cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
RE-DESAIN AREA SENI PERTUNJUKAN GELANGGANG REMAJA BULUNGAN Joerynda Putri Wijayakusuma; Stephanus Huwae
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.4017

Abstract

Gelanggang Remaja Jakarta Selatan (GRJS) merupakan wadah eksplorasi dan aktivitas bagi para remaja di bidang seni, budaya dan olahraga yang memiliki potensi untuk dijadikan tempat wisata sebagai bentuk dukungan untuk memperkenalkan warisan budaya yang kaya serta mencerminkan sejarah dan keberagaman etnis indonesia. Namun, dikarenakan fasilitas yang sudah tidak lagi mampu mewadahi minat dan bakat serta tidak memenuhi standard menjadikan GRJS tidak dapat berkembang menjadi destinasi wisata yang berfokus pada seni pertunjukan yang telah dilupakan dari tahun ke tahun. Maka itu dengan dilakukannya re-desain diharapkan dapat mengembalikan kehadiran seni serta mengembangkan kawasan Bulungan. 
RENCANA PENATAAN KAWASAN TRANSIT WATERWAY (TRANSPORTASI AIR) SUNGAI CISADANE KOTA TANGERANG Muhamad Ichsan Zafiri; Suryono Herlambang; Parino Rahardjo
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8885

Abstract

Tangerang City plans to develop water transportation in the context of providing transportation modes other than land transportation, the transportation development plan is the development of water transportation by utilizing the cisadane river as its route, one of the docks planned namely the dock of the great al-ijtihad mosque located in the center of Tangerang City and close to the Tangerang KRL Station, so there is potential for the proximity of the two modes of transportation. The purpose of this research is to determine the feasibility and carrying capacity of the cisadane river to be utilized in the development of water transportation and to determine the need for infrastructure and facilities needed to integrate the water transportation wharf plan of the grand mosque of Al- ijtihad cisadane river with Tangerang KRL station.. This type of research is qualitative and quantitative research using descriptive analysis methods in the overall analysis of the analysis. Then from all the analyzes that have been carried out, it is obtained the direction of the structuring plan which broadly includes the provision of open space, widening pedestrian, recommendations for moving out / entering the Tangerang KRL station and the results are in the form of a regional site plan which is planned to contain elements of the provision of facilities, infrastructure and facilities in the vicinity of the water transportation transit area and arrangement in accordance with the direction of intermodal area integration. Keywords: intermoda integration; railway station; transit area planning; water transportation AbstrakKota Tangerang berencana melakukan pengembangan transportasi air dalam rangka menyediakan pilihan moda transportasi selain transportasi darat, rencana pengembangan transportasi tersebut adalah pengembangan transportasi air dengan memanfaatkan sungai cisadane sebagai jalurnya, salah satu rencana titik dermaga yakni dermaga masjid agung al-ijtihad berada di pusat Kota Tangerang dan berada dekat dengan Stasiun KRL Tangerang, sehingga adanya potensi dari dekatnya letak kedua moda transportasi tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelayakan dan daya dukung sungai cisadane untuk dimanfaatkan dalam pengembangan transportasi air dan mengetahui kebutuhan sarana, prasarana dan fasilitas yang dibutuhkan untuk mengintegrasikan rencana dermaga transportasi air masjid agung al-ijtihad sungai cisadane dengan stasiun KRL Tangerang. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan metode analisis deskriptif dalam pembahasan keseluruhan analisisnya. Kemudian dari seluruh analisis yang telah dilakukan, didapatkanlah arahan rencana penataan yang secara garis besar meliputi penyediaan ruang terbuka, pelebaran pedestrian, rekomendasi pemindahan akses keluar/masuk stasiun KRL Tangerang yang kemudian hasilnya berupa usulan rencana siteplan kawasan yang didalam rencananya terdapat unsur penyediaan kebutuhan sarana, prasarana dan fasilitas pada sekitar kawasan transit transportasi air dan penataan yang sesuai dengan arahan integrasi kawasan antarmoda.
RUANG PERTUKARAN IDE DI BANDUNG WETAN Muhammad Ricky Siswanto; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6848

