cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 99 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2020): APRIL" : 99 Documents clear
RUANG KONSOLIDASI MASYARAKAT Helena Andriani; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6781

Abstract

The construction of shopping centers in Jakarta has skyrocketed in the past few years. The proliferation of shopping centers mainly caused by shopping centers has been the main destination for visitors , wanting an all in one solution for entertainment. This project aims to offer a new space allowing its visitor to network, increase social interaction and strenghten the bonds between one another. Entertainment facilities can certainly be developed not only in the form of shopping centers, but into something that is packaged attractively and strengthens the relationship between visitors and visitors who live nearby. By creating an new form of entertainment facilities located in the middle of residential areas, it is expected to create the true third place in Kelapa Gading area, so that residents can come, play and use the facilities as a way to network with one another. AbstrakPembangunan pusat perbelanjaan di Jakarta meroket beberapa tahun terakhir. Menjamurnya pusat perbelanjaan ini dikarenakan pusat perbelanjaan atau shopping center menjadi tujuan utama bagi pengunjungnya yang ingin mencari entertainment atau sarana hiburan lainnya. Proyek ini bertujuan untuk menawarkan sebuah wadah dimana pengunjung dapat memperluas koneksi, meningkatkan interaksi sosial dan mempererat hubungan antara satu penduduk dengan lainnya. Fasilitas hiburan tentunya bisa dikembangkan tidak hanya berupa pusat perbelanjaan, melainkan menjadi sesuatu yang dikemas menarik dan memperkuat hubungan antar pengunjungnya dan pengunjung yang tinggal disekitarnya. Dengan membuat fasilitas hiburan yang terletak di tengah pemukiman warga, diharapkan bisa mempererat hubungan antar penduduk sehingga penduduk dengan datang, bermain dan menggunakan fasilitas sebagai salah satu cara untuk networking satu dengan yang lainnya.
SARANA EDUKASI HIBURAN DAN REKREASI KWEETANG Yashinta Mettaserani Dewi; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6827

Abstract

Public space is one important element for an area that can be a guide and reflect the character of a society. The existence of public space is a necessity that must be met in the formation or development of an area. At present, public space is also expected to function as a third place that is able to answer the needs of the community to fill the time between returning to work and returning home. Kwitang has minimal social interaction due to the lack of public space facilities that can facilitate the activities of residents in the area. Kwitang is one of the area that requires public space, which not only functions aesthetically, but also functions as a social function such as entertainment and recreation education facilities. The purpose of designing public facilities in this area is to produce public facilities that facilitate activities in the Kwitang, and provide a forum for residents of Kwitang to expose their identity, which is pencak silat art from those area. This public facility is expected to become a neutral third place, a place to relieve stress, a place to gather and discuss after work, school and other activities. The concept of typology of educational facilities for entertainment and recreation uses a qualitative method by looking at the previous typology retrospectively and analyzing the behavior in them, which results in typology of entertainment and recreation education facilities into a single building unit that is connected to the surrounding environment. Entertainment and recreation education facilities that are designed can become a public space that is the identity of a Kwitang Region itself. AbstrakRuang publik merupakan salah satu elemen penting bagisuatu kawasan yang dapat menjadi petunjuk dan mencerminkan karakter suatu masyarakat. Keberadaan ruang publik menjadi kebutuhan yang harus terpenuhi dalam pembentukan atau perkembangan suatu kawasan. Saat ini, ruang publik juga diharapkan dapat berfungsi sebagai ruang ketiga yang mampu menjawab kebutuhan masyarakatnya untuk mengisi waktu diantara pulang bekerja hingga pulang kerumah. Kelurahan Kwitang memiliki interaksi sosial yang minim akibat kurangnya sarana ruang publik yang dapat memfasilitasi kegiatan  penduduk di kelurahan tersebut. Dengan demikian Kwitang merupakan salah satu Kawasan yang membutuhkan ruang publik, yang bukan hanya berfungsi secara estetika, tetapi juga berfungsi sebagai fungsi sosial seperti sarana edukasi hiburan dan rekreasi. Tujuan dari dirancangnya fasilitas publik pada kawasan ini adalah untuk menghasilkan fasilitas publik yang mewadahi kegiatan pada kelurahan Kwitang, dan memberikan wadah kepada penduduk kelurahan Kwitang untuk menyalurkan identitas yakni seni pencak silat dari suatu kelurahan tersebut. Fasilitas publik inilah yang diharapkan dapat menjadi sebuah ruang ketiga yang bersifat netral, menjadi sebuah wadah untuk melepas kepenatan sehari-hari, tempat untuk berkumpul dan berdiskusi selepas bekerja, sekolah dan kegiatan lainnya. ­Konsep tipologi dari sarana edukasi hiburan dan rekreasi menggunakan metode kualitatif dengan melihat tipologi terdahulunya secara retrospektif dan menganalisis perilaku didalamnya, yang menghasilkan tipologi sarana edukasi hiburan dan rekreasi menjadi satu kesatuan bangunan yang terhubung dengan lingkungan sekitar. Sarana edukasi hiburan dan rekreasi yang dirancang dapat menjadi suatu ruang publik yang menjadi identitas suatu Kawasan Kwitang itu sendiri.
RUANG KEBUGARAN DAN KOMUNITAS DI PERKAMPUNGAN INDUSTRI KECIL Bun Merdianto; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6838

