cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
OMAH SENI: PENGEMBANGAN SENI LUKIS DI PASAR BARU JAKARTA Adrian Lucas Teja; Sutrisnowati Machdijar
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24211

Abstract

Empathy means to feel and understand what another person is feeling. An architect must understand space and the thought process of its users. If an architect knows how the user sees and feels a space, it will be easy to design for them. Empathetic architecture is linked to the street painting community. In Indonesia, street painters are commonly seen as paintings across a sidewalk, in a store or even kiosks. Areas that are famous for their street artists include Pasar Baru, Kota Tua, Pasar Seni Ancol in Jakarta, Jalan Braga in Bandung, and Jalan Simpang in Surabaya. So this project was inspired from Architectural Empathy for the street artist community in Pasar Baru, Central Jakarta. They have recently experienced job withdrawals and a lack of customers due to a lack of interest by the younger generation in their paintings, as well as a location that does not support their work. This analysis is done with the descriptive-qualitative method based on personal data. This project aims to fix the life of the artists, by integrating prorams that will increase the demography of customers. The concept used is facadism because the project is situated in a building that has historic potential. Keywords:  Age; Potential; Sentra Lukis Abstrak Empati berarti merasakan dan memahami perasaan orang lain. Seorang arsitek harus memahami ruang dengan pola pikir penggunanya. Jika arsitek tahu persis bagaimana pengguna melihat dan mengalaminya, akan mudah merancang ruang untuk para seniman. Empati Arsitektur ini dikaitkan dengan komunitas seniman jalanan. Di Indonesia,  jasa pelukis jalanan sering dijumpai dalam bentuk pajangan lukisan di sepanjang trotoar, di dalam ruko atau bahkan pada sederet kios yang disediakan pengelola setempat untuk para pelukis. Daerah-daerah yang terkenal dengan pelukis jalannya antara lain Pasar Baru, Kota Tua, Pasar Seni Ancol di Jakarta, Jalan Braga di Bandung, dan Jalan Simpang di Surabaya. Maka proyek ini diangkat dari Empati Arsitektur terhadap komunitas seniman jalanan di Pasar Baru, Jakarta Pusat. Mereka belakangan ini mengalami pengurangan lapangan kerja dan sepinya pelanggan yang dikarenakan kurangnya minat generasi muda terhadap lukisan mereka, serta lokasi yang kurang mendukung pekerjaan mereka. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif-kualitatif berdasarkan analisis pribadi dari wawancara masyarakat. Maka proyek ini bertujuan memperbaiki ruang hidup para seniman, dengan mengintegrasikan program-program yang diharapkan dapat meluaskan demografi pelanggan, menarik perhatian dunia terhadap komunitas seniman jalanan, serta mempersiapkan para seniman terhadap perkembangan zaman yang digital. Konsep desain yang digunakan adalah facadism karena proyek mengambil tapak dengan bangunan yang memiliki langgam arsitektur bersejarah.
PENERAPAN DESAIN SENSORI PADA GANGGUAN HIPERSENSITIF DAN HIPOSENSITIF PADA ANAK PENYANDANG AUTISME Virginia Limmanto; Sutrisnowati Machdijar
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24212

