cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PERANCANGAN GALERI TIDUR INTERAKTIF DI JAKARTA PUSAT Brianna Wijaya Utama; Denny Husin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24293

Abstract

In the last few decades, architecture has tended to be apathetic since aesthetics and function have been given more attention which has put the context of life aside. Architecture and empathy must go hand in hand so architects need to understand the spaces they design from the perspective of their users. Sleep disorders are problems in the quality and quantity of sleep that can cause stress and daytime sleepiness. Sleep disorders have a reciprocal relationship with mental health where sleep disorders can cause or be caused by mental illness. Since sleep disorder is a common thing in Indonesia, it leads to the normalization of sleep disorders which can cause a long-term negative impact on mental and physical health, lifestyle, work performance, social and economy. This design aims to provide a space that can increase awareness of sleep disorders as well as special therapy programs for sleep disorders through healing architecture. The benefit of this design is to provide a healing space for people with sleep disorders that focuses on the reception of the human senses on spatial quality. The design method used in this design is the everyday architectural method. The results of this design are interactive sleep gallery program, sleep-related research program, and special therapy programs for sleep disorders. Therapeutic programs are implemented so that people with sleep disorders can recover from sleep disorders in the long term by improving healthy lifestyle and creating good daily habits. Keywords: architecture; empathy; healing; mental; sleep Abstrak Beberapa dekade terakhir, arsitektur cenderung bersifat apatis karena estetika dan fungsi lebih diperhatikan yang membuat konteks kehidupan dikesampingkan. Arsitektur dan empati harus berjalan beriringan sehingga arsitek perlu memahami ruang yang mereka rancang dari perspektif penggunanya. Gangguan tidur adalah masalah dalam kualitas dan kuantitas tidur yang dapat menyebabkan stres dan kantuk di siang. Gangguan tidur memiliki hubungan timbal balik dengan kesehatan mental dimana gangguan tidur dapat menyebabkan atau disebabkan oleh penyakit mental. Umumnya gangguan tidur di Indonesia menyebabkan adanya normalisasi gangguan tidur yang dapat berdampak negatif secara jangka panjang pada kesehatan mental dan fisik, gaya hidup, performa bekerja, sosial, hingga ekonomi. Perancangan ini bertujuan untuk menyediakan ruang yang dapat meningkatkan kesadaran akan gangguan tidur serta program terapi khusus untuk gangguan tidur melalui healing architecture. Manfaat dari perancangan ini adalah untuk menyediakan ruang penyembuhan bagi penderita gangguan tidur yang berfokus pada resepsi indera manusia terhadap kualitas spasial. Metode perancangan yang digunakan dalam perancangan ini adalah metode arsitektur keseharian. Hasil dari perancancangan ini berupa program galeri tidur interaktif, program penelitian terkait tidur, serta program terapi khusus gangguan tidur. Program yang bersifat terapi diterapkan agar penderita gangguan tidur dapat memulihkan gangguan tidur secara jangka panjang dengan memperbaiki pola gaya hidup dan menciptakan kebiasaan sehari-hari yang baik.  
REVITALISASI ASRAMA MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA DENGAN PENDEKATAN PSIKOLOGI ARSITEKTUR Teresa Josephine; Denny Husin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24294

