cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PENDEKATAN EMPHATIC ARCHITECURE TERHADAP KONSEP AKTIF PADA ASRAMA MAHASISWA SEMESTER AWAL UNIVERSITAS TARUMANAGARA Winsen Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24313

Abstract

Nowadays, having a Bachelor's degree is the standard of education in big cities and in the regions because one of the demands is to work one of them, but in some areas they don't have campuses that are said to be quite good compared to big cities, which causes people to have to migrate to gain knowledge. When they migrate, they are confused about where to live, because they do not have relatives to be able to live in, one of which is in the city of Jakarta. The real conditions are especially on the Tarumanagara University campus. Apart from that security and safety are also feared by their parents, a special dormitory for Tarumanagara University students is needed. In a residence for students, of course, students have different needs where each faculty such as the faculty of medicine and engineering has different needs where architects need a large desk while medical students need a large blackboard to draw and study, they have different space requirements and Emphatic Architecture works by giving users the space they need. Therefore the required design will suit the needs of Tarumangara University students by providing supporting facilities and the application of active concepts contained inside and outside the building and from games on the exterior. Primary data was obtained through surveys and interviews while secondary data was obtained from books and literature on the internet. Keywords:  active; architecture; dormitory; emphatic architecture; students. Abstrak Pada zaman sekarang memiliki gelar S1 merupakan standar pendidikan dikota besar maupun di daerah karena salah satu tuntutan untuk bekerja salah satunya, tetapi di beberapa daerah tidak memiliki kampus yang cukup dikatakan baik dibandingkan di kota besar, yang menyebabkan orang harus merantau untuk mendapatkan ilmu. Ketika mereka merantau, kebingungan akan tempat tinggal, karena mereka tidak mempunyai sanak saudara untuk dapat menumpang tinggal, salah satunya seperti di kota Jakarta. Kondisi nyata terutama pada kampus Universitas Tarumanagara. Selain itu keamanan dan keselamatan pun dikhawatirkan oleh orang tua mereka, maka diperlukan asrama khusus mahasiswa dan mahasiswi Universitas Tarumanagara. Dalam sebuah tempat tinggal untuk mahasiswa tentu mahasiswa itu memiliki kebutuhan yang berbeda-beda dimana setiap fakultas seperti fakultas kedokteran dan teknik memiliki kebutuhan yang berbeda dimana anak arsitek yang membutuhkan meja yang besar sedangkan anak kedokteran membutuhkan sebuah papan tulis besar untuk menggambar dan belajar, mereka memiliki kebutuhan ruang yang berbeda dan Emphatic Architecture bekerja dengan memberi ruang yang dibutuhkan untuk pengguna. Oleh karena itu desain yang dibutuhkan akan menyesuaikan dengan kebutuhan para mahasiswa Universitas Tarumangara dengan memberikan fasilitias penunjang serta penerapan konsep aktif yang terdapat didalam bangunan maupun diluar bangunan dan dari permainan pada eksteriornya. Data primer diperoleh melalui survei dan wawancara sedangkan data sekunder diperoleh dengan buku dan literatur pada internet.
DESAIN ASRAMA PRODUKTIF BERBASIS KOMUNITAS MAHASISWA UNIVERSITAS TARUMANAGARA Budi Rahayuningtyas
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24314