Abstract

The design of an autism therapy center and school for special needs (Autism Spectrum Disorder) answers the lack of therapy and educational facilities for autistic children in Jakarta. Several therapy centers for autistic children in Jakarta have been closed due to Covid-19. Tthe data was acquired from the Centers for Disease Control and Prevention, where cases of autistic children have increased every year, including in Indonesia. In Jakarta, Cengkareng District doesn’t have many adequate facilities for children with Autism. This is because the majority of schools and therapy places are located in South Jakarta and East Jakarta. Therapy places for children with special needs in Indonesia are generally located in shophouses or residential houses that function as therapy places to accommodate these special activities. Therefore, there is a need for schools and special therapy places for children with autism in West Jakarta. The research method used in this study was a qualitative approach that relied on theories, data, and information about the program in order to gain an understanding of behavior, actions, and interests. The design method used sensory perception, where spatial perception influences the subject’s behavior in daily activities and in the learning environment. Keywords:  Autism; School; Sensory; Therapy Abstrak Perancangan sekolah dan pusat terapi untuk anak berkebutuhan khusus autisme (Autism Spectrum Disorder) merupakan respon dari kurangnya fasilitas terapi dan pendidikan khusus bagi anak penyandang autisme di kota Jakarta. Beberapa pusat terapi untuk anak penyandang autisme di Jakarta telah ditutup akibat dari covid-19. Data dari Center for Disease Control and Prevention dimana kasus anak yang menyandang autisme mengalami peningkatan setiap tahunnya termasuk di Indonesia. Tercatat wilayah Jakarta Barat menjadi angka terbanyak untuk anak yang menyandang autisme. Di Jakarta, Kecamatan Cengkareng tidak memiliki banyak fasilitas yang memadai untuk anak penyandang autisme. Hal ini terjadi karena mayoritas sekolah dan tempat terapi untuk mereka terletak di daerah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Tempat terapi untuk anak berkebutuhan khusus di Indonesia pada umumnya berada di bangunan ruko ataupun di rumah tinggal yang difungsikan sebagai tempat terapi untuk mewadahi kegiatan khusus tersebut. Oleh sebab itu, dibutuhkan adanya sekolah dan tempat terapi khusus untuk anak penyandang autisme di wilayah Jakarta Barat. Metode penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif yang didasari pada teori, data, dan informasi mengenai program yang bermaksud untuk memahami perilaku, tindakan, dan minat. Metode desain yang diterapkan menggunakan persepsi sensori dimana persepsi ruang berpengaruh pada perilaku subjek pada aktivitas sehari-hari maupun pada lingkungan belajar.
PERANCANGAN TIPOLOGI BARU FASILITAS ANAK USIA GOLDEN AGE DENGAN METODE PEMBELAJARAN REGGIO EMILIA Jason Yeoh; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24213

Abstract

The golden age is a developmental stage in children that occurs only once, from birth to the age of six. However, with the existence of inflation and the progress of time in Jakarta, husband or wife gets forced to work harder. This fact is proved by the fact that the number of female workers continues to increase to 49.99%. So it is likely that the child's growth period will not be supervised or missed. Passing through the golden age can cause social problems in children, speech problems, movement problems, and getting atrophy which have an impact on children's intelligence. In addition, the quality of learning in Indonesia is still not optimal because the application of learning methods is still conventional.  So using the Reggio Emilia pedagogical learning method, which means space acts as a third teacher, can be a solution. To achieve this learning method, a new typological approach is needed in the planning process. The building program is prepared by using transprogramming theory which combines three different program functions. Where the main program in design is child care and schools are supported by the second program, namely children's garden. Then the third program is an intimate space program that can trigger interaction between parents and children. The connection between the use of transprogramming and the new typology is to mix the needs of the space program and develop a standard spatial arrangement into a new arrangement so that the function of the space can be maximized. Keywords: Golden age; pedagogi reggio emilia; transprograming; typology Abstrak Golden age merupakan masa pertumbuhan yang hanya terjadi sekali pada usia sejak lahir hingga 6 tahun. Namun dengan adanya inflasi, perkembangan zaman, dan kemajuan zaman di kota Jakarta membuat suami / istri dipaksa untuk sibuk bekerja. Buktinya jumlah pekerja wanita terus mengalami peningkatan hingga 49,99%. Sehingga tidak menutup kemungkinan masa pertumbuhan anak menjadi tidak terawasi maupun terlewatkan. Dengan melewatkan masa golden age dapat menyebabkan masalah pada anak untuk bersosialisasi, masalah untuk berbicara, masalah untuk bergerak, dan mengalami atrofi (penyusutan otak) yang dapat mepengaruhi tingkat kecerdasan anak. Selain itu, kualitas pembelajaran yang di Indonesia juga masih belum optimal karena penerapan metode pembelajaran yang masih bersifat konvensional. Maka dengan menggunakan metode pembelajaran pedagogi reggio emilia yang berarti ruang bertindak sebagai guru ketiga dapat menjadi sebuah solusi. Untuk mecapai metode pembelajaran tersebut maka dibutuhkan pendekatan tipologi baru ruang dalam proses percanngannya. Penyusununan program bangunan disusun dengan menggunakan teori transprograming yang mengkombinasi tiga fungsi program yang berberda. Dimana program utama dalam perancangan adalah child care dan sekolah yang didukung dengan program kedua yaitu children garden. Sedangkan  program ketiganya adalah program intimate space yang dapat  memicu interaksi hubungan antara orang tua dan anak. Kaitan dari penggunaan transprograming dan tipologi baru adalah untuk mencampurkan kebutuhan program ruang dan mengembangkan  susunan ruang yang sudah baku menjadi sunan bentuk yang baru agar fungsi  ruang menjadi lebih maksimal.
PENERAPAN DESAIN THERAPEUTIC PADA WADAH KREATIF PEKERJA FILM ANIMASI PENGIDAP INSOMNIA Canniago Hermindo; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24214

