cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PENGADAAN SUMBER AIR BERSIH MELALUI PROGRAM INTEGRASI HUNIAN DAN PENGOLAHAN AIR HUJAN STUDI KASUS: KAMPUNG APUNG, JAKARTA BARAT Aulia Rizki; Mekar Sari Suteja
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21804

Abstract

Kampung Apung, previously called Kapuk Teko, is a Betawi native village located in the West Jakarta area. From 1960-1978, natural resources in the area were still prosperous, such as rice fields and clean water that could be drunk directly from wells. However, in 1986, excavation was carried out around Kampung Apung to construct warehouses and factories. That causes the irrigation canals to be closed and lowers the land level of Kampung Apung. Kampung Apung has begun to be submerged in water and has faced various problems, such as lack of clean water, residents income, costs to renovate houses affected by floods, and a place to gather for the community. These problems make people want their old life back. This research aims to develop a growth room project to overcome the problems faced by Kampung Apung and to see the possibilities that will occur in the future. The data collection methods are qualitative and descriptive analysis using the urban acupuncture approach and the building design method using the borrowing method. This research resulted in a spatial program in the form of rainwater treatment, components of residential units, and public spaces. This program is expected to provide housing that can provide a source of clean water, optimize natural and human resources, and provide employment opportunities for Kampung Apung. The thing that needs to be considered in further research is to maximize the cost of building an economical floating housing structure. Keywords: float; Integration; Occupancy; Processing; Water Abstrak Kampung Apung, sebelumnya disebut Kapuk Teko, merupakan kampung asli Betawi yang berada di wilayah Jakarta Barat. Pada tahun 1960-1978, sumber daya alam di daerah tersebut masih kaya, seperti sawah serta air besih yang dapat langsung diminum dari sumur. Namun pada tahun 1986, pengurukan tanah dilakukan di sekeliling Kampung Apung untuk pembangunan gudang dan pabrik. Hal ini menyebabkan saluran irigasi tertutup dan muka tanah Kampung Apung lebih rendah. Kampung Apung mulai terendam air dan memiliki berbagai permasalahan yang dihadapi, seperti kurangnya air bersih, pendapatan warga, biaya untuk merenovasi rumah yang terdampak banjir, dan tempat untuk berkumpul bagi masyarakat. Masalah-masalah tersebut membuat warga menginginkan kehidupan lama mereka kembali. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah menyusun proyek ruang tumbuh untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi Kampung Apung serta melihat kemungkinan yang akan terjadi pada masa depan. Metode dalam pengumpulan data adalah analisis kualitatif dan deskriptif dengan menggunakan pendekatan akupunktur kota, serta metode desain bangunan menggunakan metode meminjam. Penelitian ini menghasilkan program ruang berupa pengolahan air hujan, komponen unit rumah tinggal, dan ruang publik. Dengan adanya program ini diharapkan dapat memberikan hunian yang mampu menyediakan sumber air bersih, mengoptimalkan sumber daya alam, sumber daya manusia, dan menyediakan lapangan pekerjaan bagi penduduk Kampung Apung. Adapun hal yang perlu diperhatikan pada penelitian selanjutnya adalah memaksimalkan kembali biaya dalam membangun struktur hunian apung yang lebih ekonomis.  
FESTIVAL BUDAYA SEBAGAI PEMBANGKIT IDENTITAS KAWASAN BUDAYA DAN SEJARAH MESTER DI JAKARTA TIMUR Ariella Verina Susilo; Mekar Sari Suteja
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21805