Abstract

Located in West Jakarta, Tarumanagara University not only has students from within Jakarta, but also from another city. A number of students live far away from Tarumanagara University, so many prefer to stay at shared house. The reasons students move into the shared house varies, a few of them are time efficiency and productivity. But the shared house mostly only generally designed, consider meeting basic needs, such as sleeping, eating, taking a shower, and studying. While there are actually a few needs that haven’t been fulfilled in only one room or one shared house. For example, not all shared house provides a place to socialize or to build a community, and a lack of room for students from various majors. Community is expected to form by providing room that is needed where it can boost student’s productivity. Therefore, a dormitory design which can adapt especially to Tarumanagara University’s student needs is needed, from basic needs to other facilities that will boost productivity and form a community. This research is using empathic architecture approach. Data were collected thorough a primer sources like surveys and interviews, secondary resources like books, literature, and website. This project focuses on building a dormitory next to Tarumanagara University, by providing space for students to live temporarily, and facilities that can boost student productivity, either dormitory students or Tarumanagara University students generally. Keywords: dormitory; empathy; community; students; productivity Abstrak Berlokasi di Jakarta Barat, Universitas Tarumanagara tidak hanya memiliki mahasiswa dari Jakarta, namun juga berbagai kota lainnya. Sejumlah mahasiswa bertempat tinggal jauh dari Universitas Tarumanagara, maka banyak yang lebih memilih untuk tinggal di kos. Alasan mahasiswa pindah ke kos beragam, diantaranya adalah efisiensi waktu dan produktivitas. Namun, tempat kos yang disewakan kebanyakan hanya dirancang secara general, dengan memikirkan pemenuhan kebutuhan dasar saja, seperti tidur, makan, mandi, maupun belajar. Sedangkan sebenarnya masih ada kebutuhan mahasiswa yang tidak terpenuhi dalam satu kamar atau satu tempat kos. Misalnya, tidak semua tempat kos menyediakan ruang untuk bersosialisasi atau mendukung terbentuknya komunitas, maupun kurangnya ruang untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa dari beranekaragam jurusan. Diharapkan terbentuknya komunitas dengan penyediaan ruang dimana dapat mendorong produktivitas mahasiswa. Oleh karena itu dibutuhkan adanya suatu desain asrama yang dapat menyesuaikan dengan kebutuhan, khususnya bagi mahasiswa Universitas Tarumanagara, dari kebutuhan dasar hingga fasilitas lain yang mendukung produktivitas serta dapat membentuk komunitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan arsitektur empati. Data diperoleh melalui sumber data primer seperti survei dan wawancara, serta sumber data sekunder seperti buku, literatur, jurnal, dan web. Proyek ini berfokus pada pembangunan asrama yang bersebelahan dengan Universitas Tarumanagara, selain menyediakan tempat bagi mahasiswa untuk tinggal sementara, juga menyediakan fasilitas-fasilitas yang dapat mendukung produktivitas mahasiswa penghuni asrama, maupun mahasiswa Universitas Tarumanagara secara general.
PERANCANGAN FASILITAS PEMBINAAN DAN REKREASI TUNANETRA DENGAN PENDEKATAN INDERA Evangelista Putri Herlambang; Mekar Sari Suteja
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24315

