cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PAGELARAN SENI TARI INDONESIA Siti Nuryani; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.4020

Abstract

Ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap seni dan budaya tradisional saat ini mulai memudar, terutama seni tari tradisional, sebagai contoh Jakarta. Jakarta sebagai daerah tujuan wisata semakin pesat dan meluas, hal yang paling menonjol dari pariwisata Kota Jakarta adalah sejarah dan belanja. Kawasan Senen, Jakarta Pusat merupakan kawasan yang memiliki sejarah melekat tentang Seniman Senen. Namun kondisi Kawasan Senen sudah tidak lagi memberikan ruang untuk para senimannya mengekpresikan dirinya, untuk itulah perlu di buat sebuah ruang yang dapat menampung kegiatan para seniman di kawasan ini. Pagelaran Seni Tari Indonesia yang dirancang di Kawasan Senen, Jakarta Pusat bertujuan untuk mendongkrak dan ‘memperkenalkan kembali’ tarian tradisional Indonesia kepada masyarakat Indonesia. Dengan mengadakan kembali aktivitas yang hilang ‘Pagelaran Seni Tari Indonesia’ merupakan sebuah ruang pertunjukan yang menampilkan berbagai macam tarian daerah yang berbeda, yang dilengkapi dengan ruang-ruang pendukung sebagai sarana melestarikan seni tari tradisional dengan menciptakan ruang yang modern namun tidak kehilangan nuansa tradisionalnya, dan dilengkapi dengan rencana penataan ruang terbuka hijau untuk mewadahi program aktivitas kesenian budaya bagi para seniman yang tidak memiliki wadah untuk mengekpresikan dirinya. Adapun yang menjadi target adalah : wisatawan mancanegara/lokal, pengunjung dalam dan luar kota Jakarta, serta masyarakat sekitar. Sehingga dengan dibangunnya Pagelaran Seni Tari Indonesia di kawasan ini diharapkan dapat memunculkan kembali kesenian tradisional ke tengah kota yang sudah mulai melemah kecintaannya terhadap seni tradisional, khususnya di Kawasan Senen yang sudah kehilangan jati dirinya sebagai kawasan seniman.  
PERENCANAAN KAWASAN EKO-WISATA TAMAN ASTOR, KABUPATEN BOGOR Steven Joe; Suryono Herlambang; I.G. Oka Sindhu Pribadi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8883

Abstract

AbstrackPerum Perhutani, is a State-Owned Enterprise in charge of managing forest areas for the benefit of preservation and public benefit. Within the Perhutani management area, many areas also function as tourist areas. One of them is the Taman Astor tourist area in Tenjo District, Bogor Regency, which is currently under the management of Perum Perhutani KPH Bogor. Even though it has high tourism potential, Taman Astor still has few visitors. This is due to the concept of a tourist park that is less focused and the supporting facilities provided in the  area are limited. To improve the quality of the area and the quantity of visitors, this study is carried out in various stages of the planning process: starting with a comparative study and SWOT analysis, followed by a series of technical analyzes, such as: site and place analysis, analysis of tourist attractions, analysis of best practice (case study) , space requirements analysis, to produce the Taman Astor Tourism Development Concept with the Ecotourism concept. This concept emphasizes, in addition to adding natural and recreational tourism attractions, it also pays attention to the principles of forest conservation and the involvement of the surrounding community in the use and management of the area. Keywords: land use of Perum Perhutani, the concept of eco-tourism, nature recreation, forest preservation atau conservation, involvement of the surrounding communityAbstrakPerum Perhutani, adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bertugas mengelola area hutan untuk kepentingan pelestarian dan kemanfaatan umum. Dalam wilayah pengelolaan Perhutani, banyak area yang juga berfungsi sebagai kawasan wisata. Salah satu adalah kawasan wisata Taman Astor yang berada di Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor, yang saat ini di bawah pengelolaan Perum Perhutani KPH Bogor. Meskipun memiliki potensi wisata yang tinggi, Taman Astor masih sedikit pengunjungnya. Hal ini disebabkan konsep taman wisata yang kurang terarah dan terbatasnya fasilitas penunjang yang disediakan di area tersebut. Untuk meningkatkan kualitas kawasan dan kuantitas pengunjung, studi ini dilakukan dengan berbagai tahapan proses perencanaan: diawali dengan studi komparasi dan analisis SWOT, dilanjutkan dengan rangkaian analisis teknis, seperti: analisis lokasi dan tapak, analisis daya tarik wisata, analisis best practice (studi kasus), analisis kebutuhan ruang, untuk menghasilkan Konsep Pengembangan Wisata Taman Astor dengan konsep Ekowisata. Konsep ini menekankan, selain penambahan atraksi wisata alam dan rekreasi juga memperhatikan prinsip-prinsip konservasi hutan dan pelibatan masyarakat sekitar dalam pemanfaatan dan pengelolaan kawasan. 
PERANCANGAN TEMPAT BELAJAR DI TANJUNG DUREN DENGAN PENDEKATAN OPEN ARCHITECTURE SEBAGAI RUANG KETIGA Harisno Coandy Wibowo; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6769

