cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
RUANG KOMUNAL DAN REKREASI SEBAGAI TEMPAT KETIGA PADA KAWASAN KEBONDALEM Vanessa Laura Susilo Hermanto; Samsu Hendra Siwi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22078

Abstract

Kebondalem area is one of the old areas which was famous as a center of activity, especially shopping in the city of Purwokerto. Before it was known as a shopping center area, Kebondalem area was famous for its type C bus terminal. The shift in the function of the terminal to shops in 1982, caused this area to become increasingly crowded and dense with shops or stalls to meet the needs of the surrounding communities. However, visitor interest in the area has decreased due to intense economic competition with other areas. The decrease in visitor interest has resulted in this area being left behind with sensitive points of social and physical degradation, such as shops that are starting to close, lack of places to carry out activities, and there are many abandoned facilities and buildings. This degradation event requires an urban acupuncture approach to overcome it. Based on the analysis of the surroundings, this area is surrounded by various kinds of facilities such as educational, office and other commercial facilities. However, with so many educational and office facilities around this area, there is no public space such as third place program as a connection between facilities, such as communal, entertainment or recreational facilities in the center of this area. Therefore, the addition of communal, entertainment or recreation programs as a third place can be a one way to revive this area by applying third place as a concept. Keywords: Communal Space; Recreation; Third Place; Urban Acupuncture Abstrak Kawasan Kebondalem merupakan salah satu kawasan lama yang terkenal sebagai pusat kegiatan khususnya perbelanjaan di kota Purwokerto. Sebelum menjadi kawasan pusat perbelanjaan, kawasan Kebondalem terkenal karena adanya terminal bus tipe C. Adanya pergeseran fungsi terminal menjadi pertokoan pada tahun 1982, menyebabkan kawasan ini menjadi semakin ramai dan padat akan pertokoan atau kios-kios untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar. Namun, minat pengunjung pada kawasan tersebut menurun karena persaingan ekonomi yang ketat dengan area lain. Menurunnya minat pengunjung tersebut mengakibatkan kawasan ini tertinggal dengan adanya titik-titik degradasi sosial maupun degradasi fisik, seperti pertokoan-pertokoan mulai tutup, kurangnya tempat untuk melakukan aktivitas, serta banyaknya fasilitas atau bangunan yang terbengkalai. Kejadian degradasi ini memerlukan pendekatan akupunktur perkotaan dalam mengatasinya. Berdasarkan analisis sekitar, kawasan ini dikelilingi oleh berbagai macam sarana fasilitas seperti fasilitas pendidikan, perkantoran dan komersial lainnya. Namun dengan banyaknya fasilitas pendidikan dan perkantoran di sekitar kawasan ini, tidak ada program tempat publik seperti tempat ketiga sebagai penghubung antar fasilitas seperti sarana komunal, hiburan atau rekreasi pada pusat kawasan ini. Maka dari itu, dengan penambahan program ruang berupa komunal, hiburan atau rekreasi sebagai tempat ketiga dapat menjadi salah satu cara untuk menghidupkan kembali kawasan ini dengan menerapkan aspek-aspek konsep tempat ketiga.
PENGOLAHAN KAYU & BESI BEKAS SEBAGAI WADAH MENGURAI MANGGARAI DALAM PENYELESAIAN WAJAH KAWASAN MELALUI URBAN AKUPUNKTUR Mega Widiya; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22079

