent Group Pre-test Post-test Design aims to determine the increase in mathematical problem-solving ability of student who get Missouri Mathematics Project (MMP) learning model better than students who received conventional learning models, and how the increase in mathematical problem-solving ability of students who get the Missouri Mathematics Project (MMP) learning model, as well as students toward learning model Missouri Mathematics Project (MMP). Sampel population in this were students MAN at Garut. The results showed that: (1) Increase in mathematical problem-solving ability of student who get Missouri Mathematics Project (MMP) learning model better than students who received conventional learning models, (2) Improvement of students mathematical problem-solving abilities that get being interpreted Missouri Mathematics Project (MMP) learning model, (3) Students attitudes toward learning model Missouri Mathematics Project (MMP) interpreted very positive. Matematika merupakan ilmu yang universal yang mendasari perkembangan teknologi dan mempunyai peran penting dalam memajukan daya pikir manusia. Pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran matematika karena pemecahan masalah tipe belajar yang tingkatnya paling tinggi dan kompleks. Penelitian kuasi eksperimen dengan Nonequivalent Group Pre-test Post-test Design ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendapatkan model pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP) lebih baik dari siswa yang mendapatkan model pembelajaran konvensional, dan bagaimana peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendapatkan model pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP), serta sikap siswa terhadap model pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP). Sampel populasi dalam penelitian ini adalah siswa MAN di Garut. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa: (1) Peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendapatkan model model pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP) lebih baik dari siswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional, (2) Peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendapatkan model pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP) diinterprestasikan sedang, (3) Sikap siswa terhadap model pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP) diinterprestasikan sangat positif.
Perbandingan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa Antara Yang Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Dengan Konvensional: Studi Quasi Eksperimen di Kelas VII SMP Negeri 2 Bayongbong
Hibattulloh, Nanang;
Sofyan, Deddy
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 3 No. 3 (2014): September
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v3i3.321
Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen dengan desain Randomized Pretest-Posttest Control Group. Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah kemampuan komunikasi matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw lebih baik dari pada siswa yang mendapatkan model pembelajaran konvensional. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMPN 2 Bayongbong, dengan sampel diambil secara Purposive Sampling yaitu kelas VII H (kelas eksperimen) dan VII D (kelas kontrol). Berdasarkan tes akhir, terdapat data yang berdistribusi tidak normal pada keduanya sehingga pengolahan data dilanjutkan dengan statistik non parametrik yaitu Uji Mann Whitney. Dari hasil analisis Uji Mann Whitney dengan taraf signifikansi 5% diperoleh zhitung = -2,046 dan ztabel = 1,96 yang mana zhitung berada di luar daerah penerimaan Ho, maka Ho ditolak dengan demikian kemampuan komunikasi matematis siswa yang mendapatkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih baik dari pada siswa yang mendapatkan model pembelajaran konvensional. This research was a quasi-experimental design with randomized pretest-posttest control group. The problem in this study is whether the mathematical communication skills of students who use the Jigsaw cooperative learning model better than the students who received conventional learning models. The population in this study were all students of class VII SMP 2 Bayongbong, with samples taken by purposive sampling is class VII H (experimental class) and VII D (control class). Based on the research results of the final test, the data are derived distribution is not normal on both so that the processing of data followed by non-parametric statistical test Mann Whitney. From the analysis of the Mann Whitney test with significance level of 5% result data obtained zcounting = -2.046 and ztable = 1.96 which is outside the reception area Ho, the Ho is rejected thus mathematical communication skills of students who get jigsaw cooperative learning model better than the students who get the model conventional learning.
Perbedaan Prestasi Belajar Matematika Siswa Antara Yang Mendapatkan Model Pembelajaran Guided Note Taking Dengan Team Accelerated Instruction: Penelitian terhadap Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika STKIP Garut
Perbangsa, Wenny Wita Astriany;
Haq, Cici Nurul
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 3 No. 3 (2014): September
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v3i3.322
This research uses two learning they are guided note taking with team accelerated instruction. This research is experimental quasi. The study in this learning guided student’s attention to learn mathematics. The purpose in this research is to know the difference of mathematics achievement student learning who use guided note taking learning with team accelerated instruction. After used the last evaluation and use the significant is 5%, it can be taken the conclusion that there is no difference of mathematics achievement students learning who use guided note taking learning with team accelerated instruction. Whereas student attitude for guided note taking learning is positive attitude and student attitude for team accelerated instruction learning is positive attitude. Penelitian ini menggunakan dua model pembelajaran yaitu guided note taking dengan team accelerated instruction. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian kuasi eksperimen. Pembelajaran dengan model pembelajaran ini mengarahkan perhatian siswa dalam mempelajari matematika. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar matematika antara siswa yang mendapatkan model pembelajaran guided note taking dengan team accelerated instruction. Setelah melakukan pretest dan posttest dan menggunakan taraf signifikan 5% dapat diambil kesimpulan bahwa tidak terdapat perbedaan prestasi belajar matematika antara siswa yang mendapatkan model pembelajaran guided note taking dengan team accelerated instruction. Sedangkan, sikap siswa terhadap model pembelajaran guided note taking adalah positif dan team accelerated instruction juga memiliki sikap yang positif.
