cover
Contact Name
Nikki Aldi
Contact Email
nikki.aldi@unib.ac.id
Phone
+6287885050404
Journal Mail Official
jukeraflesia@unib.ac.id
Editorial Address
Bagian Pendidikan Kedokteran FKIK Universitas Bengkulu, Jl. WR Supratman Bengkulu
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Raflesia
Published by Universitas Bengkulu
ISSN : 24773778     EISSN : 26228343     DOI : 10.33369
Core Subject : Health, Science,
JKR (Jurnal Kedokteran Raflesia) is a peer-reviewed professional journal with the editorial board of scholars mainly in medicine, biomedic and health sciences. It is published by UNIB Press, Universitas Bengkulu, Indonesia with the ISSN (online): 2622-8343; and ISSN (print): 2477-3778. The journal seeks to disseminate research to educators around the world and is published twice a year in the months of June and December. The newest template has been published since Volume 6(2): December 2020.
Articles 81 Documents
CASE REPORT: AN ASCARIASIS CASE IN A MALE KIDS ON SEMARANG Zulaikhah, Siti Thomas
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol. 7 No. 2 (2021)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v7i2.19821

Abstract

Soil-transmitted Helminths (STH) often cause slightly high numbers of comorbids, especially in developing countries. Ascaris lumbricoides is the STH that most often causes infection, which is called Ascariasis. The high rate of STH infection is caused by poor environmental sanitation and poor habits of Clean and Healthy Lifestyle (PHBS) of the population. In Indonesia, STH infection is one of the main public health problems with prevalence ranged between 45% to 65%. Indeed the prevalence can reach 80% in areas with poor sanitation. The high prevalence of helminthiasis cases in Indonesia, especially in the work area of the Pusekesmas Bangetayu Semarang, the authors are interested in further exploring the diarrhea case in An. AR at Pusekesmas Bangetayu Semarang with an epidemiological triangle approach
A MANAGEMENT OF PULMONAL HYPERTENSION IN CHRONIC OBSTRUCTIVE PULMONARY DISEASE IDA BAGUS ADITYA NUGRAHA; IDA AYU PUTU PADMI DEVIANI
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 9 No 1 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v9i1.28838

Abstract

Chronic obstructive pulmonary disease (COPD) is an obstructive pulmonary disease due to inflammatory processes of the respiratory tract and lung parenchyma. In some cases of COPD, changes in the pulmonary vessels are found which are not uncommon, causing impaired gas exchange and causing pulmonary hypertension which is associated with increased morbidity and mortality. Pulmonary hypertension is an increase in the mean pulmonary artery pressure (Pulmonary Arterial Pressure) greater than or equal to 25 mmHg at rest as assessed by a right heart catheterization procedure. Pulmonary hypertension (HP) can exacerbate the occurrence of COPD where HP patients with COPD must receive optimal COPD management according to GOLD guidelines. Pulmonary hypertension can be caused by a variety of conditions which WHO divides into five major groups. Pulmonary hypertension in patients with COPD belongs to the third group. The pathophysiology of pulmonary hypertension in patients with hypoxia or chronic lung disease is caused by tunica media hypertrophy and tunica intima proliferation leading to distal pulmonary artery obstruction. Clinical and physical symptoms in HP patients in COPD usually overlap. If HP is suspected, echocardiography is the best initial examination. Definitive diagnosis obtained through right heart catheterization. In contrast to idiopathic pulmonary hypertension, examination of the vasoreactivity of blood vessels during right heart catheterization in this group is not recommended. The goal of therapy is improvement of clinical symptoms, hemodynamic status, right ventricular function and ultimately increase in quality of life and life expectancy. Oxygen therapy is the main therapy in HP and COPD after medical therapy. Providing adequate therapy for HP with COPD is expected to provide good outcomes for patients.
Uji Efektivitas Antibakteri Daun Tanaman Nusa Indah (Mussaenda pubescens ait. f ) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus ( Rosenbach ) Priscilla Dwi Utari; Welly Darwis; Mardhatillah Sariyanti
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 8 No 1 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v8i1.30109

