cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 99 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2020): APRIL" : 99 Documents clear
KEMANG CRE.ACTIVE : WADAH EDUKASI DAN KREATIVITAS DI KEMANG Putri Aprillia; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6744

Abstract

The routine which is carried out between home and the workplace, school or campus every day could trigger stress which caused by the burden of thoughts and workloads. This could also make the individual traits get higher and reduce social interactions because of their respective activities. Therefore, the third place is present as a neutral public space to be able to accommodate the need for social interaction to exchange ideas, release the burden of thoughts and also emphasize the tightness of activities in schools, campus, workplace, etc without feeling awkward for doing interaction among people who have different backgrounds. These problems will be answered through architectural product as a space for education and creativity which is equipped with playing facilities, gatherings, and also leisure facilities to maintain the quality of individual’s life. Kemang, South Jakarta, is selected as the area for designing a third place because Kemang is close to housing complex, office buildings, and schools. In addition, Kemang is also a trajectory for many people who travel from home to workplace, school or campus and vice versa. The program will raise art and sports as the design theme which will be supported by some supporting programs which are still related to the design theme as the answer of the problems and to strengthen the identity of Kemang. Moreover, art and sports are close to third place. This project will be designed by John Zeisel’s re-image method and will be supported by Erica M. Bartels’s transparency theory by giving priority to the permeable as part of the design concept and also paying attention to the existing factors of authenticity. AbstrakRutinitas yang dilakukan antara rumah dan tempat kerja, sekolah atau kampus hampir setiap hari dapat memicu stres dan penat akibat beban pikiran dan juga beban kerja. Hal ini juga dapat menjadikan sifat individualisme semakin tinggi dan berkurangnya interaksi sosial antar individu dikarenakan kesibukan masing – masing. Oleh karena itu, ruang ketiga hadir sebagai ruang publik yang bersifat netral agar mampu mewadahi dan menjawab kebutuhan akan interaksi sosial untuk bertukar pikiran, melepas beban pikiran dan juga stres akibat padatnya aktivitas di sekolah, kampus, tempat kerja, dan lain-lain tanpa merasa canggung untuk berinteraksi meskipun berbeda latar belakang. Permasalahan ini akan dijawab melalui produk arsitektur berupa penciptaan wadah untuk edukasi dan kreativitas yang dilengkapi dengan sarana bermain, berkumpul, dan juga bersantai guna menjaga kualitas hidup individu. Kawasan Kemang, Jakarta Selatan, dipilih sebagai kawasan untuk perancangan ruang ketiga karena Kemang merupakan kawasan yang dekat dengan perumahan, perkantoran, dan sekolah. Selain itu, Kemang juga menjadi lintasan banyak orang bepergian dari rumah ke tempat kerja, sekolah, atau kampus dan sebaliknya. Program akan mengangkat tema seputar seni dan olahraga yang kemudian akan didukung dengan beberapa program penunjang yang masih berkaitan dengan tema tersebut sebagai bentuk jawaban dari permasalahan dan pengangkatan identitas kawasan Kemang. Selain karena hal tersebut, seni dan olahraga juga memiliki keterkaitan yang cukup erat dengan ruang ketiga. Proyek ini akan dirancangan menggunakan metode re-image oleh John Zeisel yang kemudian akan didukung dengan teori transparency oleh Erica M.Bartels dengan mengutamakan sifat mudah ditembus sebagai bagian dari konsep perancangan dan juga memperhatikan faktor kesejaman yang ada.
RUANG AKTIVITAS MASYARAKAT PULOMAS William Adiputra Dharmawan; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.7044

