cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
Pasar Nongkrong Modern Richard Juan Austen; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6724

Abstract

The Special Capital Region of Jakarta (DKI Jakarta) is the country's capital and largest city in Indonesia. Jakarta as a large capital city has an attraction as a place to look for income, it is very attractive for residents from various regions in Indonesia to come to Jakarta who are settled and claim to be citizens of Jakarta. The number of migrants in Jakarta is around 68,500 people and it is predicted that as many as 60% live in Jakarta. Jakarta is a city with a fairly rapid economic growth rate. At present, more than 70% of state money is circulating in Jakarta. Since the early 1980s, the DKI Jakarta Government has been intensively building modern shopping centers, or commonly known as malls and plazas. At present Jakarta is one of the cities in Asia that has many shopping centers. In addition to luxury shopping centers, Jakarta also has many traditional markets and wholesale trade centers. For smaller environments, shopping centers for daily necessities are also available at affordable prices, such as Indomaret and Alfamart. The city of Jakarta as the capital of Indonesia focuses its development as the center of Indonesian business so that it is now densely filled with houses and tall buildings. The condition of the city of Jakarta is dense with residents and buildings, certainly there are many problems that arise, and the main problems of the city of Jakarta such as traffic jams, social problems and flooding. Traffic congestion makes Jakarta residents become lazy to leave the house so that an individualistic lifestyle makes social interaction decrease, also causes stress. The lives of Jakarta residents who live in high-rise buildings such as apartments that are mushrooming in Jakarta, which are very individual and cannot interact with the surrounding environment and daily activities are only "confined" in apartment units create a boring atmosphere and make residents become stressed. The problems faced by the City of Jakarta, of course, require solutions that really must be considered by the Government, especially the Local Government of the City of Jakarta. For that reason the author tries to make a city facility that can be a bridge between activities at home and work activities, in the social and economic fields in the form of Third Place, named Modern Hangout Market. Abstrak Daerah Khusus Ibukota Jakarta ( DKI Jakarta ) adalah ibu kota negara dan kota terbesar di Indonesia. Jakarta sebagai ibu kota yang besar memiliki daya tarik sebagai tempat untuk mencari penghasilan, sangat memikat penduduk dari berbagai daerah di Indonesia untuk datang ke Jakarta yang menetap dan mengaku sebagai warga Jakarta. Jumlah warga pendatang di Jakarta sekitar 68.500 orang dan diprediksi sebanyak 60% tinggal di Jakarta. Jakarta merupakan kota dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat. Saat ini, lebih dari 70% uang negara beredar di Jakarta. Sejak awal tahun 1980, Pemerintah DKI Jakarta gencar membangun pusat-pusat perbelanjaan modern, atau biasa yang dikenal dengan mall dan plaza. Saat ini Jakarta merupakan salah satu kota di Asia yang banyak memiliki pusat perbelanjaan. Di samping pusat-pusat perbelanjaan mewah, Jakarta juga memiliki banyak pasar-pasar tradisional dan pusat perdagangan grosir. Untuk lingkungan yang lebih kecil, tersedia pula pusat belanja kebutuhan sehari-hari dengan harga yang terjangkau, seperti Indomaret dan Alfamart. Kota Jakarta sebagai ibukota dari Indonesia memfokuskan perkembangannya sebagai pusat perbisnisan Indonesia sehingga kini telah padat dipenuhi hunian dan bangunan tinggi. Kondisi kota Jakarta yang padat dengan penduduk dan bangunan, pasti banyak permasalahan yang muncul, dan yang menjadi permasalahan utama kota Jakarta seperti kemacetan lalu lintas, permasalahan sosial dan banjir. Kemacetan lalu lintas membuat warga Jakarta menjadi malas untuk keluar rumah sehingga gaya hidup yang individualistik membuat menurunnya interaksi sosial, juga menjadi penyebab stress. Kehidupan warga Jakarta yang tinggal di gedung-gedung bertingkat tinggi seperti Apartemen yang menjamur di Jakarta, yang sangat individual dan tidak bisa berinteraksi dengan lingkungan sekitar dan aktifitas sehari-hari hanya “terkurung” dalam unit apartemen membuat suasana yang membosankan dan bikin penghuninya menjadi stress. Permasalahan yang dihadapi oleh Kota Jakarta, tentunya membutuhkan pemecahan yang benar-benar harus dipikirkan oleh Pemerintah, khususnya Pemerintah Daerah Kota Istimewa Jakarta. Untuk itu Penulis mencoba membuat suatu  fasilitas kota yang bisa sebagai jembatan penghubung antara kegiatan di rumah dan aktifitas kerja, dalam bidang sosial dan ekonomi berupa Third Place yang diberi nama Pasar Nongkrong Modern.
SEKOLAH VOKASI ILMU KOMPUTER BSD Lauren Margaretha; Rudy Trisno
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4370

