cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
RELOKASI KAMPUNG NELAYAN CILINCING Dominikus Gusti Wihardani; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24303

Abstract

The Cilincing Fishermen Village, located in North Jakarta, Indonesia, has a history dating back to the 1920s as a fishing village. The majority of its residents work as fishermen, relying on the sea's resources as their livelihood. The village follows a linear two-sided settlement pattern, stretching along the road. Currently, the fishermen of Cilincing face environmental and economic challenges, such as frequent flooding and pollution from industries, impacting their livelihoods. This study also involves an analysis of social and cultural dynamics, categorizing main livelihoods, supporting livelihoods, family roles, social values, and fishing community skills before and after the relocation of the village to the sea. This will help understand the values, norms, and social practices crucial to the fishing community. The study aims to design a floating settlement that meets the physical, social, and economic needs of the fishermen, taking into account the geographical and environmental conditions. The goal is to create a sustainable relocation of the fishing community, considering architectural, economic, social, and environmental aspects that suit the fishermen's and marine environment's conditions. Keywords:  fishing village; floating; community; fishermen; marine environment Abstrak Kampung Nelayan Cilincing, yang terletak di Jakarta Utara, Indonesia, memiliki sejarah sebagai kampung nelayan sejak tahun 1920-an, sebagian besar penduduknya bekerja sebagai nelayan yang mengandalkan hasil laut sebagai penopang kehidupan mereka, dengan pola pemukiman sejajar (linier dua sisi) merupakan permukiman yang memanjang di sepanjang jalan. Saat ini nelayan Cilincing menghadapi tantangan lingkungan dan ekonomi, seperti banjir yang sering terjadi, dan pencemaran dari industri, yang mempengaruhi penghidupan nelayan. Studi ini juga harus melibatkan analisis tentang dinamika sosial dan budaya dengan kategori yang dibagi dalam mata pencaharian utama, mata pencaharian pendukung, peran keluarga, nilai sosial, dan keterampilan komunitas nelayan sebelum dan setelah pemindahan kampung ke laut. Hal ini akan membantu memahami nilai-nilai, norma, dan praktik sosial yang penting bagi komunitas nelayan. Studi ini bertujuan untuk merancang pemukiman terapung yang memenuhi kebutuhan fisik, sosial, dan ekonomi nelayan dengan mempertimbangkan kondisi geografis dan lingkungan sekitarnya. Agar dapat Merancang relokasi permukiman nelayan yang berkelanjutan, dengan memperhatikan aspek-aspek arsitektural, ekonomi, sosial, dan lingkungan yang sesuai dengan kondisi masyarakat nelayan dan lingkungan laut.
PERAN ARSITEKTUR EDUKASI DAN MEDITASI SEBAGAI PENGHILANG STIGMA MASYARAKAT TERHADAP PENYANDANG DISABILITAS MENTAL Samuel Christian; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24304

Abstract

The community's bad stigma towards Persons with Mental Disabilities (PDM) adds to the occurrence of discrimination and exclusion that occurs from year to year. The lack of knowledge and the lack of opportunity and willingness of the community, especially the lower middle class to understand PDM, makes discriminatory behavior and fear continue to occur in society which then hinders the process of recovery and development of the potential that a PDM actually possesses. Difficulties in obtaining facilities and knowledge on how to educate PDM, especially during childhood, further hampered the recovery process for PDM themselves. This has an impact on the life of the PDM family itself, the independence of PDM so that the stigma of PDM in society continues. Thus a facility is needed that not only handles and trains PDM but also has educational methods, socialization for families and the community. With increased family and community understanding and knowledge of PDM, it is hoped that their empathy will increase so that they can accept the existence of PDM as members of society who also have their own potential. Keywords: people with mental disabilities; stigma; educational and meditation program Abstrak Stigma Buruk masyarakat terhadap Penyandang Disabilitas Mental (PDM) menambah terjadinya diskriminasi dan pengucilan yang terjadi dari tahun ke tahun. Kurangnya pengetahuan dan minimnya kesempatan serta kemauan masyarakat terutama kalangan menengah kebawah untuk memahami PDM membuat perilaku diskriminatif dan ketakutan terus terjadi dalam masyarakat yang kemudian menghalangi proses pemulihan serta pengembangan potensi yang sesungguhnya juga dimiliki seorang PDM. Kesulitan mendapat fasilitas dan pengetahuan tentang cara mendidik PDM terutama pada masa kanak-kanak semakin menghambat proses pemulihan bagi PDM itu sendiri. Hal ini berdampak bagi kehidupan Keluarga PDM sendiri, kemandirian PDM hingga membuat stigma PDM di masyarakat tetap berlanjut. Dengan demikian diperlukan sebuah fasilitas yang tidak  hanya menangani dan melatih PDM namun juga memiliki metoda pendidikan, sosialisasi bagi keluarga dan masyarakat. Dengan bertambahnya pemahaman dan pengetahuan keluarga dan masyarakat terhadap PDM diharapkan rasa empatik mereka akan meningkat sehingga dapat menerima keberadaan PDM sebagai anggota masyarakat yang juga memiliki potensinya masing-masing.
ASRAMA MAHASISWA UNTAR DENGAN PENERAPAN RUANG KOMUNAL Hendrik Heriyanto; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24305

