cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
KONSERVASI SELASAR PERKOTAAN PADA GERBANG TERMINAL BLOK M DENGAN METODE URBAN ACUPUNCTURE Audrey Felicia; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21765

Abstract

Blok M district which was born as ‘market’, exists and lives sustainably from the existence of the Blok M Terminal. However, due to physical and social terms that have changed time by time, the terminal as the heart of the district has actually weakened. This condition began with the waning of the existence of Blok M Mall, which is defined as a terminal gateway, which is also known as the first underground mall in Indonesia. Then, what will happen if the existence of this terminal gate is lost? To prevent this possibility, a conservation plan is proposed as a protection and management measure for the terminal gate, which is interpreted as a connecting corridor between the terminal and the district. Conservation of the corridor gate of Blok M terminal is carried out on the basis of redefining the meaning of the presence of Blok M Mall as the terminal gate of Blok M district itself. The conditions and problems that occur are evaluated on a macro basis, which are then marked as disease points that have an impact on the movement system of Blok M district. The proposed conservation step will be a process that runs according to the rules of the urban acupuncture method, with the aim and purpose of reviving the Blok M terminal gate. so that the flow of human distribution in the area is not hampered. Urban acupuncture is defined as the healing process of a degraded area, by focusing on one point that is considered capable of sustaining the flow of an obstructed area. Keywords:  Blok M; conservation; point; strip; urban Abstrak Kawasan Blok M yang lahir sebagai ‘pasar’, hadir dan hidup berkelanjutan dari adanya eksistensi terminal Blok M. Namun, dikarenakan kondisi fisik dan sosial yang mulai berubah dari waktu ke waktu, terminal sebagai jantung kawasan ini justru melemah. Kondisi ini dimulai dari pudarnya eksistensi Blok M Mall, yang merupakan gerbang terminal dengan tipologi mall bawah tanah. Lantas, apa yang akan terjadi apabila eksistensi gerbang terminal ini hilang? Untuk mencegah terjadinya kemungkinan tersebut, diajukan rencana konservasi sebagai langkah perlindungan dan pengelolaan terhadap gerbang terminal, yang dimaknai sebagai selasar penghubung antara terminal dengan kawasan. Konservasi selasar gerbang terminal Blok M dilakukan dengan dasar mendefinisikan ulang makna akan kehadiran Blok M Mall sebagai gerbang terminal kawasan Blok M itu sendiri. Kondisi dan permasalahan yang terjadi dievaluasi secara makro, yang kemudian ditandai sebagai titik penyakit yang berdampak pada sistem pergerakan kawasan Blok M. Langkah konservasi yang diajukan akan menjadi sebuah proses yang berjalan sesuai kaidah metode urban acupuncture, dengan maksud dan tujuan untuk menghidupkan kembali gerbang terminal Blok M, sehingga alur penyebaran manusia pada kawasan tidak terhambat. Urban acupuncture diartikan sebagai proses penyembuhan suatu kawasan yang mengalami degradasi, dengan berfokus pada satu titik yang dinilai mampu menopang aliran kawasan yang terhambat.
MENGHIDUPKAN KEMBALI JALAN JAKSA DENGAN JARINGAN PENGINAPAN, KULINER, SENI, DAN RUANG KERJA BERSAMA Dominicus Raynard; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21766