Abstract

Every district continues to move forward in response to the increasingly diverse community activities in the city’s rapid development. Manggarai is one of the old and complex districts in South Jakarta that holds various historical values and problems. Growing up with its initial face as a commercial area, the development has shifted Manggarai into a transit-oriented area as its new face. Local people complain that movement is limited to arterial roads causing some areas to stagnate and degrade due to the lack of attractors. Therefore, this project seeks to regenerate community expectations regarding the realization of potential and memory through urban acupuncture methods. With this idea, “unraveling spot” is built by dissecting the urban context using the image of the city theory, which describes various issues and potentials that can be raised as targets in answering the value of urban acupuncture itself. The analysis will lead to the design of the used goods business in the wood and iron sector that is still existing and is in demand by the public which later will have programs such as gallery, hangout space, cultural stage, market, and culinary area, as well as green open space. In conclusion, this project aims to strengthen community interaction and participation, which will lead to an even distribution of movement, the emergence of community, equality, and recreational nodes network. Keywords: Community Empowerment; Image of the City; Recreation; Scrap Wooden Metal; Urban Acupuncture Abstrak Berbagai kawasan terus bergerak maju guna merespon semakin beragamnya aktivitas masyarakat dalam pesatnya perkembangan kota. Manggarai menjadi salah satu kawasan tua dan kompleks di Jakarta Selatan yang menyimpan beragam nilai historis dan persoalan. Tumbuh dengan wajah awalnya sebagai kawasan perniagaan namun perkembangan membawanya beralih menjadi kawasan berorientasi transit sebagai wajah barunya. Masyarakat setempat mengeluhkan pergerakan yang sebatas pada jalan-jalan arteri menyebabkan beberapa area stagnan dan berdegradasi karena kurangnya atraktor pada kawasan. Oleh karena itu, proyek ini berusaha menumbuhkan kembali harapan masyarakat mengenai pengangkatan kembali potensi dan memori kawasan melalui metode akupunktur perkotaan. Dengan gagasan ini, “wadah mengurai” dibangun dengan membedah konteks perkotaan menggunakan teori citra kota yang menjabarkan berbagai isu dan potensi yang diangkat sebagai sasaran dalam penerapan akupunktur perkotaan itu sendiri. Analisis tersebut akan berujung pada perancangan bisnis barang bekas di sektor kayu dan besi yang masih memiliki eksistensi dan diminati masyarakat dimana nantinya program seperti galeri, tempat nongkrong, panggung budaya, wadah jual beli, dan area kuliner, serta ruang terbuka hijau. Kesimpulannya, proyek ini bertujuan untuk mempererat interaksi dan partisipasi masyarakat yang akan membawa penyebaran perpindahan yang merata, timbulnya komunitas, kesetaraan, dan jaringan simpul rekreasi yang utuh.
RUANG SENI SENEN SEBAGAI TITIK AKUPUNKTUR PERKOTAAN UNTUK MENGHIDUPKAN IDENTITAS KESENIAN DAN MEMORI SENEN Venny Felicia Hens; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22081

