cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
RUANG EDUKASI DAN HIBURAN BERSAMA HEWAN Sheren Pricillia; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i1.3992

Abstract

Kesehatan mental masyarakat kota yang disebabkan oleh gaya hidup di kota metropolis merupakan tujuan utama perancangan proyek. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi gaya hidup masyarakat kota seperti daya saing, sifat individualis serta kota itu sendiri yang mengalami penurunan daya tampung akibat perkembangan penduduk. Hewan peliharaan merupakan salah satu terapi alternatif yang dapat membantu menenangkan jasmani dan rohani manusia. Sebuah ruang interaksi antara manusia dan hewan sebagai sarana rekreasi yang edukatif. Pendekatan perancangan berupa kajian pustaka, studi literatur, studi lapangan serta analisis terhadap program-program yang memiliki kemiripan. Metode ini digunakan untuk menambah pengetahuan dalam proses perancangan proyek. Program utama dalam proyek ini adalah sebuah kebun binatang yang memberikan kesempatan pada pengunjung untuk bermain bersama hewan. Terdapat beberapa fasilitas pendukung lainnya seperti discovery center, Aquarium, Bird & Butterfly Aviary dan 4D Cinema. Tujuan utama dari proyek ini adalah untuk memberikan pengalaman edukatif yang menarik sehingga masyarakat khususnya anak-anak dapat berkembang melalui interaksinya dengan hewan. Interaksi dengan hewan membawa sejumlah dampak positif bagi anak-anak, seperti melatih rasa empati sejak dini dan membangun kecerdasan terutama dalam hal emosi dan sosial. Proyek ini diharapkan dapat membantu meringankan dan mengurangi tingkat stress masyarakat dan kota Jakarta itu sendiri serta menimbulkan efek yang baik bagi kawasan sekitarnya. 
LIVING STRIP: FASILITAS TRANSIT DAN PASAR SEGAR KAWASAN KOTA Hendri Librata; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4398

Abstract

Time affects the development of people’s culture. In an era dominated by Millennial Generation, context in society slowly shifting. Linking millennial theme in the Angke Market environment, where the context of relationship between traditional market and public transportation produces an unfinished dialogue. The market slowly lost its meaning even though public transport crowds constantly increasing. Through this design, it is expected to produce architectural works that are able to answer the local dialogue from the Angke environment so that the two distinguished functions are able to live coexistently and mutually reinforce. To meet the needs of urban millennial society, the design used mixed programme method to combine elements of transit and imagery of fresh environment where the combination seeks new views in society, especially the millennial generation in responding the programs so that grows interest and interactions from within. The result of this study are a mixed strip between transit functions (train, metromini, and angkot), traditional fruit and vegetable markets, vertical urban farming, and millennial hangout places in the form of FnB areas. The emergence of new programs such as urban farming dan hangout facilities are responses to link transit and market program as well as contextualizing the prospects for future needs. Responding to the function and context of the surroundings, the Living Strip is expected to feel fresh, spacious, and light as an object that became norm in daily basis. AbstrakPerkembangan jaman berpengaruh pada perkembangan dari kebudayaan masyarakatnya. Dalam era yang didominasi generasi milenial, konteks dalam masyarakat kota perlahan mengalami pergeseran. Mengaitkan tema milenial pada lingkungan Pasar Angke, dimana konteks hubungan pasar tradisional dan kegiatan berkomuter antar-transportasi umum darat menghasilkan dialog yang belum selesai. Pasar kehilangan makna walau transportasi umum semakin sesak dipadati. Melalui desain ini, diharapkan dihasilkan karya arsitektur yang mampu menjawab dialog lokal dari lingkungan Angke tersebut sehingga kedua fungsi mampu hidup koeksisten dan saling menguatkan. Untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat milenial urban, desain menggunakan metode Mixed Program dengan memadukan unsur kegiatan transit dan imagery dari sebuah lingkungan yang segar/fresh dimana dari perpaduan tersebut dapat menciptakan pandangan baru dalam masyarakat terutama generasi milenial dalam merespon program-program yang ada sehingga memunculkan minat untuk berinteraksi dengan program-program yang disediakan dalam sebuah Living Strip. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah strip campuran  fungsi transit (KRL, metromini dan angkot), pasar tradisional buah-sayur, vertical urban farming, dan fasilitas nongkrong milenial berupa area FnB. Kemunculan program baru berupa urban farming dan fasilitas nongkrong merupakan respon untuk mengaitkan program transit dan pasar sekaligus berkonteks pada prospek kebutuhan masa depan. Merespon fungsi dan konteks lingkungan sekitar, Living Strip didesain untuk terasa segar, lapang, dan ringan sebagai suatu objek yang nyaman digunakan dalam berkegiatan sehari-hari.
STUDI PENATAAN KAWASAN WISATA BUKIT PANYAWEUYAN DENGAN KONSEP AGROWISATA (LOKASI: BUKIT PANYAWEUYAN, DESA TEJAMULYA, KECAMATAN ARGAPURA, KABUPATEN MAJALENGKA, JAWA BARAT) Eko Mujiarto; Priyendiswara Agustina Bela; Bambang Deliyanto; B. Irwan Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8846