Abstract

Latar Belakang: penyakit infeksi sering dijumpai pada wilayah dengan cuaca panas, basah, serta status ekonomi yang rendah. Salah satu bakteri yang menyebabkan infeksis ialah Staphylococcus aureus. Antibioik eritromisin yang digunakan untuk mengobati infeksi memiliki berbagai efek samping. Pemanfaatan tanaman obat merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut. Daun tanaman nusa indah merupakan salah satu tanaman yang mempunyai banyak manfaat, salah satunya sebagai antibakteri. Penggunaan daun tersebut dengan cara menumbuk daun dan ditempelkan di bagain kulit yang terinfeksi, namun belum dilatar belakangi studi ilmiah. Metode: Ekstraksi daun tanaman nusa indah sebelumnya dilakukan pengujian fitokima. Selanjutnya, dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 95% dan dilarutkan dengan akuades. Hasil ekstraksi kemudian dilakukan Uji Minimal Inhibitory Concentration (MIC). Setelah dilakukan uji MIC kemudian dilakukan pengujian efektivitas. Parameter yang digunakan ialah besarnya zona hambat yang terbentuk disekitar kertas cakram, dan Kontrol positif yang digunakan adalah larutan antibiotik Eritromisin 50 µg/ml untuk bakteri Staphylococcus aureus. Hasil: Hasil pengujian fitokimia didapatkan metabolit sekunder positif ialah flavonoid, tanin, saponin, dan steroid. Hasil pengujian MIC didapatkan bahwa ekstrak daun tanaman nusa indah memiliki kemampuan sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aures. Dari analisis statistik pengujian ANOVA ekstrak daun tanaman nusa indah dalam menghambat bakteri Staphylococcus aureus memiliki nilai Fhitung > Ftabel dengan nilai α = 0,05 dan kemudian diuji lanjut dengan menggunakan uji Duncan dan didapatkan zona hambat yang efektif dalam menghambat Staphylococcus aureus yaitu pada konsentrasi 75% (E5). Kesimpulan: Ekstrak daun tanaman nusa indah ( Mussaenda pubescens ait.f ) memiliki daya hambat terhadap pertumbuhn bakteri Staphylococcus aureus.
Hubungan Tingkat Aktivitas Fisik dengan Risiko Obstructive Sleep Apnea Syndrome pada Hipertensi : Sebuah Tinjauan Kepustakaan Sistematik Silvika Tri Novia; Syabriansyah; Diah Ayu Aguspa Dita
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 8 No 1 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v8i1.30111

