cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 36 Documents
Search results for , issue "Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL" : 36 Documents clear
PENERAPAN INFILL ARCHITECTURE SEBAGAI STRATEGI DESAIN PENGOLAHAN LIMBAH IKAN DAN AIR DI KAWASAN PESISIR MUARA ANGKE Lie, Ferdinansius; Darmady, Irene Syona
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.35545

Abstract

Muara Angke, located in North Jakarta, is a coastal area with intensive fishing activities that generate a significant amount of fish waste estimated at hundreds of kilograms per day. This condition has a direct impact on environmental pollution and the quality of life of the surrounding community. This journal explores the application of infill architecture as a design strategy for developing a fish waste and water treatment facility within limited and densely populated urban spaces. The infill method is used to occupy residual spaces within the existing urban fabric, allowing solutions to be implemented without displacing settlements or altering the macrostructure of the area. Through a context-based design and case study approach, the project integrates organic waste treatment, water recycling systems, and multifunctional public spaces such as community fishing areas and educational hubs. The design focuses on ecological regeneration through a closed-loop system and aims to empower coastal communities socially and environmentally. The study concludes that infill architecture not only provides an adaptive spatial solution, but also supports the development of sustainable, environmentally responsive, and community-oriented infrastructure. Keywords: infill architecture; Muara Angke; waste treatment; water filtration Abstrak Muara Angke, Jakarta Utara, merupakan kawasan pesisir dengan aktivitas perikanan intensif yang menghasilkan limbah ikan dalam jumlah besar, diperkirakan mencapai ratusan kilogram per hari. Kondisi ini berdampak langsung pada pencemaran lingkungan dan kualitas hidup masyarakat sekitar. Artikel ini mengeksplorasi penerapan Infill Architecture sebagai strategi desain untuk merancang fasilitas pengolahan limbah ikan dan air pada area terbatas dan padat penduduk. Metode infill digunakan untuk mengisi ruang-ruang residual di kawasan eksisting, sehingga solusi dapat diterapkan tanpa menggusur permukiman atau mengubah struktur makro kawasan. Melalui pendekatan studi kasus dan perancangan berbasis konteks, proyek ini mengintegrasikan sistem pengolahan limbah organik, daur ulang air, serta ruang publik seperti tempat edukasi dan pemancingan komunitas. Desain difokuskan pada regenerasi ekologis melalui sistem tertutup (closed-loop system) dan pemberdayaan sosial masyarakat pesisir. Hasil kajian menunjukkan bahwa Infill Architecture tidak hanya menawarkan solusi spasial adaptif, tetapi juga mampu menciptakan bangunan fungsional yang berkelanjutan, responsif terhadap lingkungan, dan memberdayakan komunitas lokal.
PENGEMBANGAN STANDAR BRT DARI PERSPEKTIF PENGGUNA: STUDI KASUS HALTE TRANSJAKARTA GROGOL DAN HALTE TRANSJAKARTA UNGGULAN DI DKI JAKARTA Andrean, Birgitta Cindy; Winata, Suwardana
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.35574