Abstract

Education in Indonesia is not ready to be used in the workplace because of the limited skills of today's graduates. Therefore, for the millennium as a graduate candidate, the change in the education system is one of the important things in the future. Architecturally, what we want to achieve is to create an educational space that suits the needs. Vocational schools are one of the solutions to overcome the workforce that is considered to not have sufficient skills. Specifically, the field that is the focus of this vocational school is Computer Science or Computer Science. The theory concludes that the relationship between typology, architecture, and millennial behavior in educational buildings is a space that has an effective collaboration and classroom system. The design method used is a stepwise analysis, namely on site, program activities, and design concepts, where the analysis produces a design. In conclusion, site selection does not affect the building of education, but rather the distribution of circulation. In the activity program, the building system architecturally is to share the capacity of the closed class, with open spaces such as collaborative space to study outside the classroom or mutual discussion. The program is to build a conducive educational atmosphere and support students to improve their abilities. And finally, open space has different peil floors to be one component in architectural values that can be used to guarantee the existence of connectivity between spaces. AbstrakPendidikan di Indonesia belum siap untuk dipakai dalam dunia kerja karena adanya keterbatasan kemampuan dari lulusan sarjana masa kini. Oleh karena itu, untuk generasi millenial sebagai calon lulusan sarjana, perubahan sistem pendidikan menjadi salah satu hal yang penting di masa depan. Secara arsitektural, hal yang ingin dicapai adalah menciptakan ruang edukasi yang sesuai dengan kebutuhan. Sekolah vokasi menjadi salah satu solusi untuk mengatasi angkatan kerja yang dianggap belum memiliki skill yang cukup. Secara spesifik, bidang yang menjadi fokus di dalam sekolah vokasi ini adalah Computer Science atau  Ilmu Komputer. Teori menyimpulkan bahwa hubungan antara tipologi, arsitektur, dan perilaku millenial pada bangunan edukasi adalah ruang yang memiliki sistem kolaborasi dan ruang kelas yang efektif. Metode perancangan yang digunakan adalah analisa bertahap, yaitu pada tapak, program kegiatan, dan konsep perancangan, dimana analisa tersebut menghasilkan desain. Kesimpulannya, pemilihan tapak tidak mempengaruhi bangunan edukasi, melainkan lebih kepada pembagian sirkulasi. Pada program kegiatan, sistem bangunan secara arsitektural adalah membagi kapasitas kelas tertutup, dengan ruang terbuka seperti ruang kolaboratif untuk belajar di luar kelas ataupun saling diskusi. Program tersebut untuk membangun suasana pendidikan yang kondusif dan mendukung untuk meningkatkan kemampuan pada pelajar. Dan terakhir, ruang terbuka memiliki perbedaan peil lantai menjadi salah satu komponen dalam nilai arsitektur yang bisa digunakan untuk menjamin adanya konektivitas antar ruang. 
Konsep Perancangan Third Place Sebagai Wadah Edutainment Kreatif dan Fasilitas Tanggap Darurat Banjir di Kelapa Gading Jovan Jovan; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8567