Abstract

Latar belakang: Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS) yang tidak diobati dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular. Di seluruh dunia, sekitar 425 juta atau lebih dari 45% mengalami OSAS sedang sampai berat yang harusnya membutuhkan pengobatan. Gold Standard pengobatan OSAS adalah dengan perawatan yang direkomendasikan sampai saat ini yaitu Continuous Positive Airway Pressure (CPAP). Studi observasional telah menunjukkan manfaat potensial dari CPAP yang meliputi perlindungan dari penyakit kardiovaskular. Namun, beberapa studi menyatakan bahwa penggunaan CPAP diikuti kepatuhan gaya hidup seperti olahraga dan kontrol pola makan atau tanpa kepatuhan gaya hidup, tidak melindungi terhadap penyakit kardiovaskular. Dengan demikian, manfaat klinis potensial dari penggunaan CPAP dan bahwa aktivitas fisik dapat menjadi alat manajemen yang layak untuk mengurangi keparahan OSAS dipertanyakan. Metode: Tinjauan Kepustakaan Sistematik dilakukan pada tiga pusat data, yaitu Pubmed, Cochrane, dan Tripdatabased. Kepustakaan dengan judul yang sama atau studi yang tidak relevan dieliminasi, serta dilakukan screening abstrak dan dilanjutkan dengan membaca keseluruhan teks kepustakaan untuk memilih jurnal yang sesuai dengan kriteria inklusi. Penilaian kualitas studi menggunakan tools The Central for Evidence Based Medicine develops (CEBM).                   Hasil: Terdapat 3 kepustakaan yang sesuai kriteria. Tiga studi menyatakan bahwa terdapat hubungan aktivitas fisik dengan risiko OSAS pada hipertensi. Tingkat aktivitas fisik pada pasien OSAS dengan hipertensi adalah aktivitas fisik ringan. Derajat keparahan OSAS pada pasien OSAS dengan hipertensi adalah OSAS ringan.                                                                                                     Kesimpulan: Aktivitas fisik rendah meningkatkan derajat keparahan OSAS pada hipertensi.                                                                                                   
Hubungan Pengetahuan Ibu tentang Vaksin MR terhadap Penerimaan Vaksin MR di Wilayah Kerja Puskesmas Basuki Rahmad Kecamatan Selebar Kota Bengkulu Wahyulin Trisna Syafitri; Dessy Triana; Wasis Rohima
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 8 No 1 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v8i1.30112

Abstract

Latar Belakang: Campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular yang disebabkan oleh virus dan ditularkan melalui batuk dan bersin. Penyakit ini sangat berpotensi menjadi wabah apabila cakupan imunisasi rendah. Ketika seseorang terkena campak, 90% orang yang berinteraksi erat dengan penderita dapat tertular jika mereka belum kebal terhadap campak. Himbauan imunisasi MR sudah sering digaungkan melalui sosialisasi, media non elektronik, media elektronik, dan sebagainya tetapi masih banyak ditemukan berbagai penolakan dari orang tua terhadap pemberian imunisasi MR. Salah satu daerah dengan kasus penolakan yang tinggi adalah Kota Bengkulu jika dibandingkan dengan kabupaten/daerah lain di Provinsi Bengkulu. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang vaksin MR terhadap penerimaan vaksin MR di wilayah kerja Puskesmas Basuki Rahmad Kecamatan Selebar Kota Bengkulu. Metode: Metode penelitian adalah deskriptif-analitik dengan desain studi cross sectional. Sampel penelitian adalah 59 orang ibu yang memiliki anak berusia 6 bulan s.d 14 tahun di wilayah kerja Puskesmas Basuki Rahmad Bengkulu. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Data analisis dilakukan dengan uji Chi-square dan rasio prevalensi. Hasil: Prevalensi ibu yang memiliki pengetahuan baik tentang vaksin MR sebanyak 32 orang ibu (53,3%). Prevalensi ibu yang memiliki pengetahuan yang kurang tentang vaksin MR sebanyak 28 orang ibu (46,7%). Terdapat hubungan signifikan pengetahuan tentang vaksin MR dengan penerimaan vaksin MR, dengan nilai uji p=0,000 dan RP= 0,221. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu tentang vaksin MR dengan penerimaan vaksin MR di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Selebar Kota Bengkulu. -ibu yang pengetahuannya kurang berpeluang sikapnya negatif antara 3,618 hingga 174,748  kali lipat jika dibandingkan dengan ibu-ibu yang pengetahuannya baik. Pengetahuan ibu kurang merupakan faktor penyebab  Sikap negatif  menerima  vaksin MR. Ibu yang pengetahuannya baik merupakan proteksi terjadinya sikap ibu-ibu negatif menerima vaksin MR.
HUBUNGAN PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP LINGKUNGAN PEMBELAJARAN DENGAN PRESTASI BELAJAR DI FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS BENGKULU Sarah Woromboni; Riry Ambarsarie; Novriantika Lestari
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 8 No 1 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v8i1.30113