Abstract

Bandung Wetan is known to have many distros and clothing stores which indirectly give birth to many designers or clothes makers, with many designers or clothes makers who need a place where they can look for ideas and exchange ideas, therefore many cafes or restaurants are built. can search for ideas or exchange ideas. Although there are a variety of cafes and restaurants available in the Bandung area, most of the cafes and restaurants require expenses by visitors, which makes it inaccessible to all members of the community or visitors from outside the city itself, in connection with this need a place where clothing makers, designers and communities can gather or exchange ideas no matter their age and economy, they can gather and talk without social gaps. This third place will help the development of the needs of the city community and also the city's economy in the next few years, by increasing the creativity generated by the many places where they can look for inspiration and ideas. The people of the Bandung Wetan area, especially the Cihapit Village will increase the quality of work, study, and products produced by the community. Third place or third place is one of the answers to the approach of urban development itself in an effort to increase the value of an area caused by changes in functions and changes in the pattern of urban space itself. AbstrakBandung wetan dikenal memiliki banyak distro dan toko baju yang secara tidak langsung melahirkan banyak desainer ataupun pembuat baju, dengan banyaknya desainer atau pembuat baju yang membutuhkan tempat dimana mereka dapat mencari ide-ide dan bertukar pikiran, oleh karena itu terbangun banyak kafe ataupun restoran dimana mereka dapat mencari ide ataupun bertukar pikiran. Walaupun terdapat berbagai macam kafe dan restoran yang tersedia di wilayah bandung,  sebagian banyak dari kafe dan restoran itu memerlukan pengeluaran biaya oleh pengunjung, yang menjadikannya tidak dapat di akses oleh semua kalangan masyarakat ataupun pengunjung dari luar kota itu sendiri, sehubungan dengan hal itu diperlukannya tempat dimana pembuat baju, desainer dan mesyarakat dapat berkumpul ataupun bertukar pikiran tidak peduli umur dan ekonomi mereka, mereka dapat berkumpul dan berbincang tanpa adanya kesenjangan sosial. Third place ini akan membantu pembangunan kebutuhan masyarakat kota dan juga ekonomi kota dalam beberapa tahun kedepan, dengan menaikan ke-kreatifitas yang di hasilkan karena banyaknya tempat dimana meraka dapat mencari inspirasi dan ide-ide. Masyarakat wilayah Bandung Wetan, khususnya Kelurahan Cihapit akan menaikan kualitas kerja, belajar, maupun produk-produk yang dihasilkan oleh masyarakat. Third place atau tempat ketiga adalah salah satu jawaban pendekatan penembangan perkotaan itu sendiri dalam upaya meningkatkan nilai suatu kawasan  yang di akibatkan oleh perubahan fungsi dan perubahan pola ruang kota itu sendiri.
KAJIAN MENGENAI KAMPUNG BATIK SEBAGAI PEREMAJAAN KEMBALI KAMPUNG DI KAWASAN KARET KUNINGAN Steven Wijaya; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4540

