cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 132 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER" : 132 Documents clear
STUDI KEBERHASILAN PENGELOLAAN OBJEK WISATA TAMAN TEBING BREKSI BERBASIS COMMUNITY BASED TOURISM (CBT) OLEH MASYARAKAT DESA SAMBIREJO, KABUPATEN SLEMAN Maria Gratia Plena Mervelito; Parino Rahardjo; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8880

Abstract

At present, the tourism sector is a sector that is quite potential to be developed in Indonesia, because it is considered to have a positive impact as a driver of economic activity in this country. In addition, the development of tourism objects is also expected to be able to improve the economy of the surrounding community and educate the public to be able to develop their own area. Taman Tebing Breksi in Sleman Regency, Yogyakarta is one of the objects that has a tourism potential that was successfully managed by using the concept of Community Based Tourism (CBT) by the people of Sambirejo Village. Not yet known the factors that determine success in management are problems that occur in the management of the Taman Tebing Breksi. The main objective of this research is to analyze the factors of success in managing the Taman Tebing Breksi tourism object that applies the concept of Community Based Tourism (CBT). The concept of CBT is one way to create a sustainable tourism industry in an area, where local community participation is needed in developing tourism objects so that the management is successful. This research is a descriptive study with a combination of qualitative and quantitative approaches. Quantitative data collection is done by conducting field surveys to tourist sites and in-depth interviews with related parties, while for collecting qualitative data is done by filling out questionnaires by visitors. From this study the results will be obtained in the form of factors that influence the success in the management of Breksi Cliff Park attractions. Keywords: Breksi Cliff Park; Community Based Tourism Management; Geopark Tourism; Success Criteria AbstrakSaat ini, sektor pariwisata merupakan sektor yang cukup potensial untuk dikembangkan di Indonesia, karena dianggap membawa dampak positif sebagai penggerak aktivitas perekonomian di negara ini. Selain itu, berkembangnya objek-objek wisata diharapkan juga mampu meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitarnya dan mengedukasi masyarakat untuk dapat mengembangkan daerahnya sendiri. Taman Tebing Breksi di Kabupaten Sleman, Yogyakarta adalah salah satu objek yang memiliki potensi wisata yang berhasil dikelola dengan menggunakan konsep Community Based Tourism (CBT) oleh masyarakat Desa Sambirejo. Belum diketahuinya faktor-faktor yang menentukan keberhasilan dalam pengelolaan merupakan permasalahan yang terjadi dalam pengelolaan objek wisata Taman Tebing Breksi. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor keberhasilan pengelolaan objek wisata Taman Tebing Breksi yang menerapkan konsep Community Based Tourism (CBT). Konsep CBT merupakan salah satu cara untuk menciptakan industri pariwisata berkelanjutan di suatu daerah, dimana partisipasi masyarakat setempat dibutuhkan dalam mengembangkan objek wisata sehingga pengelolaanya berhasil. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan kombinasi pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan dengan melakukan survey lapangan ke lokasi wisata dan wawancara mendalam (in-depth interview) dengan pihak terkait, sedangkan untuk pengumpulan data kualitatif dilakukan dengan pengisian kuesioner oleh pengunjung. Penelitian ini mendapatkan hasil berupa faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam pengelolaan objek wisata Taman Tebing Breksi.
WADAH HIBURAN, INOVASI DAN EDUKASI TATABOGA TAHU TEMPE DI SEMANAN Gabriella Gabriella; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8523

