cover
Contact Name
Ahmad Syauqi
Contact Email
sainsalami@unisma.ac.id
Phone
+62341551932
Journal Mail Official
syauqi.fmipa@unisma.ac.id
Editorial Address
Fakultas MIPA, Gedung Usman bin Affan Lantai 1 Kompleks Universitas Islam Malang, Jl. MT. Haryono 193 Malang 65144, Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sains Alami (Known Nature)
ISSN : -     EISSN : 26571692     DOI : http://dx.doi.org/10.33474/j.sa.v3i2.8449
Alami menunjuk kepada material yang ada dalam makhluk hidup (ciptaan). Semua senyawa yang ada dalam tubuh makhluk hidup dan sintesis oleh peristiwa biokimia merupakan produk organik. Proses perubahan menuju mineralisasi oleh mikroorganisme merupakan peristiwa dekomposisi dan dalam hal ini juga terjadi dalam suatu kehidupan. Selanjutnya, biogeokimia merupakan suatu perputaran zat dan hal ini sangat penting dalam kehidupan.
Articles 105 Documents
Uji Limbah Hasil Fermentasi Buah Maja (Aegle marmelos) Terhadap Pertumbuhan Tanaman Sawi Pakcoy (Brassica rapa l.) Silvia Eka Safitri; Saimul Laili; Ratna Djuniwati Lisminingsih
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v4i1.8853

Abstract

The Maja plant is a plant of the Rutaceae family that from tropical and subtropical regions of America. The benefits of Maja fruit fermentation waste can be used as organic liquid fertilizer. Pakcoy mustard is a vegetable that is needed by humans to meet their daily needs. The need for the vegetable market, especially Pakcoy mustard, has increased from year to year. Fertilizing plants is redundant to replace nutrients transported by plants, especially if the soil used for plant cultivation has a low fertility level, one of which is by utilizing the fermented Maja fruit waste can be used as liquid organic fertilizer containing elements macro and micronutrients needed by plants. This study aims to determine the effect of giving Maja fruit fermentation waste to the growth of mustard Pakcoy and to determine the best concentration for the growth of mustard Pakcoy. The method used in this study was an experimental method using a one-factor completely randomized design study (CRD) with concentrations of 0%, 10%, 20%, 30%, and 40% respectively 4 times with 5 treatments. The parameters observed in this study included plant height, number of leaves, root length, wet weight, dry weight, and abiotic factors. The research data were analyzed using analysis of variance (ANOVA), then if there was a significant difference, the LSD test was continued at 5%. The results showed that giving Maja fruit fermentation waste with a concentration of 40% affected increasing the wet weight of Pakcoy mustard with an average value of 82.50 grams.Keywords: Pakcoy Mustard, Maja Fruit Fermented Waste, Organic FertilizerABSTRAKTanaman maja adalah tumbuhan dari famili Rutaceae berasal dari daerah tropis dan subtropis di Amerika. Manfaat limbah fermentasi buah maja dapat digunakan sebagai pupuk cair organik. Sawi Pakcoy adalah sayuran yang sering diolah oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan pangan. Terjadi peningkatan kebutuhan pakcoy setiap periode tahun. Pemberian pupuk terhadap tanaman mutlak diperlukan untuk menggantikan unsur hara. Media tanam budidaya sawi pakcoy pada tanah dengan tingkat kesuburan rendah perlu pemupukan, salah satu alternatif dengan pupuk cair organik limbah fermentasi buah maja yang mudah diperoleh. Limbah tersebut terbukti mengandung unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian limbah hasil fermentasi buah maja terhadap pertumbuhan tanaman sawi pakcoy pada konsentrasi yang paling baik bagi pertumbuhan. Metode penelitian dilakukan secara eksperimen menggunakan desain rancangan acak lengkap (RAL).Perlakuan konsentrasi dimulai dari 0%; 10%; 20%; 30%; 40% dengan 4 kali ulangan. Pengamatan yang dilakukan pada penelitian ini diantaranya tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, bobot basah, bobot kering, dan faktor abiotik. Analisis anova digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui adanya perbedaan yang nyata pada setiap perlakuan kemudian dilanjut uji BNT 5%. Penelitian ini memberikan hasil bahwa pemberian limbah hasil fermentasi buah maja dengan konsentrasi 40% berpengaruh dalam peningkatan bobot basah sawi pakcoy dengan nilai rata-rata 82,50 g.Kata kunci : Sawi Pakcoy, Limbah Hasil Fermentasi Buah Maja, Pupuk Organik
Pengaruh Pemberian Ampas Hasil Fermentasi Buah Maja (Aegle marmelos) Terhadap Pertumbuhan Tanaman Bayam (Amaranthus sp.) Diyah Ayu Trisna Mulyani; Saimul Laili; Ratna Djuniwati Lisminingsih
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v4i1.9987

