cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 28 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL" : 28 Documents clear
HUBUNGAN POLA AKTIVITAS PENGHUNI DENGAN PENGATURAN ZONING PADA DESAIN RUMAH SUSUN SEWA Winata, Gabriela Deanna; Jayanti, Theresia Budi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33914

Abstract

Placeless Place is a term used to refer to a place that has lost its geographic identity or local attachment. The term can refer to a place or neighborhood that lacks the features or characteristics that make it geographically or culturally unique. The Manggaraiarea is located in Tebet sub-district, South Jakarta and is famous for its Ciliwung River sluice gate and train station which is a transportation hub from various points. The Manggarai area has great potential to be an area with transportation points that expand regionally, and also an increase in the area can occur if several points in this area are developed. The Manggarai area is famous for its densely populated settlements, so to prevent the increasingly dense residential space in this area, it can be developed into a more feasible vertical residence with the optimization of open space and community interaction space. One example of the non-compliance of a building that has been built with building regulations can be seen from the KDB, KLB, KDH which should be followed by the land owner or architect concerned with the development. The design method used is the dwelling approach method , which is concerned with the interaction between residents in the existing location through open space and community interaction space. The results of this research aim to describe the design concept approach of rental flats that can optimize space for community interaction. Keywords: Area; Manggarai; Population Abstrak Placeless Place adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada suatu tempat yang telah kehilangan identitas geografis atau keterikatan lokalnya. Istilah tersebut dapat merujuk pada suatu tempat atau lingkungan yang tidak memiliki ciri atau ciri khas yang menjadikannya unik secara geografis atau budaya. Kawasan Manggarai terletak di kecamatan Tebet, Jakarta Selatan dan terkenal dikarenakan adanya pintu air  Kali Ciliwung dan stasiun kereta yang merupakan pusat transportasi dari berbagai titik. Kawasan Manggarai memiliki potensi besar untuk dijadikan kawasan dengan titik transportasi yang meluas secara kawasan, dan juga peningkatan kawasan dapat terjadi jika dilakukan pengembangan beberapa titik di kawasan ini. Kawasan Manggarai terkenal akan permukiman penduduk yang sangat padat, sehingga untuk mencegah semakin padatnya ruang bermukim yang berada di kawasan ini, dapat dikembangkan menjadi hunian vertikal yang lebih layak dengan optimalisasi ruang terbuka dan ruang interaksi warga. Salah satu contoh ketidaksesuaian bangunan yang sudah terbangun dengan peraturan pembangunan dapat dilihat dari KDB, KLB, KDH yang seharusnya diikuti oleh pemilik lahan yang bersangkutan dengan pembangunan tersebut. Metode perancangan yang digunakan merupakan metode pendekatan dwelling, yang mementingkan interaksi antar warga di lokasi eksisting melalui ruang terbuka dan ruang interaksi warga. Hasil penelitian ini bertujuan untuk menjabarkan pendekatan konsep desain rumah susun sewa yang dapat mengoptimalkan ruang untuk interaksi warga.
PENDEKATAN TRANS-PROGRAMMING DALAM ARSITEKTUR PADA WISATA RELIGI PESISIR LUAR BATANG, SUNDA KELAPA Venantius, Dicky; Komala, Olga Nauli
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33915