Abstract

This paper is the result of research conducted by the author and set forth in the Final Project, where the title of this research is “the Panyaweuyan Hill Tourism Area Structuring with the Concept of Agrotourism”. The location of this research is in the village of Tejamulya, Argapura District, Majalengka Regency, West Java Province. The purpose of this research is to make the Bukit Panyaweuyan tourist area masterplan as seen from the policies related to the object of study, the existing condition of the site and site, the agro tourism component, existing tourism activities, visitor perceptions and preferences and best practices of other similar objects. To achieve these objectives, several analyzes are carried out using analytical tools such as descriptive, and cartesian diagrams. So the results of the analysis can be used to make the Panyaweuyan Bukit tourism area masterplan. Keywords: Agro Tourism, Masterplan, Panyaweuyan Hill, Regional Arrangement AbstrakTulisan ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis dan dituangkan dalam Tugas Akhir, dimana judul penelitian ini yaitu Penataan Kawasan Wisata Bukit Panyaweuyan dengan Konsep Agrowisata. Lokasi penelitian ini yaitu di Desa Tejamulya, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu membuat masterplan kawasan wisata Bukit Panyaweuyan yang dilihat dari kebijakan terkait objek studi, kondisi eksisting lokasi dan tapak, komponen agrowisata, kegiatan wisata yang ada, persepsi dan preferensi pengunjung dan best practice dari objek lain yang serupa . Untuk mencapai tujuan tersebut maka dilakukan beberapa analisis dengan menggunakan alat analisis seperti deskriptif, dan diagram kartesisus. Sehingga hasil dari analisis tersebut dapat digunakan untuk membuat masterplan kawasan wisata Bukit Panyaweuyan.
RUANG KOMUNITAS DI PESANGGRAHAN Gilbert Japutra; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6852

Abstract

The City today is one of many proofs that humans now lead a new and modern life  with multiple technological advancements that supports it, human activities become complex thus altering their lifestyle. Humans have been creating spaces to contain their daily activites. These spaces translates as a hub and from these hubs create communites where humans with the same goals and interests gather. Community Spaces is one of the places where humans connect and take a break from their daily activities and  becomes a Third place for them. Pesanggrahan is one of many urban areas that lacks public facilities that accomodates its inhabitants. Developments of vertical housings nearby makes it even urgent to address the lack of community spaces that provide and accomodates its nearby inhabitants. With the developments of modern public spaces being further and further commercialized, this emphasizes the need to develop a special community space with its purpose to solely provide and serve communities nearby. The methods of study used to respond to this matter are Proxemics and Human Ergonomics Study. Where as these two methods are used to try and fuse personal spaces in order to try and create a community space that is Comfortable, Informal and relaxing to its users. AbstrakKota saat ini merupakan salah satu bukti bahwa manusia telah menjalani kehidupan baru yang modern dengan berbagai perkembangan teknologi yang membuatnya berkembang, aktivitias manusia masa kini semakin kompleks, mengubah gaya hidup mereka. Manusia sejak awal telah menciptakan ruang sebagai wadah aktivitas hidup mereka. Ruang-ruang ini menjadi pusat kegiatan manusia dan dari ruang ini terbentuk komunitas yang berisi manusia-manusia dengan tujuan yang sama. Ruang komunitas menjadi salah satu tempat bagi manusia untuk berkoneksi dengan manusia lain, menghilangkan kejenuhan dari kesibukan sehari-hari, ruang ini menjadi tempat ketiga bagi mereka. Pesanggrahan merupakan salah satu area yang ramai dengan hunian dan kurang adanya fasilitas pewadah interaksi komunitas, apalagi dengan cukup banyak hunian vertikal yang ada disekitarnya keberadaan sebuah ruang public yang netral sangat dibutuhkan.  Proyek ini bertujuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat pesanggrahan khususnya penghuni Puri Park View dan sekitarnya akan ruang komunitas yang netral dan nyaman. Dengan banyaknya ruang publik yang semakin di komersialkan keberadaan ruang komunitas semakin dicari-cari. Metode perancangan yang digunakan berupa pendekatan Proxemics yang didasari oleh buku Edward Hall The Silent Language dan studi Ergonomi manusia. Keduanya digunakan dengan tujuan untuk meleburkan ruang personal agar memungkinkan terbentuknya sebuah ruang komunitas yang nyaman, informal dengan kesan santai bagi penggunanya.
E-SPORT ARENA RESPON DARI KEBUTUHAN KAUM MILENIAL Indro Indro; Andi Surya Kurnia
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4351

