cover
Contact Name
I Gde Dharma Atmaja
Contact Email
sangkareangmataram@gmail.com
Phone
+62818361014
Journal Mail Official
sangkareangmataram@gmail.com
Editorial Address
Jl Pemuda No. 59A, Dasan Agung Baru, Mataram
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Sangkareang Mataram
Published by Sangkareang Mataram
ISSN : 23559292     EISSN : 27752127     DOI : -
Jurnal Ilmiah Sangkareang Mataram merupakan jurnal resmi yang memuat artikel ilmiah dari berbagai disiplin keilmuan (bunga rampai) seperti Kesehatan, Kedokteran Hewan, Seni, Teknologi, Teknik, Ekonomi, Kehutanan, Kependidikan dan lain sebagainya
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 1 (2016): Maret 2016" : 12 Documents clear
PENGARUH PENAMBAHAN AMPAS Virgin Cococnut Oil (VCO) DALAM RANSUM TERHADAP ANTIBODI AYAM BROILER Dina Oktaviana
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 2 No. 1 (2016): Maret 2016
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ampas Virgin Coconut Oil (VCO) terhadapantibodiayambroiler. Seratus dua puluh lima ekor ayam broiler ditempatkan pada 5 perlakuan pakan yang berbeda, yaitu R-0 (ransum basal), R-0,5 (0,5% ampas VCO), R-1,0 (1,0% ampas VCO), R-1,5 (1,5% ampas VCO), R-2,0 (2,0% ampas VCO). Setiap kelompok perlakuan pakan terdiri dari 5 replikasi masing-masing diisi dengan 5 ekor. Ayam broiler dipelihara selama 5 minggu. Pengambilan darah untuk uji titer antibodi diambil pada minggu terakhir penelitian. Data yang diperoleh di analisis secara statistik menggunakan analisis variansi Completely Randomized Design(CRD) Pola Searah. Perbedaan yang nyata antar perlakuan diuji lanjut menggunakanDuncans’s new Multiple Range Test (DMRT). Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa penambahan ampas VCO sampai dengan level 2,0% tidak berpengaruh nyata terhadaptiter antibodi terhadap virusNewcastle Disease(ND).
ANALISIS PERBEDAAN FAKTOR HABITAT MANGROVE ALAMDENGAN MANGROVE REHABILITASI DI TELUK SEPI DESA BUWUN MAS KECAMATAN SEKOTONG KABUPATEN LOMBOK BARAT Mareta Karlin Bonita
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 2 No. 1 (2016): Maret 2016
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Pengukuran dan pengujian laboratorium yang telah dilakukan di Teluk Sepi Desa Buwun Mas Kecamatan Sekotong Kabupaten Lombok Barat bertujuan untuk Mengetahui perbedaan antara mangrove rehabilitasi dan mangrove alam dilihat dari faktor habitat (salinitas, suhu, pH, oksigen terlarut, ketebalan lumpur, N total, P tersedia, K tersedia, dan C organik) di Teluk Sepi Desa Buwun Mas Kecamatan Sekotong Kabupaten Lombok Barat. Prosedur analisis data dilakukan uji Independent t test, Uji T2 Hoteling dan diskriminasi. Hasil penelitian dapat dilihat bahwa perbedaan faktor habitat mangrove rehabilitasi dan mangrove alam menunjukkan faktor salinitas di mangrove rehabilitasi 21,52 %o lebih rendah dibandingkan mangrove alam 25,73 %o. Faktor pH air pada mangrove rehabilitasi 7,06, lebih kecil dibandingkan dengan pH air pada mangrove alam 7,65. Faktor Suhu pada hutan mangrove rehabilitasi 28,72 0C lebih kecil dibandingkan dengan Suhu di mangrove alam 33,18 0C. Faktor DO (oksigen terlarut) di mangrove rehabilitasi 1,59 mg/l, nilai ini lebih rendah dari faktor DO di mangrove alam 5,25 mg/l. Untuk ketebalan lumpur di mangrove rehabilitasi 73,20 cm lebih tebal dibandingkan dengan mangrove alam 65,87 cm. N total di mangrove rehabilitasi 0,08 % lebih rendah dibandingkan dengan di mangrove alam 0,17 %. P tersedia mangrove rehabilitasi 1,47 Ppm lebih tinggi dibandingkan dengan di mangrove alam 1,36 Ppm. K tersedia di mangrove rehabilitasi 2,99 Meg/100gr lebih besar dibandingkan dengan di mangrove alam 2,10 Meg/100gr dan parameter C organik di mangrove rehabilitasi 1,32% lebih rendah dibandingkan dengan di mangrove alam 4,46 %. Dari semua faktor-faktor habitat tersebut ada satu faktor pembeda yang paling dominan dilihat dari besarnya koefesien fungsi diskriminansi yang merupakan pembeda pada mengarove Rehabilitas dan mangrove alam yakni pada parameter pH air 1,290C
