cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PENATAAN KAWASAN CAGAR BUDAYA BETAWI CONDET CILIWUNG, JAKARTA TIMUR, SEBAGAI DESTINASI WISATA ALAM DAN BUDAYA Verani Nurizki; Suryono Herlambang; Parino Rahardjo
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8858

Abstract

Condet area has close links with Betawi Cultural civilization in Jakarta. In 1976, Condet Area was designated as a Cultural Heritage but the status was later revoked in 1988 because it was considered to limit the development of the Area. Condet area returned to attention after the issuance of the Governor of DKI Jakarta Province No. 881 of 2019 which stipulated the development of tourism in the form of the development of Betawi cultural arts, agro-tourism and ecotourism in Condet Area. The problems found are existing uniqueness scattered in the Ciliwung Condet area such as Betawi homes, Ciliwung Condet Community, Salak Gardens and festivals in the area that can be the main attraction but have not been fully utilized and facts that have occurred when the Condet Area became a cultural heritage considered limiting the development of the Area and the use of road bodies as the location for the Condet Festival. This study aims to determine the potential and problems that exist in the Ciliwung Condet Area, determine the things that support the Area to become a tourist destination and to propose the arrangement of the Area as a tourist destination. The arrangement can carry an eco-cultural concept, which is a concept that combines ecological and cultural aspects of a landscape to create a site. The research was conducted using a qualitative approach, one of which was through in-depth interviews described using descriptive methods. The results of this study are in the form of a master plan for the arrangement of the Ciliwung Condet Tourism Area. Keywords: Ciliwung Condet Area; Cultural Heritage; Riverfront; Tourism Destination Planning  AbstrakKawasan Condet memiliki keterkaitan erat dengan peradaban Budaya Betawi di Jakarta. Pada tahun 1976, Kawasan Condet ditetapkan sebagai Cagar Budaya namun status tersebut kemudian dicabut pada tahun 1988 karena dianggap membatasi perkembangan Kawasan Condet. Kawasan Condet kembali menjadi perhatian setelah diterbitkannya Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 881 Tahun 2019 yang menetapkan pengembangan wisata berupa pengembangan seni budaya Betawi, agrowisata serta ekowisata di Kawasan Condet. Permasalahan yang ditemukan berupa keunikan eksisting yang tersebar di Kawasan Ciliwung Condet seperti rumah Betawi, Komunitas Ciliwung Condet, Kebun Salak dan festival-festival di kawasan tersebut dapat menjadi daya tarik kawasan namun belum dimanfaatkan dengan maksimal dan fakta yang pernah terjadi ketika Kawasan Condet menjadi cagar budaya dianggap membatasi perkembangan Kawasan Condet serta pemakaian badan jalan sebagai lokasi Festival Condet. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan potensi dan masalah yang ada di Kawasan Ciliwung Condet, menentukan hal-hal yang mendukung Kawasan Ciliwung Condet menjadi destinasi wisata serta usulan penataan Kawasan Ciliwung Condet sebagai destinasi wisata. Penataan Kawasan dapat mengusung konsep eco-cultural, yaitu konsep yang memadukan aspek ekologis dan budaya dari sebuah lanskap untuk membuat sebuah situs. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif, salah satunya melalui wawancara mendalam (indepth interview) yang dijabarkan menggunakan metode deskriptif. Hasil dari penelitian ini berupa rencana induk penataan Kawasan Wisata Ciliwung Condet.
RUANG PEMBELAJARAN KREATIVITAS DI BSD Natasha Liunardi; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6831