Abstract

Historical tourism is an architectural phenomenon that plays an important role in cultural preservation. One place with historical value in Jakarta is the Sunda Kelapa Area. This area is located in a strategic location because it has easy access to the location using public transportation. However, this does not promise many visitors to come, because historical tourism in Jakarta has decreased in the last three years. The decrease in the number of visitors is caused by several factors, such as the lack of attention to the Sunda Kelapa Area itself, resulting in many buildings that are now abandoned and unkempt, in other words, the Sunda Kelapa Area is experiencing physical and social degradation. Therefore, the development of functions and programs in the Sunda Kelapa Area is needed to revive the sense of place. The methods used in this study are qualitative and observation methods. The research steps begin with conducting a study related to the Sunda Kelapa Area in the last five years, followed by field observations to obtain data related to the current condition of historical buildings and activities carried out by the surrounding community, then continued with mapping related to the location points of historical buildings and activities that are currently taking place. From the data obtained, there is a relationship between the surrounding environment and the creation of programs within the site, the program includes religious tourism and coastal tourism which have contradictory characteristics, so a program is needed that can combine the two programs. The trans-programming approach is a method that aims to combine and connect different programs in a building. This approach can produce a novelty in the area so the building to be designed can live in contemporaneity. Keywords:  Degradation; History; Identity; Space Abstrak Wisata bersejarah merupakan fenomena arsitektur yang mempunyai peran penting dalam pelestarian budaya. Salah satu tempat yang memiliki nilai sejarah di Jakarta adalah Kawasan Sunda Kelapa. Kawasan ini terletak di lokasi yang strategis, karena memiliki kemudahan dalam mengakses lokasi dengan menggunakan transportasi umum. Namun, hal ini tidak menjanjikan banyaknya jumlah pengunjung yang akan datang, karena wisata bersejarah di Jakarta mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir. Penurunan jumlah pengunjung ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kurangnya perhatian terhadap Kawasan Sunda Kelapa itu sendiri, sehingga menyebabkan banyaknya bangunan yang sekarang sudah terbengkalai dan tidak terurus, dengan kata lain Kawasan Sunda Kelapa mengalami degradasi secara fisik maupun sosial. Oleh karena itu pengembangan fungsi dan program pada Kawasan Sunda Kelapa diperlukan untuk menghidupkan kembali sense of place. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dan observasi. Langkah penelitian dimulai dari melakukan kajian terkait Kawasan Sunda Kelapa dalam kurun waktu lima tahun terakhir, dilanjutkan dengan observasi ke lapangan untuk mendapatkan data terkait kondisi bangunan bersejarah pada saat ini dan aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat sekitar, kemudian dilanjutkan dengan pembuatan mapping terkait titik lokasi lokasi bangunan bersejarah dan aktivitas yang sedang terjadi. Dari data yang diperoleh terdapat keterkaitan lingkungan sekitar terhadap pembuatan program di dalam tapak, program tersebut meliputi wisata religi dan wisata pesisir yang memiliki sifat saling bertolakbelakang, sehingga diperlukan sebuah program yang dapat menggabungkan kedua program tersebut. Pendekatan trans-programming merupakan suatu metode yang bertujuan untuk menggabungkan dan menghubungkan program-program yang berbeda pada suatu bangunan. Pendekatan ini dapat menghasilkan suatu kebaruan pada kawasan, sehingga bangunan yang akan dirancang dapat hidup dalam kesejamanan.
PENDEKATAN THIRD PLACE DALAM REDEFINISI LOKASARI SEBAGAI RUANG UNTUK SENI PERTUNJUKAN Hadinata, Jason; Komala, Olga Nauli
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33916