Abstract

Student dormitories have an important role in providing a comfortable place to live and support their social development. However, dormitories often only focus on physical aspects, such as providing sleeping space and basic facilities, without paying attention to the social needs of students. In this context, implementing empathetic communal spaces is a relevant solution. By implementing empathetic communal spaces, dormitories provide attention and respect for students as individuals in a dormitory environment. This communal space is designed to support students' social development, allowing them to share experiences, ideas and creativity. This approach is based on empathic architecture, which aims to create an environment that pays attention to and cares for the social needs of students. The application of communal space in student dormitory designs as a solution to empathic architecture makes a positive contribution in creating an environment that pays attention to students' social needs. This not only promotes healthy social interaction between students, but also enhances their experience of living during their studies in the hostel. With an empathic communal space, students can feel supported, valued and cared for as individuals, which in turn can help in their social development. In conclusion, the application of communal space in student dormitory design as a solution to empathic architecture has a positive impact on creating an environment that pays attention to the social needs of students. This creates a space for healthy social interaction and enhances their life experience during their study period at the hostel. Keywords: empathy architecture; student dormitory; communal space Abstrak Asrama mahasiswa memiliki peran penting dalam menyediakan tempat tinggal yang nyaman dan mendukung perkembangan sosial mereka. Namun, seringkali asrama hanya fokus pada aspek fisik semata, seperti menyediakan ruang tidur dan fasilitas dasar, tanpa memperhatikan kebutuhan sosial mahasiswa. Dalam konteks ini, penerapan ruang komunal yang empatik menjadi solusi yang relevan.Dengan menerapkan ruang komunal yang empatik, asrama memberikan perhatian dan penghargaan terhadap mahasiswa sebagai individu dalam lingkungan asrama. Ruang komunal ini dirancang untuk mendukung perkembangan sosial mahasiswa, memungkinkan mereka berbagi pengalaman, ide, dan kreativitas. Pendekatan ini didasarkan pada arsitektur empatik, yang bertujuan menciptakan lingkungan yang memperhatikan dan peduli terhadap kebutuhan sosial mahasiswa.Penerapan ruang komunal dalam desain dormitory mahasiswa sebagai solusi dari arsitektur empatik memberikan kontribusi positif dalam menciptakan lingkungan yang memperhatikan kebutuhan sosial mahasiswa. Ini tidak hanya mempromosikan interaksi sosial yang sehat antara mahasiswa, tetapi juga meningkatkan pengalaman hidup mereka selama masa studi di asrama. Dengan adanya ruang komunal yang empatik, mahasiswa dapat merasa didukung, dihargai, dan diperhatikan sebagai individu, yang pada gilirannya dapat membantu dalam perkembangan sosial mereka. Penerapan ruang komunal dalam desain dormitory mahasiswa sebagai solusi dari arsitektur empatik memberikan dampak positif dalam menciptakan lingkungan asrama yang memperhatikan kebutuhan sosial mahasiswa. Ini menciptakan ruang untuk interaksi sosial yang sehat dan meningkatkan pengalaman hidup mereka selama masa studi di asrama.
PERANCANGAN ASRAMA MAHASISWA UNIVERSITAS TARUMANAGARA DENGAN PENDEKATAN DESAIN BIOFILIK Jason Ngasinur; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24306