Abstract

Daily activities of the community are only carried out between home with college or school and workplace. This can trigger fatigue because burdens of thought and workload, and there is no activities separated from their daily lives and elimintas the social sence between the communities because they’re busy with their activities.  Third place is a neutral public space to accommodate the need for release work or school burdens and to socialize, interacting, and to share their views among community without looking at the difference in background. BSD creative learning space is a third place with an educational recreation forum and can be the answer to these problems. Equipped with play, study, gathering, and leisure who still related to main program being intended for the community around of all without age restrictions. This project has theme of art creativity as a result of answering the problems in BSD, South Tangerang and those are close to third place. The method that used in designing third place is spatial archetype grid has the same characteristics as third place such as openness, not bound, and neutral. This method is a part of the concept of design in creating third place by taking into account the relationship between space and programs are intertwined with each other.AbstrakKegiatan masyarakat sehari-hari hanya dilakukan antara rumah dengan sekolah atau kampus dan tempat kerja. Hal tersebut dapat memicu penat akibat beban kerja, beban pikiran, dan kurangnya aktivitas terlepas dari kesehariannya serta rasa sosial antar sesama karena sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tempat ketiga adalah sebuah ruang publik yang netral untuk mewadahi kebutuhan dalam melepas beban kerja atau sekolah, dan bersosialisasi, berinteraksi, bertukar pikiran antar sesama masyarakat tanpa memandang adanya perbedaan latar belakang. Ruang pembelajaran kreativitas di BSD adalah sebuah ruang ketiga yang merupakan wadah edukasi - rekreasi berbasis seni dan dapat menjadi jawaban permasalahan tersebut. Dengan dilengkapi sarana bermain, belajar, berkumpul, dan bersantai yang masih berkaitan dengan program utama, tempat ini ditujukan bagi masyarakat sekitar dari seluruh kalangan tanpa adanya batasan umur. Proyek ini bertemakan kreativitas seni yang didapat dari jawaban permasalahan kawasan terpilih yaitu BSD, Tangerang Selatan serta hubungannya dengan tempat ketiga yang cukup erat. Metode yang digunakan dalam merancang tempat ketiga ini adalah spatial archetype grid yang memiliki sifat yang sama dengan karakteristik tempat ketiga yaitu terbuka dan tidak terikat serta netral. Metode ini merupakan bagian dalam konsep perancangan dalam menciptakan tempat ketiga dengan memperhatikan hubungan antar ruang dan program yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
PENGHIJAUAN SEBAGAI TERAPI PENYEMBUHAN UNTUK ORANG DENGAN GANGGUAN MENTAL Welly Welly; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4429

Abstract

Good mental health is a dream for everyone. Someone who has a mental health can enjoy daily life so that he can have healthy relationships with others. Conversely, people with mental disorders will have emotional control disorders that can ultimately lead to bad behavior. Until now, the community in general still has a negative stigma towards people with mental illness, causing many of them to be treated badly. Therefore, in helping reduce and overcome the high number of people with mental disorders, A rehabilitation center is needed that can effectively restore mental states, one of which is the ecopsychology method of therapeutic gardens that brings the idea of connection with nature as the main focus in healing. The use of plants and garden-related activities can be used to improve welfare. Activities may include digging soil, planting seeds, weeding the garden, and cutting leaves. This activity can be recommended in cases of stress, fatigue, substance abuse, as well as in cases of social isolation. It is hoped that the Project of Greeneny as a Healing Therapy for People with Mental Disorders can cure people with mental disorders as a whole so that they can live their lives like ordinary people. Abstrak Kesehatan Mental yang baik merupakan idaman bagi setiap orang. Seseorang yang memiliki mental sehat dapat menikmati kehidupan sehari hari sehingga dapat mempunyai hubungan sehat dengan orang lain. Sebaliknya orang dengan gangguan mental akan memiliki gangguan kendali emosi yang pada akhirnya bisa mengarah pada perilaku buruk. Hingga saat ini masyarakat pada umumnya masih memiliki stigma negatif pada pengidap penyakit mental hingga menyebabkan banyak diantara mereka yang diperlakukan secara buruk. Oleh karena itu, dalam membantu mengurangi dan mengatasi tingginya angka pengidap gangguan mental, Diperlukan sebuah wadah rehabilitasi yang dapat secara efektif merestorasi keadaan mental salah satunya dengan metode ecopsychology taman terapi yang membawa gagasan koneksi dengan alam sebagai fokus utama dalam  penyembuhan.Penggunaan tanaman dan kegiatan terkait kebun dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan. Kegiatan mungkin termasuk menggali tanah, menanam bibit, menyiangi taman, dan memotong daun. Kegiatan ini dapat direkomendasikan dalam kasus stres, kelelahan, penyalahgunaan zat, serta dalam kasus isolasi sosial. Diharapkan proyek Penghijauan Sebagai Terapi Penyembuhan Untuk Orang Dengan Gangguan Mental  dapat menyembuhkan para pengidap gangguan mental secara keseluruhan sehingga mereka dapat menjalani kehidupan seperti orang  biasa.
FASILITAS REKREASI DAN OLAHRAGA INTERAKTIF DI DURI KEPA Kevin Susantio
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8520