Abstract

Maja is a plant belonging to the Rutaceae family which originates from the tropics. Green spinach (Amaranthus sp.) belongs to the Amaranthaceae family. Spinach is one of the vegetables consumed by people. The purpose of this study was to determine the effect of giving dreg from fermented maja fruit (Aegle marmelos) on the growth of spinach (Amaranthus sp. L) and the dose of dreg from fermented maja fruit (Aegle marmelos) which has the most influence on the growth of pulled spinach (Amaranthus sp. L). By using this research methodology using experimental Completely Randomized Design (CRD). There were 5 treatment combinations with 4 replications so that there were 20 experimental samples, with a treatment combination of 15gr, 30gr, 45gr and 60g. With research procedures the process of sampling maja fruit, seeding, planting, harvesting. Data analysis with analysis of variance (ANOVA), there is a real difference followed by LSD test 5%. For plant height, the average yield was 38.59 cm, the number of leaves was 14.5, root length 33.5 cm, wet weight 19.5 grams, and dry weight 9.35 grams. Provision of fermented dreg has a significant effect on the growth of spinach at a dose of 60 grams / plant. Keywords: Spinach, Maja Fruit Fermentation, Spinach Plant Growth ABSTRAKMaja adalah tanaman yang tergolong dalam family Rutaceae yang berasal dari daerah tropis. Tanaman bayam hijau (Amaranthus sp.) termasuk family Amaranthaceae. Bayam adalah salah satu sayuran yang dikonsumsi masyarakatTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian ampas hasil fermentasi buah maja (Aegle marmelos) terhadap pertumbuhan tanaman bayam cabut (Amaranthus sp. L) dan dosis ampas hasil fermentasi buah maja (Aegle marmelos) yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman bayam cabut (Amaranthus sp. L). Dengan menggunakan metode penelitian ini menggunakan eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL). Terdapat 5 kombinasi perlakuan 4 ulangan sehingga terdapat 20 sampel percobaan, dengan kombinasi perlakuan 15gr, 30gr, 45gr dan 60 gr. Dengan prosedur penelitian proses pengambilan sampel buah maja, penyemaian benih, penanaman, panen. Analisis data dengan Analisis of Varian (ANOVA), jika ada perbedaan nyata dilanjut dengan uji BNT 5%. Untuk tinggi tanaman mendapatkan hasil rata-rata 38,59 cm, jumlah daun 14,5 helai, panjang akar 33,5 cm, berat basah 19,5 gram, dan berat kering 9,35gram. Pemberian ampas hasil fermetasi memberikan pengaruh yang nyata terhadap  pertumbuhan tanaman bayam dengan dosis 60 gram/ tanaman. Kata kunci : Bayam, Fermentasi Buah Maja, Pertumbuhan Tanaman Bayam
Uji Efektivitas Residu Tembakau Sebagai Bioinsektisida Hama Plutella Xylostella pada Tanaman Sawi (Brassica juncea L.) Rina Alfi Hafiana; Saimul Laili; Ratna Djuniwati Lisminingsih
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v4i1.8895