Abstract

The creative industry plays an important role in driving Indonesia's overall economic growth. Data released by the Central Bureau of Statistics (2018) shows that the creative economy sub-sector makes a significant contribution to the national economy by contributing 7.44% to the Gross Domestic Product (GDP). One of them comes from the film, animation, and video sub-sector. Based on the Creative Economy Agency (2020), the growth of this industry reaches 10% annually. However, this cannot be separated from the creative workers who often get insomnia due to work. Insomnia is a disorder in the form of difficulty getting to sleep, difficulty maintaining sleep, and sleep dissatisfaction. Based on the US Census Bureau, International Data Base in 2004 as many as 28.035 million people in Indonesia (11.7%) suffer from insomnia. This shows that insomnia has become a problem faced by the majority of Indonesian people. Rehabilitation for people with insomnia is needed because it can interfere with health and reduce productivity. Therefore, a creative workspace for animated film workers with insomnia is needed which aims to facilitate them in the work process as well as fill their time when experiencing the insomnia phase to support recovery so they can return to their productive activities. The research uses qualitative methods with library research followed by data collection through surveys of similar buildings and interviews with users regarding space requirements that support creative work processes and insomnia. Then the use of the healing therapeutic concept as a design criteria related to connectedness with nature, culture, privacy, physical comfort, multifunctional activities, relaxation rooms, interactive, flexible, and beautiful that aim to comfort users in assisting their work and recovery processes. Keywords: Creative; Insomnia; Therapeutic Abstrak Industri kreatif memainkan peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (2018) menunjukkan bahwa subsektor ekonomi kreatif berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional dengan menyumbangkan sebesar 7,44% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Salah satunya berasal dari sub sektor film, animasi, dan video. Berdasarkan Badan Ekonomi Kreatif (2020), pertumbuhan industri tersebut mencapai 10% tiap tahunnya. Namun hal tersebut tidak lepas dari pekerja kreatif tersebut yang sering terkena insomnia akibat pekerjaan. Insomnia merupakan gangguan berupa kesulitan untuk memulai tidur, kesulitan mempertahankan tidur, dan ketidakpuasan tidur. Berdasarkan US Census Bureau, International Data Base tahun 2004 sebanyak 28,035 juta jiwa penduduk Indonesia (11,7%) terjangkit insomnia. Hal tersebut menunjukan bahwa insomnia sudah menjadi masalah yang dihadapi mayoritas masyarakat Indonesia. Rehabilitasi bagi pengidap insomnia diperlukan karena dapat menggangu kesehatan dan menurunkan produktivitas. Oleh karena itu, diperlukan sebuah wadah kerja kreatif pekerja film animasi pengidap insomnia yang bertujuan memudahkan mereka dalam proses bekerja sekaligus mengisi waktu mereka ketika mengalami fase insomnia untuk menunjang pemulihan sehingga bisa kembali beraktivitas secara produktif. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan riset kepustakaan dilanjutkan dengan pengumpulan data melalui survei bangunan sejenis dan wawancara dengan user terkait kebutuhan ruang yang menunjang proses kerja kreatif dan insomnia. Kemudian penggunaan konsep healing therapeutic sebagai kriteria desain yang terkait keterhubungannya dengan alam, budaya, privasi, kenyamanan fisik, kegiatan multifungsional, ruang relaksasi, interaktif, fleksibel, dan indah yang bertujuan untuk kenyamanan pengguna dalam membantu proses kerja dan pemulihan mereka.
UPAYA PEMULIHAN DAN PEMBINAAN UNTUK ANAK TERLANTAR DALAM MENCAPAI KEMANDIRIAN MELALUI PENDEKATAN ARSITEKTUR Rinetha Adriane Tsanynda Budiarto; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24215