Abstract

Jakarta is a dense city center and has a dense community activity. Amid city density, an open area is needed that can be used for social interaction and relaxation for urban communities without disposing of land in the middle of the city or as much as possible and can be used as an area that is always productive or can be useful at any time. Open Architecture and Third Place is one way to meet those needs. In dense activities in the middle of the city that is filled with busy work to create an individualistic society due to lack of social interaction among residents even around the housing where they live. Third Place aims to create an area for the exchange of information and become a public area that can be accessed by all people. Third Place is the connecting activity between First Place (home) and Second Place (workplace). Amid high density and activities, residents need an area to relax and release stress and exercise to maintain their physical health, amid a crowded and unhealthy city of food and air needs. Following human needs, humans also need entertainment and leisure areas to relieve stress from their problems. Third Place can provide the necessary areas such as areas used for people to gather to exchange information, used for leisure areas, and seeking recreation, one example is sports recreation. Keywords:  interaction; open architecture; recreation; sports; third place Abstrak Jakarta merupakan sebuah pusat kota yang padat dan memiliki aktivitas masyarakat yang juga padat. Di tengah kepadatan kota yang terjadi, dibutuhkan area terbuka yang bisa digunakan untuk berinteraksi sosial dan relaksasi bagi masyarakat kota tanpa mem buang lahan yang ada di tengah kota atau sebisa mungkin digunakan dengan maksimal dan bisa menjadi sebuah area yang selalu produktif atau bisa bermanfaat setiap saat. Open architecture dan Third place merupakan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Di tengah padatnya aktivitas di tengah kota yang dipenuhi dengan sibuknya bekerja sehingga menciptakan masyarakat yang individualis karena kurangnya interaksi sosial di antara para warga bahkan di sekitaran perumahan tempat mereka tinggal. Third Place bertujuan untuk menciptakan area untuk terjadinya pertukaran informasi dan menjadi area publik yang bisa diakses oleh semua masyarakat. Third Place menjadi penghubung aktivitas di antara First place (rumah) dan Second place (tempat bekerja). Di tengah kepadatan dan aktivitas yang tinggi, para warga membutuhkan area untuk relaksasi melepaskan stress dan berolahraga untuk menjaga Kesehatan tubuh mereka, ditengah kota yang padat dan kurang sehat akan keperluan makanan dan udaranya. Sesuai dengan kebutuhan manusia, manusia juga membutuhkan area hiburan dan bersantai untuk menghilangkan stress dari permasalahan mereka. Third place dapat menyediakan area-area yang dibutuhkan seperti area yang digunakan untuk para masyarakat berkumpul untuk saling bertukar informasi, digunakan untuk area santai dan mencari rekreasi, salah satu contohnya adalah rekreasi olahraga.
WADAH INTERAKSI SOSIAL Yonathan Yoel Mulyadi; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6776