Peningkatan Kemampuan Penalaran Matematis Siswa Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah
Sumartini, Tina Sri
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 4 No. 1 (2015): Januari
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v4i1.323
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil-hasil penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa kemampuan penalaran matematis siswa belum sesuai dengan yang diharapkan. Salah satu pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan penalaran matematis adalah pembelajaran berbasis masalah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa sebagai akibat dari pembelajaran berbasis masalah. Penelitian ini adalah kuasi eksperimen yang menerapkan dua pembelajaran yaitu pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran konvensional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa di salah satu SMK di Kabupaten Garut. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling, dan diperoleh dua kelas sebagai sampel penelitian. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes kemampuan penalaran matematis. Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh kesimpulan bahwa peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa yang mendapat pembelajaran berbasis masalah lebih baik daripada siswa yang mendapat pembelajaran konvensional.
Sistem Pengambilan Keputusan Untuk Pemilihan Teknisi Lab Dengan Multi Kriteria Menggunakan Metode Ahp (Analytic Hierarchy Process)
Suryadi, Andri;
Nurdiana, Dian
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 4 No. 1 (2015): Januari
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v4i1.324
Dalam proses perekrutan calon pegawai ada beberapa kategori kemampuan diambil untuk mendapatkan calon pegawai yang terbaik. Kategori kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan hardskills dan softskills. Namun, dengan adanya kategori tersebut menjadi sulit bagi tim seleksi untuk mendapatkan keputusan yang terbaik terutama dalam relasi antar kategori yaitu kolaborasi hardskills dan softskills. Oleh karena itu dibutuhkan suatu metode untuk dapat menyelesaikan pengambilan keputusan dengan banyak kategori. AHP (analytic hierarchy process) merupakan metode yang dapat menyelesaikan masalah pengambilan keputusan berdasarkan banyak kategori. Kemampuan hardskills dan softskills dapat dikolaborasikan menggunakan AHP (analytic hierarchy process) sehingga keterkaitan antara kategori menjadikan proses perekrutan menjadi optimal.
Eksplorasi Kemampuan Operasi Bilangan Pecahan Pada Anak-Anak Di Rumah Pintar Bumi Cijambe Cerdas Berkarya (Rumpin BCCB)
Mardiani, Dian
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 4 No. 1 (2015): Januari
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v4i1.325
Penelitian ini didasarkan pada permasalahan banyaknya kasus siswa yang menunjukkan ketidakmampuannya dalam melakukan operasi yang benar terhadap bilangan pecahan. Sejak 3 Oktober 2012, Rumah Pintar Bumi Cijambe Cerdas Berkarya (BCCB), telah melakukan pemberian bimbingan belajar terhadap siswanya. Sebagai langkah awal kami ingin mengkaji bagaimana penguasaan siswa Rumah Pintar BCCB terhadap operasi bilangan pecahan. Penelitian ini mengkaji pencapaian kemampuan operasi matematik siswa pada himpunan bilangan pecahan. Penelitian ini merupakan penelitian survey Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa yang menjadi anggota Rumah Pintar BCCB program bimbingan belajar matematika. Instrumen yang digunakan dalam penelitian berupa tes kemampuan operasi bilangan pecahan. Analisis data dilakukan dengan uji statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 52% siswa Rumpin BCCB memiliki kemampuan operasi bilangan pecahan rendah, 13% sedang dan 35% tinggi.
Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik Siswa Melalui Model Pembelajaran Pelangi Matematika
Rahayu, Diar Veni;
Afriansyah, Ekasatya Aldila
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 4 No. 1 (2015): Januari
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v4i1.326
One of the mathematical abilities that need to be owned by junior school students is a problem-solving ability. By having the ability of problem solving, the students can be a good problem solver in every field that they do later. In fact, there are many junior high school students who have not achieved a good mathematical problem solving, especially in SPLDV topic. This research aims to improve students' problem-solving ability through the application of Pembelajaran Pelangi Matematika model in SPLDV topic. This type of research is qualitative research using descriptive analysis method, any giving of the treatment was observed through observation sheets of student activity and observation sheet of teacher activities. To know the result of the given treatment, performed the final test and questionnaire. The results obtained from this study are the application of PPM models are able to bring students into the learning situation more meaningful and enjoyable in the process of classroom learning. The strategy of grouping students homogeneously brings independence and confidence of students to solve problems encountered. The steps used by PPM model make students did not feel depressed and even tend to be enthusiastic during the learning process takes place. Enhancing mathematical problem-solving ability of students at the high category and the students have a positive attitude towards the implementation of PPM model. The conclusion from this study is that the application of PPM models can enhance mathematical problem-solving ability of students, especially in the SPLDV topic.
Meningkatkan Kemampuan Koneksi Matematis Siswa Melalui Model Pembelajaran Cooperative-Meaningful Instructional Design (C-MID)
Sritresna, Teni
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 4 No. 1 (2015): Januari
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v4i1.327
Penelitian ini didasarkan pada permasalahan rendahnya kemampuan koneksi matematis siswa dalam belajar matematika. Cooperative-Meaningful Instructional Design (C-MID) merupakan salah satu model pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan koneksi matematis siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang mendapatkan model pembelajaran Cooperative-Meaningful Instructional Design (C-MID) dengan yang mendapatkan pembelajaran konvensional. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa di salah satu SMP di Kabupaten Garut. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes kemampuan koneksi matematis. Analisis data dilakukan secara kuantitatif. Analisis koneksi matematis dilakukan dengan uji nonparametrik Mann-Whitney U untuk pretes dan uji t untuk N-gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa yang mendapatkan model pembelajaran Cooperative- Meaningful Instructional Design (C-MID) lebih baik daripada siswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional.