cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
GALERI GASTRONOMI INDONESIA SEBAGAI STRATEGI PENGAKTIFAN KEMBALI KAWASAN JALAN JAKSA Patricia Patricia; Irene Syona Darmady
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21820

Abstract

Kampung Jaksa is a secondary block area in the city center which used to be tourism, especially on Jaksa Street which was a legendary street due to backpacker tourism. However, nowdays, it has experienced a degradation of identity as tourism which is quite critical, causing this area to be deserted. The lack of success of temporary interventions prompted new, more permanent strategies in the form of architecture. This architectural strategy is in the form of urban acupuncture, where small interventions can have a big transformative impact on public spaces. Based on the analysis, this potential in the field of culinary tourism encourages the creation of a gastronomic program so that it can explain cuisine, especially Indonesian cuisine with techniques that can be interacted and learned by visitors. The result of this design is a gallery building that focuses on circulation and the stages of sensory experience that visitors will get. This result also adds supporting programs in the form of vertical urban farming and building orientation respond to the site so as to provide public space for the surrounding area. Keywords: gastronomy; Jaksa; tourism; urban acupuncture; vertical urban farming Abstrak Kampung Jaksa merupakan kawasan secondary block di pusat kota yang merupakan pariwisata yang dulunya, terutama pada Jalan Jaksa merupakan salah satu jalan yang sempat melegenda dikarenakan adanya pariwisata backpacker Namun seiring dengan perkembangan zaman, wilayah ini mengalami degradasi identitas sebagai pariwisata sehingga menyebabkan area ini menjadi sepi. Kurang berhasilnya intervensi dari pemerintah mendorong strategi baru yang lebih permanen dalam bentuk arsitektur. Strategi arsitektur ini berupa akupunktur perkotaan, yaitu dengan intervensi kecil dapat memberi dampak transformatif yang besar bagi ruang publik. Berdasarkan analisis, potensi di bidang wisata kuliner ini mendorong terciptanya program gastronomi sehingga program ini dapat memaparkan kuliner, terutama kuliner Indonesia dengan teknik yang dapat diinteraksikan dan dipelajari oleh pengunjung. Hasil dari perancangan ini merupakan bangunan galeri yang berfokus pada sirkulasi dan tahapan pengalaman sensorik yang akan didapatkan pengunjung. Hasil ini juga menambahkan program penunjang berupa pertanian vertikal perkotaan dan orientasi bangunan menyesuaikan tapak sehingga memberi ruang publik bagi kawasan sekitar.
PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR INFILL DESAIN RUMAH ADOPSI HEWAN DI JATINEGARA Abigail Sulistyan; Irene Syona Darmady
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21908

Abstract

The Jatinegara animal market, as one of the icons in Jatinegara, has been around for a long time. However, its existence causes losses to the surrounding environment such as inactive shop houses, clogged roads, decreased pedestrian comfort, and even this market is not included in UDGL's plan. Another way for kiosk owners to keep earning is by being forced to rent out their land to street vendors. To achieve a more ideal mutualism relationship, a balance is needed between the actors. Animal traders need a wider and more open place to sell, provide an attractive frontage and higher rental prices for stall owners, and improve the image of the Jatinegara area. Animals for sale also need better treatment. Animals as the main subject of this animal market are not given a good place to live and are not treated well. Thus, this project has a vision to provide a new experience for buyers in buying and selling animals by redefining the shape of the kiosk. This project has a main program function, namely an animal adoption house where each animal is not in a small cage but they have a large house that resembles their habitat. The project, which is in a limited footprint, will implement an infill architectural design strategy in realizing its vision. Keywords:  animal adoption house; infill architecture; Jatinegara Abstrak Pasar hewan Jatinegara merupakan salah satu ikon di Jatinegara sudah berdiri sejak lama. Namun keberadaannya membuat kerugian bagi lingkungan sekitarnya seperti ruko-ruko menjadi tidak aktif, jalanan yang tersumbat, turunnya kenyamanan pejalan kaki, dan bahkan pasar ini  tidak termasuk dalam rencana UDGL. Cara lain bagi pemilik kios untuk tetap mendapatkan penghasilan adalah dengan terpaksa menyewakan lahannya untuk para PKL. Untuk mencapai hubungan mutualisme yang lebih ideal, dibutuhkan keseimbangan antara para pelakunya. Para pedagang hewan membutuhkan tempat berjualan yang lebih luas dan terbuka, memberikan frontage yang menarik dan harga sewa lebih tinggi untuk pemilik kios, dan memperbaiki citra kawasan Jatinegara. Hewan yang dijual juga membutuhkan perlakuan yang lebih baik. Hewan sebagai subjek utamanya pasar hewan ini tidak diberi tempat tinggal yang baik dan tidak diperlakukan dengan baik. Dengan demikian, proyek ini memiliki visi untuk memberikan pengalaman baru untuk pembeli dalam berjual beli hewan dengan meredefinisi bentuk kios. Proyek ini memiliki fungsi program utama yaitu rumah adopsi hewan dimana masing-masing hewan tidak berada dalam kandang-kadang kecil tetapi mereka memiliki rumah yang luas yang menyerupai habitatnya. Proyek yang berada dalam tapak yang terbatas ini akan menerapkan strategi desain arsitektur infill dalam merealisasikan visinya.
PENERAPAN KONSEP SAFE MOBILITY DAN STRIP MOBIUS PADA DESAIN TRANSPOR HUB PULO GADUNG Melisa Janet Laurenza; Irene Syona Darmady
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21909