Abstract

People always engage in mutual relations and influence with other human beings in order to fulfill their needs and sustain their lives. The reaction action is a form of interaction created by humans, because humans are social beings who cannot live without the help of others. The purpose of this research is to know the pattern of communication built by the community and to know the process of social integration. The process of collecting data using the observation method conducted within 5 days in the study site area, and the interview method is conducted to obtain more accurate data in reviewing community development. Based on the results of the research, the pattern of interaction built by the community in Kramat is less good, because the whole community activities are done in the Office, school or other workplace. There is a social community that is engaged in the art of craft, but there are less people in the field because of limited time and location is less strategic, but also because it is commercial there are some people who lack It. Intersocial learning and network development in Kramat is a social facility that can be accessed by the whole community without seeing the social status. The facilities provided are the result of the interview data with the surrounding community as the basis for creating this project. Social containers are a facility provided to the community without charging a fee in certain provisions for the Community can be recreation and brainstorm and also knowledge in certain areas.AbstrakManusia senantiasa melakukan hubungan dan pengaruh timbal balik dengan manusia yang lain dalam rangka memenuhi kebutuhan dan mempertahankan kehidupannya. Adanya aksi reaksi merupakn sebuah bentuk interaksi yang diciptakan oleh manusia, karena manusia merupakan mahkluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pola komunikasi yang dibangun oleh para masyarakat dan untuk mengetahui proses integrasi sosial yang dilakukan. Proses pengumpulan data menggunakan metode observasi yang dilakukan dalam jangka waktu 5 hari di area tapak studi, selain itu juga metode wawancara dilakukan untuk memperoleh data yang lebih akurat dalam meninjau perkembangan masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian, pola interaksi yang dibangun oleh masyarakat di Kramat tergolong kurang baik, karena hampir seluruh aktivitas masyarakat dilakukan di kantor, sekolah maupun tempat bekerja lainnya. Terdapat komunitas sosial yang bergerak dalam bidang seni kriya akan tetapi maksyarakat sekitar kurang meminatinya karena keterbatasan waktu dan juga lokasi yang kurang strategis, selain itu juga karena bersifat komersial ada beberapa masyarakat yang kurang meminatinya. Wadah belajar dan interaksi sosial sebagai pengembangan jaringan di kramat merupakan fasilitas sosial yang dapat diakses oleh seluruh kalangan masyarakat tanpa melihat status sosialnya. Fasilitas yang disediakan merupakan hasil dari data wawancara dengan masyarakat sekitar sebagai dasar dalam menciptakan proyek ini. Wadah sosial merupakan sebuah fasilitas yang diberikan kepada masyarakat tanpa memungut biaya dalam ketentuan tertentu untuk masyarakat dapat berekreasi serta bertukar pikiran dan juga ilmu dalam bidang – bidang tertentu.
RUMAH SINGGAH KANKER ANAK DENGAN TERAPI PALIATIF Felicia Hansen; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10706

Abstract

Hospitals that can treat pediatric cancer are usually located in big cities, for example Jakarta. For children with cancer who come from outside the region and their families are unable to pay for hospitalization, they are forced to travel back and forth which takes a lot of time and transportation fees. Apart from medical care, the children with cancer also need palliative care, which is an integrated care system approach to improve the quality of life for patients and their families when facing life-threatening terminal illnesses by providing spiritual and psychosocial support from the time the diagnosis is made to the end of life for cancer patients. The solution is to design a childhood cancer lodging that has palliative therapy facilities with child-friendly and appropriate design references, and is located close to a referral hospital for pediatric cancer. The design of the lodging aims to make a shelter that is not only served as “the second home” for children with cancer, but also as a place for recreation, relaxation, and education. The formation and arrangement of architectural spaces of the lodging refers to the connection between human activities and their environment. The design concept of the site is Urban Oasis. The building seems to be in the middle of a forest with a small river that surrounds it. Here, apart from getting spiritual and psychosocial support, children can also take up their hobbies in the arts and music, relieve stress after undergoing medical treatment through interactions with animals and nature, as well as play and learn together. Keywords:  childhood cancer lodging; everydayness architecture; future dwelling; healing environment; palliative care AbstrakRumah sakit yang dapat menangani anak penderita kanker umumnya berada di kota besar, contohnya Jakarta. Bagi anak-anak penderita kanker yang berasal dari luar daerah dan keluarganya tidak mampu membiayai rawat inap di rumah sakit, mereka terpaksa melakukan perjalanan pulang pergi yang memakan banyak waktu dan biaya transportasi. Selain perawatan medis, para penderita kanker juga membutuhkan perawatan paliatif; yang merupakan pendekatan sistem perawatan terpadu untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga mereka ketika menghadapi penyakit terminal yang membahayakan jiwa, dengan memberikan dukungan spiritual dan psikososial; mulai saat diagnosis ditegakkan sampai pada akhir hidup pasien kanker. Solusi dari isu tersebut adalah merancang rumah singgah kanker anak yang memiliki fasilitas terapi paliatif dengan acuan desain yang ramah anak dan sesuai dengan kebutuhan anak-anak penderita kanker, serta letaknya dekat dengan rumah sakit rujukan untuk kanker anak. Perancangan rumah singgah kanker anak dengan terapi paliatif ini bertujuan untuk  merancang rumah singgah yang tidak hanya sebagai tempat tinggal alternatif bagi anak-anak penderita kanker, namun juga sebagai tempat rekreasi, relaksasi, dan edukasi. Pembentukan dan pengaturan ruang arsitektural dari rumah singgah mengacu pada keterkaitan antara aktivitas manusia dan lingkungannya. Konsep desain dari perancangan tapak yaitu Urban Oasis. Bangunan seakan-akan berada di tengah-tengah hutan yang rindang dengan sungai kecil yang mengelilinginya. Di sini, selain mendapatkan dukungan spiritual dan psikososial, anak-anak juga dapat menyalurkan hobi mereka dalam bidang seni dan musik, melepas stress setelah menjalani perawatan medis melalui interaksi dengan hewan dan alam, juga bermain dan belajar bersama.
TAMAN WISATA DAN KONSERVASI ANGGREK NUSANTARA Odelia Clarissa; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3966