Abstract

According to the Indonesian Ministry of Health, the blind population in Indonesia is estimated to be around 1.5% of the total Indonesian population, including those who are totally blind or have milder visual impairment. The Ministry of Women's Empowerment and Child Protection, explained that individuals with visual disabilities are those who have a visual clarity level of less than 6 per 60 after correction or have no visual ability at all. This significant amount is still not comparable to the provision of special facilities for the blind. Social discrimination is also experienced by blind people in Indonesia. In everyday life, children with visual impairments really need parental guidance and vice versa, parents who act as caregivers and intermediaries for children in the community must adapt to their child's condition. They need to learn a lot in assisting with special needs and monitoring the growth and development of their children. The design uses behavioral and narration methods through direct observation of the visually impaired which is very dependent on the senses of hearing and touch. The way the blind "see" is by hearing, tapping and touching. In addition, objects or furniture around become a way of finding for the blind. The design solution uses an empathetic architecture which is a key element of human-centred design. The design focuses on sensory design which is expected to help the blind to get to know their surroundings better and make it easier for them to move. Aspects of the building that are strengthened are lighting, texture, aroma, and location of space. This design accommodates the needs for mobility and sensory development for blind people aged 0-17 years and families with disabilities. Apart from that, it provides educational recreation for the public so they can empathize with the blind in a veiled and enjoyable way. Keywords:  blind; development; family; recreation; society Abstrak Menurut Kementerian Kesehatan RI, populasi tunanetra di Indonesia diperkirakan sekitar 1,5% dari keseluruhan penduduk Indonesia, termasuk mereka yang mengalami kebutaan total maupun gangguan penglihatan yang lebih ringan. Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, menjelaskan bahwa individu dengan disabilitas penglihatan adalah mereka yang memiliki tingkat kejelasan penglihatan kurang dari 6 per 60 setelah koreksi atau tidak memiliki kemampuan penglihatan sama sekali. Jumlah yang signifikan ini ternyata masih belum sebanding dengan penyediaan fasilitas khusus bagi para tunanetra. Diskriminasi sosial juga dialami oleh penyandang tunanetra di Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari anak penyandang tunanetra sangat membutuhkan bimbingan orang tua dan sebaliknya orang tua yang berperan sebagai perawat dan perantara anak kepada masyarakat harus menyesuaikan kondisi anaknya. Mereka perlu banyak belajar dalam mendampingi kebutuhan khusus dan mengawasi tumbuh kembang anaknya. Perancangan menggunakan metode perilaku dan narasi melalui observasi langsung pada tunanetra sangat bergantung pada indera pendengar dan peraba. Cara tunanetra "melihat" adalah dengan mendengar, mengetuk dan meraba. Selain itu, benda atau perabot sekitar menjadi way of finding bagi tunanetra. Solusi desain menggunakan arsitektur empati yang merupakan suatu elemen utama dari desain yang berpusat pada manusia. Perancangan berfokus pada desain sensorik yang diharapkan dapat membantu tunanetra untuk lebih mengenal sekitar dan mempermudah mereka beraktivitas. Aspek bangunan yang diperkuat merupakan pencahayaan, tekstur, aroma, dan lokasi ruang. Perancangan ini mewadahi kebutuhan pembinaan mobilitas dan indera penyandang tunanetra usia 0-17 tahun dan keluarga penyandang. Selain itu memberikan rekreasi edukatif bagi masyarakat agar dapat berempati pada tunanetra dengan cara yang terselubung dan bisa dinikmati.
STUDI PERENCANAAN JALAN WAHID HASYIM SEBAGAI COMMERCIAL URBAN CORRIDOR Miracle Tjiabrata; Regina Suryadjaja; Suryadi Santoso; B. Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24322