Abstract

Jatinegara is one of the areas known for its history of land ownership by Cornelis Meester, with the Pasar Lama Chinatown, the second-largest after Glodok in Jakarta. The image of a City following Lynch (1960) consists of 5 elements namely paths, edges, areas, nodes, and signs. The physical constituents of the city image play a role in forming regional memory in urban space. However, unfortunately this area has been neglected identity has also disappeared. Festivals as a cultural and historical phenomenon in urban life that can help rebuild the identity of the threatened area. The study used qualitative methods with descriptive analysis. Withal, the site selection method uses urban acupuncture and narrative architecture. The study founds the location in the Old Market triangle area was the most dominant physical and mental degradation area. Problems around the site riposted with a narrative architecture strategy at the memory festival. The Mester Memory Festival answers issues such as the lack of green open space in settlements, social interaction with the natural environment, the threat of losing cultural and historical character, and the economic crisis of underdeveloped retail. The main programs offered are in the form of permanent and non-permanent exhibitions, significant festivals, workshops, and window shopping as well as retail that has a high degree of flexibility to answer the region’s challenges in the future. Keywords:  city memory;  festival; identity Abstrak Jatinegara merupakan salah satu kawasan yang dikenal dengan sejarah kepemilikan tanah Cornelis Meester dahulunya dengan pecinan Pasar Lama yang terbesar kedua di Jakarta setelah Glodok. Menurut Lynch (1960) citra kota terdiri atas 5 unsur yaitu jalur, tepian, kawasan, simpul, serta pertanda. Unsur-unsur fisik citra kota berperan dalam membentuk memori kawasan pada ruang kota. Namun, sayangnya kawasan ini sudah terbengkalai sehingga identitasnya ikut menghilang. Festival dilihat sebagai sebuah fenomena budaya dan sejarah di kehidupan masyarakat kota yang dapat membantu membangun kembali identitas kawasan yang terancam. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif. Selanjutnya metode pemilihan tapak menggunakan urbran acupuncture serta menggunakan metode perancangan arsitektur narasi. Hasil penelitian menemukan lokasi pada kawasan segitiga Pasar Lama yang paling dominan mengalami degradasi fisik maupun mental. Permasalahan di sekitar tapak terjawab dengan strategi arsitektur narasi pada festival memori. Festival memori di Mester menjawab permasalahan seperti kurangnya RTH di permukiman, kurangnya interaksi sosial dengan lingkungan alam, terancam hilangnya karakter kawasan budaya dan sejarah, serta krisis ekonomi akan retail yang tidak berkembang. Program utama yang ditawarkan berupa pameran tetap dan tidak tetap, festival utama, workshop dan window shopping serta retail yang memiliki tingkat fleksibilitas tinggi untuk menjawab tantangan kawasan di masa depan.
PERANCANGAN EKSTENSI KORIDOR TERDEGRADASI AKIBAT PEMBANGUNAN STASIUN LAYANG DENGAN METODE URBAN ACUPUNCTURE (STUDI KASUS: STASIUN HAJI NAWI, JAKARTA SELATAN) Dyanita Utami; Mekar Sari Suteja
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21806

Abstract

Traffic jam is a situation experienced by the people of Jakarta almost every time. This is because the ratio of the growth of roads and motor vehicles is not balanced. Highways in Jakarta are always active both during the day and at night, one of them is Jalan Raya Fatmawati. This is due to the dense population and road users who will use Jalan Fatmawati as access to Senayan from Lebak Bulu. To reduce traffic jam, the government plans to build a macro transportation system by building a Mass Rapid Transit (MRT) facility. However, the construction of the MRT project has a negative externality impact. Actually, one of the policies for the development of the MRT (Mass Rapid Transit) is to increase infrastructure development in Jakarta. In project planning, external and social aspects should also be considered in order to realize participatory and effective development. Various impacts occurred during the construction process as well as when the MRT construction was operating. The construction of the elevated MRT has resulted in the western strip of the Haji Nawi station experiencing physical, mental and social degradation. Even though the construction of this MRT provides enormous potential for the surrounding area, it is hampered because the construction of this MRT station makes the road narrow especially there is one shophouse blocking the road so that cars cannot stop and can only pass. The shop owner was forced to go out of business because it has no client, the road was narrow and not visible. Therefore the author wants to use the urban acupuncture method so that mutualism symbiosis occurs and restores the corridor to life by doing extensions and maximizing the hampered potential. Keywords:  Degradation; Extension; MRT; Traffic Jam; Urban Acupuncture Kemacetan adalah situasi yang hampir setiap saat dialami masyarakat Jakarta. Hal ini karena perbandingan pertumbuhan jalan dan kendaraan bermotor tidak seimbang. Jalan raya di Jakarta selalu aktif baik siang hari maupun malam hari salah satunya Jalan Raya Fatmawati. Hal ini dikarenakan dengan padatnya jumlah penduduk dan pengguna jalan raya yang akan menggunakan Jalan Fatmawati sebagai akses ke Senayan dari Lebak Bulus maupun sebaliknya. Untuk mengurangi kemacetan pemerintah merencanakan untuk mewujudkan sistem transportasi makro dengan membangun sarana transportasi Mass Rapid Transit (MRT). Namun pembangunan proyek MRT memberikan dampak eksternalitas negatif. Sebenarnya salah satu kebijakan pembangunan MRT (Mass Rapid Transit) untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur di Jakarta. Dalam perencanaan proyek seharusnya juga memperhatikan aspek eksternal dan sosial demi mewujudkan pembangunan yang partisipatif dan efektif. Berbagai dampak terjadi saat proses pembangunan maupun saat pembangunan MRT telah beroperasi. Pembangunan MRT Layang ini mengakibatkan strip bagian barat stasiun Haji Nawi mengalami degradasi fisik, mental dan juga sosial. Padahal pembangunan MRT ini memberikan potensi yang sangat besar bagi daerah sekitar, namun terhambat karena pembangunan stasiun MRT ini membuat jalan menjadi sempit terlebih ada satu ruko yang menghalangi jalan sehingga mobil tidak dapat singgah dan hanya dapat lewat. Pemilik ruko terpaksa gulung tikar karena sepi, jalan sempit dan tidak terlihat. Maka dari itu penulis ingin menggunakan metode urban acupuncture agar terjadi simbiosis mutualisme dan mengembalikan koridor menjadi hidup kembali dengan melakukan ekstensi dan memaksimalkan potensi yang terhambat.
PENERAPAN MEMORABLE TOURISM EXPERIENCE (MTE) PADA PERANCANGAN WISATA GASTRONOMI DAN BATIK BETAWI SEBAGAI URBAN ACUPUNCTURE DI SETU BABAKAN Gitta Nathania; Mekar Sari Suteja
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21807