Abstract

Children are an investment and hope for the future of the nation, because they will be the next generation. Productive age is an important phase in human growth and development that will determine their future. However, if there is neglect in society, children will live without getting their rights and separated from the welfare they should receive. During their growth process, every child needs support and assistance from parents and the environment to achieve optimal growth. Several factors can cause neglected children including parenting styles, the education system, and financial problems. Abandoned children are often forced to beg, sing in the streets, or even engage in crime. Therefore, it is important for us to show empathy for the condition of abandoned children and give them the opportunity to be independent, so that the next generation can overcome their backwardness and acquire basic skills in personal and social aspects. One alternative to support neglected children's independence is to design halfway houses through improvement, education and art programs, thereby creating a new environment that supports them. Keywords: abandoned children; halfway house; healing; independence; skills Abstrak Anak-anak merupakan investasi dan harapan bagi masa depan bangsa, karena mereka akan menjadi generasi penerus. Masa usia produktif merupakan fase penting dalam pertumbuhan dan perkembangan manusia yang akan menentukan masa depan mereka. Namun, jika terjadi pengabaian di masyarakat, anak-anak akan hidup tanpa mendapatkan hak-hak mereka dan terpisah dari kesejahteraan yang seharusnya mereka terima. Selama proses pertumbuhan mereka, setiap anak membutuhkan dukungan dan bantuan dari orang tua dan lingkungan sekitar untuk mencapai pertumbuhan yang optimal. Beberapa faktor yang menyebabkan anak terlantar termasuk pola pengasuhan, sistem pendidikan, dan masalah keuangan. Anak-anak terlantar sering kali terpaksa melakukan tindakan meminta-minta, menyanyi di jalanan, atau bahkan terlibat dalam tindak kejahatan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menunjukkan empati terhadap kondisi anak-anak terlantar ini dan memberi mereka kesempatan untuk mandiri, sehingga generasi penerus dapat mengatasi keterbelakangan dan memperoleh keterampilan dasar dalam aspek personal dan sosial. Dalam rangka mendukung kemandirian anak-anak terlantar, implementasi metode transprogramming menjadi solusi yang efektif. Metode ini dapat disiasati dengan merancang rumah singgah melalui program pemulihan, pelatihan, dan ekspresif. Dengan demikian, tercipta lingkungan baru yang mendukung proses perkembangan mereka. Pendekatan desain yang berorientasi pada komunitas dengan pendekatan spasial yang ekspresif juga perlu diterapkan. Dalam merancang rumah singgah untuk anak-anak terlantar, pendekatan desain yang berorientasi pada komunitas perlu diterapkan. Rumah singgah tersebut harus dirancang sebagai lingkungan yang inklusif dan ramah anak. Ruang-ruang dalam rumah singgah dapat dirancang agar mendukung interaksi sosial dan kolaborasi antara anak-anak. Selain itu, penggunaan elemen-elemen desain yang ekspresif, seperti warna-warna cerah dan mural, dapat menciptakan suasana yang menyenangkan dan mendorong kreativitas anak-anak.
PENERAPAN KONSEP TRANSPROGRAMMING SEBAGAI PENDEKATAN PERANCANGAN WADAH OBSERVASI DAN PERAWATAN REMAJA DEPRESI Joseph Tjandra Azriel; Irene Syona Darmady
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24216