Abstract

Pulo Gadung Terminal was once the busiest terminal because it served the most transportation between cities and islands in Jakarta. However, at this time, its function was experiencing a vital decline. Pulo Gadung Terminal which previously served inter-city and inter-provincial transportation, now only serves transportation within the city. Along with this decline, this terminal has experienced many forms of degradation in terms of environmental quality, mobility infrastructure, to the lack of green open space in the urban fabric. These factors certainly create a bad image of the Pulo Gadung Terminal area. To restore his good name, the theory of Urban Acupuncture and safe mobility has a big role. The quality of mobility is restored with the mobius strip design concept which aims to create a good regional image, facilitate terminal connectivity with nature and the surrounding area, and regenerate Pulo Gadung Terminal and the surrounding area. The application of this theory is expected to support future research in line with the development of people's lifestyles that continue to change. Keywords: Connectivity; Safe Mobility; Transportation; Urban Acupuncture Abstrak Terminal Pulo Gadung pernah menjadi terminal tersibuk karena menjadi terminal yang melayani transportasi antar kota dan pulau terbanyak di Jakarta. Namun, saat ini, fungsinya mengalami penurunan vitalis. Terminal Pulo Gadung yang tadinya melayani angkutan antar kota dan antar provinsi, sekarang hanya melayani angkutan dalam kota saja. Seiring penurunan tersebut, terminal ini telah mengalami banyak bentuk degradasi dari segi kualitas lingkungan, infrastruktur mobilitas, hingga kurangnya ruang terbuka hijau pada kawasan urban fabric. Faktor-faktor ini tentunya menimbulkan citra buruk terhadap area Terminal Pulo Gadung. Untuk memulihkan nama baiknya, teori Urban Acupuncture dan safe mobility memiliki peran yang besar. Kualitas mobilitas direstorasi dengan konsep desain strip mobius yang bertujuan menciptakan citra kawasan yang baik, melancarkan konektivitas terminal dengan alam dan daerah sekitarnya, serta meregenerasi Terminal Pulo Gadung dan wilayah di sekelilingnya. Penerapan teori ini diharapkan dapat mendukung penelitian di masa yang akan datang seiring dengan perkembangan pola hidup masyarakat yang terus berubah.
MERANCANG TEATER IMERSIF DENGAN KONSEP MEMBAYANGKAN-KEMBALI CERITA KAWASAN ANCOL Andree Andree; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21910