Abstract

Jaksa Street used to known as a destination for foreign tourists with low budgets to find cheap accommodation with a hostel concept. Low cost lodging offered an unforgettable experience and impression for the tourists. As time goes by, the popularity of Jaksa Street is increasing, making local people following the surrounding buildings, and turning their homes as cheap lodging for tourists. At its peak, tourists are even willing to sleep with simple facilities in order to get cheap lodging.However, the conditions are different today, where Jaksa Street has lost its image as a tourist destination and cheap accommodation for tourists. Several incidents of financial crisis and bombings that have occurred have caused the number of tourists to drop and Jaksa Street is slowly starting to be forgotten. The presence of new tourist attractions also makes Jaksa Street unable to compete with other tourist destination due to a lack of innovation. Its strategic location with various tourist destinations does not help to attract the attention of tourists today. Through this urban acupuncture project, Jaksa Street can have a new attractor and can restore its glory which is currently fading. Its strategic location and the unique history of this road as  the  destination for cheap lodging creates its own uniqueness in the middle of the Jakarta city which keep developing. In this project, urban acupuncture is carried out by renewing the concept of lodging and dining as well as adding co-working space as a new program. The new concept of lodging combined the conventional type hotel with capsule hotels. The dining area is made with the concept of a food court which consists of various types of different food stalls with a semi-outdoor dining area and is surrounded by a garden as a response to the tropical climate. Art elements also included as an additional attraction by creating an art stage that can be used for musical, singing, and dancing performances. Keywords: Jaksa Street; Tourist; Urban Acupuncture Abstrak Dahulu Jalan Jaksa dikenal sebagai tempat tujuan bagi wisatawan asing dengan anggaran rendah untuk mencari penginapan murah dengan konsep hostel. Penginapan murah yang ditawarkan memberi pengalaman dan kesan yang tidak terlupakan bagi para turis wisatawan. Seiring berjalannya waktu, kepopuleran Jalan Jaksa semakin meningkat membuat masyarakat setempat mengikuti jejak bangunan sekitarnya yang sudah terlebih dahulu menjadikan rumah mereka sebagai penginapan murah untuk para wisatawan. Pada masa puncaknya, para wisatawan bahkan rela tidur dengan fasilitas seadanya demi mendapatkan penginapan yang murah. Namun kondisi tersebut sudah berbeda saat ini, dimana Jalan Jaksa kehilangan citranya sebagai tujuan wisata dan penginapan murah bagi wisatawan. Beberapa peristiwa krisis keuangan dan pengeboman yang pernah terjadi membuat jumlah wisatawan sempat turun dan perlahan Jalan Jaksa mulai dilupakan. Kehadiran tempat-tempat wisata baru juga membuat Jalan Jaksa semakin tertinggal karena kurangnya inovasi. Lokasinya yang strategis dengan berbagai tujuan wisata tidak mampu menarik perhatian para wisatawan saat ini. Melalui proyek akupuntur perkotaan ini, Jalan Jaksa diharapkan dapat memiliki daya tarik baru serta bisa mengembalikan kejayaannya yang saat ini meredup. Letaknya yang strategis dan sejarah jalan ini yang unik karena menjadi pusat  dan tujuan penginapan murah menjadi keunikan sendiri di tengah kota Jakarta yang terus berkembang. Pada proyek ini, urban acupuncture dilakukan dengan pembaharuan konsep penginapan dan tempat makan serta penambahan program baru yaitu ruang bekerja bersama. Konsep baru pada penginapan dilakukan dengan menggabungkan penginapan jenis hotel konvensional dengan hotel kapsul. Tempat makan dibuat dengan konsep food court yang terdiri dari beragam jenis kios makanan berbeda dengan area makan yang dibuat semi outdoor dan dikelilingi dengan taman sebagai respon dari iklim tropis. Unsur seni juga dimasukan sebagai daya tarik tambahan dengan membuat panggung seni yang dapat digunakan untuk pertunjukan musik, bernyanyi, tarian, dan sebagainya.
PENDEKATAN REKONSTRUKSI MEMORI KOLEKTIF SEBAGAI AKUPUNKTUR PERKOTAAN DALAM BENTUK MUSEUM PADA KAWASAN SUNDA KELAPA Malvin Bastian Sendi; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21767

