cover
Contact Name
Nikki Aldi
Contact Email
nikki.aldi@unib.ac.id
Phone
+6287885050404
Journal Mail Official
jukeraflesia@unib.ac.id
Editorial Address
Bagian Pendidikan Kedokteran FKIK Universitas Bengkulu, Jl. WR Supratman Bengkulu
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Raflesia
Published by Universitas Bengkulu
ISSN : 24773778     EISSN : 26228343     DOI : 10.33369
Core Subject : Health, Science,
JKR (Jurnal Kedokteran Raflesia) is a peer-reviewed professional journal with the editorial board of scholars mainly in medicine, biomedic and health sciences. It is published by UNIB Press, Universitas Bengkulu, Indonesia with the ISSN (online): 2622-8343; and ISSN (print): 2477-3778. The journal seeks to disseminate research to educators around the world and is published twice a year in the months of June and December. The newest template has been published since Volume 6(2): December 2020.
Articles 81 Documents
Kualitas Hidup pada Penderita Rinosinusitis Kronik yang Menjalani Bedah Sinus Endoskopi Fungsional: Tinjauan Kepustakaan Sistematis Suwita Erfensi, Lezi Putri
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 9 No 2 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v9i2.33467

Abstract

Latar Belakang: Rinosinusitis kronis (RSK) lazim dijumpai pada populasi dunia dengan prevalensi ~7-30%. Survei skala nasional di Amerika melalui CDC tahun 2014 menemukan bahwa 12.3% dewasa menderita RSK. Kondisi RSK mengganggu kualitas hidup penderitanya karena menyebabkan obstruksi hidung, iritasi, penurunan kemampuan menghindu, sulit tidur dan pilek terus menerus. Tatalaksana RSK berupa medikamentosa dapat diberikan, namun apabila tidak ada perbaikan optimal, pembedahan harus dipertimbangkan. Pembedahan menggunakan teknik bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF) terbukti dalam beberapa penelitian membantu meringankan gejala dan memperbaiki kualitas hidup pasien RSK. Kuisioner SNOT-22 telah digunakan pada RSK pasca pembedahan untuk melihat hasil pasca operasi. Pada tinjauan ini, peneliti ingin mengeksplorasi dampak kualitas hidup pasien RSK yang menjalani BSEF. Metode: Pubmed, Cochrane, dan Scopus ditelusuri untuk tinjauan kepustakaan sistematis ini. Penulis menyaring studi dengan judul yang sama atau yang tidak menjawab pertanyaan penelitian. Penulis melakukan screening abstrak sebelum membaca keseluruhan teks kepustakaan. Penulis menggunakan instrument yang sudah tervalidasi dari CEBM untuk menelusuri kualitas studi. Hasil: Dua artikel dipilih setelah proses penyaringan 470 artikel. Tatalaksana BSEF memberikan perbaikan signifikan pada empat domain dalam SNOT-22. Hasil SNOT-22 kelompok pasien RSK dengan/tanpa polip hidup menunjukkan bahwa kelompok tersebut mengalami perbaikan kualitas hidup yang signifikan. Outcome serupa juga didapatkan pada pasien RSK unilateral dan bilateral. Kesimpulan: Berdasarkan tinjauan sistematis yang dilakukan, terdapat perbaikan gejala dan kualitas hidup setelah bedah sinus endoskopi fungsional pada rinosinusitis kronik.
PERBEDAAN KADAR HEMOGLOBIN SEBELUM DAN SETELAH TERAPI ERITROPOIETIN PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS DI RSUD DR. M. YUNUS BENGKULU Ayu Lestari, Lutfiana
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 10 No 1 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v10i1.35774