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG HIV/AIDSDI KELURAHAN DASAN AGUNG WILAYAH KERJA PUSKESMAS DASAN AGUNG KOTA MATARAM Febriyan Tari; Kadek Mulyawan; Yuni Widyastuti; I Gusti Agung Ayu Hari Triandini
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 2 No. 1 (2016): Maret 2016
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jumlah penderita HIV AIDS di Kota Mataram mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Oleh karenanya dalam rangka melaksanakan program pencegahan dan penanggulanagan HIV/AIDS, Konsep Layanan Komperhensif dan Berkesinambungan (LKB) digagas oleh Kementerian Kesehatan melalui upaya-upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif agar masyarakat yang belum terinfeksi tidak tertular HIV/AIDS dan masyarakat yang sudah terinfeksi dapat meningkatkan kualitas hidupnya di masa mendatang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil tentang HIV/AIDS di Kelurahan Dasan Agung Wilayah Kerja Puskesmas Dasan Agung. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan menggunakan desain penelitian cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian ibu hamil yaitu sebanyak 75 orang di Kelurahan Dasan Agung. Data pada penelitian ini diperoleh dari data primer yaitu melalui hasil pengumpulan data sendiri dari responden menggunakan alat bantu kuesioner. Pengetahuan ibu hamil tentang HIV/AIDS ditinjau dari karakteristik responden menurut umur, pendidikan, pekerjaan adalah responden berpengetahuan baik yaitu sebanyak 69 orang (92,0%), berpengetahuan cukup sebanyak 6 orang (8,0%). Walaupun sebagian besar responden berpengetahuan baik, namun masih ada beberapa pertanyaan yang tidak dapat dijawab dengan benar diantaranya yaitu pertanyaan tentang pengertian, gejala dan penularan HIV/AIDS. Disarankan agar petugas kesehatan tetap melakukan penyuluhan kepada ibu hamil terutama yang berkaitan dengan gejala dan cara pencegahan HIV/AIDS.
GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN IBU PREMENOPAUSE DI DESA BONJERUK WILAYAH KERJA PUSKESMAS BONJERUK LOMBOK TENGAH Rani Ayu Mulya; Ni Luh Budi Astuti; M Karjono; I Gusti Agung Ayu Hari Triandini
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 2 No. 1 (2016): Maret 2016
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Premenopause adalah suatu kondisi fisiologis wanita yang telah memasuki masa penuaan (aging) yang ditandai dengan menurunnya kadar hormonal estrogen ovarium yang sangat berperan dalam reproduksi seksualitas. Premenopause sering menimpa wanita yang berusia menjelang 40 tahun ke atas. Wanita yang menjalani fase premenopause akan mengalami perubahan pole menstruasi, perubahan psikologis/kejiwaan, perubahan fisik. Jumlah penduduk lansia di NTB mencapai 280.938. Data perempuan usia lanjut hingga saat ini sangat tinggi yaitu lebih dari 70%. Wilayah kerja Puskesmas Bonjeruk salah satu penyumbang perempuan menopause yaitu 192 orang yang terdapat di beberapa desa dan 42 orang di antaranya adalah ibu premenopause. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan ibu premenopause di Desa Bonjeruk Wilayah Kerja Puskesmas Bonjeruk Lombok Tengah. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan konsep Visual Analog Scale (VAS). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu premonopause yang terdapat di wilayah kerja Puskesmas Bonjeruk sebanyak 42 orang. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan metode sensus kepada 42 orang. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kecemasan responden terhadap respon psikologi dengan cemas ringan sebanyak 15 orang (60%), Tingkat kecemasan responden terhadap respon perilaku tidak cemas sebanyak 9 orang (52.9%), dan berdasarkan tingkat kecemasan diketahui cemas ringan 20 orang (47.6%) dan cemas berat sebanyak 2 orang (4.7%).