Abstract

Even thought the level of consumption of tahu tempe is very high, and Indonesia is currently the largest tahu and tempe producer country in the world, but the tahu tempe craftsmen still experiencing problems with fluctuating soybean raw material prices, while the selling price of their products tends to remain, so that the welfare of the tahu tempe craftsmen in DKI Jakarta, is difficult to increase. This also happened to tahu tempe craftsmen in Tahu Tempe Village in Semanan, West Jakarta. This study aims to improve the ability of tahu tempe craftsmen in Semanan by providing a research and development place for tahu and tempe products, marketing assistance and an educational place for related communities, in addition to being able to provide a place for social interaction for local communities from a variety of social, economic and cultural backgrounds to form a community that has character, united and sustainable. As the third place in Semanan, the site was chosen between the residential neighborhood (first place) and the agriculture, industrial, and trade area (second place) with easy accessibility of the two regions. The design method refers to the Responses to Site approach, with the processing of the design prioritizing the principle of porosity which is one aspect of open architecture. This study resulted in concept and design of the third place building with three main facilities, namely community center consisting of a communal space for socializing and interacting visitors and a food research and development kitchen for a means of innovating and developing food products from tempe and tofu, public outdoor space that is used for playing activities, exercising and organizing various events, as well as food market that sells tempe and tahu based foods. Keywords: craftsmen; inovation; porosity; tahu tempe AbstrakMeskipun tingkat konsumsi tahu tempe sangat tinggi, dan Indonesia saat ini menjadi negara produsen tahu dan tempe terbesar di dunia, namun para pengrajin tahu tempe masih mengalami permasalahan dengan harga bahan baku kedelai yang fluktuatif, sementara harga jual produknya cenderung tetap, sehingga kesejahteraan para pengrajin tahu tempe di DKI Jakarta, sulit meningkat. Hal ini juga terjadi di Perkampungan Pengrajin Tahu Tempe di Semanan, Jakarta Barat. Studi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pengrajin tahu tempe di Semanan melalui penyediaan wadah riset pengembangan dan inovasi produk olahan tempe dan tahu, bantuan pemasaran dan wadah edukasi bagi komunitas terkait, di samping dapat menyediakan wadah interaksi sosial bagi masyarakat lokal dari berbagai macam latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya agar terbentuk komunitas yang berkarakter, menyatu dan berkelanjutan. Sebagai third place, tapak yang akan menjadi kasus studi ini berada di antara kawasan perumahan (first place) dan kawasan pertanian, industri, dan perdagangan (second place) dengan aksesibilitas yang mudah dari kedua kawasan tersebut. Metode desain mengacu pada pendekatan Responses to Site, dengan pengolahan desainnya mengutamakan prinsip porositas yang menjadi salah satu aspek dalam open architecture. Studi ini menghasilkan konsep dan perancangan bangunan third place dengan tiga fasilitas utama, yaitu community center yang terdiri dari ruang komunal untuk bersosialisasi dan berinteraksi pengunjung dan dapur food research and development untuk sarana berinovasi dan pengembangan produk makanan dari tempe, ruang terbuka publik yang difungsikan untuk kegiatan bermain, berolahraga dan penyelenggaraan berbagai event, serta food market yang menjual makanan berbasis tempe dan tahu.
STUDI INTEGRASI WISATA RELIGIUS DAN WISATA BAHARI (OBJEK STUDI: KAWASAN BANTEN LAMA DAN PELABUHAN KARANGANTU) Rizky Adhitya Pradani; Suryono Herlambang; Suryadi Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8951