Abstract

Jakarta as the nation's capital has complex movements and activities in its daily life. Social, economic and cultural conditions require the people to have high mobility and diverse activities as well, in these conditions, people tend to be vulnerable to have problems such as fatigue, burnout or feeling alone. For the people of Kelapa Gading, urban problems become more severe because almost every year their settlement area is hit by floods. Based on the thoughts and problems that exist in the study location, the design of the third place in this study in addition to accommodating the needs of the community will be a place to rest, interact and refresh the mind and body, besides that it also aims to contribute to the community and residential environment in the Kelapa Gading area in dealing with disasters flood. This study also refers to programmatic methods in analyzing various existing data to produce synthesis or decisions, namely design concepts and ecological architectural methods, which are applied in part or in whole to buildings, whose concepts are rooted in natural forms or principles. Transprogramming method is also applied, where in the different spatial configurations based on different needs into the same building. Apart from spatial, cultural mismatches and inconsistencies between the two programs, they are combined in the same physical object. The resulting program is in the form of community space, educational facilities, rainwater harvesting installations, evacuation rooms and so on. The programs that are formed in the building serve the needs of the community for third place and a place to address environmental conditions in the site. Keywords:  community; flood; social; third place Abstrak Jakarta sebagai ibukota negara memiliki pergerakan dan aktivitas yang kompleks dalam kesehariannya. Kondisi sosial, ekonomi maupun budaya menuntut masyarakat memiliki mobilitas tinggi dan kegiatan yang beragam. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat cenderung rentan untuk memiliki permasalahan seperti kelelahan, kejenuhan ataupun merasa kesendirian. Bagi masyarakat Kelapa Gading, permasalahan perkotaan menjadi semakin berat karena hampir setiap tahun permukiman mereka dilanda bencana banjir. Berdasarkan pemikiran dan permasalahan yang ada di lokasi studi, perancangan third place dalam kajian ini selain dapat mewadahi kebutuhan masyarakat akan tempat beristirahat, berinteraksi dan menyegarkan pikiran serta tubuhnya, juga berkontribusi bagi masyarakat dan lingkungan permukiman di kawasan Kelapa Gading terhadap bencana banjir. Studi ini juga mengacu pada metode programatik  dalam menganalisis berbagai data yang ada untuk menghasilkan sintesis berupa konsep perancangan dan metode arsitektur ekologis, yang diaplikasikan sebagian atau keseluruhan pada bangunan, yang konsepnya berakar pada bentuk-bentuk atau prinsip-prinsip alam. Metode transprogramming juga diterapkan, yang mengolah perbedaan konfigurasi spasial yang ada berdasarkan kebutuhan yang berbeda ke dalam satu bangunan yang sama. Terlepas dari ketidakcocokan spasial, budaya dan inkonsistensi antara kedua program ini, mereka digabungkan dalam objek fisik yang sama. Program yang dihasilkan berupa ruang komunitas, fasilitas edukasi, instalasi rainwater harvesting, ruang evakuasi dan sebagainya. Program-program yang terbentuk dalam bangunan melayani kebutuhan masyarakat akan third place dan sebuah wadah untuk menjawab permasalahan kondisi lingkungan dalam tapak.
PENGELOLAAN DANAU SITU GEDE DAN HUTAN PENELITIAN DRAMAGA SEBAGAI KAWASAN EKOWISATA Muthiannisa Umarputri; Parino Rahardjo
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4597

