cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 99 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2020): APRIL" : 99 Documents clear
WADAH INTERAKSI SOSIAL DAN SARANA KREATIF DI KEMAYORAN, JAKARTA PUSAT Steffi Gisela; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6782

Abstract

Human needs as social beings are interacting. Especially with the high activity and high work demands, especially in the Kemayoran area. In this area, public space is needed as a place for them to support their social needs. Third place as the third space is needed for everyone because it is a place where people can release the fatigue that occurs in their daily activities. The lack of a third place causes various problems such as traffic that is hampered by children playing soccer in the middle of the road, many residents who relax on the side of the main road or roundabouts, to the emergence of illegal parking which causes traffic jams. Therefore, this project aims to resolve social problems in Kemayoran which simultaneously improve the quality of Kemayoran residents through creative means. In building programs in buildings, it is chosen to use the transprogramming method which is done by combining two programs whose properties and spatial configurations are different regardless of their suitability. For example the library is combined with a racecourse. With this, it is hoped that Kemayoran residents can further develop intimacy and build harmony and develop their potential so that they will improve their social quality. AbstrakKebutuhan manusia sebagai makhluk sosial adalah saling berinteraksi. Apalagi dengan padatnya aktivitas dan tuntutan pekerjaan yang tinggi khususnya pada daerah Kemayoran. Pada kawasan tersebut sangat dibutuhkan ruang publik sebagai wadah bagi mereka untuk menunjang kebutuhan sosial mereka. Third place sebagai ruang ketiga diperlukan bagi semua orang karena merupakan tempat dimana orang dapat melepaskan kepenatan yang terjadi pada aktivitas keseharian mereka. Kurangnya third place mengakibatkan berbagai masalah misalnya lalu lintas yang terhambat karena anak-anak bermain bola di tengah jalan, banyaknya warga yang bersantai di pinggir jalan utama ataupun di bunderan, sampai timbulnya parkir liar yang mengakibatkan kemacetan. Oleh karena itu, proyek ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah sosial di Kemayoran yang sekaligus meningkatkan kualitas warga Kemayoran melalui sarana kreatif. Dalam membangun program dalam bangunan, dipilih menggunakan metode transprogramming yang dilakukan dengan mengkombinasikan dua program yang sifat dan konfigurasi spasialnya berbeda tanpa melihat kecocokannya. Misalnya perpustakaan dikombinasikan dengan arena balap. Dengan ini diharapkan warga Kemayoran dapat lebih menjalin keakraban dan membangun keharmonisan serta mengembangkan potensinya sehingga akan menaikkan kualitas sosial mereka.
FASILITAS PELATIHAN DAN KOMUNITAS DESAIN GRAFIS Filbert Uriel Sulaiman; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6811