Abstract

Jakarta's monotonous life between home/ first place and workplace/ second place needs a place for us to get out of this routine. Therefore the third place comes as an alternative to eliminate the boredom caused by Jakarta. A good third place is a third place that can have a positive impact on users. The need for limited learning tools in schools results in students feeling bored and looking for other places to learn. Therefore the project taken is a social forum in the form of a place of learning for students an the community. This place of learning will certainly be a place for students to learn and space for the community to relax or conduct dialogues until training. The approach of this project is sharing where people from various groups can share knowledge, so that people gain knowledge not by reading, but by dialogue. In designing this project the designer re-examines what is meant by “learning”. This project brings all kinds of learning methods that we know into a single unit. Learning does not have to be by reading book, learning can be done by dialogue while eating relaxed. Learning does not have to sit in front of a desk, learning can be done by walking. Learning does not have to be “safe”, learning can be done by giving a sense of danger. The presence of this building is expected to improve the quality of life of the community, especially in terms of education in the Tanjung Duren and surrounding areas. Thus creating a better state life than before. AbstrakKehidupan Jakarta yang monoton antara rumah/ tempat pertama dan tempat kerja/ tempat kedua membutuhkan wadah untuk kita keluar dari rutinitas tersebut. Maka dari itu tempat ketiga (third place) hadir menjadi salah satu alternatif untuk menghilangkan kejenuhan yang ditimbulkan Jakarta. Third place yang baik adalah third place yang dapat memberikan dampak positif bagi penggunanya. Kebutuhan akan sarana belajar yang terbatas pada sekolah-sekolah mengakibatkan siswa merasa jenuh dan mencari tempat belajar lain. Oleh karena itu proyek yang diambil adalah sebuah wadah sosial berupa tempat belajar bagi siswa dan masyarakat. Tempat belajar ini tentunya akan menjadi wadah bagi siswa untuk belajar dan ruang bagi masyarakat untuk bersantai ataupun melakukan dialog sampai pelatihan. Pendekatan proyek ini ialah sharing dimana masyarakat dari berbagai kalangan dapat saling berbagi pengetahuan, sehingga masyarakat memperoleh ilmu bukan dengan cara membaca, tetapi dengan cara berdialog. Dalam perancangannya proyek ini  perancang menelisik kembali apa yang dimaksudkan dengan “belajar”. Proyek ini membawa segala macam metode belajar yang kita kenal menjadi satu kesatuan. Belajar tidak harus dengan membaca buku, belajar dapat dilakukan dengan berdialog sambil makan santai. Belajar tidak harus duduk di depan meja, belajar dapat dilakukan dengan berjalan. Belajar tidak harus dengan “aman”, belajar dapat dilakukan dengan memberikan rasa bahaya. Dengan hadirnya bangunan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat terutama dalam hal pendidikan di wilayah Tanjung Duren dan sekitarnya. Sehingga menciptakan kehidupan bernegara yang lebih baik dari sebelumnya.
SEKOLAH DASAR KONTEMPORER DENGAN FLEKSIBILITAS DAN KONEKTIVITAS RUANG SEBAGAI STRATEGI DESAIN Martha Paramitha Maeliva; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4433