Abstract

As a city develops, there will also be changes to the spaces within the city. Placeless Place is a phenomenon where a place loses its identity that makes it a place. One example of the placeless place phenomenon that occurred is the Lokasari Entertainment Park or what was known in the past as Prinsen Park. Lokasari experienced a very significant change in identity where in the past, Prinsen Park was known as a center of entertainment and culture, now it is known as a nightlife center that has a negative image in the eyes of the surrounding community. In an effort to improve and change the negative image of Lokasari, a redesign was carried out on part of the THR Lokasari area with the aim of redefining the Lokasari area as a space for performing arts that is closely related to the history of the area in its heyday. With the projects and programs presented, it can provide the community around the Lokasari area with a shared space that is able to encourage and build communities based on performing arts around the area so that it can foster a sense of attachment between the community and the Lokasari area. In addition, this project can also provide a forum for self-expression for the surrounding community, especially young people, provide an alternative form of entertainment other than the nightlife activities that are currently rampant in the area, and become a new attraction that can revive the THR Lokasari area. Keywords:  Lokasari, Performing Arts, Placeless Place, Prinsen Park, Redefining Abstrak Seiring berkembangnya sebuah kota, akan terjadi juga perubahan terhadap  ruang – ruang dalam kota. Fenomena Placeless Place merupakan fenomena dimana sebuah tempat kehilangan identitas yang menjadikannya tempat. Salah satu contoh kasus fenomena placeless place yang terjadi adalah Taman Hiburan Rakyat (THR) Lokasari atau yang dikenal pada masa lampau sebagai Prinsen Park. Lokasari mengalami perubahan identitas yang sangat signifikan dimana dulunya, Prinsen Park dikenal sebagai pusat hiburan dan kebudayaan kini dikenal sebagai pusat hiburan malam yang memiliki citra negatif di pandangan masyarakat sekitar. Dalam upaya memperbaiki dan mengubah citra negatif Lokasari,  maka dilakukan perancangan ulang pada bagian dari kawasan THR Lokasari dengan tujuan untuk meredefinisi kawasan Lokasari sebagai ruang untuk seni pertunjukan yang berhubungan erat dengan sejarah kawasan di masa jayanya. Dengan adanya proyek dan program – program yang dihadirkan, dapat menyediakan masyarakat sekitar kawasan Lokasari dengan ruang milik bersama yang mampu mendorong dan membangun komunitas – komunitas dengan basis seni pertunjukan di sekitar kawasan sehingga dapat menunmbuhkan rasa keterikatan antara masyarakat dengan kawasan lokasari. Selain itu, proyek ini juga dapat memberikan wadah untuk ekspresi diri untuk fmasyarakat sekitar terutama kalangan muda, menyediakan alternatif bentuk hiburan selain kegiatan hiburan malam yang saat ini marak pada kawasan, serta menjadi daya tarik baru  yang mampu membangkitkan kembali kawasan THR Lokasari.
PENGEMBALIAN IDENTITAS SENEN SEBAGAI SENTRA BUKU DENGAN METODE PLACEMAKING Halim, Hartono; Surya, Rudy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33918

Abstract

Senen is an area that is quite synonymous with booksellers since the 1970s. A famous bookstore, Gunung Agung, was also established in 1953 in Senen, Kwitang. Booksellers are also lined up along the roads in the Senen area, especially Kwitang. In 2008, the booksellers relocated, they moved to different places and some also rented a shophouse together in Kwitang. However, over the years, book sales and the number of visitors have decreased, especially during the pandemic. Senen's identity as an area synonymous with book sales also decreased due to advancing times so that the presence of printed books has been replaced by e-books. Even then, booksellers also complain about people’s low interest in reading.giving rise to a condition of "placelessness". Therefore, this project aims to attract the attention of those who like and don't like reading. There are several programs provided to increase interest in reading, such as exhibitions, theater, and others. Because the books generally sold by booksellers in the Senen area are used books, there is also room for restoring books. The method that will be used for this project is the placemaking method, which is a design approach where the aim of the design is to strengthen relationships between users and with a place. What we want to emphasize is the local identity of Senen, especially Kwitang, as an area famous for sales. books so that Senen's identity as an area synonymous with books returns. Keywords:  book; identity; placelessness; placemaking Abstrak Senen adalah kawasan yang cukup identik dengan pedagang buku sejak tahun 1970-an. Toko buku yang cukup terkenal yaitu Toko Buku Gunung Agung juga berdiri di Senen, Kwitang pada tahun 1953. Para pedagang buku pun berjejeran di sepanjang jalan kawasan Senen, terutama Kwitang. Pada tahun 2008, para pedagang buku mengalami relokasi, mereka berpindah menuju tempat yang berbeda dan ada juga yang menyewa ruko bersama-sama di Kwitang. Namun seiring tahun, penjualan buku dan jumlah pengunjung semakin menurun, terutama pada saat pandemi. Identitas Senen sebagai kawasan yang identik dengan penjualan buku juga semakin menurun karena kehadiran buku cetak tergeserkan oleh kehadiran e-book. Selain itu, para pedagang juga mengeluhkan rendahnya minat baca di kalangan masyarakat sehingga menimbulkan kondisi “placelessness”. Oleh karena itu, proyek ini bertujuan untuk menarik perhatian masyarakat yang gemar maupun yang kurang gemar membaca. Terdapat beberapa program yang disediakan untuk meningkatkan minat membaca seperti exhibisi, teater, dan lain-lain. Karena buku yang umumnya dijual pedagang di Kawasan Senen merupakan buku bekas, maka terdapat juga ruang untuk merestorasi buku. Untuk metode yang akan digunakan untuk proyek ini adalah metode placemaking, yang merupakan pendekatan desain dimana tujuan dari sebuah desain tersebut adalah mempererat hubungan antar pengguna dan dengan suatu tempat, hal yang ingin ditekankan adalah identitas lokal Senen, terutama Kwitang, sebagai kawasan yang terkenal akan penjualan buku agar identitas Senen sebagai kawasan yang identik dengan buku kembali.
MENGHIDUPKAN KEMBALI AKTIVITAS PERDAGANGAN DI SENEN JAKARTA PUSAT: DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL Shalsabilla, Auliya Ananti; Surya, Rudy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33919