Abstract

The University of Indonesia (UI) is one of the favorite state universities where prospective students compete to be a part of the university. The university screens and selects students with potential and meet its standards. This makes student competition at UI quite tough which causes most of the students to experience stress symptoms that damage their mental health condition. UI, which is a leading state university, has caused many prospective students from other regions to migrate and get positions at this university. UI facilitates the needs of its overseas students with student dormitory facilities which are usually intended for middle to lower-middle-class overseas students. The phenomenon of the presence of overseas students in the UI area requires the presence of a proper hostel as an accommodation. The issue of research on dormitory design in this study is the high-stress resolution in students related to the daily space that is run. The purpose of this study is to offer a dormitory design that prioritizes design steps in the form of systems, programs, and types as well as units that prioritize the psychology of UI migrant students. The research method used is a qualitative method that includes psychological factors related to the formation of space in architecture. The findings from this study are that the existence of a dormitory as a space for students' daily activities has unfavorable conditions that trigger stress for UI overseas students caused by intense academic competition. Therefore, this design is based on architectural psychology standards while still considering affordable design outputs for dormitories. This is achieved by applying floor elevation, increasing the number of open spaces as communal, and focusing the design on one view orientation as a stress release. Keywords:  architecture; dormitory; psychology; revitalization; student Abstrak Universitas Indonesia (UI) merupakan salah satu universitas negeri favorit di mana para calon mahasiswanya berlomba-lomba untuk dapat menjadi salah satu bagian dari universitas tersebut. Universitas ini menyaring dan memilih para mahasiswa yang berpotensi dan memenuhi standarnya. Hal ini membuat persaingan mahasiswa pada UI  dapat dikatakan cukup berat yang menyebabkan sebagian besar mahasiswanya mengalami gejala stres yang merusak kondisi kesehatan mental mereka. UI yang menjadi universitas negeri unggulan menyebabkan banyaknya calon mahasiswa dari daerah lain untuk merantau dan mendapatkan posisi di dalam universitas ini. UI memfasilitasi kebutuhan mahasiswa perantaunya dengan fasilitas asrama mahasiswa yang biasanya diperuntukan bagi mahasiswa perantau menengah ke bawah. Fenomena kehadiran mahasiswa perantau di kawasan UI ini membutuhkan kehadiran asrama yang layak sebagai sebuah akomodasi. Isu penelitian desain asrama pada penelitian ini adalah penyelesaian stres yang tinggi pada mahasiswa terkait dengan ruang keseharian yang dijalankan. Tujuan penelitian ini menawarkan sebuah desain asrama yang memprioritaskan langkah-langkah desain berupa sistem, program, dan tipe serta unit yang mengedepankan psikologis mahasiswa perantau UI. Metode penelitian yang dipakai adalah metode kualitatif yang menyertakan faktor-faktor psikologis terkait dengan pembentukan ruang dalam arsitektur. Temuan dari penelitian ini adalah adanya asrama sebagai ruang berkegiatan sehari-hari mahasiswa memiliki kondisi yang kurang mendukung sehingga memicu munculnya stres para mahasiswa perantau UI yang disebabkan oleh persaingan akademik yang ketat. Oleh karena itu, perancangan ini didasarkan pada standar-standar psikologi arsitektur dengan tetap mempertimbangkan keluaran desain yang terjangkau bagi asrama. Hal ini dicapai dengan menerapkan permainan elevasi lantai, memperbanyak ruang-ruang terbuka sebagai komunal, dan memusatkan desain pada satu orientasi view sebagai stress release.
FASILITAS REHABILITASI DAN PENGEMBANGAN BAKAT BAGI PECANDU INTERNET Victor Gunawan; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24295