Abstract

Situ Gede is a natural lake surrounded by Dramaga Research Forest and has the potential to become an object of ecotourism studies. However, there are still problems in the area, including the management of facilities and infrastructure which if ignored can threaten the balance of the ecosystem. In order for better management of the area, it is necessary to know the potential and problems in the region and then manage it as an ecotourism area so that it attracts people to visit but the ecosystem in it is maintained and becomes a sustainable tourism. There are aspects that are considered for tourism (Fandeli, 1995), namely attractions (attraction), amenities (facilities) and accessibility. For ecotourism, the necessary components related to management are from aspects of conservation, entertainment, economy, community participation, education and local wisdom based on Domestic Government Regulation No.33 of 2009 Article 3 and for basic management principles (Wurtzebach & Miles, 1984) consisting of 3E (Efficient, Effective, Economical) plus 4C (Complementary, Competitive, Comfortable, Convenience) produces MPAM (Profitable, Marketable, Adaptable, Manageable) and considers management elements such as organization, management, human resources, facilities and infrastructure, tourist attraction and promotion. By using quantitative and qualitative research and research methods in the form of field surveys, interviews, and collection of related documents and then analyzing the conditions of existing management, best practices, carrying capacity and management strategies, recommendations can be generated from management aspects and their eco-aspects. AbstrakSitu Gede merupakan situ atau danau alami yang dikelilingi oleh Hutan Penelitian Dramaga dan berpotensi untuk menjadi objek studi ekowisata. Namun masih terdapat permasalahan pada kawasan tersebut, di antaranya pengelolaan sarana dan prasarana yang bila didiamkan dapat mengancam keseimbangan ekosistem. Agar pengelolaan kawasan menjadi lebih baik, perlu diketahui potensi dan masalah pada kawasan untuk kemudian dibuat pengelolaannya sebagai kawasan ekowisata agar menarik minat masyarakat untuk berkunjung namun ekosistem di dalamnya tetap terjaga dan menjadi wisata berkelanjutan. Terdapat aspek yang diperhatikan untuk pariwisata (Fandeli, 1995) yaitu atraksi (daya tarik), amenitas (fasilitas) dan aksesibilitas. Untuk ekowisata, komponen yang diperlukan terkait pengelolaan ialah dari aspek konservasi, hiburan, ekonomi, partisipasi masyarakat, edukasi dan kearifan lokal berdasarkan Peraturan Pemerintah Dalam Negeri No.33 Tahun 2009 Pasal 3 dan untuk prinsip dasar pengelolaan (Wurtzebach & Miles, 1984) terdiri dari 3E (Efisien, Efektif, Ekonomis) ditambah 4C (Complementary, Competitive, Comfortable, Convenience) menghasilkan MPAM (Profitable, Marketable, Adaptable, Manageable) dan memerhatikan unsur pengelolaan seperti organisasi, manajemen, sumber daya manusia, sarana dan prasarana, daya tarik wisatawan dan promosi. Dengan menggunakan penelitian kualiltatif dan kuantitatif serta metode penelitian berupa survei lapangan, wawancara, dan pengumpulan dokumen terkait kemudian menganalisis kondisi pengelolaan eksisting, best practices, daya dukung serta strategi pengelolaan maka dapat dihasilkan rekomendasi dari aspek pengelolaan serta aspek ekowisatanya.
STRATEGI PENGELOLAAN MAHAKA SQUARE DALAM UPAYA MENINGKATKAN OCCUPANCY RATE DAN JUMLAH PENGUNJUNG Andrian Wijaya Putra; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4603

Abstract

Property developments in Jakarta are increasing every year, one of which is a mall or shopping center located in many locations in Jakarta and is the most common destination for family recreation. The existence of a shopping center or mall is expected to help increase the economic cycle and help increase the number of jobs in Jakarta. The high level of growth Shopping centers in Jakarta cause there are many shopping centers that are not able to compete with other shopping centers. This is what makes shopping centers in Jakarta become quiet and experience a decline in occupancy rates. Mahaka Square is one of the shopping centers that experienced this, located in Kelapa Gading with an area of 2.6 ha with international standard sports arenas and hotels, so that shopping centers need to be regenerated by following the trend of sports and healthy lifestyles in young generation  in order to compete with competitors. Through this study a study was conducted on the management strategy of Mahaka Square to determine the physical condition of existing Mahaka Square buildings and the potential of Mahaka Square in competing in the market in order to increase occupancy rates and number of visitors. The analysis carried out was location analysis, building analysis, market analysis, visitor preference analysis, and tenant mix analysis. The tools used in this study are cartesian diagrams and qualitative descriptive. The results of this study are to find out whether mahaka square needs to be physically changed in terms of buildings and tenants that should be included in Mahaka Square in order to increase occupancy rates and number of visitors. AbstrakPerkembangan property di Jakarta semakin meningkat setiap tahunnya, salah satunya adalah Mall atau pusat perbelanjaan yang berdiri di banyak lokasi di Jakarta dan merupakan destinasi paling umum untuk dijadikan tempat rekreasi untuk keluarga. Adanya pusat perbelanjaan atau mall tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan siklus perekonomian dan membantu menambah jumlah lapangan pekerjaan di Jakarta. Tingginya tingkat pertumbuhan Pusat perbelanjaan di ibukota menyebabkan ada banyak pusat perbelanjaan yang tidak mampu bersaing dengan pusat perbelanjaan lainnya. Hal ini yang membuat pusat- pusat perbelanjaan di Jakarta menjadi sepi pengunjung dan mengalami penurunan occupancy rate. Mahaka Square merupakan salah satu pusat perbelanjaan yang mengalami hal tersebut yang berlokasi di Kelapa Gading dengan area seluas 2,6 ha dengan Arena olahraga berstandar internasional dan hotel, sehingga perlu dilakukan regenerasi pusat perbelanjaan dengan cara mengikuti trend aktivitas olahraga dan gaya hidup sehat anak usia muda produktif agar dapat bersaing dengan kompetitor. Melalui penelitian ini dilakukan studi mengenai Strategi pengelolaan Mahaka Square untuk mengetahui kondisi fisik bangunan eksisting Mahaka Square serta potensi Mahaka square dalam bersaing di pasar agar dapat meningkatkan occupancy rate dan jumlah pengunjung. Analisis yang dilakukan adalah analisis lokasi, analisis bangunan, analisis pasar, analisis preferensi pengunjung, dan analisis tenant mix. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah diagram kartesius dan deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah mengetahui apakah mahaka square perlu dilakukan perubahan fisik dari segi bangunan serta tenant –tenant yang seharusnya dimasukkan ke dalam Mahaka Square agar dapat meningkatkan occupancy rate dan jumlah pengunjung.
GEDUNG GALERI KESENIAN DI MENTENG, JAKARTA PUSAT Stefanus Kevin; Stephanus Huwae
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3958