Abstract

Millennials have become an important topic in various discussions at the beginning of the 21st century with a population that is currently in productive age and has a greater global number. However, the beginning of the millennial generation in Indonesia began with the 1998 crisis, where this will affect the decline in the level of education of the early millennial generation in Indonesia. Education and a low economy make the competitiveness of human resources in some regions, in this case it will increase in the lives of villages in the city of Jakarta, where the difference in life is very contrasting between those who get higher education and those who get low education (in rural areas). So the question is how can the generation of melenial living in the city of Jakarta compete and how to rejuvenate urban settlements, especially Jakarta, so that the millennial generation in the village can compete and adapt in the next generation? Every village must have its own characteristics and high historical value. As the development and recovery of the times, the characteristics and historical values of the village are often forgotten by the people, so the village no longer has an identity that they can be proud of. So the program was needed to restore the distinctive characteristics of a village by inviting residents from the village to be involved in it, so that the uniqueness and precision that could be of benefit both in terms of economy, development, and human resources in the village. In this way the position of the village in the middle of the city can remain by providing positive for the residents in the house with outsiders around it. By raising the characteristic of the village, the millennial in the village can compete and still be able to maintain its existence.Abstrak Generasi milenial menjadi topik penting dalam berbagai diskusi di awal abad 21, kerana jumlah populasinya yang tengah berada di usia produktif dan memiliki jumlah terbesar secara global. Namun, awal generasi milenial di Indonesia dimulai dengan krisis moneter tahun 1998, dimana hal ini akan berpengaruh terhadap menurunnya tingkat pendidikan generasi milenial awal di Indonesia. Pendidikan dan perekonomian yang rendah membuat daya saing sumber daya manusia di beberapa daerah juga menurun, dalam kasus ini akan difokuskan pada kehidupan perkampungan di Kota Jakarta, dimana perbedaan kehidupan sangat-lah kontras antara yang memperoleh pendidikan tinggi dengan yang memperoleh pendidikan rendah (daerah perkampungan). Sehingga yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara generasi melenial yang hidup di perkampungan kota Jakarta dapat bersaing dan bagaimana meremajakan kembali perkampungan di perkotaan khususnya Jakarta, agar generasi milenial di perkampungan tersebut dapat bersaing dan beradaptasi dalam generasi selanjutanya? Setiap perkampungan pastinya memiliki ciri khas dan nilai sejarah yang tinggi. Seiring dangan perkembangan dan tuntutan zaman, ciri khas dan nilai sejarah dari kampung itu sering dilupakan oleh warganya, sehingga suatu kampung tidak lagi memiliki identitas yang dapat mereka banggakan.  Maka diperlukalah program untuk memulihkan kembali ciri khas dari suatu kampung dengan mengajak warga dari kampung tersebut untuk turut terlibat di dalamannya, sehingga keunikan dan cirikhas itu bisa menjadi manfaat baik dalam segi ekonomi, kebudayaan, dan sumber daya manusia di kampung tersebut. Dengan cara inilah kedudukan kampung ditengah kota dapat tetap bertahan dengan memberikan dampak positif bagi penghuni yang ada didalam kampung tersebut maupun dengan orang-orang luar yang ada di sekitarnya. Sehingga dengan menonjolkan sebuah cirikhas, generasi milenial yang tinggal di kampung tersebut dapat bersaing dan tetap dapat mempertahankan eksistensinya.
EKSPLORASI PENDEKATAN DESAIN UNTUK RUMAH PANGGUNG VERNAKULAR DALAM PENCIPTAAN TEMPAT KETIGA DALAM RUMAH BIRU NELAYAN MUARA ANGKE Archie Trison; Priscilla Epifania
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8556