Abstract

Current BRT standards tend to focus on operational technical aspects with insufficient consideration of user experience and local behavior. This research aims to identify gaps between existing BRT standards and actual user needs, and develop additional parameter recommendations for BRT standards that are more responsive to the Indonesian context. The research method employs a comparative study approach with qualitative and quantitative analysis on Transjakarta stations. Grogol Station was selected as the study object with design issues, compared with excellent stations such as MH Thamrin and Bundaran HI as benchmarks. Data collection was conducted through user behavior observation, spatial measurements, visual documentation, and interviews with regular users under various time conditions. Results indicate that current BRT standards have not accommodated aspects of optimal volumetric dimensions, clear functional zone differentiation, and universal accessibility parameters. Findings suggest that stations with designs considering user behavior have higher satisfaction and efficiency levels. This research contributes to developing additional parameter recommendations that integrate universal design principles with local user behavior, creating BRT standards that not only meet technical aspects but are also responsive to Indonesian community needs. Keywords: BRT standard; comparative analysis; transportation behavior; universal design; user-centered design Abstrak Standar BRT yang ada saat ini cenderung berfokus pada aspek teknis operasional dengan kurang mempertimbangkan pengalaman pengguna dan perilaku lokal. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kesenjangan antara standar BRT eksisting dengan kebutuhan pengguna aktual, serta mengembangkan rekomendasi parameter tambahan untuk standar BRT yang lebih responsif terhadap konteks Indonesia. Metode penelitian menggunakan pendekatan studi komparatif dengan analisis kualitatif dan kuantitatif pada halte Transjakarta. Halte Grogol dipilih sebagai objek studi yang memiliki permasalahan desain, dibandingkan dengan halte unggulan seperti MH Thamrin dan Bundaran HI sebagai benchmark. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi perilaku pengguna, pengukuran spasial, dokumentasi visual, dan wawancara dengan pengguna regular pada berbagai kondisi waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa standar BRT saat ini belum mengakomodasi aspek dimensi volumetrik yang optimal, diferensiasi zona fungsi yang jelas, serta parameter aksesibilitas universal. Temuan mengindikasikan bahwa halte dengan desain yang mempertimbangkan perilaku pengguna memiliki tingkat kepuasan dan efisiensi yang lebih tinggi. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan rekomendasi parameter tambahan yang mengintegrasikan prinsip universal design dengan perilaku pengguna lokal, menciptakan standar BRT yang tidak hanya memenuhi aspek teknis tetapi juga responsif terhadap kebutuhan masyarakat Indonesia.
REGENERASI BUDAYA KOPI MELALUI PUSAT EDUKASI TERINTEGRASI FUNGSI EKONOMI DI JAKARTA BARAT Handoko, Yosephine Ruth; Suteja, Mekar Sari
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37051

Abstract

The growing coffee culture in urban areas marks a shift in people's lifestyles, making coffee not merely a consumption commodity but also a medium for social interaction, a means of creative expression, and a driver of local economic activity. The growth of coffee shops and community activities enriches urban social spaces. However, this development also increases coffee processing and consumption waste that has not been managed sustainably. The emerging issue is the imbalance between the rapid development of coffee consumption culture and the low ecological awareness of the resulting environmental impact. This study aims to design a coffee education facility through a regenerative architecture approach as an effort to preserve coffee culture in line with the principles of sustainability. The research methods include literature review, field observation, and conceptual analysis. These methods are used to examine the relationship between community consumption behavior, coffee cultural values, and the application of ecological systems in architectural design as a strategy for urban environmental restoration based on collaboration and community participation. The results show that the application of biophilic design principles and regenerative strategies can create an integrated space that encourages social interaction, learning activities, simultaneously increasing environmental awareness, and empowering local coffee communities as drivers of a circular economy. These findings underscore the role of architecture as a medium for the regeneration of sustainable coffee culture as well as a catalyst for collaboration, innovation, and environmental transformation in urban areas to create more resilient and adaptive urban systems. Keywords: biophilic; culture; education; regenerative; waste Abstrak Fenomena tumbuhnya budaya kopi di kawasan perkotaan menandai pergeseran gaya hidup masyarakat yang menjadikan kopi tidak sekadar sebagai komoditas konsumsi, melainkan media interaksi sosial, sarana ekspresi kreativitas, serta penggerak aktivitas ekonomi lokal. Pertumbuhan kedai kopi dan aktivitas komunitas memperkaya ruang sosial perkotaan. Namun, perkembangan ini juga meningkatkan limbah pengolahan dan konsumsi kopi yang belum dikelola secara berkelanjutan. Isu yang muncul adalah ketidakseimbangan antara laju perkembangan budaya konsumsi kopi dengan rendahnya kesadaran ekologis terhadap dampak lingkungan yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan merancang fasilitas edukasi kopi melalui pendekatan arsitektur regeneratif sebagai upaya pelestarian budaya kopi yang selaras dengan prinsip keberlanjutan. Metode penelitian meliputi studi literatur, observasi lapangan, dan analisis konseptual. Metode tersebut digunakan untuk mengkaji keterkaitan perilaku konsumsi masyarakat, nilai budaya kopi, serta penerapan sistem ekologis dalam desain arsitektur sebagai strategi pemulihan lingkungan perkotaan berbasis kolaborasi dan partisipasi masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan prinsip biophilic design serta strategi regeneratif mampu membentuk ruang terpadu yang mendorong terjadinya interaksi sosial, aktivitas pembelajaran, peningkatan kesadaran lingkungan secara simultan, serta pemberdayaan komunitas kopi lokal sebagai penggerak ekonomi sirkular. Temuan ini menegaskan peran arsitektur sebagai media regenerasi budaya kopi berkelanjutan sekaligus katalis kolaborasi, inovasi, dan transformasi lingkungan di kawasan perkotaan untuk menciptakan sistem kota yang lebih resilien dan adaptif.
STUDI IDENTIFIKASI USER DAN PROGRAM ARSITEKTUR PADA PERENCANAAN FASILITAS PENGOLAHAN LIMBAH TEKSTIL DI JAKARTA BARAT Lika, Andrew William Philip; Darmady, Irene Syona
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37053

