cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PENDEKATAN PRAGMATIS DALAM PERANCANGAN PERUMAHAN TERPADU DI BINTARO Maria Reza Desita; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10781

Abstract

The future is a predictable yet uncertain period of time. Every human being in this world will always try any possible things to survive and try to make their existence real, this behavior is called dwelling. Architecture comes in form of buildings and space as a place for human to dwell. The way human dwell will always change following their environment and follow the development of technology. Technology has become the biggest driver in the change of human evolution, every sector of human life keeps revolving and try to adapt to the development of technology for hope of a better life. A city is one of the product of this evolution, a place considered modern and high-technology, but with the imbalance between the technology development, infrastructure, and human needs, a city also generate some problems. A city as an area also has an effective number of population density for it to work effectively. The more densely populated a city is, the bigger the need of a housing buildings. Because of the incapability to provide a proper and affordable housing in the city, the irregular housing development plan around the periphery of the city is spreading, causing a phenomenon called urban sprawl. The project Integrated Housing has a goal to transform the existing urban sprawl area to be more compact and effective. Through pragmatic approach, this project will be focusing on users’ needs, effective space used, and integrated programs which wil be achieved by analysing people’s needs and way of life today and tomorrow. Another goal is to also pay attention and to lessen the negative impact of urban sprawl to the environment to achieve a sustainable future. Keywords: Dwelling; Environment; Future; Technology; Urban sprawl.Abstrak Masa depan adalah bingkai waktu yang tidak pasti, namun dapat diprediksi. Setiap manusia yang hidup di dunia ini mencoba melakukan segala hal untuk dapat bertahan hidup dan mencoba membuat eksistensinya nyata, sikap ini juga disebut berhuni. Arsitektur hadir dalam bentuk bangunan atau ruang yang dirancang untuk mewadahi kegiatan berhuni manusia. Cara manusia berhuni selalu berubah mengikuti lingkungannya dan mengikuti perkembangan penemuan teknologi. Teknologi telah menjadi pendorong terbesar dalam perubahan evolusi manusia, segala sektor kehidupan terus berputar dan beradaptasi dengan teknologi demi mendapatkan kehidupan yang lebih mudah. Sebuah kota adalah hasil dari perkembangan evolusi manusia ini, sebuah tempat yang dianggap canggih dan modern, namun karena ketidakseimbangan antara perkembangan teknologi, infrastruktur, dan kebutuhan manusia, kota juga menimbulkan beberapa permasalahan. Kota sebagai sebuah area dengan batasan pengembangan memiliki sebuah batas kepadatan yang efektif untuk dihuni. Semakin padat, kebutuhan bangunan untuk tempat tinggal pun meningkat. Kota yang tidak mampu menyediakan tempat tinggal yang terjangkau dan layak pun mendorong terjadinya penyebaran pembangunan yang tidak tersusun ke daerah sekitar kota. Fenomena ini disebut juga sebagai urban sprawl. Perumahan Terpadu ini adalah proyek yang memiliki tujuan untuk mentransformasi area urban sprawl yang sudah ada menjadi area yang lebih kompak dan efektif guna. Dengan pendekatan pragmatis, proyek ini berfokus pada kebutuhan pengguna, efektivitas ruang dan integrasi antar fungsi yang akan dikembangkan dari hasil analisis kebutuhan dan cara hidup masyarakat saat ini dan prediksi kedepannya. Proyek ini juga mengedepankan keberlanjutan lingkungan dengan memperhatikan dampak yang dihasilkan terhadap lingkungan supaya tidak memperburuk kondisi saat ini.
STADIUM TURNAMEN E-SPORT DI JAKARTA Brian Martin; Dewi Ratnaningrum
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3984