Abstract

Muara Angke Fishermen’s Blue House is a project located in Muara Angke, Pluit, North Jakarta. The project is created by the lack of facilities for the people of Muara Angke to rest and do activities together. Therefore, this project was born with a vision to form a third place. The design method  used are ‘vernacular design’ and ‘everyday behaviour’. Muara Angke itself has a very unique genius loci compared to other areas in Jakarta so that the vernacular design approach based on local people’s behaviour is considered the most suitable as the basic design method. This is done to elevate characteristic of Muara Angke in the form of fishing village. The choice of program is based on the behaviour of the Muara Angke’s community, one of which is to provide a resting place for fishermen because many fishermen are still do activities on their ships due to the lack of available facilities. Tidal conditions that occur in Muara Angke are the basis for the use of stilt house system. Stilt houses are one of the typologies that identic with the term of fishing village because they are good in dealing with submerged conditions. Stilt houses are designed with several aspects in the form of: using elements of local materials like bamboo, the use of woven bamboo walls, saddle-shaped roof with bamboo sheath as the material, simple square plans, then the mass of the stilt houses is designed with levelling that connected each other by pedestrian. The design creates a modern and simple impression but still retains an element of locality in the fishing village. Keywords: everyday fishermen’s behaviour; fishermen’s stilt house; muara angke’s fishermen; vernacular design AbstrakRumah Biru Nelayan Muara Angke adalah proyek yang berada di Kawasan Muara Angke, Kelurahan Pluit, Jakarta Utara. Proyek ini dilatarbelakangi kurangnya sarana masyarakat Muara Angke untuk beristirahat dan beraktivitas bersama. Maka dari itu, lahirlah proyek ini dengan tujuan membentuk suatu wadah tempat ketiga. Metode desain adalah metode desain vernakular dan metode perilaku keseharian. Kawasan Muara Angke sendiri memiliki genius loci yang sangat khas dibanding kawasan-kawasan lain di Jakarta sehingga pendekatan desain vernakular yang berbasis perilaku masyarakat lokal dinilai paling tepat sebagai metode dasar perancangan. Hal ini dilakukan untuk mengangkat karakter khas dari Kawasan Muara Angke yang berupa kampung nelayan. Pembentukan program berbasis perilaku masyarakat Muara Angke, salah satunya adalah menyediakan tempat istirahat bagi nelayan karena banyak nelayan yang masih beraktivitas di kapalnya karena kurangnya fasilitas yang tersedia. Kondisi pasang surut air laut yang terjadi di Kawasan Muara Angke menjadi dasar lahirnya desain menggunakan sistem rumah panggung. Rumah panggung merupakan salah satu tipologi bangunan yang identik dengan kampung nelayan karena baik dalam menghadapi kondisi jika terendam air. Rumah panggung didesain dengan beberapa aspek, yaitu menggunakan unsur material lokal bambu, penggunaan dinding anyaman bambu, atap berbentuk pelana dengan bahan bambu selubung, denah sederhana berbentuk persegi, dan massa rumah panggung dengan permainan lantai yang saling terkoneksi oleh pedestrian. Keseluruhan desain menciptakan kesan moderen, sederhana tetapi tetap mempertahankan unsur lokalitas kampung nelayan.
RENCANA PENGEMBANGAN THEME PARK DI JAKARTA INTERNATIONAL EQUESTRIAN PARK DALAM RANGKA OPTIMALISASI LAHAN PASCA ASIAN GAMES Muhammad Naufal; Priyendiswara A.B. Priyendiswara; Liong Ju Tjung
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4601

Abstract

Jakarta International Equestrian Park or JIEP (Indonesian: Horse racing Pulomas) is a sports venue located in Pulomas, Jakarta, Indonesia. JIEP is owned by PT Jakarta Propertindo (JAKPRO) and is managed by PT Pulomas Jaya. Built in the 1970 's. On August 2016, the horse race was renovated for the 2018 Asian Games. After renovations, the arena was inaugurated on August 2, 2018. The Arena will be used as the venue for the 2018 Asian Games with a land area of 35 hectares. This final task rises from the problem of the study object, which is the inoptimisation of land use in the area and has not been using by general public. So the initiation was created to conduct a study of the development plan which needed on the area that owns the 22 hectares of landbanks. The purpose and objectives of this study is to create a development plan use by doing feasibility studies, so JIEP can be utilized and optimized. The analysis used is location and site analysis, best practice, market, space requirement, and last is investment analysis. The Output of this analysis is a plan of development in the form of masterplan and cashflow.AbstrakJakarta International Equestrian Park atau JIEP (Indonesian : Pacuan Kuda Pulomas) adalah tempat olahraga berkuda yang terletak di Pulomas, Jakarta, Indonesia. JIEP dimiliki oleh PT Jakarta Propertindo (JAKPRO) dan dikelola oleh PT Pulomas Jaya. Dibangun pada tahun 1970-an. Kemudian pada bulan Agustus 2016, pacuan kuda ini direnovasi untuk digunakan nantinya pada Asian Games 2018. Setelah renovasi, arena diresmikan pada 2 Agustus 2018. Arena ini akan digunakan sebagai tempat untuk Asian Games 2018 dengan luas lahan seluas 35 hektar. Tugas akhir ini bermula dari permasalahan pada objek studi yaitu ketidak optimalan penggunaan lahan pada kawasan tersebut dan belum dimanfaakan oleh masyarakat umum. Sehingga tercipta inisiasi untuk melakukan studi terhadap rencana pengembangan yang dibutuhkan pada kawasan yang memiliki landbank seluas 22 hektar tersebut. Maksud dan tujuan studi ini adalah membuat rencana pengembangan sehingga kawasan dapat dimanfaatkan dan dioptimalkan penggunaannya dengan melakukan studi kelayakan. Studi kelayakan tersebut terdiri dari beberapa analisis, yaitu analisis lokasi dan tapak, best practice, pasar, kebutuhan ruang, dan terakhir adalah analisis investasi. Output dari analisis ini kemudian adalah rencana pengembangan dalam bentuk masterplan dan cashflow.
MAL KREATIF TANAH ABANG: PERANCANGAN, PENCIPTAAN, DAN PEMASARAN DALAM SATU BANGUNAN William Jaya Saputra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4569