Abstract

Jalan Wahid Hasyim corridor in Central Jakarta is a road corridor that is famous for its commercial area and is one of the centers of commercial activities in Central Jakarta. The Jalan Wahid Hasyim corridor has easy access. Jalan Wahid Hasyim corridor is traversed by Jalan M.H. Thamrin which is a regional and national economic center, and connects other economic centers in Central Jakarta and South Jakarta. Economic activities that occur on Jalan M.H. Thamrin are supported by commercial activities along Jalan Wahid Hasyim. Jalan Wahid Hasyim is dominated by commercial hotels that become accommodation places for visitors both on vacation and on work assignments in Jakarta. The strategic location of the Jalan Wahid Hasyim corridor makes this road corridor crowded with people, coupled with activities carried out around the road corridor such as culinary tourism on Jalan Haji Agus Salim or often called Jalan Sabang. However, from the observations made in the road corridor, there are still several problems found in the Jalan Wahid Hasyim corridor. The problems found are in the form of commercial building conditions, access in and out of buildings, and parking circulation. Seeing these problems, research was conducted to find the main problems that occurred in the Jalan Wahid Hasyim corridor, Central Jakarta.  The research was carried out by making direct observations of the Jalan Wahid Hasyim corridor and comparing it with the theory used as a reference for good and correct road corridor planning. So that from the theory used, the problem points can be found and concluded to then be planned into a good road corridor as described by the theory. In this case, the theory used is the Oakland Design Guideline and Commercial Areas theory. Based on the theory of Design Guideline and Commercial Areas, there are several elements that need to be considered in shaping road corridors, especially commercial buildings in order to facilitate commercial activities that take place in the Jalan Wahid Hasyim corridor. The necessary elements concern the placement of buildings, parking lots, building design, to the presence of facilities on the pedestrian path in order to improve the condition of the road corridor on Jalan Wahid Hasyim, Central Jakarta. Keywords:  Commercial; Corridor; Design Guidelines; Wahid Hasyim Street Abstrak Koridor Jalan Wahid Hasyim di Jakarta Pusat merupakan koridor jalan yang terkenal dengan area komersialnya dan merupakan salah satu pusat kegiatan komersial di Jakarta Pusat. Koridor Jalan Wahid Hasyim memiliki akses yang mudah dijangkau. Koridor Jalan Wahid Hasyim dilalui oleh Jalan M.H. Thamrin yang merupakan sentra perekonomian daerah dan nasional, dan menghubungkan pusat-pusat perekonomian lainnya di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Kegiatan ekonomi yang terjadi di Jalan M.H. Thamrin didukung dengan aktivitas komersial di sepanjang Jalan Wahid Hasyim. Jalan Wahid Hasyim didominasi oleh komersial hotel yang menjadi tempat akomodasi bagi pengunjung baik yang sedang berlibur maupun yang sedang tugas kerja di Jakarta. Lokasi koridor Jalan Wahid Hasyim yang strategis menjadikan koridor jalan ini ramai dikunjungi masyarakat, ditambah dengan aktivitas-aktivitas yang dilakukan di sekitar koridor jalan seperti adanya wisata kuliner di ruas Jalan Haji Agus Salim atau sering disebut Jalan Sabang. Namun, dari hasil pengamatan yang dilakukan di koridor jalan, masih terdapat beberapa permasalahan yang ditemukan di koridor Jalan Wahid Hasyim. Permasalahan yang ditemukan berupa kondisi bangunan komersial, akses keluar masuk ke bangunan, hingga sirkulasi parkir. Melihat permasalahan tersebut, dilakukan penelitian untuk mencari permasalahan utama yang terjadi di koridor Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat.  Penelitian tersebut dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung terhadap koridor Jalan Wahid Hasyim dan membandingkannya dengan teori yang digunakan sebagai acuan sebagai perencanaan koridor jalan yang baik dan benar. Sehingga dari teori yang digunakan tersebut, titik permasalahan dapat ditemukan dan disimpulkan untuk kemudian direncanakan menjadi koridor jalan yang baik sebagaimana dijelaskan oleh teori tersebut. Dalam hal ini, teori yang digunakan adalah teori Oakland Design Guideline and Commercial Areas. Berdasarkan teori ini ditemukan beberapa elemen yang perlu menjadi perhatian dalam membentuk koridor jalan khususnya bangunan untuk komersial agar dapat memfasilitasi kegiatan komersial yang berlangsung di koridor Jalan Wahid Hasyim. Elemen yang diperlukan menyangkut penempatan bangunan, lahan parkir, desain bangunan, sampai keberadaan fasilitas di jalur pedestrian agar dapat meningkatkan kondisi koridor jalan di Jalan Wahid Hasyim Jakarta Pusat.
IMPLEMENTASI NILAI NASIONALISME PADA MONUMEN PEMBEBASAN IRIAN BARAT Dominika Eufran Paseli; B. Irwan Wipranata; Suryadi Santoso; Regina Suryadjaja
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24335

