cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
HUB KEBUDAYAAN KOREA SELATAN DI JL. TAMAN KEMANG Ramdha Rachmansyah; Andi Surya Kurnia
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8521

Abstract

As of the global issues in the cultural sector, raises the interest of the community to find out and gather at a point where the culture where can be educated. The global issue regarding cultural trends that had been got from the survey results is the Hallyu Wave, which is the South Korean’s Culture wave that is at the peak of nowadays’s public discussions in the world. The purpose of this study was to determine the communication patterns developed by all levels of society and to determine the process of social integration that is carried out. Site selection and building planning are also need to pay attention to the originals of South Korea's architectural authenticity, which later must be adapted to the Indonesian environment within a surface called hub. This hub is planned with the contextuality of musical analogies method in its architectural implementations, such as the lows-highs and the fronts-backs applications on its architectural, which can rise the integration characteristic of South Korean’s culture in Indonesia, especially in Jl. Taman Kemang, South Jakarta City, where is the one of the many 3rd Place spots in Jakarta Province, and also its adaptations Keywords:  culture; hub; south korea; trend Abstrak Pemanfaatan isu global dalam bidang kebudayaan, memunculkan minat masyarakat untuk mencari tahu dan berkumpul di satu titik dimana kebudayaan yang sedang trend tersebut dapat diedukasikan. Isu global mengenai trend kebudayaan yang didapatkan dari hasil survey adalah Hallyu Wave, yaitu gelombang Kebudayaan Korea Selatan yang sedang berada di puncak pembicaraan masyarakat di dunia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pola komunikasi yang dibangun oleh seluruh lapisan masyarakat dan untuk mengetahui proses integrasi sosial yang dilakukan. Pemilihan tapak dan pengolahan bangunan juga perlu memperhatikan keaslian arsitektural khas Korea Selatan, yang nantinya harus diadaptasikan pada lingkungan Indonesia yang diwadahkan pada sebuah hub. Hub ini dirancang pada metode perancangan kontekstual musical analogies dalam sisi arsitekturalnya, terutama dalam permainan tinggi-rendah dan maju-mundurnya bidang arsitektural, yang pada akhirnya akan memunculkan karakter integrasi kebudayaan Korea Selatan di Indonesia, khususnya di Jl. Taman Kemang, Kota Administrasi Jakarta Selatan, yang merupakan salah satu pusat 3rd Place untuk Provinsi DKI Jakarta, dan beserta adaptasinya.
EVALUASI KONSEP TOD PADA STASIUN LRT DI KOTA BEKASI (STUDI KASUS : STASIUN LRT JATICEMPAKA – GATEWAY PARK) Brian Aldiki; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4586

Abstract

The city of Bekasi with a population that has reached nearly 3 million residents is appropriate to improve the spatial planning system and modal transport planning system along with its supporting infrastructure in order to create an orderly and planned city condition.  Transit oriented development, is a function of a mixed land and transit area, where the merger of land includes a region with complete functions, can be reached on foot, and close to the transit area. This research is included in applied research. The research method used is descriptive method with comparative analysis and weighting analysis using a scorecard analysis issued by ITDP through TOD Standard 2.1. Referring to the Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) there are 8 TOD principles with 21 performance appraisal metrics that must be applied in developing the TOD area. Then the overall points will be added to determine the ranking of the TOD obtained. If the results of the assessment do not reach a minimum point (55 points) then development cannot be said to be a TOD. Based on the results of the assessment that has been carried out it is proven that the development of the TOD Area at Gateway Park has not yet entered the lowest standard of the TOD area. Even though 51 points have been obtained by the developer, this is still ineffective considering that the development is too exclusive and not integrated with the surrounding area. AbstrakKota Bekasi dengan jumlah penduduknya yang sudah mencapai angka hampir 3 juta penduduk sudah selayaknya untuk memperbaiki sistem perencanaan spasial hingga sistem perencanaan angkutan moda beserta infrastruktur pendukungnya agar terciptanya kondisi kota yang teratur dan terencana. Transit oriented development, merupakan penggabungan fungsi dari suatu lahan campuran dan kawasan transit, dimana penggabungan lahan tersebut meliputi sebuah kawasan dengan fungsi yang lengkap, dapat dijangkau dengan berjalan kaki, serta dekat dengan kawasan transit. Penelitian ini termasuk kedalam penelitian terapan. Metode penelitian yang penulis gunakan dalam adalah metode deskriptif dengan analisis komparatif dan analisis pembobotan menggunakan scorecard analysis yang dikeluarkan oleh ITDP melalui TOD Standard 2.1. Penelitian ini akan memberikan hasil kesesuaian konsep pengembangan kawasan TOD dengan standar dan kebijakan yang berlaku. Mengacu kepada Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) dalam pedomannya yang berjudul TOD Standard 2.1, terdapat 8 prinsip TOD dengan 21 metrik kinerja penilaian yang harus diterapkan dalam pengembangan kawasan TOD. Kemudian hasil poin keseluruhan akan dijumlahkan untuk menentukan ranking TOD yang didapatkan, Jika hasil penilaian tidak mencapai poin minimal (55 poin) maka pengembangan tidak dapat dikatakan sebagai pengembangan yang berorientasi transit. Berdasarkan hasil penilaian yang sudah dilakukan terbukti bahwa pengembangan Kawasan TOD di Gateway Park belum dapat memasuki standar terendah kawasan TOD yang dikeluarkan oleh ITDP. Walaupun sebesar 51 poin sudah didapatkan pihak pengembang, namun hal ini masih tidak efektif mengingat pembangunannya yang terlalu eksklusif dan tidak saling terintegrasi dengan Kawasan sekitarnya.
PENERAPAN TIPOLOGI PASAR, ARSITEKTUR DAN PERILAKU GENERASI Z PADA PERANCANGAN PASAR MASA DEPAN DI GONDANGDIA Irwin Irwin; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10788