Abstract

The Old Banten City and Port of Karangantu are located in Kasemen District, Serang City and are the remnants of the Sultanate of Banten in Java. This area was once the center of civilization and international trade in Java. The Old Banten City itself is currently the main tourist attraction in the City of Serang with the Banten Grand Mosque being the religious tourism destination in the City of Serang. In 2017, the number of tourists visiting the Banten Grand Mosque reached 1.7 million people. Its fate is vastly different from the Port of Karangantu which is currently not well developed as The Old Banten City. Whereas Karangantu itself has the potential for marine tourism with its natural products and access to marine tourism objects in the vicinity. Although there is a historical link between Banten Lama and Port of Karangantu, there is currently a developmental imbalance between the two objects, where the Old Banten City is much more developed than Karangantu Harbor. The purpose of this study is to propose any aspects that can be integrated from Religious Tourism in Banten Lama and Maritime Tourism in Port of Karangantu. This Research use qualitative descriptive methodology. The analysis used is policy analysis, location and site analysis, historical value analysis, tourist attraction analysis, tourism integration analysis. The results of this analysis are the discovery of two aspects that can be integrated for Tourism in The Old Banten City and Karangantu, namely accessibility and atmosphere between The Old Banten City and Karangantu. Keywords: integrated tourism; maritime tourism; Old Banten City; Port of Karangantu; religious tourism  AbstrakKawasan Banten Lama dan Pelabuhan Karangantu terletak di Kecamatan Kasemen, Kota Serang dan merupakan bekas peninggalan Kesultanan Banten di Pulau Jawa. Dahulu Kawasan ini menjadi pusat peradaban dan perdagangan internasional di Pulau Jawa. Kawasan Banten Lama sendiri saat ini menjadi daya tarik wisata utama di Kota Serang dengan adanya Masjid Agung Banten yang menjadi destinasi Wisata Religi di Kota Serang. Bahkan pada tahun 2017, jumlah Wisatawan yang berkunjung ke Masjid Agung Banten mencapai 1,7 Juta orang. Berbeda nasibnya dengan Kawasan Pelabuhan Karangantu yang saat ini tidak berkembang sepesat Banten Lama. Padahal Pelabuhan Karangantu sendiri memiliki potensi wisata bahari dengan hasil alamnya dan akses ke objek wisata bahari di sekitarnya. Walaupun adanya keterkaitan sejarah antara Banten Lama dan Pelabuhan karangantu namun saat ini terjadi ketimpangan perkembangan antar kedua objek ini, dimana daerah Banten Lama jauh lebih berkembang daripada Pelabuhan Karangantu. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan usulan faktor-faktor yang dapat di integrasikan dari Wisata Reliji di Banten Lama dan Wisata Bahari di Pelabuhan Karangantu. Menggunakan metodologi deskriptif kualititatif. Analisis yang digunakan yaitu analisis kebijakan, analisis lokasi dan tapak, analisis nilai sejarah, analisis daya tarik wisata, analisis integrasi wisata. Hasil dari analisis ini adalah ditemukannya dua unsur yang dapat dipadukan untuk Pariwisata Banten Lama dan Karangantu yang lebih terpadu yaitu aksesibilitas antar objek wisata dan suasana.antar objek wisata.
FASILITAS OLAHRAGA INTERAKTIF DI RAWA BUNGA Jessica Jessica
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8549

Abstract

Rawa Bunga population is constantly increased as time goes by. The increasing population in Rawa Bunga is leading to a change in land-use planning. The initial planning which create a balance between commercial and housing is forced to change into domination of housing. Although the housing community is constantly increased, but the government didn’t increased the community facility or third place in Rawa Bunga. This condition is causing a huge problem for the community to satisfy their daily basic needs. Even more, they started to occupy every vacant place for their activity and making problems for other people. The objective of this design is making a third place for the community of Rawa Bunga that can help them to socialize and interact with each other. The design method is divided into two parts, the first part is collecting data from observation, urban study, and analysis. The second part is start from the program and follow the theory of activity tipology. The design idea is a community facility or third place for interactive sport, sport and interactive technology is chosen because the community in Rawa Bunga loves sports. In addition, the third place will inserted by Betawi culture to introduce the genius loci of Rawa Bunga. Keywords:  interactive sports; Rawa Bunga; Third Place AbstrakKelurahan Rawa Bunga memiliki jumlah penduduk yang selalu meningkat seiring berjalannya waktu. Peningkatan jumlah penduduk yang terjadi berdampak kepada perubahan fungsi lahan yang tidak semestinya seperti Rancangan zonasi awal yang mempunyai komposisi yang seimbang antara komersial dan hunian. Tetapi pada kenyataannya, fungsi lahan yang ada didominasi oleh hunian. Walaupun fungsi hunian bertambah, tetapi tidak diiringi pertambahan third place yang memadai. Akibatnya adalah masalah beruntun berupa kebutuhan dasar manusia yang tidak terpenuhi. Dampak yang dihasilkan adalah pelaksanaan aktivitas masyarakat di tempat – tempat yang tidak semestinya sebagai ganti fasilitas lingkungan yang tidak memadai. Tujuan dari perancangan ini adalah berusaha memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di Kelurahan Rawa Bunga akan aktivitas penunjang seperti sosialisasi dan interaksi baik antar manusia maupun dengan lingkungannya melalui third place. Metode Perancangan yang dipakai dibagi menjadi dua tahap, pertama tahap pencarian data dengan metode empiris yaitu observasi, studi kota dan analisis. Tahap kedua, Tahap perancangan dimulai dari hasil yang didapat dari analisis berupa program. Program akan diolah dengan pendekatan metode desain tipologi kegiatan. Ide dari perancangan ini adalah fasilitas lingkungan atau third place dengan aktivitas olahraga yang memakai teknologi interaktif untuk membantu proses sosialisasi dan interaksi baik antar manusia maupun dengan lingkungannya. Olahraga dipilih karena masyarakat di Rawa Bunga senang dengan aktivitas yang bersifat olahraga dan tidak lupa juga disisipi elemen kebudayaan Betawi untuk memperkenalkan genius loci kawasan Rawa Bunga.
STUDI PERKEMBANGAN LAHAN TERBANGUN SERTA KESESUAIAN Ilham Nabawi; Liong Ju Tjung; I.G. Oka Sindhu Pribadi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8869