Abstract

Depression is one of the leading mental disorders in the world, including among teenagers. According to the National Adolescent Mental Health Survey in 2022, as many as one in three teenagers aged 10-17 years in Indonesia experience a mental disorder, including depression. The causes vary, but depression is generally not detected among teenagers. This is caused by the stigma that depression is synonymous with psychiatric disorders and madness; this phenomenon is supported indirectly by the architectural conditions of psychology clinics that are generally too sterile and intimidating like hospitals. As a result, parents do not take depression seriously and teenagers who suffer from it do not receive proper observation or treatment. This drives depressed teenagers to turn to alcohol, drugs, self-harm, or even suicide despite being in the prime age to form social skills, choose majors, and develop personal potential for their future. Therefore, teenagers who suffer from depression are vulnerable users who must be given empathy so they may receive proper observation, treatment, and rehabilitation. Architecture is capable of playing a role in the empathic process by using empathic architecture as an approach. Utilizing transprogramming as an approach to architectural design and interviews as qualitative methods, the collection of data aims to position teenagers with depression as users in architectural space. The end result is a space where teenagers with depression would be able to receive observation and treatment without feeling intimidated. Keywords:  Empathic Architecture; Observation; Teen Depression; Transprogramming; Treatment Abstrak Depresi merupakan salah satu gangguan mental terkemuka di dunia, termasuk di tengah kalangan remaja. Menurut National Adolescent Mental Health Survey di tahun 2022, sebanyak satu dari tiga remaja berusia 10 - 17 tahun di Indonesia memiliki gangguan mental, termasuk depresi. Penyebabnya beragam, namun depresi umumnya tidak terdeteksi pada usia remaja. Hal ini merupakan dampak dari stigma bahwa depresi identik dengan gangguan kejiwaan dan kegilaan; fenomena ini didukung secara tidak langsung oleh kondisi arsitektur klinik psikologi yang umumnya bersifat terlalu steril dan mengintimidasi seperti rumah sakit. Akibatnya, orang tua tidak menanggapi depresi dengan serius dan remaja yang menderita tidak mendapat observasi atau perawatan yang selayaknya diberikan. Hal ini mendorong remaja depresi untuk beralih ke alkohol, obat-obatan, menyakiti diri sendiri, atau bahkan bunuh diri meski sedang berada di usia prima untuk membentuk keterampilan sosial, memilih jurusan, dan mengembangkan potensi pribadi untuk masa depan masing-masing. Oleh karena itu, remaja yang mengalami depresi diposisikan sebagai vulnerable user yang harus diberikan empati agar mendapat observasi, perawatan, dan rehabilitasi yang selayaknya diterima. Arsitektur mampu berperan dalam proses empati tersebut dengan menggunakan pendekatan arsitektur empati. Dengan metode transprogramming dalam rancangan arsitektur serta metode kualitatif berupa wawancara, data yang diambil bertujuan untuk memposisikan remaja depresi sebagai user dalam ruang arsitektur. Hasil akhir berupa perencanaan sebuah wadah dimana remaja depresi dapat menerima observasi dan perawatan tanpa merasa terintimidasi.
PENERAPAN KONSEP PLAYFUL DALAM PERENCANAAN PROYEK RUMAH BERMAIN LANSIA DI KAWASAN KEBON JERUK, JAKARTA BARAT Ivonne Tiara Hilarisani; Irene Syona Darmady
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24217