Abstract

Bungur subdistrict, located in Senen district, Central Jakarta, is famous as a printing area. Bungur has various types of printing services starting from digital printing, offset printing, and finishing services (emboss, binding, cutting, etc). There are many skilled workers are hired to work in the printing services. Skilled or unskilled workers in printing services are people who rely on physical labour and tend to work longer than educated workers. The lack of interaction and tension in the workplace after a long period can cause stress which leads to other diseases. However, the stress can be solved by having an informal interaction apart from their workplace and home. In the other hand, long working hours have reduced opportunities for these workers to have an informal social interaction. As a respond to the problem, this training facility design as a place for skilled and unskilled workers to have social interaction apart from their workplace and home. This project also aims to be a place for residents of Bungur Subdistrict to develop their skills in graphic design. To reach the goals, the design has a wide-open space for anyone on the basement floor which is open and becomes into one virtually with the ground floor. Above the open space there are training facility and gallery which have separated circulation. The separation between the training facilities, gallery, and the open space under it aims to fulfil the needs of each program. AbstrakKecamatan Bungur, yang terletak di distrik Senen, Jakarta Pusat, terkenal sebagai daerah percetakan. Bungur memiliki berbagai jenis layanan pencetakan, mulai dari pencetakan digital, cetak offset, dan layanan finishing (emboss, binding, cutting, dll). Oleh karena itu banyak pekerja terampil dipekerjakan untuk bekerja di bidang percetakan. Pekerja yang terampil atau tidak terampil dalam layanan pencetakan adalah orang-orang yang mengandalkan tenaga fisik dan cenderung bekerja lebih lama daripada pekerja yang berpendidikan. Kurangnya interaksi dan ketegangan di tempat kerja setelah waktu yang lama dapat menyebabkan stres yang mengarah pada penyakit lain. Namun, masalah ini dapat diselesaikan dengan interaksi informal yang terpisah dari tempat kerja mereka dan rumah dapat mengurangi stres tersebut. Tetapi, jam kerja yang panjang menghasilkan kesempatan minimal bagi para pekerja ini untuk melakukan interaksi sosial di luar tempat kerja atau rumah mereka. Akibatnya, fasilitas pelatihan ini dirancang untuk menjadi tempat bagi pekerja terampil dan tidak terampil untuk berinteraksi sosial antara tempat kerja dan rumah mereka. Bukan hanya tempat untuk melakukan interaksi sosial, tetapi proyek ini juga bertujuan untuk menjadi tempat bagi warga Kecamatan Bungur untuk mengembangkan keterampilan mereka dalam desain grafis. Sebagai tempat interaksi, bangunan dirancang memiliki ruang terbuka lebar bagi siapa saja di lantai dasar yang terbuka dan menjadi satu dengan lantai dasar. Kemudian fasilitas pelatihan dan galeri melayang di atasnya dengan dukungan kolom. Pemisahan antara fasilitas pelatihan, galeri, dan ruang terbuka di bawahnya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masing-masing program.
PERANCANGAN TAMAN OLAHRAGA DI KELAPA GADING Devi Septiani; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6892

Abstract

Reduced public open space due to competition in urban areas has resulted in reduced community gathering activities (third place). Many big cities in Indonesia are aggressively building new parks or revitalizing old parks, like in the city of Jakarta. This is because the population density reaches 15,663 people / km2. The population continues to grow from 4.5 million people (1970) to double that, which is 9.6 million in 2010, while now it has reached 10.4 million people and is estimated to be 11-15 million by 2020-2030. As a result, almost all of the surface of the city has been devoured by buildings and changed the function of its designation Kelapa Gading sub-district with an area of 161.21 ha, this district has several shopping centers whose area exceeds the existing green space, namely, an area of 996,215 m2, through the results of observational studies that have been carried out then a proposed project that can meet the needs of the ivory coconut community for a healthy lifestyle with limited land as a means of sports that can accommodate various groups of people. Not only as a sports facility, but as a recreational facility and container that can accommodate interactions in the ivory coconut community. By looking at the parameters that exist in designing the third space, this design is adjusted to the ivory community's need for public space as the third space. AbstrakBerkurangnya ruang terbuka publik akibat persaingan lahan di perkotaan mengakibatkan berkurangnya aktivitas berkumpul bagi masyarakat (third place). Banyak kota – kota besar di Indonesia yang gencar untuk membangun taman baru atau merevitalisasi taman lama, seperti di Kota Jakarta. Hal ini dikarenakan tingkat kepadatan penduduk yang mencapai 15.663 jiwa/km2. Populasi terus bertambah dari 4.5 juta jiwa (1970) hingga menjadi dua kali lipatnya, yaitu 9.6 juta pada tahun 2010, sedangkan sekarang telah mencapai 10.4 juta orang dan diperkirakan untuk menjadi 11 – 15 juta pada tahun 2020 – 2030 mendatang. Akibatnya hampir seluruh permukaan kota telah habis dimakan bangunan dan berubah fungsi peruntukannya Kecamatan Kelapa gading dengan luasan wilayah 161,21 ha, kecamatan ini memiliki beberapa pusat perbelanjaan yang luasnya melebihi RTH yang ada yaitu, seluas 996.215 m2, melalui hasil studi observasi yang telah dilakukan maka diusulkan proyek yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat kelapa gading akan gaya hidup yang sehat dengan lahan yang terbatas sebagai sarana olahraga yang dapat menampung berbagai kalangan maasyarakat. Tidak hanya sebagai sarana olahraga, tetapi sebagai sarana rekreasi dan wadah yang dapat menampung terjadinya interaksi dalam masyarakat kelapa gading. Dengan melihat parameter yang ada dalam mendesain ruang ketiga maka rancangan ini disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat kelapa gading akan ruang publik sebagai ruang ketiga.
RUANG BERSAMA UNTUK MANUSIA DAN ANJING Merrie Ivana Uktolseja; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6770