Abstract

The growth of the textile industry in West Jakarta has shown a significant increase along with the expansion of fast fashion trends and the ease of distribution through e-commerce platforms. This rise in production has directly contributed to an increasing volume of textile waste, particularly within small- and medium-scale industries that generally lack adequate waste management systems. This condition creates environmental challenges as well as the need for facilities capable of managing and optimizing textile waste through sustainable approaches. This study aims to identify user characteristics and formulate appropriate architectural programs for the planning of a textile waste processing facility in West Jakarta. The research employs a qualitative approach through literature studies and field observations to understand existing conditions and actual needs within the study area. The findings indicate that the primary users of the facility include textile industry actors, waste processing technicians, creative communities, educational institutions, and the general public. User activities are categorized into three main groups: technical, educational, and creative activities, each requiring spaces with distinct characteristics while remaining functionally integrated. The synthesis of the findings emphasizes that the architectural program should integrate industrial, educational, and upcycling-based creative functions within an adaptive spatial system. The application of a regenerative architectural approach is expected to produce a facility that not only functions technically but also generates positive environmental, social, and economic impacts on the surrounding area. Keywords: facility; program; regenerative; user; waste Abstrak Pertumbuhan industri tekstil di Jakarta Barat menunjukkan peningkatan signifikan seiring berkembangnya tren fast fashion dan kemudahan distribusi melalui platform e-commerce. Peningkatan produksi tersebut berdampak langsung pada bertambahnya volume limbah tekstil, terutama pada industri skala kecil dan menengah yang umumnya belum memiliki sistem pengolahan limbah yang memadai. Kondisi ini menimbulkan permasalahan lingkungan sekaligus kebutuhan akan fasilitas yang mampu mengelola dan mengoptimalkan limbah tekstil secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik pengguna serta merumuskan program arsitektur yang tepat dalam perencanaan fasilitas pengolahan limbah tekstil di Jakarta Barat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode studi literatur dan observasi lapangan untuk memahami kondisi eksisting dan kebutuhan nyata di kawasan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengguna utama fasilitas meliputi pelaku industri tekstil, tenaga teknis pengolahan limbah, komunitas kreatif, lembaga pendidikan, serta masyarakat umum. Aktivitas pengguna terbagi ke dalam tiga kelompok utama, yaitu aktivitas teknis, edukatif, dan kreatif, yang masing-masing membutuhkan ruang dengan karakteristik berbeda namun saling terintegrasi. Sintesis hasil studi menegaskan bahwa program arsitektur perlu menggabungkan fungsi industri, edukasi, dan aktivitas kreatif berbasis upcycling dalam satu sistem ruang yang adaptif. Penerapan pendekatan arsitektur regeneratif diharapkan mampu menciptakan fasilitas yang tidak hanya berfungsi secara teknis, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan, sosial, dan ekonomi kawasan.
IMPLEMENTASI KONSEP ARSITEKTUR REGENERATIF PADA PERANCANGAN PLASTIC LEARNING AND RECYCLING CENTER DI KAWASAN PINTU AIR MANGGARAI, JAKARTA Rahmatunissa, Shevira Zahra; Darmady, Irene Syona
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37054