Abstract

Bidang pariwisata merupakan sebuah bidang yang sangat berpotensi meningkatkan penghasilan devisa suau negara ataupun daerah. Architourism of The Metropolis merupakan tema Tugas Akhir semester 8 di Universitas Tarumanagara. Dengan adanya tema ini, arsitek diminta merancang sebuah kawasan pariwisata di tengah kota Jakarta dengan sub tema hiburan dan pertunjukan. Hiburan pertunjukan sendiri memiliki sebuah wisata pertunjukan di mana sebuah kawasan tersebut memberikan tontonan bagi wisatawan yang datang dan memberikan penagalman berbeda dari keseharian pengunjung.
EVALUASI KELAYAKAN HUTAN KOTA STUDI KASUS HUTAN KOTA SRENGSENG, JAKARTA BARAT Randy Kusuma Markho; Suryono Herlambang; Parino Rahardjo; Suryadi Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8918

Abstract

Urban forests are one of the most important parts in urban areas. With urban physical development that continues to occur makes it difficult and expensive to add urban forests. Whereas urban forests have important benefits for urban communities, such as providing a balance to ecosystems, as water catchment areas, and being a place of carbondioxide to oxygen cycles. One of the urban forests in Jakarta is Hutan Kota Srengseng. In this research, we want to find out whether Hutan Kota Srengseng meets the criteria so that it is worth mentioning as an urban forest. The method used in this research is qualitative, field observations and literature studies. The results of this study will find out the ecosystem services provided by the Hutan Kota Srengseng and the potential that exists in the Hutan Kota Srengseng so that they can make optimal plans for developing and managing Hutan Kota Srengseng in the future. Keywords: Ecosystem Services; Urban; Urban ForestAbstrak Hutan kota merupakan salah satu bagian terpenting di perkotaan. Dengan perkembangan fisik perkotaan yang terus terjadi membuat sulit dan mahal untuk menambah hutan kota. Padahal hutan kota mempunyai memberikan manfaat yang penting untuk masyarakat kota, seperti memberikan keseimbangan bagi ekosistem, sebagai areal resapan air, dan menjadi tempat daur karbondioksida menjadi oksigen. Salah satu hutan kota yang ada di Jakarta adalah Hutan Kota Srengseng. Pada penelitian kali ini ingin mengetahui apakah Hutan Kota Srengseng telah memenuhi kriteria sehingga layak disebut sebagai sebuah hutan kota. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif, observasi lapangan dan studi literatur. Hasil penelitian ini akan mengetahui layanan ekosistem yang diberikan oleh Hutan Kota Srengseng dan potensi yang ada di Hutan Kota Srengseng sehingga dapat membuat rencana pengembangan dan pengelolaan Hutan Kota Srengseng yang optimal kedepannya.
ARENA OLAHRAGA ELEKTRONIK DI SETIABUDI Fransiskus Fransiskus; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6823