Abstract

Nowadays, dogs are four-legged animal that are much in demand to be kept as pets because having a pet is one way to relieve stress. The number of dog’s owners in Jakarta is rising every year, but the public place for dog owner’s who wants to travel with their dogs is still lacking. Therefore, just like its’ name, “Human and Canine Sharing Space” intends to creat a place where human can spend their spare time with dogs without any boundary between them. The location chosen for this project is Kebon Jeruk, West Jakarta, because based on data, West Jakarta is the area with the highest number of dog ownership compared to other areas in Jakarta. The design method starts with collecting data by observation and literature study to help getting information needed. Then, the building design process is using the iconic aproach which responded to the area around the site. The outcome of this design process is a multifunctional facility which consists of communal space, restaurant and café for human, as well as playroom, swimming pool, grooming area and hotel for dogs. This project is expected to be a third place that can reduce society’s stress level that needed a break from their everyday routines and accomodating dog lovers’ activities, where human and dogs can gather and socialize. AbstrakKini, anjing adalah hewan berkaki empat yang banyak diminati untuk dipelihara karena memelihara hewan merupakan salah satu cara menghilangkan stress. Jumlah pemilik anjing di Jakarta setiap tahunnya meningkat, namun ruang publik untuk para pemilik anjing yang ingin berpergian dan menghabiskan waktu luang dengan anjing peliharaannya masih terbatas. Maka dari itu, sesuai namanya, “Ruang Bersama untuk Manusia dan Anjing” bertujuan untuk menciptakan tempat di mana manusia dapat menghabiskan waktu luang dengan anjing peliharaan tanpa batas di antara mereka. Lokasi yang dipilih untuk proyek ini adalah Kebon Jeruk, Jakarta Barat, karena berdasarkan data yang ada, Jakarta Barat merupakan area dengan jumlah kepemilikan anjing tertinggi dibandingkan dengan area lain di Jakarta. Metode perancangan dimulai dengan pengumpulan data melalui observasi dan studi literatur untuk membantu mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Kemudian, proses perancangan bentuk bangunan dilakukan dengan pendekatan ikonik yang merespon bentuk muka kawasan sekitar tapak. Hasil dari perancangan ini merupakan sebuah fasilitas multifungsi yang terdiri dari fasilitas ruang komunal, restoran, dan kafe untuk manusia, serta fasilitas ruang bermain, kolam renang, perawatan, dan hotel untuk anjing. Proyek ini diharapkan menjadi tempat ketiga yang dapat mengurangi tingkat stress masyarakat yang membutuhkan istirahat dari rutinitas sehari-hari dan mewadahi aktivitas pecinta anjing, di mana manusia dan anjing dapat berkumpul dan bersosialisasi. 
EVALUASI STRATEGI PENGELOLAAN WISATA ALAM KAWASAN CURUG LUHUR, KABUPATEN BOGOR Rikiyama Anugrah Wijaya Fujiyama; Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.7274