Abstract

E-Sport in South Korea has become one of the country's big income. E-Sport has a considerable influence on the country. Therefore E-Sport is questionable from local to international. The facilities needed for E-Sport also really need to be related to training places for people who want to become E-Sports athletes in order to be able to participate in international competitions. In some developed countries, the video game again recommends a vehicle to spend free time being asked to be a profession with income that is quite convincing. This profession is an Athlete professional in this case who is an expert in playing video games or who has been widely known as e-Athlete. If you have been given the title of the athlete, things that must be categorized in sports are given the name E-Sport. In Indonesia itself, with the recognition that the Indonesia E-Sport Association (IeSPA) as an organization that respects Kemenpora is also a bright spot for the development of sports in our country. Although E-Sport shows don't seem difficult to do just because a computer with high specifications is needed, however, it is necessary to implement it requiring a place with a certain arrangement of spaces. So that athletes who will compete can simplify the game. Therefore a place that is specifically designed to carry out E-Sport events is needed.AbstrakE-Sport seperti di Korea Selatan menjadi salah satu pendapatan yang cukup besar bagi negara itu. E-Sport memiliki dampak yang cukup besar bagi sebuah negara. Karenanya E-Sport dipertandingkan dari lokal sampai ke internasional. Kebutuhan sarana untuk E-Sport juga sangat perlu apalagi dengan adanya tempat pelatihan bagi masyarakat yang ingin menjadi atlet E-Sport sehingga dapat mengikuti kompetisi di dunia Internasional. Di beberapa negara maju video game bukanlah lagi sebuah wahana untuk menghabiskan waktu luang melainkan menjadi sebuah profesi dengan pendapatan yang cukup meyakinkan. Profesi tersebut dengan adalah menjadi atlit professional dalam kasus ini yang ahli dalam bermain video game atau yang sudah banyak dikenal orang dengan sebutan e-Atlit. Di Indonesia sendiri, dengan diakuinya Indonesia E-Sport Association (IeSPA) sebagai organisasi yang diakui Kemenpora turut menjadi titik terang perkembangan olahraga ini di negeri kita. Untuk bangunan E-Sport di Indonesia sudah ada sejak dulu karenanya dalam perancangan akan memakai metode preseden untuk mengambil apa aja yang menjadi sebuah ciri bangunan E-Sport. Keberadaan bangunan E-Sport di Jakarta banyak terletak di Jakarta Barat terutama kawasan Palmerah, jadinya lokasi tapak diperkirakan berada di Palmerah. 
PISANGAN NUANSA RETRO Hendi Setiawan; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8593