Abstract

The development of technology is a global phenomenon that has a major impact on changes in human lifestyles and mindsets. The next generation of Alpha is a generation born in an era of rapid technological development. Entertainment, communication, education, to everyday life revolve around technology. Facing this change, the architecture also needs to adapt. Meanwhile, the urban spatial structure that has been formed is often not prepared to adapt to this rapid technological development. The Ancol area, which is known as the largest entertainment area in Jakarta, is also affected by this global phenomenon. The point that was once crowded as a main destination for recreation and entertainment has experienced a reduction in human movement in it. The reduced movement of people inside has resulted in several buildings undergoing a change in function in an effort to re-attract people to the Ancol area. The degraded point is used as an inappropriate expression container. Through the research that has been done, architecture can take advantage of technology as an effort to adapt. Rapid technological developments allow architecture to re-imagine the entertainment of the Ancol area. Through analysis, the addition of an immersive theater program at the problematic point can meet the needs of entertainment that can accommodate regional expressions. As a result, architecture can revive an entertainment area that has decreased due to changing entertainment needs through urban acupuncture. Keywords:  Ancol District;, Entertainment; Immersive Theatre; Re-Imagining; Urban Acupuncture Abstrak Perkembangan teknologi merupakan salah satu fenomena global yang memiliki dampak besar terhadap perubahan gaya hidup dan pola pikir manusia. Generasi Alpha yang mendatang merupakan generasi yang dilahirkan di era perkembangan teknologi yang pesat. Hiburan, komunikasi, edukasi , hingga kehidupan sehari-hari berputar sekitar teknologi. Menghadapi perubahan ini, arsitektur juga perlu beradaptasi. Sementara itu, struktur ruang kota yang sudah terbentuk kerap belum dipersiapkan untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang pesat ini. Kawasan Ancol yang dikenal sebagai kawasan hiburan terbesar di Jakarta ikut terdampak oleh fenomena global ini. Titik yang tadinya ramai dikunjungi sebagai tujuan utama rekreasi dan hiburan mengalami pengurangan pergerakan manusia didalamnya. Berkurangnya pergerakkan manusia didalamnya mengakibatkan beberapa bangunan mengalami perubahan fungsi sebagai upaya untuk kembali menarik orang menuju kawasan Ancol. Titik yang mengalami degradasi dijadikan wadah ekspresi yang kurang tepat. Melalui riset yang telah dilakukan, arsitektur dapat memanfaatkan teknologi sebagai upaya untuk beradaptasi. Perkembangan teknologi yang pesat memungkinkan arsitektur untuk membayangkan-kembali hiburan pada  kawasan Ancol. Melalui analisis, adanya penambahan program teater imersif pada titik yang bermasalah dapat memenuhi kebutuhan hiburan yang dapat mewadahi ekspresi kawasan. Dampaknya, arsitektur dapat membangkitkan kawasan hiburan yang mengalami penurunan akibat perubahan kebutuhan hiburan melalui urban akupunktur.
PERANCANGAN GALERI EDUKASI DAN PERDAGANGAN ASEMKA DENGAN MENGGUNAKAN INFORMASI SEBAGAI MEDIA UTAMA Petra Yonathan; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21911

Abstract

Asemka Trade Complex is one of the most important economy area in Indonesia, especially in Jakarta. This area focuses on wholesale trade and accessories has a long history of why it’s area still standing until today, from the Dutch colonial era, and is still operating today. With the development of economy era, Asemka commercial area underwent quite a number of changes, such as lack of infrastructure development to the lack of occupied building areas that focus on commerce such as the Asemka Wholesale Center. Urban Acupuncture acts as a method of detecting problems in the area which may be visually speaking the Asemka Commercial area is still operating, but it is possible that with technological developments and changes in trading system that cannot be predicted, Asemka may lose its momentum to be able to shows the progress that will be made in the future. Using information as the project main program. This project will talk about Asemka as a whole; from history, mapping, to the way of life of commercial activities in Asemka which are summarized in a place to provide information to all visitors in order to create trust and to find out what is the plan of an area in the future. Keywords: Information System; Media; Trade; Trust Abstrak Kawasan Perdagangan Asemka merupakan salah satu titik penting dalam perekonomian di Indonesia, khususnya Jakarta. Kawasan yang berfokus pada perdagangan grosir serta aksesoris ini memiliki sejarah dan cerita yang cukup lama, dari zaman penjajahan Belanda, dan masih beroperasi sampai saat ini. Semakin berkembangnya zaman, kawasan perniagaan Asemka mengalami cukup banyak perubahan, seperti minimnya pengembangan infrastruktur kawasan sampai kurang terisinya area gedung yang berfokus pada perniagaan seperti Pusat Grosir Asemka. Urban Akupunktur di sini berperan sebagai metode pendeteksian masalah pada kawasan yang mungkin secara pengelihatan manusia daerah Perniagaan Asemka sampai saat ini masih terus beroperasi, namun tidak menutup kemungkinan dengan adanya perkembangan teknologi dan perubahan pada sistem perdagangan yang tidak dapat diprediksi, Asemka dapat kehilangan momentumnya untuk memperlihatkan perkembangan yang akan dilakukan untuk kedepannya. Hadirnya sebuah program utama informasi Proyek ini secara spesifik akan berbicara tentang Asemka secara keseluruhan; dari mulai sejarah, pemetaan, sampai cara hidup kegiatan perniagaan di Asemka yang dirangkum dalam sebuah tempat untuk memberikan informasi kepada seluruh pengunjung agar tercipta kepercayaan dan untuk mengetahui apa yang menjadi rencana sebuah kawasan kedepannya.
PENERAPAN KONSEP FIGITAL PADA RUMAH MODE SANTA Margareta Nathania; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21912