Abstract

Along with the times, character of cities and generations keeps on changing, especially students. Starting from the development of new technologies that affects their life and way of living causing students to prefer living in cities. This has led to urbanization due to the desire of students to get a better education. Tarumanagara University is one of the student learning options. However, with the increase in enrollment of students at Tarumanagara University, this has led to developments of buildings that can accommodate students needs but with limited land and population density have resulted in inefficient student housing development, so that there is still a lack of facilities that can support student needs. An empathic architectural approach is applied to fulfill the desire of a student dormitory design that can follow student preferences while studying both physically and spiritually so that it can be a form of solution in meeting student needs. Spatial perception method with a biophilic architectural approach is used as a design method that seeks to present a room that can accommodate the needs of Tarumanagara University students both from a psychological or physical perspective. These two methods are used by applying the concept of housing that is green and blends with nature based on the five senses which can affect their level of concentration, health and can be an effort in providing green open spaces for both students and the surrounding community. Keywords: biophilic architecture; empathic architecture; student dormitory; student Abstrak Seiring perkembangan zaman, menyebabkan perubahan pada karakter kota dan generasi yang terus berganti terutama mahasiswa. Dimulai dari teknologi baru yang mempengaruhi cara hidup dan tinggal mereka sehingga mahasiswa lebih memilih untuk tinggal di kota. Hal tersebut menimbulkan terjadinya urbanisasi karena keinginan mahasiswa untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Universitas Tarumanagara merupakan salah satu pilihan pembelajaran mahasiswa. Namun dengan peningkatan pendaftaran jumlah mahasiswa Universitas Tarumanagara menyebabkan pembangunan yang dapat mengakomodasi kebutuhan mahasiswa tetapi dengan keterbatasan lahan dan kepadatan penduduk menyebabkan pembangunan hunian mahasiswa yang tidak efisien sehingga masih memiliki kekurangan fasilitas yang dapat menunjang kebutuhan mahasiswa. Pendekatan arsitektur empatik diterapkan untuk dapat mewujudkan suatu keinginan dari perancangan asrama yang dapat mengikuti preferensi mahasiswa saat berada dilingkup pendidikan baik secara jasmani dan rohani sehingga dapat menjadi bentuk solusi dalam memenuhi kekurangan kebutuhan mahasiswa. Metode persepsi spasial dengan pendekatan arsitektur biofilik digunakan sebagai metode perancangan yang berupaya untuk menghadirkan ruangan yang dapat mengakomodasi kebutuhan mahasiswa Universitas Tarumanagara baik dari segi psikologi atau fisik. Kedua metode ini digunakan dengan mengaplikasikan konsep hunian yang bersifat hijau dan menyatu dengan alam berdasarkan panca indra yang dapat mempengaruhi tingkat konsentrasi mereka, kesehatan dan dapat menjadi upaya dalam penyediaan ruang terbuka hijau baik untuk mahasiswa atau masyarakat sekitar.
FASHION SEBAGAI WADAH REKREASI DI KALANGAN REMAJA BANDUNG Dennis Dennis; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24307