Abstract

Bogor Regency is an urban area located in West Java Province, with a total administrative area of 293,968 Ha. Bogor Regency included in the National Strategic Region (NSR) plan. Based on Presidential Regulation No. 56 of 2008 about JABODETABEKPUNJUR Space Arrangement, it is established that Bogor Regency has the primary function as water and land conservation area. The establishment of Bogor Regency as water and land conservation area was based on a rather high area topography. For example, the Ciawi Sub-district located on the southern part of Bogor Regency has an estimated topography of 1,500 meters above sea level. Hence, Bogor Regency is the upstream part of the below areas (downstream). Following the establishment of Bogor Regency as water and land conservation area and its higher topography, the control and usage of developed land have to be the main focus for associated regional government. This study aimed to look at developed areas development since 1994 until 2019 with the study time range per 10 years and see whether the existing 2019 condition followed the applied Urban Planning policy. This study needed primary data of recorded satellite images from 1994, 2004, 2014, and 2019 using the remote sensing method. Based on the conducted study, the development of developed areas in Bogor Regency is 3% on average per year and tend to follow the infrastructure development, especially in the eastern part of Bogor Regency. As for the suitability, the comparison of the existing condition with the applied Urban Planning shows that the suggested area percentage is under control. Keywords: development land, remote sensing, RTRWAbstrakKabupaten Bogor merupakan salah satu wilayah perkotaan yang terdapat di Provinsi Jawa Barat, dengan luas total wilayah administrasi 293,968 Ha. Kabupaten Bogor termasuk ke dalam perencanaan Kawasan Strategis Nasional (KSN). Berdasarkan peraturan Presiden (PP) no.56 Tahun 2008 mengenai Penataan Ruang JABODETABEKPUNJUR ditetapkan bahwa Kabupaten Bogor mempunyai fungsi utama sebagai daerah konservasi bagi air dan tanah. Penetapan Kabupaten Bogor sebagai daerah konservasi air dan tanah bukan tanpa sebab, secara geografis memiliki topografi cukup tinggi, contohnya Kecamatan Ciawi yang terdapat dibagian selatan Kabupaten Bogor memiliki kisaran topografi yaitu ± 1.500 mdpl sehingga dapat dikatakan Kabupaten Bogor merupakan daerah hulu bagi daerah yang lebih rendah (hilir). Dengan ditetapkannya sebagai daerah konservasi air dan tanah serta juga merupakan wilayah yang memiliki topografi lebih tinggi bagi sekitarnya, pengendalian serta penggunaan lahan terbangun juga harus menjadi fokus utama bagi pemerintah daerah terkait. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perkembangan lahan terbangun sejak tahun 1994 hinggga tahun 2019 dengan rentan waktu peneitian dibagi menjadi setiap 10 tahun, serta melihat apakah kondisi eksisting 2019 sudah seuai dengan kebijakan RTRW yang berlaku atau tidak. Pada penelitain ini akan dibutuhkan data primer berupa citra satelit perekaman tahun 1994,2004,2014, dan 2019 dengan menggunakan metode remote sensing. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, terdapat faktwa bahwa pertumbuhan lahan terbangun yang terjadi diwilayah Kabupaten Bogor rata-rata sebesar 3%/tahun dan cenderung mengkuti perkembangan infrastruktur jalan khususnya wilayah timur dari Kabupaten Bogor, sedangkan untuk kesesuaianya, kondisi eksisting dibandingkan dengan rencana RTRW yang berlaku presentase luas yang dianjurkan masih dalam kondisi cukup terkontrol.
TEMPAT PENGEMBANGAN GRIT Hans Jonathan; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8591