Abstract

Latar Belakang : Hasil ujian atau prestasi akademik yang cenderung rendah dapat dipengaruhi oleh metode pembelajaran yang kurang tepat. Dalam rangka membantu mahasiswa mencapai tujuan pembelajaran maka institusi atau para pendidik dapat mengkombinasikan berbagai metode mengajar yang dapat merangsang mahasiswa terlibat aktif dalam pembelajaran. Evaluasi lingkungan pembelajaran dengan menggunakan kuesioner DREEM penting untuk peningkatan sarana dan pra sarana. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui adanya hubungan persepsi lingkungan belajar dengan prestasi belajar pada mahasiswa di FKIK UNIB. Metode : Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif-analitik dengan pendekatan studi cross sectional. Sampel penelitian adalah 177 orang mahasiswa angkatan 2017, 2018 dan 2019 yang aktif mengikuti kuliah di FKIK UNIB. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling menggunakan kuesioner Dundee Ready Educational Environment Measure (DREEM) dan data sekunder prestasi belajar berupa IPK didapat dari pihak akademik FK UNIB. Analisis Data menggunakan metode uji Pearson. Hasil : Penelitian ini menunjukkan bahwa 138 (78,4 % ) mahasiswa di FKIK UNIB memiliki persepsi yang cenderung positif dengan performa akademik yang sedang. Persentase skor untuk persepsi akademik 21,89 (68,4%) secara signifikan lebih tinggi dari pada persepsi lingkungan sosial 16,42 (58,6%). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi lingkungan belajar dengan prestasi belajar dengan nilai uji p= 0,270 (p>0,5). Kesimpulan: Penelitian menyimpulkan bahwa persepsi mahasiswa terhadap lingkungan belajar adalah positif. Namun masih ada beberapa area yang bermasalah sehingga perlu perhatian dan pertimbangan. Kata Kunci : DREEM, Persepsi, Lingkungan Belajar, Prestasi Belajar
Pengaruh Ekstrak Etanol Daun Ati-ati (Coleus blumei Benth) Terhadap Kadar Ureum dan Kreatinin Darah Mencit (Mus musculus) yang Diinduksi Aspirin Indri Wahyuni; Besly Sinuhaji; Novriantika Lestari
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 8 No 2 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v8i2.30114

Abstract

Latar Belakang: Akumulasi asprin menghasilkan senyawa reaktif berupa radikal bebas yang menginduksi terjadinya stres oksidatif sehingga akan mepengaruhi fungsi ginjal. Ekstrak etanol daun C. blumei Benth mengandung senyawa metabolit sekunder golongan alkaloid, flavonoid, saponin, fenol, antrakuinon, tanin, dan steroid yang memiliki kemampuan mencegah pembentukan radikal bebas, antiinflamasi dan memperbaiki fungsi ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol daun ati-ati (C. blumei Benth) terhadap kadar ureum dan kreatinin darah mencit (M. musculus) yang diinduksi aspirin. Metode: Penelitian ini bersifat eksperimental post test only control group design. Sampel penelitian menggunakan 30 ekor mencit (M. musculus) yang dibagi menjadi 6 kelompok, yaitu kelompok kontrol (P0), perlakuan I (P1) yang diberi aspirin 84 mg/kgBB, perlakuan II (P2) diberi aspirin 84 mg/kgBB + silimarin 100 mg/kgBB, perlakuan III (P3) aspirin 84 mg/kgBB + ekstrak etanol daun C. blumei Benth 500 mg/kgBB, perlakuan IV (P4) aspirin 84 mg/kgBB + ekstrak etanol daun C. blumei Benth 1000 mg/kgBB dan perlakuan V (P5) aspirin 84 mg/kgBB + ekstrak etanol daun C. blumei Benth 2000 mg/kgBB. Seluruh kelompok mendapat perlakuan selama 11 hari yang terdiri dari 4 induksi aspirin dan 7 hari pemberian silimarin atau ekstrak. Pada hari ke-12 mencit dilakukan pengambilan darah secara intracardiac untuk dilakukan pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin darah. Data analisis dilakukan dengan uji one-way ANOVA dan uji post-hoc Tukey. Hasil: Hasil uji one-way ANOVA menunjukan terdapat perbedaan kadar ureum dan kreatinin darah yang signifikan antar kelompok dengan nilai p yaitu 0,020 dan 0,003. Kelompok P5 mengalami penurunan kadar ureum dan kreatinin yang signifikan dengan nilai p 0,024 dan 0,034, meskipun kelompok P5 tidak sebaik kelompok P0. Kesimpulan: Pemberian ekstrak etanol daun C. blumei Benth dosis bertingkat, yaitu 2000 mg/kgBB mampu menurun kadar ureum dan kreatinin darah mencit yang induksi aspirin secara signifikan. Kata kunci: Aspirin, C. blumei Benth, silymarin, ureum, kreatinin.
AKURASI PENGGUNAAN DERMOSKOPI DALAM DIAGNOSIS SKABIES Meirizka Chairani; Dessy Triana; Wahyu Sudarsono; Annelin Kurniati; Sylvia Rianissa Putri
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 8 No 1 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v8i1.30115

