cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
FASILITAS MATERIAL BANGUNAN INTERAKTIF DI PINANGSIA Kelvin Julianto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8546

Abstract

Pinangsia is a business district in West Jakarta that known as the center of economy from a long time ago. Now, Pinangsia is known as a place that sell building material. People from Pinangsia has an unique habit of leaving Pinangsia after business closing hour. Pinangsia doesn’t have another activity or function after business closing hour and leaves the district to become a dark and silent place. This situation causing the crime rate in Pinangsia to rise and change the community character from social to individualist and become caution with each other. If this condition doesn’t change, Pinangsia will become a dead and danger area at night. The purpose of this project is to revive the night activity in Pinangsia, and change the community character from individualist back to socialist who care about each other. The design method of this project start from collecting data by observation and urban study, the next step is analysing the data and design the building by referencing pattern language method. The goal of the project is creating a third place that use pinangsia’s genius loci such as building material and interactive technology as the main concept. Interactive Third Place will help the community to socialize with each other through games about  building material as the image of Pinangsia. Keywords:  interactive building material; Pinangsia; third placeAbstrakPinangsia adalah kawasan bisnis di Jakarta Barat yang terkenal sebagai kawasan sentra ekonomi sejak zaman dahulu. Pinangsia yang terkenal akan pusat perdagangan material bangunan di Jakarta, mempunyai pola penduduk yang memilih untuk berpindah meninggalkan kawasan saat aktivitas perdagangan sudah selesai. Pinangsia tidak memiliki fungsi dan aktivitas lain yang dapat menghidupkan kawasan saat malam hari. Hal ini berdampak kepada meningkatnya angka kriminalitas saat malam di kawasan Pinangsia, serta merubah sifat penduduk yang bertempat tinggal disana menjadi tertutup dan individualistis. Jika hal ini terus berlanjut, mungkin saja kawasan Pinangsia akan benar – benar menjadi kota mati di malam hari. Tujuan dari proyek ini adalah menghidupkan aktivitas masyarakat Pinangsia di malam hari, dan merubah sikap masyarakat dari tertutup dan individualis menjadi terbuka dan sosial satu dengan yang lainnya. Metode perancangan dan desain dari proyek ini dimulai dari mengumpulkan data menggunakan observasi dan studi kota, tahap berikutnya berupa analisis data dan perancangan yang mengacu kepada metode pattern language. Hasil dari perancangan ini adalah proyek third place yang mempunyai konsep yang mengambil tema Material Bangunan sebagai genius loci kawasan dan dikemas dalam teknologi interaktif. Third place interaktif akan membantu masyarakat dalam bersosialisasi lewat permainan yang menyenangkan berkaitan dengan material bangunan sebagai citra kawasan yang harus dipertahankan.  
RUANG KONSOLIDASI MASYARAKAT Helena Andriani; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6781

Abstract

The construction of shopping centers in Jakarta has skyrocketed in the past few years. The proliferation of shopping centers mainly caused by shopping centers has been the main destination for visitors , wanting an all in one solution for entertainment. This project aims to offer a new space allowing its visitor to network, increase social interaction and strenghten the bonds between one another. Entertainment facilities can certainly be developed not only in the form of shopping centers, but into something that is packaged attractively and strengthens the relationship between visitors and visitors who live nearby. By creating an new form of entertainment facilities located in the middle of residential areas, it is expected to create the true third place in Kelapa Gading area, so that residents can come, play and use the facilities as a way to network with one another. AbstrakPembangunan pusat perbelanjaan di Jakarta meroket beberapa tahun terakhir. Menjamurnya pusat perbelanjaan ini dikarenakan pusat perbelanjaan atau shopping center menjadi tujuan utama bagi pengunjungnya yang ingin mencari entertainment atau sarana hiburan lainnya. Proyek ini bertujuan untuk menawarkan sebuah wadah dimana pengunjung dapat memperluas koneksi, meningkatkan interaksi sosial dan mempererat hubungan antara satu penduduk dengan lainnya. Fasilitas hiburan tentunya bisa dikembangkan tidak hanya berupa pusat perbelanjaan, melainkan menjadi sesuatu yang dikemas menarik dan memperkuat hubungan antar pengunjungnya dan pengunjung yang tinggal disekitarnya. Dengan membuat fasilitas hiburan yang terletak di tengah pemukiman warga, diharapkan bisa mempererat hubungan antar penduduk sehingga penduduk dengan datang, bermain dan menggunakan fasilitas sebagai salah satu cara untuk networking satu dengan yang lainnya.
THE DYNAMIC OF ADAPTIVE SHELTER: SEBUAH WADAH ADAPTIF-DINAMIS DI KAMPUNG NELAYAN, KAMAL MUARA Fransisca Handayani; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10752