Abstract

The mustard plant (Brassica juncea L) has been widely cultivated by local communities. The problem that occurs in mustard cultivation farmers is the attack of plant pests which can reduce the quality and quantity of mustard plants. The abundant amount of cigarette butts waste has the potential to be used as a source of insecticides. The nicotine in cigarette butts is acknowledge to be a potential nerve poison and is used as a raw material for various types of insecticides and the essential oil content in clove also contains eugenol which is a component that can be used as an inhibitor of bacterial and fungal proliferation and plays an effective role in controlling pests, can cause skin irritation, and other problems that will become contact poison for insect pests. One of the leaf destroying leaf plants is Plutella xylostella. This study aims to distinguish the effect of kretek cigarette butts and determine the effective concentration on pest mortality. This research was carried out at Biology Laboratory, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Islamic University of Malang. The research method used an Randomized Block Design (RBD) experimental with 5 treatments and 4 replications. ANOVA test results show there are significant differences and the pest mortality tend to increase  after being treated. The most effective results are 25% solution concentrations with 6.75% mortality.  Keywords: Bioinsecticide, Cretek Cigarette Waste, Plutella xylostella Pest ABSTRAKTanaman sawi (Brassica juncea L) telah banyak dibudidayakan oleh masyarakat sekitar. Permasalahan yang terjadi pada petani budidaya sawi adalah serangan hama tanaman yang dapat menurunkan kualitas  dan kuantitas tanaman sawi. Limbah puntung rokok jumlahnya yang sangat melimpah berpotensi untuk dimanfatkan sebagai sumber insektisida. Nikotin yang ada di puntung rokok diyakini dapat menjadi racun syaraf yang potensial dan digunakan sebagai bahan baku berbagai jenis insektisida serta kandungan minyak atsiri pada cengkeh juga mengandung eugenol yang merupakan komponen yang dapat digunakan sebagai penghambat perkembangbiakan bakteri dan jamur serta berperan efektif dalam mengendalikan hama, dapat menimbulkan iritasi kulit dan masalah masalah lain yang akan menjadi racun kontak untuk serangga hama. Salah satu hama tanaman sawi perusak daun yaitu Plutella xylostella. Penelitian ini bertujuan untuk membedakan pengaruh limbah puntung rokok kretek dan mengetahui konsentrasi efektif terhadap mortalitas. Penelitian ini dilakukan dilaboratorium Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Islam Malang. Metode penelitian menggunakan eksperimental Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Hasil uji statistik ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan serta cenderung mengalami peningkatan mortalitas hama setelah diberi perlakuan. Hasil yang paling efektif yaitu dengan konsentrasi larutan 25% dengan mortalitas 6,75%.  Kata kunci : Bioinsektisida, Limbah Puntung Rokok Kretek, Hama Plutella xylostella
Arang Aktif Batok Kelapa (Cocos nucifera) sebagai Adsorben Novia Nurul Aini; Ratna Djuniwati Lisminingsih; Saimul Laili
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v4i1.10306

Abstract

The fish processing industry is one of the important elements in improving the standard of living of the Indonesian people, but the industry also produces waste in the form of crude fish oil which is bad for the environment if it is not processed first before being discharged into the environment. Reducing the problem of fish processing industry waste requires processing fish oil into useful goods, for example reprocessing it into pure oil which is useful in non-food industries such as being used as a mixture of fish feed. The purification of crude fish oil is carried out in three stages, namely the degumming, neutralization, and bleaching stages using coconut shell activated charcoal adsorbent. The purpose of this study was to determine whether giving coconut shell activated charcoal with different weight has the potential in the bleaching process of crude fish oil from fish processing industrial waste. This research uses experimental methods. The bleaching stage used different weight of coconut shell activated charcoal, namely 0% (control), 2%, 4%, 6%, and 8%. The parameters measured were free fatty acid levels and clarity values. Free fatty acid content in all treatments <1% and in accordance with the Indonesian national standard (SNI). ANOVA test results on the mean free fatty acids showed no significant difference between treatments. Similarly, the ANOVA test on clarity values showed no significant difference. Provision of coconut shell activated charcoal has the potential as an adsorbent in the bleaching process of crude fish oil, fish processing industry waste.Keywords: Crude Fish Oil, Bleaching, Coconut Shell Activated Charcoal. ABSTRAKIndustri pengolahan ikan merupakan salah satu unsur penting dalam meningkatkan taraf hidup bangsa Indonesia, tetapi industri tersebut juga menghasilkan limbah berupa minyak ikan kasar yang berdampak buruk bagi lingkungan apabila tidak diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke lingkungan. Mengurangi permasalahan limbah industri pengolahan ikan, membutuhkan pengolahan minyak ikan menjadi barang yang berguna misalnya mengolah kembali menjadi minyak murni yang berguna dalam indutri non pangan seperti digunakan sebagai bahan campuran pakan ikan. Pemurnian minyak ikan kasar ini dilakukan tiga tahapan yakni tahap degumming, netralisasi, dan bleaching menggunakan adsorben arang aktif batok kelapa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pemberian arang aktif batok kelapa dengan berat berbeda berpotensi dalam proses pemutihan (Bleaching) minyak ikan kasar dari limbah industri pegolahan ikan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental. Tahapan bleaching menggunakan berat arang aktif batok kelapa yang berbeda yakni 0% (kontrol), 2%, 4%, 6%, dan 8%. Parameter yang diukur adalah kadar asam lemak bebas dan nilai kejernihan. Kadar asam lemak bebas pada semua perlakuan < 1% dan telah sesuai dengan standar nasional Indonesia (SNI). Hasil uji ANOVA terhadap rerata asam lemak bebas menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antar perlakuan. Sama halnya dengan uji ANOVA terhadap nilai kejernihan menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan. Pemberian arang aktif batok kelapa berpotensi sebagai adsorben pada proses bleaching minyak ikan kasar limbah industri pengolahan ikan.Kata kunci: Minyak Ikan Kasar, Bleaching, Arang Aktif Batok Kelapa
Uji Ekstrak Buah Maja (Aegle marmelos) Sebagai Antibakteri Pada Bakteri Escherichia coli Susi Apriliani; Ahmad Syauqi; Ratna Djuniwati Lisminingsih
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v4i1.9907