Abstract

The Senen area was formerly known as the center for arts and cultural action in Jakarta. Then it became a hangout place for artists known as Seniman Senen. In 1968, the Governor of Jakarta decided to build Taman Ismail Marzuki which was expected to become a new art center in Jakarta. But slowly the big name of Seniman Senen dimmed when political agitation among artists began to strengthen. Senen began to lose the essence of art along with the times that faded the local culture. Meanwhile, the Senen area, which has been revitalized several times, still has a point of degradation. One of them is the Grand Theater, a historic film show building that was abandoned because it was unable to compete with the currents of globalization. The Grand Theater was burned by mass demonstrations against the policy of the Onimbus Law, which finally entered a phase of stagnation for six years and damaged the image of the Senen area. It is at this point that urban acupuncture can work to revive the Grand Theater, supported by narrative and experimental methods. It is hoped that it can awaken the art of film, create an art platform, and an artistic path that can strengthen the identity and memory of the area as the center of art in Jakarta. It is also hoped that it can be input and produce the right forum for the Senen community in developing arts, culture, as well as restoring the image of the region in the midst of globalization. This project changes the concept of art into a newer one based on collective memory so that it can be relevant to people's lives today and in the future. Keywords:  Degradation; Grand Theater; Senen Art; Urban Acupuncture Abstrak Kawasan Senen dahulu dikenal sebagai pusat aksi kesenian dan kebudayaan di Jakarta. Kemudian sempat menjadi tempat kongko seniman yang dikenal sebagai Seniman Senen. Pada 1968, Gubernur Jakarta memutuskan untuk membangun Taman Ismail Marzuki yang diharapkan menjadi pusat seni baru di Jakarta. Tetapi perlahan nama besar Seniman Senen meredup ketika agitasi politik di kalangan seniman mulai menguat. Senen mulai kehilangan esensi seni seiring dengan perkembangan zaman yang memudarkan budaya lokal. Sementara itu, Kawasan Senen yang sudah beberapa kali direvitalisasi ternyata masih memiliki titik degradasi. Salah satunya Grand Theater, bangunan pertunjukan film bersejarah yang terbengkalai karena kalah bersaing digerus arus globalisasi. Grand Theater sempat terbakar oleh unjuk masa yang menolak kebijakan UU Onimbus Law akhirnya memasuki fase stagnansi selama enam tahun dan merusak citra kawasan Senen. Pada titik inilah akupunktur perkotaan dapat bekerja untuk menghidupkan kembali Grand Theater, didukung dengan metode narasi dan eksperimental. Diharapkan dapat membangkitkan seni perfilman, menciptakan wadah seni, dan jalur seni yang mampu memperkuat identitas juga memori kawasan sebagai pusat kesenian di Jakarta. Diharapkan pula dapat menjadi masukan dan menghasilkan wadah yang tepat untuk masyarakat Senen dalam pengembangan kesenian, kebudayaan, juga mengembalikan citra kawasan ditengah arus globalisasi. Proyek ini mengubah konsep seni menjadi lebih baru berdasarkan memori kolektif agar dapat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini dan masa depan.
PERAN AKUPUNKTUR PERKOTAAN DALAM MENGHIDUPKAN KAWASAN KULINER PECENONGAN Shangrila Puan Charisma; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22127

Abstract

Technology development and city urbanization lead to a shift in activity and habit. Traditional value starts to change become modern value and trend. Because of the shifting, there will be disadvantageous towards certain society, which are lower middle class society. Lower-middle class society don't have the chance to follow the trend changes because lack of financial ability. Because of that case, their continuity become difficult. For example, street-culinary vendors start to find it difficult to find the comfortable typology for their activities. As a result, using the pedestrian or street illegally by this certain class can cause the discomfort. This distrubance can cause traditional value degrades, even causing identity lost. Region that maintain the continuity of traditional value will have the uniqueness and make that region interesting to be visited. This will give attraction for vibrant community and continuity. Pecenongan Area is famous for its traditional culinary which characteristic are tent shop and cadger. But as time goes by, the quantity of the seller and visitors started to decrease. This is the concrete shape of culinary identity that degrades. In case of that, urban acupuncture's role is needed to revitalize the traditional identity for Pecenongan Area that focus on culinary gradation. Keywords: degradation; street culinary vendors; traditional; urban acupuncture Abstrak Perkembangan teknologi dan urbanisasi di kota metropolitan menyebabkan pergeseran aktivitas dan kebiasaan. Perlahan sesuatu yang tradisional mulai tergantikan dengan suatu terbaru atau tren lainnya. Di dalam pergeseran, selalu ada yang dampak yang diberikan kepada masyarakat menengah ke bawah. Masyarakat menengah ke bawah tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti perubahan tren yang membutuhkan lebih banyak modal. Oleh sebab itu, keberlangsungan masyarakat menengah ke bawah sangat sulit. Misalnya, pedagang kuliner jalanan yang mulai sulit menemukan tipologi ruang yang cocok untuk mereka. Alhasil, pemanfaatan ruang pedestrian atau jalanan oleh kelompok ini menyebabkan ketidaknyamanan. Hambatan ini dapat menyebabkan budaya tradisional mengalami degradasi, bahkan menimbulkan kehilangan identitas tradisional wilayah tersebut. Suatu wilayah yang masih mempertahankan nilai tradisionalnya akan memiliki keunikan yang menjadikan wilayah tersebut memiliki citra dan atraksi yang menarik untuk dikunjungi sehingga memberikan ruang komunitas yang hidup dan berkelanjutan. Kawasan Pecenongan pada masanya terkenal dengan identitas kuliner tradisional berupa kuliner jalanan dengan bentuk warung tenda atau pedagang kaki lima. Namun seiring berjalannya waktu, kuantitas pedagang dan pengunjung di Kawasan Pecenongan mulai berkurang. Hal ini merupakan bentuk degradasi identitas kuliner yang konkrit terjadi. Oleh sebab itu, dibutuhkan pergerakan akupunktur perkotaan untuk menghidupkan identitas tradisional yang mengalami degradasi di Kawasan Pecenongan dengan fokus gradasi kuliner Kawasan Pecenongan.
PENATAAN RUANG ANTARA DENGAN AKUPUNKTUR PERKOTAAN DI KAWASAN BLOK M Gisella Krista; Sutarki Sutisna
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22129