Abstract

Bunga anggrek merupakan salah satu jenis bunga yang spesiesnya sangat banyak tumbuh alami di Indonesia. Sejarah perjalanan bunga anggrek di Indonesia sudah tercatat sejak tahun 1869 saat ditemukan di Borneo. Bunga anggrek sampai sekarang sangat popular di kalangan masyarakat Indonesia karena keanggunan dan keindahannya. Oleh karena itu, bunga anggrek memiliki daya tarik baik dari segi sejarah dan edukasi. Kawasan Sentra Anggrek dan Tanaman Hias di Kebon Jeruk, Jakarta Barat pernah menjadi salah satu pusat perdagangan dan budidaya anggrek. Namun, sudah beberapa tahun terakhir kawasan itu mulai dijadikan permukiman sehingga tidak ada lagi petani-petani anggrek yang membudidayakan dan menjual bunga anggrek. Bunga anggrek tidak hanya menarik bagi masyarakat Indonesia, namun juga internasional. Dengan daya tariknya kawasan Sentra Anggrek memiliki potensi untuk dijadikan area wisata di tengah kota. Dalam proyek Architourism of The Metropolis, diharapkan dapat ditemukan solusi yang dapat menghidupkan kembali kawasan Sentra Anggrek dan Tanaman Hias serta menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat wisata yang dapat mengedukasi pengunjung serta mengembangkan budidaya anggrek sebagai salah satu bunga nasional Indonesia dengan dibangunnya taman indoor maupun outdoor yang dapat menjadi tempat habitat ex-situ bagi bunga anggrek Nusantara serta menyediakan ruang untuk mengembangkan teknologi pembibitan anggrek. Diharapkan dengan fasilitas-fasilitas yang dibangun dapat meningkatkan ketertarikan turis dan juga masyarakat akan bunga anggrek.
STUDI KELAYAKAN PEMBANGUNAN MALL BARU DI KOTA HARAPAN INDAH Raul Acacia; Liong Ju Tjung; Sylvie Wirawati
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8851