Abstract

Commercial buildings, especially in the trade sector, are important in the scope of people's lives. The roles of sellers and buyers are mutually beneficial to each other in seeking profit and daily needs. Market is one of the trade sectors that we often find in residential areas. Santa Market, which is located in Kebayoran Baru, becomes a means of trade and complements the needs in residential areas. Santa's Market which was built in 1970 has a history that is deeply embedded in the experience and memory of its visitors, so that it often makes the visitors feel nostalgic. This market began to be recognized again in 2014-2015 with a creative economy development strategy involving the young/millennial generation. With the phenomenon of changes in consumer behavior and the involvement of various generations, market economic growth becomes unstable. The urban acupuncture strategy offered is in the form of following the interests of today's society and technological developments that make this market more modern on keeping up with the times. Commercial space does not only require physical space, but also digitally so that phygital spaces are integrated with each other. The technology here uses machines to follow people's interest in e-commerce and fashion which is one of the top aspects of people's interest in trade sector. Vending machine as the building system is being used for the sake of speed and efficiency of public services. Containers are used as a means of storing and displaying products and used for building facade. Santa House of Fashion will accommodate in trade (fashion), entertainment and social activities for the community. Keywords: commercial; market; phygital; technology Abstrak Bangunan komersial terutama di sektor perdagangan termasuk penting dalam lingkup kehidupan masyarakat. Peran penjual dan pembeli saling menguntungkan satu sama lain dalam mencari keuntungan demi keberlangsungan hidup dan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pasar merupakan salah satu dari sektor perdagangan yang sering kali kita temukan di lingkup kawasan permukiman. Pasar Santa, yang berada di Kebayoran Baru merupakan sarana perdagangan dan pelengkap kebutuhan di kawasan permukiman. Pasar Santa yang dibangun pada tahun 1970 memiliki sejarah yang tertanam cukup dalam pada pengalaman dan memori pengunjungnya, sehingga sering kali membuat pengunjung bernostalgia. Pasar ini mulai dikenal kembali terutama pada masyarakat luas pada tahun 2014-2015 dengan strategi pengembangan ekonomi kreatif yang melibatkan generasi muda/milenial. Dengan terjadinya fenomena perubahan perilaku konsumen dan terlibatnya berbagai generasi ini membuat pertumbuhan ekonomi pasar tidak stabil. Strategi urban akupunktur yang ditawarkan berupa mengikuti ketertarikan masyarakat pada zaman sekarang dan perkembangan teknologi yang membuat pasar ini lebih terangkat dalam mengikuti zaman. Komersial tidak hanya membutuhkan ruang secara fisik, tetapi juga secara digital sehingga terbentuk ruang fisik dan digital (phygital) yang saling terintegrasi. Teknologi di sini menggunakan bantuan mesin untuk mengikuti ketertarikan masyarakat terhadap perdagangan elektronik dan fashion yang menjadi salah satu aspek teratas minat masyarakat. Sistem yang digunakan merupakan sistem vending machine dalam skala bangunan demi kecepatan dan ke-efisiensian pelayanan publik. Kontainer digunakan sebagai sarana penyimpanan dan tampilan produk maupun bangunan (fasad). Rumah Mode Santa akan mewadahi aktivitas perdagangan (fashion), hiburan dan sosial masyarakat.
SARANA INFORMASI WISATA PANGANDARAN DI BATU HIU Reynard Tanuwijaya; Alvin Hadiwono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21913