Abstract

The world is developing rapidly influencing the culture of society. In this decade, the driving force of civilization was dominated by millennials who were known for their freedom, convenience, innovation and digitalization. Apart from the common old professions, millennials have the freedom to do professions that are in accordance with their passion. Fashion and craft are the most interested one by millennials. Many of them are fresh entrepreneurs that use their hobbies and passions such as becoming influencers and designing, and selling it by themselves or in groups following the trends of outfit of the day and so on through the digital world. The purpose is to bring pride when the results of ideas, works, and innovations that are owned and recognized by others. The desire of millennial entrepreneurs is the convenience and comfort of work, such as designing, creating, and marketing their work in one integrated place. Therefore, a forum for millennials & others is needed to express innovative ideas, produce works, and at the same time be able to showcase and sell their works. AbstrakDunia berkembang pesat memengaruhi kultur budaya masyarakat. Di dekade ini, motor penggerak peradaban didominasi oleh kaum milenial yang terkenal akan kebebasan, kemudahan, inovasi, dan digitalisasinya. Terlepas dari profesi-profesi lawas yang umum, milenial memiliki kebebasan untuk menjalankan profesi yang sesuai dengan passion mereka. Fesyen dan kriya merupakan salah dua bidang yang paling diminati kaum milenial. Banyak dari mereka yang berwirausaha dini dengan memanfaatkan hobi dan passion mereka seperti menjadi influencer dan mendesain dan menjualnya sendiri atau berkelompok mengikuti tren outfit of the day dan sebagainya melalui dunia digital. Tujuannya adalah untuk memunculkan rasa bangga ketika hasil ide, karya, dan inovasi yang dimiliki diakui dan dinikmati orang lain. Keinginan wirausahawan milenial adalah kemudahan dan kenyamanan dalam bekerja, seperti merancang, menciptakan, dan memasarkan hasil karya mereka dalam satu tempat terpadu. Oleh karena itu, dibutuhkan wadah bagi kaum milenial & lainnya untuk menuangkan ide-ide inovatif, menghasilkan karya, dan sekaligus dapat memamerkan dan menjual karya mereka.
PENERAPAN METODE TRANSPROGAMMING DALAM PENCIPTAAN RUANG INTERAKSI ANTAR ETNIS YANG FLEKSIBEL DI PASAR BARU Reynold Andika Taruna; Tatang Hendra Pangestu
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8555