Abstract

Latar Belakang: Anemia merupakan komplikasi yang umum diderita oleh pasien penyakit ginjal kronik (PGK) dengan peningkatan prevalensi seiring menurunnya fungsi ginjal. Kondisi ini disebabkan menurunnya produksi hormon eritropoietin (EPO) akibat kerusakan ginjal. Terapi EPO dapat diberikan untuk menggantikan kerja hormon eritropoietin dan perlu dilakukan evaluasi respon kerja terapi dengan pemantauan kadar hemoglobin (Hb) secara rutin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kadar Hb sebelum dan setelah pemberian terapi EPO pada pasien PGK yang menjalani hemodialisis di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan studi analitik komparatif dan metode cross-sectional study. Subjek penelitian diambil dari pasien PGK yang menjalani hemodialisis secara total sampling. Variabel pada penelitian ini adalah kadar Hb sebelum dan setelah terapi EPO. Data yang didapatkan dari penelitian akan dianalisis menggunakan uji paired t-test. Hasil: Rerata kadar Hb dari 66 sampel sebelum terapi EPO adalah 8,394 gr/dL dan setelah terapi EPO adalah 9,109 gr/dL. Hasil analisis dengan menggunakan uji paired t-test didapatkan nilai p=0,001 yang menunjukkan perbedaan signifikan kadar Hb sebelum dan setelah terapi EPO. Kesimpulan: Terdapat peningkatan kadar Hb dengan perbedaan yang signifikan antara kadar Hb sebelum dan setelah pemberian terapi eritropoietin. Kata Kunci: Anemia, Penyakit Ginjal Kronik, Eritropoietin, Hemoglobin
LITERATURE REVIEW: POTENSI SELADA AIR SEBAGAI ANTIOKSIDAN DAN ANTIKANKER Claresta, Fariqzah
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 10 No 1 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v10i1.35775

Abstract

Tanaman selada air (Nasturtium officinale R. Br.) merupakan tumbuhan yang menarik untuk dipelajari. Tumbuhan ini berasal dari Eropa dan Asia, dan sering dikonsumsi sebagai sayuran atau dalam salad karena kandungan nutrisinya yang kaya. Selada air juga dapat ditemukan di dataran tinggi Indonesia. Tanaman ini merupakan contoh tanaman hidroponik yang tumbuh tanpa media tanah, dan pertumbuhannya dipengaruhi oleh nutrisi, tingkat keasaman, dan suhu media air. Variasi lingkungan tempat tumbuh juga mempengaruhi kandungan senyawa kimia yang dihasilkan oleh tanaman selada air. Adanya kandungan kimia seperti flavonoid, alkaloid, saponin, triterpenoid dan steroid yang dapat ditemukan dengan uji fitokimia. Ekstrak selada air menunjukkan aktivitas antioksidan dan kandungan flavonoid yang tinggi. Proses ekstraksi dilakukan untuk mengoptimalkan kandungan saponin sebagai antioksidan. Penelitian juga menunjukkan bahwa selada air mengandung senyawa seperti phenethyl isothiocyanate, isotiosianat, kaemferol glikosida, dan l-triptofan yang memiliki potensi sebagai agen antikanker. Selada air juga dapat digunakan untuk mengobati tuberkulosis dan diabetes. Sehingga hasil penelitian menyimpulkan bahwa selada air mengandung berbagai metabolit sekunder seperti flavonoid, fenolik, alkaloid, saponin, triterpenoid, dan steroid, serta menunjukkan aktivitas antioksidan dan antikanker dengan IC50 yang cukup tinggi. Aktivitas antioksidan selada air tergolong sedang hingga tinggi, mendukung potensinya sebagai tanaman antikanker. Aktivitas antioksidan selada air bahkan lebih tinggi daripada Vitamin C. Dengan mengandung metabolit sekunder ini, selada air dapat dijadikan sebagai bahan farmasi dalam pengobatan. Kata Kunci : selada air, antioksidan, antikanker
DEVELOPMENT OF HIGHLY PATHOGENIC AVIAN INFLUENZA VACCINE FOR PANDEMIC INFLUENZA PREPAREDNESS: A REVIEW S,Si, M.Biomed, Debie Rizqoh
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 10 No 1 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v10i1.35776