Abstract

The discussion begins with a focus on the transitional period of adolescence, which is a phase of transition from childhood to adulthood. During this period, teenagers search for identity, habits, and personal interests, which leads to an interest in purchasing clothing or fashion items. This is evident in teenagers aged 16-21 who spend more money on appearance-related needs, particularly in terms of fashion or style. This research focuses on the consumptive behavior of teenagers in Bandung, chosen due to the abundance and distribution of fashion stores in the area. The consumptive behavior of teenagers towards material goods has developed due to clothing no longer being seen as a necessity but rather a desire or influence stemming from the globalization of the economy in Indonesia. Additionally, consumptive behavior among teenagers is seen as a recreational outlet or source of pleasure. The aim of this research is to understand how architecture can accommodate and respond to the recreational needs of Bandung's teenagers to address their consumptive behavior. The research adopts a qualitative-descriptive approach, with a focus on collecting descriptions of relevant issues and solutions. In the context of the significant influence of fashion stores on teenagers' consumptive behavior, there is a need to develop empathy towards spaces that can fulfill their needs. The recreational spaces should remain present but incorporate education to transform or limit consumptive behavior. Therefore, a combination of commercial spaces and informative spaces that are beneficial for teenagers is essential. Keywords: bandung; consumptive behavior; fashion; recreation; teenagers Abstrak Pembahasan dimulai dengan fokus pada periode transisi remaja, yang merupakan fase peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Selama masa ini, remaja mencari identitas, kebiasaan, dan minat pribadi, sehingga muncul minat dalam membeli pakaian atau fashion. Terlihat pada remaja usia 16-21 tahun yang menghabiskan lebih banyak uang untuk kebutuhan penampilan, terutama dalam hal fashion atau mode. Penelitian ini berfokus pada perilaku konsumtif remaja di Bandung, yang dipilih karena jumlah dan penyebaran toko fashion yang cukup banyak. Perilaku konsumtif remaja terhadap benda berkembang dikarenakan pakaian yang bukan lagi dari kebutuhan melainkan hasrat atau keinginan pengaruh lainnya dari arus globalisasi ekonomi yang masuk ke Indonesia. Selain itu perilaku konsumtif dikalangan remaja dilakukan karena dianggap sebagai wadah rekreasi atau kesenangan mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana arsitektur dapat mengakomodasi dan merespons kebutuhan wadah rekreasi remaja Bandung untuk menjawab perilaku konsumtif yang dilakukan. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan fokus pada pengumpulan deskripsi tentang masalah dan solusi yang berkaitan. Dalam konteks banyaknya toko fashion yang memengaruhi perilaku konsumtif remaja, ada kebutuhan untuk mengembangkan empati terhadap ruang yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Wadah rekreasi yang tetap ada namun dimasukan edukasi sehingga bisa mengubah atau membatasi perilaku konsumtif ini. Oleh karena itu, pencampuran ruang untuk adanya kegiatan perdagangan dengan adanya ruang yang berisikan informasi yang berguna bagi remaja.
RUANG GRAFITI SEBAGAI RUANG INSPIRASI ASPIRASI MASYARAKAT Daniel Christopher; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24308

Abstract

Graffiti art painted in urban areas has a negative impact on the views of the social community. Social problems that cannot be conveyed by the community are problems that are common in the current generation. However, graffiti artists dare to move to convey the inspiration and aspirations of the people with works of art in urban areas. However, some observers often misunderstand and are offended by this and are viewed badly by the public, which turns the work of art into vandalism. The anxiety of graffiti artists is illustrated when city stickers are often affixed with service posters which actually eliminates the aesthetics of cities compared to graffiti in urban areas. Therefore, this study aims to get to know more about graffiti art in order to provide an approach to society so that misunderstandings do not occur and it can be accepted and the community has the courage to channel inspiration and aspirations towards existing social problems. Apart from that, providing a space for moving graffiti where among the space programs that occur there will be graffiti as an interactive program and close to the community. The design method is taken from existing urban graffiti to be opened and analyzed as on the basis of spatial design as well as the results of collage exploration to form a new space for graffiti artists. The design was carried out in Kemang as one of the areas that needed a stopover space as an urban space and close to graffiti art. The spatial approach to graffiti in urban areas is so that it can provide new views for the community so that they can provide new inspiration and aspirations when side by side with graffiti artists in carrying out activities. Keywords: aspiration; graffiti; inspiration; social; vandalism Abstrak Seni grafiti yang dilukis di perkotaan memberikan dampak yang negatif di pandangan masyarakat sosial. Permasalahan sosial yang tidak dapat tersampaikan oleh masyarakat menjadi permasalahan yang sudah biasa terjadi di generasi sekarang. Namun, pelaku seni grafiti berani bergerak untuk menyampaikan inspirasi dan aspirasi masyarakat dengan karya seni di perkotaan. Tetapi, beberapa pandangan yang melihat sering salah menangkap dan tersinggung akan hal tersebut dan dipandang buruk oleh masyarakat yang membuat karya seni tersebut menjadi vandalisme. Keresahan seniman grafiti tergambarkan ketika perkotaan seringkali ditempelkan stiker poster-poster jasa yang justru menghilangkan estetika kota dibandingkan grafiti yang ada di perkotaan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengenal lebih jauh seni grafiti untuk memberikan pendekatan terhadap masyarakat agar tidak terjadi salah persepsi dan dapat diterima dan masyarakat berani untuk menyalurkan inspirasi dan aspirasi terhadap masalah sosial yang ada. Selain itu, memberikan sebuah ruang untuk grafiti bergerak yang dimana diantara program ruang yang terjadi disitu akan ada grafiti sebagai program interaktif dan dekat dengan masyarakat. Metode perancangan diambil dari grafiti di perkotaan yang ada untuk dibuka dan dianalisis sebagai atas dasar desain keruangan maupun hasil eksplorasi kolase untuk membentuk sebuah ruang baru untuk seniman grafiti. Perancangan dilakukan di Kemang sebagai salah satu kawasan yang memerlukan ruang singgah sebagai ruang perkotaan dan dekat dengan seni grafiti. Pendekatan keruangan grafiti di perkotaan agar dapat memberikan pandangan baru untuk masyarakat agar bisa memberikan inspirasi dan aspirasi baru apabila berdampingan dengan seniman grafiti dalam melakukan aktivitas.
EMPATI ARSITEKTUR : ASRAMA MULTIFUNGSI BERBASIS EMPATI ARSITEKTUR Kevin Hadi; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24309