Abstract

A place is called a place because the place has a strong meaning or identity. A place can be said to be placeless place, which is caused by environmental transformation that damages the character of a place so that it loses its distinctive identity. Senen is an area that has been famous for its trade since 1733. Many traders sell there, ranging from large shops to small traders. A phenomenon that is quite concerning is that many shops around Senen have closed, especially in the Senen market area which has begun to degrade with global changes and many traders who are not neatly arranged who trade around the Senen market. Therefore, steps are needed in the form of architectural strategies that can revive closed shops in the Senen area. By designing a place that facilitates traders, such as providing a place for trader training so that later traders can be trained. The arrangement of the trading location in Senen aims to make this location a more organized place, so that the identity known as a trading area is not lost with the development of the times. In addition, it is also equipped with several other functions that are expected to be interconnected. The method used is contextual architectural methods, the building will integrate with the surrounding environment both in terms of physical, social and historical conditions, so that the character of the designed building does not damage the character of the surrounding area. Keywords: contextual; placeless place; senen; trade; traders Abstrak Suatu tempat dikatakan place karena tempat tersebut memiliki makna atau identitas yang kuat. Sebuah place bisa di katakan placeless place yaitu disebabkan oleh transformasi lingkungan yang merusak karakter sebuah tempat sehingga kehilangan identitas khasnya. Senen merupakan kawasan yang terkenal dengan perdagangannya sejak tahun 1733. Banyaknya pedagang yang berjualan di sana mulai dari toko-toko besar sampai pedagang kecil. Fenomena yang cukup menjadi perhatian yaitu banyak toko-toko di sekitaran Senen yang tutup, terutama pada bagian pasar Senen yang mulai terdegradasi dengan perubahan global dan banyaknya pedagang yang tidak tertata dengan rapih yang berdagang di sekitar pasar Senen. Oleh karena itu diperlukan langkah berupa strategi arsitektural yang dapat menghidupkan kembali toko yang tutup pada kawasan Senen. Dengan mendesain sebuah tempat yang memfasilitasi pedagang, seperti menyediakan tempat pelatihan pedagang agar nantinya pedagang dapat terlatih. Penataan lokasi perdagangan di Senen ini memiliki tujuan untuk membuat lokasi ini menjadi tempat yang lebih tertata, agar identitas  yang dikenal sebagai kawasan perdagangan tidak hilang dengan perkembangan zaman. Selain itu juga di lengkapi dengan beberapa fungsi lainnya yang diharapkan dapat saling berkoneksi. Metode yang dilakukan dengan menggunakan metode kontekstual arsitektur, bangunan akan berintegrasi dengan lingkungan di sekitar baik dari segi fisik, keadaan sosial, sejarah, sehingga karakter bangunan yang dirancang tidak merusak karakter kawasan sekitar.
PERANCANGAN PUSAT REKREASI URBAN BERBASIS KOMUNITAS DI GLODOK DENGAN PENDEKATAN PERILAKU Karuniawan, Adrian; Husin, Denny
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33920