NYERI DISMENOREA PADA REMAJA PUTRI DI SMPN 11 MATARAM TAHUN 2015 Murtiana Ningsih
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 2 No. 1 (2016): Maret 2016
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dismenorrea is abdominal pain derived from uterine camps and happened during menstruation. Giving of warm compresses is one of non pharmacology therapy to dismenorrea pain. This study was aimed to know the relationship between using warm compresses and changes of dismenorrea pain level on teenage girl at SMPN 11 Mataram in 2015. This study is experimental study by true experiment pretest-post-test control group. Population if the study is teenage girl at SMPN 11 Mataram in 2015 in the amount of 379 students. Number of samples in the amount of 62 student by accidental sampling technique. Data are taken by observation on respondent. Data are analyzed by coefficient contingency correlation test and logistic regression test then analyzed different of probability value and determination coefficient value between the two test instruments so that got proper test instrument ti analyze nominal scale data. Based on the result of statistical test by coefficient contingency got p value = 0,002 whereas by logistic regression test got p value = 0,001. It showed there was significant relationship between using warm compresses and changes of dismenorrea pain level on teenage girl at SMPN 11 Mataram in 2015. Besides, it is found different determination coefficient between each instrument test in which coefficient contingency r 2 = 0,1369 and logistic regression r 2 = 0,224. It can be concluded that both of the test instruments probability value to reject H 0 < 0.05 whereas its determination coefficientvalue is different on each test instruments. Effort to give counseling to teenage girl is necessary to prevent dismenorea and warm compresses can be used as one of the prevention efforts.
IDENTIFIKASI PEMANFAATAN RUANG PADA KORIDOR JL. LANGKO–PEJANGGIK– SELAPARANG DITINJAU TERHADAP RTRW KOTA MATARAM Eliza Ruwaidah
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 2 No. 1 (2016): Maret 2016
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan jumlah penduduk dan pembangunan yang cukup pesat merupakan penyebab utama meningkatnya kebutuhan akan ruang di Kota Mataram, terutama di Kecamatan Mataram dan Kecamatan Selaparang.Hal initercermin dari terkonversinya lahan pertanian produktif di sepanjang jalur transportasi menjadi lahan terbangun, yang pada akhirnya mengakibatkan perubahan dalam segi kualitas, kuantitas sertapatternatau pola fisik penggunaan lahan secara keruangan.Terlihat dari pola penggunaan lahan dari luas Kecamatan Mataram dan Kecamatan Selaparang yang terdistribusi ke dalam ruang terbangun(built up area) lebih mendominasi daripada penggunaan lahan lainnya seperti pertanian/kebun campuran dan ruang terbuka hijau (RTH). Peningkatan kebutuhan akan ruang di sepanjang jalur utama juga dapat menyebabkan terjadinya berbagai konversi lahan, inkonsistensi pemanfaatan ruang, serta ketidakteraturan intesitas pemanfaatan ruang. Pembangunan yang cukup pesat telah menyebabkan terjadinya perubahan, dinamika pola penggunaan lahan dan inkonsistensi tata ruang yang merupakan ketidaksesuaian antara rencana arahan penataan pemanfaatan ruang menurut RTRW dengan pemanfaatan ruang saat ini. Inkonsistensi dapat terlihat dari ketidakkonsistenan antara pemanfaatan ruang eksisting dengan RTRW. Jenis penggunaan lahan yang tredapat di Kecamatan Mataram dan Kecamatan Selaparang terdiri dari 4 (empat) peruntukan yaitu:peruntukan perumahan/ permukiman;peruntukan komersial (perdagangan dan