Abstract

Jakarta merupakan sebuah kota metropolis yang menjadi sebuah tempat / pusat perekonomian dan dengan jumlah kepadatan penduduk yang sangat tinggi yang pastinya juga membuat aktivitas di kota ini berjalan dengan sangat cepat. Hal ini berdampak pada tingkat stress yang cukup tinggi dan di alami oleh hampir semua orang yang tinggal dan beraktivitas dengan frekuensi yang cukup tinggi di kota Jakarta. Oleh karna itu, membutuhkan sebuah wadah tempat rekreasi yang baru di tengah – tengah tempat rekreasi yang sudah ada di kota Jakarta ini khususnya untuk tempat bermain dengan teknologi yang tengah berkembang saat ini namun masih belum memiliki wadah khusus. Tempat bermain dengan teknologi yang tengah berkembang saat ini salah satunya ialah E-sport. E-sport ini sendiri adalah sebuah jenis permainan yang tengah sangat berkembang di seluruh penjuru dunia dan juga tentunya di Indonesia juga, namun belum memiliki sebuah wadah yang khusus untuk kita bisa menikmati bersama E-sport itu , khususnya di kota Jakarta yang sangat padat ini. E-Sport ini sendiri menunjukan perkembangan yang sangat pesat di Indonesia. Salah satunya adalah cabang E-sport yang di perlombakan pada ajang Asean Games 2018. Untuk itu penulis mengkaji dan menganalisis tentang E-sport ini sendiri untuk dapat merancang sebuah wadah E-sport yang belum ada di Jakarta. Selain dapat menjadi sebuah wadah baru , tempat berwisata yang fresh, dan juga bisa menjadi salah satu ladang baru untuk mencari nafkah yang dapat di lakukan oleh semua kalangan dan umur dari anak anak hingga orang tua.  
STUDI KELAYAKAN PERUMAHAN BERSUBSIDI PENUNJANG KAWASAN INDUSTRI (LOKASI : SAGA, BALARAJA, KABUPATEN TANGERANG) Vania Putri Azaria; Priyendiswara Agustina Bela; Bambang Deliyanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8871

Abstract

House is one of the primary needs in society. Not only a living place, but a house is also a protection, gathering place, and investment. For low-income families, the gap between supply and demand for houses occur every year. It happens because of the low buying power or limited access to the house financing system. Therefore, through the banking industry, the government realizes the housing loan facility called the mortgage. There are 2 types of mortgages in Indonesia, i.e., subsidized mortgage and non-subsidized mortgage. The subsidized mortgage mainly targets Low-Income Families (LIF). The bank provides this type as the government program cooperating with the Ministry of Public Works and Public Housing to help finance subsidized houses in the form of loan or down payment facility. Meanwhile, the non-subsidized mortgage targets general society that fulfilled the mortgage requirements from the providing bank. PT Prima Graha Nusa Sempana currently plans to develop subsidized housing estate that targets factory workers. The land is located in Balaraja Sub-district, precisely at Saga Village, one of the industrial centers in Tangerang Regency. Before developing a 13.5 Ha land, an eligibility study is required. The study is conducted to discover the development eligibility and to count the profit and loss from the development. Besides that, an eligibility study is conducted to achieve a maximum result from the development. Keywords: feasibility study, property; subsidized housing AbstrakRumah menjadi salah satu kebutuhan primer bagi masyarakat, selain sebagai tempat tinggal rumah juga merupakan tempat berlindung dan sebagai tempat berkumpul sekaligus sebagai barang investasi. Bagi masyarakat berpenghasilan rendah kesenjangan antara kebutuhan penyediaan rumah dari tahun ke tahun masih terus terjadi, hal itu dikarenakan masih rendahnya daya beli atau terbatasnya akses  ke sistem pembiayaan rumah. Oleh karena itu pemerintah melalui perbankan merealisasikan pemeberian kredit yang disebut dengan KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Di Indonesia dikenal dengan 2 jenis KPR yaitu KPR subsidi dan KPR non subsidi. KPR subsidi umumnya ditujukan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). KPR jenis ini disediakan oleh bank sebagai bagian dari program pemerintah bekerjasama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk membantu mendanai kepemilikan rumah masyarakat yang akan diberikan subsidi berupa keringanan kredit atau uang muka. Sedangkan KPR non subsidi diperuntukkan bagi masyarakat umum yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh bank penyedia KPR. PT. Prima Graha Nusa Sempana saat ini sedang merencanakan pembangunan perumahan bersubsidi dengan target pasar buruh pabrik, hal itu karena lahan tersebut berada di Kecamatan Balaraja tepatnya di Kelurahan Saga, dimana Balaraja merupakan salah satu pusat industri yang terdapat di Kabupaten Tangerang. Sebelum melakukan pengembangan pada lahan seluas 13.5 Ha, akan dilakukan terbelih dahulu studi kelayakan terhadap lahan tersebut. Studi kelayakan dilakukan untuk mengetahui layak atau tidaknya pengembangan tersebut dan untuk mengetahui keuntungan dan kerugian pada pengembangan tersebut. Selain itu studi kelayakan dilakukan agar pengembang mendapatkan hasil yang maksimal tergadap pengembangan tersebut. 
TAMAN SOSIAL DAAN MOGOT Seandy Sebastian; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6764