Abstract

Culture is always attached to humans. Whenever and wherever the area is, humans always have a culture because it is a way of life that develops and is shared by a group of people that is passed down from generation to generation. The first function of culture in people's live is as identity. The presence of culture is a characteristic of certain groups. Culture and creativity have the potential to provide social, economic and spatial benefits for cities and communities, thereby contributing to the competitiveness and sustainability of cities. The culture that is grasped will show where the region and its identity come from. Betawi is the original culture identity of Jakarta which is divided into several types, including clothing, handicrafts, and food. This tourism project, which is located in Setu Babakan Betawi Village, aims to preserve the history of Betawi culinary in Indonesia, especially for the younger generation who are currently starting to lose interest in regional food. Not only that, this project also has a Betawi batik activity program which aims to introduce and preserve the way of batik using handpicking techniques and natural dyes that are environmentally friendly. The method used to support this project is the principle of urban acupuncture and the concept of Memorable Tourism Experience. The architectural design in this paper are expected to be able to embrace the potentials of Betawi culture in Setu Babakan, connect tourists with local communities, improve the quality of life and environment through the memorable space experience. Keywords:  Betawi; culture; memorable tourism experience; tourism; urban acupuncture Abstrak Kebudayaan akan selalu lekat dengan kehidupan manusia. Entah kapan dan di manapun daerahnya, manusia akan selalu berbudaya. Pasalnya, budaya merupakan cara hidup yang terus berkembang serta dimiliki bersama oleh kelompok orang yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Fungsi pertama budaya dalam kehidupan masyarakat adalah sebagai identitas. Kehadiran budaya merupakan ciri khas terhadap suatu kelompok tertentu. Budaya dan kreativitas memiliki potensi yang besar untuk memberi manfaat baik secara sosial, ekonomi, maupun spasial kota dan masyarakat, sehingga memberikan kontribusi pada daya saing dan keberlanjutan dari suatu kota. Budaya yang digenggam akan menunjukkan di mana daerah dan identitasnya berasal. Budaya Betawi merupakan identitas asli Kota Jakarta yang terbagi menjadi beberapa jenis, antara lain busana, kerajinan tangan, serta makanan. Proyek wisata yang terletak di Kampung Betawi Setu Babakan ini bertujuan untuk mempreservasikan sejarah kuliner Betawi di Indonesia, terkhusus bagi generasi muda yang saat ini mulai kehilangan minatnya terhadap makanan daerah. Tidak hanya itu, proyek ini juga memiliki program aktivitas batik Betawi yang bertujuan untuk memperkenalkan dan melestarikan cara membatik dengan teknik pencoletan dan pewarna alami yang ramah lingkungan. Metode yang digunakan untuk mendukung proyek ini adalah prinsip urban acupuncture dan konsep Memorable Tourism Experience. Hasil perancangan arsitektur dalam tulisan ini diharapkan dapat merangkul potensi-potensi kebudayaan Betawi yang tersebar di Setu Babakan, menghubungkan wisatawan dengan komunitas lokal, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan lingkungannya melalui pengalaman ruang yang dihadirkan
PENERAPAN PENGALAMAN RUANG (USER EXPERIENCE) SEBAGAI MEDIA BARU DALAM PERANCANGAN LIVING MUSEUM DI PASAR IKAN, JAKARTA UTARA Prisilla Noviani Soehardinata; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21814