Abstract

Jakarta has a fairly rapid rate of economic growth, a modern life and very dense activities, making people increasingly lose time to socialize and rest. Almost all people will spend their time to work with the aim of being able to meet their personal needs. However, when they are tired of working, they cannot find a place to facilitate them to socialize, relax and refresh their body and mind. As a result, the potential for living thought is only for work. This can trigger stress on factory workers who are most susceptible to stress. If this is left unchecked, this will have an impact on the quality of the HR itself and worsen their performance. Therefore the purpose of this research is to create a suitable forum for workers and the community so that they can gather, socialize, relax themselves and refresh their body and mind (Third Place). So that it can reduce stress levels, build community and improve socialization among surrounding communities and can solve existing issues. There is also a method that is used is the everyday urbanism method that sees changes in time and habits of the surrounding community, so that it can provide a place to support the activities of the people who are in that location. The program produced to enter into this project such as communal space, community space, fitness and many others. AbstrakJakarta memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat, kehidupan yang modern dan sangat padat aktivitas membuat masyarakatnya semakin kehilangan waktu untuk bersosialisasi dan beristirahat. Hampir semua masyarakat akan menghabiskan waktunya untuk bekerja dengan tujuan dapat mencukupi kebutuhan pribadi. Namun ketika setelah lelah bekerja, mereka tidak dapat menemukan tempat fasilitas yang mewadahi mereka untuk bersosialisasi, merelaksasikan diri dan menyegarkan tubuh serta pikiran. Akibatnya muncul potensi pemikiran yang hidup hanya untuk bekerja. Hal ini dapat memicu stress pada pekerja pabrik yang paling gampang terkena stress. Jika hal ini dibiarkan, ini akan berdampak terhadap kualitas SDM itu sendiri dan memperburuk kinerja mereka. Oleh sebab itu tujuan dari penelitian ini yaitu menciptakan sebuah wadah yang layak untuk pekerja dan masyarakat sehingga dapat berkumpul, bersosialisasi, merelaksasikan diri dan menyegarkan tubuh serta pikiran (Third Place). Sehingga dapat menurunkan tingkat stress, membangun komunitas  dan meningkatkan sosialisasi antar masyarakat sekitar dan dapat menyelesaikan isu yang ada. Ada pun metode yang digunakan yaitu dengan metode everyday urbanism yang melihat perubahan waktu dan kebiasaan masyarakat sekitar, sehingga dapat memberikan sebuah tempat untuk mendukung aktivitas masyarakat yang berada di lokasi tersebut. Adapun program yang dihasilkan untuk masuk ke dalam proyek ini seperti ruang komunal, ruang komunitas, kebugaran dan masih banyak lainnya.
PERANCANGAN TEMPAT BELAJAR DI TANJUNG DUREN DENGAN PENDEKATAN OPEN ARCHITECTURE SEBAGAI RUANG KETIGA Harisno Coandy Wibowo; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6769