Abstract

Skabies merupakan salah satu kelainan dermatologi yang sangat menular. Diagnosis yang keliru dapat mengakibatkan wabah, peningkatan morbiditas dan peningkatan beban ekonomi. Tidak ada prosedur yang seragam dalam mendiagnosis skabies. Dermoskopi sekarang sudah banyak digunakan untuk mendiagnosis skabies karena dapat memperlihatkan dengan jelas pola jet with a contrail. Perkembangan dermoskopi yang signifikan dan keberadaan yang diapresiasi membuat dermoskopi sering digunakan untuk mendiagnosis skabies, walaupun banyak juga para klinisi yang merasa belum percaya diri utuk menggunakan dermoskopi karena kurangnya pelatihan dan pengalaman. Penelitian ini merupakan studi literatur review, studi literatur ini memanfaatkan PubMed, Cochrane dan Embased sebagai database. Keyword yang digunakan dalam pencarian literatur adalah: dermoscopy, diagnosis, dan scabies. Literatur review ini menggunakan literatur yang telah dipublikasi dari tahun 2010 hingga 2020. Seluruh literatur yang di telah didapatkan kemudian diseleksi menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Berdasarkan hasil analisis dari setiap literatur yang telah dipilih didapatkan bahwa dermoskopi memiliki nilai yang cukup akurat untuk mendiagnosis skabies. Dermoskopi merupakan teknologi yang terus berkembang sehingga dermoskopi menjadi fleksibel untuk digunakan dalam mendiagnosis kelainan dermatologi seperti skabies. Keyword: dermoskopi, diagnosis, dan skabies
Hubungan Tingkat Stres dan Motivasi Belajar terhadap Self Directed Learning Readiness (SDLR) pada Mahasiswa Tingkat Pertama Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Bengkulu Iffah Rizqi; Lucy Marturia Bangun; Riry Ambarsarie
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 8 No 2 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v8i2.30116