Abstract

Pangandaran is a location that has high potential for the Indonesian economy. Namely from the potential of industry, fisheries, agriculture, culinary and many more. In 2006 there was a disaster that hit Pangandaran, so that infrastructure damage was severe enough to hinder the development of this Pangandaran city, all existing potentials were hampered due to this disaster. The facilities provided by the government are still not sufficient to re-run the potentials that exist in the city of Pangandaran. Tourist locations can add to the Indonesian economy, imagine when there are many Bali in Indonesia, maybe Indonesia has become a developed country with a good economic level. Pangandaran is a city that has a lot of tourism potential that can be developed to attract visitors from outside the country and outside the city. However, the tourist sites are not exposed enough so that the government does not really care for the tourist sites, for example the green canyon Pangandaran, which has changed the color of the water to brown due to not being cared for, so its beauty is just damaged. By providing knowledge to tourists who come about existing tourist sites, it will solve this exposure problem. With exposed tourist sites, the location becomes the center of attention so that many eyes are on that location. That way the government can pay more attention to existing tourist sites. The presence of this project information program will specifically talk about tourist sites in Pangandaran, from history, folklore to the benefits of tourism facilities for the surrounding environment. All of these things are summarized in a tourist information facility to provide data that has been processed to the entire surrounding community as well as future plans, as well as to create new creative fields for local residents who have a certain background in Pangandaran. Keywords: Economy; Information; Pangandaran; Society; Tourism Facilities; Tourists Abstrak Pangandaran merupakan sebuah lokasi yang memiliki potensi yang cukup tinggi bagi ekonomi Indonesia. Yakni dari potensi industri, perikanan, pertanian, kuliner dan masih banyak lagi. Pada tahun 2006 adanya musibah yang melanda pangandaran sehingga kerusakan infrastruktur cukup parah sehingga menghambat perkembangan kota Pangandaran ini, semua potensi-potensi yang ada menjadi terhambat akibat musibah ini. Fasilitas yang diberikan oleh pemerintah masih belum cukup untuk menjalankan kembali potensi-potensi yang ada di kota Pangandaran. Lokasi wisata dapat menambah ekonomi Indonesia, bayangkan ketika ada banyak Bali di Indonesia, mungkin Indonesia sudah menjadi Negara maju dengan tingkat ekonomi yang baik. Pangandaran merupakan kota yang memiliki banyak sekali potensi wisata yang dapat dikembangkan untuk menarik pengunjung dari luar Negara maupun luar kota. Akan tetapi lokasi wisata itu kuran terekspose sehingga pemerintah pun tidak terlalu merawat lokasi wisata tersebut, sebagai contoh green canyon pangandaran, yang sudah berubah warna air nya menjadi coklat akibat tidak dirawat, sehingga keindahan nya rusak begitu saja. Dengan memberi pengetahuan kepada tourist yang dating mengenai lokasi wisata yang ada, akan memecahkan masalah eksposure ini. Dengan lokasi wisata yang terekspose maka lokasi tersebut menjadi pusat perhatian sehingga banyak mata tertuju pada lokasi tersebut. Dengan begitu pemerintah dapat memberi perhatian lebih terhadap lokasi wisata yang ada. Hadirnya program informasi Proyek ini secara spesifik akan berbicara tentang Lokasi wisata yang ada di Pangandaran, dari sejarah, cerita rakyat hingga manfaat sarana wisata bagi lingkunan sekitar. Semua hal tersebut dirangkum dalam sebuah sarana informasi wisata untuk memberikan sebuah data yang sudah di olah kepada seluruh masyarakat sekitar dan juga rencana yang akan datang, sekaligus menciptakan lapangan kreasi baru untuk warga sekitar yang memiliki background tertentu di Pangandaran.
REVOLUSI PASAR INDUK GEDEBAGE DENGAN PERANCANGAN RUANG KREATIF PUBLIK DALAM MEMAJUKAN PASAR TRADISIONAL SEBAGAI PUSAT GAYA HIDUP SEIRING PERKEMBANGAN ZAMAN Alexander Nikolas Tanata Harleeputra; Stephanus Huwae; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21914