Abstract

"Dwelling" basically means living in a place. However, Dwelling itself has a broader meaning when we understand how humans decided to inhabit. In the book The Nature of Order, Christopher Alexander says "Dwelling is Living-Structure" which means to live is a life participating in a living-structure. This quote directly describes a relationship between nature and humans in the process of living. Seeing the conditions that exist in the world today, there are many aspects that can affect the way humans will live in the future. One of the problems that humans have to face is climate change which causes sea level rise. Realizing that humans must face these events and know that in reality, humans cannot be separated from their natural surroundings, "The Dynamic of Adaptive Shelter" was designed with the aim of wanting to unite aspects of habitation (especially nature and humans) as well as provide solutions for buildings that are adaptive to sea level rise. Located in Kamal Muara, North Jakarta, this project begins by studying the selected site, community activities, the shape of the buildings around the site, as well as the natural characteristics around the site, as a method that refers to a quote from Martin Heidegger's book about "the thing It-self". Referring to the results of the selected site, this project is complemented with programs that are suitable for the activities of the residents of the area and have been developed with systems which can adapt to the issue of sea level rise. Keywords:  Adaptive-Dynamic; Coastal; Dwelling; Fishermen ; Sea Level Rise Abstrak“Dwelling” atau Berhuni pada dasarnya memiliki arti hidup pada suatu tempat. Namun Dwelling sendiri memiliki arti yang lebih luas saat kita memahami awal mula manusia memutuskan untuk berhuni. Dalam buku The Nature of Order Christohper Alexander mengatakan “Dwelling is Living- Structure” yang berarti berhuni adalah hidup berpartisipasi dalam Struktur-kehidupan (Living- structure). Kutipan tersebut secara langsung menggambarkan sebuah keterkaitan antara alam dan manusia dalam menuju proses berhuni. Melihat kondisi yang ada didunia saat ini banyak aspek yang dapat mempengaruhi cara manusia berhuni dimasa depan. Salah satu permasalahan yang harus dihadapi manusia adalah perubahan iklim yang menyebabkan kenaikan permukaan air laut. Menyadari bahwa manusia harus menghadapi peristiwa tersebut dan mengetahuni bahwa pada dasarnya dalam proses berhuni manusia tidak terlepas dari alam sekitarnya, “Wadah Adaptif- Dinamis” dirancang dengan tujuan ingin mempersatukan aspek-aspek berhuni (khususnya alam dan manusia) dan juga memberikan solusi akan bangunan yang adaptif akan kenaikan permukaan air laut. Berlokasi di Kamal Muara, Jakarta Utara proyek ini diawali dengan mempelajari site terpilih, aktivitas masyarakat, bentuk bangunan sekitar tapak, dan juga karakteristik alam sekitar tapak, sebagaimana metode yang mengacu pada kutipan buku Martin Heidegger tentang “the thing It-self”. Mengacu pada hasil analisis tapak terpilih, proyek ini dilengkapi dengan program-program yang sesuai dengan aktifitas penduduk daerahnya dan telah dikembangkan dengan sistem-sistem yang mana dapat beradaptasi dengan kondisi alam sekitar dan menjawa isu akan kenaikan permukaan air laut.
EKSIBISI DAUR ULANG SAMPAH ANORGANIK Andy Abeng; Lina Purnama
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3967