Abstract

The elderly are a group that experiences the aging process and will face various challenges in living their daily lives. The elderly population in Indonesia continues to increase every year with the elderly population reaching more than 7% of the total population, so it is necessary to make efforts to improve the welfare of the elderly in accordance with the Elderly Welfare Law. One of the problems that often arise in the elderly is loneliness caused by a lack of social interaction with their peers. Social interaction has a positive impact on the quality of life of the elderly. The author empathizes with the elderly who experience loneliness and need social interaction with their peers. Therefore, one effort that can be done is to create a place that is entertaining, interactive and useful for the elderly. The purpose of this research is to involve the architecture of empathy in overcoming the problem of loneliness in the elderly, and to find out the approaches that can be used in overcoming the problem of loneliness in the elderly. The design method applied in the design is playful architecture. This concept emphasizes joy and happiness. The goal is to create an inviting space to play, experiment and have fun. and provide a pleasant experience for visitors. It can also help increase productivity, creativity and strengthen social bonds within the community. Keywords: architecture; elderly; empathy; playful Abstrak Lansia merupakan kelompok yang mengalami proses penuaan dan akan menghadapi berbagai tantangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Populasi lansia di Indonesia terus meningkat tiap tahunnya dengan populasi lansia mencapai lebih dari 7% dari total populasi penduduk, sehingga perlu melakukan upaya untuk mensejahterakan lansia sesuai dengan Undang-Undang Kesejahteraan Lanjut Usia. Salah satu masalah yang sering muncul pada lansia adalah kesepian yang diakibatkan karena kurangnya interaksi sosial dengan teman-teman sebayanya. Interaksi sosial memiliki dampak positif terhadap kualitas hidup lansia. Penulis berempati kepada lansia yang mengalami kesepian dan membutuhkan interaksi sosial dengan teman-teman sebayanya. Oleh karena itu, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menciptakan tempat rekreasi dan sosialisasi yang menghibur, interaktif, dan bermanfaat untuk lansia. Tujuan dari penulisan ini adalah melibatkan arsitektur empati dalam sebuah perencanaan proyek yang dapat mengatasi masalah kesepian pada lansia. Metode dalam penulisan ini adalah observasi lapangan dan wawancara, serta menerapkan konsep arsitektur empati dan playful architecture. Konsep ini menekankan pada keceriaan dan kebahagiaan. Tujuannya adalah untuk menciptakan ruang yang mengundang untuk bermain, bereksperimen, dan bersenang-senang. Serta memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi pengunjungnya. Hal ini juga dapat membantu meningkatkan produktivitas, kreativitas, dan memperkuat ikatan sosial dalam komunitas.
PERANCANGAN RUANG BELAJAR KOLABORATIF BAGI GURU DAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DENGAN KONSEP THERAPEUTIC DESIGN Birgitta Eleonora Berliana; Irene Syona Darmady
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24218