Abstract

The Gedebage Main Market in Bandung has experienced degradation both physically and in the number of visitors or traders as time goes by. Various lifestyle changes can be felt, has been adjusted to the convenience obtained. It was recorded that in 2018, there are 1.000 trading rooms available at the Gedebage Main Market, only 500 were filled and it’s continued to reduce (Palau, E. 2021). Among the 500 inhabited trading rooms, there are still groceries and similar stalls in the traditional market cluster. In fact, with its status as a main market, it has a very important role for daily people’s need in Bandung. Physically, the existing buildings area have decreased, inculding the lack of management awareness. Therefore, a complete revolution is needed considering the potential on the surrounding area, such as Bandung whom famous for its fashion products. By using the theory of Organic Architecture to design creative public spaces as a solution in revolutionizing the Gedebage Main Market and making it as a “center of public lifestyle”. The method that used is qualitative and descriptive Thus, the “Neo-Gedebage” revolution became effective and efficient, resulting in traditional market that became a space that communities can carry out their daily activities. The results of Organic Architecture in the form of the “Neo-Gedebage” Market are able to distribute visitors according to the various lifestyle. Keywords: Lifestyle; Public Creative Hub; Revolution; Traditional Market Abstrak Pasar Induk Gedebage di Kota Bandung telah mengalami penurunan baik secara fisik maupun jumlah pengunjung ataupun pedagang seiring perkembangan zaman. Berbagai perubahan gaya hidup dapat dirasakan, menyesuaikan dengan kemudahan yang didapatkan. Tercatat pada tahun 2018 dari 1.000 ruang dagang yang tersedia pada Pasar Induk Gedebage, hanya 500-600 ruang dagang yang terisi dan terus menurun (Palau, E. 2021). Diantara 500 ruang dagang yang terhuni, masih terdapat kios basah dan sejenis dalam rumpun pasar tradisional. Padahal dengan statusnya sebagai pasar induk membuat peranannya sangat penting terhadap kehidupan masyarakat di Kota Bandung. Secara fisik, bangunan eksisting kawasan sudah mengalami penurunan termasuk kurangnya kepedulian pengelola. Oleh karena itu, diperlukan adanya revolusi menyeluruh mengingat potensi yang ada, seperti Kota Bandung sebagai kota yang terkenal dengan hasil fashion. Dengan menggunakan teori Arsitektur Organik untuk merancang ruang kreatif publik, menjadi solusi dalam merevolusi Pasar Induk Gedebage dan menjadikannya sebagai “pusat gaya hidup masyarakat”. Sehingga metode yang digunakan merupakan metode kualitatif dan deskriptif. Dengan demikian, Revolusi Pasar Induk Gedebage menjadi efektif dan tepat guna, menghasilkan pasar tradisional yang tidak hanya menjadi pusat kegiatan transaksional saja, namun juga menjadi wadah masyarakat dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Hasil Arsitektur Organik dalam bentuk Pasar “Neo-Gedebage” mampu mendistribusikan pengunjung sesuai dengan gaya hidup masing-masing masyarakat.
KEBERADAAN PASAR TRADISIONAL SINDANG, KOJA SEBAGAI WADAH RUANG PUBLIK BAGI MASYARAKAT SEKITARNYA Alvin Tandy Harison; Stephanus Huwae; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22021