Abstract

The Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) H5N1 virus caused extraordinary incidents in several countries, especially Asia, Africa, and Europe. The disease's fatality rate caused by the H5N1 virus reaches 60%. This incident raised concerns about a wider HPAI H5N1 virus pandemic if effective human-to-human transmission occurred. Therefore, the World Health Organization (WHO) calls on all countries to prepare themselves for a pandemic that may occur. One of the strategies in preparation for this pandemic is to develop a vaccine. So far, vaccines are effective in disease prevention efforts because they can work to trigger a natural immune response and induce a memory response against the pathogen in question. Several strategies are needed to develop an effective influenza vaccine in carrying out vaccine development research and in-depth understanding of (i) virology, (ii) virus life cycle, (iii) host immune response to infection, (iv) pathology, and (v) HPAI H5N1 vaccine development strategy. Until now, many HPAI H5N1 vaccines have been developed, from vaccines developed using conventional methods to alternative vaccines using more modern methods. The results of the development of the vaccine are expected to provide provisions for a possible pandemic caused by the HPAI H5N1 virus. Keywords : Influenza, virus, vaccine
LITERATURE REVIEW: KAJIAN EFEKTIVITAS PERKEMBANGAN VAKSIN VIRUS DENGUE MASA KINI Aulia, Tisa
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 10 No 1 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v10i1.35777

Abstract

Dengue fever is a disease caused by the dengue virus (DENV) which often becomes a problem for public health in the world with approximately 390 million cases of infection. The lack of specific antiviral therapy for DENV is a driving force for the development of a dengue vaccine as a strategy to fight the DENV virus. This review discusses the development of dengue vaccines and makes effectivity comparisons with dengue vaccines that have been developed such as Dengvaxia, TV003/TV005, and DENVax to know the current status of the development of these vaccines. Keywords : Dengue fever, Dengue Virus, vaccines, development, effectivity
HUBUNGAN KADAR ALBUMIN TERHADAP LAMA HARI RAWAT INAP PADA PASIEN ULKUS DIABETES MELITUS TIPE 2 PERIODE JANUARI-DESEMBER 2022 DI RSUD DR. M. YUNUS BENGKULU Nursafitri, Reike
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 10 No 1 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v10i1.35778

Abstract

Latar Belakang : Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit kronis yang terjadi akibat pankreas tidak memproduksi cukup insulin atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksi secara efektif sehingga bila dibarengi dengan komplikasi maka akan memperparah kondisi dan berdampak pada malnutrisi. Pasien yang mengalami malnutrisi lebih lama dirawat di rumah sakit dibandingkan mereka yang memiliki status gizi normal. Oleh sebab itu, perlu adanya pengukuran status gizi untuk melakukan terapi nutrisi medis. Malnutrisi juga dapat diketahui dari parameter biokimia. Albumin merupakan salah satu penanda status malnutrisi pada keadaan klinis pasien yang stabil. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kadar albumin dan lama hari rawat inap pada pasien Diabetes Mellitus. Metode : Penelitian ini bersifat analitik dengan pendekatan crossectional study yang melibatkan 56 responden pasien penyakit ulkus diabetes mellitus yang menjalani rawat inap di RSUD Dr M Yunus Bengkulu. Penelitian dilaksanakan di ruang rekam medis dengan mengambil data kadar albumin dan lama hari rawat inap pasien. Hasil kadar albumin dan lama hari rawat inap ini dibandingkan dan dianalisis dengan uji statistik chi square menggunakanIBM SPSS versi 27. Hasil : Pada penelitian ini 67,9% subjek berjenis kelamin perempuan dengan kadar albumin 83,9% tidak normal. Lama hari rawat inap <5 hari sebanyak 64,3%. Dibandingkan antara kadar albumin dan lama hari rawat inap diperoleh nilai p = 0,093 (p>0,05). Kesimpulan : Pada penelitian ini tidak terdapat hubungan antara kadar albumin dan lama hari rawat inap pada pasien ulkus diabetes mellitus di RSUD Dr M Yunus Bengkulu. Kata kunci : kadar albumin, lama hari rawat inap, ulkus diabetes mellitus
Gambaran Karakteristik dan Luaran pada Pasien dengan Preeklampsia Berat di RS Sumber Waras Odilia, Nina Edhita; Fadil Hidayat; Mediana Sutopo Liedapraja
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 10 No 2 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v10i2.38006