Abstract

The plastic waste crisis has become an increasingly urgent environmental phenomenon, not only causing water and soil pollution but also impacting public health through microplastics and hazardous emissions. This condition is highly visible in Jakarta, particularly in the Manggarai Sluice Gate area, which during the rainy season receives 600 to 700 tons of waste per day, 30% to 35% of which consists of single-use plastics. A crucial spatial issue is the lack of integrated local waste processing in densely populated areas, such that waste is only transported to landfills without providing added value or restoration for the river ecosystem. The objective of this research and design is to formulate a regenerative architecture-based solution through the development of the Plastic Learning and Recycling Center (PLRC) as a facility that functions for processing, education, and community empowerment. For the sub-study, the focus is placed on the principles of regenerative architecture and circular economy which emphasize a closed-loop system in the form of a plastic-to-energy-to-material process. The research method uses a qualitative approach with field observations, interviews, literature review, site analysis, precedent studies, and the synthesis of massing concepts. The research results formulate a design with a vertical zoning system that separates technical areas and education zones. The novelty of the results shows innovation in combining technical, educational, social, and ecological functionalities within a single regenerative architecture facility. Thus, the PLRC in Manggarai becomes a design prototype that not only suppresses plastic pollution but also contributes to the restoration of urban ecosystems as well as strengthening community capacity toward sustainability. Keywords: ecosystem; gasification; plastic; pyrolysis; regenerative Abstrak Krisis sampah plastik telah menjadi fenomena lingkungan yang semakin mendesak, tidak hanya menyebabkan pencemaran air dan tanah, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat melalui mikroplastik dan emisi berbahaya. Kondisi ini sangat terlihat di Jakarta, khususnya di area Pintu Air Manggarai, yang selama musim hujan menerima 600 hingga 700 ton sampah/hari, 30% hingga 35% di antaranya merupakan plastik sekali pakai. Masalah ruang yang krusial adalah ketiadaan pengolahan sampah lokal yang terintegrasi di kawasan padat penduduk, sehingga sampah hanya diangkut ke TPA tanpa memberikan nilai tambah atau pemulihan bagi ekosistem sungai. Tujuan dari penelitian dan perancangan ini adalah merumuskan solusi berbasis arsitektur regeneratif melalui pembangunan Plastic Learning dan Recycling Center (PLRC) sebagai fasilitas yang berfungsi untuk pengolahan, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat. Untuk sub-kajian, fokus dilakukan pada prinsip arsitektur regeneratif serta ekonomi sirkular yang menekankan sistem tertutup (closed loop) berupa proses dari plastic-to-energy-to-material. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan observasi lapangan, wawancara, kajian literatur, analisis pada tapak, studi preseden, dan sintesis konsep gubahan massa. Hasil penelitian merumuskan desain dengan sistem zonasi vertikal yang memisahkan area teknis dan zona edukasi. Kebaruan hasil menunjukkan inovasi dalam menggabungkan fungsionalitas teknis, edukatif, sosial, dan ekologis dalam satu fasilitas arsitektur regeneratif. Dengan demikian, PLRC di Manggarai menjadi prototipe desain yang tidak hanya menekan pencemaran plastik, tetapi juga berkontribusi dalam pemulihan ekosistem perkotaan serta memperkuat kapasitas masyarakat menuju keberlanjutan.
PERANCANGAN GEDUNG KANTOR REGENERATIF UNTUK MENGATASI SICK BUILDING SYNDROME DI KORIDOR RASUNA SAID, JAKARTA SELATAN Tanzil, Edbert; Teh, Sidhi Wiguna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37057