Abstract

Modern people have a demanding and busy life. Jakarta is not an exception. Whose people is growing rapidly in terms of socio economic standing into middle class.This class requires different types and patterns of usage of space. They prefer to live in suburubia, spends time in malls instead of local places, and usually have 9-5 jobs.The mall’s role as a public space is problematic as it can siphon away public life that could’ve happen in local place which can shape a strong sense of place and character. Other than that, malls also requires a significant energy commitment to get to it, doesn’t create community around it, exclusive to lower class people, etc. A local third place is proposed as a solution. To pull back public life into the suburbia. Something smaller in scale, making the visitors into people not mere consumer. A personal place, A place that forms communities, a palce that is local so people don’t have to spend a lot of energy going to the place. A place that is open to all. A Third place. In this final project, the chosen site is right in the middle of a housing complex in Pulomas. Local residents would only have to walk no more than 5 minutes to visit the place. It provides public spaces that are in demand by local residents, such as food hall, gym, study space, archery hall, eventspace, etc in smaller scale. Public life that is stolen from the mall is taken back into the local place, creating a sense of place and community. AbstrakMasyarakat modern memiliki tuntutan kehidupan yang sibuk dan padat. Tidak terkecuali penduduk Jakarta. Yang strata sosio-ekonominya bertumbuh secara cepat menjadi kalangan menengah ke atas. Kalangan ini memiliki kebutuhan ruang dan pola penggunaan ruang yang berbeda. Mereka memilih untuk tinggal di perumahan, menghabiskan waktu di mall dibanding di tempat yang lokal, dan umumnya memiliki pekerjaan 9-5. Penggunaan mall sebagai tempat publik berpotensi menjadi masalah, ketika kehidupan publik yang bisa menjadi karakter suatu tempat di alihkan ke tempat yang anonim seperti  mall. Kurangnya kehidupan publik mengikis sense of place dan social capital yang dimiliki sebuah tempat. Selain itu mall juga membutuhkan komitmen energi yang besar untuk mencapai mall, pengunjung yang tidak menjalin komunitas, ekslusifitas terhadap kalangan menengah kebawah, dlsb. Third place yang lokal di usulkan sebagai solusi, untuk menarik kembali kehidupan publik di perumahan. Sebuah tempat yang mempunyai skala lebih kecil, menjadikan pengunjungnya sesama manusia, personal, membentuk komunitas, lokal sehingga kita tidak perlu banyak energi untuk mengunjungi tempat itu, dan terbuka bagi semua, sebuah third place. Di proyek tugas akhir ini, dipilih site tepat di tengah perumahan, di Pulomas. Warga lokal hanya tinggal jalan kaki tidak lebih dari 5 menit untuk mencapai site. Menyediakan tempat publik skala kecil yang dibutuhkan oleh warga lokal seperti food hall, gym, ruang studi, lapangan panahan, eventspace, lounge, dll. Kehidupan publik yang sebelumnya dicuri oleh mall dan tempat lain dilokalisasikan, menciptakan sebuah sense of place, dan sense of community.
FASILITAS EDUTAINTMENT DI KELAPA GADING Andreas Yonaftan; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6748

Abstract

3rd Place or third place is a place where everyone can go there, regardless of social status, economy, work, etc., this place is usually a place where local residents can meet and talk with one another casually so they feel like being at home, being able to meet new people, become regulars, and so on. Therefore a 3rd place is very important in an area, especially in Jakarta which is the capital of the Indonesian state. But in reality what happens is the existing 3rd Place requires someone to buy something first so that it indirectly classifies a person's social and economic status. And also a lot of 3rd Place that is used by millennials to work in groups so that people who are relaxed enjoy their leisure time or are having a meeting for work become disrupted. Therefore the purpose of this research is to create a 3rd Place that is free and very open to the public by providing programs that can solve the issues that often occur. By using a design method that refers to the analysis of data about the weaknesses and strengths of the location of this area that produces design concepts and programs that are appropriate. So this project produces a 3rd Place with library programs for both children and adults, co-working space, cafes, sports fields, children's playgrounds, and others.Abstrak3rd Place atau tempat ketiga adalah sebuah tempat dimana semua orang dapat pergi kesana, tidak memperdulikan status sosial, ekonomi, pekerjaan dan lain-lain, tempat ini biasanya menjadi tempat para warga sekitar dapat bertemu dan saling berbincang satu dengan yang lainnya dengan santai sehingga mereka merasa seperti berada di rumah sendiri, dapat bertemu dengan orang baru, menjadi langganan, dan lain-lain. Oleh karena itu sebuah 3rd Place sangat penting dalam sebuah kawasan, terutama di Jakarta yang merupakan ibukota dari negara Indonesia. Namun pada kenyataannya yang terjadi adalah 3rd Place yang ada mengharuskan seseorang untuk membeli sesuatu terlebih dahulu sehingga secara tidak langsung mengelompokan status sosial dan ekonomi seseorang. Dan juga banyak 3rd Place yang digunakan oleh generasi milenial untuk bekerja kelompok sehingga membuat orang yang sedang santai menikmati waktu luangnya atau sedang meeting untuk pekerjaan menjadi terganggu. Oleh sebab itu tujuan dari penelitian ini yaitu menciptakan sebuah 3rd Place yang bersifat free dan sangat terbuka untuk umum dengan menyediakan program-program yang dapat menyelesaikan isu-isu yang sering terjadi. Dengan menggunakan metode perancangan yang mengacu pada analisa data-data tentang kelemahan dan kelebihan lokasi kawasan ini berada yang menghasilkan konsep perancangan serta program-program yang tepat. Sehingga proyek ini menghasilkan sebuah 3rd Place dengan program perpustakaan baik untuk anak dan dewasa, co-working space, kafe, lapangan olahraga, tempat bermain anak, dan lain-lain. 
SARANA REKREASI AIR DI BEKASI SELATAN Karen Rafaela; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6772