Abstract

In modern times and the increasing human population, humans need land and space for activities, but on the other hand, the land and open space needed is increasingly limited, which also makes human activities limited. The Glodok area is a dense area, in the corners of the Glodok area there are buildings that are degraded or abandoned and left so that the land cannot be utilized optimally for human activities. Meanwhile, the Kebon Torong field, which is a community space for the Glodok community, is threatened with being evicted to be replaced with health facilities, so that the Glodok community loses its community space for exercise and recreation. Therefore, this project is aimed at re-accommodating the people of Glodok so they can exercise as well as have recreation and become a place of entertainment for the community by rebuilding abandoned or degraded buildings so that the land can be reused. This community space can also be a space for collaboration between generations of each age group so that a sense of togetherness is maintained. By presenting recreation and fitness programs that draw from the habits and behavior of the surrounding community, which includes recreation areas, commercial areas and community areas. This research uses qualitative and quantitative methods. Keywords:  behavior; community; generation; recreation; space Abstrak Di zaman modern serta meningkatnya populasi manusia membuat manusia membutuhkan lahan dan ruang untuk beraktivitas tetapi disisi lain lahan dan ruang terbuka yang dibutuhkan semakin terbatas, itu juga yang membuat aktivitas manusianya menjadi terbatas. Kawasan Glodok merupakan kawasan yang padat, di sudut-sudut kawasan Glodok terdapat bangunan-bangunan yang mengalami degradasi atau terbengkalai yang dibiarkan membuat lahannya tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk aktivitas manusia. Sementara itu lapangan Kebon Torong yang merupakan ruang komunitas bagi komunitas Glodok terancam akan digusur untuk digantikan dengan fasilitas kesehatan, sehingga komunitas Glodok kehilangan ruang komunitasnya untuk berolahraga sekaligus berekreasi. Oleh karena itu proyek ini ditujukan untuk mewadahi kembali masyarakat Glodok agar dapat berolahraga sekaligus berekreasi dan menjadi tempat hiburan bagi komunitas dengan membangun kembali bangunan yang terbengkalai atau mengalami degradasi agar lahannya dapat dimanfaatkan kembali. Ruang komunitas ini juga bisa menjadi ruang kolaborasi antar generasi dari setiap kelompok usia sehingga rasa kebersamaannya tetap terjaga. Dengan menghadirkan program rekreasi dan kebugaran mengambil dari kebiasaan dan perilaku komunitas sekitar, yaitu mencakup area rekreasi, area komersil dan area komunitas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif.
PERANCANGAN AREA KOMERSIAL BERBASIS DIGITAL INTERAKTIF DI GLODOK, JAKARTA BARAT Vincent, Vincent; Husin, Denny
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33921