jasa);peruntukan perkantoran dan pelayanan utama;peruntukan ruang terbuka non hijau; danperuntukan pertanian. Intensitas pemanfaatan ruang adalah besaran pembangunan yang diperbolehkan berdasarkan batasankepadatan bangunanatau kepadatan penduduk. Aturan intensitas pemanfaatan ruangminimum terdiri dari:Koefisien Dasar Bangunan (KDB);Koefisien Lantai Bangunan (KLB); danKoefisien Dasar Hijau (KDH).Kecamatan Mataram dan Kecamatan Selaparang secara umum memiliki fungsi yang nyaris sama sebagai kawasan perkantoran dan pelayanan sosial, jasa komersial, serta pelayanan umum dengan karakter wilayah yang heterogen. Penggunaan lahan di Kecamatan Mataram dan Kecamatan Selaparang sebagian besar sudah sangat padat, sehingga pengembangan area terbangun di dalamnya perlu dibatasi sesuai dengan komposisi ideal suatu kawasan. Pengendalian pemanfaatan ruang di Kecamatan Mataram dan Kecamatan Selaparang dilaksanakan secara ketat dengan menerapkan insentif dan disinsentif, pengenaan sanksi, dan peraturan zonasi. Rata-rata penyimpangan intensitas pemanfaatan ruang di Kecamatan Mataram mencapai 20%, Luas lahan terbangun di Kecamatan Mataram adalah 584,56 ha (54,33%). Kelonggaran untuk pengembangan lahan terbangun maksimal adalah mencapai 753,20 ha (70%).Rata-rata penyimpangan intensitas pemanfaatan ruang di Kecamatan Selaparang mencapai 30%, Luas lahan terbangun di Kecamatan Selaparang adalah 555,71 ha (51,60%). Kelonggaran untuk pengembangan lahan terbangunmaksimal adalah mencapai 753,90 ha (70%).
PENGARUH THERAPI AKTIFITAS KELOMPOK STIMULASI PERSEPSI TERHADAP PERUBAHAN TINGKAT DEPRESI PADA PASIEN SKIZOFRENIADI RSJ MUTIARA SUKMA PROPINSI NTB I Made Eka Santosa
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 2 No. 1 (2016): Maret 2016
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skizofrenia merupakan gangguan fungsi otak yang timbul akibat ketidakseimbangan pada dopamin, yaitu salah satu sel kimia dalam otak.Skizofrenia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respon emosional dan menarik diri Berdasarkan hubungan antar pribadi normal.Sering kali diikuti dengan delusi dan halusinasi. Desain penelitian yang digunakan adalah rancangan quasi eksperimen, dengan menggunakan pendekatan pre test post testdengan jumlah populasi sebanyak 42 orang. Sampel dari penelitian ini adalah semua pasien skizoprenia yang mengalami penurunan depresi di RSJ Mutiara Sukma Propinsi NTB sebanyak 32 orang. Tehnik sampling yang digunakan pada penelitian ini menggunakanpurposive sampling .dengan waktu yang dibutuhkan selama 2 minggu (14 hari). Jenis instrumen yang digunkan untuk pengumpulan data adalah kuesioner dan lembar observasi pengolahan data di olah dengan rumus uji wilcoxon.Berdasarkan pembahasan diketahui hasil penelitian bahwa sebagian besar responden berdasarkan tingkat depresi yaitu tidak mengalami depresi yaitu sebanyak 8 responden (50%) dan yang mengalami depresi ringan yaitu sebanyak 8 responden (50%). Sementara pada kelompok kontrol dapat diperoleh bahwa yang mengalami depresi ringan yaitu sebanyak 13 responden (81.25%) dan 3 responden (18.75%) yang mengalami depresi sedang. Berdasarkan hasil uji statistik dengan uji wilcoxon smirnov tingkat depresi Dari kelompok eksperimen diperoleh hasil ada perbedaan secara bermakna antara pre dan post perlakuan (p = 0,003 , p< 0,05). Menunjukkan bahwa sesudah diberikan intervensi terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi maka diperoleh hasil ada perbedaan secara bermakna p = 0,003 (p< 0,05). Harapan untuk responden supaya dapatmenerapkan terapi aktivitas kelompok setiap minggu untuk mengurangi tingkat depresi yang muncul demi kesembuhan.