Abstract

The pandemic caused by the corona virus has changed the lifestyle of humans, both directly and indirectly, especially generation Z in Jakarta. The way humans meet their primary needs also changes over time. Many of generation Z decide to shop online to meet their individual needs. Generation Z defines balance as one of the things that is seen in living life, including meeting their needs and interacting with others. The Future Market in Gondangdia exists as a forum that provides space for buying and selling transactions to be more interactive, creative, flexible, and in accordance with health protocols. Through dis-programming, combining creative buying and selling programs and public space as one unit in a design is one of the methods used in designing architectural programs. The combination of the two programs creates an equal space with alternate uses depending on time. The emerging market typology method and its relation to Z generation architecture and behavior become a design strategy in designing. This provides an innovative and interactive buying and selling space according to the needs of generation Z. Keywords: Buy and sell spaces; Public spaces; Future markets; Generation Z; Buy and sell; Dis-programming AbstrakPandemi yang disebabkan oleh virus korona telah mengubah gaya hidup manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung, khususnya generasi Z di Jakarta. Cara manusia dalam memenuhi kebutuhan primernya pun berubah seiring berjalannya waktu. Banyak dari generasi Z memutuskan untuk berbelanja online untuk memenuhi kebutuhannya masing-masing. Generasi Z mendefinisikan keseimbangan sebagai salah satu hal yang dilihat dalam menjalani kehiduoan termasuk dalam memenuhi kebutuhannya dan berinteraksi dengan sesamanya. Melalui dis-programming memadukan program jual beli kreatif dan ruang publik sebagai satu kesatuan di dalam sebuah desain merupakan salah satu metodw yang digunakan dalam perancangan program arsitektur. Perpaduan kedua program tersebut menciptakan sebuah ruang yang sama dengan penggunaanya bergantian tergantung oleh waktu. Metode tipologi pasar yang berkembang dan kaitannya dengan arsitektur dan perilaku generasi Z menjadi strategi desain dalam merancang. Hal ini memberikan ruang jual beli yang inovatif dan interaktif sesuai dengan kebutuhan generasi Z.
GEDUNG SENI PERTUNJUKAN JAKARTA Eko Muliady
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3978