Abstract

The emergence of the online store phenomenon that has developed since 2020, especially during the pandemic, has had a significant impact on conventional businesses such as offline stores, markets, and trade centers. The issue arose that spaces in the market area became very quiet, some of them were even forced to close their businesses. This problem is very serious considering the growing trend while the space in the market is static. The purpose of this study is to provide solutions and recommendations for space to create a new atmosphere that can help offline traders survive and compete. The research was conducted with a descriptive and qualitative approach to better understand the impact of this static space. The research method used is to utilize a descriptive and qualitative approach. The research steps began with a literature study, then continued with a survey for sampling which was continued with the distribution of questionnaires to collect customer opinion data regarding the experience of space and comfort in the space. The results of the study on the design of space in the surrounding shophouses show that to create an area that is attractive to the community, the initial step that needs to be taken is only a few shophouses. One way that can be applied is to add space functions, such as integrating an online shop platform. With this platform, sellers will find it easier to make transactions both online and offline, so that it can increase the attraction and visits of the community to the area. The novelty is designing a commercial place for traders with the concept of connectivity architecture andutilizing the shape of the surrounding buildings so as to create harmony between the masses and their surroundings. Keywords: business; market; on line; trader; traditional Abstrak Munculnya fenomena online shop yang berkembang sejak tahun 2020, terutama di masa pandemi, memberikan dampak yang signifikan terhadap bisnis konvensional seperti toko offline, pasar, dan pusat perdagangan. Timbul isu ruang–ruang pada kawasan pasar menjadi sangat sepi, bahkan beberapa di antaranya terpaksa menutup usahanya. Masalah ini menjadi sangat serius dikarenakan tren yang terus berkembang sedangkan ruang pada pasar statik. Tujuan penelitian ini adalah memberikan solusi dan rekomendasi ruang guna menciptakan suasana baru yang dapat membantu pedagang offline bertahan dan bersaing. Penelitian dilakukan dengan pendekatan deskriptif dan kualitatif untuk memahami lebih dalam dampak ruang yang statik ini. Metode penilitian yang digunakan yaitu memanfaatkan pendekatan dekriptif dan kualitatif. Langkah penelitian diawali dengan melakukan studi literatur, kemudian dilanjutkan dengan survei untuk pengambilan sampel yang diteruskan dengan pembagian kuesioner untuk mengumpulkan data opini pelanggan mengenai pengalaman ruang dan kenyamanan dalam ruang. Hasil penelitian mengenai perancangan ruang pada ruko-ruko di sekitar menunjukkan bahwa untuk menciptakan kawasan yang menarik bagi masyarakat, langkah awal yang perlu dilakukan adalah meredesain beberapa ruko . Salah satu cara yang dapat diterapkan adalah dengan menambah fungsi ruang, seperti mengintegrasikan platform onlineshop. Dengan adanya platform ini, para penjual akan lebih mudah melakukan transaksi baik secara daring maupun luring, sehingga dapat meningkatkan daya tarik dan kunjungan masyarakat ke kawasan tersebut. Kebaruannya adalah merancang tempat komersial untuk para pedagang dengan konsep arsitektur konektivitas dan memanfaatkan bentuk bangunan sekitar sehingga menimbulkan keselarasan antara massa dan sekitarnya.
UPAYA MEMAKNAI KEMBALI CITRA EKS BANDARA KEMAYORAN MELALUI GALERI EDUKASI AVIASI Santosa, Aaron Pratama; Carina, Nina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33923

Abstract

Kemayoran Airport, built in the 1930s and officially operational on July 8, 1940, is a historic airport that played a significant role in the development of aviation in Indonesia. Constructed by the Dutch East Indies government, it featured modern facilities comparable to European airports of its time. After undergoing various significant historical phases, including the Japanese occupation during the Asia-Pacific War and Indonesia's independence revolution, the airport continued to operate and evolve until its closure on March 31, 1985, due to limitations in accommodating rapid advancements in aviation technology, with the rise of wide-body aircraft and rapid population growth near Kemayoran airfield. Kemayoran Airport subsequently fell into neglect and was replaced by new infrastructure. The traces of Kemayoran Airport’s former glory have almost completely disappeared, rendering it a "placeless" area, with the remaining airport relics in a deteriorated condition. This project seeks to revive the image of aviation through placemaking, envisioning creative aviation-themed spaces for both the public and aviation community. Centered on an educational gallery, it offers diverse aviation-related programs accessible to all age groups and skill levels. The initiative aims to restore the identity of the former Kemayoran Airport with a meaningful function, while fostering awareness, appreciation, and public interest in the importance of aviation. Keywords: aviation; educational gallery; former kemayoran airport; history; placemaking Abstrak Bandara Kemayoran, dibangun sejak 1930-an dan resmi beroperasi 8 Juli 1940, merupakan bandara bersejarah dengan peran penting dalam perkembangan penerbangan di Indonesia. Bandara ini dibangun pemerintah Hindia Belanda dengan fasilitas modern setara bandara di Eropa pada masanya. Setelah melewati berbagai fase sejarah penting, termasuk pendudukan Jepang selama Perang Asia Pasifik dan masa revolusi kemerdekaan Indonesia, bandara ini terus beroperasi dan berkembang hingga akhirnya ditutup pada 31 Maret 1985 karena keterbatasan dalam menampung kemajuan pesat teknologi penerbangan, terutama dengan hadirnya model pesawat berbadan besar yang baru serta meledaknya jumlah populasi penduduk di wilayah sekitar lapangan udara Kemayoran. Bandara Kemayoran kemudian mulai terabaikan dan digantikan oleh infrastruktur baru. Jejak kejayaan Bandara Kemayoran hampir sepenuhnya hilang, menjadikannya sebagai kawasan yang dianggap "placeless", dengan peninggalan bandara yang tersisa dalam kondisi memprihatinkan. Proyek ini bertujuan untuk mengangkat kembali citra aviasi. Melalui metode placemaking akan lahir usulan ruang kreatif berbasis aviasi yang dapat diakses oleh masyarakat umum maupun masyarakat aviasi. Program utama berupa galeri edukasi akan menyediakan berbagai program terkait aviasi, yang dapat diakses oleh masyarakat umum maupun profesional. Melalui upaya ini, diharapkan citra eks Bandara Kemayoran dapat diangkat kembali dengan fungsi baru yang lebih bermakna, sekaligus meningkatkan kesadaran dan minat masyarakat terhadap pentingnya dunia aviasi.
REDEVELOPMENT TERMINAL GROGOL 2 SEBAGAI UPAYA EFISIENSI MOBILITAS Bima K, Fransiskus; Priyono, J.M. Joko
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33924