Abstract

Nature tourism is one of the very large types of tourism in the territory of Indonesia because of the wealth and beauty of the unlimited natural atmosphere and the high number of enthusiasts of these types of tours. One of the places that have the potential of natural tourism wealth around the foot of Mount Salak, Sukabumi is a curug or commonly known as a waterfall. Curug Luhur is one of the waterfalls that has the potential to be the object of sustainability tourism studies. But it is unfortunate because there are still problems in the area. One problem is the poor management strategy that threatens the preservation of nature and the balance of the ecosystem. To improve management strategies, it is necessary to know a number of problems and potentials in the region so that they can create better management strategies and increase visitor numbers without destroying the ecosystem balance and becoming sustainable tourism. Some aspects that must be considered are the organizational system, accessibility, facilities and infrastructure, human resources, attractiveness, and promotion. While from the perspective of the aspects of sustainable tourism are conservation, community participation, economy, and infrastructure. To get the results of evaluating the management strategy, namely by conducting quantitative and qualitative research and using research methods in the form of interviews, data collection, and field surveys in analyzing locations, physical conditions, carrying capacity of the area, best practices, visitor preferences, and management strategies. Keywords: management; sustainable tourism; waterfall AbstrakWisata alam adalah salah satu jenis wisata yang sangat besar di wilayah Indonesia karena kekayaan dan keindahan suasana alamnya yang tidak terhingga dan jumlah peminat jenis wisata tersebut juga memiliki angka yang tinggi. Salah satu tempat yang memiliki potensi kekayaan wisata alam di sekitar kaki Gunung Salak, Sukabumi adalah berjenis curug atau biasa dikenal sebagai air terjun. Curug Luhur adalah salah satu air terjun yang berpotensi menjadi objek studi pariwisata keberlanjutan. Tetapi sangat disayangkan karena masih terdapat permasalahan pada kawasan tersebut. Salah satu masalahnya adalah strategi pengelolaan yang tidak baik sehingga mengancam kelestarian alam dan keseimbangan ekosistem. Untuk memperbaiki strategi pengelolaan, perlu diketahui beberapa masalah dan potensi pada kawasan tersebut sehingga dapat membuat strategi pengelolaan yang lebih baik dan dapat meningkatkan angka pengunjung tanpa merusak keseimbangan ekosistem di dalamnya dan menjadi pariwisata berkelanjutan. Beberapa aspek yang harus diperhatikan adalah sistem organisasi, aksesibilitas, sarana dan prasarana, sumber daya manusia, daya tarik, dan promosi. Sedangkan dari sudut pandang aspek pariwisata berkelanjutan adalah konservasi, partisipasi masyarakat, ekonomi, dan infrastruktur. Untuk mendapatkan hasil evaluasi strategi pengelolaan, yaitu dengan melakukan penelitian kuantitatif dan kualitatif serta menggunakan metode penelitian berupa wawancara, pengumpulan data, dan survey lapangan dalam melakukan analisis lokasi, kondisi fisik, daya dukung kawasan, best practices, preferensi pengunjung, dan strategi pengelolaan.
WIYATA TAMAN REKREASI KESEHATAN Artaxerxes Christopher Lee; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

DKI Jakarta as the capital of Indonesia, making Indonesia the most populous city which reaches 15.7 thousand inhabitants / km2, has the highest air safety in the world which reaches 194 Air Quality Indexes.  Air pollution resulting from ARI in the Jakarta area reached 1,817,579 cases in 2018. The problem is the need for a healthy management of life for the people of DKI Jakarta. City densities are the highest deceleration sites for many cities.  The third place is good for the health of the city masayarkat such as parks, recreation, sports, eating places.  Environmental Education to celebrate the Environment in order to establish an understanding of good and right planting, and planting that is most beneficial for the city, so that air pollution in DKI Jakarta can be reduced and produce healthy lungs for the people of DKI Jakarta. Menteng Subdistrict, Mentahan Ward, Central Jakarta Administration City, DKI Jakarta, Public transportation center is located in Menteng sub-district where this area can be an attraction for tourists, workers and other visitors who use public transportation. The highest disease in this district is ARI which is a problem in air pollution. The important thing in designing in Menteng District is traffic jam and motorcycle taxi or online taxis that park irregularly because there is no base camp in the public transportation point area. So that with the existence of a third place for the central point of public transportation is needed as an intermediary place for congestion and a place to gather with family, friends, and others. AbstrakDKI Jakarta sebagai Ibu Kota Indonesia, menjadikan kota terpadat di Indoneisa yang mencapai 15,7 ribu jiwa /km2, memiliki polusi udara tertinggi di dunia yang mencapai 194 Us Air Index Quality. Polusi udara yang tinggi mengakibatakan penyakit ISPA di kawasanan DKI Jakarta mencapai 1.817.579 kasus pada tahun 2018. Sehingga perlunya pengelolaan hidup yang sehat bagi masyarakat DKI Jakarta. Kepadatan kota yang tinggi mengakibatkan perlunya tempat ketiga bagi banyarakt kota. Tempat ketiga yang baik untuk kesehatan masayarkat kota seperti taman, rekreasi, olahraga, tempat makan. Edukasi lingkungan untuk mencintai lingkungan agar terjalinnya pengertian dalam penanaman yang baik dan benar, dan penanaman yang paling bermanfaat bagi kota, agar polusi udara di DKI Jakarta dapat berkurang dan menjadikannya paru-paru kota yang sehat bagi masyarakat DKI Jakarta. Kawasan Kecamatan Menteng, Keluarahan Menteng, Kota Adminitrasi Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Titik pusat transportasi umum berada di kecamatan Menteng yang dimana kawasan ini dapat menjadi daya Tarik bagi wisatawan, perkerja, dan pengunjung lainnya yang menggunakan transportasi umum. Penyakit di kecamatan ini paling tinggi adalah ISPA yang menjadi masalah dalam polusi udara. Hal yang penting dalam perancangan di Kecamatan Menteng adalah kemacetan dan ojek atau taksi online yang parkir tidak teratur karena tidak adanya penyediaan base camp pada area titik transportasi umum.  Sehingga dengan adanya tempat ketiga bagi kawasan titik pusat transportasi umum sangat di butuhkan sebagai tempat perantara kemacetan dan tempat berkumpul bersama keluarga, teman, dan lain-lain.
RUANG APRESIATIF, REKREATIF DAN KREATIF Eileen Rosabel Renaningtyas; Tatang Hendra Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6881