Abstract

As time goes by, the development of science and technology is quite rapid causing teenager to easily obtain information and learn it, one example is online games. Online games are a way of learning by analyzing with a group/individual using strategies that can be done by connecting devices via an internet connection. The ease of accessing online games such as internet cafes, cellphones and computers causes teenager to play without supervision and lack of care from parents so they forget time. In this process, teenager can step into addiction stage because they like to playing games, the time that should be used to study and mingle with friends has been reduced or even not a priority in order to be able to sit for a long time to play online games Online game addiction will be the topic raised, the author will design a rehabilitation and talent development center with an approach to the interests of psychological and physical mental health of teenager and adolescent development. Humanitarian and psychological architecture focuses on development and health as the main factor. In addition, the Rehabilitation and talent development center will provide a place where teenager and young adult can rehabilitate, as a center for teenager development, and can also be a place to socialize in order to reduce the impact of people who are already addicted to online games. Keywords: online games, science and technology, addiction, rehabilitation Abstrak   Seiring berkembangnya zaman, perkembangan IPTEK (Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Komunikasi) yang cukup pesat menyebabkan anak-anak mudah memperoleh informasi dan mempelajarinya, contohnya adalah internet khususnya game online. Game online merupakan suatu cara belajar dengan menganalisa bersama sekelompok/individu menggunakan strategi yang dapat dilakukan dengan menyambungkan perangkat melalui koneksi internet. Kemudahan dalam mengakses game online seperti warnet, ponsel dan komputer menyebabkan remaja dapat bermain tanpa adanya pengawasan dan penjagaan dari orang tua sehingga lupa waktu. Dalam proses ini remaja dapat memasuki tahap kecanduan karena merasa sudah asik bermain game, waktu yang seharusnya dipergunakan untuk belajar dan berbaur dengan teman telah berkurang atau bahkan tidak menjadi prioritas demi bisa duduk berlama-lama untuk bermain game online. Kecanduan game online akan menjadi topik yang diangkat, penulis akan melakukan perancangan pusat rehabilitasi dan pengembangan bakat dengan pendekatan kepentingan kesehatan mental psikis maupun fisik terhadap remaja dan juga perkembangan remaja. Arsitektur kemanusiaan dan psikologis memfokuskan perkembangan dan kesehatan menjadi faktor utama. Selain itu, perancangan pusat rehabilitasi dan pengembangan bakat akan memberikan wadah sebagai tempat remaja-dewasa muda dapat rehabilitasi, sebagai pusat perkembangan remaja, dan juga dapat menjadi wadah bersosialisasi agar dapat mengurangi dampak orang yang sudah kecanduan game online.
PENERAPAN ARSITEKTUR DIGITAL KONTEMPORER TERHADAP FASILITAS PELATIHAN TIM NASIONAL ESPORT & HUB CIKINI Angellita Larrya Putri Kadewa; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24296

Abstract

Most esports athletes retire at the age of 22-24 years, and the average professional player will last for 2-3 years. Esports in Indonesia is often seen as just a hobby and lacks financial support and adequate infrastructure. The negative stigma about professional gamers and game fans also makes it difficult for esports to be accepted by the wider community. Some people still think that games are just a hobby that cannot be equated with physical sports that require athletic skills and physical activity. While professional athletes also need a lot of concentration, dedication, practice, preparation, mentality and stamina. Therefore, it is necessary to have a supportive space, through the design shown to the athletes of the Indonesian national esports team. This research will focus on integrating the training facilities of the Indonesian national esport team with public areas to encourage tolerance and openness. Contemporary digital concepts will be implemented, through renewed innovations towards digital sports. In an effort to improve the health performance and productivity of athletes, the latest technology is used to develop solutions and programs that can help athletes achieve their best performance. As well as the development of tech hub facilities that are developed for the public, can provide opportunities for technology developers and the esports industry to innovate and develop new solutions to improve the quality of digital sports, so that athletes are accustomed to facing several new challenges, gaining recognition and popularity. Keywords: architecture, digital, esport, empathy, contemporary Abstrak Kebanyakan atlet esport pensiun di usia 22-24 tahun, dan rata-rata pemain profesional akan bertahan selama 2-3 tahun. Esports di Indonesia sering dianggap hanya sebagai hobi dan kurang mendapat dukungan finansial serta infrastruktur yang memadai. Stigma negatif tentang gamer Profesional  dan penggemar game juga membuat esports sulit diterima oleh masyarakat secara luas. Beberapa orang masih beranggapan bahwa game hanyalah hobi yang  tidak dapat disamakan dengan olahraga fisik yang memerlukan keterampilan atletik dan aktivitas fisik. Sementara atlet profesional juga butuh banyak konsentrasi, dedikasi, praktik, persiapan, mental dan stamina. Oleh karena itu, perlu adanya keruangan yang mendukung, melalui perancangan yang ditunjukan kepada atlet tim nasional esport Indonesia. Penelitian ini akan berfokus pada mengintegrasikan fasilitas latihan tim nasional esport Indonesia dengan area publik untuk dapat mendorong toleransi, dan keterbukaan. Konsep digital kontemporer akan diterapkan, melalui perbaruan inovasi terhadap olahraga digital. Dalam upaya untuk meningkatkan kinerja kesehatan dan produktivitas para atlet, teknologi terbaru digunakan untuk mengembangkan solusi dan program yang dapat membantu para atlet mencapai performa terbaik mereka. Serta pengembangan fasilitas tech hub yang dikembangkan untuk publik, dapat memberikan kesempatan bagi pengembang teknologi dan industri esports untuk berinovasi dan mengembangkan solusi baru untuk meningkatkan kualitas olahraga digital, sehingga para atlet terbiasa menghadapi beberapa tantangan baru, mendapatkan pengakuan, dan popularitas.
PERANCANGAN DESAIN PUSAT PELATIHAN TIM NASIONAL SEPAKBOLA INDONESIA Rasyad Firzatila; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24297