PENGARUH THERAPI TERTAWA TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA LANSIA PENDERITA HIPERTENSI DI PSTW PUSPAKARMA MATARAM Ni Made Sumartyawati
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 2 No. 1 (2016): Maret 2016
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemunduran fisik maupun psikologis yang dialami lansia akibat proses menua (aging proses) menyebabkan masalah kesehatan. Salah satu penyakit degeneratif yang sering dialami lansia yaitu hipertensi yang merupakan penyakit kronik akibat gangguan system sirkulasi darah yang kini menjadi masalah dalam kesehatan masyarakat. Pemberian obat dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan efek samping, kecanduan, dan bila overdosis dapat membahayakan pemakainya (Purwanto,2007). Berdasarkan efek buruk dari menggunakan obat untuk menurunkan tekanan darah tinggimaka terapi nonfarmakologis merupakan pilihan yang tepat. Beberapa terapi nonfarmakologis yang bisa digunakan dalam menangani masalah hipertensi seperti: terapi tertawa. Tertawa dapat menghilangkan berbagai dampak negatif yang terjadi dalam diri kita seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, kecemasan, depresi.Penelitian ini menggunakan desain penelitianQuasi Eksperimental Populasi dalam penelitian ini adalah semua kelayan lansia yang mengalami hipertensi di PSTW “PUSPAKARMA” Mataram. Penentuan sampel menggunakan tehnik total samplingsebanyak 14 respondenPengumpulan data untuk mengukur tekanan darahmenggunakan lembar observasi. Data yang terkumpul akan ditabulasi dan dianalisa menggunakan uji t dengan tingkat kemaknaan 5%. Hasil penelitian ini sebelum diberikan terapi tertawa pada kelompok eksperimen didapatkan bahwa terdapat 2 (28,57%) orang responden kategori hipertensi ringan dan 5 (71,42%) orang responden dengan kategori hipertensi sedang dan setelah diberikan terapi tertawa selama 7 hari berturut-turut pada kelompok eksperimen terjadi perubahan tekanan darah yaitu sebanyak 5 orang responden (71,42%) dengan kategori hipertensi normal, dan 2 orang responden (28,57%) dengan kategori hipertensi ringan.Hasil analisa dengan menggunakan uji statistic Dari T TEST Tidak Berpasangan pada kedua kelompok di atas didapatkan nilai t hitung > dari t tabel yaitu 4,000 <2,179 dan Nilai Signifikan <(0,002 < 0,05).Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh terapi tertawa terhadap perubahan tekanan darah pada lansia. Perawat sebagai care provider disarankan untuk mengaplikasikan terapi tertawa sebagai salah satu intervensi bagi lansia yang mengalami Hipertens.