Abstract

Third place as community gathering place, which can accept various people, do not close the possibility to separate community activities in having fun while working. The village of Cilandak Barat which became the chosen region is very related to the creative economy. According data BPS West Cilandak Village, the informal business sector is the dominant economic activity of citizens. The type of business done varies from the business of grocery stalls, business Wartel, Cyber Cafe business, Matrial Business, salon business, to the business of ornamental plants. The creative economy will be chosen as the main theme raised from the region's background. This theme aims to improve people's welfare, especially in selected regions. This project functions as a place to facilitate the people of Cilandak as an educational place, a place to innovate and create and a place to rest for the visitors who come in expressing themselves. In reviewing the literature there are several determining factors that maximize pedestrian on the ground floor, there is a bridge as a liaison between mass and mass form in response to the surrounding environment which is the biggest factor in affect the mass form. Therefore, the method in the formation of a mass using the site analysis system. Site analysis consists of, view analysis, Skyline, in & out tread, zonning, pedestrian and vehicle directional response. The result of the analysis will result in a mass form, and the result of the analysis of the site will be visible on the floor, look and cut. AbstrakTempat ketiga sebagai tempat berkumpulnya masyarakat, dimana dapat menerima berbagai kalangan masyarakat, tidak menutup kemungkinan untuk memisahkan kegiatan masyarakat dalam bersenang-senang sambil bekerja. Kelurahan Cilandak Barat yang menjadi kawasan terpilih sangat berkaitan dengan ekonomi kreatif. Menurut data BPS Kelurahan Cilandak Barat, sektor usaha informal merupakan kegiatan ekonomi yang dominan dilakukan warga. Jenis usaha yang dilakukan bervariasi mulai dari usaha warung kelontong, usaha wartel, usaha warnet, usaha matrial, usaha salon, hingga usaha tanaman hias. Ekonomi kreatif akan dipilih sebagai tema utama yang diangkat dari latar belakang kawasan. Tema ini bertujuan sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khusunya pada kawasan terpilih. Fungsi proyek ini sebagai tempat untuk memfasilitasi masyarakat Cilandak sebagai tempat edukasi, tempat berinovasi maupun berkreasi dan tempat beristirahat bagi para pengunjung yang datang dalam mengekspresikan diri. Dalam mengkaji literatur terdapat beberapa faktor yang menentukan yaitu memaksimalkan pedestrian pada lantai dasar, terdapat jembatan sebagai penghubung antar massa dan bentuk massa dalam menanggapi lingkungan sekitar yang menjadi faktor terbesar dalam mempengaruhi bentuk massa. Maka dari itu, metode dalam pembentukan sebuah massa dengan menggunakan sistem analisa tapak. Analisa tapak terdiri dari, analisa view, skyline, in & out tapak, zonning, respon arah pejalan kaki dan kendaraan. Hasil dari analisa yang didapat akan menghasilkan bentuk massa, dan hasil analisa tapak akan terlihat pada denah, tampak dan potongan.
DISTRIK FESYEN NUSANTARA Yanni Nursalim; Rudy Trisno
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6870