Abstract

Kebayoran Baru is one of the urban villages in Jakarta. Blok M is one part of this kelurahan. This Blok M area has a bright prestige because of its shopping center. Many young people in the 1980s stopped by to gather, shop, or just show off their vehicles. But over time, this area experienced degradation which made the Blok M area deserted. Many factors have caused degradation to occur, such as the proliferation of similar shopping centers around the area, and the government's intervention did not involve the Blok M area as part of the intervention journey. The author wants to revive this area by using the Urban Acupuncture method. This method is used as a method for processing regional data and the data is analyzed and produces a synthesis. The results of this analysis are applied by the author using the symbiotic method and spatial perception into the intervening space in the area with the site as part of the micro-scale intervention. It is hoped that the intervention will be able to revive the prestige of the Blok M area, which is famous for its youth gathering point. Keywords:  Blok M; Degradation; In Between Space; Symbiosis; Urban Acupuncture Abstrak Kebayoran Baru merupakan salah satu kelurahan yang berada di Jakarta.  Blok M menjadi salah satu bagian dari kelurahan ini. Kawasan Blok M ini memiliki pamor yang terang karena pusat perbelanjaan nya. Banyak anak muda pada jaman 1980-an mampir untuk berkumpul, berbelanja, atau sekedar memamerkan kendaraan mereka. Tetapi seiring waktu, kawasan ini mengalami degradasi yang menjadikan kawasan Blok M dilanda sepi. Banyak faktor yang menyebabkan degradasi terjadi, seperti menjamur nya pusat perbelanjaan serupa di sekitar kawasan, dan intervensi yang dilakukan pemerintah tidak melibatkan kawasan Blok M sebagai bagian dari perjalanan intervensi. Penulis ingin menghidupkan kembali kawasan ini dengan menggunakan metode Akupunktur Perkotaan. Metode ini digunakan sebagai metode untuk mengolah data kawasan dan adanya data tersebut di analisis serta menghasilkan sintesa. Hasil analisis ini diterapkan oleh penulis menggunakan metode simbiosis dan spatial perception ke dalam intervensi ruang antara di kawasan dengan tapak sebagai bagian dari intervensi skala mikro. Diharapkan dengan adanya intervensi, mampu membangkitkan kembali pamor kawasan Blok M yang terkenal dengan titik kumpul anak muda.
RUANG REKREASI, WISATA DAN EDUKASI BARU SEBAGAI EKSTENSI MUSEUM MEMORIAL EX-CAMP VIETNAM PULAU GALANG BATAM Mellinia Vannesa; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22133