Abstract

Architecture can resolve or respond to problems that occur both in the human sphere and its environment driven by a sense of empathy. This research is a form of empathy for one of the social problems that exist in Jakarta. Sekolah Luar Biasa or SLB is an educational institution that aims to help students who have physical and or mental limitations to develop behavior, knowledge, and skills as individuals and as part of a social community. This research departs from empathy for teaching staff or teachers who devote themselves to providing teaching, and assistance to students with special needs in SLB. Being a teacher in SLB is a heavy burden, as it requires basic knowledge of learning programs, an understanding of student characteristics, and the right way of assisting students with special needs. On the other hand, limited school facilities to support the continuity of education for teachers and students with special needs are obstacles that teachers must face. Demands do not only come from school, each teacher also has a life outside of work that must be lived, such as meeting personal needs, and meeting family needs. These factors have an impact on the emergence of stress experienced by SLB teachers. This research aims to resolve these problems through a collaborative learning space program in a container designed with a therapeutic design approach. Keyword: collaborative learning space; extraordinary school; stress; teachers; therapeutic design  Abstrak Arsitektur dapat mengatasi atau menanggapi permasalahan yang terjadi baik di lingkup manusia maupun lingkungannya yang didorong oleh karena rasa empati. Penelitian ini merupakan bentuk empati penulis terhadap salah satu permasalahan sosial yang ada di Jakarta. Sekolah Luar Biasa atau SLB merupakan institusi pendidikan yang bertujuan untuk membantu para murid yang memiliki keterbatasan fisik dan atau mental supaya mampu mengembangkan perilaku, pengetahuan, dan keahlian sebagai individu maupun sebagai bagian dari komunitas sosial. Penelitian ini berangkat dari empati terhadap tenaga pengajar atau guru yang mengabdikan dirinya untuk memberikan pengajaran dan pendampingan kepada para murid dengan kebutuhan khusus di SLB. Menjadi guru di SLB dihadapkan dengan beban yang begitu berat, karena membutuhkan pengetahuan dasar mengenai program pembelajaran, pemahaman tentang karakteristik murid, dan cara pendampingan yang tepat untuk murid berkebutuhan khusus. Di sisi lain, keterbatasan fasilitas sekolah untuk menunjang kelangsungan pendidikan bagi guru dan murid berkebutuhan khusus menjadi kendala yang harus dihadapi para guru. Tuntutan tidak hanya datang dari sekolah, setiap guru juga memiliki kehidupan di luar pekerjaannya yang harus dihidupi, seperti memenuhi kebutuhan pribadi, dan memenuhi kebutuhan keluarga. Faktor-faktor tersebut berdampak pada timbulnya stress yang dialami guru SLB. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan tersebut melalui program collaborative learning space dalam wadah yang dirancang dengan pendekatan therapeutic design.
PENERAPAN FEMINISME ARSITEKTUR DALAM PERANCANGAN TEMPAT PEMBERDAYAAN TERHADAP PENGEMBANGAN IBU MUDA Nabella Khowili; Stephanus Huwae
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24219

Abstract

Child marriage is a form of marriage that occurs when children marry before reaching the age of 18. In Indonesia, the prevalence of child marriage is quite high, ranking seventh highest in the world. Child marriage has negative consequences, particularly for girls, hindering their development. Besides the role of the government and other relevant stakeholders in addressing this issue, architecture also plays an important role. Therefore, a building has been designed to provide educational facilities for young mothers who have entered into early marriages and come from lower-middle-class backgrounds. This building aims to serve as a space for education, community, and self-development for young mothers. The objective of this design is to create a building that can accommodate the needs of young mothers, especially those with lower-middle-class economic status in Jakarta. This research adopts a quantitative-qualitative approach, collecting data through interviews with relevant parties and conducting site surveys to gather field data. Literature review from various sources such as books, journals, theses, and other reading materials is used as a guide in planning for problem-solving. The outcome of this design ultimately presents an object that addresses the impact of child marriage on young mothers who have entered into early marriages and come from lower-middle-class backgrounds. The design method, based on empathetic architecture and Feminism Architecture concept, provides a solution to address this global issue. Keywords: early-age marriage; education; self-development; young mother Abstrak Pernikahan dini adalah bentuk pernikahan yang terjadi saat anak-anak menikah sebelum mencapai usia 18 tahun. Di Indonesia, kasus pernikahan dini cukup tinggi dan menempati peringkat ke-7 tertinggi di dunia. Pernikahan dini memiliki dampak negatif yang merugikan terutama bagi perempuan, menghambat perkembangan mereka. Selain peran pemerintah dan pihak terkait lainnya dalam mengatasi masalah ini, arsitektur juga memiliki peran penting. Oleh karena itu, dirancanglah sebuah bangunan untuk memfasilitasi tempat edukasi bagi ibu muda yang menikah dini dan berasal dari kalangan menengah ke bawah. Bangunan ini bertujuan untuk menjadi wadah yang menyediakan pendidikan, komunitas, dan pengembangan diri bagi ibu muda tersebut. Tujuan perancangan ini adalah menciptakan sebuah bangunan yang dapat memenuhi kebutuhan para ibu muda, terutama mereka yang berada dalam kategori ekonomi menengah ke bawah di kota Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif-kualitatif dengan mengumpulkan data melalui wawancara dengan pihak terkait dan melakukan survei lokasi untuk memperoleh data lapangan. Studi literatur dari berbagai sumber seperti buku, jurnal, skripsi, dan bahan bacaan lainnya digunakan sebagai panduan dalam merencanakan penyelesaian masalah. Hasil dari perancangan ini akhirnya menghasilkan sebuah objek yang bertujuan untuk mengatasi dampak pernikahan dini terhadap ibu muda yang menikah dini dan berasal dari kalangan menengah ke bawah. Metode perancangan yang didasarkan pada arsitektur empati dengan konsep Feminism Architecture menjadi solusi dalam menghadapi salah satu isu global ini.
PENERAPAN KONSEP PLUG IN CITY DALAM PENATAAN PKL DI PUSAT BISNIS PURI INDAH, KEMBANGAN Vincent Marthanegara; Stephanus Huwae
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24220