Abstract

As one of the countries with the most fans and connoisseurs of football, Indonesia is still lacking in terms of facilities that can support the continuation of the game, this is very unfortunate becauce the Indonesian national team does not have qualified training facilities to train in preparation for international competitions such as AFC Asian Cup. Football training center have an important role in the development of national teams in every country. The training center is used as a place for national team players to practice developing their technical, physical, mentality, and tactical abilities. The Garuda project tries to contribute as a platform and foundation for Indonesian football to continue to grow to reach the goals of all football fans in Indonesia. This project is a specially designed and exclusive football training center for the Indonesian National Football Team. In it, players and coaches can practice preparing technically, physically and mentally in preparation for friendly matches, domestic matches, to international matches. Assisted by the existence of an official office that takes care of all administrative interests of the Indonesian Football National Team. There are 2 football pitches with natural turf and synthetic turf in the football training centre, which comply with FIFA standards. Coupled with other facilities such as a gym area, hydrotherapy pool, physiotherapy area, strategy tactics education class, locker room, indoor court, and dormitory rooms as a complement to all training activities for the Indonesian National Football Team. Keywords:  football; indonesia national team; national training center Abstrak Sebagai salah satu negara dengan jumlah penikmat sepakbola terbanyak, sepakbola di Indonesia masih kurang mumpuni dalam segi fasilitas yang dapat menunjang keberlangsungan permainan, hal ini sangat disayangkan dikarenakan tim nasional Indonesia tidak memiliki fasilitas latihan yang mumpuni untuk berlatih guna persiapan kompetisi internasional seperti AFC Asian Cup. Pusat pelatihan sepakbola memiliki peran yang penting dalam perkembangan tim nasional di setiap negara. Pusat pelatihan dijadikan sebagai wadah untuk para pemain tim nasional untuk berlatih mengembangkan kemampuan teknik, fisik, mental, dan taktik. Proyek The Garuda mencoba berkontribusi sebagai wadah dan pondasi sepakbola Indonesia untuk terus berkembang menggapai cita-cita seluruh penggemar sepakbola di Indonesia. Proyek ini merupakan pusat pelatihan sepakbola yang dirancang khusus dan eksklusif untuk Tim Nasional Sepakbola Indonesia. Di dalamnya dapat digunakan pemain dan pelatih berlatih mempersiapkan teknik, fisik, dan mental untuk persiapan pertandingan persahabatan, pertandingan domestik, hingga pertandingan internasional. Dibantu dengan adanya kantor official yang mengurus segala kepentingan administratif Tim Nasional Sepakbola Indonesia. Terdapat 2 lapangan sepakbola dengan rumput alami dan rumput sintetis di pusat pelatihan sepakbola, yang sesuai dengan standar FIFA. Ditambah dengan fasilitas lain seperti area gym, kolam hidroterapi, area fisioterapi, kelas edukasi taktik strategi, ruang ganti, lapangan indoor, dan kamar asrama sebagai pelengkap segala kegiatan pelatihan Tim Nasional Sepakbola Indonesia.
PENDEKATAN ARSITEKTUR PERILAKU DAN WELL-BEING PADA WADAH KOMUNITAS BAGI LANSIA KESEPIAN DAN TINGGAL SENDIRI Reinald Audiel; Naniek Widayati
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24298