Abstract

Tourism is one of the country's foreign exchange source sectors that helps increase economic growth. In addition to increasing economic growth, the existence of a tourist attractions provide employment that gives positive impact on its community. The rapid development of new areas in the city of Batam, joined with technological advances and ever-changing habits of human activity, is an aspect that affects the decreased number of visitors in a tourist area, including the historical tourist area of Camp Vietnam. With its historical value and diversity of potential possessed by this cultural heritage site, Camp Vietnam is considered not to have received maximum preservation management. Through Urban Acupuncture method and Heritage Future strategy in analyzing the potential, shortcomings, and characteristics of Camp Vietnam. The planning of the educational, tourism and recreation space as an extension of space for Camp Vietnam museum is a form of intervention that aims to revive activities in the area. Revitalization of buildings along with reprogramming methods were carried out on developing the existing potentials in bridging edutainment activities with the fast developing modern era. Through small-scale interventions, edutainment programs in recreational facilities was created so the community could have positive interactions. The designed project is expected to be a landmark for the area and a catalyst in terms of physique, historical value and distinctive characteristics contained in the area and the city. Keywords: Cultural Heritage; Edutainment; Memorial Museum Extension; Urban Acupuncture Abstrak Pariwisata merupakan sektor sumber devisa negara yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Selain meningkatkan pertumbuhan ekonomi, keberadaan suatu objek wisata dapat menyerap tenaga kerja sehingga memberikan dampak positif kepada masyarakatnya. Pesatnya pembangunan baru di kawasan kota Batam, ditambah dengan kemajuan teknologi dan kebiasaan aktivitas manusia yang selalu berubah, menjadi aspek-aspek yang mempengaruhi penurunan angka pengunjung di suatu kawasan wisata, tidak terkecuali pada kawasan wisata sejarah Camp Vietnam. Dengan nilai historis dan keberagaman potensi yang dimiliki situs cagar budaya ini, kawasan wisata sejarah Camp Vietnam dinilai belum mendapatkan pengelolaan yang maksimal. Melalui metode Urban Acupuncture dan strategi Heritage Future untuk menganalisis potensi, kekurangan, dan ciri khas dari kawasan Camp Vietnam. Perencanaan ekstensi bangunan yang baru berupa ruang rekreasi, wisata dan edukasi pada eksisting museum memorial Camp Vietnam sebagai satu bentuk intervensi bertujuan untuk menghidupkan kembali aktivitas di kawasan Camp Vietnam. Tindakan revitalisasi terhadap bangunan eksisting beserta pemograman ulang yang dilakukan terhadap potensi kawasan juga dilakukan dalam menjembatani aktivitas eduwisata sejarah dengan perkembangan zaman yang semakin moderen ini. Melalui Intervensi- intervensi berskala kecil, program eduwisata pada ruang rekreasi ini diciptakan agar dapat menjadi wadah interaksi dan sosialisasi masyarakat yang bermanfaat. Proyek yang dirancang diharapkan dapat mempresentasikan wajah kawasan dan menjadi katalis baik dari segi fisik, nilai historis dan ciri khas yang terkandung didalam kawasan maupun tatanan kota.
MENGEMBALIKAN POPULARITAS BLOK M SEBAGAI AREA BERKUMPUL PEMUDA JAKARTA MELALUI MENGGUNAKAN METODE PENYUNTIKAN URBAN ACUPUNCTURE Michelle Gavriel; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22134