Abstract

The rapid development of the population in this current era leads the growing population density. In daily life, we know the terms of  first-place and second-place (the place of work/school). As the era developments, each function of first-place and second-place is often combined and in the end it has no clear separation of functions between the two. From the issue, comes third-place to be an intermediate space between first-place and second-place to host activities that should be done outside of the both places. Bekasi as one of the most populous city in Indonesia has a large potential source such as Irrigation Channels Kalimalang which can be utilized as recreational facilities and also water treatment as an educational platform for the community and utilize existing technology. The method used in this project is the Behavior Setting Method, by observing the behavior patterns of surrounding communities supported by other methods such as mapping the pattern of human movements and the place that is the goal of the movement. With this method, the goals that we hoped is we can create a program that fits the habits of the community. The results obtained are a third-place with the main water recreation program, and supported by supporting program such as food-street, waterfront garden, cultural show, and commercial to suit the needs of the surrounding community. AbstrakPerkembangan penduduk yang pesat di era sekarang ini menyebabkan kepadatan penduduk yang terus meningkat. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal istilah first-place (rumah) dan second-place (tempat bekerja/sekolah). Seiring perkembangan jaman, masing-masing fungsi dari first-place dan second-place seringkali menyatu dan pada akhirnya tidak memiliki pemisahan fungsi yang jelas diantara keduanya. Dari permasalahan tersebut, terbentuklah third-place untuk menjadi ruang perantara antara first-place dan second-place untuk mewadahi aktivitas yang seharusnya dilakukan di luar kedua tempat tersebut. Bekasi sebagai salah satu kota terpadat di Indonesia memiliki sumber potensi besar seperti Saluran Irigasi kalimalang yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana rekreasi dan juga pengolahan air sebagai wadah edukasi bagi masyarakat dan memanfaatkan teknologi yang telah ada. Metode yang dipakai dalam proyek ini adalah Metode Behavior Setting, yakni dengan melakukan pengamatan terhadap pola perilaku masyarakat sekitar yang didukung dengan metode lain seperti melakukan pemetaan terhadap pola pergerakan manusia dan tempat yang menjadi tujuan dari pergerakan tersebut. Dengan metode ini, diharapkan dapat menciptakan program yang sesuai dengan kebiasaan yang ada di masyarakat. Hasil yang diperoleh ialah berupa sebuah third-place dengan program utama rekreasi air, dan didukung oleh program pendukung seperti food-street, waterfront garden, pertunjukkan budaya, dan komersial yang sesuai dengan kebutuhan masayarakat sekitar.
TEMPAT PENGOLAHAN KOPI DI CIKINI Christoforus Davin; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6894