Abstract

Jakarta in an era that is as modern and complex as it is today, the millennial generation is accustomed to growing and developing in the digital era which now serves as a new movement of space in the lives of its people. The digital age is slowly growing as part of the work, culture, and processes that can not be separated from the journey of human life. However, in meeting their social needs, digital technology is often only used as a component of the media which is done in a secondary process which has a tendency to provoke moral change toward individualism. In fulfilling social needs in the digital age, a social container is needed as a container that does not let the flow of the digital era just flow, but talks about how to control the digital flow itself. From this, architecture talks about ways to meet the needs of the digital community as a means of their existence. Because after all humans still need the nature of face-to-face communication through the primary process. Through these issues, Setiabudi is one area that is suitable for digital social issues and individualism which is now developing rapidly in the region. The approach to solving these problems is through a third place theory approach in architecture. By paying attention to the socio-economic conditions and habits of the surrounding residents and the phenomena that can be found, problem solving is in line with the development of industry 4.0, namely through the construction of electronic sports arena facilities that are third place in the region. AbstrakJakarta pada era yang serba modern dan kompleks seperti saat ini, generasi millennialnya sudah terbiasa untuk tumbuh dan berkembang di era digital yang kini berperan sebagai arus ruang gerak baru dalam kehidupannya masyarakatnya. Era digital pun secara perlahan tumbuh sebagai bagian dari karya, budaya, dan proses yang tidak dapat terlepas dari  perjalanan kehidupan manusia. Namun, dalam pemenuhan kebutuhan sosialnya, teknologi digital sering kali hanya dimanfaatkan sebagai komponen media yang dalam prosesnya dilakukan secara  sekunder di mana memiliki kecenderungan untuk memancing perubahan moral ke arah individualistis.  Dalam pemenuhan kebutuhan sosial di era digital tersebut, maka dibutuhkan wadah sosial sebagai wadah yang tidak membiarkan arus era digital mengalir begitu saja, tetapi berbicara mengenai bagaimana cara mengontrol arus digital itu sendiri. Dari hal tersebut, arsitektur berbicara tentang cara untuk memenuhi kebutuhan komunitas digital sebagai sarana eksistensi mereka. Karena bagaimanapun juga manusia tetap membutuhkan sifat komunikasi face-to-face yang melalui proses secara primer. Melalui isu tersebut, Setiabudi merupakan salah satu kawasan yang cocok dengan isu sosial digital dan individualisme yang kini berkembang dengan cepat di kawasan tersebut. Pendekatan penyelesaian masalah tersebut melalui pendekatan teori third place dalam arsitektur. Dengan memperhatikan kondisi sosial-ekonomi dan kebiasaan warga sekitar serta fenomena-fenomena yang ada, dapat ditemukan penyelesaian masalah yang selaras dengan perkembangan industri 4.0, yaitu melalui pembangunan fasilitas arena olahraga elektronik yang bersifat third place di kawasan tersebut.
TEMPAT PEMANDIAN UMUM Charlene Vitricia; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6858