Abstract

Kebayoran Baru is a sub-district in the south of Jakarta with a bit of history that has colored the journey of the capital city of Jakarta. In the 80s and 90s, the Kebayoran Baru area, which was centered on Blok M, was filled with Japanese expatriates, which made the Blok M area, especially Melawai, popular among young people as a gathering area to create the term 'Lintas Melawai'. Visualization of the Blok M area as an elite area where 'Lintas Melawai' is a place to show off vehicles, gradually decreasing or degrading, which is quite influenced by MRT infrastructure development. Locations that are increasingly difficult to reach and the presence of other magnets in other areas that are more attractive have made the economic condition of the community decline along with the social and physical conditions of the area. One of the efforts that can be done to save the area is by injecting Urban Acupuncture and applying the spatial narrative method so that the area no longer experiences a decline but returns to the image of an area full of Jakarta's youth, where this will have a positive impact on the economy and regional potential. even to human resources in the region. The revitalization and re-programming actions taken are expected to be able to bring the area to grow in tandem with the acceleration of the growth of existing infrastructure, so that the area is no longer left behind but adapts according to the times without forgetting the historical values ​​that have been attached to the community's memory. Keywords: Blok M Recreation; Education; Hangout Place; Urban Acupuncture Abstrak Kebayoran Baru merupakan sebuah kecamatan yang berada di selatan Jakarta dengan sekelumit sejarah yang mewarnai perjalanan Ibukota Kota Jakarta. Di era 80 hingga 90an, kawasan Kebayoran Baru yang berpusat pada Blok M di penuhi oleh eskpatriat Jepang dimana hal ini menjadikan kawasan Blok M khususnya Melawai popular di kalangan anak muda sebagai area berkumpul hingga tercipta sebutan ‘Lintas Melawai’. Visualisasi Kawasan Blok M sebagai kawasan elit dimana ‘Lintas Melawai’ merupakan tempat untuk memamerkan kendaraan, lambat laun mengalami penurunan atau degradasi, yang cukup di pengaruhi oleh pembangunan infrastruktur MRT. Lokasi yang semakin sulit di capai serta adanya magnet kawasan lain yang lebih menarik, membuat kondisi perekonomian masyarakat menurun bersamaan dengan kondisi sosial juga fisik kawasan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan kawasan yakni dengan melakukan penyuntikan Urban Acupuncture serta penerapan metode spatial narative sehingga kawasan tidak lagi mengalami penurunan tetapi kembali menjadi citra kawasan yang penuh dengan pemuda Jakarta, dimana hal ini akan memberikan dampak yang positif terhadap perekonomian serta potensi daerah bahkan sampai sumber daya manusia di kawasan tersebut. Tindakan revitalisasi dan re-programming yang dilakukan diharapkan dapat membawa kawasan untuk bertumbuh beriringan dengan percepatan pertumbuhan infrastruktur yang ada, sehingga kawasan tidak lagi tertinggal tetapi beradaptasi sesuai dengan perkembangan zaman tanpa melupakan nilai sejarah yang sudah melekat pada memori masyarakat.
MENGHIDUPKAN KEMBALI KAWASAN KOTA TUA CIREBON DENGAN EKOWISATA Bregas Setyawan Putra Atmadi; Rudy Surya
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22135