Abstract

One of the problems in human life is individualism. This is because humans spend too much time at work and at home, so they rarely do social activities, along with the existence of social media that causes people to socialize with each other. This particular problem will be discussed in "Open Architecture as Third Place" project, which discusses how to create a third place as a place for people to socialize with each other and also as a public information space. The issue raised in this project is about "Grit" where people can learn how to grow grits within themselves to achieve the goals they want to achieve in the future. The project location is on Jalan Tanjung Duren Utara. This site is quite strategic for this third place project because it is close to First Place and Second Place where this project can become a permeability. This third place project is wished for people to be able to grow grits in themselves so that they can achieve their goals in their lives and can achieve their life goals that they have set. The method used in research is Field Survey, Literature Study, and Precedent Study. The results obtained are the design of the building as a "Grit Improvement Space". The main program in this project is the Experimental Room, Workshop, and Exhibition along with the supporting programs namely Co-Working Space, Library, and Late Night Street Food. Keywords: grit; human; permeability; social  AbstrakPermasalahan dalam kehidupan manusia salah satunya individualisme. Hal ini disebabkan karena manusia terlalu banyak menghabiskan waktunya di tempat kerja dan di rumah, maka orang akan jarang sekali melakukan kegiatan sosial. Dengan adanya media sosial juga menyebabkan manusia bersosialisasi satu sama lain. Permasalahan utama yang akan dibahas di proyek ini adalah "Open Architecture sebagai Third Place" yang membahas bagaimana cara menciptakan tempat ketiga sebagai tempat untuk manusia saling bersosialisasi satu sama lain dan juga sebagai tempat publik informasi. Isu yang diangkat dalam proyek ini adalah mengenai "Grit" dimana orang dapat belajar cara menumbuhkan grit di dalam dirinya untuk mencapai goals yang mereka ingin capai di masa depan. Lokasi proyek berada di Jalan Tanjung Duren Utara. Tapak ini cukup strategis untuk proyek third place ini karena berdekatan dengan First Place dan Second Place sehingga proyek ini dapat menjadi rembesan (permeabilitas). Di proyek third place ini diharapkan orang bisa menumbuhkan grit dalam dirinya sehingga mereka bisa mencapai targetnya dalam hidup mereka dan dapat mencapai tujuan hidupnya yang telah mereka tentukan.  Metode yang digunakan dalam penelitian adalah Survey Lapangan, Studi Literatur, dan Studi Preseden. Hasil penelitian yang didapatkan adalah perancangan bangunan sebagai "Tempat Pengembangan Grit". Program utama dalam proyek ini adalah Experimental Room, Workshop, dan Pameran. Lalu juga ada program pendukung yaitu Co - Working Space, Library, dan Late Night Street Food.
EVALUASI PERENCANAAN TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT (TOD) STASIUN MRT FATMAWATI KECAMATAN CILANDAK, KOTA JAKARTA SELATAN Timothy Julio; Ju Tjung Liong; I.G. Oka Sindhu Pribadi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8850