Abstract

As time goes by, the culture of society that continues to change every time resulted in changes in various aspects of life, especially regarding interactions between people. Life that has a fast level of mobility causes decreased interaction between humans because they must always move. This incident happened in big cities and Jakarta is one of them. This condition can be found in cluster housing, one of which is Daan Mogot Baru Housing and Kalideres Permai, where interaction between neighbors is minimal. Therefore, research is carried out why and how this problem can be solved through architecture. This study began by collecting data using 2 methods, namely questionnaire and observing the environment around the object boundaries. The results of the data from the questionnaire from 40 respondents who came from residents of Daan Mogot Baru and Kalideres Permai residents proved that the level of interaction between neighbors there was lacking. One of the main causes of the lack of interaction is the lack of place / place to do joint activities. To make a container, it takes a program that will be an activity in the container, based on the data obtained in the program questionnaire, the most needed is sports facilities. But sports facilities alone will not be able to solve the problem of low interactions in Daan Mogot Housing and Kalideres Permai. The container must be equipped with a container for interaction such as a place to sit and chat and have a place to eat so that they have a reason to stay after they move and create situations that support the occurrence of interaction. AbstrakSeiring berjaannya waktu, budaya masyarakat yang terus berubah setiap waktu mengakibatkan perubahan pada berbagai macam aspek kehidupan terutama mengenai interaksi antar sesama. Kehidupan yang memiliki tingkat mobilitas yang cepat menyebabkan menurunnya interaksi antar manusia karena mereka harus selalu bergerak. Kejadian ini terjadi di kota – kota besar dan Jakarta adalah salah satunya. Kondisi ini dapat kita temui di perumahan kluster salah satunya adalah Perumahan Daan Mogot Baru dan Kalideres Permai, dimana interaksi antar tetangga sangatlah minim. Oleh karena itu dilakukanlah penelitian mengapa dan bagaimana masalah ini dapat diselesaikan melalui arsitektur. Penelitian ini dimulai dengan mengumpulkan data menggunakan 2 metode yaitu kuisioner dan obsevasi lingkungan sekitar batasan objek. Hasil data dari kuisioner yang berasal 40 responden yang berasal dari warga Perumahan Daan Mogot Baru dan Kalideres Permai membuktikan bahwa memang tingkat interaksi antar tetangga disana kurang. Salah satu penyebab utama kurangnya interaksi adalah kurangnya tempat / wadah untuk melakukan aktivitas bersama. Untuk membuat suatu wadah maka dibutuhkan program program yang akan menjadi kegiatan dalam wadah tersebut, berdasarkan data yang didapat dalam kuisioner program yang paling dibutuhkan adalah sarana olahraga. Namun sarana olahraga saja tidak akan bisa menyelesaikan masalah rendahnya interaksi di Perumahan Daan Mogot dan Kalideres Permai. Wadah tersebut harus dilengkapi dengan wadah untuk berinteraksi seperti tempat duduk untuk mengobrol dan bercengkrama serta tempat makan sehingga mereka memiliki alasan untuk tetap tinggal setelah mereka beraktivitas dan tercipta situasi yang mendukung untuk terjadinya interaksi.
KAJIAN PERANCANGAN PASAR MILENIAL: PASAR YANG MERESPON PERILAKU MILENIAL Rudy Lim; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4516