Abstract

Jakarta's monotonous life between home/ first place and workplace/ second place needs a place for us to get out of this routine. Therefore the third place comes as an alternative to eliminate the boredom caused by Jakarta. A good third place is a third place that can have a positive impact on users. The need for limited learning tools in schools results in students feeling bored and looking for other places to learn. Therefore the project taken is a social forum in the form of a place of learning for students an the community. This place of learning will certainly be a place for students to learn and space for the community to relax or conduct dialogues until training. The approach of this project is sharing where people from various groups can share knowledge, so that people gain knowledge not by reading, but by dialogue. In designing this project the designer re-examines what is meant by “learning”. This project brings all kinds of learning methods that we know into a single unit. Learning does not have to be by reading book, learning can be done by dialogue while eating relaxed. Learning does not have to sit in front of a desk, learning can be done by walking. Learning does not have to be “safe”, learning can be done by giving a sense of danger. The presence of this building is expected to improve the quality of life of the community, especially in terms of education in the Tanjung Duren and surrounding areas. Thus creating a better state life than before. AbstrakKehidupan Jakarta yang monoton antara rumah/ tempat pertama dan tempat kerja/ tempat kedua membutuhkan wadah untuk kita keluar dari rutinitas tersebut. Maka dari itu tempat ketiga (third place) hadir menjadi salah satu alternatif untuk menghilangkan kejenuhan yang ditimbulkan Jakarta. Third place yang baik adalah third place yang dapat memberikan dampak positif bagi penggunanya. Kebutuhan akan sarana belajar yang terbatas pada sekolah-sekolah mengakibatkan siswa merasa jenuh dan mencari tempat belajar lain. Oleh karena itu proyek yang diambil adalah sebuah wadah sosial berupa tempat belajar bagi siswa dan masyarakat. Tempat belajar ini tentunya akan menjadi wadah bagi siswa untuk belajar dan ruang bagi masyarakat untuk bersantai ataupun melakukan dialog sampai pelatihan. Pendekatan proyek ini ialah sharing dimana masyarakat dari berbagai kalangan dapat saling berbagi pengetahuan, sehingga masyarakat memperoleh ilmu bukan dengan cara membaca, tetapi dengan cara berdialog. Dalam perancangannya proyek ini  perancang menelisik kembali apa yang dimaksudkan dengan “belajar”. Proyek ini membawa segala macam metode belajar yang kita kenal menjadi satu kesatuan. Belajar tidak harus dengan membaca buku, belajar dapat dilakukan dengan berdialog sambil makan santai. Belajar tidak harus duduk di depan meja, belajar dapat dilakukan dengan berjalan. Belajar tidak harus dengan “aman”, belajar dapat dilakukan dengan memberikan rasa bahaya. Dengan hadirnya bangunan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat terutama dalam hal pendidikan di wilayah Tanjung Duren dan sekitarnya. Sehingga menciptakan kehidupan bernegara yang lebih baik dari sebelumnya.
KOMUNITAS LA PIAZZA Arnold Christianto Oenang; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6711

Abstract

Humans are social creatures who need the presence of others to complete their lives and have a place to do these activities. These needs are then the background for the formation of public space. With the changing times and technology, the need for a public space to do more and more activities. The space is referred to as the Third place by sociologist Ray Oldenburg. La Piazza is one place that can be called a Third place, but the place was closed because it was not going well. The purpose of this design is to reactivate the function of La Piazza as a Third place in Kelapa Gading. La Piazza Third place has a new design that emphasizes the concept of open architecture and architecture for the Third place as well as the concept of forests. so the design of the new building in addition to having spaces that are open to the public and community space, also gives the impression of being open and inviting as well as cool and calm. In this project, some existing structures in the old building were reused, such as basements, connectors to the parking building, connectors to the ivory coconut mall, and structures from the existing northern La Piazza building. There are 3 forest elements applied to buildings, namely water, greenery and sunlight. These 3 things can relax people with a lot of thoughts and stress about work, especially those who work in offices, according to Regent's University London research. Abstrak Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan kehadiran orang lain untuk melengkapi hidupnya dan memiliki tempat untuk melakukan aktifitas tersebut. Kebutuhan inilah yang kemudian yang menjadi latar belakang terbentuknya ruang publik. Dengan adanya perkembangan jaman dan teknologi, kebutuhan akan sebuah ruang publik untuk melakukan aktivitas semakin banyak. Ruang tersebut disebut sebagai tempat ketiga oleh sosiologis Ray Oldenburg. La Piazza merupakan salah satu tempat yang dapat disebut sebagai tempat ketiga, namun tempat tersebut ditutup karena kurang berjalan dengan baik. Tujuan desain ini untuk mengaktifkan kembali fungsi La Piazza sebagai tempat ketiga di Kelapa Gading. La Piazza Third place memiliki desain yang baru mengutamakan konsep open architecture dan architecture for the Third place juga konsep hutan. sehingga desain pada bangunan baru selain memiliki ruang - ruang yang terbuka untuk umum dan ruang komunitas, juga memberikan kesan terbuka dan mengundang serta sejuk dan tenang. Dalam proyek ini beberapa struktur eksisting pada bangunan lama digunakan kembali, seperti basement, konektor menuju gedung parkir, konektor menuju mall kelapa gading, dan struktur dari eksisting gedung La Piazza bagian utara.  Terdapat 3 elemen hutan yang diterapkan pada bangunan, yaitu air, tanaman hijau dan cahaya matahari. 3 hal tersebut dapat merelaksasi orang yang sedang banyak pikiran dan stress akan pekerjaan khususnya orang - orang yang bekerja di kantoran, menurut penelitian regent's university london.
RUANG PERTUNJUKAN SENI DI BLOK M Gary Cantonna Tamin; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6855