Abstract

Nowadays social needs and lifestyle become a phenomenon where going to a place to take a break from routine becomes a necessity, especially in a metropolitan city like Jakarta, from that background the Menteng Area, Cikini is a place of very intense routines between one place to other places to achieve something. From this statement, Cikini Coffee Roastery is an answer that can meet the needs and activities in the Cikini area, especially for workers, students, and coffee shops in various circles in the area. Through an interactive and open form of building with a bridge across the front of the building that gives the impression of a soul bond. Nursery as an engineered coffee plant is located at the back of the building as an area of interaction between the core building and the site, and the environment. The function of the space in the building has an orientation to serve the visitors, as well as the community in the area around the site. Abstrak  Di masa sekarang kebutuhan sosial dan gaya hidup menjadi sebuah fenomena dimana pergi ke sebuah tempat untuk rehat dari rutinitas menjadi sebuah kebutuhan, khususnya di kota metropolitan seperti Jakarta, dari latar belakang tersebut maka Kawasan Menteng, Cikini adalah tempat terjadinya rutinitas yang sangat intens antara satu tempat ke tempat lain guna mencapai sesuatu. Dari pernyataan tersebut maka Cikini Coffee Roastery adalah sebuah jawaban yang dapat memenuhi kebutuhan dan kegiatan di daerah Cikini, khususnya untuk para pekerja, mahasiswa, dan kedai – kedai kopi berbagai kalangan di Kawasan tersebut. Lewat bentuk bangunan yang interaktif dan terbuka dengan jembatan yang melintang di bagian muka bangunan yang memberikan kesan ikatan jiwa. Nursery sebagai tempat rekayasa tumbuhan kopi berada di bagian belakang bangunan sebagai area interaksi antara bangunan inti dengan tapak, serta lingkungannya. Fungsi ruang di dalam bangunan memiliki orientasi untuk melayani para pengunjung, maupun komunitas yang berada di lingkungan sekitar tapak.
PEMBENTUKAN RUANG KOLEKTIF SEBAGAI LANSKAP KREATIF MASYARAKAT KAMPUNG KOTA DI KEBON KACANG Nathanael Hanli; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6826

Abstract

The turn of the 21st century saw a transformation in urban society as the abundance of  physical resources no longer serves as the sole determinant of a city’s economic development, rather it is the human capital and the ideas produced which generate growth through the creative economy sector. The image of a city, engraved by diversity and distinctive local identity, engage with individuals from various communities, establishing a creative landscape as a third place where interaction between members of the creative class occurs. The neighbourhood of Kebon Kacang is known as a residential area which embraces the city-village typology (first place). Located next to the central business district and economic center of the city (second place), its inhabitants are forced to occupy negative spaces left in between the high density area of downtown Jakarta, such as sidewalks and empty lot, and overhauling them in a temporal and spontaneous manner into informal third places. Aside as a social space for the local residents, the informal third place of Kebon Kacang also function as a production house for a variety of local products, ranging from staple dishes to small scale textile industry. Through the synthesis process consisting of field observation and literature study regarding the formation of social space in urban kampung, the informal quality attributed to the creative landscape of Kebon Kacang serves as a foundation in the planning and design process of Kebon Kacang Collective Space. AbstrakAbad ke-21 menjadi saksi atas transformasi perekonomian masyarakat kota di mana perkembangan suatu kawasan tak lagi ditentukan oleh keberadaan sumber daya fisik semata, melainkan juga ide dan pemikiran manusia sebagai katalis perkembangan ekonomi kreatif. Diversitas serta identitas yang membentuk citra suatu kawasan mengundang hadirnya individu dari berbagai komunitas yang berbeda, menciptakan lanskap kreatif sebagai third place di mana masyarakat kreatif dapat berinteraksi satu sama lain dan saling bertukar pikiran. Kelurahan Kebon Kacang sebagai permukiman kampung kota (first place) yang berbatasan dengan sentra bisnis dan perekonomian kota (second place) berkepadatan tinggi mendorong pemanfaatan ruang-ruang antara yang tersisa seperti bahu jalan dan lahan kosong sebagai third place bersifat informal yang diisi secara cair dan temporal oleh masyarakatnya, menjadikannya tak hanya sebagai wadah interaksi melainkan juga sarana berkreasi yang menghasilkan produk-produk lokal seperti kuliner hingga industri tekstil skala kecil. Melalui investigasi kawasan yang didasari oleh dua metode utama, yakni observasi lapangan dan kajian pustaka terhadap pembentukan ruang sosial di kampung kota sebagai third place, potensi karakteristik informal dalam pembentukan ruang antara sebagai lanskap kreatif di kawasan Kebon Kacang pun diangkat sebagai gagasan dalam perencanaan dan perancangan Ruang Kolektif Kebon Kacang yang bertujuan menghadirkan  third place sebagai wadah interaksi, kreasi, dan promosi bagi seluruh lapisan masyarakat di Kelurahan Kebon Kacang.
WADAH AKTIVITAS PENUNJANG KESEJAHTERAAN FISIK DI UJUNG MENTENG Ivana Melia Setiawan; Lina Purnama
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6869