Abstract

The market began to lose its physical form due to the emergence of the online market, which was caused by the behavior of millennials who demanded everything to be instant. The online market is not always good because there are many problems caused by the online market, such as quality goods fraud, cybercrime cases such as online account hijacking, goods security that is not guaranteed in the shipping process, and many others. The various problems posed by the online market are caused by a lack of direct interaction with the product or seller, so it can be concluded that the market still requires physical form.The method used to answer this issue begins with the process of collecting data on millennial habits and the issues that arise are mainly due to market developments. Then the matrix method is used to connect the data that has been collected until the results are obtained with diverse answers. Lastly, various massing experiments and concepts were carried out to create more options and develop more designs. Through this method the results are in the form of interactive programs that provide a different experience for the millennials so that the millennials will be interested in experiencing the space formed by the millennial market. The design experiment method also produces a form that gives identity to the environment around the site that lacks landmarks. The conclusion of this project is the Millennial Market: "Markets that respond to millennial behavior" along with programs in the form of traditional markets, digital gallery menus, e-clothing stores, food markets and gyms. These programs are programs that answer all millennial interactive needs, and prove that the millennials still need physical space. AbstrakPasar mulai kehilangan bentuk fisiknya akibat kemunculan pasar online, yang disebabkan oleh perilaku millennial yang menuntut segalanya serba instant. Pasar online tidak selamanya baik karena banyak masalah yang ditimbulkan oleh pasar online, seperti penipuan kualitas barang, kasus cybercrime seperti pembajakan akun online, keamanan barang yang kurang terjamin dalam proses pengiriman, dan masih banyak lainnya. Berbagai masalah yang ditimbulkan pasar online tersebut disebabkan kurangnya interaksi langsung dengan produk atau penjual, sehingga dapat disimpulkan bahwa pasar masih membutuhkan bentuk fisik. Metode yang dipakai untuk menjawab issue ini berawal dari proses pengumpulan data mengenai kebiasaan millennial dan issue yang ditimbulkannya terutama terhadap perkembangan pasar. Kemudian metode matriks digunakan untuk menghubungkan data-data yang telah dikumpulkan sampai didapatkan hasil dengan jawaban yang beragam. Terakhir dilakukan berbagai eksperimen massing beserta konsepnya sehingga tercipta berbagai opsi dan pengembangan desain yang lebih. Melalui metode tersebut dicapai hasil berupa program-program interaktif yang memberikan pengalaman berbeda bagi millennial sehingga millennial akan tertarik untuk mengalami ruang yang dibentuk oleh pasar millennial. Metode eksperimen desain juga menghasilkan sebuah bentuk yang memberikan identitas kepada lingkungan sekitar site yang kekurangan landmark. Kesimpulan dari proyek ini adalah Pasar Millennial: “Pasar yang merespon perilaku millennial” beserta program-program didalamnya yang berupa traditional market, menu digital gallery, e-clothing store, food market dan gym. Program-program tersebut merupakan program yang menjawab segala kebutuhan interaktif millennial, dan membuktikan bahwa millennial masih membutuhkan ruang fisik.
RUANG HIJAU ALTERNATIF PADEMANGAN Teresa Natalia; Dewi Ratnaningrum
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8559