Abstract

The growth of property continues to increase significantly in Indonesia, especially centered on the Jakarta causing satellite cities such as Bekasi Regency to be one of the options in property Development. Damai Putra Group as one of the developers to create a new township that is directly adjacent with Jakarta, especially East Jakarta. With good accessibility and now there is also public transport, it will increase the activity and value of land in Kota Harapan IndahDamai Putra Group sees this as an opportunity, with a number that has begun to be quite densely populated in Kota Harapan Indah wanting to provide supporting facilities to build new mall in Kota Harapan Indah. This feasibility study aims to determine the potential and threats that exist and also minimize risks, and studying the feasibility especially in financial, and also produce the concept of mall in accordance with current market trends and conditions. In this case, the author uses several methods to collect data with primary and secondary data collection, namely field surveys, interviews, and documentation. In this case the authors conducted several analyzes to achieve the objectives consisting of location and site analysis, market analysis, development concept analysis, and investment analysis. The results of this feasibility study based on the analysis that has been done show that this land is eligible to be developed into a mall.Keywords : Shopping Mall; Investment; Feasibility StudyAbstrakPertumbuhan properti yang terus meningkat secara signifikan di Indonesia, terutama berpusat pada kota Jakarta menyebabkan kota-kota satelit seperti Kabupaten Bekasi menjadi salah satu pilihan dalam pengembangan properti, Damai Putra Group selaku salah satu pengembang yang besar membuat kota baru yang letaknya berbatasan dengan Jakarta, tepatnya Jakarta Timur. Dengan aksesibilitas yang baik dan saat ini pula sudah ada transportasi umum maka akan semakin meningkatkan aktifitas dan nilai lahan di Kota Harapan Indah. Damai Putra Group melihat ini sebagai peluang , dengan sudah mulai cukup padatnya kepadatan penduduk di Kota Harapan Indah ingin menyediakan fasilitas komersial pendukung yaitu membangun mall baru di Kota Harapan Indah. Studi  kelayakan ini memiliki tujuan utama untuk meminimalisir resiko dan juga untuk mengetahui potensi dan ancaman yang ada, serta bertujuan untuk mengetahui kelayakan pembangunan secara finansial, dan juga menghasilkan konsep mall sesuai dengan tren dan kondisi pasar saat ini. Dalam hal ini penulis menggunakan beberapa cara untuk mengumpulkan data dengan pengumpulan primer maupun sekunder, yaitu survei lapangan, wawancara, dan dokumentasi. Penulis melakukan beberapa analisis untuk mencapai tujuan itu berupa analisis lokasi dan tapak, analisis pasar, analisis konsep pengembangan, dan analisis investasi. Hasil dari studi kelayakan ini  berdasarkan analisis yang telah dilakukan menunjukan bahwa lahan ini layak untuk dikembangkan menjadi mall. 
RUANG INTERAKTIF DI MERUYA UTARA Ursula Andrea
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6859

Abstract

Third place is a neutral place, and simple (unpretentious). This place must be playful or fun for anyone, so that when leaving the third place, people come out happily. This place has no rules at home or work. Third place is also a place where people gather, and have the same status. Also in this project the third place comes as a form of open architecture that is friendly to the environment and makes the city better. The main activity of this project is the interaction with the programs offered, the activity itself and with fellow visitors. The focus of the third place is shown on the impact of "The Solidarity Economy" or according to Ethan Miller of the Grassroots Economic Organizing Collective in Australia, The "solidarity economy", is an invitation to reach a broad scope of the workings of an economy based on sharing. This system makes it easy for people to be able to access facilities without having something that will create interaction between visitors and visitors. This happened because the project was designed to form communal activities. The communal activities that occur are playful activities. Like, misbar space, café boardgame and also sports space that is not competitive. Like the criteria contained in the third place theory which has playful criteria. The rooms that are formed are designed and planned so that each visitor can interact with other visitors and with existing programs.Abstrak Third place adalah tempat netral, dan sederhana (unpretentious). Tempat ini haruslah playful atau menyenangkan bagi siapapun, sehingga ketika meninggalkan third place, orang keluar dengan bahagia. Tempat ini tidak memiliki aturan yang ada di rumah maupun tempat kerja. Third place juga merupakan tempat masyarakat berkumpul, dan memiliki status yang sama. Selain itu dalam proyek ini third place hadir sebagai bentuk dari open architecture yang bersahabat dengan lingkungannya dan membuat kota menjadi lebih baik. Aktifitas utama dari proyek ini adalah interaksi dengan program yang ditawarkan, aktifitas itu sendiri maupun dengan sesama pengunjung. Fokus third place ditunjukan pada dampak dari “The Solidarity Economy” atau ekonomi solidaritas yang menurut Ethan Miller dari Grassroots Economic Organizing Collective di Australia, The “solidarity economy”, adalah sebuah undangan untuk menjangkau lingkupan yang luas mengenai cara kerja ekonomi yang berlandaskan berbagi.  Sistem ini memudahkan masyarakat untuk dapat mengakses fasilitas tanpa memiliki sesuatu yang akan menciptakan interaksi antara pengunjung dengan pengunjung. Hal ini terjadi karena proyek ini dirancang untuk membentuk aktifitas komunal. Adapun aktifitas komunal yang terjadi adalah aktifitas yang bersifat playful. Seperti, ruang misbar, café boardgame dan juga ruang olahraga yang bersifat tidak kompetitif. Seperti sebagaimana kriteria yang terdapat pada teori third place yang memiliki kriteria playful. Ruangan-ruangan yang terbentuk dirancang dan direncanakan agar setiap pengunjung bisa berinteraksi dengan pengunjung lain maupun dengan program yang sudah ada.
PUSAT MODIFIKASI MOBIL DI PANTAI INDAH KAPUK Andrew Andrew; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4328