Abstract

The Pasar Ikan area, as one of the starting points for the development of Jakarta in the Batavia era, is one of the biggest fish markets of its time. As years passed, Pasar Ikan degraded and changed its function into a slum settlement, resulting in a loss in its image as a historical and maritime area. This situation then becomes a trigger to restore the image of the Pasar Ikan area, by considering current conditions and the need in providing education for the community. Museums are one of many ways to educate the public about the history of Pasar Ikan. However, it was found that the number of public visits to museums is still very low, especially among the millennial generation. Hence, a new media, that is relevant to current development, is required to convey information in the museum. The methods used are Translating History into User Experience, Everydayness based on a participatory approach and narrative tactics, and 4 Space Plot Strategies. In conclusion, the user experience in the Living Museum is built through: 1. Translating History into Space Experience which results in Past, Present, and Future zoning; 2. Daily analysis that produces aspects of the five senses of the present and the past; 3. 4 Space Plot Strategies that produce Zoning, Zone Section & Events, 5 Sense Experiences (both architecturally in the form of dioramas and non-architecturally by using actors), and Spatial Configuration. Keywords: adaptive-reuse; everydayness; living museum; user experience
BIOSKOP SEBAGAI WADAH SOSIAL DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR KESEHARIAN DI KAWASAN SENEN, JAKARTA PUSAT Hansen Lieandra; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21815

Abstract

Young and old have been enjoying watching movies in the cinema for a long time.  Along with the development of the times, a lot has also happened to the cinema and always follows the times.  Seeing the development of cinemas, there are step-by-step cinemas that can be enjoyed outdoors, drive-in cinemas that can be watched from the car, and there are exclusive seats in cinemas such as 3d theaters, love seats, premieres, and others.  Not only a place to watch, but cinemas can also be used multifunctionally which we may have encountered, for example, concerts at the cinema, meet and greets at the cinema, worship at the cinema, to performing at the cinema.The times have indeed affected cinemas and these changes continue to occur, especially now that there are streaming platforms that provide movie viewing via the internet that are easy to access now.  Streaming that is easy to watch anywhere threatens the world of cinema, even though it is threatened, cinema and streaming still need each other. Like in Senen, the local community can also enjoy films, namely, at the Grand Theater Senen where there are many activities to watch and socialize at Senen.  However, the activities and buildings of the Grand Theater of Senen undergo continuous changes and the lifestyle of the people in Senen also begins to change, this change makes the area around the cinema neglected.  Keywords:  attractor; cinema; everydayness architecture Abstrak Kalangan muda dan tua sudah lama menikmati tontonan di bioskop. Seiring berkembangnya zaman, banyak juga yang terjadi kepada bioskop dan selalu mengikuti perkembangan zaman. Melihat perkembangan bioskop, terdapat bioskop layar tancap yang bisa dinikmati outdoor, drive-in cinema yang bisa ditonton dari mobil, dan ada kursi yang eksklusif di bioskop seperti, teater 3d, love seat, premiere, dan lainnya. Tidak hanya tempat untuk menonton tetapi bioskop juga dapat digunakan secara multifungsi yang mungkin sudah pernah kita temui contohnya, konser di bioskop, meet and greet di bioskop, ibadah di bioskop, hingga melakukan pertunjukan di bioskop. Perkembangan zaman memang mempengaruhi bioskop dan perubahan itu terus terjadi, apalagi sekarang sudah ada platform streaming yang menyediakan tontonan film melalui internet yang mudah untuk diakses sekarang. Streaming yang mudah ditonton dimana saja mengancam dunia perfilman, meskipun terancam tetapi bioskop dan streaming ini masih saling membutuhkan, jadi ada persetujuan diantara keduanya untuk tetap menyediakan konten untuk menonton sehingga kita masih bisa menonton film. Seperti di Senen, film juga dapat dinikmati oleh masyarakat sekitar yaitu, di Grand Theater Senen dimana disana ditemukan banyak aktivitas untuk menonton dan bersosialisasi di Senen. Namun, aktivitas dan bangunan Grand Theater Senen mengalami perubahan yang terus terjadi dan gaya hidup masyarakat di Senen juga mulai berubah, perubahan ini menjadikan kawasan sekitar bioskop menjadi terbengkalai.
PENDEKATAN TIPOLOGI PADA DESAIN RUANG SOSIAL MASYARAKAT TIONGHOA DALAM UPAYA MENGEMBALIKAN CITRA KAWASAN GLODOK Shinta Angelita; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21816