Abstract

Ray Oldenburg, in his book entitled "The Great Good Places" explains a concept of initial space, by which one can find comfort aside from the house (first place) and workplace (second place). Unfortunately, these days, this concept of place are not familiar within the community. Alternative Green Space of Pademangan is a place which accommodates the needs and interests of the community in daily life from where visitors can interact with others in a natural environment. Lacking in open space, various potential activities by the community, and the use of road as a public space are some of the reasons behind this project. Based on field study and regional analysis, this project seeks to become a third place that provides individually and communally. Regardless to it main focus on the surrounding community, this project also opens to public and allows visitors from outside the region, making it a comfortable place to socialized. Aiming to create a light and transparent building, and with the method of critical regionalism that responds to the region, this project attempts to create a spacious place and safe haven for visitors.  Keywords: green; pademangan; third Place Ray Oldenburg, dalam bukunya yang berjudul “The Great Good Places” menawarkan sebuah konsep ruang ketiga, di mana seseorang dapat menemukan zona nyamannya di luar dari rumah (first place) dan tempat kerja (second place). Namun, sayangnya, saat ini third place belum menjadi bagian dari seluruh masyarakat, padahal third place memungkinkan seseorang untuk beristirahat sejenak dan bersosialisasi dengan sesama. Ruang Hijau Alternatif Pademangan merupakan sebuah wadah yang berusaha menjawab kebutuhan dan ketertarikan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari di mana pengunjung tidak hanya dapat berinteraksi satu dengan yang lain tetapi juga dapat berinteraksi dengan ‘unsur hijau’. Kurangnya ruang terbuka hijau, banyaknya potensi kegiatan di dalam masyarakat, serta penggunaan ruang jalan sebagai ruang publik adalah beberapa alasan yang melatarbelakangi proyek ini. Berdasarkan hasil survey lapangan dan analisis kawasan, proyek ini berusaha untuk menjadi third place yang yang dapat dimanfaatkan baik secara individual maupun komunal. Terlepas dari fokus utamanya yang tertuju pada masyarakat sekitar, proyek ini juga terbuka untuk umum dan memungkinkan untuk pengunjung dari luar kawasan, menjadikannya sebuah tempat yang mampu menciptakan interaksi sekaligus memberikan kenyamanan bagi pengunjungnya. Dengan konsep bangunan yang ringan dan transparan, dan dengan metode critical regionalism yang berusaha menjawab kebutuhan kawasan, proyek ini berusaha  untuk menjadi tempat yang dapat  memberikan kesan lega dan menjadi tempat yang dapat diandalkan masyarakat setempat untuk beristirahat. 
RENCANA PENGELOLAAN GREEN BUILDING DENGAN PENDEKATAN BUILDING ENVIRONMENT MANAGEMENT (BEM) Regina Regina; Liong Ju Tjung; Priyendiswara A.B. Priyendiswara
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4592