Abstract

Pasar Baru Woven Society is a Third Place located on Jl. Pintu Air Raya, Pasar Baru, Central Jakarta. The project began with a vision to present a third place in Pasar Baru which became a crossing space between cultures and traditions in Pasar Baru. As is known in Pasar Baru village, it has a diversity of cultures consisting of several ethnic groups, including ethnic Chinese, ethnic Betawi, European ethnic, and Indian ethnic. Each of these ethnic groups has different needs and activities. Pasar Baru district has three main roads that dominate in the shopping area, each road has its own character, including; Pintu Air road is dominated by Indian architecture, Pasar Baru road is dominated by Chinese-style architecture, and Veteran road is dominated by European architecture. These roads seem separate because of their diversity, the Pasar Baru district should be a single entity that encompasses these differences. Therefore this project goals to cross various kinds of inter-ethnic programs that will generate a new typology of space that is more general and flexible so that it can be enjoyed together. To reach the goals, the design approach uses Bernard Tschumi's Trans Programming method. With this method, existing programs and programs that have similarities between ethnic groups will be crossed into a more general program to be together. So that there is no single program that is specific to one Ethnicity. Keywords:  ethnic diversity; Pasar Baru society; third place; trans programming  Abstrak Tenunan Masyarakat Pasar Baru merupakan sebuah Third Place yang terletak di Jl. Pintu Air Raya, Kelurahan Pasar Baru, Jakarta Pusat.  Proyek ini dimulai dari visi dan tujuan untuk menghadirkan tempat ketiga di kelurahan Pasar Baru yang menjadi ruang persilangan antar kebudayaan dan tradisi yang ada di Pasar Baru. Seperti yang diketahui di kelurahan Pasar Baru memiliki keberagaman kebudayaan yang terdiri dari beberapa Etnis, diantaranya etnis Tionghua, etnis Betawi, etnis eropa, dan etnis India.  Setiap etnis tersebut memiliki kebutuhan dan aktivitas yang berbeda – beda. Kelurahan Pasar Baru memiliki tiga buah jalan utama yang mendominasi di kawasan perbelanjaan tersebut, masing – masing jalan memiliki karakternya tersendiri, diantaranya; Jalan Pintu Air yang di dominasi oleh arsitektur India, Jalan Pasar Baru yang di dominasi oleh arsitektur bergaya Tionghua, dan Jalan Veteran yang di dominasi oleh arsitektur Eropa.  Jalan – jalan tersebut terkesan terpisah karena keberagamannya, seharusnya kelurahan Pasar Baru merup akan sebuah satu kesatuan yang melingkupi perbedaan tersebut. Maka dari itu project ini bertujuan untuk menyilangkan berbagai macam program antar Etnis yang akan menghasilkan sebuah tipologi ruang baru yang bersifat lebih general dan fleksibel agar dapat dinikmati bersama. Untuk mencapai hal tersebut maka pendekatan desain menggunakan metode Trans Programming Bernard Tschumi.  Dengan metode ini maka program yang ada dan program yang memiliki kesamaan antar etnis akan di silangkan menjadi suatu program yang lebih general untuk bersama. Sehingga tidak ada satupun program yang spesifik terhadap satu Etnis.
SOEDOET TEMU TJIPINANG Verena Lanina Ariestyani
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10797