Abstract

which plays an important role as a facility for Koja District. However, the condition continues to experience degradation, causing a decrease in public interest in visiting. The location of Sindang Market which is close to flats and dense settlements as well as the existence of an environmental road on the side of Sindang Market creates a slum and closed impression which becomes a problem but can be a potential to develop Sindang Market. The locality approach is carried out with the aim of being able to consider the condition of the community and the surrounding environment as well as its influence on the re-design process of Sindang Market. The application of the concept of Javanese traditional buildings into a design concept in order to maintain the values ​​of the surrounding community and the application of connectivity between spaces. The collection of primary data and secondary data in the form of physical and non-physical data with qualitative methods. Sindang Market is expected to become a comfortable public space container and can maximize its function as a market and public space so that it can become an economic center and also become a center for the activities of the surrounding community with the aim of being able to revive Sindang Market. The re-design process with a locality approach is carried out so that Sindang Market can become an appropriate market for the surrounding community to support urban and surrounding space activities. Keywords: Degradation; Sindang Market; Public Space Abstrak Pasar Sindang merupakan salah satu pasar tradisional di Kecamatan Koja, Jakarta Utara, Indonesia, yang memegang peran penting sebagai fasilitas bagi Kecamatan Koja. Namun kondisinya yang terus mengalami degradasi, menyebabkan menurunnya minat masyarakat berkunjung. Letak Pasar Sindang yang dekat dengan rusunawa dan pemukiman padat serta keberadaan jalan lingkungan pada sisi Pasar Sindang menciptakan kesan kumuh dan tertutup menjadi suatu permasalahan namun dapat menjadi potensi untuk mengembangkan Pasar Sindang. Pendekatan lokalitas dilakukan bertujuan untuk dapat mempertimbangkan kondisi masyarakat dan lingkungan sekitarnya serta pengaruhnya terhadap proses re-desain Pasar Sindang. Penerapan konsep bangunan adat Jawa menjadi konsep desain agar mempertahankan nilai – nilai masyarakat sekitar serta penerapan keterhubungan antar ruang. Pengumpulan data primer dan data sekunder berupa data fisik dan nonfisik dengan metode kualitatif. Pasar Sindang diharapkan dapat menjadi sebuah wadah ruang publik yang nyaman serta dapat memaksimalkan fungsinya sebagai pasar dan ruang publik sehingga dapat menjadi suatu pusat perekonomian dan juga menjadi pusat terjadinya aktivitas masyarakat sekitar dengan tujuan untuk dapat menghidupkan kembali Pasar Sindang. Proses re-desain dengan pendekatan lokalitas dilakukan agar Pasar Sindang dapat menjadi pasar yang tepat guna bagi masyarakat sekitar sehingga dapat menjadi mendukung aktivitas ruang kota dan sekitarnya.
PEMBARUAN KAWASAN PAJAK IKAN LAMA WILAYAH KESAWAN MEDAN BARAT Gerardo Valentino Wijaya; Stephanus Huwae; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22029

Abstract

The area in the old city of Medan often cannot be claimed as an economic driver, even though at its time it was a source of economy and tourism. The fish market area (Pajak Ikan Lama) in Medan is one of the areas in the old city of Medan which is experiencing physical and social degradation. This can be seen from the many old buildings that have been abandoned and only become piles of garbage, lots of irregular traders, as well as being a dead area at night because there are no more community activities that make the area prone to crime. It is necessary to update the composition of the building and add other functions to revive the Pajak Ikan Lama Area and it is hoped that it can become a comfortable public space container and maximise its function as a market and public space. Urban acupuncture is one of the design methods used to find problem points and their relationship to the surrounding environment. The method used is to look for data related to the existing condition of the Pajak Ikan Lama Area and also to look for potentials that can be proposed so that the Pajak Ikan Lama Area can become a public space that can fulfil its function as a market, other commercial activities, and public space to the fullest. Keywords: Pajak Ikan Lama; Revitalisation; Public Area Abstrak Kawasan di kota tua Medan seringkali tidak dapat diklaim sebagai penggerak perekonomian walaupun pada masanya merupakan sumber perekonomian dan pariwisata. Kawasan pasar ikan (Pajak Ikan Lama) Medan merupakan salah satu kawasan di kota tua Medan yang mengalami degradasi secara fisik maupun sosial. Hal ini dapat dilihat dari banyak bangunan tua yang sudah ditinggalkan dan hanya menjadi tempat tumpukan sampah, banyak pedagang-pedagang yang tidak beraturan, serta menjadi kawasan mati pada malam hari akibat sudah tidak ada aktivitas masyarakat yang menjadikan kawasan tersebut rawan kejahatan. Perlu adanya pembaruan komposisi bangunan serta penambahan fungsi untuk menghidupkan kembali Pajak Ikan lama dan diharapkan dapat menjadi sebuah wadah ruang publik yang nyaman serta memaksimalkan fungsinya sebagai pasar dan ruang publik. Urban acupuncture menjadi salah satu metode desain yang dilakukan untuk menemukan titik permasalahan dan hubungannya pada lingkungan sekitar. Metode yang dilakukan adalah dengan mencari data terkait kondisi eksisting Pajak Ikan Lama dan potensi yang dapat diusulkan sehingga Pajak Ikan Lama dapat menjadi sebuah ruang publik yang dapat memenuhi fungsinya sebagai pasar, akitivitas komersial, serta ruang publik secara maksimal.

Page 82 of 134 | Total Record : 1332