Abstract

According to the Jakarta BPS (2019), population density in the Jakarta area has reached an average of 15,938 people/km2 in 2019. Such population density creates a population mobility of up to 1.2 million people per day based on the results of the 2019 Jabodetabek Commuter Survey. Therefore, the DKI Jakarta Provincial Government has collaborated with the Jakarta MRT to start making an Urban Design for Mass Rapid Transit (MRT). In the construction of 13 MRT stations, the government needs to think about how the concept of the Integrated Transit Area (TOD) will be formed in the area around the station. The MRT project was completed on March 24, 2019. One of the DKI Jakarta Provincial Government's planning concepts applied is the MRT Fatmawati TOD area with the gateway concept, which is a system of integration of the city transportation mode with a feeder system to the origin's central area that is outside the initial transit point development area. After one year has passed, the Fatmawati MRT area needs to be evaluated based on indicators set by the Government and local NGOs to measure the feasibility of the Fatmawati MRT function as a gateway TOD area and whether the TOD policy itself is appropriate for the integrated Fatmawati MRT area. Keywords:  Transit Oriented Development; Feasibility; MRT FatmawatiAbstrakMenurut BPS Jakarta (2019), kepadatan penduduk di daerah Jakarta sudah sampai dengan rata-rata 15.938 jiwa/km2 pada tahun 2019. Kepadatan penduduk demikian menciptakan mobilitas penduduk sampai dengan 1,2 juta orang per hari berdasarkan hasil Survei Komuter Jabodetabek 2019. Untuk itu. Pemprov DKI Jakarta telah bekerjasama dengan MRT Jakarta untuk mulai membuat Perancangan Kota (Urban Design) untuk sistem angkutan massal yang bernama Mass Rapid Transit (MRT). Dalam pembangunan 13 stasiun MRT, pemerintah perlu memikirkan bagaimana konsep Kawasan Transit Terpadu (TOD) yang akan terbentuk pada kawasan sekitar stasiun. Proyek MRT ini selesai dibangun pada tanggal 24 Maret 2019 dan menjadi jawaban untuk mewadahi mobilitas penduduk yang tinggi. Salah satu konsep perencanaan Pemprov DKI Jakara yang diterapkan yaitu pada kawasan TOD MRT Fatmawati dengan konsep gateway, yaitu sistem integrasi jaringan moda transportasi kota dengan sistem feeder ke area pusat origin yang berada di luar area pengembangan titik transit awal, mengembangkan fungsi yang dapat mengakomodasikan aktivitas live-play-work, yang berfungsi sebagai daerah ‘origin’, dan mengembangkan sarana parkir komunal untuk fasilitas park and ride. Setelah satu tahun berlalu, kawasan MRT Fatmawati perlu dievaluasi berdasarkan indikator yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah dan LSM setempat untuk mengukur kelayakan fungsi MRT Fatmawati sebagai kawasan TOD gateway dan apakah kebijakan TOD itu sendiri sudah sesuai terhadap kawasan terpadu MRT Fatmawati. 
RUANG PEREDA STRESS DI MAPHAR Michelle Aurellia Santhonie; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8630