Abstract

Maja fruit (Aegle marmelos) is a fruit that contains substances such as balm oil, 2-furocoumarins-psoralen and marmelosin (C13H12O). Maja fruit, roots and leaves have antibiotic properties. Plants that contain chemicals in the maja fruit can potentially act as antibacterials that inhibit bacterial growth. The bacteria that cause diarrhea are Coliform, Escherichia coli, Salmonella enterica and Shigella which are bacteria that cause food poisoning or gastrointestinal disorders. Chemical content of maja fruit (Aegle marmelos), namely alkaloids, terpenoids, coumarin, phenylpropanoids, tannins, polysaccharides and flavonoids. This study aims to determine the maja fruit extract has an anti-bacterial effect on minimum bacterial inhibitory growth and to determine the concentration of maja fruit extract on the minimum inhibitory growth of Escherechia coli bacteria. In this study, using the experimental method completely randomized design (CRD). Using 4 treatments and 6 repetitions. By using EMB and BGLB media. The mean of observations on the inhibitory growth test of Escherichia coli bacteria at a concentration of 19.2 was 0.43, a concentration of 35.7 was 0.48, at a concentration of 37.5 was 1.703 and a control was 0.33. Anova test results showed that there was a significant difference, after being treated with a concentration of 0%, 19.2%, 35.7% and 37.5%, the most effective results were with a solution concentration of 37.5% with an average of 1.703 mm.Keywords: Antibacterial, Maja Frutt, Escherechia coli ABSTRAK Buah maja (Aegle marmelos) adalah buah yang mengandung substansi seperti minyak balsem, 2-furocoumarins-psoralen dan marmelosin (C13H12O). Buah, akar dan daun maja mempunyai sifat antibiotik. Tumbuhan yang memiliki kandungan kimia pada buah maja dapat berpotensi sebagai antibakteri yang menghambat pertumbuhan bakteri. Bakteri yang menimbulkan diare adalah Coliform, Escherichia coli, Salmonella enterica, Shigella yang merupakan bakteri penyebab keracunan makanan atau gangguan saluran cerna. Kandungan kimia dari ekstrak buah maja yaitu alkaloid, terpenoid, kumarin, pherilpropanoid, tannin, polisakarida dan flavonoid. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ekstrak buah maja memiliki pengsruh antibakteri terhadap pertumbuhan hambat minimal bakteri Escherichia coli dan menentukan konsentrasi ekstrak buah maja terhadap pertumbuhan hambat minimal bakteri Escherichia coli. Dalam penelitian ini menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL). Menggunakan 4 perlakuan dan 6 kali ulangan. Dengan menggunakan media EMB dan BGLB. Rerata pengamatan pada pertumbuhan uji daya hambat bakteri pada konsentrasi 19,2 % yaitu 0,43 mm, konsentrasi 35,7% yaitu 0,48 mm, konsentrasi 37,5% yaitu I,70 mm dan pada kontrol 0,33 mm. Hasil uji ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan signifikan, setelah diberi perlakuan konsentrasi 0%,19,2%,35,7% dan 37,5% hasil yang paling efektif yaitu dengan konsentrasi larutan 37,5% dengan rata-rata 1,703 mm. Kata kunci : Antibakteri, Buah Maja, Escherechia coli
Evaluasi Kualitas Air Perairan Tambak Air Payau Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei), Ikan Bandeng (Chanos chanos) dan Ikan Kerapu (Ephinephelus sp.) di Desa Campurejo Kabupaten Gresik irma syahlizawati; Saimul Laili; Hamdani Dwi Prasetyo
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 4, No 2 (2022)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v4i2.11870