Abstract

Innovation and creativity are prioritized in various aspects to create a new breakthrough. This phenomenon is the result from creative individuals that keeps innovating. Inspired by fashion industry fond by many people and functioning as verbal communicator from person to person, create the need of place to exchange ideas, creativity and to socialize. Pasar Baru is an area that have a chance to be a place where fashion designers can meet and gather, because as many people know Pasar Baru is known as textile industry for so long. Beside that, this area is starting to lose fame because people think it is old style and unorganized. In result, a project is designed so that it can be a place where many fashion communities and can as well functioned as leisure open area a. In this project, methaphor method is used by applying Benji Chinesse batik pattern in building shape by intangible and the using of the batik pattern on the building facade by tangible. On the ground floor, quite programs such as public and leisure areas, parks, courtyars, angkringan, exhibition, and workshop are applied. In the upper floors, programs such as fashion studios, seminar room, drapping room that is  mean to people who likes fashion are applied that is more regulated than first floor. The facilities are made, in hope that Pasar Baru will be fashion center that can influence people to talk more about local trends compared to trends outside Indonesia. Abstrak Inovasi dan kreativitas merupakan hal yang diprioritaskan saat ini dalam berbagai aspek untuk menghasilkan suatu terobosan baru. Fenomena ini tentu tidak terlepas dari peran individu ataupun kelompok di dalam industri kreatif yang terus berinovasi. Dilatarbelakangi oleh dunia fesyen yang semakin digemari oleh berbagai kalangan dan merupakan alat komunikasi non verbal antar individu, maka diperlukan sebuah tempat bagi para pecinta fesyen untuk bertukar pikiran, bersosialisasi, dan berkreativitas. Pasar Baru merupakan salah satu kawasan yang berpeluang untuk dijadikan kawasan berkumpulnya para fashion designer, karena seperti yang banyak orang ketahui Pasar Baru merupakan pusat perbelanjaan tekstil yang terkenal sejak lama. Selain darpada itu, kawasan ini juga sudah mulai ditinggalkan oleh pengunjung karena dianggap membosankan dan tidak teratur. Maka dirancang sebuah proyek yang dapat menjadi tempat komunitas fesyen dan juga sebagai kawasan hiburan yang lebih terbuka dan bersifat “leisure”. Dalam hal ini metode yang digunakan adalah metafora dengan menerapkan motif batik cina benji pada bentuk bangunan secara tidak langsung (intangible) dan penerapan motif batik tersebut pada fasad bangunan (tangible). Di bagian lantai dasar diisi dengan program yang lebih bersifat publik dan leisure  seperti taman, courtyard, angkringan, pameran, dan workshop. Sedangkan dilantai atas lebih yang bersifat regulated seperti studio fashion, r. seminar, r. Drapping yang ditujukan bagi para fashion designer ataupun orang – orang yang menggemari dunia fashion. Dengan adanya fasilitas – fasilitas tersebut diharapkan ke depannya Pasar Baru akan menjadi pusat fashion yang mempengaruhi masyarakat untuk lebih banyak membincangkan tren lokal dibandingkan tren luar negeri.
RUANG INTERAKTIF BEBAS STRES Arif Suhardi Lambong; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6836