Abstract

Urban society is a modern society that has daily mobility and high routines and activities. This daily life then guides the city community with an all-practical lifestyle. The lifestyle demands of the urban community often demand to face a job and activity that takes up so much time that it often makes people forget about other needs including rest. This study aims to address the needs of the community, especially the East Pisangan community which is one of the areas in Pulo Gadung sub- district dominated by housing, land allotment used for housing / housing that is equal to 89.63% and the rest is used for roads, green lanes / parks , and lakes, this problem is then exacerbated by the eviction of the flea market which is the center of community gathering, then with a minimal amount of land which is then earmarked for open space and space to gather, through the role of architecture it is hoped that it can create a commercial space in the form of a flea market which is a place rest and communicate between residents so that people can have space to interact comfortably with each other. In this research the methods used are: first, conducting studies and observations; secondly, studying and reviewing the needs of the surrounding community and the need to relieve boredom and rest in the midst of a dense activity; third, compile the program in accordance with the results of the survey, observation and answer the community's needs so that the project objectives will be achieved.Keywords: Architecture; Needs; Rest; SocietyAbstrakMasyarakat kota merupakan masyarakat modern yang memiliki keseharian dengan mobilitas serta berbagai rutinitas dan aktivitas yang tinggi. Keseharian ini kemudian menuntun masyarakat kota dengan gaya hidup serba praktis. Tuntutan gaya hidup masyarakat kota sering sekali menuntut untuk menghadapi suatu pekerjaan dan kegiatan yang begitu menyita waktu sehingga sering sekali membuat masyarakat lupa akan kebutuhan lainnya termasuk istirahat. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat , terutama masyarakat Pisangan Timur yang merupakan salah satu daerah di kecamatan Pulo Gadung yang di dominasi oleh perumahan, peruntukan lahan yang dipergunakan untuk pemukiman/perumahan yaitu sebesar 89.63% dan sisanya dipergunakan untuk jalan, jalur hijau/taman, dan danau, masalah ini kemudian diperburuk dengan adanya penggusuran pasar loak yang merupakan pusat berkumpulnya masyarakat, kemudian dengan minimnya jumlah lahan yang kemudian di peruntukan untuk ruang terbuka dan ruang untuk berkumpul, melalui peran arsitektur diharapakan dapat menciptakan ruang komersial berupa pasar loak yang menjadi tempat beristirahat dan berkomunikasi antar penghuni sehingga masyarakat dapat memiliki ruang untuk saling berinteraksi dengan nyaman. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah pertama, melakukan studi dan observasi; kedua, mempelajari dan meninjau kebutuhan dari masyarakat sekitar serta kebutuhan untuk melepas kejenuhan dan beristirhat ditengah aktivitas yang padat; ketiga, menyusun program sesuai dengan hasil survei, observasi serta menjawab kebutuhan masyarakat sehingga tujuan proyek akan tercapai.
RENCANA PENGEMBANGAN KAMPUNG CINA DI KOTA WISATA CIBUBUR UNTUK MENINGKATKAN DAYA TARIK PENGUNJUNG Defita Andina Kandi; Priyendiswara A.B. Priyendiswara; Liong Ju Tjung
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4583

Abstract

The Ciangsana Tourism Village or better known as Chinese Village, located in Bogor Regency, West Java, has been established since 2002. The tour is crowded with tourists both from around Bogor and Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi and other areas. Tourism that has an area of 0.8 hectares has a target audience of middle and lower middle class economic people. The current tourism conditions of Chinese villages when viewed from the product life cycle are in a decline position and if left unchecked will result in unkempt and unattractive Chinese Village conditions and declining quality of service. Therefore, in this study a development plan will be made by knowing the feasibility of investing in making future development plans in Chinese villages using qualitative and quantitative approaches and conducting analyzes related to tourism development, such as site analysis and site analysis, object analysis similar, market analysis, space requirements analysis and investment feasibility analysis. The analysis was carried out using analytical tools namely descriptive, SWOT, benchmarking, crosstabulation, standard space requirements and discounted cash flow. This writing only shows the investment feasibility analysis to be used as a reference for making site plans. AbstrakKampung Wisata Ciangsana atau yang lebih dikenal Kampung Cina yang berlokasi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, telah berdiri sejak tahun 2002. Wisata ini ramai dikunjungi oleh wisatawan baik dari sekitar Bogor maupun Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi dan daerah-daerah lainnya. Wisata yang memiliki luas 0,8 hektar ini memiliki target pengunjung masyarakat ekonomi kelas menengah dan menengah bawah. Kondisi wisata Kampung Cina saat ini bila dilihat dari siklus hidup produk berada di posisi menurun dan apabila dibiarkan akan mengakibatkan kondisi Kampung Cina yang tidak terawat dan tidak menarik serta menurunnya kualitas pelayanan. Oleh karena itu, pada penelitian ini akan dibuat rencana pengembangan dengan cara mengetahui kelayakan investasi untuk membuat rencana pengembangan di Kampung Cina kedepannya dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif serta melakukan analisis-analisis yang berkaitan dengan pengembangan wisata, seperti analisis lokasi dan tapak, analisis objek studi sejenis, analisis pasar, analisis kebutuhan ruang dan analisis kelayakan investasi. Analisis yang dilakukan menggunakan alat analisis yaitu deskriptif, SWOT, benchmarking, crosstabulation, standar kebutuhan ruang dan discounted cash flow. Penulisan ini hanya menampilkan analisis kelayakan investasi untuk dijadikan salah satu acuan pembuatan denah rencana tapak.
URBAN BIKE HUB CISAUK Stefanus Stefanus; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10769