Abstract

Banteng Field Park is one of the city parks in Jakarta that has historical value, this park has existed since the Dutch colonial era. Until when the Republic of Indonesia was released from Japanese colonization, the name was changed to Banteng Field by President Soekarno to become Banteng Field. In this park there is a monument, namely the West Irian Liberation Monument. This monument was built in 1962 and inaugurated on August 17, 1963, where the idea of this monument was a proposal from President Soekarno. This monument is a symbolization as a sign to commemorate the return of West Irian in the territory of the Republic of Indonesia and the beginning that the territory of the Republic of Indonesia became intact for the first time. Banteng Field Park has been revitalized in 2018, with three zones in it, namely the Urban Forest zone, Monument zone and Sports Zone, with the main zone being the Monument Zone. This research has the aim of assessing whether the revitalization that has been carried out can strengthen the historical value of the Banteng Field Park or actually eliminate the historical value. In collecting data, researchers conducted primary and secondary data collection, namely conducting interviews, field surveys and literature reviews. To achieve the research objectives, this research uses descriptive qualitative research methods. The result of the research is to know that the revitalization that has been carried out has strengthened the historical value, as well as its implementation on the West Irian Liberation Monument. Keywords:  Nationalism; Revitalization; West Irian Liberation Monument Abstrak Taman Lapangan Banteng merupakan salah satu taman kota di Jakarta yang memiliki nilai sejarah, taman ini sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Hingga pada saat NKRI terlepas dari penjajahan Jepang, digantilah nama menjadi Lapangan Banteng oleh Presidden Soekarno menjadi lapangan Banteng. Di taman ini terdapat sebuah monumen, yakni Monumen Pembebasan Irian Barat. Monumen ini dibangun pada tahun 1962 dan diresmikan pada 17 Agustus 1963, yang mana gagasan monument ini merupakan usulan dari Presiden Soekarno. Monumen ini merupakan simbolisasi sebagai tanda untuk memeperingati kembalinya Irian Barat dalam wilayah NKRI dan menjadi awal bahwa wilayah NKRI menjadi utuh untuk pertama kalinya. Taman Lapangan Banteng telah selesai direvitalisasi pada tahun 2018, dengan tiga zona di dalamnya yaitu zona Hutan Kota,  zona Monumen dan Zona Oalahraga, dengan zona utama yakni Zona Monumen. Penelitian ini memiliki tujuan yakni menilai revitalisasi yang telah dilakukan dapat menguatkan nilai sejarah dari Taman Lapangan Banteng atau justru menghilangkan nilai sejarah tersebut. Dalam mengumpulkan data peneliti  melakukan pengumpulan data primer dan sekunder yakni melakukan wawancara, survei lapangan dan kajian pustaka. Untuk mencapai tujuan penilitian, maka penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Hasil dalam penelitian adalah mengetahui  ini bahwa dengan revitalisasi yang telah dilakukan sudah menguatkan nilai sejarah, serta implementasinya pada Monumen Pembebasan Irian Barat.
STUDI INTEGRASI SERTA KETERSEDIAAN SARANA DAN PRASARANA TRANSPORTASI UMUM DI KAWASAN STASIUN TENJO, KABUPATEN BOGOR Alivia Putri Winata; Regina Suryadjaja; Suryadi Santoso; B. Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24338

Abstract

Tenjo Station is the main public transportation mode in Tenjo District which is one of the mobillity centers in the area. Tenjo Station is a stopping place for the Commuter Line which requires support from other modes of transportation to reach it hence a high quality transportation infrastructure is needed to be able to create interdependent integration. In addition, regional development can be a benchmark that requires integration between modes in forming an area. Therefore, to find out the conditions of integration and the availability of transportation facilities and infrastructure, it is carried out through network and movement analysis and analysis of transportation facilities and infrastructure using a descriptive-qualitative methods such as observational data, interviews and secondary data obtained from Google Maps and the Moovit application. Network and movement analysis is carried out by processing road network data that can be accessed to reach Tenjo Station. While the analysis of transportation facilities and infrastructure is carried out by processing data on stop points and routes from transportation modes with assessment tools standardization of bus stop making. In order to find out these conditions that are supported by the results of the two analyzes, development recommendations can be carried out by adding transportation infrastructure in the form of bus stop as a place to switch modes in order to create integration. As well as recommendations for the improvement of Tenjo Station as the main station so that it is more adequate in its use. Keywords:  Tenjo Station; Integration of Transportation Mode; Availability of Transportation Facilities and Infrastructure Abstrak Stasiun Tenjo merupakan moda transportasi umum utama di Kecamatan Tenjo yang merupakan salah satu pusat mobilitas pada kawasan tersebut. Stasiun Tenjo adalah tempat pemberhentian Kereta Rel Listrik (KRL) yang memerlukan dukungan dari moda tranportasi lain untuk dapat mencapai Stasiun Tenjo sehingga dibutuhkan prasarana transportasi yang baik untuk dapat menciptakan integrasi yang saling bergantung. Selain itu, pengembangan kawasan dapat menjadi tolak ukur bahwa diperlukan integrasi antar moda dalam membentuk suatu kawasan. Dengan demikian, untuk mengetahui kondisi integrasi dan ketersediaan sarana dan prasarana transportasi dilakukan melalui analisis jaringan dan pergerakan dan analisis sarana dan prasarana transportasi dengan metode deskriptif - kualitatif seperti data hasil observasi, wawancara serta data sekunder yang diperoleh dari Google Maps dan Aplikasi Moovit. Analisis jaringan dan pergerakan dilakukan dengan mengolah data jaringan jalan yang dapat diakses untuk mencapai             Stasiun Tenjo. Sedangkan analisis sarana dan prasarana transportasi dilakukan dengan mengolah data titik pemberhentian dan rute dari moda transportasi dengan alat penilaian standarisasi pembuatan bus stop. Dalam rangka mengetahui kondisi tersebut yang didukung dari hasil kedua analisis, rekomendasi pengembangan dapat dilakukan dengan penambahan prasarana transportasi berupa bus stop sebagai tempat peralihan moda agar terciptanya integrasi. Serta rekomendasi untuk dilakukan peningkatan Stasiun Tenjo sebagai stasiun utama agar semakin memadai dalam penggunaannya.  
HUBUNGAN RESILIENSI DENGAN ADAPTASI MASYARAKAT TERHADAP BENCANA BANJIR DI TELUK GONG KECAMATAN PENJARINGAN JAKARTA UTARA Steven Steven; Priyendiswara Agustina Bella; I.G. Oka Sindhu Pribadi; Liong Ju Tjung
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24339