Abstract

The loss of the collective memory of the Sunda Kelapa area as the womb of the city of Jakarta is the background of this project. This area used to be the main economic area driven by the Sunda Kelapa Harbor, but Sunda Kelapa continues to experience degradation and lose its capabilities. This causes the waning of activity in the area and makes this area lose its collective memory. The most severe degradation can be seen in the Maritime Museum area, where there are many abandoned heritage buildings and become dead spaces for the site. Urban acupuncture is one solution that can be applied to improve the degradation of urban space, and for that, an in-depth study is needed to determine the sick points in the area. The design was carried out to heal the ailing Maritime Area by restoring the collective memory of the site and becoming a new form of attraction that could revive the area. The project uses the heritage future method and spatial perception as a building design approach to answering problems in historical sites. The design results offer a museum extension in the Maritime Areas as an acupoint to restore the lost collective memory of the area and as a magnet to revive the area. The project establishes positive reciprocal relationships with local communities as part of the region's historical development. The project becomes an intervention in the context of the historical area that restores the collective memory of the community and the area. Keywords: Memory Reconstruction; Sunda Kelapa; Urban Acupuncture Abstrak Hilangnya memori kolektif Kawasan Sunda Kelapa sebagai rahim Kota Jakarta melatarbelakangi proyek ini. Kawasan ini dulunya merupakan kawasan ekonomi utama yang digerakkan oleh Pelabuhan Sunda Kelapa, akan tetapi Sunda Kelapa terus mengalami degradasi dan kehilangan kemampuannya. Hal ini menyebabkan memudarnya aktivitas pada kawasan dan membuat kawasan ini kehilangan memori kolektifnya. Degradasi yang terjadi dapat dilihat paling parah terjadi di Kawasan Museum Bahari dimana kawasan terdapat banyak bangunan peninggalan yang terbengkalai dan menjadi ruang mati bagi kawasan. Akupunktur perkotaan merupakan salah satu solusi yang dapat diterapkan untuk memperbaiki degradasi ruang perkotaan dan untuk itu diperlukan studi secara mendalam untuk menentukan titik sakit pada kawasan. Perancangan dilakukan dengan tujuan untuk menyembuhkan Kawasan Bahari yang tengah sakit, dengan mengembalikan memori kolektif kawasan dan menjadi bentuk akupunktur yang bisa bersama-sama memajukan kawasan tersebut.  Proyek menggunakan metode heritage future dan spatial perception sebagai pendekatan desain bangunan untuk menjawab permasalahan di kawasan bersejarah. Hasil perancangan menawarkan ekstensi museum pada Kawasan Bahari sebagai titik Akupunktur dengan tujuan untuk mengembalikan memori kolektif kawasan yang telah hilang dan juga sebagai magnet untuk kembali menghidupkan kawasan. Proyek menjalin hubungan timbal balik yang positif dengan komunitas lokal sebagai bagian dari sejarah perkembangan kawasan. Pada akhirnya, proyek menjadi intervensi dalam jalinan konteks kawasan bersejarah yang mengembalikan memori kolektif komunitas dan kawasan.
PENERAPAN KAMUFLASE ARSITEKTUR TERHADAP PENGEMBANGAN LANSKAP CITADELWEG SEBAGAI TITIK AKUPUNKTUR KOTA Gerald Gerald; Agustinus Sutanto
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21768

Abstract

Any form of wandering will end up in a list or dictionary of events and objects. The discovery of patterns created from several events and architectural objects becomes a common thread or essence that binds the whole journey. Similar to tourism trips, making continuity between viewing points or attractions in the Medan Merdeka area, fosters historical value as a city-forming layer that opens up future development collectively. The physical transformation of several attractions or spectacles at Medan Merdeka and the design site shows three main architectural components; the heritage of Dutch East Indies buildings, the Indonesian Modern Architecture and the city landscape as the center of Medan Merdeka. Around the passive space under Jalan Veteran I or Citadelweg railway which is the design site, each city spectacle stands separately and disconnect the tourism and daily movements. The three components of the design scheme have different principles as a city spectacle. Seeing the three broadly becomes a camouflage tool to explore the layers of city structure, and how it relates to the modern city today. To understand how to connect these three components as an architectural intervention that can be a camoflour at the urban acupuncture points of Medan Merdeka and produce a sense of place in the design. The design creates continuity between Juanda's attractor and Medan Merdeka through the application of four camouflage methods in the design: (1). Camouflage the city as a spectacle through the merging of monumental towers and arch rhythms from the Dutch East Indies in architectural form; (2). City camouflage as a spectacle through the Indonesian Heritage Gallery and the Jakarta City Project program; (3). Reclaiming negative space under the Citadelweg railroad with landscape camouflage; (4). Using the 'speed' of trains for Citadelweg's business productivity through innovation and collaboration with NGOs. Keywords:  Architecture and NGOs, Architectural Camouflage, Citadelweg Landscape, Medan Merdeka Tourism, Under Railroad Space Utilization Abstrak Segala bentuk wandering akan berujung pada daftar atau kamus dari beberapa peristiwa dan objek. Penemuan pola dari beberapa peristiwa dan objek arsitektur menjadi benang merah atau esensi yang mengikat keseluruhan perjalanan. Sama halnya dengan perjalanan turisme, kesinambungan antar titik tontonan atau atraktor kawasan Medan Merdeka menumbuhkan nilai historis sebagai lapisan pembentuk kota yang membuka pengembangan di masa depan secara kolektif. Transformasi fisik beberapa atraktor atau tontonan di Medan Merdeka dan tapak rancangan menunjukan tiga komponen arsitektur utama yang dimiliki yaitu; peninggalan bangunan Hindia Belanda yang dipertahankan, Arsitektur Modern Indonesia dan lanskap kota sebagai sentral Medan Merdeka. Di sekitar ruang pasif bawah rel kereta Jalan Veteran I atau Citadelweg yang menjadi tapak rancangan, tiap tontonan kota berdiri secara terpisah dan terputus secara pergerakan turisme maupun keseharian. Ketiga komponen skema desain memiliki prinsip yang berbeda-beda sebagai sebuah tontonan kota. Melihat ketiganya secara luas menjadi alat kamuflase untuk mengeksplorasi lapisan-lapisan pembentuk kota, serta bagaimana relasinya dengan kota modern sekarang. Untuk mengerti bagaimana menghubungkan ketiga komponen tersebut sebagai intervensi arsitektur yang dapat menjadi camoflour di titik Akupunktur perkotaan Medan Merdeka dan menghasilkan jiwa tempat dalam rancangan. Rancangan desain menciptakan kontinuitas atraktor Juanda dengan Medan Merdeka melalui empat penerapan metode kamuflase dalam rancangan desain yaitu: (1). Kamuflase kota sebagai tontonan melalui penggabungan tower monumental dan ritme arch peninggalan Hindia Belanda dalam bentuk arsitektur; (2). Kamuflase kota sebagai tontonan dalam program Galeri Pusaka Indonesia dan Jakarta City Project; (3). Merebut kembali ruang negatif bawah rel kereta Citadelweg dengan kamuflase lanskap; (4). Menggunakan ‘kecepatan’ kereta untuk kegaiatan produktif melalui inovasi dan kolaborasi dengan NGO.
RESUSITASI SENI TARI DAN MUSIK TRADISIONAL JAWA BARAT DI BEKASI Malvin Malvin; Yunita Ardianti Sabtalistia
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21770