Abstract

The Covid-19 pandemic that has occurred has resulted in the emergence of the cycling phenomenon which has returned to life in various countries including Indonesia. The use of bicycles during the pandemic has been shown to be a means of transportation, exercise and recreation. This can have positive consequences both for the city and for the health benefits that are obtained from cycling so that the cycling phenomenon that is rife should be welcomed and supported so that it can become part of the lifestyle to come. Bike Hub, which is located in the Bumi Serpong Damai (BSD) area, has become an embryo for the Jabodetabek area as a building that accommodates park & ride functions oriented towards users of the Cisauk train station, as well as accommodating bicycle hobbyists in the surrounding area. Keywords: commuter; cycling; cyclist; dwellingAbstrakPandemi Covid-19 yang terjadi mengakibatkan munculnya fenomena bersepeda yang kembali marak di berbagai negara tak terkecuali Indonesia. Penggunaan sepeda selama masa pandemi ada yang digunakan sebagai alat transportasi, berolahraga maupun rekreasi. Hal ini dapat berakibat positif baik bagi kota maupun bagi manfaat kesehatan yang didapatkan dari bersepeda sehingga fenomena bersepeda yang sedang marak ini seharusnya disambut dan didukung agar dapat menjadi bagian dari gaya hidup yang akan datang. Bike Hub yang bertempatkan di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD) menjadi embrio bagi kawasan Jabodetabek sebagai bangunan yang mewadahi fungsi park & ride yang berorientasi ke pengguna stasiun kereta api Cisauk, juga mengakomodasi penghobi sepeda bagi kawasan sekitarnya.
SINGGAH KULINER RAWA BUAYA Julio Aristo Johan; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8580

Abstract

Jakarta is growing rapidly especially in infrastructure. In 2019 the MRT is inaugurated by President Jokowi Dodo on 24 March 2019. The MRT officially operates for the Lebak Bulus – Hotel Indonesia route. With the development of this public transport, it becomes a vital element of Jakarta. Therefore, the need for integration of public transport and public buildings has become a matter of concern. Trends like this have actually emerged in more developed countries. Rawa Buaya Culinary Stop By comes as a public building that is integrated with one of the available public transport, which is Rawa Buaya Station. Rawa Buaya Culinary Stop by is directly adjacent to the Rawa Buaya station. The culinary theme os taken the people who is going to the station or from the station of Rawa Buaya have a habit of buying some food nor snacks before and after taking the train. However, the available merchants around the station are scattered because they don’t have a dedicated place to vend. This is also supported by the desire of the local people to relocate people who vends along of Kali Semanan to a new and dedicated place that is well zoned. In this project, culinary becomes a magnet for people to come and stop by the project. So the people could interact with the building and be visited by everybody. Keywords:  Culinary; Jakarta; Stop by; Transportation; Third placeAbstrakKota Jakarta kian berkembang, terutama dalam bidang infrastruktur. Mrt pertama di Jakarta dengan rute Lebak Bulus – Bundaran Hotel Indonesia diresmikan oleh Presiden Jokowi Dodo pada tahun 2019. Dengan berkembangnya moda transportasi publik ini, maka moda transportasi publik pun menjadi sebuah unsur yang vital dalam keberlangsungan kota Jakarta. Oleh karena itu kebutuhan akan keterintegrasian moda transportasi publik dan bangunan sekitarnya pun menjadi hal yang perlu diperhatikan. Tren seperti ini sebenarnya sudah muncul pada negara-negara yang sudah lebih mutakhir moda transportasi publiknya. Singgah Kuliner Rawa Buaya hadir untuk menjadi bangunan publik yang terintegrasi dengan salah satu moda transportasi yang ada, yaitu Stasiun Rawa Buaya. Perancangan Singgah Kuliner Rawa Buaya berbatasan langsung dengan Stasiun KRL Rawa Buaya. Tema kuliner diambil karena orang yang hendak naik atau turun dari kereta yang berhenti di Stasiun KRL Rawa Buaya memilki kebiasaan untuk jajan. Namun, tempat berjualan di sekitar daerah stasiun terpencar karena mereka tidak memilki tempat yang khusus untuk berjualan. Hal ini juga didukung oleh keinginan warga setempat untuk merelokasi pedagang yang berjualan pada area sempadan sungai ke suatu tempat yang baru agar lebih tertib dan terzonasi dengan baik. Kuliner disini hadir menjadi sebuah magnet untuk orang-orang agar datang untuk singgah ke proyek. Proyek juga berinteraksi dengan sekitarnya dengan adanya program green belt serta ruang-ruang komunal yang bisa didatangi oleh siapapun. Proyek Singgah Kuliner Rawa Buaya diharapkan dapat menjadi sebuah third place bagi kawasan sekitarnya serta menjadi bangunan yang netral bagi siapapun.
HUNIAN KOMUNAL KOOPERATIF TB SIMATUPANG Gabriella Angie Ongky; Nina Carina
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10825