Abstract

Social space is rooted to the identity of the community, which also becomes the image of a region. However, a shift in social structure in a region is inevitable due to demands of modern economy and urban development. When the identity-forming agent of this region shifts, the identity of the region will slowly fade and change. In this study, the author chose Glodok as the region that experienced a similar case. The strong social behavior, meaning, and identity of the Chinese community in Glodok resulted in a typology and character of social space that is unique compared to other regions. The recently-build-social spaces in Glodok only appear to reflect the regional image physically, but do not really reflect the spirit and values ​​of the Chinese community in Glodok. This happens due to the large number of new entrants and rebranding efforts for the sake of modern market demand. Therefore, it is necessary to have an architectural strategy in the form of a socio-cultural space that can record the local soul of the Glodok area and instill it slowly in the long term as part of the lives of new residents in the future. To avoid a similar case in Glodok today, a typological approach is used to understand the reasons behind the program, form, and spatial arrangement of the socio-cultural space in Glodok. This typological approach must be able to rebuild the value and familiarity of Glodok as well as produce a new modification to meet the demands of the modern market. The basic typological approach used is by extracting the spatial patterns of Glodok and the daily life of the Glodok people, superimposing the spatial layers, and reinterpreting traditional Chinese architectural elements which are then transformed into a mass. Keywords:  Glodok; Identity; Image of Region; Social space; Typology Abstrak Ruang sosial dalam suatu kawasan mengakar pada identitas komunitasnya, yang  menjadi citra dari kawasan tersebut. Namun, pergeseran struktur sosial dalam suatu kawasan tak terelakan karena tuntutan ekonomi modern dan perkembangan kota. Lantas, ketika agen pembentuk citra kawasan ini hilang, maka identitas dari kawasan pun turut memudar dan berubah jika berbicara dalam kurun waktu lama. Dalam penelitian ini, penulis memilih Glodok sebagai kawasan yang mengalami kasus serupa. Perilaku sosial, makna, dan identitas komunitas Tionghoa yang kuat di Glodok menghasilkan tipologi dan karakter ruang sosial yang berbeda dengan kawasan lain. Ruang-ruang sosial di Glodok yang baru hanya secara fisik luarnya seakan mencerminkan citra kawasan, tetapi tidak benar-benar mencerminkan jiwa dan nilai dari masyarakat Tionghoa di Glodok. Hal ini terjadi karena banyaknya pendatang baru dan upaya rebranding demi permintaan pasar modern. Oleh sebab itu, perlu adanya sebuah strategi arsitektur berupa ruang sosial budaya yang dapat merekam jiwa lokal kawasan Glodok dan menanamkannya secara perlahan dalam jangka panjang sebagai bagian dari kehidupan penghuni baru di masa mendatang. Untuk menghindari kasus serupa di Glodok sekarang, maka pendekatan tipologi digunakan untuk memahami alasan dibalik program, bentuk, dan tatanan spasial pada ruang sosial budaya di Glodok. Pendekatan tipologi ini harus dapat membangun kembali nilai dan familiaritas kawasan Glodok sekaligus menghasilkan sebuah modifikasi baru agar turut memenuhi permintaan pasar modern. Dasar pendekatan tipologi yang digunakan adalah mengekstraksi pola spasial Glodok serta keseharian masyarakat Glodok, meng-superimpose lapisan spasial tersebut, dan melakukan reinterpretasi terhadap elemen arsitektur tradisional Cina yang selanjutnya ditransformasi ke dalam gubahan.
REVITALISASI BANGUNAN EX-CHARTERED BANK DI KAWASAN KOTA TUA JAKARTA MELALUI PENYUNTIKAN INTERIORITAS Ilma Badryah Hidayah Jamaludin; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21817