Abstract

When talking about designing a 3rd place, the first question that came up was “how can we gather various people from different backgrounds, homes, and workplaces into one (same) place? Thing that drives or motivates someone to do something (in this case going to our place) is their wants and needs. Based on A theory of motivation by Abraham Maslow, individuals’ most basic needs must be met before they become motivated to achieve higher level needs. The reason behind this proposal is because currently, we’re facing a crisis of one of our physiological needs, WATER. In 2040 we’re going to lose all source of clean water in Jakarta. Even now the source of water coming from Jakarta is only 3% and the rest originated from Tangerang and Jatiluhur reservoirs. The government through the PDAM is not able to meet all the water needs in Jakarta, so that more than 40% of Jakarta citizen don’t have other choices, except using ground water which lead to another threat, land subsidence which has threatened to sink Jakarta due to groundwater exploitation and increase of high-rise buildings. Our poor water system management, and wasteful lifestyle bring us closer to the disaster for sure. This project aim to answer social needs (third place) which can be categorized at the 'third level' (in Maslow's hierarchy of motivation theory), through answering an issue of ‘lowest level of needs' first, the physiology needs through ‘Public Bath’ project. By chasing their needs we could create more potential chances for people to intersect each other and achieve the real 3rd place. AbstrakProjek ini mengangkat tema open architecture as a third place, yang kemudian memunculkan sebuah pertanyaan “Bagaimana kita dapat menyatukan beragam orang dari latar belakang yang berbeda ke suatu tempat yang sama?” Pada dasarnya, hal yang menjadi penggerak ataupun motivator bagi seseorang untuk melakukan sesuatu adalah keinginan (needs) dan kebutuhan (wants) individu itu sendiri. Berdasarkan makalah “A Theory of Motivation” dari Abraham Maslow, setiap individu cenderung memenuhi kebutuhan paling dasar sebelum memenuhi kebutuhan di tingkat atasnya. Kondisi beberapa wilayah di Indonesia, khususnya Jakarta sedang menuju krisis salah satu kebutuhan fisiologi, yaitu Air. Jakarta terancam kehilangan seluruh sumber air bersih pada tahun 2040. Bahkan saat ini sumber air yang berasal dari Jakarta hanya 3% dan sisanya berasal dari Tangerang dan waduk Jatiluhur. Pemerintah melalui PDAM tidak mampu memenuhi seluruh kebutuhan air di Jakarta, sehingga lebih dari 40% masyarakat Jakarta harus menggunakan air tanah yang kemudian menimbulkan ancaman kedua yaitu terjadinya penurunan muka tanah yang menyebabkan terancam tenggelamnya Jakarta akibat exploitasi air tanah dan meningkatnya bangunan tinggi. Proyek ini berusaha menjawab kebutuhan sosial (third place) yang dapat dikategorikan pada ‘tingkat ketiga’ (dalam teori hierarki kebutuhan Maslow), melalui penjawaban dari sebuah isu ‘kebutuhan tingkat pertama’ terlebih dahulu, yaitu kebutuhan fisiologi melalui projek ‘Tempat Pemandian Umum’. Dengan mengejar kebutuhan masyarakat, kita dapat menciptakan potensi – potensi titik pertemuan antar individu dan mencapai tempat ketiga yang sesungguhnya.
REDESIGN RUSUNAWA BENHIL 1 DI BENDUNGAN HILIR Richard Jackson Lieando; Diah Anggraini
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4457

Abstract

The city of Jakarta as the capital city of the Republic of Indonesia has very fast development and progress in various fields and sectors such as social, economic, cultural and political. Because of the attraction caused by Jakarta, people from other cities came to Jakarta to find better jobs or education. This triggered urbanization which caused the population density of Jakarta to increase every year. With the increase in population, the need for housing has also increased. To overcome residential problems, especially for the Millennial group, which currently has a significant amount, a program that can solve the problem is planned. Considering that Jakarta's land has become less, the design of buildings must be effective but not to forget the architectural aspects. The target users of this project are millennial MBR groups (low income people), so this study is preceded by a study of the characteristics of the millennial group. This understanding will be considered in the design process of residential buildings. The design method in this project refers to the typology study approach and how to create buildings and environments that are in accordance with their wishes. This study resulted in the principle of residential design for millennials belonging to the low income group.AbstrakKota Jakarta sebagai Ibu Kota negara Republik Indonesia memiliki perkembangan dan kemajuan yang sangat pesat di berbagai bidang dan sektor seperti sosial, ekonomi, budaya dan politik. Karena daya tarik yang ditimbulkan oleh Jakarta, masyarakat dari kota lain berbondong-bondong pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan ataupun pendidikan yang lebih baik. Hal tersebut memicu urbanisasi yang menyebabkan jumlah dan kepadatan penduduk Jakarta meningkat setiap tahunnya. Dengan peningkatan jumlah penduduk maka kebutuhan akan hunian juga meningkat. Untuk mengatasi masalah hunian terutama bagi kelompok Millennial yang saat ini berjumlah cukup signifikan, Maka di rencakan program yang bisa mengatasi masalah tersebut. Mengingat  lahan Jakarta sudah semakin sedikit maka desain dari bangunan harus efektif namun tidak melupakan aspek-aspek arsitektur. Target pengguna dari proyek ini adalah millenial golongan MBR (masyarakat berpenghasilan rendah), maka studi ini didahului dengan kajian tentang ciri karakteristik kelompok millennial. Pemahaman tersebut akan dipertimbangkan dalam proses penyusunan konsep perancangan bangunan hunian. Metode perancangan pada proyek ini mengacu pada pendekatanstudi tipologi dan bagaimana menciptakan bangunan serta lingkungan yang sesuai dengan keinginan mereka. Studi ini  menghasilkan prinsip perancangan hunian bagi kaum millenial yang masuk dalam golongan berpenghasilan rendah.

Page 44 of 134 | Total Record : 1332