Abstract

Activities in pond management cause many problems, such as pests and diseases that cause pre-harvest death. This study aims to evaluate water quality based on physicochemical parameters and biological index in vannamei shrimp, milkfish and grouper ponds. This research was conducted in Campurejo Village, Gresik in February-March 2021 using a purposive sampling method from 3 stations, namely station 1 for shrimp ponds, station 2 for milkfish ponds and station 3 for grouper ponds with 3 points, namely inlet, outlet and center. The data obtained were analyzed by ANOVA test to analyze or compare data from more than two independent groups and continued with the Tukey test to determine which treatment groups had the same or different effects on each other, then the Parcipal Component Analysis test and cluster test to determine the clustering based on the level of similarity of plankton species using Paleonthological Statistics Version 4.05 software. Measurement of physico-chemical parameters of water quality based on SNI 8037.1:2014 except for brightness parameters at station 1, Dissolved Solids and Salinity at all three stations. Observation and identification of plankton at station 1 found 7 classes with a total of 16 genera, at station 2 found 8 classes with a total of 16 genera and at station 3 found 8 classes with a total of 14 genera. The diversity index ranges from 2.1-2.6 ind/L which is categorized as medium species diversity. The most common genera were Pandornia, Coelastrum and Synechocystis. The Trophic Diatom Index at all stations was categorized as eutrophic.Keywords: Physics-Chemistry, Diversity Index, Water Quality, PlanktonABSTRAKAktivitas dalam pengelolaan tambak saat ini banyak menimbulkan permasalahan, seperti serangan hama dan penyakit yang menyebabkan kematian pra panen. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas perairan berdasarkan parameter fisika kimia dan indeks biologi ditambak udang vannamei, ikan bandeng dan ikan kerapu. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Campurejo Kabupaten Gresik pada bulan Februari-Maret 2021 menggunakan metode purposive sampling dari 3 stasiun yaitu stasiun 1 tambak udang, stasiun 2 tambak bandeng dan stasiun 3 tambak kerapu dengan 3 titik yaitu inlet, outlet dan tengah. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji ANOVA untuk menganalisis atau membandingkan data lebih dari dua kelompok independent dan dilanjut uji tukey untuk mengetahui kelompok perlakuan yang memiliki pengaruh sama atau berbeda antara satu dengan yang lain, selanjutnya uji Parcipal Component Analysis dan uji cluster untuk mengetahui klasterisasi berdasarkan tingkat kesamaan jenis plankton dengan menggunakan software Paleonthological Statistic Versi 4.05. Pengukuran parameter fisika-kimia kualitas perairan berdasarkan SNI 8037.1:2014 kecuali parameter kecerahan pada stasiun 1, Padatan Terlarut dan Salinitas pada ketiga stasiun. Pengamatan dan identifikasi plankton pada stasiun 1 ditemukan 7 kelas dengan total 16 genus, pada stasiun 2 ditemukan 8 kelas dengan total 16 genus dan pada stasiun 3 ditemukan 8 kelas dengan total 14 genus. Indeks keanekaragaman berkisar antara 2.1-2.6 ind/L yang dikategorikan sebagai keanekaragaman jenis sedang. Genus yang paling banyak ditemukan yaitu genus Pandornia, Coelastrum dan Synechocystis.  Trophic Diatom Index pada semua stasiun dikategorikan eutrofik.Kata kunci : Fisika-Kimia, Indeks Keanekaragaman, Kualitas Air, Plankton
Pemetaan Potensi Ekowisata di Wilayah Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang Baihaqi Musytawan; Luchman Hakim; Hasan Zayadi
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 4, No 2 (2022)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v4i2.12389