Abstract

Bekasi is one of the cities that is quite crowded as well as a location close to the capital city and also this city has a lot of history. However, historical places are starting to be replaced by new functions and also forgetting their history. So try to revive them with artistic functions. At the site locations, which are mostly shops and try to make West Java art functions close to Bekasi residents, most of them come from the Sundanese, also there are Betawi tribes, and ethnic Chinese. Art is the expression or application of human creative skills and imagination, usually in a visual form, producing works that are valued primarily for their beauty or emotional strength. Choose the function of dance and music because at the location where there was a traditional clothing and dance competition to attract people around it, there is also an activity held once a year near the area where there is a music event, namely xylophone kromong which is often visited by people to listen to it. then dance and sing. The method chosen is to observe the city of Bekasi and also look for site information and also the surrounding area. The result is that the site area is crowded with people and also tries to create recreation that can attract people from outside the city as well as create an open area on the site. Keyword: Arts; Dance; Music; Recreation; Resuscitation Abstrak Bekasi merupakan salah satu kota yang cukup ramai juga lokasi yang dekat dengan ibu kota dan juga Kota ini memiliki banyak sejarahnya. Akan tetapi tempat bersejarah mulai tergantikan oleh fungsi yang baru dan juga melupakan sejarahnya.Sehingga mencoba menghidupkan kembali dengan fungsi kesenian.Pada lokasi tapak yang lebih banyaknya merupakan pertokoan dan mencoba membuat fungsi kesenian Jawa Barat yang erat dengan warga Bekasi kebanyakan berasal dari  suku Sunda, juga ada suku Betawi, dan etnis tionghoa. Seni merupakan ekspresi atau penerapan keterampilan dan imajinasi kreatif manusia, biasanya dalam bentuk visual, menghasilkan karya yang dihargai terutama karena keindahan atau kekuatan emosionalnya. Memilih fungsi dari Tari dan juga musik ini karena pada lokasi yang pernah mengadakan lomba Pakaian Adat dan Tari untuk menarik orang-orang disekitarnya, juga diadakan kegiatan pada setiap setahun sekali didekat area mengadakan acara musik yaitu gambang kromong yang sering didatangi oleh orang-orang untuk mendengarkannya lalu menari dan bernyanyi. Metode yang dipilih mengobservasi pada kota Bekasi dan juga mencari informasi-informasi tapak dan juga area sekitarnya. Hasilnya membuat area tapak ramai dikunjungi oleh orang-orang dan juga mencoba membuat rekreasi yang bisa menarik orang-orang dari luar kota juga membuat area terbuka pada lokasi.
WADAH PEDAGANG KAKI LIMA UNTUK BERJUALAN BERDASARKAN KONDISI SETIAP TAHUNNYA PADA PASAR ASEMKA Yovansia Christoforus; Yunita Ardianti Sabtalistia
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21771