Abstract

Sick Building Syndrome (SBS) is a condition in which building occupants experience various health complaints that arise while inside the building and resolve after leaving. Symptoms such as headaches, eye irritation, fatigue, and respiratory problems are often associated with inadequate indoor environmental quality. In large cities like Jakarta, this condition becomes increasingly relevant because most office buildings are located in densely populated areas with poor outdoor air quality, limited natural ventilation, and a high reliance on mechanical air conditioning systems. The Rasuna Said CBD area is one area that is potentially experiencing SBS due to the closed nature of its buildings, aging, and experiencing high urban environmental pressure. This study aims to identify the factors causing SBS in office buildings in Jakarta and formulate mitigation strategies through a regenerative architecture approach. The research method was descriptive-qualitative through the collection of secondary data from literature, technical reports, indoor air quality standards, and analysis of the condition of old buildings in the CBD area. The data obtained were analyzed by comparing air quality, lighting, and humidity parameters with applicable comfort standards for workspaces. The research results show that high carbon dioxide levels, insufficient fresh air circulation, unstable humidity, and the use of high-emission interior materials are the dominant factors in the formation of SBS in office buildings. The implementation of strategies such as hybrid ventilation, double-skin façades, increased natural lighting, the use of low-VOC materials, vegetation integration, and adaptive air management have been shown to significantly improve indoor environmental quality and reduce the risk of SBS. Keywords: air; circulation; health; office; regenerative Abstrak Sick Building Syndrome (SBS) merupakan kondisi ketika penghuni bangunan mengalami berbagai keluhan kesehatan yang muncul saat berada di dalam gedung dan berkurang setelah meninggalkannya. Gejala seperti sakit kepala, iritasi mata, kelelahan, dan gangguan pernapasan sering dikaitkan dengan kualitas lingkungan dalam ruang yang tidak memadai. Pada kota besar seperti Jakarta, kondisi ini menjadi semakin relevan karena sebagian besar gedung perkantoran berlokasi di kawasan padat dengan kualitas udara luar yang rendah, ventilasi alami terbatas, serta ketergantungan tinggi pada sistem pendingin udara mekanis. Kawasan CBD Rasuna Said merupakan salah satu area yang berpotensi mengalami SBS karena karakter bangunannya yang tertutup, berumur tua, dan mengalami tekanan lingkungan urban yang tinggi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor penyebab SBS pada gedung perkantoran di Jakarta dan merumuskan strategi mitigasi melalui pendekatan arsitektur regeneratif. Metode penelitian dilakukan secara deskriptif-kualitatif melalui pengumpulan data sekunder dari literatur, laporan teknis, standar kualitas udara dalam ruang, serta analisis kondisi bangunan lama di kawasan CBD. Data yang diperoleh dianalisis dengan membandingkan parameter kualitas udara, pencahayaan, dan kelembapan dengan standar kenyamanan yang berlaku untuk ruang kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingginya kadar karbon dioksida, kurangnya pergantian udara segar, kelembapan yang tidak stabil, serta penggunaan material interior beremisi tinggi merupakan faktor dominan terbentuknya SBS pada gedung perkantoran. Penerapan strategi seperti ventilasi hybrid, double-skin façade, peningkatan pencahayaan alami, penggunaan material rendah VOC, integrasi vegetasi, serta pengelolaan udara adaptif terbukti dapat meningkatkan kualitas lingkungan dalam ruang dan mengurangi risiko SBS secara signifikan.
PENDEKATAN CROSS-PROGRAMMING SEBAGAI INTEGRASI FASILITAS PENGOLAHAN LIMBAH ORGANIK DAN FASILITAS PUBLIK DI PASAR INDUK KRAMAT JATI Teresa, Hildegardis Nadya; Carina, Nina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37058