Abstract

Indonesia has eight provinces that have entered the phase of an aging population structure. Meanwhile, DKI Jakarta has 8.91% of its population consisting of elderly individuals. The elderly phase is the final stage of life. During this phase, individuals experience physiological, affective, cognitive, and psychosocial declines, making the presence of someone who can assist and accompany the elderly in their daily activities crucial. This often leads to feelings of loneliness in the elderly, as they sometimes miss their children or require socialization and activities to fill their time.The objective of this research is to provide a platform for the elderly to experience happiness, peace, and prosperity, and to change the perception that old age marks the beginning of life and that entering old age means reaping the rewards of our hard work in our younger years and enjoying the present. Through this research, it is hoped to develop a design solution that helps the elderly overcome loneliness. The methods employed in this research are qualitative methods and design methods that focus on the phenomenon of abandoned elderly individuals as the basis for the design. Based on the research findings, it is found that the housing and community club design concept of the Senior Cielo Community Club, utilizing a behavioral architecture and well-being approach, can be an effective alternative in assisting abandoned and lonely elderly individuals in achieving a more peaceful, prosperous, and meaningful life. Keywords:  community centre; elderly; loneliness Abstrak Indonesia memiliki delapan provinsi yang sudah memasuki fase struktur penduduk tua. Sedangkan DKI Jakarta memiliki 8,91% penduduk lansia. Masa lansia ini merupakan masa paling akhir dalam fase kehidupan. Dalam masa ini, manusia akan mengalami penurunan fisiologis, afektif, kognitif, maupun psikososial sehingga keberadaan orang yang dapat membantu dan menemani lansia dalam aktivitas sehari-hari sangat diperlukan. Hal inilah yang seringkali menyebabkan loneliness/kesepian dalam diri lansia karena kadang lansia merasa rindu dengan anaknya/membutuhkan kegiatan sosialisasi dan aktivitas-aktivitas yang dapat mengisi waktu lansia. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mewadahi lansia untuk mendapatkan rasa bahagia, damai, sejahtera dan mengubah persepsi bahwa usia lansia ini adalah awal dari kehidupan dan memasuki masa tua berarti kita memetik hasil kerja keras kita di usia muda dan waktunya untuk berbahagia. Melalui penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan olah rancangan yang membantu lansia bebas dari rasa kesepian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dan metode desain yang berfokus pada fenomena lansia terlantar sebagai dasar dari perancangan. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa rancangan hunian dan pusat komunitas yang mengusung konsep Community Club Senior Cielo dengan pendekatan arsitektur perilaku dan kesejahteraan dapat menjadi alternatif yang efektif dalam membantu lansia yang terlantar dan kesepian untuk mencapai kehidupan yang lebih damai, sejahtera, dan bermakna.  
PANTI ASUHAN UNTUK ANAK TERLANTAR DENGAN PENDEKATAN THERAPEUTIC HEALING Valencia Amadea Marin; Naniek Widayati
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24299