Abstract

Metropolis atau di sebut sebagai ibukota yang fungsinya adalah sebagai kota industri dan perdagangan, dengan tingkat kepadatan yang tinggi (satu hingga tiga juta penduduk). Metropolis menjadi suatu tempat yang memiliki peran penting dalam mengatur perekonomian dan politik. Sementara itu untuk menggerakkan roda perekonomian metropolis salah satu caranya yaitu melalui pariwisata (2016 kontribusi total perjalanan dan turisme terhadap PDB dunia sebesar 7.613.3 juta USD dan semakin naik pada tahun 2017 sebesar 3.6% dan diperkirakan akan terus naik) (World Travel & Tourism Council, n.d.). Setelah melakukan pencarian data dengan melakukan survei di beberapa titik dan mengkaji literatur, maka digunakan teori architourism di metropolis untuk membantu mengembangkan perekonomian metropolis. Akan tetapi selain memiliki dampak positif, pariwisata juga memiliki dampak negatif terhadap metropolis yaitu banyaknya sampah yang di hasilkan oleh wisatawan (USA TODAY, 2018). Solusi yang dapat menyelesaikan permasalahan tersebut yaitu dengan dibuatnya sebuah ruang untuk mengedukasi masyarakat dan turis mengenai pentingnya menjaga lingkungan dari sampah, menunjukkan nilai guna dari sampah kemudian mengolah sampah-sampah tersebut menjadi sesuatu yang berguna, menjadikan hal tersebut sebagai tontonan maupun alat interaktif bagi turis sehingga mampu menarik perhatian turis tetapi juga dapat meringankan permasalahan sampah yang ada di kota metropolis. Solusi-solusi tersebut di padukan menjadi sebuah ruang ekshibisi daur ulang sampah anorganik yang dapat mengubah pola pikir turis-turis yang datang mengenai keburukan sampah dari suatu benda yang tidak bernilai menjadi memiliki nilai dan guna. 
STUDI PERKEMBANGAN PERUMAHAN DAN PENYEDIAAN FASILITAS DI CITRA RAYA Fredrick Effendy; Liong Ju Tjung; Sylvie Wirawati
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8841

Abstract

Citra Raya is one of the new town in the Regency of Tangerang, Banten, which has been developed since 1994. This is the largest project of the Ciputra Group that stands on an area of 2,760 hectares. The development of Citra Raya is so rapid, the area of land that has been developed reaches 1,000 hectares. Currently Citra Raya has 51 residential clusters, including EcoHome which is the first apartment product. Citra Raya continues to present a variety of the latest facilities to meet the needs of its residents. The built facilities also continue to increase in scale as the services of Citra Raya develop. The purpose of this study is to determine the chronology / timeline of the development of housing and facilities in Citra Raya, determine the adequacy of the number of facilities built in Citra Raya to the standard needs of facilities, and knowing the relationship between housing development and the provision of facilities in Citra Raya. Data collection in this research was carried out by field surveys, interviews with developers, electronic media, and literature studies. Then there are five analyzes carried out, namely analysis of the development of Citra Raya, analysis of housing development, analysis of facility provision, analysis of facility adequacy, and analysis of the relationship between housing and facility development. Based on the results of the study note that the facilities in Citra Raya are sufficient for the residents in it. Even though some of the facilities are still lacking in terms of numbers, when viewed from the area of land that has been developed it meets existing standards. Then the development of housing and provision of facilities in Citra Raya has a strong positive relationship. The increase in the number of houses was also followed by the increase in the number of facilities. Keywords: development, facility, housing AbstrakCitra Raya merupakan salah satu kota baru yang berada di Kabupaten Tangerang, Banten, yang telah dikembangkan sejak tahun 1994. Proyek terbesar Ciputra Group ini berdiri di atas lahan seluas 2.760 hektar. Perkembangan Citra Raya begitu pesat, luas lahan yang telah dikembangkan mencapai 1.000 hektar. Saat ini Citra Raya memiliki 51 cluster perumahan, termasuk EcoHome yang merupakan produk apartemen pertama. Citra Raya terus menghadirkan beragam fasilitas terbaru untuk memenuhi kebutuhan penghuninya. Fasilitas yang dibangun juga terus bertambah skala pelayanannya seiring dengan berkembangnya Citra Raya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kronologi / timeline perkembangan perumahan dan fasilitas di Citra Raya, mengetahui ketercukupan jumlah fasilitas yang terbangun di Citra Raya terhadap standar kebutuhan fasilitas, dan mengetahui hubungan antara perkembangan perumahan dan penyediaan fasilitas di Citra Raya. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara survei lapangan, wawancara dengan pengembang, media elektronik, serta studi pustaka. Lalu terdapat lima analisis yang dilakukan, yaitu analisis perkembangan Citra Raya, analisis perkembangan perumahan, analisis penyediaan fasilitas, analisis ketercukupan fasilitas, dan analisis hubungan perkembangan perumahan dan fasilitas. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa fasilitas yang ada di Citra Raya telah mencukupi kebutuhan penghuni di dalamnya. Meskipun beberapa fasilitas masih kurang dari segi jumlahnya, namun jika dilihat dari luas lahan yang terbangun telah memenuhi standar yang ada. Lalu perkembangan hunian dan penyediaan fasilitas di Citra Raya memiliki hubungan yang kuat positif. Bertambahnya jumlah hunian juga diikuti dengan bertambahnya jumlah fasilitas.
SARANA EDUKASI HIBURAN DAN REKREASI KWEETANG Yashinta Mettaserani Dewi; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6827