Abstract

Millennials are a generation born from 1981 to 2000. This generation is very close to various kinds of technological developments. One of the fields of technology favored by the millennial generation is automotive technology. This is indicated by the increasing routine of automotive activities held from year to year such as seminars, exhibitions, modification, review, etc. The most preferred activity in automotive technology is modification activities. Modification activities are activities that can explore the creativity of millennial clams that are poured through automotive technology. Automotive modification activities are used as a new lifestyle and light science. Unfortunately, the Capital City has not been able to provide adequate space and facilities for the automotive modification activities. All these modification activities are still carried out conventionally and in open places. Whereas when viewed again, automotive modification activities with adequate facilities and space will increase the level of creativity of the millennials so that the results can compete with foreign countries. By tracing various observations in this millennial era, all forms of information about automotive are very easily packed with social media such as youtube, instagram, twitter, etc. For this reason, the author examines how architecture creates a container that functions optimally for automotive modification activities with an architectural project called the Car Modification Center at Pantai Indah Kapuk. The method used is the literature study method by examining the space typology of several projects that have been built. In response to millennial habits that are close to social media, the project also created space to produce digital information by giving the room a review of automotive or studio reviews and workspaces called workspaces. This project is located at Pantai Indah Kapuk because currently the area is an area of middle to upper society, close to the millennials, and as a meeting point for the community of automotive lovers. Abstrak Generasi millennial merupakan  generasi yang lahir pada tahun 1981 hingga 2000. Generasi ini sangat dekat dengan berbagai macam perkembangan teknologi. Salah satu bidang teknologi yang digemari oleh generasi millenial yaitu teknologi otomotif. Hal ini ditandai dengan semakin meningkatnya rutinitas dari kegiatan mengenai otomotif yang diadakan dari tahun ke tahun seperti seminar, pameran, modifikasi, pengulasan, dll. Kegiatan yang paling disukai pada teknologi otomotif yaitu kegiatan modifikasi. Kegiatan modifikasi merupakan kegiatan yang dapat mengeksplorasi kreativitas kaun millennial yang dituangkan melalui teknologi otomotif. Kegiatan modifikasi otomotif dijadikan sebagai gaya hidup dan ilmu pengetahuan ringan yang baru. Sayangnya, Ibu Kota saat ini belum dapat memberikan ruang dan fasilitas yang memadahi terhadap kegiatan modifikasi otomotif tersebut. Semua kegiatan modifikasi ini masih dilakukan secara konvensional dan di tempat-tempat terbuka. Sedangkan jika dilihat kembali, kegiatan modifikasi otomotif dengan fasilitas dan ruang yang memadai akan meningkatkan tingkat kreativitas kaum millennial sehingga hasilnya dapat bersaing dengan negara luar. Dengan menelusuri berbagai pengamatan di era millennial ini, segala bentuk informasi mengenai otomotif sangat mudah dikemas dengan media sosial seperti youtube, instagram, twitter, dll. Untuk itu penulis mengkaji bagaimana arsitektur menciptakan sebuah wadah yang berfungsi secara maksimal untuk kegiatan modifikasi otomotif dengan sebuah proyek arsitektur yang disebut dengan Pusat Modifikasi Mobil di Pantai Indah Kapuk. Metode yang dilakukan adalah metode studi literatur dengan mengkaji tipologi ruang dari beberapa proyek yang sudah terbangun. Sebagai respon dari kebiasaan kaum millennial yang dekat dengan media sosial, proyek ini juga menciptakan ruang untuk memproduksi informasi digital tersebut dengan  memberikan ruang mengulas otomotif atau studio review dan ruang kerja yang disebut workspace. Proyek ini berlokasi di Pantai Indah Kapuk dikarenakan saat ini daerah tersebut merupakan daerah masyarakat menengah ke atas, dekat dengan kaum millennial, dan sebagai titik temu para komunitas pecinta otomotif.

Page 24 of 134 | Total Record : 1332