Abstract

Teluk Gong has become an area that is often flooded every year, especially during the rainy season. The intensity of rain is high and accompanied by the inability of drainage channels and reservoirs that should be able to collect rainwater. Floods in Teluk Gong have occurred since 2007 and floods continue every year. Therefore, the author wants to do research on Teluk Gong. The author uses 2 methods, namely the analysis of the characteristics and impacts of flooding and the relationship between resilience and adaptation forms. The research approach that the author uses is a quantitative method and the nature of this research is scientific research which is research conducted based on facts that actually occur in the field and is supported by theoretical studies related to disaster resilience and adaptation theory as a basis for identifying the relationship between resilience and form of adaptation of the Teluk Gong community house, Penjaringan District. The results of the analysis show that the majority of the people of Teluk Gong have a high level of resilience, with a percentage of 53% and as much as 69% of the people of Teluk Gong have adapted by increasing the floors of their houses, emptying part of the first floor of the building, using flood water barriers, and making parks as a water absorbent. Keywords: resilience; adaptation; floods disaster Abstrak Teluk Gong telah menjadi Kawasan yang sering terendam banjir setiap tahunnya, khususnya pada musim hujan. Intensitas hujan yang tinggi dan disertai ketidakmampuan saluran drainase dan waduk yang seharusnya bisa menampung air hujan. Banjir di Teluk Gong sudah terjadi dari tahun 2007 dan setiap tahunnya terus terjadi banjir. Maka dari itu, penulis ingin melakukan penelitian pada Teluk Gong. Penulis menggunakan 2 metode yaitu analisis karakteristik dan dampak banjir dan hubungan resiliensi terhadap bentuk adaptasi. Pendekatan penelitian yang penulis gunakan adalah metode kuantitatif dan sifat penelitian ini adalah penelitian ilmiah yang merupakan penelitian yang dilakukan berdasarkan fakta yang benar-benar terjadi di lapangan dan didukung dengan kajian teori yang bersangkutan dengan resiliensi bencana dan teori adaptasi sebagai bahan landasan untuk menidentifikasi hubungan resiliensi dengan bentuk adaptasi rumah masyarakat Teluk Gong Kecamatan Penjaringan. Hasil analisis menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Teluk Gong memiliki tingkatan resiliensi yang tinggi yaitu dengan persentase sebesar 53% dan sebanyak 69% masyarakat Teluk Gong telah beradaptasi dengan cara meningkatkan lantai rumah, mengosongkan bagian lantai satu bangunan, menggunakan barier penahan air banjir, dan membuat taman sebagai penyerap air.
PENERAPAN KONSEP WATER SENSITIVE URBAN DESIGN TERHADAP PERENCANAAN PERUMAHAN PADA KAWASAN RAWAN BANJIR KECAMATAN PERIUK Priska Stefani; B. Irwan Wipranata; Regina Suryadjaja; Suryadi Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24341