Abstract

Abandoned children are a type of social welfare problem that is still unresolved. These children still do not receive optimal care, even though they have access to education and temporary shelter from orphanages. This is also driven by the problem of the capacity of orphanages exceeding the amount that should be. This lack of parenting affects the growth and development of children, especially in their psychosocial aspects. Most of the characters formed in abandoned children at the orphanage are divided into 2: inferior (passive) and superior (anarchist). Therefore, this design was created to help accommodate the growth dan development of children from the age of 5-12 years by providing intense assistance and programs that encourage children's psychosocial development. The aim is to provide a comfortable place and provide the necessary facilities such as temporary shelter and more practical education to prepare children to enter the world of work. The method used in this research is qualitative by conducting interviews with several neglected children and caretakers and experts at the orphanage. In addition, data collection is also done by conducting case studies from several related precedents. The results were then analyzed with existing theory so that conclusions were obtained as the basis for planning an orphanage project for neglected children with a therapeutic healing concept (the building design is focused on its users so that the space can accommodate the psychological recovery of its inhabitants). Keywords:  healing; neglected children; orphanage Abstrak Anak terlantar merupakan salah satu jenis penyandang masalah kesejahteraan sosial yang masih belum terselesaikan. Anak–anak ini masih belum mendapatkan pengasuhan secara maksimal meski sudah mendapatkan akses pendidikan dan tempat singgah sementara dari panti asuhan. Hal ini juga didorong dengan permasalahan kapasitas panti asuhan melebihi jumlah yang seharusnya. Kurangnya pengasuhan ini mempengaruhi tumbuh kembang anak khususnya dalam psikososialnya. Karakter yang terbentuk dalam diri anak-anak terlantar di panti asuhan ini mayoritas terbagi menjadi 2 yakni inferior (pasif) dan superior (anarkis). Oleh karena itu, perancangan ini dibuat untuk membantu mewadahi pertumbuhan dan perkembangan anak dari usia 5-12 tahun dengan memberikan pendampingan intens serta program yang mendorong perkembangan psikososial anak. Tujuannya memberikan wadah yang nyaman dan menyediakan fasilitas yang dibutuhkan seperti hunian sementara dan pendidikan yang lebih praktis untuk mempersiapkan anak – anak masuk ke dalam dunia kerja. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah kualitatif dengan cara mengadakan wawancara kepada beberapa anak terlantar dan pengurus serta para pakar di panti asuhan. Selain itu, pengambilan data juga dengan melakukan studi kasus dari beberapa preseden terkait. Hasil kemudian dianalisis dengan teori yang ada sehingga didapatkan kesimpulan sebagai dasar dari perencanaan proyek panti asuhan untuk anak terlantar yang berkonsep therapeutic healing (desain bangunan difokuskan kepada penggunanya sehingga ruang tersebut dapat mewadahi pemulihan psikis penghuninya).
PEREMAJAAN KAMPUNG KOJA MELALUI PENDEKATAN DESAIN KAMPUNG VERTIKAL YANG “ADAPTIF BANJIR” SEBAGAI BENTUK EMPATI TERHADAP KAUM MARGINAL BANTARAN KALI Michael Gunawan Tjen; Naniek Widayati
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24300

