cover
Contact Name
Nikki Aldi
Contact Email
nikki.aldi@unib.ac.id
Phone
+6287885050404
Journal Mail Official
jukeraflesia@unib.ac.id
Editorial Address
Bagian Pendidikan Kedokteran FKIK Universitas Bengkulu, Jl. WR Supratman Bengkulu
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Raflesia
Published by Universitas Bengkulu
ISSN : 24773778     EISSN : 26228343     DOI : 10.33369
Core Subject : Health, Science,
JKR (Jurnal Kedokteran Raflesia) is a peer-reviewed professional journal with the editorial board of scholars mainly in medicine, biomedic and health sciences. It is published by UNIB Press, Universitas Bengkulu, Indonesia with the ISSN (online): 2622-8343; and ISSN (print): 2477-3778. The journal seeks to disseminate research to educators around the world and is published twice a year in the months of June and December. The newest template has been published since Volume 6(2): December 2020.
Articles 81 Documents
Evaluasi Pembelajaran Prodi Pendidikan Profesi Dokter Rotasi Klinik Di Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan Universitas Bengkulu saki, yora
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 10 No 2 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v10i2.39759

Abstract

Latar Belakang: Evaluasi umumnya merujuk pada proses mendapatkan informasi tentang program pembelajaran untuk selanjutnya sebagai masukan dalam pengambilan keputusan. Penelitian tentang evaluasi pembelajaran ini dilakukan agar evaluasi dilakukan sebelum, saat berlangsung dan setelah program dilaksanakan. Manfaatnya adalah evaluasi dilakukan cukup ketat yang memungkinkan dapat diimplementasikan pada seluruh spektrum pendidikan kedokteran. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan ambaran evaluasi pembelajaran Program Pendidikan Profesi Dokter dari perspektif mahasiswa di FKIK UNIB. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi crossectional dimana pengumpulan data dilakukan pada waktu tertentu. Responden pada penelitian ini dipilih berdasarkan total sampling terhadap 30 mahasiswa yang telah melakukan rotasi. Hasil: Hasil penelitian pada tabel di atas menunjukkan sebagian besar mahasiswa setuju bahwa assement metode evaluasi sesuai dengan tujuan pembelajaran, tujuan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang harus dicapai oleh mahasiswa, metode pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran, materi orientasi/pembekalan yang diberikan berjalan baik, pembimbing / pendidik klinik mudah dihubungi, wahana sesuai dengan tujuan pembelajaran dan jumlah kasus di wahana memadai. Kesimpulan: Hasil studi menyimpulkan bahwa pembelajaran pada prodi Pendidikan profesi dokter rotasi klinik sudah diterapkan secara optimal. Bagi peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian yang sama tetapi menggunakan mix method dan menggunakan data primer dan data sekunder untuk penelitian selanjutnya.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN BINAHONG (ANREDERA CORDIFOLIA) TERHADAP BAKTERI PENYEBAB ACNE VULGARIS (CUTIBACTERIUM ACNES): A SYSTEMATIC REVIEW Muhammad Ariq Naufal
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 11 No 1 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v11i1.41146

Abstract

Binahong (Anredera cordifolia) merupakan tanaman yang tersebar secara luas di Indonesia. Tanaman binahong dapat dimanfaatkan daunnya untuk berbagai keperluan kesehatan, seperti mengatasi jerawat. Senyawa metabolit sekunder yang ditemukan di daun binahong diketahui dapat menghambat pertumbuhan bakteri penyebab jerawat seperti Cutibacterium acnes. Tujuan dari penelitian ini adalah merangkum dan menyimpulkan beberapa penelitian sebelumnya mengenai aktivitas antibakteri ekstrak daun binahong terhadap bakteri penyebab acne vulgaris. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah systematic review. Peneliti mencari artikel dari database Google Scholar, Science Direct, Garuda, dan ProQuest. Artikel lalu diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi serta dilakukan critical appraisal. Proses systematic review menghasilkan tujuh artikel yang layak untuk ditelaah dari total 560 artikel yang ditemukan. Seluruh artikel menyatakan bahwa daun binahong dalam bentuk ekstrak maupun bentuk gel memiliki aktivitas antibakteri terhadap Cutibacterium acnes. Perbandingan aktivitas antibakteri antar dosis tidak dapat disimpulkan dikarenakan tidak adanya uji statistik yang relevan pada hampir seluruh artikel.
STUDI KASUS: PERAN ORANG TUA DALAM PERAWATAN HOLISTIK ANAK DENGAN DOWN SYNDROME Hidayanti, Maria
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 11 No 1 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v11i1.42105