Abstract

street vendors often use public spaces which result in disruption of order and the beauty of an area. Street vendors are one of the priority problems in the Pasar Asemka area, the growth of street vendors from year to year continues to make the Pasar Asemka condition more crowded and uncontrollable. In addition, it can be seen from the conditions every year at the Pasar Asemka, namely in 2018 the condition of the Pasar Asemka which was fairly messy, excessive density turned into a deserted area for visitors and street vendors in 2020 where in that year a virus entered. Therefore, urban acupuncture is needed which is assisted by case research methods and field research in the Pasar Asemka area by making a container that can accommodate street vendors to sell in any condition, where the container is made based on the characteristics of street vendors, in which there is a kiosk program, open space, outdoor event, Pasar Asemka gallery. The program given to the container is also equipped with supporting programs such as 3P, parking lots with a hydraulic system and the freedom of street vendors to choose where they sell their goods. Keywords:  Characteristic of Street Vendors; Pasar Asemka; Street Vendors; Virus Abstrak Keberadaan PKL merupakan salah satu sumber permasalahan yang ada di DKI Jakarta ini karena para pedagang kaki lima sering menggunakan ruang publik dimana mengakibatkan terganggunya ketertiban dan keindahan sebuah kawasan. PKL merupakan salah satu permasalahan prioritas di kawasan Pasar Asemka, pertumbuhan pedagang kaki lima dari tahun ke tahun terus membuat kondisi Pasar Asemka menjadi semakin padat dan tidak terkendali. Selain itu dilihat dari kondisi setiap tahunnya pada Pasar Asemka yaitu pada tahun 2018 kondisi Pasar Asemka yang terbilang berantakan, kepadatan yang berlebihan berubah menjadi kawasan yang sepi akan pengunjung dan pedagang kaki lima pada tahun 2020 dimana pada tahun tersebu masuknya sebuah virus. Maka dari itu diperlukan urban acupuncture yang dibantu dengan metode penelitian kasus dan penelitian lapangan pada kawasan Pasar Asemka dengan membuat sebuah wadah yang dapat menampung para pedagang kaki lima untuk berjualan dalam kondisi apapun, dimana wadah tersebut dibuat berdasarkan karakterisitik pedagang kaki lima, yang didalamnya terdapat sebuah program kios, ruang terbuka, outdoor event, galeri Pasar Asemka. Program yang diberikan pada wadah juga dilengkapi dengan program pendukung seperti 3P, tempat parkir dengan sistem hidrolik serta adanya kebebasan pedagang kaki lima untuk memilih dimana lokasi dia berjualan.
MODERN SNEES: MENGEMBALIKAN CITRA KAWASAN SENEN YANG MENGALAMI DEGRADASI DENGAN STRATEGI URBAN ACUPUNCTURE Adhitya Jonathan; Yunita Ardianti Sabtalistia
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21773