Abstract

Starting with the many buildings that were built during the Dutch period, then underwent a change of function, renewal and abandoned so that it became a building that was not maintained or maintained. The Old Town area is an area known for its many historical relics in the form of buildings, art and much more. However, the many changes in function that have made the Old Town Area lose its original function. One of them is the heritage building of the Ex-Chartered Bank of India, Australia & China which is located on a road hook which had its initial function as a bank and then underwent changes which ended with the abandonment of the building. Through the Revitalization Project of Ex-Chartered Bank Heritage Buildings in the Old City Area as an Art Center, Gallery and Performance Place by injecting interiority as an effort to revive the building, it is hoped that it can restore relics, works and can become a place or container for art activities that are starting to be abandoned. So that it can restore the image of the area to be Old Batavia with the existing art. Keywords: acupuncture architecture; injection of interiority; interior architecture; revitalization;  social and culture Abstrak Diawali dengan banyaknya bangunan yang dibangun pada masa Belanda, lalu mengalami pergantian fungsi, pembaharuan serta ditinggalkan sehingga menjadi bangunan yang tidak terjaga maupun terawat. Kawasan Kota Tua merupakan kawasan yang dikenal dengan banyaknya peninggalan sejarah berupa bangunan, seni dan masih banyak lagi. Namun banyaknya pergantian fungsi yang dialami menjadikan Kawasan Kota Tua kehilangan fungsi awalnya. Salah satunya bangunan peninggalan Ex-Chartered Bank of India, Australia & China yang berada dihook jalan yang memiliki fungsi awal sebagai bank lalu mengalami perubahan yang diakhiri dengan terbengkalainya bangunan. Melalui proyek Revitalisasi Bangunan Warisan Ex-Chartered Bank Di Kawasan Kota Tua Sebagai Pusat Seni, Galeri dan Tempat Pertunjukan dengan penyuntikan interioritas sebagai upaya menghidupkan bangunan diharapkan dapat mengembalikan peninggalan, karya dan dapat menjadi tempat atau wadah dalam aktivitas seni yang mulai ditinggalkan. Sehingga dapat mengembalikan citra kawasan menjadi Old Batavia dengan seni yang ada.
PERANCANGAN RUANG SOSIAL BERBASIS BUDAYA CINA BENTENG SEBAGAI GENERATOR BARU PECINAN PASAR LAMA TANGERANG Helen Rosabella Arianto; Suwardana Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21818

Abstract

Tangerang Old Market Chinatown is known as the forerunner to the birth of Chinatown in the Tangerang area whose descendants are now better known as Cina Benteng. Chinatown which has existed since 3 decades ago, of course, has a deep historical background, but over time and the development of the era, Tangerang Old Market Chinatown is forced to continue to follow the rapid development of Tangerang City. Without realizing it, Tangerang Old Market Chinatown is gradually began to experience changes in form, function, a decrease in environmental quality that had an impact on the social life of the people in the Chinatown of Pasar Lama Tangerang. Through the acupuncture system by piercing the deep parts that require improving the quality of life in the community, as well as by observing the daily activities of the people in Chinatown. The collected data, observation and analysis will be used as the basis for the development of social space in Tangerang Old Market Chinatown, with the main focus on developing Cilame Street. The formation of social space from the culture and daily life of the Chinese Benteng community in Tangerang's Old Market Chinatown can support the creation of increased social interactions that occur in Chinatown communities, as well as the injection of culinary functions in the building can restore the characteristics of Chinatown through cultural culinary, and also this development will be act as a new generator for Chinatown Tangerang Old Market to introduce the culture of the Chinese Benteng community and indirectly can become an attraction for the surrounding community and newcomers to come to Tangerang Old Market Chinatown. Keywords: Attractor; Cultural Culinary; Local Identity; Social Space Abstrak Pecinan Pasar Lama Tangerang dikenal sebagai cikal bakal lahirnya pecinan di daerah Tangerang yang keturunannya saat ini lebih dikenal sebagai Cina Benteng. Pecinan yang telah ada sejak 3 dekade lalu tentunya telah memiliki latar belakang sejarah yang dalam, namun seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan jaman maka Pecinan Pasar Lama Tangerang terpaksa harus terus mengikuti arus perkembangan Kota Tangerang yang begitu pesat, sehingga tanpa disadari Pecinan Pasar Lama Tangerang lambat laun mulai mengalami perubahan bentuk, fungsi, penurunan kualitas lingkungan yang berdampak kepada kehidupan sosial masyarakat di Pecinan Pasar Lama Tangerang. Melalui sistem akupunktur dengan menusuk pada bagian yang dalam membutuhkan peningkatan kualitas hidup dalam masyarakat, serta dengan observasi kegiatan keseharian masyarakat dalam pecinan, dapat menjadi dasar pengembangan ruang sosial pada Pecinan Pasar Lama Tangerang dengan focus utama pengembangan pada Jalan Cilame. Pembentukan ruang sosial dari budaya dan keseharian masyarakat Cina Benteng dalam Pecinan Pasar Lama Tangerang dapat mendukung terciptanya peningkatan interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat pecinan, serta dengan adanya injeksi fungsi kuliner dalam bangunan dapat mengembalikan karakteristik pecinan melalui kuliner budaya, juga dapat menjadi generator baru bagi Pecinan Pasar Lama Tangerang untuk mengenalkan budaya masyarakat Cina Benteng dan secara tidak langsung dapat menjadi atraktor bagi masyarakat sekitar dan pendatang untuk datang ke Pecinan Pasar Lama Tangerang.
PENERAPAN METODE KESEHARIAN PADA DESAIN KAMPUNG SUSUN SEBAGAI STRATEGI PERBAIKAN PERMUKIMAN DI KAMPUNG APUNG O’Brien Sameagan Tandika; Irene Syona Darmady
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21819