Abstract

As time goes by, people, especially in urban areas, tend to have individualistic characteristics due to their busy daily routines. Where most of the time spent at work, home or shopping centers. Humans as social creatures who should socialize and interact with others to meet social needs. To meet social needs in the current modern era, it takes a social container that can accommodate the activities of the surrounding community. So that people can meet with each other, socialize and also interact through these social media platforms. South Jakarta, precisely in the Blok M area, was known as a place for the gathering of young people of its time. However, at this time Blok M has begun to be abandoned by the community because other regions have more adequate gathering places. Blok M is an area that has a lot of art communities, such as street buskers, Japanese communities, contemporary music and much more. According to Richard Florida, creative people have the desire to do creative things and also get together with other creative people. This has a continuity where The Third place according to Ray Oldenburg, is a place where people can gather and interact with one another to meet their social needs. Blok M is an area that has a lot of art communities, such as street buskers, Japanese communities, contemporary music and much more. Blok M Performing Arts Space is present as the third space or "The Third place" and also as a place to show and hone creativity, where people can gather, interact and move with each other. This project is also intended as a forum for surrounding communities to interact with other communities and also can show their works to the wider community, so there is a reciprocal relationship between the community and the local community. Did not rule out the possibility of also triggering collaboration between these communities, thus bringing up a new and unique collaborative performing arts performance. Abstrak Seiring perkembangannya zaman, masyarakat khususnya di perkotaan cenderung memiliki sifat yang individualis dikarenakan rutinitas sehari-hari yang padat. Dimana sebagian besar waktu dihabiskan di tempat kerja, rumah ataupun pusat perbelanjaan. Manusia sebagai makhluk sosial yang seharusnya bersosialisasi dan berinteraksi dengan sesama untuk memenuhi kebutuhan sosial. Untuk memenuhi kebutuhan sosial di era modern saat ini, dibutuhkan wadah sosial yang dapat menampung aktivitas-aktivitas masyarakat sekitar. Sehingga masyarakat dapat saling bertemu, bersosialisasi dan juga berinteraksi melalui media wadah sosial tersebut. Jakarta Selatan, tepatnya di kawasan Blok M, dikenal sebagai tempat perkumpulan anak-anak muda pada zamannya. Namun, pada saat ini Blok M mulai ditinggalkan oleh masyarakat dikarenakan kawasan-kawasan lain mempunyai tempat berkumpul yang lebih memadai. Blok M merupakan kawasan yang memiliki banyak sekali komunitas seni, seperti pengamen jalanan, komunitas Jepang, musik kontemporer dan masih banyak lagi. Menurut Richard Florida, orang-orang kreatif mempunyai keinginan untuk melakukan hal-hal yang kreatif dan juga berkumpul dengan orang-orang kreatif lainnya. Hal ini mempunyai kesinambungan dimana The Third place menurut Ray Oldenburg, merupakan sebuah tempat dimana orang-orang dapat berkumpul dan saling berinteraksi untuk memenuhi kebutuhan sosial mereka. Blok M merupakan kawasan yang memiliki banyak sekali komunitas seni, seperti pengamen jalanan, komunitas Jepang, musik kontemporer dan masih banyak lagi. Ruang Pertunjukan Seni Blok M hadir sebagai ruang ketiga atau “The Third place” dan juga sebagai tempat untuk menunjukan dan mengasah kreatifitas , dimana masyarakat dapat berkumpul, berinteraksi dan beraktivitas dengan sesamanya.Proyek ini juga ditujukan sebagai wadah bagi komunitas-komunitas sekitar untuk berinteraksi dengan komunitas lainnya dan juga dapat menunjukan karya-karya mereka ke masyarakat luas, sehingga terjadi hubungan timbal balik antara masyarakat dengan komunitas setempat. Tidak menutup kemungkinan juga memicu timbulnya kolaborasi antara komunitas-komunitas tersebut, sehingga memunculkan sebuah karya pertunjukan seni kolaborasi yang baru dan unik. 
RUANG RAJUTAN KEBERAGAMAN MASYARAKAT PASAR BARU Veren Calisca; Fermanto Lianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6830