Abstract

The concept of green building is now increasingly being applied in Indonesia, especially DKI Jakarta due to the increasing prevalence of global warming. Adapting to climate change and the increasing number of tall buildings in Indonesia, the GBCI (Green Building Council Indonesia) concluded that the biggest cause of energy use was due to the use of the building sector of around 48%, while the other 27% was in the transportation sector, then 25% in the industrial sector. GBCI applies certification in the form of "Greenship" as an assessment tool for buildings that are rated as Green Buildings. "Greenship" is prepared by GBCI by considering the conditions, nature, rules and standards that apply in Indonesia. The main focus of Green Building is energy efficiency, but what distinguishes "Greenship" from other rating tools are "Greenship" has a BEM category that focuses on managing the waste produced by buildings. The rating tool "Greenship" in Indonesia is quite balanced because in addition to focusing on energy efficiency, "Greenship" also pays attention to the comfort elements of its occupants, namely the Building Environmental Management category (BEM) where the comfort of buildings is one of the factors in the success of green buildings. In order for green building to be managed optimally, the author compiled a study of the criteria for BEM (Building Environment Management), with recommendations for waste and fit-out management in one of Green Building in Jakarta, South Quarter with a BEM achievement of 77%. The author composes the recommended budgetary costs for evaluating waste sorting and training, the author also conducted tenant perceptions surveys with cross tabulation and compare means method with the results that 77% of respondents agreed with the planning of sorting waste and providing training for residents of the building at the Green Building.the result that 77% of respondents agreed with planning waste sorting and providing training to building occupants in the Green Building.AbstrakKonsep bangunan hijau saat ini semakin banyak diimplementasikan di Indonesia khususnya DKI Jakarta karena semakin maraknya pemanasan global. Beradaptasi dengan perubahan iklim dan semakin banyaknya bangunan tinggi di Indonesia, GBCI (Green Building Council Indonesia) menyimpulkan bahwa penyebab terbesar dari penggunaan energi yaitu karena penggunaan pada sektor bangunan sekitar 48%, sedangkan 27% lainnya sektor transportasi, lalu 25% sektor industri. GBCI menerapkan sertifikasi berupa “Greenship” sebagaii alat penilai/penentu untuk sebuah bangunan dinilai sebagai Green Building. “Greenship” dipersiapkan oleh GBCI dengan mempertimbangkan kondisi, karakter alam serta peraturan dan standard yang berlaku di Indonesia. Fokus utama dari Green Building adalah efisiensi energi, namun yang membedakan “Greenship” dengan rating tools lainnya yaitu “Greenship” mempunyai kategori BEM yang berfokus kepada pengelolaan sampah yang dihasilkan oleh gedung. Rating tools berupa “Greenship” di Indonesia cukup seimbang karena selain berfokus pada efisiensi energi, “Greenship” juga memperhatikan unsur kenyamanan penghuninya yaitu dengan adanya kategori Manajemen Lingkungan Bangunan (BEM) dimana kenyamanan penghuni bangunan merupakan salah satu faktor keberhasilan dari green building. Agar suatu green building dapat dikelola secara maksimal, penulis menyusun penelitian pada kriteria BEM (Building Environment Management), dengan rekomendasi untuk pengelolaan sampah dan fit-out di salah satu Green Building di Jakarta yaitu South Quarter dengan pencapaian BEM sebesar 77%. Penulis menyusun biaya anggaran yang disarankan untuk evaluasi pemilahan sampah dan training, penulis juga melakukan survei persepsi tenant dengan metode tabulasi silang dan perbandingan nilai tengah dengan hasil bahwa 77% responden setuju dengan perencanaan pemilahan sampah dan pengadaan training untuk penghuni gedung di Green Building.
SENTRA PEDAGANG KECIL SEMANAN Bianca Belladina; Martin Halim
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10720

Abstract

According to Martin Heidegger, Dwelling in his book entitled "Building, Dwelling, Thinking" states that dwelling is a concept to inhabit or a unique way of being (dasein) in the world, namely to stay, wander (to wander) and survive (to linger). ). The concept of human habitation is more about survival. In general, humans cannot just stand by to survive, humans must work to meet their needs in survival. Then the question arises, "How do the lower class society, especially the traders live?" Seeing that small traders do not have land to sell so many of them sell on the side of the road. Semanan Small Traders Center is a place for small traders, especially the Semanan area, where traders who do not have land to sell now get land to sell so that traders do not need to  use the road again as a place to sell. In addition, this project seeks to answer the needs of the people around Semanan. The method used is Respond to Site - Contextualism. The design process in buildings is realized by a relationship with the environment around the needs of the surrounding community and the problems that exist around the site. Keywords: Dwelling; Semanan; Trader. AbstrakDwelling menurut Martin Heidegger dalam bukunya yang berjudul “Building, Dwelling, Thinking” meyebutkan bahwa dwelling sebagai sebuah konsep menghuni atau cara khas ada (dasein) di dunia yaitu untuk menetap (to stay), berkelana (to wander) dan bertahan hidup (to linger). Konsep berhuni manusia lebih ke bertahan hidup. Pada umumnya manusia tidak bisa hanya berdiam diri saja untuk bertahan hidup, manusia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dalam bertahan hidup. Lalu muncul pertanyaan “Bagaimana masyarakat kalangan bawah khususnya para pedagang berhuni?”. Melihat para pedagang kecil tidak memiliki lahan berjualan sehingga banyak dari mereka berjualan di pinggiran jalan. Sentra Pedagang Kecil Semanan merupakan wadah bagi para pedagang kecil khususnya daerah Semanan, dimana para pedagang yang tidak memiliki lahan untuk berjualan sekarang mendapatkan lahan untuk berjualan sehingga para pedagang tidak perlu memakai ruas jalan lagi sebagai tempat berjualan. Selain itu proyek ini berusaha untuk menjawab kebutuhan masyarakat sekitar Semanan. Metode yang digunakan yaitu Respond to Site – Contextualism proses desain pada bangunan diwujudkan dengan adanya hubungan dengan lingkungan sekitar kebutuhan masyarakat sekitar dan masalah yang ada disekitar tapak.
TRANS STUDIO ANIMASI Erica Hosanna; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3953