Abstract

Sindrom Down merupakan kelainan genetik yang disebabkan oleh keberadaan kromosom 21 tambahan, berdampak pada perkembangan fisik, kognitif, dan adaptasi anak. Faktor risiko utama meliputi nondisjunction kromosom selama meiosis atau mitosis awal yang dapat dipicu oleh infeksi virus, paparan radiasi, dan penuaan sel telur. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif untuk menggambarkan perjalanan keluarga dalam mendampingi anak dengan Sindrom Down dari masa kehamilan hingga usia sekolah dasar di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diagnosis Sindrom Down pada anak terlambat ditegakkan ketika anak berusia 5 bulan berdasarkan ciri klinis khas. Anak mengalami keterlambatan perkembangan motorik dan kognitif, serta gangguan struktural saluran pencernaan. Intervensi khusus belum diterapkan akibat keterbatasan biaya dan informasi, meskipun peran aktif keluarga dalam stimulasi dan pendidikan anak sangat penting. Studi ini menekankan pentingnya skrining dan diagnosis prenatal untuk deteksi dini serta perlunya intervensi dini yang terjangkau agar potensi perkembangan anak dapat dioptimalkan. Dukungan dari pemerintah dan tenaga kesehatan berupa layanan terapi serta program edukasi keluarga sangat diperlukan untuk mengurangi beban psikososial dan stigma sosial. Penelitian lanjutan dianjurkan untuk mengembangkan metode intervensi yang efektif dan terjangkau di berbagai wilayah
The HEPATORENAL SYNDROME TIPE 1 (HRS-1) DENGAN KOMORBID : CASE REPORT Levi, Benly; M. Syarifuddin
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 11 No 1 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v11i1.42460

Abstract

Hepatorenal syndrome merupakan keadaan pada pasien yang ditandai dengan adanya penyakit hati kronik seperti sirosis hepatis dengan komplikasi berupa kegagalan fungsi ginjal. HRS tipe 1 dikenal juga dengan HRS-AKI merupakan manifestasi akut dari disfungsi ginjal pada pasien dengan sirosis berat ditandai peningkatan cepat kadar kreatinin tanpa adanya bukti kerusakan ginjal struktural. Artikel ini melaporkan sebuah kasus seorang laki-laki berusia 51 tahun dengan keluhan badan kuning dan lemas sejak 5 hari sebelum masuk RS, perut membuncit dan BAK yang berkurang dari biasanya. Keluhan lain berupa demam naik turun, keputihan di sekitar rongga mulut serta nafsu makan yang berkurang. Pasien memiliki riwayat DM dan TB paru on therapy. Pada pasien didapakan temuan sklera mata ikterik, plak putih dirongga mulut, abdomen cembung, hepar dan lien yang sulit dinilai serta shifting dullness yang positif. Pada pemeriksaan penunjang ditemukan serologi hepatitis B positif, hiperbilirubinemia, penurunan fungsi hati ditandai dengan peningkatan SGOT dan SGPT, peningkatan ureum dan kreatinin darah, hipoproteinemia serta hipoalbuminemia, dan juga hasil pencitraan radiologi berupa sirosis hepatis yang disertai ascites. Dilakukan perawatan berupa terapi suportif farkamologi dan non-farmakologi, kemudian pasien mengalami perbaikan klinis dilanjutkan dengan KIE. Artikel ini berfokus pada proses diagnosa, faktor risiko dan penyakit penyerta yang terkait dengan hepatorenal syndrome. Hasil dari faktor beragam terkait HRS menggambarkan kompleksitas dari HRS tipe 1 ini. Kata kunci: Ascites, hepatitis, hepatorenal syndrome, sirosis hepatis, komorbid ABSTRACT Hepatorenal syndrome is a condition in patients characterized by chronic liver disease such as hepatic cirrhosis with complications in the form of renal failure. Type 1 HRS, also known as HRS-AKI, is an acute manifestation of renal dysfunction in patients with severe cirrhosis, characterized by a rapid increase in creatinine levels without evidence of structural renal damage. This article reports a case of a 51-year-old man presenting with jaundice and weakness for five days prior to admission to the hospital, abdominal distension, and decreased urine output. Other symptoms included fluctuating fever, oral mucosal lesions, and decreased appetite. The patient had a history of diabetes mellitus and tuberculosis of the lungs under treatment. On examination, the patient presented with icteric sclera, white plaques in the oral cavity, a distended abdomen, hepatosplenomegaly that was difficult to assess, and positive shifting dullness. Supportive examinations revealed positive hepatitis B serology, hyperbilirubinemia, impaired liver function marked by elevated SGOT and SGPT levels, increased blood urea and creatinine levels, hypoproteinemia, hypoalbuminemia, and radiological imaging showing hepatic cirrhosis with ascites. Treatment included supportive pharmacological and non-pharmacological therapy, followed by clinical improvement and continued with KIE. This article focuses on the diagnostic process, risk factors, and associated conditions related to hepatorenal syndrome. The diverse factors associated with HRS-1 highlight the complexity of this condition. Keywords: Ascites, hepatitis, hepatorenal syndrome, liver cirrhosis, comorbidities
PERBANDINGAN GAMBARAN HISTOPATOLOGI PARU TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) JANTAN GALUR SPRAGUE DAWLEY YANG DIINDUKSI PARAQUAT DAN DIBERI EKSTRAK LABU SIAM (Sechium edule) yulianti, maria
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 11 No 1 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v11i1.42822