Abstract

Social space as a whole is defined not only through its physical aspect, but also the intangible culture and tradition of its people. The non-physical aspect is commonly known as Genius Loci or sense of place which is distinctive and unique in each different places. The identity of Genius Loci covers the groundwork principle of creating place as a meeting point for the creative class where they could interact with each other to generate ideas collectively as the foundation of creative economy, generating the development of an urban area. Space is surrounded by high density building in Pasar Baru area, which left the remaining negative space as third place.  Pasar Baru is one of the districts in Jakarta with such diversed cultural identity which is one of the main principle in creating the creative place. Unfortunately, the district’s popularity as one of the main shopping area in Jakarta had faded due to the significant growth of shopping malls as new economic centres of the city. Design is created based on observation method through activity sequence of Pasar Baru citizen and literature research of social space as third place. Through the presence of cultural diversity such as festivals, staple culinary, ethnicity, creative products, to architectural style, it is hoped to aid in revitalizing Pasar Baru not only as a shopping distric but as a creative economy hub as well through Socail Linkage of Pasar Baru Diversity as a third place.AbstrakRuang sosial tidak hanya sekedar terbentuk oleh aspek fisik belaka, namun juga memiliki aspek-aspek non-fisik yang terbentuk oleh aspek-aspek budaya dan keseharian masyarakatnya. Aspek non fisik tersebut dikenal sebagai Genius Loci atau Sense of Place yang bersifat unik di setiap kawasan yang berbeda. Identitas dari Sense of Place tersebut mengandung prinsip-prinsip pada pembentukan place sebagai tempat berkumpul masyarakat kreatif dimana mereka tak hanya bersosialisasi namun juga saling bertukar ide sebagai sumber daya ekonomi kreatif yang menjadi landasan perkembangan dari suatu kota. Namun, ruang-ruang yang terbentuk hanya menyisakan ruang sisa sebagai tempat berkumpul di antara padatnya bangunan. Ruang ketiga yang hadirpun terletak jauh dari jangkauan masyarakat lokal. Kawasan Pasar Baru merupakan salah satu lokasi di Jakarta dengan diversitas yang tinggi sebagai salah satu syarat terbentuknya creative place. Sebagai salah satu pusat ekonomi Jakarta, Pasar Baru kini telah kalah populer dengan pusat perbelanjaan modern. Kurangnya wadah bagi kegiatan kreatif masyarakat juga menghambat perkembangan ekonomi yang kini berfokus pada kreatitas. Melalui metode observasi terhadap sekuen aktifitas pelaku kegiatan di kawasan Pasar Baru serta literatur ruang sosial sebagai third place, maka ditransformasikan desain yang mencirikan keberagaman melalui Ruang Rajutan Keberagaman Masyarakat Pasar Baru sebagai sentra ekonomi yang berbasis kreatifitas masyarakat selaku third place bagi kawasan Pasar Baru.
TEMPAT BUDAYA PINANGSIA Kevin Wiranata; Lina Purnama
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6742