Abstract

Flooding in Periuk Sub-district has been a priority issue for the local government for a long time. Until now, flood control is still an annual work program of several related parties. Meanwhile, the population growth rate of Tangerang City is increasing, so the need for residential land is also increasing over time. As an area planned as an integrated residential area, Periuk Sub-district, which borders directly with Tangerang Regency (Pasarkemis Sub-district), has experienced good progress in the development of residential areas dominated by private developers. However, flood vulnerability is an important consideration in the development of new residential areas, as is the case with the vacant land of the study object between Situ Bulakan and Situ Gelam. With the land designation as housing based on spatial plan (RTRW) Tangerang City 2023, the vacant land has not been optimally utilized because it is included in the flood-prone area. By applying the concept of water sensitive urban design (WSUD), the spatial arrangement of the residential area will focus on water cycle management (Drainage) and public open space as water catchment areas. In addition, adjustments are also made to the requirements for residential development in flood-prone areas to produce recommendations for components that are most suitable for the characteristics of the study object. Keywords: housing planning; water sensitive urban design (WSUD); and flood-prone area Abstrak Kerawanan bencana banjir di Kecamatan Periuk sudah menjadi permasalahan prioritas pemerintah daerah dahulu. Hingga kini, pengendalian banjir masih  menjadi program kerja tahunan dari beberapa instansi atau pihak terkait. Sedangkan laju pertumbuhan penduduk Kota Tangerang semakin meningkat, sehingga kebutuhan akan lahan hunian juga semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Sebagai wilayah yang direncanakan sebagai kawasan permukiman terpadu, Kecamatan Periuk yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Tangerang (Kecamatan Pasarkemis) mengalami perkembangan dalam pengembangan kawasan hunian yang cukup baik dan didominasi oleh pengembang swasta. Namun kerawanan bencana banjir menjadi pertimbangan penting dalam pengembangan kawasan perumahan baru, seperti yang terjadi pada lahan kosong objek studi di antara Situ Bulakan dan Situ Gelam. Dengan peruntukan lahan sebagai perumahan berdasarkan RTRW Kota Tangerang tahun 2030, lahan kosong belum dimanfaatkan dengan optimal karena termasuk ke dalam kawasan rawan banjir. Dengan menerapkan konsep water sensitive urban design (WSUD), penataan ruang kawasan perumahan akan difokuskan pada pengelolaan siklus air (Drainase) dan ruang terbuka publik sebagai daerah resapan air. Selain itu juga dilakukan penyesuaian terhadap syarat pengembangan hunian pada kawasan rawan banjir untuk menghasilkan rekomendasi komponen yang paling sesuai dengan karakteristik objek studi.
PERHITUNGAN TINGKAT WALKABILITY DI KAWASAN TERPADU SUDIRMAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE PERHITUNGAN MATEMATIS IPEN PROJECT Hanna Zulfiah; Priyendiswara Agustina Bella; I.G. Oka Sindhu Pribadi; Liong Ju Tjung
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24345