Abstract

Street vendors in Jakarta who violate city regulations often feel sad because they live in difficult and stressful conditions. They must face various risks, including threats from criminals and the authorities. In addition, street vendors who violate urban order often experience minimal and irregular income. They do not have the same benefits and social rights as other regular workers and are often discriminated against and treated harshly by people who do not understand their situation. The harsh working conditions also took a toll on the physical and mental health of street vendors. They often have to work in extreme weather conditions, dirty and unhealthy environments, and don't have enough rest time. As a result, they are more susceptible to disease and stress that threaten their health and quality of life. The Plug-in City concept approach is a design method for buildings that aims to create buildings that are more sustainable and environmentally friendly by utilizing technology, innovation, and more modern design principles and with the hope of increasing energy efficiency, maximizing land use, reducing environmental impact, creating comfortable and open public spaces. The street vendor facilities are divided into three zones, namely the culinary zone, fashion zone and creative play in the form of a floating installation, while the relaxation facilities offer activities to overcome physical and mental fatigue, such as; City-view, Jogging Track and Meditation Garden. Keywords: plug-in city; recreation; relaxation; street vendors; violation Abstrak Pedagang Kaki Lima di Jakarta yang melanggar peraturan kota seringkali miris karena hidup dalam kondisi sulit dan penuh tekanan. Mereka harus menghadapi berbagai risiko, termasuk ancaman dari penjahat dan pihak berwenang. Selain itu, pedagang kaki lima yang melanggar tatanan kota seringkali mengalami pendapatan yang minim dan tidak teratur. mereka tidak memiliki tunjangan dan hak sosial yang sama dengan pekerja tetap lainnya dan seringkali didiskriminasi dan diperlakukan dengan kasar oleh orang-orang yang tidak memahami situasi mereka. Kondisi kerja yang keras juga berdampak pada kesehatan fisik dan mental PKL. Mereka seringkali harus bekerja dalam kondisi cuaca ekstrim, lingkungan kotor dan tidak sehat, serta tidak memiliki waktu istirahat yang cukup. Akibatnya, mereka lebih rentan terhadap penyakit dan stres yang mengancam kesehatan dan kualitas hidup mereka. Pendekatan konsep Plug-in City adalah salah satu metode desain pada bangunan yang bertujuan untuk menciptakan bangunan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan dengan memanfaatkan teknologi, inovasi, dan prinsip-prinsip desain yang lebih modern serta dengan harapan dapat meningkatkan efisiensi energi, memaksimalkan pemanfaatan lahan, mengurangi dampak lingkungan, menciptakan ruang publik yang nyaman dan terbuka. Sarana Pedagang Kaki Lima dibagi menjadi tiga zona yaitu zona kuliner, zona busana dan creative play yang berupa instalasi melayang, sedangkan adanya fasilitas relaksasi menawarkan aktivitas untuk mengatasi kelelahan fisik dan mental, seperti; City-view, Jogging Track dan Meditation Garden.

Page 99 of 134 | Total Record : 1332