Abstract

An age where technology develop rapidly, the lifestyle of people began to shift to that of instantaneous gratification. Even though technology provides convenience and accessibility, at the same time it changes the mindset and behavior of the people into that of anti-social. The lack of interaction added up with high working demand in this 21st century may increase an individual’s stress levels. The existence of physical spaces to support social activity is undeniably minimal. Gadgets may create virtual spaces for people to communicate but they fail to make rapport between one individual and the other. Since the past decades, culture had been one of the activities which brought people and communities together. Culture defines activities which are done in routine thus becomes habits and eventually becomes the community’s character. The occurring social activities gave birth to spaces either physical or non-physical which may support the social needs of the people. Up to this day, people tend to have third activities which they done to get rid of working exhaustion. Pinangsia Cultural Place is a place for people to socially interact with each other with the means of cultured daily activities. The method of design applied is pattern language. The main programs of Pinangsia Cultural Place include food court, karaoke, workshop, and common space for people to hangout, procuring event, physical exercises, etc. Not only does this tends to the needs of local community, Pinangsia Cultural Place is convivially open for outsiders who seek joy and rest.  AbstrakMasa dimana kemajuan teknologi berkembang dengan pesat, gaya hidup masyarakat berubah ke arah serba instan. Walau teknologi memberikan kemudahan, namun di saat yang bersamaan mengubah pola pikir dan sikap masyarakat menjadi cenderung anti-sosial. Kurangnya interaksi ditambah dengan tuntutan kerja yang semakin tinggi di abad 21 dapat meningkatkan stress pada individu. Keberadaan wadah fisik untuk menunjang aktivitas sosial pun juga kurang. Gadget menciptakan sebuah ruang virtual untuk berkomunikasi namun tidak dapat mendekatkan pribadi secara langsung. Sejak zaman dahulu, budaya menjadi salah satu kegiatan yang membawa masyarakat atau komunitas dalam kebersamaan. Budaya adalah aktivitas yang dilakukan terus menerus secara rutin hingga menjadi sebuah kebiasaan kemudian menjadi karakter dari lingkungan tersebut. Aktivitas yang terjadi melahirkan ruang baik secara fisik maupun non-fisik yang dapat menunjang kebutuhan sosial masyarakat di dalamnya. Hingga saat ini, masyarakat di tengah pekerjaan masing-masing memiliki aktivitas selingan yang mereka lakukan untuk mencari hiburan di tengah kepenatan. Tempat Budaya Pinangsia adalah wadah untuk masyarakat saling berinteraksi sosial dengan berdasarkan pada aktivitas sehari-hari yang melibatkan seni dan budaya. Metode perancangan yang digunakan adalah bahasa pola. Program utama Tempat Budaya Pinangsia meliputi tempat makan dan bermain, tempat karaoke, workshop, dan common space untuk hangout, pengadaan acara, latihan fisik, dll. Tidak hanya terbatas untuk warga lokal, Tempat Budaya Pinangsia juga terbuka untuk pengunjung dari luar kawasan yang mencari kesenangan dan istirahat.
WADAH KOMUNITAS DAN REKREASI DI KELURAHAN GUNTUR, JAKARTA SELATAN Mega Dwi Kusumawati; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6884