Abstract

The Kramat Jati Wholesale Market area is one of the largest food distribution hubs in DKI Jakarta, generating significant amounts of organic waste on a daily basis. Irregular waste collection flows and the absence of on-site waste processing facilities have resulted in suboptimal waste management, leading to ecological pressure and potential health risks. Beyond waste-related issues, the market area also faces socio-spatial challenges associated with public facilities that have developed organically in response to user demands but are not adequately supported by spatial quality, strategic placement, and proper management, thereby creating potential conflicts with the market’s primary activities. This study aims to formulate an architectural design for an organic waste processing facility integrated with public facilities through a cross-programming approach as the main mechanism for combining technical and social functions within a single spatial system. The approach is positioned within a regenerative architecture framework to establish mutually supportive relationships between market activities, waste processing systems, and community life. The research employs a qualitative-descriptive method through field observations, activity mapping, stakeholder interviews, and a literature review related to waste management and spatial program integration. The design outcomes indicate that the application of cross-programming enables the controlled integration of organic waste processing facilities with public spaces such as environmental education areas, rest spaces, and social interaction zones. This integration not only improves the efficiency of waste processing flows but also enhances spatial quality and community engagement within the market area. The findings affirm that cross-programming represents a relevant design strategy for developing market areas as integrated spatial systems with ecological, social, and economic value in a sustainable manner. Keywords: cross-programming; organic waste processing; public facilities; traditional market Abstrak Kawasan Pasar Induk Kramat Jati merupakan salah satu pusat distribusi pangan terbesar di DKI Jakarta yang menghasilkan timbulan limbah organik dalam jumlah signifikan setiap harinya. Ketidakteraturan alur pengumpulan serta ketiadaan fasilitas pengolahan limbah di dalam kawasan menyebabkan sebagian besar limbah tidak tertangani secara optimal, sehingga menimbulkan tekanan ekologis dan risiko kesehatan. Selain persoalan limbah, kawasan Pasar Induk Kramat Jati juga menghadapi permasalahan sosial-spasial terkait fasilitas publik yang berkembang secara organik mengikuti kebutuhan pengguna, namun belum didukung oleh kualitas ruang, penempatan, dan pengelolaan yang memadai sehingga berpotensi menimbulkan konflik dengan aktivitas utama pasar. Penelitian ini bertujuan merumuskan perancangan fasilitas pengolahan limbah organik yang terintegrasi dengan fasilitas publik melalui pendekatan cross-programming sebagai mekanisme utama penggabungan fungsi teknis dan sosial dalam satu sistem ruang. Pendekatan ini diposisikan dalam kerangka arsitektur regeneratif untuk menghasilkan hubungan yang saling mendukung antara aktivitas pasar, sistem pengolahan limbah, dan kehidupan komunitas. Metode penelitian yang digunakan bersifat kualitatif-deskriptif melalui observasi lapangan, pemetaan aktivitas, wawancara dengan pemangku kepentingan, serta kajian literatur terkait pengelolaan limbah dan integrasi program ruang. Hasil perancangan menunjukkan bahwa penerapan cross-programming memungkinkan integrasi fasilitas pengolahan limbah organik dengan ruang publik seperti area edukasi lingkungan, ruang istirahat, dan zona interaksi sosial secara terkontrol. Integrasi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi alur pengolahan limbah, tetapi juga memperbaiki kualitas ruang dan keterlibatan komunitas pasar. Temuan penelitian menegaskan bahwa pendekatan cross-programming berpotensi menjadi strategi perancangan yang relevan dalam mengembangkan kawasan pasar sebagai sistem ruang yang memiliki nilai ekologis, sosial, dan ekonomi secara berkelanjutan.
FASILITAS PENGEMBANGAN BAHAN BAKAR HAYATI DAN EDU-REKREASI DI KAWASAN PPS NIZAM ZACHMAN JAKARTA UTARA Clariesta, Patricia; Carina, Nina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37059