Abstract

Gedung seni pertunjukan, merupakan wadah bagi para seniman untuk berkarya, baik seni musik, seni peran, maupun seni rupa. Pada umumnya, gedung seni pertunjukan bisa berupa kawasan yang merupakan pusat seni pertunjukan. Semakin banyaknya musisi/seniman yang lahir di Indonesia maupun di dunia, mendorong banyaknya kebutuhan akan fasilitas pertunjukan para musisi tersebut. Di abad ke-21, sudah tercatat hampir 50 pusat seni pertunjuan iconic di dunia yang diakui tidak diragukan lagi kualitasnya. Dari ke-limapuluh gedung tersebut, hanya 5 dari Asia, itu pun di China dan Singpura. Sedangkan di Indonesia, baru beberapa pusat seni pertunjukan. Namun, belum ada yang iconic dan memiliki kualitas akustik yang memadai. Dan dari segi jumlah wisatawan seni pertunjukan Jakarta barat menempati jumlah paling sedikit di antara kawasan lainnnya, ironisnya di Jakarta barat terdapat pusat seni pertunjukan yaitu Kawasan Kota Tua, namun di lihat dari berbagai faktor banyak kekurangan yang kurang mendukung untuk berkembangnya seni di kawasan itu. Atas permasalahan tersebut, maka diperlukan perancangan pusat seni pertunjukan dengan program ruang yang lengkap dari segi tata ruang, aksesibel dari segi pencapaiannya, kualitas akustik yang baik dari segi interior dan dari segi eksterior. Perancangan GEDUNG SENI PERTUNJUKAN JAKARTA ini akan di integrasikan denagn ruang public sekitar, serta bagian eksterior mangambil tema kawasan dan konsep kawasan agar dapat selaras dengan lingkugan sekitar.
STUDI TRANSFORMASI PASAR TRADISIONAL (OBJEK STUDI : PASAR KEBAYORAN LAMA, KELURAHAN KEBAYORAN LAMA UTARA, KECAMATAN KEBAYORAN LAMA, JAKARTA SELATAN) Julian Martin; Parino Rahardjo; Suryadi Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8874

Abstract

Kebayoran Lama Market is a market that build in the year 1987, managed by PD. Pasar Jaya and the rights usage life of Pasar Kebayoran Lama will be exhausted in March 2022. During 32 years old Kebayoran Market building stood, Pasar Kebayoran Lama has not been repaired thoroughly. The characteristic around Pasar Kebayoran Lama is dominated by residential and commercial area and adjacent to mass transportation mode. The activities that occur in the market and surrounding areas occur 24 hours a day and the activity of the activities to be three different locations in the building, around the site, and around the location and in the activities that occur there are 3 managers namely PD. Pasar Jaya, RW 01, and informal. For the physical condition of the market building has decreased in terms of function and aesthetics and caused Pasar Kebayoran Lama to lose its existence. In improving the image of traditional market then PD. Pasar Jaya responded by planning the market development associated with other functions to suit the development of the city at this time. The purpose of this research is to identify the basic principles of the re-planning (Redesign) Pasar Kebayoran Lama by observing the potential around the market, existing condition, and changes in the pattern of buying and selling in Kebayoran Lama market. In this study, use a qualitative approach to describe existing conditions and see the changes that occurred in Pasar Kebayoran Lama. The results of the research found that there were changes in the pattern of sellers and buyers who transact wholesale, and the market visitors are mostly domiciled from around the market that buys the needs of groceries. Keywords:  activity; development; revitalization; traditional market; transformation AbstrakPasar Kebayoran Lama merupakan pasar yang berdiri pada tahun 1987, dikelola oleh PD. Pasar Jaya dan Masa hak pakai Pasar Kebayoran Lama akan habis pada Maret 2022. Selama 32 tahun bangunan Pasar Kebayoran Lama berdiri, Pasar Kebayoran Lama belum pernah diperbaiki secara menyeluruh. Karakteristik di sekitar Pasar Kebayoran Lama didominasi oleh area hunian dan komersial serta berdekatan dengan moda transportasi massal. Aktivitas yang terjadi pada pasar dan sekitarnya terjadi 24 jam dalam sehari dan aktivitas kegiatan tebagi menjadi tiga lokasi berbeda yaitu dalam bangunan, sekitar tapak, dan sekitar lokasi serta pada kegiatan yang terjadi terdapat 3 pengelola yaitu PD. Pasar Jaya, RW 01, dan informal. Untuk kondisi fisik bangunan pasar sudah mengalami penurunan dari segi fungsi maupun estetika dan menyebabkan Pasar Kebayoran Lama semakin kehilangan eksistensinya. Dalam memperbaiki citra pasar tradisional maka PD. Pasar Jaya menanggapinya dengan merencanakan pengembangan Pasar yang dikaitkan dengan fungsi lain agar sesuai dengan perkembangan kota pada saat ini. Tujuan dari penelitian ini adalah Teridentifikasi Prinsip Prinsip dasar perencanaan kembali ( Redesign) Pasar Kebayoran Lama dengan memperhatikan potensi sekitar Pasar, kondisi eksisting, dan perubahan pola jual beli di Pasar Kebayoran Lama. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif untuk menggambarkan kondisi eksisting dan melihat perubahan yang terjadi pada Pasar Kebayoran Lama. Hasil penelitian ditemukan bahwa terdapat perubahan pola penjual dan pembeli yang bertransaksi secara grosir, dan pengunjung pasar sebagian besar berdomisili dari sekitar pasar yang membeli kebutuhan bahan pangan.
RUANG SENI DAN KULINER JALANAN DI SENEN Andrean Hermanto; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6759