Abstract

Public space is one important element for an area that can be a guide and reflect the character of a society. The existence of public space is a necessity that must be met in the formation or development of an area. At present, public space is also expected to function as a third place that is able to answer the needs of the community to fill the time between returning to work and returning home. Kwitang has minimal social interaction due to the lack of public space facilities that can facilitate the activities of residents in the area. Kwitang is one of the area that requires public space, which not only functions aesthetically, but also functions as a social function such as entertainment and recreation education facilities. The purpose of designing public facilities in this area is to produce public facilities that facilitate activities in the Kwitang, and provide a forum for residents of Kwitang to expose their identity, which is pencak silat art from those area. This public facility is expected to become a neutral third place, a place to relieve stress, a place to gather and discuss after work, school and other activities. The concept of typology of educational facilities for entertainment and recreation uses a qualitative method by looking at the previous typology retrospectively and analyzing the behavior in them, which results in typology of entertainment and recreation education facilities into a single building unit that is connected to the surrounding environment. Entertainment and recreation education facilities that are designed can become a public space that is the identity of a Kwitang Region itself. AbstrakRuang publik merupakan salah satu elemen penting bagisuatu kawasan yang dapat menjadi petunjuk dan mencerminkan karakter suatu masyarakat. Keberadaan ruang publik menjadi kebutuhan yang harus terpenuhi dalam pembentukan atau perkembangan suatu kawasan. Saat ini, ruang publik juga diharapkan dapat berfungsi sebagai ruang ketiga yang mampu menjawab kebutuhan masyarakatnya untuk mengisi waktu diantara pulang bekerja hingga pulang kerumah. Kelurahan Kwitang memiliki interaksi sosial yang minim akibat kurangnya sarana ruang publik yang dapat memfasilitasi kegiatan  penduduk di kelurahan tersebut. Dengan demikian Kwitang merupakan salah satu Kawasan yang membutuhkan ruang publik, yang bukan hanya berfungsi secara estetika, tetapi juga berfungsi sebagai fungsi sosial seperti sarana edukasi hiburan dan rekreasi. Tujuan dari dirancangnya fasilitas publik pada kawasan ini adalah untuk menghasilkan fasilitas publik yang mewadahi kegiatan pada kelurahan Kwitang, dan memberikan wadah kepada penduduk kelurahan Kwitang untuk menyalurkan identitas yakni seni pencak silat dari suatu kelurahan tersebut. Fasilitas publik inilah yang diharapkan dapat menjadi sebuah ruang ketiga yang bersifat netral, menjadi sebuah wadah untuk melepas kepenatan sehari-hari, tempat untuk berkumpul dan berdiskusi selepas bekerja, sekolah dan kegiatan lainnya. ­Konsep tipologi dari sarana edukasi hiburan dan rekreasi menggunakan metode kualitatif dengan melihat tipologi terdahulunya secara retrospektif dan menganalisis perilaku didalamnya, yang menghasilkan tipologi sarana edukasi hiburan dan rekreasi menjadi satu kesatuan bangunan yang terhubung dengan lingkungan sekitar. Sarana edukasi hiburan dan rekreasi yang dirancang dapat menjadi suatu ruang publik yang menjadi identitas suatu Kawasan Kwitang itu sendiri.
TEMPAT PELATIHAN INDUSTRI KONVEKSI : TIPOLOGI BARU SEBAGAI PENDEKATAN DISAIN Alifia Lufthansa; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4576