Abstract

individualistic characteristics, and are more sensitive to their personal space. This happens because of their lack of need for other people around them. All are available on a gadget or smartphone, they can send messages, buy goods, find information, with more easily and practically. The state of the city has also become functionalist, where people only have functional activities without thinking about elements such as interacting or socializing. In fact the workers go to work and will go straight home, then spend time watching television or just relaxing at home to relieve stress. These problems occur in the metropolitan city of Jakarta and are becoming increasingly complex, due to unequal social welfare that occurs in the community, as happened in Maphar Village, Taman Sari, West Jakarta. This area was indeed from the Dutch era dominated by people of Chinese descent who worked as traders. In this area the conditions and situation of the house were so tight that there was no room for reforestation or a place to relax. This is where the task of an architect which can provide an activity space for the community in the form of a third space as a solution  in healing people with stress disorders. With the third room that is presented in the design of a building, by providing programs or facilities that are appropriate, and appropriate to the problem of stress by creating a stress relief room in the form of an outdoor classroom aimed at providing education and workshops for children and adults, Studio training, and the creative stage as a forum for the community to channel their talents and interests in the arts, mediatech library as a place for children to get positive space for learning, and other supporting programs. Keywords:  interaction; stress; third place; tightAbstrakPesatnya perkembangan teknologi, masyarakat yang hidup di zaman modern ini cenderung memiliki sifat yang individualis, dan lebih sensitif terhadap personal space-nya. Hal ini terjadi karena rasa ketidakbutuhan mereka terhadap orang lain yang ada di sekitarnya. Semua sudah tersedia di gadget atau smartphone, mereka bisa mengirim pesan, membeli barang, mencari informasi, dan lainnya dengan mudah dan praktis. Keadaan kota juga menjadi fungsionalis, dimana masyarakat hanya beraktivitas secara fungsional tanpa memikirkan elemen seperti berinteraksi atau bersosialisasi. Kenyataannya para pekerja pergi bekerja dan akan langsung pulang ke rumah, kemudian menghabiskan waktu dengan menonton televisi atau hanya bersantai di rumah untuk menghilangkan stres. Permasalahan-permasalahan tersebut terjadi di kota metropolitan Jakarta dan menjadi semakin kompleks, karena tidak meratanya kesejahteraan sosial yang terjadi di masyarakat, seperti yang terjadi di Kelurahan Maphar, Taman Sari, Jakarta Barat ini. Kawasan ini memang dari zaman Belanda didominasi oleh orang-orang keturunan Tionghoa yang bekerja sebagai pedagang. Di daerah ini kondisi dan situasi rumahnya pun sangat rapat sampai tidak ada ruang untuk penghijauan atau tempat bersantai. Disinilah tugas seorang arsitek yang mana dapat memberikan ruang aktivitas untuk masyarakat berupa ruang ketiga sebagai solusi dalam penyembuhan terhadap masyarakat dengan gangguan stres. Dengan ruang ketiga yang dihadirkan dalam rancangan sebuah bangunan, dengan memberikan program atau fasilitas yang sesuai, dan tepat terhadap masalah stres dengan menciptakan sebuah ruang pereda stres berupa outdoor classroom yang bertujuan memberi edukasi dan workshop bagi anak-anak maupun orang dewasa, Pelatihan sanggar, dan panggung kreasi sebagai wadah masyarakat menyalurkan bakat dan minat di bidang seni, mediatech library sebagai tempat anak-anak mendapat ruang positif untuk belajar, dan program pendukung lainnya.
Wadah Seni Kolektif Senen Samuel Axel Widjaya; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8511