Abstract

Information and Communication Technology has always been part of the lives of millennials, generation Z and Alpha, a significant difference in the learning process compared to previous generations. In the current educational environment, the meaning of "knowing" has shifted from being able to remember and repeat information to being able to find and use it. In an era with rapid technological development, student-centered learning environments are more constructivist and flexible and more suitable for building student’s knowledge. To prepare students for success in the development of the knowledge economy, new developments in the education system and learning environment are needed. The learning model in terms of curriculum, room quality, space configuration, and the program is adapted to the millennial teachers teaching behavior and generation Z and alpha students learning behavior so as to produce a collaborative learning environment between the millennial generation as teachers and generation Z and alpha as students. Contemporary schools with design strategies that provide flexibility, connectivity, freedom, space for social interaction and the education of their students. Curiculum and space programs that provide innovative elementary learning programs for indoor and outdoor play and learning taking into account children's physical, cognitive, emotional and social developmental aspects. Contemporary Elementary School is a mandatory formal education institution for children aged 7-12 years with a 6 years term that integrates contemporary education methods in the perspective of millennial, Z and Alpha.
FASILITAS PENGGEMAR PAKAIAN EKONOMIS Alvin Alvin; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8479

Abstract

As time goes by, people, especially in urban areas, tend to have individualistic characteristics due to their busy daily routines. Where most of the time spent at work, home or shopping centers. Humans as social creatures who should socialize and interact with others to meet social needs. To meet social needs in the current modern era, it takes a social container that can accommodate the activities of the surrounding community. So that people can meet with each other, socialize and also interact through these social media platforms. Central Jakarta, precisely in the Senen Area, there is the Senen Market which is one of the historic / iconic buildings known as a dense place for trade activities, namely trade / services, namely the Senen Market, known as the Thrift center in Jakarta today, the community center can search clothes at economical prices. However, the daily life of the Senen people tends to only sell clothes that saturate the Senen community so that the Senen Market is now fading. As well as Senen, there are very few entertainment venues in the Senen Region, causing the Senen economy to decline. This is also related to Malcolm Barnard's theory that clothing can be a verbal and non-verbal communication tool that can later restore Senen area to an area where people do not trade but can interact, socialize, and hone the creativity of the Clothing Fan Facility Economical. Where this project aims to support the Senen Market also reduces the saturation of the Senen Market residents in their daily business activities as well as to facilitate the needs of service users at the Senen Bus Station. This project is also intended as a forum for Thrift communities and the surrounding arts to interact with other communities and can also show the works / history of economic clothing that people will see and buy so that not only trading, but the public can learn and understand the meaning of the clothes which finally triggers the community to interact, socialize, and hone their creativity. Keywords:  clothing; Pasar Senen; ThriftAbstrakSeiring perkembangannya zaman, masyarakat khususnya di perkotaan cenderung memiliki sifat yang individualis dikarenakan rutinitas sehari-hari yang padat. Dimana sebagian besar waktu dihabiskan di tempat kerja, rumah ataupun pusat perbelanjaan. Manusia sebagai makhluk sosial yang seharusnya bersosialisasi dan berinteraksi dengan sesama untuk memenuhi kebutuhan sosial. Untuk memenuhi kebutuhan sosial di era modern saat ini, dibutuhkan wadah sosial yang dapat menampung aktivitas-aktivitas masyarakat sekitar. Sehingga masyarakat dapat saling bertemu, bersosialisasi dan juga berinteraksi melalui media wadah sosial tersebut. Jakarta Pusat, tepatnya di Kawasan Senen, terdapat Pasar Senen yang merupakan salah satu bangunan yang bersejarah / ikonik  yang dikenal sebagai tempat yang padat akan aktivitas berniaganya yaitu perdagangan / jasa yaitu Pasar Senen , dikenal sebagai pusat thrift di Jakarta saat ini yaitu pusat masyarakat dapat mencari pakaian dengan harga yang ekonomis. Akan tetapi keseharian masyarakat Senen cenderung hanya menjual pakaian saja membuat jenuh masyarakat Senen sehingga Pasar Senen kini meredup. Serta Senen terdapat minim sekali tempat hiburan yang terdapat di Kawasan Senen sehingga menimbulkan perekonomian Senen menurun. Hal ini berkaitan juga dengan teori dari Malcolm Barnard bahwa pakaian dapat menjadi sebuah alat komunikasi baik verbal maupun non-verbal yang nantinya dapat memulihkan kembali kawasan Senen menjadi Kawasan yang masyarakatnya tidak berdagang saja akan tetapi dapat berinteraksi, bersosialisasi, serta mengasah kreatifitas dari Fasilitas Penggemar Pakaian Ekonomis. Dimana Proyek ini bertujuan untuk menunjang Pasar Senen juga mengurangi kejenuhan penghuni Pasar Senen dalam kegiatan berniaganya sehari-hari juga untuk memfasilitasi kebutuhan pengguna jasa di Stasiun Bus Senen. Proyek ini juga ditujukan sebagai wadah bagi komunitas-komunitas thrift maupun seni sekitar untuk berinteraksi dengan komunitas lainnya dan juga dapat menunjukan karya-karya / sejarah dari pakaian ekonomis yang masyarakat akan lihat dan beli sehingga tidak hanya berdagang saja , akan tetapi masyarakat dapat mempelajari dan memahami arti dari pakaian tersebut yang akhirnya memicu masyarakat untuk berinteraksi, bersosialisasi, serta mengasah kreatifitas mereka.
KOMUNITAS LA PIAZZA Arnold Christianto Oenang; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6711