Abstract

Human is social creatures who need a place to gather, communicate, interact, socialize, and act both with others and with their environment. In carrying out its activities besides the first place (residence/house) and second place (office/school) a physical setting is required in the form of public space that can support these social needs. Ray Oldenberg defines public space as a third-place that functions as a special place outside the residence and office. Cities must be able to provide public space that can be accessed by their people regardless of their social, culture or economic level. The existence of stratification or social levels that are spread in the middle of society often hampering interaction and communication between one individual and the other. Therefore this study aims to produce a design concept, a third place that can be a place of interaction, recreation, and potential development for various layers of society, especially for the community/residents in Guntur District and people who every day carry out activities in the area (second place) so that in the and it can collaborate and advance the community’s economy. Using the Transprogramming design method. The building is designed by combining two main programs that have the opposite spatial nature: community activity zone and recreation zone. The Result of the study was a third-place design concept in Guntur District, South Jakarta.   AbstrakManusia adalah makhluk sosial yang memerlukan tempat untuk berkumpul, berkomunikasi, berinteraksi, bersosialisasi, dan beraktualisasi baik dengan sesama maupun dengan lingkungannya. Dalam menjalankan aktivitasnya selain first place (tempat tinggal/rumah) dan second place (tempat kerja/sekolah) diperlukan suatu setting fisik berupa ruang publik yang dapat menunjang kebutuhan sosial mereka. Ray Oldenberg (1997) mendefinisikan ruang pubik sebagai third place (ruang ketiga) yang berfungsi sebagai tempat khusus di luar tempat tinggal dan tempat bekerja. Kota harus dapat menyediakan ruang publik seperti third place yang bisa diakses oleh masyarakatnya tanpa memandang status sosial, budaya, ataupun tingkat ekonominya. Adanya stratifikasi atau tingkatan sosial yang tersebar di tengah masyarakat, seringkali menghambat interaksi dan komunikasi antar individu satu dengan individu lainnya. Oleh karena itu, kajian ini bertujuan untuk menghasilkan konsep perancangan sebuah third place yang dapat menjadi wadah interaksi, rekreasi, dan pengembangan potensi bagi berbagai lapisan masyarakat, khususnya komunitas/warga penghuni Kelurahan Guntur dengan orang-orang yang setiap harinya melakukan aktivitas di kawasan tersebut (second place) sehingga pada akhirnya dapat berkolaborasi dan memajukan perekonomian masyarakat sekitar. Metode perancangan third place ini menggunakan pendekatan teori Transprogramming dari Bernard Tchumi. Bangunan dirancang dengan menggabungkan dua program utama yang memiliki sifat ruang bertolak belakang: zona kegiatan komunitas dan zona rekreasi. Hasil kajian ini berupa konsep perancangan third place di Kelurahan Guntur, Jakarta Selatan.
TEMPAT HIBURAN EKSPRES UNTUK DOMESTIK Blandina Sherin; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6778

Abstract

Indonesia has an area of 75% by sea and 25% by land, making Maritime the strongest axis of the Indonesian state. However, the Indonesian are not corcern enough to the natural habitat of the underwater, it becomes the main problem of Sea Tourism in some areas of Indonesia are less developed. Therefore, how can architecture accommodate the activities of Indonesian tourism, especially in the maritime field. In this case, there is Muara Angke, where there is a tour to Seribu Island via Kaliadem Port, but the facilities at the Port are inadequate so that visitors feel uncomfortable using the Port and lack of interest in visiting Maritime Tourism.  Therefore, to resolve this case, facilities are needed to increase interest and also increased visitors to the Kaliadem Port, the design began by the criteria of Third Place by written by  Ray Oldenburg, one of which is ‘The Mood is Playful’, the final result of the design provided for visitors of the Port to Have Fun and have a nice social interaction while waiting for the schedule to aboard and also as a place to rest a while after returning from the trip. Abstrak Indonesia memiliki luas wilayah dengan dominasi 75% lautan dan 25% darat menyebabkan Maritim menjadi poros terkuat negara Indonesia. Namun kekurangpedulian masyarakat Indonesia akan kekayaan alam bawah laut menjadi masalah utama Wisata Laut dibeberapa titik Indonesia kurang berkembang. Oleh karena itu bagaimana Arsitektur dapat mewadahi kegiatan dan kemajuan Pariwisata Indonesis khususnya dibidang Maritim. Pada kasus ini, terdapat di Muara Angke, dimana terdapat Wisata menuju Pulau Seribu melalui Pelabuhan Kaliadem, namun fasilitas di Pelabuhan yang tidak memadai sehingga pengunjung merasa tidak nyaman untuk menggunakan Pelabuhan dan minat untuk mengunjungi Wisata Maritim kurang. Maka dari itu untuk menyelesaikan kasus ini, diperlukan sarana yang dapat menambah minat dan juga kenyamanan Pengunjung Pelabuhan Kaliadem, pendekatan desain melalui kriteria Tempat Ketiga oleh Ray Oldenburg, salah satunya adalah ‘Perasaan yang Menyenangkan’, hasil akhir dari desain adalah wadah bagi Pengunjung Pelabuhan untuk bersenang-senang dan dapat berinteraksi satu sama lain sembari menunggu jadwal keberangkatan dan juga sebagai tempat beristirahat sejenak setelah berpulang kembali.  

Page 9 of 10 | Total Record : 99