Abstract

A 3rd place acts as an vital place in our daily life, aside from home as the 1st place or workplace as the 2nd place. 3rd place is a neutral public space, often seen as an alternative for some people. Everyone is welcome to visit and to do lots of activities on it. A 3rd place doesn’t have a fixed form, it can be anything the community around it needs it to be.Kawasan Senen was known as the centre of trade and art since forever. It can be seen from its history that became the birthplace of some of the finest artists in Indonesia. When Taman Ismail Marzuki was built on November 10th, 1968, the value of art in Kawasan Senen began to fade. But as time goes by, the value of art in Kawasan Senen begins to rise again. This event can be seen by the rise of art activities around Kawasan Senen such as Wayang Orang Bharata Purwa show that runs every Saturday, the free traditional dance classes that were held by Museum Kebangkitan Nasional and the emergence of Komunitas Planet Senen (KOPS) that actively trying to reintroduce the value of art to the Senen community. Senen Collective Art Space project was built on the hope to become the 3rd place to the community as well as providing and strengthening the value of Kawasan Senen. Keyword: Art in Senen; Collective Art; Neutral Public Space; Third Place AbstrakThe 3rd place merupakan tempat penting yang dibutuhan masyarakat, selain dari rumah sebagai the 1st place maupun tempat kerjanya sebagai 2nd place. 3rd place adalah ruang publik yang netral, sebagai tempat alternatif. Setiap orang dapat berkunjung dan melakukan berbagai aktivitas. Sebuah 3rd place dapat memiliki bentuk yang beragam, namun nyaman untuk beraktivitas sesuai dengan kehidupan dan budaya masyarakatnya. Kawasan Senen sejak dahulu dikenal sebagai pusat perdagangan dan kesenian yang cukup ramai. Hal ini dapat dilihat dari sejarah kawasannya yang menjadi tempat lahir beberapa seniman terkenal tanah air. Dibangunnya Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 10 November 1968 membuat  nilai seni di Kawasan Senen ini sempat luntur. Namun seiring waktu, nilai seni dari Kawasan Senen mulai kembali naik. Hal ini ditandai dengan beberapa aktivitas berunsur seni yang mulai dilaksanakan kembali di Kawasan ini seperti pertunjukan Wayang Orang Bharata Purwa yang rutin diadakan setiap hari Sabtu sampai kursus menari tradisional yang diadakan secara gratis oleh Museum Kebangkitan Nasional dan juga munculnya Komunitas Planet Senen (KOPS) yang kerap berusaha memperkenalkan unsur seni kepada masyarakat Senen. Proyek Wadah Seni Kolektif Senen ini bertujuan untuk menjadi wadah 3rd place bagi warga serta memfasilitasi dan memperkuat kembali unsur seni di Kawasan Senen ini.
REVITALISASI GLODOK SEBAGAI TEMPAT BERSOSIALISASI KOMUNITAS MASYARAKAT TIONGHOA Sharen Sharen; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8504

Abstract

Glodok Pancoran is one of the areas in DKI Jakarta that has high economic and cultural values in the Netherlands, colonizing Indonesia until now. Glodok Pancoran, known as the center of typical Chinese and Betawi trade, ranging from culinary, medicine, and trinkets has great potential as an area of art and cultural tourism in West Jakarta. This research describes the development planning of the Glodok Pancoran to improve the image of the region and maximize the potential of the arts and cultural tourism. The pattern of trading life and daily activities become the basis for designing the design with the aim to increase Jakarta or foreign tourists. Data analysis was performed using theory, namely analysis based on environmental aspects, human aspects and building aspects combined with other theories. The result that will be received is the design concept of the Glodok Pancoran area as an art and cultural tourism area in West Jakarta by taking into account tourism experiences within the area. The result that will be achieved is the design concept Glodok Pancoran area as an art and cultural tourism area in Pinangsia village, West Jakarta by taking into account the experience of tourists in the area. Keywords:  Art and Culture Tourism; Glodok Pancoran; Pecinan                                 Abstrak Kawasan Glodok Pancoran merupakan salah satu kawasan di DKI Jakarta yang memiliki nilai ekonomi dan budaya yang tinggi. Kawasan Glodok telah eksis sejak jaman Belanda menjajah Indonesia sampai saat ini. Glodok Pancoran yang dikenal sebagai pusat perdagangan khas Tionghoa dan Betawi, mulai dari kuliner, obat-obatan, dan pernak-pernik mempunyai potensi yang besar sebagai kawasan wisata seni dan budaya di Jakarta Barat. Studi ini menjelaskan tentang perencanaan perkembangan kawasan Glodok untuk meningkatkan citra kawasan dan memaksimalkan potensi wisata seni dan budaya. Pola kehidupan berdagang dan aktivitas sehari-hari menjadi dasar untuk perancangan desain dengan tujuan untuk meningkatkan wisatawan kota Jakarta maupun mancanegara. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teori yaitu analisis berdasarkan aspek lingkungan, aspek manusia dan aspek bangunan yang dipadu dengan teori lainnya. Hasil yang akan dicapai adalah konsep desain kawasan Glodok Pancoran sebagai kawasan wisata seni dan budaya di kelurahan Pinangsia, Jakarta Barat dengan memperhatikan pengalaman wisatawan di dalam kawasan.        

Page 1 of 14 | Total Record : 132