Abstract

Jakarta is a city that still has a marginal society from an economic, social and cultural perspective. They usually live in a settlement on the outskirts of the city in the form of an unstructured village. Kampung Koja RT 06 is one of the marginal group settlements in North Jakarta with the character of living space in the riverbank area. On the other hand, the residents do not want to be relocated, so the chosen alternative is to create settlements and the environment must be friendly to water. The existing problem is that the quality of habitation is decreasing day by day due to the inability of adaptive housing to water. In such conditions, the designer's empathy appears to design a residential system that is capable of being adaptive to flood conditions and normal conditions by considering topography, water flow, and vegetation. The method used was qualitative, namely studying literature, field observations, interviewing residents and RT heads so that data on the specific needs of residents to live on the banks of the river were obtained. The aim of the research is to get livable and friendly settlements with water. The design solution applied is a vertical village design approach with a stilt house system, improvement of the Koja area through land consolidation to open water absorption spaces as well as local social facilities, and naturalization of river banks. Through the concept of adaptive housing, this project can create a village that is friendly to water when it comes. Keywords:  empathy; flood; koja village RT 06; marginalized riverbanks Abstrak Jakarta merupakan kota yang masih memiliki masyarakat marginal dari segi ekonomi, sosial, dan budaya. Mereka biasanya tinggal pada suatu permukiman di pinggiran kota berupa kampung yang tidak terstruktur. Kampung Koja RT 06 merupakan salah satu permukiman kelompok marginal di Jakarta Utara dengan karakter ruang bermukim di area bantaran kali. Pada sisi lain warga tidak ingin direlokasi sehingga alternatif terpilih adalah menciptakan permukiman dan lingkungan harus bersahabat dengan air. Permasalahan yang ada adalah semakin hari terjadi kemerosotan kualitas berhuni disebabkan karena ketidakmampuan hunian adaptif terhadap air. Pada kondisi demikian, empati perancang muncul untuk merancang sistem hunian yang mampu adaptif terhadap kondisi banjir maupun kondisi normal dengan mempertimbangkan topografi, aliran air, dan vegetasi. Metode yang dilakukan dengan cara kualitatif, yaitu mempelajari literatur, observasi lapangan, wawancara terhadap warga maupun ketua RT sehingga didapatkan data kebutuhan warga yang spesifik dalam bermukim di bantaran kali tersebut. Tujuan penelitian adalah mendapatkan permukiman layak huni dan bersahabat dengan air. Solusi perancangan yang diterapkan adalah pendekatan desain kampung vertikal dengan sistem rumah panggung, perbaikan kawasan Koja melalui konsolidasi lahan untuk membuka ruang peresapan air sekaligus fasilitas sosial lokal, serta naturalisasi bantaran kali. Melalui konsep hunian adaptif, proyek ini dapat menciptakan kampung yang bersahabat dengan air jika sewaktu-waktu datang.
PEMANFAATAN FOOD LOSS UNTUK MENANGANI KRISIS PANGAN MELALUI ASPEK ARSITEKTURAL DI JAKARTA Audrey Octaviani; Samsu Hendra Siwi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24301

Abstract

Food is one of the main basic needs and must be fulfilled by humans at all times. However, over time, food that has been stored for too long experiences a decrease in quality and eventually becomes food waste. It should be noted that 40% of the total waste in Indonesia is food waste (SIPSN, 2022). Based on data obtained from the databox in 2022, the City of DKI Jakarta is one of the highest producers of food waste in Indonesia, of which 2/3 comes from food loss. While food loss itself is food that is discarded before it reaches the consumer due to a decrease in quality and is still suitable for consumption. This continuous increase in the prevalence of food waste then triggers global warming that is happening in the world, where food waste contributes around 8-10% of carbon emissions. On the other hand, there is still a food crisis experienced by the number of people who tend to belong to the lower middle-class economy, which then exacerbates the problem of nutrition (stunting) in DKI Jakarta (FAO, 2021). This research examines the use of food loss to deal with food crises that occurred in Indonesia, especially in DKI Jakarta. The phenomenological method was used in this study as a solution to the problem, namely by capturing the phenomenon of increased food waste due to food loss, which was then linked to the phenomenon of nutritional problems in the form of stunting due to the food crisis that occurred in Jakarta. Thus, the main objective of this study is to propose an architectural solution. The results of this research are expected to be a solution to environmental and humanitarian problems, as well as to raise public awareness in the city of Jakarta. Keywords: decline in food quality; food crisis; food loss; food waste; stunting Abstrak   Pangan merupakan salah satu kebutuhan utama yang mendasar dan harus dipenuhi oleh manusia di setiap saat. Namun seiring berjalannya waktu, pangan yang telah disimpan terlalu lama mengalami penurunan kualitas hingga akhirnya menjadi sampah makanan. Perlu diketahui bahwa 40% dari total sampah yang terdapat di Indonesia merupakan sampah makanan (SIPSN, 2022). Berdasarkan data yang diperoleh dari databoks pada tahun 2022, Kota DKI Jakarta menajadi salah satu penghasil sampah makanan tertinggi di Indonesia, yang 2/3 nya berasal dari food loss. Sementara food loss sendiri merupakan makanan yang dibuang sebelum mencapai konsumen akibat penurunan kualitas, dan sebenarnya masih layak untuk dikonsumsi. Peningkatan prevalensi sampah makanan secara terus menerus ini kemudian memicu pemanasan global yang terjadi di dunia, dimana limbah makanan menyumbang sekitar 8-10% emisi karbon. Pada sisi lain, masih terdapat krisis pangan yang dialami oleh sejumlah masyarakat yang cenderung tergolong pada ekonomi kelas menengah ke bawah, yang kemudian memperburuk permasalahan gizi (stunting) di DKI Jakarta (FAO, 2021). Penelitian ini mengangkat pemanfaatan food loss untuk menangani krisis pangan yang terjadi di Indonesia, khususnya pada DKI Jakarta. Metode fenomenologi digunakan pada penelitian ini sebagai penyelesaian masalah, yaitu dengan menangkap fenomena peningkatan sampah makanan akibat food loss, yang kemudian dihubungkan dengan fenomena permasalahan gizi berupa stunting akibat krisis pangan yang terjadi di Jakarta. Maka, tujuan utama dari penelitian ini yaitu untuk mengusulkan penyelesaian secara arsitektural. Hasil dari penelitian ini diharapkan agar dapat menjadi penyelesaian dari permasalahan lingkungan dan kemanusiaan, serta menjadi penyadaran masyarakat di Kota Jakarta.  
SIMULASI GERAK TERHADAP PENGARUH RUANG PADA PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN TENAGA KERJA PENYANDANG TUNADAKSA Jonathan Nabasa Sinaga; Samsu Hendra Siwi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24302