Abstract

Ecotourism according to The International Ecotourism Society (TIES), is a responsible journey into natural areas that preserves the environment, maintains the welfare of local communities, and involves interpretation and education that includes management staff and visiting guests. This research is located in Poncokusumo District, Malang Regency. The data collection method uses field observation techniques assisted by GPS to determine the coordinates of the points. The interview method was used to find out more detailed information about the suitability of ecotourism. The data obtained were processed using spatial analysis techniques using the QGIS 10.3 application. The results of the spatial analysis obtained 9 ecotourism locations spread over 4 villages namely Wringinanom, Gubugklakah, Poncokusumo and Ngadas. The next stage is to find out the suitability of tourism activities in the context of ecotourism with field observations and interviews aimed at tourism managers. The data obtained that ecotourism in Poncokusumo District has not all applied the 3 principles of ecotourism according to the 2015 TIES Definition, especially on the principle of interpretation in River Tubing Ledok Amprong, Coban Bidadari and Gunungsari Sunset.Keywords: Ecotourism, Mapping, Poncokusumo, Suitability.ABSTRAKEkowisata menurut The International Ecotourism Society (TIES), sebuah perjalanan yang bertanggung jawab ke dalam daerah atau area alami (natural areas) yang melestarikan lingkungan, mempertahankan kesejahteraan masyarakat setempat, serta melibatkan interpretasi dan pendidikan yang mencakup staff pengelola dan tamu yang berkunjung. Penelitian ini bertempat di Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Metode pengambilan data menggunakan teknik observasi lapangan yang dibantu dengan GPS untuk menentukan titik koordinat. Metode wawancara digunakan untuk mengetahui informasi lebih detail tentang kesesuaian ekowisata. Data yang diperoleh diolah menggunakan teknik analisis spasial menggunakan aplikasi QGIS 10.3. Hasil analisis spasial diperoleh 9 lokasi ekowisata yang tersebar pada 4 desa yaitu Wringinanom, Gubugklakah, Poncokusumo dan Ngadas. Tahapan selanjutnya yaitu mengetahui kesesuaian kegiatan wisata dalam konteks ekowisata dengan teknik observasi lapang dan wawancara yang ditujukan kepada pengelola wisata. Data yang diperoleh bahwa ekowisata di Kecamatan Poncokusumo belum semua menerapkan 3 prinsip ekowisata menurut Definisi TIES 2015 terutama pada prinsip interpretasi pada ekowista River Tubing Ledok Amprong, Coban Bidadari dan Gunungsari Sunset.Kata kunci : Ekowisata, Kesesuaian, Pemetaan, Poncokusumo.
Evaluasi Kualitas Air Perairan Tambak Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) dan Ikan Bandeng (Chanos chanos) di Kecamatan Duduk Sampeyan Kabupaten Gresik elok muwafiqoh; Saimul Laili; Hamdani Dwi Prasetyo
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 4, No 2 (2022)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v4i2.11871