Abstract

Latar Belakang: Preeklampsia menjadi penyebab tingginya morbiditas dan mortalitas ibu serta janin di negara berkembang. Menurut Profil Kesehatan Indonesia, pada tahun 2021, hipertensi dalam kehamilan merupakan penyebab kematian ibu terbanyak urutan kedua di Jakarta dengan jumlah 22 kasus dari 152 kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik serta luaran maternal dan perinatal pada pasien preeklampsia berat di Rumah Sakit Sumber Waras. Metode: Penelitian ini dilakukan secara deskriptif kualitatif observasional dengan pendekatan cross-sectional pada data sekunder catatan rekam medis pasien preeklampsia berat. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 85 ibu hamil menggunakan metode total sampling pada semua ibu hamil dengan preeklampsia berat yang melahirkan di Rumah Sakit Sumber Waras pada periode Januari 2022 - Desember 2023. Hasil: Pada penelitian ini, didapatkan sebagian besar ibu dengan preeklampsia berat berusia 18-35 tahun (63,5%), IMT dengan kategori obesitas tingkat dua (43,5%), status paritas multipara (64,7%), serta usia kehamilan aterm (76,5%). Luaran maternal yang terjadi meliputi mengalami eklampsia (14,1%), sindrom HELLP (2,4%), gangguan penglihatan (10,6%), dan edema paru (1,2%). Luaran perinatal mayoritas memiliki bayi yang hidup (98,8%), tidak mengalami asfiksia (88,2%), dan bayi dengan berat badan normal (78,8%). Kesimpulan: Preeklampsia berat di RS Sumber Waras lebih banyak terjadi pada ibu hamil berusia 18-35 tahun, IMT obesitas tingkat dua, multipara, dan aterm. Sementara, luaran yang terjadi berupa eklampsia, sindrom HELLP, gangguan penglihatan, edema paru, bayi hidup, bayi tidak asfiksia, dan bayi berat badan normal.
LAPORAN KASUS LEUKEMIA MYELOID KRONIS FASE KRONIS -, Dessy
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 10 No 2 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v10i2.38203

Abstract

Latar Belakang : Chronic myeloid leukemia (CML) sebagian besar ditemukan pada kelompok usiadewasa dengan rata-rata usia 65 tahun. Meskipun jarang, CML juga dapat terjadi pada usia anak-anakdengan angka insiden rata - rata sebesar 2,5 kasus per juta orang pertahun di dunia. Di Indonesiasendiri, kasus CML anak mencapai 2,7% dari total kasus kanker pada tahun 2020-2024.Kasus : Kami melaporkan seorang anak perempuan berusia 15 tahun yang datang dengan keluhanlemas sejak 3 hari sebelum dibawa ke rumah sakit dan sudah berulang 5 tahun terakhir ini. Keluhandisertai rambut sering rontok, berat badan tidak naik, perut semakin membesar, kulit terlihat menghitamsetiap hari dan demam berulang tanpa sebab yang jelas. Dari alloanamnesis ditemukan paman pasienmengalami keluhan serupa. Pemeriksaan fisik didapatkan kedua konjungtiva anemis dan splenomegali.Pemeriksaan hematologi didapatkan anemia, leukositosis dengan sel blast 9% dan trombositosis. Hasilpemeriksaan molekuler BCR ABL didapatkan positif dari fusi gen BCR ABL exon e14a2, sehinggapasien di diagnosis sebagai chronic myeloid leukemia phase kronis. Pasien dirawat di rumah sakit sertadiberikan terapi cairan dan Imatinib. Background : Chronic myeloid leukemia (CML) is primarily found in adults, with an average age of 65years. Although rare, it can also occur in children, with an average incidence of 2.5 cases per millionpeople per year worldwide. In Indonesia, 2.7% of total cancer cases between 2020 and 2024 waspediatric CML.Case : We report a 15-year-old girl who came to hospital with complaints of weakness for three daysprior to hospitalization, which had recurred over the past five years. Associated symptoms includedfrequent hair loss, no weight gain, abdominal distension, daily skin darkening, and recurrent feverwithout a clear cause. Family history revealed similar complaints were found in the patient's uncle.Physical examination showed conjunctival pallor and splenomegaly. Anemia, leukocytosis with 9% blastcells, and thrombocytosis were found in hematological test. Molecular testing for BCR ABL fusion genewas positive for BCR ABL exon e14a2, leading to a diagnosis of chronic myeloid leukemia at chronicphase. The patient was hospitalized and was given fluid therapy and Imatinib
LAPORAN KASUS ASMA EKSASERBASI SEDANG PADA PASIEN ASMA PERSISTEN BERAT TIDAK TERKONTROL DENGAN OBESITAS DAN ANEMIA Mustofa, Syazili; Ramadhan, Muhammad Alif; Putri, Giska Tri; Carolia, Novita; Wisnugroho, Cahyo
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 10 No 2 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v10i2.38273