Abstract

Humans are social creatures who need the presence of others to complete their lives and have a place to do these activities. These needs are then the background for the formation of public space. With the changing times and technology, the need for a public space to do more and more activities. The space is referred to as the Third place by sociologist Ray Oldenburg. La Piazza is one place that can be called a Third place, but the place was closed because it was not going well. The purpose of this design is to reactivate the function of La Piazza as a Third place in Kelapa Gading. La Piazza Third place has a new design that emphasizes the concept of open architecture and architecture for the Third place as well as the concept of forests. so the design of the new building in addition to having spaces that are open to the public and community space, also gives the impression of being open and inviting as well as cool and calm. In this project, some existing structures in the old building were reused, such as basements, connectors to the parking building, connectors to the ivory coconut mall, and structures from the existing northern La Piazza building. There are 3 forest elements applied to buildings, namely water, greenery and sunlight. These 3 things can relax people with a lot of thoughts and stress about work, especially those who work in offices, according to Regent's University London research. Abstrak Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan kehadiran orang lain untuk melengkapi hidupnya dan memiliki tempat untuk melakukan aktifitas tersebut. Kebutuhan inilah yang kemudian yang menjadi latar belakang terbentuknya ruang publik. Dengan adanya perkembangan jaman dan teknologi, kebutuhan akan sebuah ruang publik untuk melakukan aktivitas semakin banyak. Ruang tersebut disebut sebagai tempat ketiga oleh sosiologis Ray Oldenburg. La Piazza merupakan salah satu tempat yang dapat disebut sebagai tempat ketiga, namun tempat tersebut ditutup karena kurang berjalan dengan baik. Tujuan desain ini untuk mengaktifkan kembali fungsi La Piazza sebagai tempat ketiga di Kelapa Gading. La Piazza Third place memiliki desain yang baru mengutamakan konsep open architecture dan architecture for the Third place juga konsep hutan. sehingga desain pada bangunan baru selain memiliki ruang - ruang yang terbuka untuk umum dan ruang komunitas, juga memberikan kesan terbuka dan mengundang serta sejuk dan tenang. Dalam proyek ini beberapa struktur eksisting pada bangunan lama digunakan kembali, seperti basement, konektor menuju gedung parkir, konektor menuju mall kelapa gading, dan struktur dari eksisting gedung La Piazza bagian utara.  Terdapat 3 elemen hutan yang diterapkan pada bangunan, yaitu air, tanaman hijau dan cahaya matahari. 3 hal tersebut dapat merelaksasi orang yang sedang banyak pikiran dan stress akan pekerjaan khususnya orang - orang yang bekerja di kantoran, menurut penelitian regent's university london.
REVITALISASI SITU TIPAR SEBAGAI WISATA BARU DI KOTA DEPOK Binsar Farel Mohamad; Priyendiswara Agustina Bela; Parino Rahardjo; Regina Suryadjaja
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.11307