Abstract

Senen is an area that has existed since the Dutch colonial era and mapped to be the largest trade and arts area in Jakarta. There is Pasar Senen, which supports buying and selling activities and there is an association of artists to carry out art activities. But over time, Senen experienced a very drastic decline. There were frequent fires, high crime rates and riots in 1998. The government has tried to overcome this degradation through rejuvenating city facilities and infrastructure, but it has not been able to attract public interest. So a local intervention is needed through the urban acupuncture method, in this case to restore the image of the Senen area as in the past, namely as a trade and arts area. The design of the building was made by emphasizing 3 concepts, triangle, environmentally friendly, ease of outdoor and indoor accessibility. The building mass is dominated by shapes that resemble triangles, both inside and outside the building. The greening of buildings will also be very concerned considering the few green areas in the Senen area. The benefit to be gained from making this project is the return of the image of the Senen area to the past as a trade and arts area in Jakarta and grow the economy in the Senen area. The result is an architecture product named Modern Snees which is a place for shopping, dining and art galleries around the Senen area and Jakarta. Keywords:  accessibility; art and trading; collective memory; environmentally friendly; triangle Abstrak Kawasan Senen merupakan sebuah kawasan yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda dan dipetakan menjadi kawasan perdagangan dan kesenian terbesar di ibukota. Terdapat Pasar Senen, yang menunjang aktivitas jual beli dan terdapat sebuah perkumpulan para seniman untuk melakukan aktivitas seni. Tetapi seiring berjalannya waktu, kawasan Senen mengalami kemunduran yang sangat drastis. Mulai sering terjadinya kebakaran, tingkat kriminalitas yang tinggi dan kerusuhan tahun 1998. Pemerintah sudah berupaya untuk menanggulangi degradasi ini melalui peremajaan fasilitas dan infrastruktur kota, tetapi tetap belum dapat menarik minat masyarakat. Maka diperlukan sebuah intervensi lokal melalui metode urban akupunktur, dalam hal ini untuk mengembalikan citra kawasan Senen seperti di masa lalu yaitu sebagai kawasan perdagangan dan kesenian. Rancangan bangunan dibuat dengan mementingkan 3 konsep yaitu segitiga, ramah lingkungan, kemudahan aksesibilitas luar dan dalam ruangan. Untuk massa bangunan didominasi oleh bentuk-bentuk yang menyerupai segitiga, baik itu di dalam ruangan maupun pada bagian luar bangunan. Penghijauan pada bangunan juga akan sangat diperhatikan mengingat sedikitnya  daerah hijau di kawasan Senen.  Manfaat yang ingin diraih dari pembuatan proyek ini adalah kembalinya citra kawasan Senen ke masa lalu sebagai kawasan perdagangan dan kesenian di ibukota dan tentunya akan menumbuhkan perekonomian pada kawasan Senen. Hasilnya adalah produk arsitektur  Modern Snees yang merupakan sebuah tempat belanja, tempat makan dan galeri kesenian seputar kawasan Senen dan ibukota.
PENERAPAN AKUPUNKTUR URBAN DENGAN REGENERASI PENGOBATAN TRADISIONAL TIONGHUA PADA KAWASAN JALAN PINTU BESAR SELATAN MELALUI METODE FENOMENOLOGI DAN PERSEPSI ARSITEKTUR Robin Christian; Ignatius Djidjin Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21774

Abstract

Urban acupuncture is an effective intervention at potential spots in urban space to improve or enhance the energy quality of the area. Jalan Pintu Besar Selatan’s area is degrading due to the looting and destruction of 1998 riots. The degradation was identified based on configuration, attraction, movement, which identify numerous abandoned and damaged buildings, drastic decrease of activities, and the disappearance of main attractors. These identified deteriorations can be seen as potential architectural interventions–to be an attractor–to provoke the area’s movement. The most relevant, authentic and contextual attractor to regenerate is traditional Chinese medicine. Regeneration in this case is renewal with current place and time context. The design performs urban acupuncture by regenerating and reconstructing collective memories and perceptions of important elements of the design context by involving 3 relevant design methods and strategies, such are phenomenology of traditional Chinese medicine, re-interpreting local urban space, and absorbing Chinese architecture character and philosophy. The design is executed by surrounding-responsive mass composition. Program’s regeneration is approached by resurrecting and combining traditional Chinese medicine with local programs at the site’s vicinity. Collaboration gives rise to many new vista alternatives, where the monotony of the main program is interfered by the flexibility of local programs that organize the course of the project - suiting the surrounding community and urban space. The result is an architectural product named “Jalan Pintu Besar Selatan’s Traditional Chinese Medicine Regenerator” whos regenerates local attractor, adapts and re-interpreting perceptions of local urban spaces, and increases the area’s movement. Keywords:  contextual; perception; regeneration; traditional Chinese medicine; urban acupuncture Abstrak Akupunktur urban adalah tindakan intervensi efektif di titik potensial dalam konteks ruang urban untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas suatu kawasan. Kawasan Jalan Pintu Besar Selatan mengalamai degradasi akibat pengrusakan dan penjarahan Kerusuhan 1998. Degradasi diidentifikasi dari penelusuran konfigurasi, atraktor, pergerakan, di mana ditemukan banyak gedung rusak terbengkalai, penurunan drastis jumlah aktivitas, dan pemudaran bahkan menghilangnya atraktor utama kawasan. Kemerosotan yang teridentifikasi menjadi potensi intervensi arsitektural di konfigurasi kawasan, yang kemudian dapat menjadi atraktor untuk memancing pergerakan. Penelusuran menemukan bahwa atraktor yang paling relevan, otentik, dan kontekstual untuk diregenerasi adalah pengobatan tradisional Tionghua. Regenerasi dalam hal ini adalah pembaruan dengan konteks tempat dan masa kini. Rancangan melakukan akupunktur urban dengan meregenerasi dan merekonstruksi memori serta persepsi kolektif terhadap elemen penting konteks perancangan dengan melibatkan 3 metode dan strategi perancangan yang relevan, yaitu fenomenologi pengobatan tradisional Tionghua, re-interpretasi ruang urban lokal, dan menyerap filosofi dan karakter arsitektur Tionghua. Rancangan dikemas gubahan massa yang memperhatikan proporsinya dengan ruang kota sekitar. Adapun regenerasi program didekati dengan membangkitkan dan mengolaborasikan program pengobatan tradisional Tionghua dengan program lokal yang menempati sekitar tapak. Kolaborasi menimbulkan banyak alternatif vista baru, di mana monotonitas program utama sebagai ataktor diintervensi oleh fleksibilitas program lokal yang mengatur jalannya keseluruhan proyek agar sesuai pada komunitas dan ruang kota sekitar. Hasilnya diperoleh produk arsitektur berupa “Regenerator Pengobatan Tradisional Tionghua Jalan Pintu Besar Selatan” yang menjadi aktor regenerasi atraktor kawasan, mengadaptasi dan me-re-interpretasi persepsi ruang kota lokal, serta meningkatkan pergerakan Kawasan Jalan Pintu Besar Selatan.
PENERAPAN AKUPUNKTUR KOTA TERHADAP PEMULIHAN PASAR IKAN HEKSAGON MELALUI ARSITEKTUR KESEHARIAN Vincent Vincent; Ignatius Djidjin Wipranata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21775