Abstract

Our lifestyle and work patterns are undergoing changes. One of them is the implementation of the Work From Home (WFH) system which is triggered by the spread of the Covid-19 pandemic that is sweeping the world. WFH was considered as one of the most effective steps to reduce the spread of the pandemic. However, WFH also has shortcomings which cannot facilitate the work process optimally, both physically and psychologically. In this day and age, the boundaries between working and living are slowly fading away and are no longer distinctly separate. Work or live activities no longer require their respective spaces, but can also be done in the same space. In connection with the concept of future dwelling, the public-private blurring character can be an important point that is fit with the characteristics of future residents (millennial generation workers) who are more concerned with quality than quantity of space. The method used is a qualitative descriptive analysis method which goes through several stages starting with the identification of issues, the search for theory and literacy, data analysis, and the formation of design concepts. This project is designed as a form of a new typology of work, based on the characteristics of Work, Play & Live that specially designed for the millenials. The Co- Dwell is a cooperative communal housing project that can accommodate and facilitate creative digital workers, who also develop along with the booming gig economy trend. This project is designed to become an embryo for the development of future work-live facilities. Keywords: blurring public-private; new work-live typology; WFH; Work-Play-Live AbstrakPola hidup dan pola bekerja kita sekarang ini telah mengalami perubahan. Salah satunya adalah penerapan sistem Work From Home (WFH) yang dipicu oleh adanya penyebaran pandemi Covid-19 yang melanda dunia. WFH dinilai sebagai salah satu langkah paling efektif untuk menekan penyebaran pandemi. Namun, WFH juga memiliki kekurangan seperti tidak dapat memfasilitasi proses bekerja secara maksimal, baik secara fisik maupun psikologi. Pada masa sekarang ini, batasan antara bekerja dan berhuni perlahan memudar dan tidak lagi nyata terpisah. Kegiatan bekerja maupun berhuni tidak lagi membutuhkan ruang tersendiri, namun bisa juga dilakukan dalam satu ruang yang sama. Berhubungan dengan konsep berhuni masa depan, karakter blurring public-private ini bisa menjadi poin penting yang dianggap sesuai dengan karakteristik penghuni masa depan (generasi milenial) yang lebih mementingkan kualitas dibanding kuantitas ruang. Metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif kualitatif yang melalui beberapa tahap dimulai dengan identifikasi isu, pencarian teori dan literasi, analisis data, serta pembentukan konsep perancangan. Proyek ini dirancang sebagai bentuk tipologi baru berhuni-bekerja dengan dasar karakteristik Work, Play & Live yang dirancang khusus bagi pekerja generasi masa depan. The Co-Dwell merupakan suatu proyek hunian komunal kooperatif yang dapat menampung dan memfasilitasi kebutuhan khususnya para pekerja digital kreatif yang ikut berkembang seiring dengan maraknya tren gig economy. Proyek ini dirancang bertujuan untuk menjadi embrio bagi perkembangan fasilitas berhuni-bekerja masa depan.

Page 42 of 134 | Total Record : 1332