Abstract

The need for employment is still difficult for the people of Indonesia, especially for people who have physical limitations, which leads to unemployment and discrimination against them. In 2022 DKI Jakarta Province has 410,585 residents (BPS) who do not have a job (unemployed). The workforce in Indonesia is still dominated by low-skilled workers. The high unemployment rate in Jakarta is caused by the large number of untrained human resources or workers. Untrained human resources are caused by several factors such as an unsupportive economy, inequality between workers, and lots of competition between job seekers. The purpose of this research is to accommodate people with disabilities and the community with disabilities as a layer of society in Indonesia who need jobs to prepare them to have jobs. This study used a qualitative method by conducting a literature review, especially related to the theory of architectural empathy and principles of behavior for persons with disabilities. This study also conducted an analysis of the space requirements needed for persons with disabilities with disabilities as a place for workforce development. The concept of the influence of space on motion stimulation is one of the efforts to provide comfort for disabled users in conducting workforce training. Keywords: affordance; space ; physical disability; workforce Abstrak Kebutuhan lapangan kerja dan diskriminasi terhadap kaum disabilitas masih terasa di masyarakat Indonesia, hal ini diakibatkan karena masih banyaknya pengangguran terutama pada kaum disabilitas. Kaum disabilitas terdapat beberapa jenis; Tunadaksa, Tunarungu, Tunanetra, Tunalaras, dan Tunagrahita. Pada penelitian ini mengangkat permasalahan tentang lapangan pekerjaan untuk kaum disabilitas Tunadaksa. Arsitektur sebagai disiplin ilmu sangat terkait dalam menjawab aspek keruangan yang terkait dengan kaum disabilitas dan ruang geraknya untuk penyediaan fasilitas pelatihan dan pengembangan tenaga kerja terutama penyandang tunadaksa. Penelitian ini bertujuan memberikan wadah untuk pelatihan dan pengembangan tenaga kerja tunadaksa berdasarkan simulasi gerak. Oleh karena itu metode yang dipakai adalah kualitatif dengan melakukan penelusuran kajian pustaka, terutama  fenomenologi, affordance dan prinsip - prinsip perilaku bagi penyandang disabilitas, sehingga akan mendapatkan desain yang sesuai dengan kebutuhan disabilitas. Hasil dari penelitian ini berupa desain yang menjawab kebutuhan disabilitas tunadaksa pada ruang pelatihan dan pengembangan tenaga kerja berdasarkan ruang geraknya. Konsep pengaruh ruang terhadap stimulasi gerak merupakan salah satu usaha dalam memberikan kenyamanan bagi pengguna penyandang tunadaksa dalam melakukan pelatihan tenaga kerja.