Abstract

Re-Unite Bahari is the title of an urban acupuncture architectural project that was carried out with the aim to restore the Hexagon Fish Market which was physically degraded. Borrowing the everydayness method formulated by Lefebvre and Crawford, the architecture in this project begins by observing the daily activities that occur in this fish market. This fish market was once a meeting point that triumphed during the VOC administration where every citizen from various backgrounds gathered to carry out their daily activities. Activities in this fish market then began to be hampered since the opening of a new fish auction hall on Jalan Pasar Ikan. This then triggered the degradation in the Hexagon Fish Market which continues to this day. The daily life of the market was stopped and the banal daily life of the urban nomads begins by living on the edge of the fish market building. The Hexagon Fish Market can then be defined as a third landscape according to Marco Casagrande's dissertation on urban acupuncture. The third landscape, as stated by Casagrande, is a natural place in urban areas that has great potentials to be reprogrammed as an agent to improve a stagnant urban area. Due to the condition of the Hexagon Fish Market which already reflects the character of a third landscape, this location was appointed as an urban acupuncture project. To answer the issue of urban acupuncture, the everydayness method was then developed by integrating the daily life of two timelines, namely the past which is characterized by the tradings of the market, and the present which is characterized by the banality of the urban nomads. The results of this project are intended to give new meaning through the everydayness reflected in the Re-Unite Bahari project which is carried out with a simple, small, and down-to-earth design idea. Keywords: down-to-earth; everydayness; market trade; urban nomads Abstrak Re-Unite Bahari merupakan judul proyek arsitektur urban acupuncture yang dilakukan dengan tujuan untuk memulihkan Pasar Ikan Heksagon yang sedang mengalami degradasi secara fisik. Dengan meminjam metode arsitektur keseharian dari Lefebvre dan Crawford, arsitektur di proyek ini dimulai dengan mengamati dahulu aktivitas keseharian yang terjadi di pasar ikan ini. Pasar ikan ini dahulunya merupakan titik temu yang berjaya di masa pemerintahan VOC di mana setiap warga dari berbagai kalangan berkumpul untuk menjalankan aktivitas keseharian. Aktivitas di pasar ikan ini kemudian mulai terhambat sejak dibukanya tempat pelelangan ikan baru di jalan Pasar Ikan. Hal ini kemudian memicu degradasi di Pasar Ikan Heksagon yang berlangsung hingga pada hari ini. Keseharian pasar dihentikan dan dimulailah keseharian banal yang dijalankan oleh warga nomaden dengan menetap di tepi bangunan pasar ikan. Jika ditinjau dari disertasi Marco Casagrande mengenai urban acupuncture, Pasar Ikan Heksagon dapat didefinisikan sebagai third landscape. Di mana third landscape menurut Casagrande merupakan sebuah tempat alami di perkotaan yang memiliki potensi besar untuk diprogramkan ulang sebagai agen untuk mengubah sebuah kawasan yang stagnant. Oleh karena kondisi Pasar Ikan Heksagon yang sudah mencerminkan karakter sebuah third landscape, maka lokasi ini diangkat sebagai proyek urban acupuncture. Untuk menjawab persoalan mengenai urban acupuncture, metode arsitektur keseharian kemudian dikembangkan dengan menggabungkan keseharian dari dua linimasa, yaitu masa lalu yang ditandai dengan keseharian niaga pasar, dan masa kini yang ditandai dengan keseharian banal dari warga nomaden. Hasil dari proyek ini ditujukan untuk memberikan makna baru melalui keseharian yang disatukan ke dalam proyek Re-Unite Bahari yang dijalankan dengan ide perancangan yang sederhana, kecil, dan membumi.
RUANG KETIGA TERSELUBUNG JALAN BLORA, JAKARTA PUSAT Jason Bryan Johanes; Mekar Sari Suteja
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21803