Abstract

One of the issues of urgency now is the lack of awareness of a healthy lifestyle, unhealthy lifestyles can have an impact on long-term health that is the risk of non-communicable diseases namely Diabetes, Hypertension, Heart, etc. The third place as a pause or lounge space between the first place (residence) and second place (work place) is currently connected with places like cafes, malls, places to eat, etc. that do not support a healthy lifestyle. What is needed now is Third Place in addition to social space but also educates about healthy lifestyles and physical well-being. Physical Well-being is a Good Physical Condition Not Only Because It Does Not Ignore Disease by Eating Nutritious Foods, Conducting Physical Activity and Overcoming the Mind, and Balanced Soul (American Association Nurse Anesthetist). The design of this project is based on the issues obtained by site selection indicators related to environmental quality theories that affect individual health (air quality, temperature, greening, etc.). Cakung Subdistrict, East Jakarta, Ujung Menteng Village is a location that does not meet environmental health quality indicators. Menteng tip area is a place that is approved by the industry and close to a place to live but close to 3 points of supporting buildings such as sports. Activities in the project related to the program are based on Physical Welfare theory, 5 Ways of Welfare, and Third Place from Ray Oldenburg. Theory of Language Design and Edward T. White book source concept, which is based on the analysis of observations in the surrounding community environment and other data (macro. Mezo, micro, government regulations, etc.). The results obtained from the potential needed by third parties who support health and physical well-being. Abstrak Salah satu isu urgensi saat ini adalah belum adanya kesadaran akan gaya hidup yang sehat, gaya hidup tidak sehat dapat berdampak pada kesehatan  jangka panjang yaitu resiko pada penyakit tidak menular yaitu Diabetes, Hipertensi, Jantung, dll. Third place sebagai ruang jeda atau ruang santai antara first place (tempat tinggal) dan second place (tempat kerja) saat ini identik dengan tempat berkumpul seperti café, mall, tempat makan, dll yang cenderung kurang mendukung gaya hidup sehat. Sehingga dibutuhkan saat ini adalah Third Place selain sebagai ruang sosial namun juga mengedukasi mengenai pentingnya gaya hidup sehat dan kesejahteraan fisik (physical well-being). Physical Wellbeing adalah Keadaan fisik yang baik bukan hanya karena tidak adanya penyakit tetapi menghindari penyakit dengan makan-makanan bernutrisi, melakukan aktivitas fisik dan memelihara pikiran, dan jiwa yang seimbang (American Association Nurse Anesthetist).  Perancangan proyek ini berdasarkan dari isu didapatkan indikator pemilihan tapak terkait dengan teori kualitas lingkungan hidup sekitar yang memengaruhi kesehatan individu (kualitas udara, suhu, penghijauan, dll). Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, Kelurahan Ujung Menteng menjadi lokasi yang kurang memenuhi indikator kesehatan kualitas lingkungan hidup. Kawasan ujung menteng merupakan dikelilingi oleh industri dan dekat dengan tempat tinggal namun dekat dengan 3 titik  bangunan pendukung seperti olahraga. Aktivitas di dalam proyek terkait dengan program berdasarkan teori Physical Well-being, 5 Ways Of Well-being, dan Third Place dari Ray Oldenburg. Pendekatan pada desain bangunan mengambil pada teori Pattern Language dan Edward T.White buku sumber konsep, yang didasari dari analisa observasi kebiasaan di lingkungan masyarakat sekitar dan data lainnya (makro, mezo, mikro, peraturan pemerintah,dll). Hasil didapatkan adanya potensi dibutuhkan thirdplace yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan fisik (Physical Wellbeing).
TAMAN BELAJAR MAHASISWA DI GROGOL Devina Nathania; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6844