Abstract

Demographic Dividend and Industrial Revolution 4.0 seems to be a problem currently being faced of the government. Demographic Dividend is an opportunity for Indonesia if it is well prepared because this productive age population can sustain non-productive age. At present the government focuses on industries that are driving the development of the industrial revolution 4.0, especially food and beverages, electronics, automotive, textiles and chemicals. One effort that can be done is to make training for the productive age population (millennial). The target of this training place is the productive age who have not worked, productive age who have worked but want to improve their skills, lay people who need the provision of knowledge and skills in the field. The selected project locations have the following qualifications: representing large industrial estates, densely populated populations with high productive ages, the number of productive ages who are winners. From these qualifications, the Cakung area was chosen as the project location. Tread is in Cakung Barat, East Jakarta. In Cakung itself Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP) and the Perkampungan Industri Kecil (PIK) still exist today. According to the data obtained, the convection industry is mostly found in the Cakung region. For this training place to concentrate on the industrial convection. AbstrakBonus Demografi dan Revolusi Industri 4.0 nampaknya menjadi isu yang saat ini sedang difokuskan pemerintah. Bonus Demografi menjadi peluang bagi Indonesia jika dipersiapkan dengan baik karena penduduk usia produktif ini dapat menanggung usia non produktif.  Saat ini pemerintah fokus di industri yang menjadi pendorong perkembangan revolusi industri 4.0, yakni makanan dan minuman, elektronik, otomotif, tekstil, dan kimia. Salah satu upaya  yang dapat dilakukan adalah membuat wadah pelatihan bagi  penduduk usia produktif (millenial). Target tempat pelatihan ini adalah usia produktif yang belum bekerja, usia produktif yang sudah bekerja namun ingin meningkatkan skillnya, masyarakat awam yang membutuhkan pembekalan ilmu dan keterampilan di bidang tersebut. Lokasi proyek terpilih memiliki kualifikasi sebagai berikut : merupakan kawasan industri besar, kepadatan penduduk dengan usia produktif yang tinggi, banyaknya usia produktif yang menjadi pengangguran. Dari kualifikasi tersebut terpilihlah kawasan Cakung yang menjadi lokasi proyek. Tapak berada di Cakung Barat Jakarta Timur . Di Cakung sendiri sudah terdapat Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP) dan Perkampungan Industri Kecil (PIK) Pulogadung yang masih eksis sampai sekarang. Menurut data yang diperoleh, industri konveksi paling banyak terdapat di wilayah Cakung. Sehingga tempat pelatihan ini dikonsentrasikan untuk industri konveksi.
FASILITAS KREATIF DIGITAL TEKNOLOGI Samuel Sukamto; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8471