Abstract

Latar belakang : Labu siam (Sechium edule) memiliki kaya akan kandungan antioksidan seperti alkaloid, flavonoid, tannin, saponin, flavonoid, dan golongan vitamin (C,E,A). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan gambaran histopatologi paru tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague dawley yang diinduksi paraquat dan diberi ekstrak labu siam (Sechium edule). Metode : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental post test only control group design. Subjek penelitian menggunakan bahan biologis tersimpan berupa 20 sampel organ paru tikus putih (Rattus norvegicus) yang sudah diberi pelakuan pada penelitian sebelumnya yang terbagi menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif (P1; diberikan akuades), kelompok kontrol positif (P2; diberikan paraquat 10 mg/kgBB [single dose intraperitoneal]), kelompok perlakuan I (P3; diberikan paraquat 10 mg/kgBB [single dose intraperitoneal] dan vitamin C dosis 0,075 g/kgBB), dan kelompok perlakuan II (P4; diberikan paraquat 10 mg/kgBB [single dose intraperitoneal] dan ekstrak buah labu siam [Sechium edule] dosis 0,75 g/kgBB). Semua sampel bahan biologis tersimpan dilakukan pembuatan preparat paru. Penilaian keadaan paru dilakukan menggunakan kriteria American Thoracic Society dengan bantuan aplikasi ImageJ. Data dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis dan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian : Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukan terdapat perbedaan skor kerusakan paru yang bermakna antar kelompok dengan nilai p yaitu 0,03 (p<0,005). Pada penilaian skor kerusakan kelompok P4 memiliki skor kerusakan lebih rendah dibanding P2 dan P3. Hasil uji Mann Whitney juga menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna kelompok P4 dan P1 dengan nilai p = 0,052 (p<0,005). Kesimpulan : Pemberian ekstrak buah labu siam dosis 0,75 g/kgBB mampu memperbaiki kerusakan paru tikus putih yang diinduksi paraquat dengan dinilai menggunakan kriteria American Thoracic Society dengan bantuan aplikasi ImageJ. Pemberian ekstrak labu siam mampu memperbaiki kerusakan paru tikus putih lebih baik daripada vitamin C berdasarkan nilai rata-rata skor kerusakan paru.
Effectiveness of Early Detection of Leptospirosis in Tropical Developing Countries: A Literature Review Agustin Hanapi, Abe Yafi Muqaddas
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 11 No 1 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v11i1.43744

Abstract

Early detection of leptospirosis is critical for effective disease management and reducing mortality, particularly in tropical developing countries where the disease burden is high and clinical presentation resembles other febrile illnesses such as malaria and dengue. The incidence of leptospirosis can escalate dramatically following flooding disasters, with mortality rates substantially increasing. This review assesses the effectiveness of various early detection methods, including molecular techniques (PCR), serological assays, rapid lateral flow immunoassays (LFIs), and geospatial early warning systems. LFIs demonstrate moderate sensitivity (~68%) and high specificity (~93%), indicating potential utility for screening in endemic areas, although they require confirmatory testing to ensure diagnostic accuracy. IgM-based assays show superior sensitivity compared to IgG-based methods, suggesting greater promise for early diagnosis. Despite advancements, challenges remain in optimizing diagnostic tools suitable for resource-limited tropical settings to enable timely and accurate detection. This underscores the need for integrated early warning systems combined with improved diagnostic technologies to enhance leptospirosis control and prevention strategies.
Peran Adaptasi Fisiologis terhadap Latihan Intensitas Tinggi (High-Intensity Training) dalam Optimalisasi Performa Atletik: Tinjauan Literatur Terkini Widyawati, Dwi
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 11 No 2 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v11i2.44565