Abstract

Depok city has now developed into one of the cities that experienced quite high growth in the JABODETABEK area. For the people of the city itself a comfortable city can not be met only with infrastructure development, but also required public space to interact and socialize one of them by utilizing the natural potential that exists as a recreational facility. Lake as a natural beauty with the form of protected areas has a function as a water importer (recharge) in groundwater basins, clean water reserves, land fisheries and recreational facilities. Situ Tipar is one of the four that is being prioritized to improve competitiveness in 2020. But for the existing condition of Situ Tipar still has some problems, namely the misuse of the border there, the lack of quality and quantity of public facilities and existing conditions that are not maintained so that the lake has not been able to facilitate tourists who come to Situ Tipar. On this basis, this research was carried out to provide recommendations to the government and surrounding residents to organize areas that improve the quality of Tipar in accordance with its function and positive impacts that can prosper the surrounding residents. This research refers to existing data and combined with the study of government and empirical regulations. The analysis method that the author uses is policy analysis, location, footprint, tourist attraction and best practices with descriptive analysis tools, SWOT and benchmarking Keywords:  City; Recreation; Situ AbstrakKota Depok kini telah berkembang menjadi salah satu kota yang mengalami pertumbuhan cukup tinggi di wilayah Jabodetabek. Bagi masyarakat kota sendiri kota yang nyaman tidak dapat terpenuhi hanya dengan pembangunan infrastruktur, tapi juga diperlukan ruang publik untuk berinteraksi dan bersosialisasi salah satunya dengan memanfaatkan potensi alam yang ada sebagai sarana rekreasi. Situ sebagai keindahan alam dengan bentuk kawasan lindung mempunyai fungsi sebagai pengimbuh (recharge) air pada cekungan air tanah, cadangan air bersih, perikanan darat serta sarana rekreasi. Situ Tipar merupakan salah satu situ dari empat situ yang sedang diprioritaskan pengembangunannya guna meningkatkan daya saing pada tahun 2020 ini. Namun untuk kondisi eksisting Situ Tipar masih memiliki beberapa permasalahan yaitu adanya penyalahgunaan sempadan situ, masih minimnya kualitas dan kuantitas fasilitas umum serta kondisi eksisting yang tidak terawat sehingga belum dapat memfasilitasi wisatawan yang datang ke Situ Tipar. Atas dasar tersebut maka penelitian ini dilakukan guna memberikan rekomendasi kepada pemerintah serta warga sekitar untuk melakukan penataan kawasan yang bersifat meningkatkan kualitas situ Tipar sesuai dengan fungsinya serta dampak positif yang dapat mensejahterakan warga sekitar. Penelitian ini mengacu kepada data eksisting dan dipadu dengan kajian peraturan pemerintah dan empiris. Adapun metode analisis yang penulis pakai adalah analisis kebijakan, lokasi, tapak, daya tarik wisata dan best practices dengan alat analisis deskriptif, SWOT dan benchmarking.
MENTRANSFORMASIKAN SANG HEDONIS Ansyla Arsita; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3804