Abstract

Compared to the development of facilities for other modes of transportation, the Indonesian government has not placed much emphasis on the development of pedestrian facilities. There are many reasons for this, one of which is the inadequate provision of pedestrian facilities as a result of the shift in function from public space to parking lots or commercial space. It is this lack of an approach to facility provision that considers environmental factors as well as pedestrian behavior and preferences that leads to non-conformity. Planning for urban development often emphasizes transportation routes over pedestrian routes, giving vehicular routes greater priority. In addition, cities today are required to have a good level of walkability. The current definition of walkability is still qualitative with subjective assessments.  Therefore, it is necessary to re-understand walkability that can be assessed quantitatively and more objectively. The purpose of this research is to determine the level of walkability objectively using the IPEN Project mathematical methodology, which is based on the Connectivity index, Entropy index, FAR index and Household index. The Sudirman Central Business District (SCBD) area will be the study object of this research. In this research, the object of study will be divided into several area units, and the walkability value of each unit will be compared to identify places with high or low walkability value. The results show that places with high activity levels are located in areas with commercial zone designations so that the area has a high walkability value compared to other areas.. Keywords:  Sudirman Central Business District (SCBD); Walkability; IPEN Project Abstrak   Dibandingkan dengan pengembangan fasilitas untuk moda transportasi lain, pemerintah Indonesia belum memberikan penekanan pada pengembangan fasilitas pejalan kaki. Ada banyak alasan untuk hal ini, salah satunya adalah tidak memadainya penyediaan fasilitas bagi pejalan kaki sebagai akibat dari pergeseran fungsi dari ruang publik ke tempat parkir atau menjadi lahan komersial. Kurangnya pendekatan terhadap penyediaan fasilitas yang mempertimbangkan faktor lingkungan serta perilaku dan preferensi pejalan kaki inilah yang menyebabkan ketidaksesuaian ketentuan. Perencanaan untuk pembangunan perkotaan sering menekankan jalur transportasi di atas jalur pejalan kaki, memberikan jalur kendaraan prioritas yang lebih besar. Selain itu, kota saat ini di tuntut harus memiliki tingkat walkability yang baik. Definisi walkability yang di pahami saat ini masih bersifat kualitatif dengan penilaian yang subjektif.  Oleh karena itu, diperlukannya pemahaman ulang mengenai walkability yang dapat dinilai secara kuantitatif dan lebih obyektif. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan tingkat walkability secara objektif menggunakan metodologi matematika IPEN Project, yang didasarkan pada Connectivity index, Entropy index, FAR index dan Household index. Kawasan Sudirman Central Business District (SCBD) akan menjadi objek studi dari penelitian ini. Dalam penelitian ini, objek penelitian akan dibagi menjadi beberapa unit area, dan nilai walkability masing-masing unit akan dibandingkan untuk mengidentifikasi tempat-tempat dengan nilai walkability tinggi maupun rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tempat-tempat dengan tingkat aktivitas yang tinggi berada di kawasan dengan peruntukan zona komersial sehingga kawasan tersebut memiliki nilai walkability yang tinggi dibandingkan dengan daerah lain.  
PENGELOLAAN SARANA DAN PRASARANA KAWASAN WISATA CANDI MUARO JAMBI Ahmad Fauzan Al Fajri; Priyendiswara Agustina Bella; Liong Ju Tjung; I.G. Oka Sindhu Pribadi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24346

Abstract

Muaro Jambi Temple is the largest Hindu-Buddhist temple complex in Southeast Asia which is possibly a historical heritage from the Sriwijaya kingdom and the Malay kingdom located in Muaro Jambi Regency. Because it is a relic of an ancient site that is hundreds of years old, Muaro Jambi Temple is vulnerable to transitional climates due to layers of rock that have begun to collapse. This paper aims to find out how the Muaro Jambi Temple is managed in order to increase the potential in the Muaro Jambi Temple History area. According to the results of research conducted by the author, Muaro Jambi Temple has added value to become a cultural tourism spot because of its many historical values ​​which can also add to the knowledge of visiting tourists. Muaro Jambi Temple has been designated as a world heritage by UNESCO. To go to the location of the Muaro Jambi Temple is not too far from the city center, it only takes 30 minutes with a distance of 25 km from the center of Jambi. Keywords:  management; national strategic are; temple Abstrak Candi Muaro Jambi adalah sebuah kompleks percandian agama Hindu-Buddha terluas di Asia Tenggara yang kemungkinan merupakan peninggalan sejarah dari kerajaan Sriwijaya dan kerajaan Melayu yang terletak di Kabupaten Muaro Jambi. Karena merupakan peninggalan situs purbakala yang telah berumur ratusan tahun, Candi Muaro Jambi rentan terhadap iklim pancaroba karena lapisan batu yang mulai runtuh. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengelolaan Candi Muaro Jambi agar dapat meningkatkan potensi pada kawasan Sejarah Candi Muaro Jambi. Menurut hasil penelitian yang penulis lakukan, Candi Muaro Jambi memiliki nilai tambah untuk menjadi tempat wisata budaya dikarenakan nilai sejarahnya yang banyak juga bisa menambah pengetahuan bagi wisatawan yang datang. Candi Muaro Jambi sudah di tetapkan sebagai warisan duania oleh UNESCO. Untuk menuju ke lokasi Candi Muaro Jambi tidak terlalu jauh dari pusat kota, hanya memerlukan waktu 30 menit saja dengan jarak tempuh 25 km dari pusat kota Jambi.