Abstract

The increase in vehicle and people mobility at Terminal Grogol 2 has brought several negative impacts on the ongoing operational activities in the terminal. The inability of facilities to accommodate the changes that occur at Terminal Grogol 2 is the main problem in terms of quality, operations and terminal capacity. On the other hand, several phenomena occur in the field that arise due to efforts to meet needs, which in fact affect the formation of new types of users and spaces. Things that are expected to receive good impacts from the changes that will occur at Terminal Grogol 2, including the increasing mobility of vehicles, people, terminal capacity, productivity, facilities, economy and environment. The research method used in achieving maximum data is also a direct survey of the latest conditions of Terminal Grogol 2 which is also compared with journals and articles (trusted sources) to determine the possibility of achieving Terminal Grogol 2 in the future. While in achieving the solution to the problem by making a hypothesis from data to find the relationship between each element in Terminal Grogol 2. Changes are driven by increased efficiency by carrying out the quantity of users of enlarged facilities such as the arrival and departure areas, ticketing, and supporting facilities. Likewise, there are additional facilities related to the relationship with environmental activities, namely an area for street vendors, a space for students to channel their routines, connections with educational facilities and other public transportation located around the terminal and finally an increase in the quality of the Grogol 2 Terminal facilities. Keywords : activity; efficiency; phenomenon; mobility; transportation Abstrak Peningkatan mobilitas kendaraan dan orang pada Terminal Grogol 2 membawa beberapa dampak buruk bagi berlangsungnya kegiatan operasional di dalam terminal. Ketidakmampuan fasilitas dalam menampung perubahan yang terjadi di Terminal Grogol 2 ini yang menjadi masalah utama baik secara kualitas, operasional maupun daya tampung terminal. Disisi lain beberapa fenomena terjadi di lapangan yang timbul karena adanya upaya memenuhi kebutuhan, ternyata mempengaruhi terbentuknya jenis pengguna dan ruang baru. Hal yang diharapkan dapat menerima dampak baik dari perubahan yang akan terjadi di Terminal Grogol 2, diantaranya sejalannya peningkatan mobilitas kenadaraan, orang, daya tampung terminal, produktifitas, fasilitas, ekonomi dan lingkungan. Metode penelitian yang digunakan dalam pencapaian data yang maksimal juga dilakukan survey langsung terhadap kondisi terkirini dari Terminal Grogol 2 yang juga di komparasi dengan jurnal dan artikel (sumber terpercaya) untuk mengetahui kemungkinan pencapaian dari Terminal Grogol 2 ke depannya. Sementara dalam pencapaian solusi permasalahannya dengan melakukan hipotesa dari data untuk mencari hubungan setiap unsur yang ada di Terminal Grogol 2. Perubahan terpacu kepada peningkatan efisiensi dengan melakulan pada kuantitas pengguna fasilitas yang diperbesar seperti area kedatangan keberangkatan, tiketing, dan fasilitas penunjang. Demikian pula adanya penambahan fasliitas terkait hubungan dengan aktivitas lingkungan yaitu area bagi pelaku usaha pedagang kaki lima, ruang bagi mahasiswa untuk menyelurkan rutinitasnya, hubungan dengan fasilitas pendidikan dan transportasi umum lainnya yang berada di sekitar terminal dan yang terakhir peningkatan dari kualitas fasilitas Terminal Grogol 2.
KONSERVASI DAN PRESERVASI GUNA MENJAGA EKOLOGI DI KAWASAN SUAKA MARGASATWA MUARA ANGKE Limmowsen, Frans Hesketh; Priyono, J.M. Joko
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33925