Abstract

As Urbanization blooms, related problems, especially those that affect community relations, become a 'hot topic' in developing projects based on 'Third Place'. The erosion of the community and its community often with the development of urbanization identified as Social Segregation becomes an interesting problem to be discussed by sociologists. The focus of the issue raised in this project is "How to create a Third Place in Senen area." The location of the project is in the Senen, precisely on Jl. Stasiun Senen, Jakarta Pusat which is one of the popular shopping centers in Jakarta. The site was located between commercial centers, housing, and transportation facilities with high pedestrian mobility. The purpose of this project is to create a "Third Place" which is a link between homes and offices where residents of Senen can come and spend their free time, and provide the facilities needed by the city, especially around the project site as a link between public transportation modes (Senen terminal and Senen station) with regional facilities and restore the image of the senen area which is an area that is thick with arts and food. The research methodology carried out in this project began by finding the facilities / programs needed by the community around the site, which also aims to resolve problems in the area. then proceed with identifying, and bringing back / restoring the characteristics that lost in this area (in this case, art), then proceed with the process of designing a facility that will produce the area and organization of space in this project. Abstrak Seiring berkembangnya Urbanisasi, masalah yang terkait, khususnya yang berdampak pada hubungan masyarakat, menjadi  'topik  hangat' dalam pengembangan proyek berbasis “Third Place”. Tergerusnya komunitas dan wadahnya sering dengan perkembangan urbanisasi yang diidentifikasi sebagai Segregasi Sosial menjadi sebuah  masalah yang menarik untuk dibahas oleh para sosiolog. Fokus isu yang diangkat dalam proyek ini adalah “Bagaimana menciptakan “Third Place” di kawasan Senen’. Lokasi proyek berada di Kawasan Senen tepatnya di Jl. Stasiun Senen, Jakarta Pusat yang merupakan salah satu pusat perbelanjaan di jakarta. Lokasi tapak berada di antara pusat komersil, perumahan, dan sarana transportasi dengan mobilitas pedestrian yang tinggi. Tujuan dari proyek ini adalah menciptakan sebuah “Third Place” yang menjadi penghubung diantara rumah dan kantor dimana warga Senen dapat datang dan menghabiskan waktu luang mereka, serta memberikan fasilitas yang dibutuhkan oleh kota, terutama disekitar tapak proyek sebagai penghubung antara moda transportasi publik (terminal dan stasiun) dengan fasilitas kawasan serta mengembalikan citra kawasan senen yang merupakan daerah yang kental dengan kesenian dan makanan. Metode penelitian yang dilakukan dalam proyek ini dimulai dengan menemukan fasilitas / program yang dibutuhkan oleh masyarakat sekitar tapak,yang juga bertujuan untuk menyelesaikan masalah dari kawasan tersebut. kemudian dilanjutkan dengan mengidentifikasi, danmemunculkan kembali / merestorasi ciri khas kawasan yang hilang (dalam kasus ini adalah kesenian), lalu dilanjutkan dengan proses mendesain fasilitas yang akan menghasilkan besaran dan organisasi ruang dalam proyek ini.
KAJIAN PUSAT SPIRITUAL DALAM KONTEKS JAWA Karen Claudia; Rudy Trisno
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4549