Abstract

Pre-harvest fish mortality was often found in polyculture vannamei shrimp and milkfish in Duduksampeyan. This is thought to be caused by declining water quality. This study aims to evaluate water quality based on physico-chemical parameters and biotic index in vannamei shrimp (Litopenaeus vannamei) and milkfish (Chanos chanos) ponds. The study was carried out in February-March 2021 in Duduksampeyan using a purposive sampling method from 3 stations, vannamei shrimp ponds (station 1), milkfish ponds (station 2) and polyculture ponds (station 3) at 3 sampling points located at the inlet/outlet, middle and edge. Data analysis using ANOVA followed Tukey's test to compare data from the three stations. Correlation analysis, PCA and cluster to determine the relationship between environmental parameters and plankton. The physico-chemical parameter values were in accordance with SNI8037.1:2014 except for salinity, suspended solids at the three stations, brightness at station 3, dissolved solids at station 2. Station 1 found 8 classes with 17 genera, station 2 contained 8 classes with 11 genera and stations 3 there are 7 classes with 14 genera. The most common genera found at station 1 were Synechocystis, Spirulina, station 2 Synechocystis, Pandornia, Chaetoceros, station 3 Synechocystis, Pandornia, Spirulina. The diversity index value is between 1.7-3.1ind/L. Human activities such as settlements, livestock and agriculture are thought to be the cause of the decline in water quality from being eutrophic to hypereutrophic (TDI). The relationship between plankton and environmental parameters shows that at station 3 the optimum results are obtained to support the life of aquatic biota.Keywords: Physics-Chemistry, Diversity Index, Water Quality, PlanktonABSTRAKKematian ikan pra panen banyak dijumpai pada tambak budidaya polikultur udang vannamei dan ikan bandeng di Kecamatan Duduksampeyan. Hal ini diduga disebabkan oleh menurunnya kualitas air. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas air berdasarkan parameter fisika-kimia dan indeks biotik di tambak udang vannamei (Litopenaeus vannamei) dan ikan bandeng (Chanos chanos). Penelitian dilaksanakan pada Februari-Maret 2021 di Kecamatan Duduksampeyan menggunakan metode purposive sampling dari 3 stasiun yaitu tambak udang vannamei (stasiun 1), tambak ikan bandeng (stasiun 2) dan tambak polikultur (stasiun 3) di 3 titik sampling yang berada di inlet/outlet, tengah dan tepi. Analisis data menggunakan ANOVA dilanjutkan Uji Tukey untuk membandingkan data dari ketiga stasiun. Selanjutnya dianalisis korelasi, PCA dan cluster untuk mengetahui hubungan antara parameter lingkungan dengan plankton. Nilai parameter fisika-kimia telah sesuai SNI 8037.1:2014 terkecuali salinitas, padatan tersuspensi di ketiga stasiun, kecerahan pada stasiun 3 dan padatan terlarut pada stasiun 2. Stasiun 1 ditemukan 8 kelas dengan 17 genus, stasiun 2 terdapat 8 kelas dengan 11 genus dan stasiun 3 terdapat 7 kelas dengan 14 genus. Genus yang paling banyak ditemukan pada stasiun 1 yaitu Synechocystis, Spirulina, stasiun 2 Synechocystis, Pandornia, Chaetoceros, stasiun 3 Synechocystis, Pandornia, Spirulina. Nilai indeks diversitas antara 1.7-3.1ind/L. Aktivitas manusia seperti pemukiman, peternakan dan pertanian diduga menjadi penyebab menurunnya kualitas air menjadi eutrofik hingga hipereutrofik (TDI). Hubungan antara plankton dengan parameter lingkungan menunjukkan bahwa pada stasiun 3 diperoleh hasil yang optimum untuk mendukung kehidupan biota perairan.Kata kunci : Fisika-Kimia, Indeks Keanekaragaman, Kualitas Air, Plankton
Analisis Struktur Komunitas Fitoplankton pada Perairan Tambak Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) di Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Ilvi Iftitahur Rahmah; Saimul Laili; Ratna Djuniwati Lisminingsih
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 4, No 2 (2022)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v4i2.11882

Abstract

Phytoplankton is microscopic organisms that has a role primary producer and  bioindicator of a waters. This study aims to analyze the differences in the phytoplankton community in ponds near and far from settlements as well as to find the condition of the waters. Stations by purposive sampling at 2 stations. The research was conducted in February 2021 in Tanggulrejo Village, Manyar District, Gresik Regency. Phytoplankton samples were analyzed using diversity index (H'), uniformity index (E), dominance index (C), and important value index (INP). The water quality parameters measured were temperature, air brightness, TDS, salinity, DO, dissolved CO2, pH, and nitrate. Statistical test analysis is t test and PCA. The results highest phytoplankton community structure in ponds near settlements, namely, Bacillariophyceae and there were 17 genera, while those far from settlements highest was Cyanophyceae and there were 11 genera. The diversity index value (H') of ponds near medium to settlements is 2.48 while ponds far from settlements is 1.8 which describes the category of phytoplankton community. The Uniformity Index (E) value ponds near settlements is 0, 242, while ponds far from settlements is 0,242 which describes the uneven distribution of phytoplankton. The value of the Dominance Index (C) which is close to the settlement is 0.274, while pond far from the settlement is 0.476, which indicates there is no dominance of a particular genus. The results of water quality parameters indicate that the condition of the shrimp pond waters is polluted because it exceeds the SNI threshold for aquaculture.Keywords: Community Structure, Phytoplankton, Shrimp PondABSTRAKFitoplankton merupakan salah satu oragnisme mikroskopis yang mempunyai peran sebagai produsen primer dan dapat dijadikan sebagai bioindikator suatu perairan, salah satunya tambak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan struktur komunitas fitoplankton pada tambak yang dekat dan jauh dengan pemukiman sekaligus mengevaluasi kondisi perairannya. Penentuan stasiun secara purposive sampling yaitu pengambilan sampel secara random di 2 stasiun, masing-masing stasiun tiga titik. Penelitian dilakukan pada Februari 2021 di Desa Tanggulrejo Kecematan Manyar, Kabupaten Gresik. Sampel fitoplankton dianalisis  menggunakan indeks keanekargaman (H’), indeks keseragaman (E), indeks dominasi (C), dan indeks nilai penting (INP). Parameter kualitas air yang diukur yaitu suhu, kecerahan air, TDS, salinitas, DO, CO2 terlarut, pH, dan nitrat. Analisis uji statistik yang digunakan adalah uji t dan PCA. Hasil penelitian menujukkan struktur komunitas fitoplankton tertinggi pada tambak yang dekat pemukiman yaitu, Bacillariophyceae dan ada 17 genus, sedangkan yang jauh dari pemukiman yang tertinggi adalah Cyanophyceae dan ada 11 genus. Nilai Indeks keanekaragaman (H’) tambak dekat dengan pemukiman adalah 2,48, sedangkan tambak jauh dari pemukiman adalah 1,8 yang menggambarkan komunitas fitoplankton kategori sedang. Nilai Indeks Keseragaman (E) tambak dekat pemukiman adalah 0, 242, sedangkan tambak jauh dari pemukiman adalah 0,242 yang menggambarkan tidak merata distribusi fitoplankton. Nilai Indeks Dominasi (C) yang dekat dengan pemukiman adalah 0,274, sedangkan tambak jauh dari pemukiman adalah 0,476, yang menggambarkan tidak ada dominasi genus tertentu. Hasil pengukuran parameter kualitas air  menunjukkan kondisi perairan tambak udang yang tercemar karena melebihi ambang batas SNI budidaya.Kata kunci : Struktur Komunitas, Fitoplankton, Tambak Udang
Kadar Albumin Ikan Glodok Segar Boleophthalmus boddarti dengan Metode Biuret Farah Nabila Belqis; Hari Santosa; Ahmad Syauqi
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 4, No 2 (2022)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v4i2.10373