Abstract

Latar Belakang: Self directed learning readiness (SDLR) merupakan kesiapan mahasiswa untuk belajar mandiri. Self directed learning readiness (SDLR) dapat digunakan untuk menunjang prestasi belajar mahasiswa. Self directed learning readiness (SDLR) dapat dipengaruhi oleh tingkat stres dan motivasi belajar. Terdapat hubungan positif antara motivasi dan SDLR, yaitu semakin tinggi motivasi mahasiswa maka semakin tinggi tingkat SDLR mahasiswa tersebut. Stres dan SDLR memiliki hubungan negatif, yaitu semakin tinggi tingkat stres maka semakin rendah tingkat SDLR mahasiswa tersebut. Metode: Penelitian ini menggunakan studi analitik observasional dengan desain penelitian cross-sectional. Sampel penelitian adalah 70 mahasiswa tingkat pertama Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Bengkulu pada bulan Oktober 2020 yang memenuhi kriteria inklusi. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Penilaian tingkat stres menggunakan Medical Student Stressor Questionnaire, tingkat motivasi belajar menggunakan Motivated Strategies for Learning Questionnaire, dan tingkat SDLR menggunakan SDLRS. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek penelitian paling banyak mengalami stres tingkat berat (57,1%), tingkat motivasi belajar tinggi (68,6%), dan tingkat SDLR tinggi (57,1%). Tingkat stres tidak memiliki hubungan dengan SDLR pada mahasiswa tingkat pertama FKIK Universitas Bengkulu (p=0,389), sedangkan motivasi belajar memiliki hubungan dengan SDLR pada mahasiswa tingkat pertama FKIK Universitas Bengkulu (p=0,000) Kesimpulan: Tingkat stres tidak memiliki hubungan terhadap SDLR, sedangkan motivasi belajar memiliki hubungan terhadap SDLR pada mahasiswa tingkat pertama Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Bengkulu. Kata Kunci: Mahasiswa kedokteran, stres, motivasi belajar, SDLR.
Hubungan Lama Menderita Penyakit dan Kadar Glukosa Darah Terhadap Kejadian Kandidiasis Oral Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Di Rumah Sakit Harapan dan Doa (RSHD) Kota Bengkulu Tri Bayu; Annelin Kurniati; Risky Hadi Wibowo
JURNAL KEDOKTERAN RAFLESIA Vol 8 No 2 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/juke.v8i2.30117

Abstract

Latar Belakang: Penderita diabetes melitus rentan terhadap komplikasi infeksi jamur. Salah satu infeksi yang paling sering mengenai penderita diabetes melitus adalah kandidiasis. Beberapa faktor yang memudahkan infeksi kandidiasis, yaitu kesehatan mulut yang buruk, penurunan sekresi dan pH saliva, peningkatan kadar glukosa darah, serta keadaan imunodefisiensi. Pasien DM dapat mengalami infeksi kandidiasis sebesar 36,7% yang disebabkan oleh jamur Candida albicans. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara lama menderita penyakit dan kadar glukosa darah terhadap kejadian kandidiasis oral. Metode: Penelitian ini menggunakan studi observatif analitik dengan desain penelitian cross-sectional dilakukan di RSUD Harapan dan Doa Kota Bengkulu pada bulan Mei 2019 dengan jumlah sampel 96 pasien diabetes mellitus tipe 2 melakukan kontrol di poli penyakit dalam diambil secara consecutive sampling. Analisis hubungan antara dua variabel menggunakan uji komparatif Chi Square. Analisis multivariat antar semua variabel menggunakan regresi logisitik. Hasil: Subjek penelitian kelompok lama menderita penyakit DM tipe 2 ≥5 tahun merupakan kelompok positif kandidiasis oral tertinggi sebanyak 32 orang (66,7%) dan kelompok kadar glukosa darah tidak terkontrol 43 orang (76,8%). Hasil uji statistik bivariat Chi Square untuk lama menderita DM tipe 2 diperoleh nilai p=0,024 (p < 0,05), untuk hasil uji statistik bivariat Chi Square kadar glukosa darah tipe 2 diperoleh nilai p<0,001 (p < 0,05), menunjukan terdapat hubungan yang bermakna antara lama menderita DM dan kadar glukosa darah dengan kejadian kandidiasis. Hasil analisis multivariat menggunakan regresi logisitik diperoleh nilai untuk kadar glukosa darah OR=11,393, nilai lama menderita DM dengan OR=1,735. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara lama menderita penyakit dan kadar glukosa darah dengan kejadian kandidiasis oral. Kata Kunci: Diabetes Melitus Tipe 2, Kadar Glukosa Darah, Kandidiasis Oral