Abstract

Technology has been advancing at an incredible pace and has been affecting many things, including the education system. Grogol ,as an education area, is the place where there are three Campus: TRISAKTI, UNTAR, UKRIDA. The students that have lived with advanced technology have a different education system and studying pattern if we compare it with the older generation. The shifting ways of how these students learn require facility to support the transformation. The existing facilities are limited in numbers, type of spaces, and access which requires a flexible learning space that has many varieties and can be accessible at all times. Learning Commons at Grogol provides some facilities that supports the student's learning process. This building form consists of circles and curves as its basic shape to reduce the image of boring and unattractive learning process that is usually done in the square-shaped classrooms in the area. The Learning Commons area, workshop area, library, dance studio, theater, presentation room, etc are designed based on that changing pattern. Studying together is substantial, where students can study by doing presentation/ sharing, discussions, and tutoring. There are also other supporting facilities such as copy machine and printing area, canteen, and stationary store. AbstrakSeiring berjalannya waktu, kita dapat melihat bahwa teknologi mengalami perkembangan yang cukup pesat. Perkembangan teknologi ini membawa banyak perubahan pada berbagai bidang, salah satunya pada bidang pendidikan. Grogol merupakan sebuah kawasan pendidikan, tempat berdirinya tiga perguruan tinggi yaitu TRISAKTI, UNTAR, dan UKRIDA. Para mahasiswa yang mengemban pendidikan di kampus-kampus ini memiliki pola belajar yang berbeda bila dibandingkan dengan generasi sebelumnya karena kemudahan akses informasi. Namun, di dalam kawasan Grogol sendiri masih memiliki keterbatasan fasilitas belajar. Keterbatasan jumlah, jenis, dan aksesibilitas tempat belajar serta perubahan sistem pendidikan menuntut sebuah tempat belajar fleksibel yang dengan mudah dapat diakses kapan saja. Taman Belajar Mahasiswa di Grogol menyediakan fasilitas untuk menunjang kegiatan belajar mahasiswa yang ada pada kawasan Grogol. Bangunan ini didesain dengan bentuk dasar lingkaran untuk mengubah pandangan para mahasiswa terhadap ruang belajar yang membosankan (ruang kelas yang tersedia di dalam kawasan kebanyakan bersifat monoton dengan bentuk kotak dan pola yang serupa). Ruangan - ruangan seperti ruang kerja bersama, ruang workshop, perpustakaan, Studio dansa, theater, ruang presentasi, dll didesain berdasarkan pola belajar mahasiswa yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi. Banyaknya kebutuhan berkumpul untuk belajar menjadi salah satu aspek yang ditekankan dalam proyek ini (belajar bersama dengan cara presentasi, berdiskusi, dan tutoring). Selain itu, disediakan juga beberapa fasilitas penunjang berupa alat fotocopy dan print, kantin, dan juga toko perlengkapan untuk mendukung kegiatan belajar mahasiswa di dalam kawasan. 
WADAH AKTIFITAS KREATIF DI MARUNDA, JAKARTA UTARA Syamil Mumtaz; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6846

Abstract

Marunda North Jakarta is known as a fisherman settlement area that has been aged for hundreds of years, besides that this area is also the location of low-income housing construction for Low-Income Community Groups (MBR) whose residents are residents who are relocated from various villages in Jakarta, so that the residents of the flat are very heterogeneous. The diverse backgrounds of the Marunda people cause differences in culture and daily habits that create the creation of social boundaries that result in a lack of harmony in the social sphere between residents of Rusunawa and Kampung Nelayan communities, in the process of relocating some residents to lose their jobs. Apart from that, the difference in the shape of the dwellings that were different from those previously densely landed and now are now vertical which causes the formation of spatial boundaries that did not exist before. There is a need that can support the community to create harmony in the diversity of the Marunda community in social, economic and cultural aspects. This study aims to develop a Marunda Activity Center design concept as a third place to accommodate the activities of Marunda residents using the Transprogramming method. The building is designed by combining programs that are spatially different, with the aim of producing programs that are fit to the community so that they can build social interaction and can support the economy to improve the quality of life which will have an impact on the welfare of the people of Marunda. AbstrakMarunda Jakarta Utara dikenal sebagai kawasan pemukiman nelayan yang telah berusia ratusan tahun. Selain itu kawasan ini juga merupakan lokasi dibangunnya rusunawa bagi kelompok Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang sebagian penduduknya adalah warga yang direlokasi dari berbagai kampung di Jakarta, sehingga penghuni rusun bersifat sangat heterogen. Beragamnya latar belakang warga Marunda menyebabkan terjadinya perbedaan dalam budaya dan kebiasaan sehari-hari yang menjadikan terciptanya batas sosial yang mengakibatkan kurangnya keharmonisan dalam lingkup sosial baik antar penghuni Rusunawa maupun masyarakat Kampung Nelayan. Dalam proses relokasi sebagian warga kehilangan pekerjaannya. Selain hal tersebut perbedaan bentuk tempat tinggal yang berbeda dari yang sebelumnya padat landed lalu sekarang menjadi vertikal yang menyebkan terbentuknya batas spasial yang sebelumnya tidak ada. Terdapat kebutuhan yang dapat menunjang masyarakat untuk mewujudkan keharmonisan dalam keberagaman masyarakat Marunda pada aspek sosial, ekonomi dan seni budaya. Kajian ini bertujuan untuk menyusun suatu konsep perancangan Marunda Activity Center sebagai third place untuk mewadahi kegiatan warga Marunda dengan menggunakan metode Transprogramming. Bangunan dirancang dengan menggabungkan program-program yang berbeda secara spasialnya, dengan tujuan untuk menghasilkan program yang fit kepada masyarakat sehingga dapat membangun interaksi sosial dan dapat menunjang perekonomian untuk meningkatkan kualitas hidup yang akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat Marunda.
RUANG FOTOGRAFI DI KEDOYA SELATAN Naomi Patricia; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6777