Abstract

one of which is mudskipper. The species Boleophthalmus boddarti is able to survive outside the water for long periods, spending time outside the surface of the water walking, wallowing in mud, and entering burrows it creates. The purpose of this study was to analyze the albumin levels in fresh mudskipper meat of Boleophthalmus boddarti species using the biuret method. The research method is descriptive and is repeated three times. Using the biuret method with the spectrophotometer technique the standard curve equation y = 0.0482x + 0.0036. The highest albumin yield was found in the head meat, weighing 0.085 g with the absorbance in the spectrophotometer was 92.80 nm. Compared with the tail meat, the weight of albumin is 0.080 g and the absorbance is 70.08 nm. The greater the absorbance effect on albumin levels, the average measurement of albumin content of mudskipper species Boleophthalmus boddarti, the highest was found in the head meat, namely 93.667% and the albumin content in the meat of the tail was lower, namely 65.97%.Keywords: Albumin, Protein, Boleophthalmus boddarti ABSTRAK Albumin merupakan komponen protein dalam  plasma yang dapat larut dalam air. Albumin dapat di jumpai dalam sebagian besar protein dalam ikan, salah satunya yaitu ikan glodok. Spesies Boleophthalmus boddarti mampu bertahan hidup di luar perairan dalam waktu yang lama, menghabiskan waktunya di luar permukaan air dengan berjalan, berkubang di lumpur, dan memasuki liang yang dibuatnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa kadar albumin pada daging ikan glodok segar spesies Boleophthalmus boddarti dengan metode biuret. Metode penelitian adalah deskriptif dan pengulangan tiga kali. Menggunakan metode biuret dengan teknik spektrofotometer persamaan kurva standart y = 0,0482x + 0,0036. Hasil albumin tertinggi di dapatkan pada bagian daging kepala yaitu seberat 0,085 gr dengan absorbansi dalam spektofotometer adalah 92,80 nm. Dibandingkan dengan bagian daging ekornya  berat albumin yang di dapatkan seberat 0,080 gr dan absorbansi  70,08 nm. Semakin besar absorbansi berpengaruh terhadap kadar albumin, rata – rata pengukuran kadar albumin ikan glodok spesies Boleophthalmus boddarti paling tinggi terdapat pada daging bagian kepala yaitu 93,667 % dan kadar albumin pada daging bagian ekornya lebih rendah yaitu 65,97 %. Kata kunci : Albumin, Protein, Boleophthalmus boddarti

Page 6 of 11 | Total Record : 105