Abstract

Metode pelatihan intensitas tinggi, seperti High-Intensity Interval Training (HIIT) dan Sprint Interval Training (SIT), telah menjadi semakin populer sebagai strategi efektif untuk meningkatkan kinerja atletik melalui adaptasi fisiologis yang signifikan. Tinjauan ini menggunakan analisis naratif dari literatur ilmiah terbaru (2015-2025) untuk memeriksa mekanisme adaptasi tubuh terhadap pelatihan intensitas tinggi, termasuk peningkatan kapasitas aerobik (VO₂max), efisiensi metabolik, penyangga laktat, dan fungsi mitokondria. Temuan menunjukkan bahwa baik HIIT maupun SIT dapat meningkatkan kinerja kardiovaskular dan neuromuskular dalam periode pelatihan yang relatif singkat, terutama ketika disesuaikan dengan kebutuhan individu. Namun, respons adaptif tubuh bervariasi dan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kebugaran dasar, usia, dan kondisi metabolik. Oleh karena itu, pendekatan berbasis bukti dan yang dipersonalisasi sangat penting untuk mengoptimalkan hasil pelatihan. Wawasan ini memberikan panduan berharga bagi pelatih, fisiolog olahraga, dan profesional kebugaran dalam mengembangkan intervensi yang ditargetkan untuk mencapai kinerja fisik puncak.
CASE REPORT SINDROMA NEFROTIK SEBAGAI FAKTOR RISIKO INFARK MIOKARD AKUT SEGMEN INFEROPOSTERIOR PADA WANITA USIA MUDA : LAPORAN KASUS: Novtiara Dwita Putri¹, Syahidatul Arifa¹, Sisca Metasari2 ¹Dokter, Biddokkes Polda Bengkulu, Indonesia 2Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Bengkulu, Indonesia Putri, Novtiara
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 11 No 2 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v11i2.44730

Abstract

Deskripsi Kasus: Seorang wanita berusia 30 tahun datang ke unit gawat darurat dengan keluhan pusing, sinkop 6 jam SMRS disertai dengan nyeri dada, ulu hati dan bahu. Pasien dikenal dengan riwayat sindrom nefrotik, gambaran EKG 12 sadapan menunjukkan gambaran STEMI inferoposterior late onset dengan episode transient blok atrioventricular total, pemeriksaan marker enzim jantung HS Trop I menunjukkan hasil > 40.000 dengan status nefrotik aktif ( protein urin +3). Tindakan angiografi koroner dilakukan dengan support alat pacu jantung temporer menunjukkan adanya gambaran total oklusi di bagian proksimal arteri koroner kanan (RCA) serta gambaran diseksi koroner spontan. Tindakan Percutaneus Coronary Intervention (PCI) dilakukan dengan hasil restorasi aliran pembuluh darah yang baik. Diskusi: Keadaan hiperkoagulopati pada SN, yang dicirikan oleh kehilangan protein antikoagulan seperti antitrombin III melalui urin dan peningkatan sintesis faktor pro-koagulan oleh hati dianggap sebagai salah satu mekanisme utama terjadinya trombosis koroner in-situ. Namun penyebab abnormalitas koroner lainnya seperti peningkatan plak aterosklerotik yang signifikan, aneurisma koroner, serta diseksi spontan koroner juga menjadikan patofisiologi diantara keduanya menjadi tumpang tindih. Pasien dengan sindrom nefrotik yang memiliki karakteristik hiperlipidemia, hipoalbuminemia serta adanya edema menjadikan kecurigaan penyebab infark miokard akut adalah trombosis koroner akibat kondisi hiperkoagulopati. Gambaran angiografi koroner pada pasien menunjukkan adanya lesi trombosis tunggal di pembuluh darah koroner kanan (RCA) dengan gambaran diseksi koroner (Spontaneus Coronary Artery Dissection) di proximal RCA yang menyebabkan terjadinya tromboemboli massif. Disamping itu, kondisi AV Blok total merupakan komplikasi yang sering terjadi pada infark miokard yang melibatkan pembuluh darah koroner kanan akibat iskemia nodus AV yang alirannya bergantung pada suplai pembuluh darah tersebut. Perhatian khusus perlu diberikan pada pasien dengan riwayat risiko tinggi yang mengalami tromboemboli, khususnya saat menangani pasien muda dengan infark miokard. Pencegahan dan perawatan yang spesifik pada kelompok ini sangat penting untuk mengurangi kejadian komplikasi. Simpulan: Sindrom nefrotik merupakan faktor risiko pro-trombotik yang kuat dan harus diperhatikan pada pasien usia muda yang datang dengan STEMI. Diagnosis yang akurat dan pendekatan multidisiplin yang komprehensif mencakup reperfusi segera dan tatalaksana sindroma nefrotik sangat penting untuk hasil klinis yang optimal dan pencegahan rekurensi.
A CASE REPORT: SKIZOAFEKTIF AWITAN DINI DAN MASALAH PERUNDUNGAN PADA MASA REMAJA Santri, Putri
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 11 No 2 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v11i2.44868