Abstract

Third place is a place other than home (first place) or office/school (second place), where visitors can spend time and feel welcomed. Third place is no longer just a relaxing recreation place; third place has become part of our overall lifestyle. In that case, we need to realize that for some people, especially those in the creative class, third place is actually an non-negotiable asset. The development of photography in Indonesia is currently experiencing rapid development, both in terms of economic and community growth. This development began in the early 2000s, with the start of film cameras with digital sensors. This certainly makes it easier for camera users to not bother to print photos just to see the work that has been captured.Photography is one of the mass media that has become popular among teenagers. The existence of technological changes that make it easier for humans to demonstrate their artistic skills by using photography, so that photography can affect the lives of people throughout the world. Photography itself has always been inseparable from human life, other than as a documentary, photography itself is art, the art of creativity using light. So no wonder many rapid developments. This third place project aims to facilitate people who have an interest in photography, provide facilities in the form of a gathering place that can function as a channel for visitors' interest and creativity, and increase the Creative Economy’s sector. AbstrakThird place (tempat ketiga) adalah tempat selain rumah (first place/tempat pertama) atau kantor maupun sekolah (second place/tempat kedua), di mana pengunjung dapat menghabiskan waktu dan merasa disambut. Third place tidak lagi hanya berupa tempat rekreasi santai; third place telah menjadi bagian dari gaya hidup kita secara keseluruhan. Dalam hal itu kita perlu menyadari bahwa bagi sebagian orang, terutama yang berada di kelas kreatif, third place sebenarnya menjadi aset yang tidak bisa dinegosiasikan. Perkembangan fotografi di Indonesia saat ini mengalami perkembangan yang pesat, baik dari segi ekonomis dan pertumbuhan komunitasnya. Perkembangan tersebut dimulai sejak era awal tahun 2000-an, dengan mulainya kamera berfilmkan menggunakan sensor digital. Hal ini tentu memudahkan pengguna kamera untuk tidak bersusah payah mencetak foto hanya untuk sekedar melihat karya yang telah diabadikan. Fotografi merupakan salah satu media massa yang menjadi populer di kalangan remaja. Adanya perubahan teknologi yang memudahkan manusia untuk menunjukkan keterampilan seninya dengan menggunakan fotografi, sehingga fotografi dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat di seluruh dunia. Fotografi itu sendiri memang sejak dulu tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, selain sebagai dokumenter, fotografi itu sendiri adalah seni, seni kreatifitas menggunakan cahaya. Maka tak heran banyak perkembangan yang pesat. Proyek third place ini memiliki tujuan untuk memfasilitasi masyarakat yang memiliki minat terhadap fotografi, menyediakan fasilitas berupa tempat untuk berkumpul yang dapat berfungsi sebagai penyalur minat-bakat dan kreatifitas pengunjung, serta meningkatkan sektor Ekonomi Kreatif (Ekraf).

Page 7 of 10 | Total Record : 99