Abstract

Pariwisata dan Arsitektur bagi kota merupakan elemen penting yang sangat berpengaruh. Beda dengan area rural yang daya tariknya berasal dari alam, kota merupakan area yang didominasi oleh bangunan sehingga aktivitas di area kota tidak bisa lepas dari bangunan dan hal ini ditopang oleh arsitektur. Arsitektur dalam kota memiliki dua peran, hal ini dikemukakan oleh Jan Specht, yaitu Arsitektur Wisata dan Wisata Arsitektur. Membawa konsep Architourism ke dalam konteks Metropolis akan memberikan tantangan kepada penulis dalam menerapkan pendekatan Tourism Architecture. Untuk itu dalam merancang sebuah program wisata di area Metropolis, penulis akan berhadapan dengan kompleksitas karakter-karakter tersebut, guna menghasilkan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat metropolis. Dengan ini penulis mengangkat isu mengenai paham duniawi, dimana paham duniawi ini memiliki tiga bagian yaitu Konsumerisme, Hedonisme, dan Sekuralisasi. Penulis mengangkat isu ini karena ingin menghadirkan sebuah wisata rohani ditengah kota jakarta yang penuh dengan orang-orang yang menganut paham duniawi. Proyek ini ditujukan dan diharapkan agar para penggunanya dapat sadar mengenai prihal paham duniawi, sehingga kehidupan mereka dapat menjadi lebih baik dan berarti.
STASIUN RELAKSASI Felicia Setiawan; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10837

Abstract

Jakarta is a city that is included in the 150 most stressful cities in the world and Jakarta is in the 6th position as the most stressful city in the world. Stress has become an inherent issue in big cities and Jakarta is one of these cities. People in Indonesia, especially in Jakarta, still underestimate mental health. Because people who experience and feel stress do not have the right place to treat stress. So that the impact of untreated stress can have a negative impact on the individual and the people around. By providing a place to pay more attention to stress problems in Jakarta, it is hoped that people will no longer be taboo in consulting and treating stress problems experienced by someone. So that the relaxation station is a program that is offered to provide a healing process for people who are experiencing stress, especially in the city of Jakarta, so that people who undergo the healing process at this relaxation station are expected to achieve mental and physical relaxation and can reduce significant stress levels for their visitors. The use of the biophilic design method in this design is very important in healing to reduce stress levels in a person. Apart from using the biophilic design method, the concept of architecture and the sense is also used where this concept involves the human senses to participate in reducing stress mentally and psychologically. Keywords:  Biophilic Design; Healing; Relaxation; Stress AbstrakJakarta merupakan kota yang termasuk ke dalam 150 kota paling stress di dunia dan Jakarta berada di urutan ke 6 sebagai kota paling stress di dunia. Stress sudah menjadi sebuah isu yang melekat di perkotaan besar dan jakarta salah satu kota tersebut. Masyarakat di Indonesia khususnya di Jakarta ini masih memandang kesehatan mental secara sebelah mata. Karena orang-orang yang mengalami dan merasakan stress tidak memiliki wadah yang tepat untuk mengobati rasa stress tersebut. Sehingga dampak stres yang tidak diobati dapat berdampak buruk terhadap individu maupun orang-orang disekitarnya. Dengan memberikan wadah untuk lebih memperhatikan masalah stress di Jakarta ini, diharapkan orang-orang tidak lagi tabu dalam mengkonsultasikan dan mengobati masalah stress yang di alami seseorang. Sehingga stasiun relaksasi merupakan program yang ditawarkan untuk memberikan proses healing kepada orang-orang yang mengalami stress khususnya di kota Jakarta sehingga orang yang menjalani proses healing di stasiun relaksasi ini diharapkan akan mencapai relaksasi secara pikiran dan fisik dan dapat mengurangi tingat stress yang signifikan untuk para pengunjungnya. Penggunaan metode biophilic design pada perancangan ini sangat berperan penting dalam healing untuk menurunkan tingkat stress pada seseorang. Selain menggunakan metode biophilic design di gunakan juga konsep architecture and the sense dimana konsep ini melibatkan indra dari manusia untuk ikut dalam menurunkan stress secara mental dan psikologis.
RUANG PERTUNJUKAN SENI DI BLOK M Gary Cantonna Tamin; Petrus Rudi Kasimun
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6855