Abstract

Empathy in architecture is an important concept that focuses on the emotional experience and understanding of users and the environment. Empathic architecture creates spaces that are responsive to the physical and psychological needs of humans, prioritizing safety, comfort, and environmental sustainability. In this approach, architects consider cultural diversity, design spaces with sensitivity, pay attention to sensory experiences, and create harmonious relationships between humans and nature. With a focus on human well-being and the environment, empathic architecture creates inspiring spaces that have a positive impact on all occupants. Dormitories or residences that employ the concept of empathic architecture usually consider the target market or residents who will live in the dormitory, such as activities that will be carried out by the residents, what kind of spaces will make the residents feel comfortable, and how many dormitory units are needed to ensure comfortable living for the students. By using this method, we can design a dwelling that is perfectly suited to the design target, as we have studied the needs of the target occupants of our building. Keywords: architecture; balance; dormitory;  empath; emotional experience Abstrak Empati dalam arsitektur adalah konsep penting yang menitik beratkan pada pengalaman emosional dan pemahaman terhadap pengguna dan lingkungan. Arsitektur yang empati menciptakan ruang yang responsif terhadap kebutuhan fisik dan psikologis manusia, mengutamakan keamanan, kenyamanan, dan keberlanjutan lingkungan. Dalam pendekatan ini, arsitek mempertimbangkan keberagaman budaya, merancang ruang dengan sensitif, memperhatikan pengalaman sensorik, dan menciptakan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Dengan fokus pada kesejahteraan manusia dan lingkungan, arsitektur empati menciptakan ruang yang menginspirasi dan berdampak positif bagi semua penghuninya, asrama atau hunian yang menggunakan konsep empati arsitektur biasanya memikirkan target pasar atau penghuni yang akan tinggal di dalam asrama tersebut, seperti kegiatan apa saja yang akan dilakukan oleh para penghuni, ruang seperti apa yang akan membuat para penghuni merasa nyaman, dan juga seberapa banyak unit asrama yang diperlukan agar asrama tersebut dapat ditinggalkan secara nyaman oleh para mahasiswa. Dengan menggunakan metode ini, kita dapat merancang suatu hunian yang sangat tepat dikarenakan kita sudah mempelajari kebutuhan daripada target penghuni bangunan kita.
INTERAKSI MANUSIA DAN AI SEBAGAI PENDEKATAN DESAIN RUANG KREATIF Melita Kristianto; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24310