Abstract

Abstrak Pendahuluan: Gangguan skizoafektif merupakan kondisi psikiatri yang ditandai dengan kombinasi gejala psikotik (halusinasi, waham, perilaku aneh) dan gejala mood (depresi mayor atau mania). Faktor psikososial, seperti perundungan, dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan mental berat pada remaja. Kasus: Pasien wanita berusia 21 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan sering menangis tiba-tiba, mengucapkan kata-kata kotor, serta menarik diri sejak dua bulan terakhir. Pasien juga mengalami halusinasi auditorik dan visual, afek datar, hipotimia, dan kehilangan minat. Pasien memiliki riwayat diagnosis skizofrenia pada usia 16 tahun, namun tidak patuh minum obat. Riwayat psikososial menunjukkan adanya perundungan saat SMP dan kehilangan figur ayah akibat pemenjaraan. Pembahasan: Diagnosis ditegakkan skizoafektif tipe depresif (F25.1) dengan pertimbangan gejala psikotik dan afektif yang menonjol pada episode yang sama. Faktor risiko mencakup pengalaman perundungan, stresor dari keluarga, dan ketidakpatuhan minum obat. Literatur menunjukkan perundungan dapat meningkatkan kadar kortisol, memengaruhi fungsi amigdala dan korteks prefrontal, serta berkontribusi terhadap kerentanan terhadap depresi dan gangguan psikotik. Berdasarkan meta analisis menunjukkan bahwa remaja yang mengalami perundungan berisiko 2,77 kali lebih tinggi mengalami depresi dibandingkan yang tidak mengalami perundungan. Kesimpulan: Perundungan pada masa remaja dapat menjadi stresor psikososial penting yang berperan dalam timbulnya gangguan skizoafektif. Intervensi dini dan dukungan keluarga sangat dibutuhkan untuk memperbaiki prognosis.
HUBUNGAN STRES KERJA DENGAN KINERJA PERAWAT DI RS TK III DR REKSODIWIRYO PADANG TAHUN 2025 jusnidawati, popy
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 11 No 2 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v11i2.44878

Abstract

Rumah sakit di seluruh dunia terus berjuang dengan kinerja perawat. Menurut laporan, 88% perawat Pakistan berkinerja buruk. Setengah dari perawat Indonesia melaporkan merasa stres di tempat kerja, menurut Persatuan Perawat Indonesia (PPNI). Ketika perawat berada di bawah tekanan, mereka cenderung tidak memberikan pasien mereka perawatan terbaik. Para peneliti di RS TK III Dr. Reksodiwiryo Padang berangkat untuk menentukan pada tahun 2025 bagaimana stres di tempat kerja memengaruhi efisiensi dan efektivitas staf perawat. Dari Maret hingga Agustus 2025, data dikumpulkanuntuk penelitian analitis ini menggunakan desain cross-sectional, yang berlangsung dari 17 April hingga 25 tahun itu. Lima puluh perawat dari bangsal rawat inap dipilih secara acak dari total seratus untuk menjadi populasi penelitian. Kami menggunakan uji Chi-Square untuk analisis univariat dan bivariat dari data yang berasal dari kuesioner terstruktur. Hampir separuh responden survei melaporkan merasa stres di tempat kerja, dan hampir separuhnya melaporkan kinerja yang buruk secara keseluruhan. Stres di tempat kerja berkorelasi signifikan dengan kinerja perawat di bangsal rawat inap. Produktivitas perawat menurun ketika mereka mengalami stres di tempat kerja, menurut penelitian tersebut. Untuk manajemen stres yang lebih baik, peningkatan disiplin di antara perawat, dan dukungan manajerial yang lebih besar dari kepala bangsal dan manajer perawat yang mendengarkan masalah dan ide perawat, rumah sakit perlu menerapkan program pelatihan