Abstract

Cirebon is a city located in West Java Province, Indonesia. Cirebon connects Jakarta-Cirebon-Semarang-Surabaya which is often called the Pantura route. Cirebon has many old buildings, each of which has its own history. However, along with the times and the influence of globalization, the Old City area of ​​Cirebon is increasingly being degraded. Therefore, the Cirebon City Government has prepared the Cirebon Old City Area in Lemahwungkuk District to be revitalized so that this area becomes a new destination in the Cirebon area and improves the economy in the area. With the existence of an Ecotourism Art Gallery, which focuses on how to solve problems against the onslaught of globalization in saving art from Cirebon itself, so that the people around Cirebon Old Town can chat together and revive the Cirebon Old City area. One of the efforts that can save this area is by using urban acupuncture by applying several concepts such as Ecotourism which is the main target of the Cirebon City Government to revitalize this area, while also applying several methods in the design, namely Phenomenon, Typology and Hybrid. It is hoped that by using the following method for this research, the Ecotourism Art Gallery can raise the economic, social, cultural and tourist centers of the area, so that the area can grow with infrastructure that will also grow in the future. Keywords:  Ecotourism Art Gallery; Revitalize; The Cirebon Old City; Urban Acupuncture Abstrak Cirebon merupakan kota yang berlokasi di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Cirebon menghubungkan Jakarta-Cirebon-Semarang-Surabaya yang mana sering disebut jalur Pantura. Cirebon memiliki banyak bangunan-bangunan tua, yang mana masing-masing dari bangunan tua tersebut punya historis nya sendiri. Akan tetapi, seiring perkembangan zaman dan pengaruh globalisasi Kawasan Kota Tua Cirebon ini semakin terdegradasi. Maka dari itu, Pemkot Cirebon menyiapkan Kawasan Kota Tua Cirebon yang berada di Kecamatan Lemahwungkuk ingin di revitalisasi agar kawasan ini menjadi tujuan destinasi baru yang ada di daerah Cirebon dan meningkatkan roda perekonomian di kawasan tersebut. Dengan adanya sebuah Galeri Seni Ekowisata ini yang mana menitikberatkan pada bagaimana pemecahan masalah terhadap gempuran globalisasi dalam menyelamatkan seni dari Cirebon sendiri, agar masyarakat sekitar Kota Tua Cirebon bisa bercengkrama bersama-sama dan menghidupkan kembali kawasan Kota Tua Cirebon. Salah satu upaya yang bisa menyelamatkan kawasan ini dengan menggunakan akupunktur perkotaan dengan beberapa penerapan konsep seperti Ekowisata yang mana menjadi target utama dari Pemkot Cirebon untuk me revitalisasi kawasan ini, selain itu juga menerapkan beberapa metode dalam rancangan yaitu Fenomenon, Tipologi dan Hybrid. Harapannya dengan menggunakan metode berikut untuk penelitian ini Galeri Seni Ekowisata ini bisa mengangkat ekonomi, sosial, budaya dan pusat wisata pada kawasan tersebut, sehingga kawasan tersebut bisa tumbuh dengan infrastruktur yang akan bertumbuh juga dimasa yang akan datang.
“MANGGARAI TRANSIT HUB” TERINTEGRASI DENGAN HUNIAN VERTIKAL Lucky Brian Hartono; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22136

Abstract

The city of Jakarta is now a center for mobility activities with various fields carried out by the community every day. However, the vastness of the city of Jakarta causes a lack of effective control and planning of space and functions in each area. Because of this, there is regional degradation and negative spaces such as slums and illegal settlements and abandoned buildings arise. In addition, less affordable modes of transportation between important places are present around the area. Therefore, it is necessary to have a building with the function of a housing program and public transportation transit space that is affordable by urban communities. The Manggarai area is a major transit center point that has existed since the Dutch colonial period and has a function as a large center for public transportation such as trains and city buses. However, it can be seen from the existing area, that there is no increase in regional development and the emergence of many negative and inefficient spaces in the use of space in the Manggarai area. One of issues is the slum settlement that have been built on the riverbanks and side of   railway line, causing insufficient indoor and outdoor space in the Manggarai area. The design method is "Contextual" which is applied with a contextual approach that occurs in the Manggarai area. In conclusion, the project will be a mixed-used building in which there is a vertical residential activity program and presents a transit space for transportation modes by applying a spatial atmosphere that characterizes the locality of the Manggarai area. The design of the Transit Hub is designed with the implication of aspects of area characterization and saving energy and being able to facilitate the community in activities. Keyword : housing; settlement; transit Abstrak Kota Jakarta kini menjadi pusat mobilitas kegiatan dengan berbagai bidang yang dilakukan oleh masyarakat setiap harinya. Namun, luasnya kota Jakarta menyebabkan kurangnya pengontrolan dan perencanaan ruang dan fungsi di setiap kawasan secara efektif. Karena itu, terjadi adanya degradasi kawasan dan timbul ruang-ruang negatif seperti permukiman kumuh dan ilegal serta bangunan yang terbengkalai. Selain itu, Moda transportasi yang kurang terjangkau antar tempat penting yang hadir di sekitar kawasan. Maka itu, dibutuhkan hadirnya sebuah bangunan dengan fungsi program hunian dan ruang transit transportasi umum yang terjangkau oleh masyarakat perkotaan. Kawasan Manggarai merupakan satu titik pusat transit besar yang sudah ada sejak masa kolonial belanda dan memiliki fungsi sebagai pusat besar moda transportasi umum seperti Kereta api dan Bus kota. Namun, terlihat melalui eksisting kawasan, pengembangan kawasan tidak ada peningkatan dan timbulnya banyak ruang-ruang negatif dan tidak efisien dalam pemanfaatan ruang pada kawasan Manggarai. Salah satu isu utama yaitu permukiman kumuh yang terbangun di bantaran sungai dan sisi jalur kereta api menyebabkan kurang memadainya ruang luar maupun dalam Kawasan Manggarai. Metode perancangan yang digunakan adalah “kontekstual” yang diterapkan dengan pendekatan kontekstual yang terjadi pada Kawasan Manggarai. Sebagai kesimpulan , proyek akan berupa sebuah mixed-used building yang didalamnya terdapat program aktivitas hunian secara vertikal dan menghadirkan ruang transit moda transportasi dengan menerapkan adanya suasana ruang mengkarakterisasi lokalitas dari kawasan Manggarai. Perancangan Transit Hub dirancang dengan adanya mengimplikasikan aspek karakterisasi Kawasan dan hemat energi serta mampu memudahkan masyarakat dalam aktivitas.
PERANCANGAN RUANG PUBLIK KREATIF SEBAGAI REGENERASI RUKO “9 WALK BINTARO” DENGAN PENDEKATAN URBAN ACUPUNCTURE Wanetta Reyna Ballinan; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22137