Abstract

Human interaction and artificial intelligence (AI) in the creative industries have progressed rapidly, with AI becoming a digital tool that supports human creativity and creates creative engagement to meet the needs of original creativity. The integration of AI into the creative process influences the way creators create more innovative and complex creative content, even pushing the boundaries of their own creativity and creating works that were previously unimaginable. However, several efforts to introduce the integration of AI and humans have so far focused on museums or exhibitions as AI educational locations. Creative expression between humans and AI will require creative space that can facilitate individuals to critically evaluate AI technology; communicate and collaborate effectively with AI. So this article discusses how the trend of human and AI collaboration has brought about significant changes in creative studio design. From augmented intelligence that expands human capabilities to the use of chatbots and virtual assistants that facilitate communication. Keywords: AI; design; human interaction; creative space Abstrak Interaksi manusia dan kecerdasan buatan (AI) dalam industri kreatif telah berkembang pesat, dengan AI menjadi alat digital yang mendukung kreativitas manusia dan menciptakan keterlibatan kreatif untuk memenuhi kebutuhan kreativitas orisinil. Integrasi AI ke dalam proses kreatif mempengaruhi cara kreator membuat konten kreatif yang lebih inovatif serta kompleks, bahkan mendorong batas kreativitas mereka sendiri dan menciptakan karya yang dulunya tidak terbayangkan. Namun, beberapa upaya pengenalan integrasi AI dan manusia sampai saat ini masih berfokus di museum ataupun eksibisi sebagai lokasi edukasi AI. Ekspresi kreatif antara manusia dan AI akan membutuhkan ruang gerak kreatif yang dapat memfasilitasi individu untuk mengevaluasi secara kritis teknologi AI; berkomunikasi dan berkolaborasi secara efektif dengan AI. Maka artikel ini membahas bagaimana tren kolaborasi manusia dan AI telah membawa perubahan signifikan dalam desain studio kreatif. Dari augmented intelligence yang memperluas kemampuan manusia hingga penggunaan chatbot dan asisten virtual yang memudahkan komunikasi.
PERANCANGAN RUANG UNTUK PENYENDIRI Nicson Bunawidjaya; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24311

Abstract

Busy lives and high productivity demands make individuals feel the need to take a moment for themselves. However, public spaces in cities, such as parks and other public places, are often crowded with people, making it difficult for individuals to find peace in solitude. Loners are alone for various reasons such as some individuals choose to be alone because it suits their personality or lifestyle, this can be associated with introverted personalities. Some are also alone because they don't like other people, there are also loners who are forced to be alone. Some people also stay away from other people only temporarily, either for a break or simply because they enjoy being alone. Individuals often find it difficult to find a safe and comfortable place to spend time alone. By paying attention to the needs of different individuals, designing spaces that are friendly to loners can broaden access for individuals who need space to be alone. This is important to create an inclusive and welcoming environment for everyone. The Design Method is the result of studies and theories regarding the spatial needs of a loner. The design was carried out in the Infill area in the Senayan area, South Jakarta because this area is an area with high level of activity in Jakarta. Infill building is a method of constructing buildings by filling empty areas in the surrounding areas where there are existing buildings and emphasizing harmony between the design results and the surrounding environment. Infill design is needed to utilize land that has not been fully developed in this strategic area. Keywords:  infill; solitude; loner Abstrak Kehidupan yang sibuk dan tuntutan produktivitas yang tinggi membuat individu merasa perlu untuk mengambil waktu sejenak untuk sendiri. Namun, ruang publik yang ada di kota, seperti taman dan tempat umum lainnya, sering kali ramai dikunjungi oleh masyarakat sehingga sulit bagi individu untuk menemukan ketenangan dalam kesendirian. Penyendiri menyendiri dengan berbagai alasan seperti beberapa individu memilih untuk sendiri karena sesuai dengan kepribadian atau gaya hidup mereka, hal ini bisa dikaitkan dengan kepribadian introvert. Beberapa juga menyendiri karena tidak menyukai orang lain, ada juga penyendiri yang dipaksa untuk menyendiri. Beberapa orang juga menjauh dari orang lain hanya untuk sementara waktu, baik untuk istirahat atau hanya karena mereka menikmati kesendirian. Para penyendiri seringkali merasa sulit untuk menemukan tempat yang aman dan nyaman untuk menghabiskan waktu sendiri. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ruang seperti apa yang cocok untuk penyendiri. Dengan memperhatikan kebutuhan individu yang berbeda-beda, perancangan ruang yang ramah bagi para penyendiri dapat memperluas akses bagi individu yang membutuhkan ruang untuk sendiri. Ini penting untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan ramah bagi semua orang. Metode Perancangan merupakan hasil dari kajian dan teori mengenai kebutuhan spasial seorang penyendiri. Perancangan dilakukan di area Infill di Kawasan Senayan, Jakarta Selatan dikarenakan area tersebut merupakan area yang tinggi aktivitas di Jakarta. Bangunan infill merupakan metode mendirikan bangunan dengan mengisi area kosong pada wilayah yang sekelilingnya terdapat bangunan eksisting dan menitikberatkan pada keselarasan antara hasil rancangan dan lingkungan sekitar.  Peracangan infill diperlukan untuk memanfaatkan lahan yang belum sepenuhnya dibangun di kawasan yang strategis.
EMPATI PERCAYA DIRI BAGI PEMUDA PAPUA DI JAKARTA DALAM PENDEKATAN PERANCANGAN PARA-PARA CENDRAWASIH Erikson Otniel Indouw; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24312