Abstract

Spiritual adherents now long for a community. In response to that, a design for a spiritual center is proposed to accommodate the spiritual needs of a spiritual community in Jakarta. Designing a spiritual center requires an element of the transcendent to be infused into the building. Modern composition and technology is used as a language to translate the typology appropriate to the context into an actual building. An insight on traditional Javanese architecture shows that harmony between mass and void, nature and man, light and shadow, and space and time is needed to synthesize spirituality in architecture. Therefore, the conclusion and finding is that unity between dualities  is important in designing spiritual architecture. AbstrakPenganut spiritualitas memerlukan sebuah komunitas, oleh sebab itu, diajukan perancangan pusat spiritual untuk mewadahi kebutuhan spiritual bagi komunitas spiritual di Jakarta. Dalam perancangan pusat spiritualitas diperlukan elemen transenden dalam bangunan, maka digali tipologi sesuai konteks yang diterjemahkan ke dalam bangunan melalui komposisi dan teknik modern. Metode penilitian yang diperlukan untuk menimbulkan suasana spiritual adalah keseimbangan antara mass dan void, alam dan manusia, cahaya dan bayangan, serta ruang dan waktu. Sehingga dapat disimpulkan dan ditemukan bahwa kesatuan dalam dualitas adalah prinsip penting dalam proses perancangan arsitektur spiritual. 
RUANG EDUKASI DAN INTERAKSI MUARA ANGKE Nathaniel Edbert; Dewi Ratnaningrum
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8595

Abstract

Muara Angke is one of the poorest areas in Jakarta. One of the reasons is the lack of education owned by the surrounding population so that many families do not have a good life. In addition, as one of the areas located on the seafront, the Muara Angke area is one area that is busy with warehousing activities that trade in marine products so that part of the existing land is used as a place to work and trade. This causes problems in this area, such as the reduction of green land and public space for the surrounding population. The observations, data, and aspirations of community needs that have been collected will form a building that will answer the problem with a project design that will apply the third place concept introduced by Ray Oldenburg, then will use the architectural approach of regionalism in building designs and materials in buildings this. The project will be a space for interaction of local residents who have the main function as a container for the activities of surrounding residents and side functions that support the potential of culinary tourism to serve outside visitors with the concept of buildings that resemble oases in this dense area. In addition to being a place of entertainment, this building will also be a place of education for local people who teach them to be able to have a good education to help their lives. Keywords:  education; fisherman; interaction space; muara angke AbstrakMuara Angke merupakan salah satu kawasan miskin yang ada di Jakarta. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya pendidikan yang dimiliki oleh penduduk sekitar sehingga banyak keluarga yang tidak memiliki kehidupan yang baik. Selain itu, sebagai salah satu kawasan yang berada di pinggir laut, kawasan Muara Angke merupakan salah satu daerah yang sibuk dengan aktivitas pergudangannya yang memperdagangkan hasil laut sehingga sebagian tanah yang ada digunakan sebagai tempat bekerja dan tempat berdagang. Hal ini menimbulkan masalah pada kawasan ini, seperti berkurangnya lahan hijau dan ruang publik untuk penduduk sekitar. Hasil pengamatan, data-data, dan aspirasi kebutuhan masyarakat yang sudah dikumpulkan akan membentuk bangunan yang akan menjawab masalah tersebut dengan rancangan proyek yang akan menerapkan konsep tempat ketiga yang diperkenalkan oleh Ray Oldenburg, kemudian akan menggunakan pendekatan arsitektur regionalisme dalam membangun desain dan material pada bangunan ini. Proyek akan menjadi ruang interaksi warga sekitar yang memiliki fungsi utama sebagai wadah kegiatan penduduk sekitar dan fungsi sampingan yang mendukung potensi wisata kuliner untuk melayani pengunjung luar dengan  konsep bangunan yang menyerupai oase pada kawasan yang padat ini. Selain menjadi tempat hiburan, bangunan ini juga akan menjadi wadah edukasi bagi masyarakat lokal yang mengajarkan mereka agar dapat memiliki pendidikan yang baik untuk membantu kehidupan mereka.
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA BOROBUDUR HIGHLAND DENGAN KONSEP NOMADIC TOURISM (OBJEK STUDI: ZONA OTORITA KAWASAN PARIWISATA BOROBUDUR, KABUPATEN PURWOREJO, JAWA TENGAH) Gabriela Bunga Permata Sari; Parino Rahardjo; Sylvie Wirawati
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4595