HUBUNGAN KESIAPANPSIKOLOGIS DENGAN ENURESIS PADA ANAK Robiatul Adawiyah; L. Agung Adiguna
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 2 No. 1 (2016): Maret 2016
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesehatan anakmencakup pertumbuhan dan perkembangan anak, pengaruh bermain terhadap tumbuh kembang anak, komunikasi pada anak dan orang tua, anticipatory guidancedan toilet training, imunisasi pada anak, kebutuhan nutrisi pada anak, serta dampak hospitalisasi pada anak dan orang tua (Supartini, 2010). Di Indonesia diperkirakan jumlah balita mencapai 30 % dari 250 juta jiwa penduduk Indonesia, dan menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga(SKRT) nasional diperkirakan jumlah balita yang mengontrol BAB dan BAK di usia toddler mencapai 75 juta anak. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan kesiapan psikologis dengan kejadianenuresis pada anak usiatoddler(1-3 tahun di Dusun Sandongan Desa Dara Kunci Kecamatan Sambelia.Desain penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini denganTotal Sampling yaitu sebanyak 34 anak. Instrument yang digunakan adalah kuesioner untuk mendapatkan kesiapan psikologis dengan kejadianenuresis pada anak usiaToddler(1-3tahun) di Dusun Sandongan Desa Dara Kunci Kecamatan Sambelia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan anak lebih banyak dengan kategori baik yaitu 12 orang (35,29%) sedangkan kesiapan orang tua lebih banyak dengan kategori tidak baik yaitu 22 orang (64,70%)) dengan uji statistic didapatkan p value 0,007 untuk kesiapan psikologi anak maka ada hubungan yang signifikan antara kesiapan psikologi anak dengan kejadian enuresis pada anak usia Toddler (1-3tahun) di Dusun Sandongan Desa Dara Kunci Kecamatan Sambelia
FAKTOR DOMINAN PENYEBAB KEJADIAN STUNTING ANAK USIA 24-35 BULAN DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Mustika Hidayati
JURNAL SANGKAREANG MATARAM Vol. 2 No. 1 (2016): Maret 2016
Publisher : SANGKAREANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENDEK (stunting) merupakan gangguan pertumbuhan linier yang ditunjukandengan nilai z score TB/U kurangdari -2 SD. Stunting terjadi akibat kekurangan gizi berulang dalam waktu lama pada masa janin hingga 2 tahun pertama kehidupan seorang anak. Hasil Unicef Report tahun 2013 dinyatakan bahwa Indonesia menempati urutan ke-5 didunia masalah gangguan pertumbuhan tinggi badan (Pendek) yaitu sekitar 7,55 juta anak balita. Dari hasildua kali Riskesdas 2007 dan 2013 menyebutkan bahwa di NTB masing-masing 43,7% dan 45,2 %. Terjadi peningkatan 1,5%, artinya hampir separuh balita kita memiliki tinggi badan lebih rendah dari standar tinggi badan balita seumurnya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari faktor dominan yang mempengaruhi kejadian stunting anak usia 24-35 bulan di Provinsi Nusa Tenggara Barat tahun 2014. Penelitian ini dilaksanakan terhadap total sampel di 10 kabupaten/kota se provinsi Nusa Tenggara Barat sejumlah 115.300 sampel. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari 12 variabel independen yang mempengaruhi kejadian stunting (Y) terdiri dari Jenis Kelamin Anak (X1), Tinggi badan Ayah (X2), Tinggi badan Ibu (X3), Pola Makan ayah (X4), Pola makan Ibu (X5), Status Ekonomi Keluarga (X6), Riwayat Panjang Lahir (X7), Riwayat Berat Lahir(X8), Jumlah Anggota Keluarga (X9), Riwayat Kehamilan(X10),Riwayat Persalinan(X11) dan Riwayat Nifas (X12).Dari kedua belas variabel tersebut ada 3 (tiga) variabel yang dominan antara lain Riwayat Panjang lahir (OR=3,7), Tinggi Badan Ibu (OR=2,6) dan Pola Makan ibu (OR=2,1) Disarankan bahwa pemegang kebijakan serta pemegang program agar lebih memfokuskan dari ketiga variabel yang dominan tersebut

Page 1 of 2 | Total Record : 12