Abstract

Animasi merupakan sebuah prospek yang sedang meningkat dalam Indonesia, tetapi perkembangan ini tidak dapat apresiasi dengan baik. Disini munculah kesempatan untuk menggunakan animasi sebagai atraksi wisata lokal.Trans Studio Animasi merupakan sebuah indoor theme park dengan tema animasi. Dengan lokasinya yang terletak pada CBD Puri Kembangan, diharapkan bahwa Trans Studio Animasi dapat membuat kawasan menjadi kawasan Tourism Bussiness District yang lebih baik.
STUDI PERKEMBANGAN POLA RUANG KAWASAN MARGONDA RAYA Kyrana van den Berg; Suryono Herlambang; Parino Rahardjo
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8856

Abstract

Margonda Raya area is one of the starting points for the development of Depok City (Irsyam, 2017). The area which in 1970 was agricultural land has now become a downtown area. The area is developing quickly into a dense area. New problems arise such as traffic congestion on the other hand large-scale development continues to occur. This indicates an imbalance in development. In addition, the spatial plan for the area was not systematically formed. This study is limited to discussion related to the development of spatial patterns. The study was conducted to determine the shape of spatial pattern development that occurred as well as its alignment with government directives in the existing spatial planning documents. The study was conducted using qualitative and quantitative approaches with comparative descriptive analysis methods. Based on studies conducted, it is identified that current developments have not been fully anticipated in spatial planning. The phenomenon of development that occurs in the Margonda Raya region is very rapid and needs to be anticipated to maintain the balance of development in the future which can affect the quality of life of the people of the city itself. Keywords: Development; Margonda Raya Road; Region; Space Pattern; Spatial AbstrakKawasan Margonda Raya merupakan titik awal perkembangan Kota Depok (Irsyam, 2017). Kawasan yang pada Tahun 1970 merupakan lahan pertanian kini telah menjadi kawasan pusat kota. Kawasan berkembang cepat menjadi kawasan yang padat. Muncul masalah-masalah baru seperti kepadatan lalu lintas disisi lain pembangunan skala besar terus terjadi. Hal ini mengindikasikan adanya ketidakseimbangan pembangunan. Selain itu, rencana tata ruang untuk kawasan tidak dibentuk secara sistematis. Studi ini dibatasi pada pembahasan terkait perkembangan pola ruang. Studi dilakukan untuk mengetahui bentuk perkembangan pola ruang yang terjadi serta keselarasannya dengan arahan pemerintah dalam dokumen rencana tata ruang yang sudah ada. Studi dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan metode analisis deskriptif komparatif. Berdasarkan studi yang dilakukan, diidentifikasi bahwa perkembangan yang terjadi saat ini belum sepenuhnya diantisipasi dalam rencana tata ruang. Fenomena perkembangan yang terjadi di kawasan Margonda Raya sangat pesat dan perlu diantisipasi untuk menjaga keseimbangan pembangunan yang kedepannya dapat mempengaruhi kualitas hidup masyarakat kota itu sendiri.

Page 43 of 134 | Total Record : 1332