Abstract

The government issued 10 Priority Tourism Destinations consisting of 7 KSPN (National Tourism Strategic Areas) and 3 KEK (Special Economic Zones), one of which was Borobudur. The Borobudur Highland Tourism Area was developed with the concept of Nomadic Tourism determined by the Ministry of Tourism. However, there is no planning and development for this tourist area. With qualitative and quantitative methods, 8 analyzes were carried out, namely analysis of carrying capacity of the environment, location analysis, site analysis, analysis of nomadic tourism components, analysis of best practices, market analysis, plan analysis, development and investment analysis. The purpose and objective of this study is to develop a plan for the development and potential of products that will be developed in the Borobudur Highland Tourism Area with the concept of nomadic tourism. The results to be issued are development plans in the form of a master plan. AbstrakPemerintah mengeluarkan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas yang terdiri dari 7 KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional) dan 3 KEK (Kawasan Ekonomi Khusus), salah satunya adalah Borobudur. Kawasan Wisata Borobudur Highland dikembangkan dengan konsep Nomadic Tourism yang ditentukan oleh Kementrian Pariwisata. Namun, belum ada perencaaan dan pengembangan untuk kawasan wisata ini. Dengan metode kualitatif dan kuantitatif dilakukan 8 analisis yaitu analisis daya dukung lingkungan, analisis lokasi, analisis tapak, analisis komponen nomadic tourism, analisis best practices, analisis pasar, analisis rencana pengembangan dan analisis investasi. Tujuan dari penelitian ini adalah menyusun rencana pengembangan dan potensi produk yang dikembangkan di Kawasan Wisata Borobudur Highland dengan konsep nomadic tourism. Hasilnya yaitu rencana pengembangan dalam bentuk masterplan.
RUANG KOMUNITAS SENIOR: HORIZON Monique Priscilla; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10901

Abstract

Globally, elderly population keeps increasing in numbers. Since 2015, Asian countries including Indonesia began entering ageing population. Humankind predicted to live longer. Nonetheless, they are mortal. Humankind is called Dasein (being in the world). The world is a concept, relationship between ourselves and objects or other human beings. Basically Dasein is actively involved with everyday objects. The essence of Dasein is it's active interpreting (constantly something to be settled) seeing as Dasein cannot be considered a finished whole, Dasein always looking for identity. Dasein’s being as a whole can only be disclosed by Dasein being dead, for they no longer exist in the world. According to 2005 Stanford research, the majority of elderly prefer contributing to society, and 30% proven to do so. The latest stage of man emotional development experienced by elderly, individually older than the age 60. Interacting with the younger generation would result in greater contentment and benefits each other. By providing a space to encounter other people with different ages, hopefully there will be exchange of experience, a legacy of life. Through the Horizon Senior Society, millennial generations can explore a dwelling story from the past to the present and the future.  Keywords:  Elderly; Death; Interaction; Dwelling. Abstrak Secara global, populasi lansia diprediksi terus mengalami peningkatan. Sejak tahun 2015 Benua Asia dan Indonesia memasuki era penduduk menua. Diprediksi manusia akan hidup lebih lama lagi. Manusia disebut sebagai Dasein (Ada-di-sana), yakni Ada-dalam-dunia (being-in-the-world). Dunia merupakan konsep dimensi hubungan antar diri sendiri dengan benda atau manusia lain. Dasein pada dasarnya terlibat secara aktif dengan objek keseharian. Esensi Dasein adalah suatu 'kebeluman terus menerus' karena ia tidak pernah mencapai keseluruhannya, selalu mewujudkan dan mencari jati diri. Manusia mencapai totalitasnya dalam kematian, karena manusia/dasein berhenti sebagai berada-di-dalam-dunia. Menurut riset Stanford tahun 2005, mayoritas lansia memilih untuk berkontribusi terhadap masyarakat, dan terbukti 30% sudah menjalaninya. Tahap akhir pengembangan emosi manusia dirasakan pada lansia umur 60 tahun ke atas. Berinteraksi dengan generasi muda akan memberi dampak rasa kepuasan yang lebih besar dan saling menguntungkan. Dengan memberikan wadah sebagai titik temu antar generasi, diharapkan terjadi sebuah transfer pengalaman akan legacy kehidupan. Melalui Horizon Senior Society, generasi milenial dapat menggali sebuah cerita dwelling masa lalu, ke masa kini dan masa depan.

Page 22 of 134 | Total Record : 1332