Abstract

Abstract The Samudera Nizam Zachman Oceanic Fishing Port (PPS) in Muara Baru, North Jakarta, is one of the largest fishing ports in Indonesia, supporting marine industrial activities on a national scale. The high intensity of fish landing, auctioning, and seafood processing activities, combined with organic waste generated from dense residential areas and surrounding supporting activities, produces large volumes of fish residues and food waste that remain inadequately managed. This condition has led to the degradation of coastal environmental quality and reflects a low level of public awareness regarding the importance of organic waste management as a reusable resource. This study aims to design a facility that integrates industrial functions for organic waste processing with edu-recreational functions, combining educational and recreational activities that allow the public to understand and directly observe waste processing processes, as well as commercial functions to support the local economy. The research adopts a qualitative–descriptive method, including a literature review, field observations to map industrial activities and sources of organic waste from both the port area and surrounding residential settlements, spatial analysis to identify relationships between industrial and public zones, and comparative studies of relevant industrial–public facilities. The design process is conducted through stages of analysis, synthesis, and transformation using Bernard Tschumi’s transprogramming approach, which enables interactions between production spaces and public spaces. The design outcomes indicate that the proposed facility has the potential to serve as a model for organic waste processing and bioenergy production that is adaptive to the socio-ecological context of fishing areas, while also functioning as a medium for environmental education and coastal regeneration. Keywords:  Biofuel; fishing port; organic waste processing; regenerative architecture; transprogramming Abstrak Kawasan Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Nizam Zachman di Muara Baru, Jakarta Utara, merupakan salah satu pelabuhan perikanan terbesar di Indonesia yang menopang aktivitas industri laut berskala nasional. Tingginya intensitas kegiatan pendaratan, pelelangan, dan pengolahan hasil laut, ditambah limbah organik dari permukiman padat dan aktivitas pendukung di sekitarnya, menghasilkan volume sisa ikan dan sampah makanan dalam jumlah besar yang belum tertangani secara optimal. Kondisi ini memicu penurunan kualitas lingkungan pesisir dan memperlihatkan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan limbah organik sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali. Penelitian ini bertujuan merancang fasilitas yang mengintegrasikan fungsi industri pengolahan limbah organik dengan fungsi edu-rekreasi, yaitu gabungan fungsi edukatif dan rekreatif yang memungkinkan masyarakat memahami dan melihat langsung proses pengolahan limbah, serta fungsi komersial untuk mendukung ekonomi lokal. Metode penelitian yang digunakan bersifat kualitatif – deskriptif, meliputi studi literatur, observasi lapangan untuk memetakan aktivitas industri dan sumber limbah organik dari kawasan pelabuhan dan permukiman, analisis spasial untuk mengidentifikasi hubungan antara zona industri dan publik, serta studi komparatif terhadap fasilitas industri-publik yang relevan. Tahap perancangan dilakukan melalui proses analisis, sintesis, dan transformasi menggunakan pendekatan transprogramming Bernard Tschumi yang memungkinkan terciptanya interaksi antara ruang produksi dan ruang publik. Hasil perancangan menunjukkan bahwa fasilitas ini berpotensi menjadi model pengolahan limbah organik dan produksi energi hayati yang adaptif terhadap konteks sosial-ekologis kawasan perikanan, sekaligus berperan sebagai medium edukasi dan regenerasi lingkungan pesisir.
REGENERASI KAWASAN KUMUH DI TAMBORA : REGENERASI EKOLOGI DAN SOSIAL PADA HUNIAN MASYARAKAT Gusfino, Hasta; Hadiwono, Alvin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37061

Abstract

Due to its strategic location and being one of the lower-middle class economic centers in West Jakarta, Tambora District has become a target for urbanization.  Massive urbanization has caused Tambora's population density to increase sharply, making it one of the most densely populated areas in Southeast Asia.  High population density causes Tambora to have a very high residential density. This very high residential density causes various ecological problems such as unhealthy slums and the lack of green spaces.  The purpose of this study is to create new residential buildings that can solve residential problems and create green spaces for the community.  The research method is to study the community's lifestyle and settlement patterns using the fractal method, and to re-arrange the slum buildings using the shape grammar method.  The steps used are to study the existing settlement patterns and the community's lifestyle patterns. Then, to re-arrange these patterns.  The results of this study are that slum settlements in the Tambora area must be arranged according to the patterns that have been formed in the community and re-arranged to be more suitable and neat.  Designs created with sufficient green space and layouts that follow local culture can address ecological and social issues.  This research combines the redevelopment of slum settlements using the Shape Grammar method with the principles of regenerative architecture to address housing issues. Keywords:  Urbanization, slums, ecology, green open space, shape gramma, fractal, regenerative. Abstrak Karena letaknya yang strategis dan merupakan salah satu pusat ekonomi kelas menengah kebawah di Jakarta Barat, Kecamatan Tambora menjadi target urbanisasi. Urbanisasi besar – besaran menyebabkan kepadatan tambora menjadi melonjak sangat tajam yang Karena letaknya yang strategis dan merupakan salah satu pusat ekonomi kelas menengah kebawah di Jakarta Barat. Urbanisasi besar – besaran menyebabkan kepadatan tambora menjadi melonjak sangat tajam membuat Tambora menjadi salah satu kawasan paling padat di Asia Tenggara. Kepadatan manusia yang tinggi menyebabkan Tambora memilki kepadatan pemukiman yang sangat tinggi. Kepadatan pemukiman yang sangat tinggi menyebabkan berbagai masalah ekologi seperti pemukiman kumuh yang tidak sehat,dan kurangnya ruang hijau. Tujuan penelitian ini adalah menciptakan bangunan pemukiman baru yang dapat menyelesaikan masalah pemukiman , dan menciptakan ruang hijau bagi masyarakat. Metode penelitian ini adalah dengan mempelajari pola hidup masyarakat serta pola pemukiman masyarakat dengan metode fraktal, dan menyusun kembali bangunan – bangunan kumuh tersebut dengan metode shape grammar. Langkah yang digunakan adalah mempelajari pola pemukiman yang sudah terbentuk, dan mempelajari pola hidup masyarakat. Lalu menata kembali pola – pola tersebut. Hasil dari penelitian ini adalah pemukiman kumuh pada kawasan Tambora harus disusun dengan mengikuti pola yang sudah terbentuk pada masyarakat, dan ditata ulang agar lebih layak dan rapih. Desain yang dibuat dengan ruang hijau yang cukup, dan penataan yang mengikuti budaya masyarakat setempat, dapat menyelesaikan masalah ekologis dan sosial. Penelitian ini menggabungkan antara penataan kembali pemukiman kumuh dengan metode Fraktal, dengan prinsip – prinsip arsitektur regeneratif untuk menyelesaikan masalah pemukiman.
STRATEGI DESAIN BANGUNAN DI TEPI AIR Ayu, Gabi; Yuono, Doddy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37062