Abstract

The Covid-19 pandemic has a major impact on the entire population, especially in Indonesia. These changes gave birth to big jumps in terms of economy, health and social. This is due to new lifestyles such as physical distancing and work from home. The new normal condition creates a lot of spaces, both outdoor and indoor, which are temporarily closed until an indefinite time. The order to fulfill the community's creativity forum through the implementation of health protocols which is increasingly tightened to limit the movement of activities of the community, with the aim of reducing the level of spread of the virus. People who are born as social beings feel restlessness, anxiety, stress and so on. One of these problems occurs in the Cipinang area where due to limited space for the surrounding community, it requires a forum that is able to collaborate in a pandemic and meet the needs of its users. This space that prioritizes health, both physically, mentally and physically, is complemented by several main daily functions at this time, namely studying and working. The application of new methods in building and working, namely the co-working area in the form of a cubicle. In addition, there are other supporting activities such as entertainment on the screen step on the temporary space. Clinic exists as a fulfillment in balancing the dense activities of today's society ranging from the elderly to children. Keywords:  Cipinang; Covid-19; Communal AbstrakPandemi covid-19 memberikan dampak besar bagi seluruh penduduk khususnya di Indonesia. Perubahan tersebut melahirkan lonjakan besar baik dari segi ekonomi, kesehatan maupun sosial. Hal tersebut dikarenakan adanya gaya hidup baru seperti physical distancing dan work from home. Kondisi new normal, menciptakan banyak ruang-ruang baik outdoor maupun indoor ditutup sementara hingga waktu yang masih belum bisa ditentukan. Tatanan pemenuhan wadah kreativitas masyarakat melalui penerapan protokol kesehatan yang kian diperketat membuat terbatasnya gerak aktivitas dari masyarakat, dengan maksud dalam mengurangi tingkat penyebaran virus. Masyarakat yang sejak lahir memiliki sifat sebagai makhluk sosial merasakan kegelisahan, cemas, stress dan sebagainya. Permasalahan ini salah satunya terjadi di kawasan Cipinang dimana akibat terbatasnya ruang gerak bagi masyarakat sekitar sehingga membutuhkan wadah yang mampu berkolaborasi dalam pandemic serta memenuhi kebutuhan penggunanya. Ruang yang mengedepankan kesehatan baik secara fisik, jiwa maupun raga dari tiap orangnya ini dilengkapi oleh beberapa fungsi utama keseharian saat ini yaitu belajar maupun bekerja. Penerapan cara baru dalam bangunan maupun bekerja yaitu co-working area dalam bentuk cubicle. Selain itu adapun aktivitas pendukung lainnya seperti hiburan layar tancap pada temporary space. Clinic hadir sebagai pemenuhan dalam menyeimbangkan padatnya kegiatan masyarakat jaman sekarang mulai dari lansia hingga anak-anak. 
SENTRA BUDIDAYA DAN KREASI MUSIK BAMBU DI KELURAHAN SETU, JAKARTA TIMUR Jacinta Karina; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3986

Abstract

Kota merupakan tingkatan administratif dari sebuah pemerintahan. Di dalamnya terdapat fungsi – fungsi yang kompleks dan dihuni oleh masyarakat dengan berbagai aktivitas dan rutinitas, serta menjadi wadah bagi segala aktivitas, mata pencaharian, hunian, perdagangan, industry, pusat pemerintahan, dan lain – lain. Dari 24 jam, sebagian besar dihabiskan untuk bekerja dan belajar, sedangkan sebagian kecil dipergunakan untuk bersantai atau beristirahat. Jakarta merupakan ibukota negara Indonesia, disebut sebagai kota metropolitan, karena menjadi pusat politik, ekonomi, pariwisata, sosial budaya masyarakat, dan lain – lain. Arsitektur dalam kota menunjukkan citra kota tersebut, menjadikan ikon dan symbol tertentu, serta dapat menaikkan status sosial kota dan lingkungan binaan. Bidang pariwisata dalam karya arsitektur diharapkan menjadi destinasi wisata bagi warga Jakarta, dan sekitarnya. Untuk itu penulis mengkaji dan menganalisa Sentra Budidaya dan Kreasi Musik Bambu di Kelurahan Setu, Jakarta Timur dengan menggunakan metode pemikiran desain. Saat ini, bambu mulai diperhitungkan oleh pemerintah, terutama Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) sebagai seni, bahan jadi untuk kehidupan sehari – hari, bahkan bangunan berstruktur dan material utama dari bambu. Peluang bambu di kemudian hari akan bertambah tinggi, bahkan akan perlahan menggantikan kayu karena dengan teknik – teknik tertentu, bambu lebih unggul daripada kayu, dan mudah diperbaharui. Dalam perdagangan dunia saat ini, bambu adalah salah satu komoditas paling strategis dan mempengaruhi perekonomian dunia. 

Page 23 of 134 | Total Record : 1332