Abstract

In this time every person competes to get what is expected both in terms of material and non material, which is where most are obtained in the process of working, so that in addition to spending a lot of time at home, also spending a lot of time mostly at work, in other words the community only spends most of their time either to do activities and interact in both of these places, which has become a daily routine. With this condition, the majority of urban communities, especially the city of Jakarta, have less free time for vacations and socializing outside working hours, so this condition is one of the causes of mental health disorders in urban communities. The problem of mental health disorders in the form of stress is closely related to the community. urban, in addition to the high intensity of working in urban communities that can cause stress, as for urban problems that can trigger it ranging from family problems to congestion.In this condition, this is the task of an architect who can provide an activity room for the community by providing a third space as a solution in the form of healing of people with stress disorders, with the third space presented in the form of a building design with programs or facilities that are appropriate and appropriate to the problem stress by creating a stress relieve interactive space.    AbstrakDi masa sekarang ini setiap orang berlomba lomba untuk mendapatkan apa yang diharapkan baik dari segi materil maupun non materil, yang di mana sebagian besar didapatkan dalam proses bekerja, sehingga selain menghabiskan banyak waktu di tempat tinggal, juga banyak menghabiskan waktu sebagian besar pada tempat kerja, dengan kata lain masyarakat tersebut hanya menghabiskan sebagian besar waktu mereka baik untuk beraktivitas dan berinteraksi dikedua tempat tersebut, yang dimana ini sudah menjadi rutinitas yang dijalani sehari hari. Dengan adanya kondisi tersebut membuat sebagian besar masyarakat perkotaan khususnya kota Jakarta kurang memiliki waktu luang untuk berlibur dan bersosialisasi di luar jam kerja, sehingga kondisi ini menjadi salah satu penyebab munculnya gangguan kesehatan mental pada masyarakat perkotaan, masalah gangguan kesehatan mental berupa stres ini erat kaitannya dengan masyarakat perkotaan, selain karena tingginya intensitas bekerja masyarakat perkotaan yang dapat menyebabkan munculnya stres, adapun masalah-masalah perkotaan yang dapat memicu hal tersebut mulai dari masalah keluarga hingga kemacetan. Dalam kondisi ini disinilah tugas seorang arsitek yang dimana dapat memberikan ruang aktivitas untuk masyarakat dengan memberikan ruang ketiga sebagai solusi berupa penyembuhan terhadap masyarakat dengan gangguan stres, dengan itu ruang ketiga yang dihadirkan  dalam berupa desain sebuah bangunan dengan program atau fasilitas yang sesuai dan tepat terhadap masalah stres tersebut dengan menciptakan sebuah ruang interaktif bebas stres. 
WADAH SOSIAL : OLAHRAGA DAN KETERAMPILAN Riando Agustian; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6766

Abstract

The need for third place increased based on an increase in the number of necessities of life and economic growth which resulted in the community only focusing on finding a higher income than before, which caused an increase in stress levels. This is also made worse by the lack of social facilities that can be used by the community to socialize. Therefore the writer wants to try to make a third place for the community around the chosen location. The chosen location is on Jalan Kayu Putih Raya which is a residential area for most industrial workers in the Pulo Gadung industrial area. The choice of location chosen was also based on the results of the field survey which showed that there was still a lack of means for the community to get free entertainment and a place to gather and socialize among the people. In designing this project, the writer also included macro, mezo, and micro site analysis in the consideration of making this project. So that the resulting project can be in accordance with the surrounding environment. In determining the program, the authors also include the results of the questionnaire as a consideration in determining the right program for the community around the project. In the end this project can be designed by the writer with data collected from around the project location and is expected to be used optimally by the surrounding community.AbstrakKebutuhan akan tempat ketiga (third place) semakin meningkat yang didasari oleh peningkatan angka kebutuhan hidup dan pertumbuhan ekonomi yang mengakibatkan masyarakat hanya terfokus untuk mencari pendapatan yang lebih tinggi dari sebelumnya, sehingga menimbulkan tingket stress yang meningkat. Hal ini juga diperburuk dengan sedikitnya sarana sosial yang dapat digunakan oleh masayarakat sebagai wada bersosialisasi.  Oleh sebab itu penulis ingin mencoba untuk menciptakan tempat ketiga (third place) bagi masyarakat disekitar lokasi terpilih. Lokasi yang terpilih adalah di jalan Kayu Putih Raya yang merupakan kawasan perumahan bagi sebagian besar pekerja industri yang ada pada kawasan industri Pulo Gadung. Pemilihan lokasi terpilih juga didasari oleh hasil survei lapangan yang menunjukan masih minimnya sarana bagi masyarakat untuk dapat mendapatkan hiburan yang bersifat tidak berbayar dan tempat untuk berkumpul dan bersosialisasi antar masyarakat. Dalam mendesain proyek ini penulis juga turut serta memasukan analisa tapak secara makro, mezo, dan mikro kedalam pertimbangan pembuatan projek ini. Sehingga projek yang dihasilkan dapat sesuai dengan lingkungan sekitar. Dalam menentukan program penulis juga memasukan hasil kuesioner dalam pertimbangan dalam menentukan program yang tepat bagi masyarakat pada sekitar proyek. Pada akhirnya projek ini dapat didesain oleh penulis dengan data-data yang dikumpulan dari sekitar lokasi proyek dan diharapkan dapat digunakan secara maksimal oleh masyarakat sekitar. 

Page 2 of 10 | Total Record : 99