Abstract

Responding to current developments, every community is required to be able to interact and cooperate with others to achieve the ideals of national progress as a whole on the basis of "Unity in Diversity". However, discrimination is still common in society against certain identities and ethnicities. So there is social inequality and barriers by society. Lack of empathy in society. Research on Papuan students and students who study in Jakarta, but they are often treated with discrimination and racism, which causes them to feel inferior and lack the confidence to actively interact in their social life freely and feel uncomfortable. In this case, there needs to be an approach and solution. Through sources of knowledge and information from Papuan children, what are the obstacles and problems that affect the limited space for movement and activities. Among them is the acceptance of their identity (Empathy for oneself), the uniqueness that is felt as an obstacle. How can they interact within the scope of diversity, of course, requires a space and program that can accommodate, through the approach and character of the Papuan children's activities themselves, the meeting point of Papuan children (homogeneous) but open to the public in the same space, With the existence of a transsis, forum for mental development (Mental Revolution), acceptance of self-identity, for Papuan children who start their education in Jakarta, In order to adapt to a heterogeneous urban environment. debriefing, the beginning is needed in order to be able to adapt and space for assembly and expression that can expose the characteristics of Papua.  Keywords: activity, adapt, interaction, diversity, meeting Abstrak Menyikapi perkembangan saat ini, setiap masyarakat dituntut untuk bisa keluar berinteraksi dan bekerja sama dengan sesama untuk mencapai cita-cita kemajuan bangsa secara menyeluruh dengan dasar “Bhineka Tunggal Ika”. Namun masih sering dijumpai diskriminasi yang terjadi didalam masyarakat terhadap identitas, etnis tertentu. Sehingga terjadi kesenjangan sosial dan sekat-sekat oleh masyarakat. Kurangnya rasa Empati dalam kalangan masyarakat. Penelitian terhadap Pelajar dan Mahasiswa/Mahasiswi Papua yang menuntut ilmu di Jakarta, namun mereka sering mendapat perlakuan diskriminasi dan rasisme, yang mengakibatkan mereka jadi minder dan kurang percaya diri untuk aktif berinteraksi dalam kehidupan sosialnya secara leluasa dan tidak merasa nyaman. Dalam hal tersebut perlu adanya pendekatan dan solusi, Melalui sumber pengetahuan dan informasi dari anak-anak Papua, apa kendala dan permasalahan yang mempengaruhi ruang gerak dan aktivitasnya terbatas. Diantaranya apakah penerimaan terhadap identitasnya (Empati terhadap diri Sendiri), keunikan yang dimiliki dirasa sebagai penghambat. Bagaimana caranya agar mereka bisa berinteraksi dalam lingkup keberagaman, tentunya membutuhkan sebuah ruang dan program yang bisa mewadahi, melalui pendekatan dan karakter Aktivitas anak-anak Papua itu sendiri, titik temu Anak-anak Papua (homogen) namun terbuka bagi umum dalam satu ruang yang sama. Dengan adanya suatu wadah stransis pembinaan mental (Revolusi Mental), penerimaan identitas diri, bagi anak-anak Papua yang mengawali pendidikan di Jakarta. Agar dapat beradaptasi dengan lingkungan perkotaan yang heterogen. pembekalan, awal dibutuhkan agar bisa beradaptasi dan ruang berkumpul dan berekspresi yang bisa mengekspos Karakteristik Papua.