Abstract

Waterfront areas are strategic urban spaces that are also vulnerable to environmental pressures, such as sea level rise, coastal flooding, and ecosystem degradation. In the architectural discipline, these issues are not only understood as environmental problems, but also as challenges for building design in responding to the dynamic conditions of waterfront areas. This study aims to formulate sustainable building design strategies in waterfront areas through a comparative analysis of international precedent studies. The method used is a qualitative-descriptive approach with precedent studies as the main analytical framework, supported by a review of literature related to Water-Sensitive Urban Design (WSUD), building energy efficiency, and coastal resilience. The two precedents studied, namely Darling Harbour in Sydney and Marina Bay District in Singapore, are positioned as architectural precedents, not environmental case studies, so the focus of the analysis is directed at the relationship between environmental systems and building design decisions. The novelty of this study lies in the development of an architectural analysis framework that explicitly separates the environmental dimensions and the building design dimensions in reading waterfront precedents, so that they can be used as a basis for formulating sustainable building design strategies in waterfront areas. Keywords: Architecture; coastal; energy; water-sensitive urban design waterfront; waterfront Abstrak Kawasan tepi air merupakan ruang perkotaan strategis yang sekaligus rentan terhadap tekanan lingkungan, seperti kenaikan muka air laut, banjir pesisir, dan degradasi ekosistem. Dalam disiplin arsitektur, isu tersebut tidak hanya dipahami sebagai permasalahan lingkungan, tetapi juga sebagai tantangan desain bangunan dalam merespons kondisi dinamis kawasan waterfront. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi desain bangunan berkelanjutan di kawasan tepi air melalui analisis komparatif studi preseden internasional. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-deskriptif dengan studi preseden sebagai kerangka analisis utama, didukung kajian literatur terkait Water-Sensitive Urban Design (WSUD), efisiensi energi bangunan, dan ketahanan pesisir. Dua preseden yang dikaji, yaitu Darling Harbour di Sydney dan Marina Bay District di Singapura, diposisikan sebagai preseden arsitektural, bukan studi kasus lingkungan, sehingga fokus analisis diarahkan pada hubungan antara sistem lingkungan dan keputusan desain bangunan. Kebaruan penelitian ini terletak pada penyusunan kerangka analisis arsitektural yang secara eksplisit memisahkan dimensi lingkungan dan dimensi desain bangunan dalam pembacaan preseden waterfront, sehingga dapat digunakan sebagai dasar perumusan strategi desain bangunan berkelanjutan di kawasan tepi air.

Page 1 of 4 | Total Record : 36