Abstract

The task of Open Architecture aims to know and design a building that can accept all groups of  people, do not see the position or status of the community, conversation was  created  in  it  , and make it the most important thing. This building also has to be visited by local people and can be accessed by anyone and anytime. The most important thing in this Open Architecture is that the building should also make people happy, joyful, not feeling depressed or stressed when being in the design of the building. As we know, digital technology provides a positive and negative impact, access of information easily, learn something useful, play and many more becomes the positive side of digital technology, while the negative side is to make people forget about their surroundings, and able them to connect with the distant, as reported by  Sherry  Turkle  TED. Therefore,  the  purpose  of  this  project  is  to  allow people to develop their  identity  through  their talents/ interests/ potentials  of users, through digital technology, and it certainly creates conversations between users in discussing their respective interests. While the benefits gained from this project is that people can cultivate and analyze sufficient knowledge in gaining equality and in the workplace. This project will have a big impact on the community, because the programs and functions designed or determined can make people interested to come and develop their potential and gain sufficient knowledge. Keywords:  Open Architecture; Sherry Turkle TED AbstrakTugas Open Architecture ini bertujuan untuk mengetahui dan mendesain bangunan yang bisa menerima semua golongan masyarakat, tidak melihat jabatan ataupun status dari masyarakat, percakapan/ konversasi tercipta didalamnya, dan menjadikan nya hal terpenting. Bangunan ini pun juga harus didatangi oleh masyarakat lokal dan dapat diakses oleh siapapun dan kapanpun itu. Yang terpenting dalam hal Open Architecture ini adalah bangunan tersebut harus juga membuat orang bahagia, sukacita, tidak merasa tertekan ataupun stress ketika berada didalam rancangan bangunan tersebut. Seperti yang kita ketahui, digital teknologi memberikan dampak positif serta negatif, mencari informasi, belajar, bermain, dll sebagai sisi positif sedangkan sisi negatif yaitu membuat orang melupakan sekitar nya, dan bisa terkoneksi dengan yang jauh, seperti yang dilansir oleh Sherry Turkle TED. Maka dari itu, tujuan dari proyek ini adalah agar masyarakat: Dapat mengembangkan identitas diri melalui bakat/ minat/ potensi atau  interest  pengguna,  melalui digital teknologi, dan pastinya terciptalah percakapan antara pengguna dalam membahas interest mereka masing-masing. Sedangkan manfaat yang didapat dari proyek ini adalah masyarakat dapat mengolah dan menganalisis pengetahuan yang cukup dalam memperoleh kesetaraan dan kesepadanan didalam dunia kerja. Proyek ini akan berdampak besar bagi masyarakat kota, karena program dan fungsi yang dirancang ataupun ditentukan bisa membuat masyarakat tertarik untuk datang dan mengembangkan potensi mereka serta mendapatkan pengetahuan yang cukup.
RUANG KEBUGARAN DAN KOMUNITAS DI PERKAMPUNGAN INDUSTRI KECIL Bun Merdianto; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6838

Abstract

Jakarta has a fairly rapid rate of economic growth, a modern life and very dense activities, making people increasingly lose time to socialize and rest. Almost all people will spend their time to work with the aim of being able to meet their personal needs. However, when they are tired of working, they cannot find a place to facilitate them to socialize, relax and refresh their body and mind. As a result, the potential for living thought is only for work. This can trigger stress on factory workers who are most susceptible to stress. If this is left unchecked, this will have an impact on the quality of the HR itself and worsen their performance. Therefore the purpose of this research is to create a suitable forum for workers and the community so that they can gather, socialize, relax themselves and refresh their body and mind (Third Place). So that it can reduce stress levels, build community and improve socialization among surrounding communities and can solve existing issues. There is also a method that is used is the everyday urbanism method that sees changes in time and habits of the surrounding community, so that it can provide a place to support the activities of the people who are in that location. The program produced to enter into this project such as communal space, community space, fitness and many others. AbstrakJakarta memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat, kehidupan yang modern dan sangat padat aktivitas membuat masyarakatnya semakin kehilangan waktu untuk bersosialisasi dan beristirahat. Hampir semua masyarakat akan menghabiskan waktunya untuk bekerja dengan tujuan dapat mencukupi kebutuhan pribadi. Namun ketika setelah lelah bekerja, mereka tidak dapat menemukan tempat fasilitas yang mewadahi mereka untuk bersosialisasi, merelaksasikan diri dan menyegarkan tubuh serta pikiran. Akibatnya muncul potensi pemikiran yang hidup hanya untuk bekerja. Hal ini dapat memicu stress pada pekerja pabrik yang paling gampang terkena stress. Jika hal ini dibiarkan, ini akan berdampak terhadap kualitas SDM itu sendiri dan memperburuk kinerja mereka. Oleh sebab itu tujuan dari penelitian ini yaitu menciptakan sebuah wadah yang layak untuk pekerja dan masyarakat sehingga dapat berkumpul, bersosialisasi, merelaksasikan diri dan menyegarkan tubuh serta pikiran (Third Place). Sehingga dapat menurunkan tingkat stress, membangun komunitas  dan meningkatkan sosialisasi antar masyarakat sekitar dan dapat menyelesaikan isu yang ada. Ada pun metode yang digunakan yaitu dengan metode everyday urbanism yang melihat perubahan waktu dan kebiasaan masyarakat sekitar, sehingga dapat memberikan sebuah tempat untuk mendukung aktivitas masyarakat yang berada di lokasi tersebut. Adapun program yang dihasilkan untuk masuk ke dalam proyek ini seperti ruang komunal, ruang komunitas, kebugaran dan masih banyak lainnya.
SATU UNTUK TIGA : HUNIAN MULTIGENERASI Musselina Oktavanya Widiyanto; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10787