Abstract

Asma merupakan penyakit heterogen yang disebabkan oleh inflamasi kronis saluran pernafasan. Pada tahun 2019, prevalensi asma di Indonesia berjumlah 4,5%. Provinsi Lampung tercatat memiliki prevalensi asma sejumlah 1,6% di tahun 2018. Kasus seorang wanita, usia 42 tahun, mengeluhkan sesak nafas 30 menit Sebelum Masuk Rumah Sakit (SMRS). Sesak nafas terakhir muncul 2 bulan yang lalu dan sesak nafas saat malam hari muncul 2 bulan yang lalu. Sesak nafas muncul ketika dipicu oleh debu, asap, dan cuaca dingin. Sesak nafas memberat ketika malam dan pagi hari. Keluhan penyerta berupa batuk tidak berdahak dan riwayat alergi terhadap debu, asap, dan cuaca dingin. Pemeriksaan fisik didapatkan pasien bernafas cepat, wheezing, dan obesitas grade II. Pada pemeriksaan penunjang, pasien mengalami anemia, eusinophilia, dan indikasi penyakit paru kronis pada gambaran rontgen thorax. Diagnosis pasien berupa asma eksaserbasi sedang persisten berat tidak terkontrol dengan obesitas dan anemia. Pasien diberikan tatalaksana farmakologi berupa nebulisasi Short Acting Beta Agonist (SABA) dan nebulisasi kortikosteroid. Setelah 3 hari rawat inap, pasien mengalami perbaikan klinis dan diperbolehkan pulang
PREVALENCE AND RISK FACTOR OF LOW BACK PAIN IN FISHERMAN IN BENGKULU CITY: A CROSS SECTIONAL STUDY -, Rizkianti Anggraini; Fitria, Salsa; Nasution, Ahmad Azmi; Zainuddin, Zayadi; Sudjatmoko, Azhar Firman
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 10 No 2 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v10i2.38974

Abstract

Background: Low back pain (pain or discomfort below the costal margin and above the inferior gluteal fold accompanied by leg pain or not) is considered one of the work-related musculoskeletal disorders. Aims and scope of paper:Identifying the prevalence and risk factors for lower back pain in fishermen in Bengkulu City. Methods: A total of 93 fishermen were included in the study, selected using a simple random sampling technique. An observational analytical method with a cross-sectional approach was employed in this study, and data analysis was performed using the Kolmogorov Smirnov for normality test and the Pearson test for bivariate analysis. Result: In Bengkulu City, low back pain was experienced by a total of 68 fishermen (73.12%) and disability was experienced by 39 fishermen (41.9%). The dominant age group in this study was 20 – 39 years with 42 fishermen (45.16%). Normal BMI dominated with 50 fishermen (53.76%). Work duration of more than 7 hours was reported by 70 fishermen (75.26%). Consumption of 1-20 cigarettes per day was reported by 68 fishermen (73.12%). Awkward postures with a high risk level were experienced by 41 fishermen (44.08%). Conclusion: The risk factors potentially involved in this case are age and BMI. Meanwhile, the incidence of low back pain was found to have no significant relationship with work duration (p = 0.635), smoking habit (p = 0.58), or work posture (p = 0.063).