Abstract

As time goes by, people, especially in urban areas, tend to have individualistic characteristics due to their busy daily routines. Where most of the time spent at work, home or shopping centers. Humans as social creatures who should socialize and interact with others to meet social needs. To meet social needs in the current modern era, it takes a social container that can accommodate the activities of the surrounding community. So that people can meet with each other, socialize and also interact through these social media platforms. South Jakarta, precisely in the Blok M area, was known as a place for the gathering of young people of its time. However, at this time Blok M has begun to be abandoned by the community because other regions have more adequate gathering places. Blok M is an area that has a lot of art communities, such as street buskers, Japanese communities, contemporary music and much more. According to Richard Florida, creative people have the desire to do creative things and also get together with other creative people. This has a continuity where The Third place according to Ray Oldenburg, is a place where people can gather and interact with one another to meet their social needs. Blok M is an area that has a lot of art communities, such as street buskers, Japanese communities, contemporary music and much more. Blok M Performing Arts Space is present as the third space or "The Third place" and also as a place to show and hone creativity, where people can gather, interact and move with each other. This project is also intended as a forum for surrounding communities to interact with other communities and also can show their works to the wider community, so there is a reciprocal relationship between the community and the local community. Did not rule out the possibility of also triggering collaboration between these communities, thus bringing up a new and unique collaborative performing arts performance. Abstrak Seiring perkembangannya zaman, masyarakat khususnya di perkotaan cenderung memiliki sifat yang individualis dikarenakan rutinitas sehari-hari yang padat. Dimana sebagian besar waktu dihabiskan di tempat kerja, rumah ataupun pusat perbelanjaan. Manusia sebagai makhluk sosial yang seharusnya bersosialisasi dan berinteraksi dengan sesama untuk memenuhi kebutuhan sosial. Untuk memenuhi kebutuhan sosial di era modern saat ini, dibutuhkan wadah sosial yang dapat menampung aktivitas-aktivitas masyarakat sekitar. Sehingga masyarakat dapat saling bertemu, bersosialisasi dan juga berinteraksi melalui media wadah sosial tersebut. Jakarta Selatan, tepatnya di kawasan Blok M, dikenal sebagai tempat perkumpulan anak-anak muda pada zamannya. Namun, pada saat ini Blok M mulai ditinggalkan oleh masyarakat dikarenakan kawasan-kawasan lain mempunyai tempat berkumpul yang lebih memadai. Blok M merupakan kawasan yang memiliki banyak sekali komunitas seni, seperti pengamen jalanan, komunitas Jepang, musik kontemporer dan masih banyak lagi. Menurut Richard Florida, orang-orang kreatif mempunyai keinginan untuk melakukan hal-hal yang kreatif dan juga berkumpul dengan orang-orang kreatif lainnya. Hal ini mempunyai kesinambungan dimana The Third place menurut Ray Oldenburg, merupakan sebuah tempat dimana orang-orang dapat berkumpul dan saling berinteraksi untuk memenuhi kebutuhan sosial mereka. Blok M merupakan kawasan yang memiliki banyak sekali komunitas seni, seperti pengamen jalanan, komunitas Jepang, musik kontemporer dan masih banyak lagi. Ruang Pertunjukan Seni Blok M hadir sebagai ruang ketiga atau “The Third place” dan juga sebagai tempat untuk menunjukan dan mengasah kreatifitas , dimana masyarakat dapat berkumpul, berinteraksi dan beraktivitas dengan sesamanya.Proyek ini juga ditujukan sebagai wadah bagi komunitas-komunitas sekitar untuk berinteraksi dengan komunitas lainnya dan juga dapat menunjukan karya-karya mereka ke masyarakat luas, sehingga terjadi hubungan timbal balik antara masyarakat dengan komunitas setempat. Tidak menutup kemungkinan juga memicu timbulnya kolaborasi antara komunitas-komunitas tersebut, sehingga memunculkan sebuah karya pertunjukan seni kolaborasi yang baru dan unik. 

Page 46 of 134 | Total Record : 1332