Abstract

Dwelling is an essential form of conscious human activity. The form, aesthetics or beauty, and organization of environment that build become part of how a person lives. The concept of dwelling itself closely related to time and space. Therefore, the concept may shift or replaced according to the phenomena that occurred during the period of time. It is the same thing that we feel today in the presence of COVID – 19. Newly promoted health protocols, such as social isolation creates domino effect. Outdoor activities must be carried out in the dwelling, causing the shelter to need a place to accommodate these new needs. This also creates new problems with the existence of various age groups in one family. With the aim of creating a family ecosystem in one dwelling based on issue of social isolation that interferes with how to interact, the Architectural Programming (Cherry, 2009) method are applied and also points from MASS : Designing senior housing for safe interaction (2020). The application of this method produces programs that suit the needs of each age group in a family as well as paying attention to initial issue, in this case social isolation. One for Three: Multigenerational House is a new shared space concept that combines the needs of three generation and attention to safe interaction in social isolation. In addition, One for Three: Multi-generational House retains the value of independence and identity in all group of age.  Keywords : group of age; multigeneration; safe interaction; shared space; social isolationAbstrak Berhuni merupakan salah satu bentuk kegiatan manusia secara sadar yang esensial. Bentuk, estetika, dan organisasi lingkungan binaan semuanya menjadi bagian dari bagaimana seseorang tinggal. Konsep berhuni memiliki kaitan yang erat dengan waktu dan ruang. Oleh karena itu, konsepnya akan tergeser atau digantikan sesuai dengan fenomena yang terjadi pada kurun waktu yang dimaksud. Sama hal nya yang kita rasakan saat ini yaitu adanya COVID – 19. Protokol kesehatan yang baru digalakan seperti sosial isolation dan menimbulkan efek domino. Kegiatan outdoor harus dilakukan di dalam hunian sehingga menyebabkan hunian memerlukan tempat untuk menampung kebutuhan baru tersebut. Hal ini juga menimbulkan masalah baru dengan adanya kelompok usia yang bervariasi pada satu keluarga. Dengan tujuan menciptakan ekosistem keluarga dalam satu hunian berdasarkan isu terhadap social isolation yang mengganggu cara berinteraksi, maka diterapkan metode Architectural Programming (Cherry, 2009) dan poin dari MASS : Designing senior housing for safe interaction (2020). Penerapan metode ini kemudian menghasilkan program yang sesuai dengan kebutuhan setiap kelompok usia dalam suatu keluarga, serta memperhatikan isu awal yaitu social isolation. Satu untuk Tiga : Hunian Multigenerasi merupakan konsep berhuni shared space yang baru dengan menyatukan kebutuhan tiga generasi dan memperhatikan poin safe interaction in social isolation. Selain itu, . Satu untuk Tiga : Hunian Multigenerasi tetap mempertahankan nilai kemandirian dan identitas pada segala usia. 

Page 45 of 134 | Total Record : 1332