Abstract

Many regional developments have now had land use designations revised and some of these revisions are only for business purposes without considering the existing natural habitat. This also happened to the Muara Angke Wildlife Reserve (SMMA), which was previously a very large nature reserve area with various flora and fauna habitats within it, which was destroyed due to the reclamation project. The condition of the Placeless Place area has become a problem in Jakarta Province now, because this area is a green area in the form of the last protected forest in North Jakarta. There must be anticipatory action so as not to worsen the impact in the future. This action takes the form of conservation and preservation actions in the SMMA area which starts from collecting primary data and secondary data using qualitative methods supported by quantitative methods to determine options to simplify the analysis process in carrying out conservation and preservation. Meanwhile, the design method uses the superimpose method with a wild-life design approach. Preservation and conservation is carried out in the form of adding functions related to SMMA conservation and preservation efforts such as research activities, breeding areas and reforestation areas. Then, with conservation and preservation of the research results, it requires profitable spaces to provide continuity of activities in it in the form of tourist areas. In this case, it also does not rule out the need for new innovations that can be continued with further programs as an effort to preserve the nature of the SMMA area. Keywords:  captivity; conservation; preservation Abstrak Perkembangan kawasan sekarang banyak yang telah direvisi peruntukan fungsi lahannya dan beberapa revisi tersebut hanya untuk kepentingan bisnis tanpa memikirkan habitat alam yang ada. Hal tersebut juga terjadi pada Kawasan Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA) yang dahulunya merupakan kawasan cagar alam yang sangat luas dengan beragam habitat flora dan fauna di dalamnya menjadi hancur akibat proyek reklamasi. Kondisi kawasan yang Placeless Place tersebut telah menjadi permasalahan di Provinsi Jakarta sekarang, karena kawasan ini merupakan kawasan hijau yang berupa hutan lindung terakhir yang ada di Jakarta Utara. Harus ada tindakan antisipatif agar tidak memperburuk dampaknya dikemudian hari. Tindakan tersebut berupa tindakan konservasi dan preservasi pada kawasan SMMA yang dimulai dari pengumpulan data primer dan data sekunder dengan metode kualitatif yang didukung dengan metode kuantitatif untuk menentukan pilihan dalam mempermudah proses analisis dalam melaksanakan konservasi dan preservasi. Sedangkan metode perancangan dalam mendesain menggunakan metode superimpose dengan pendekatan design wild-life. Preservasi dan konservasi yang dilakukan berupa menambahkan fungsi-fungsi yang berkaitan dengan upaya konservasi dan preservasi SMMA seperti aktivitas riset, area penangkaran, dan area penghijauan. Kemudian dengan konservasi dan preservasi dari hasil penelitian tersebut membutuhkan ruang-ruang yang bersifat profitable untuk memberikan keberlangsungan aktivitas didalamnya yang berupa area wisata. Dalam hal tersebut juga tidak menutup kemungkinan untuk membutuhkan inovasi baru yang bisa dilanjutkan dengan program-program selanjutnya sebagai upaya dalam melestarikan alam kawasan SMMA.

Page 1 of 3 | Total Record : 28