Abstract

Kampung Apung is located in Cengkareng District, which is one of the sub-districts that is often affected by annual floods. In addition, the land around Kampung Apung was elevated twice due to the construction for industrial factories and warehouses resulted in the houses of the residents of Kampung Apung being lower than the surrounding area, as a result, Kampung Apung was permanently flooded. Many residents of Kampung Apung began to move due to permanent flooding, but there were also residents who chose to stay because of the collective memory in Kampung Apung. Although the residents of Kampung Apung have adapted to the surrounding environment, this still results in the residential buildings continuing to experience physical degradation and has a direct impact on the quality of life of the residents of Kampung Apung, for example, lack of access to clean water, semi-permanent buildings that must be repaired regularly, to waste problems due to permanent flooding. As a result, the quality of life of the residents of Kampung Apung continues to deteriorate over time. The ultimate goal of this project is to improve the quality of life for the residents of Kampung Apung by providing affordable housing designed using the “everydayness” method to produce housing with additional programs based on the daily lives of the residents of Kampung Apung. The final form of the project is vertical housing in the strategy of Kampung Susun. Keywords: Degradation; Everydayness; Kampung Susun; Life Quality Abstrak Kampung Apung terletak di Kecamatan Cengkareng, yang merupakan salah satu kecamatan yang sering terdampak banjir tahunan. Peninggian tanah di sekitar Kampung Apung sebanyak dua kali akibat pembangunan pabrik industri dan pergudangan mengakibatkan rumah warga Kampung Apung lebih rendah dibandingkan sekitar, akibatnya Kampung Apung terendam banjir permanen. Banyak warga Kampung Apung yang mulai berpindah akibat banjir permanen, tetapi ada juga warga yang memilih bertahan karena adanya memori kolektif di Kampung Apung tersebut. Walaupun warga Kampung Apung telah beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, hal ini tetap mengakibatkan bangunan hunian terus mengalami degradasi fisik dan berdampak langsung pada kualitas hidup warga Kampung Apung, misalnya akses air bersih yang kurang, bangunan semi-permanen yang harus dibenahi secara rutin, hingga permasalahan sampah akibat banjir permanen. Akibatnya, kualitas hidup warga Kampung Apung terus memburuk seiring berjalannya waktu. Tujuan akhir proyek ini adalah untuk meningkatkan kualitas hidup warga Kampung Apung dengan menyediakan hunian terjangkau yang didesain menggunakan metode “keseharian” agar menghasilkan hunian dengan program tambahan berdasarkan keseharian warga Kampung Apung. Bentuk akhir proyek berupa hunian vertikal dengan strategi Kampung Susun.

Page 81 of 134 | Total Record : 1332