Abstract

Being in the area around Jendral Sudirman street, which is one of Jakarta’s business districts, should have a good effect on the surrounding areas. The good effect of the development of Sudirman Street is the creation of various new economic spaces, even though the Blora Street area is increasingly being degraded due to its inability to develop like the surrounding areas. Even though it is located in the TOD (Transit Oriented Development) area of Dukuh Atas, which is an intersection between several modes of public transportation and a high mobility point, it does not immediately make the Blora Street area come alive again. This area is located on the edge of the Sudirman Flyover which is not directly visible from the main road, so the area becomes quiet because it does not have good visibility from the main road. This project aims to revive the area with a new building that can fulfill aspects of regional life. The site location is also a transitional space between the economic area of Blora Street and the residential area behind it so that the site can be used as access. As a less developed transitional space, the site was developed into a third space that functions as a communal space and other activities without forgetting its main function as an economic area that is directly related to the TOD area as a mobility center. With this project, the area can again become bustling with a new paradigm of the third space which focuses on life primarily as a space for interaction, communication, economy, and creativity of each individual in one place. Keywords:  Blora Street; Third Space;  TOD Abstrak Berada di daerah sekitar Jalan Jendral Sudirman yang merupakan salah satu distrik bisnis Jakarta, semestinya memberikan efek baik terhadap wilayah-wilayah di sekitarnya. Efek baik dari perkembangan Jalan Sudirman adalah dengan terciptanya beragam ruang ekonomi baru, walaupun kenyataannya, kawasan Jalan Blora semakin lama semakin terdegradasi akibat ketidakmampuannya untuk berkembang seperti wilayah-wilayah di sekitarnya. Meskipun berada di kawasan TOD (Transit Oriented Development) Dukuh Atas yang merupakan persimpangan antara beberapa moda transportasi umum dan menjadi titik mobilitas yang tinggi, tidak langsung membuat kawasan Jalan Blora ini menjadi ramai dan kembali hidup. Kawasan yang berada di tepian Fly Over Sudirman tidak terlihat secara langsung dari jalan utama sehingga kawasan menjadi sepi karena tidak memiliki visibilitas yang baik dari jalan utama. Tujuan adanya proyek ini adalah untuk menghidupkan kembali kawasan dengan suatu bentuk bangunan baru yang dapat memenuhi aspek-aspek kehidupan kawasan. Titik lokasi tapak juga merupakan ruang transisi antara kawasan ekonomi Jalan Blora dengan kawasan hunian yang ada di belakangnya sehingga tapak dapat dimanfaatkan sebagai akses. Sebagai ruang transisi yang kurang berkembang, tapak dikembangkan menjadi ruang ketiga yang berfungsi sebagai ruang komunal maupun kegiatan lainnya tanpa melupakan fungsi utama sebagai kawasan ekonomi yang berhubungan langsung dengan kawasan TOD sebagai pusat mobilitas. Dengan adanya proyek ini, kawasan dapat kembali menjadi ramai dengan paradigma baru ruang ketiga yang memfokuskan kehidupan utamanya sebagai ruang interaksi, komunikasi, ekonomi, serta kreativitas setiap individu dalam satu wadah.

Page 80 of 134 | Total Record : 1332