Abstract

The “9 Walk” Shophouse area was once a small part of Bintaro Jaya The Professional’s City which is known as a culinary center at the gathering point of its residents (Sector 9). This area is experiencing degradation of physical structure (several damaged buildings), social space (loss of attractor), mental (collective memory) and is also affected by the Covid 19 pandemic which has made the area increasingly quiet, while the surrounding conditions are still very lively. So from this issue, the 'energy' of the “9 Walk” Shophouse area is slowly disappearing.“9 Walk” Shophouse has an urgency to be addressed through urban acupuncture, which is essentially a focused intervention on a small scale that is expected to have the capacity to regenerate a dead or damaged part of urban space (degraded area). With the urban acupuncture strategy, “9 Walk” Shophouse which was once a culinary center and hangout place especially for its local residents, can be regenerated and restored by being converted into a creative public space. In a creative public space, a creative character and other like-minded communities can gather, reminisce about areas that were once famous, can exchange ideas, inspire and get inspired, and can be used as a place to start a local business. The architectural concept puts forward technology and contextual environment. Keywords:  contextual; creative public space; regeneration; urban acupuncture Abstrak Kawasan Ruko 9 Walk dulunya merupakan bagian kecil dari Kota Mandiri Bintaro Jaya yang dikenal sebagai pusat kuliner pada titik berkumpul nya penduduk (Sektor 9). Kawasan ini mengalami degradasi struktur fisik (beberapa bangunan rusak), ruang sosial (attractor), mental (memori kolektif) dan juga terdampak pandemi Covid 19 yang menjadikan kawasan semakin sepi, sedangkan kondisi di sekitarnya masih sangat hidup. Maka dari isu tersebut, 'energi' pada titik kawasan Ruko 9 Walk perlahan menghilang. Ruko 9 Walk memiliki urgensi untuk ditanggapi melalui akupunktur perkotaan, yang pada dasarnya merupakan intervensi terfokus pada skala kecil yang diharapkan akan memiliki kapasitas untuk meregenerasi bagian dari ruang perkotaan yang mati atau rusak (terdegradasi). Dengan strategi urban acupuncture, Ruko 9 Walk yang dulunya merupakan pusat kuliner dan tempat hangout terutama untuk para penduduk lokal, dapat diregenerasi dengan dialihfungsikan menjadi ruang publik yang kreatif. Pada ruang publik yang kreatif pelaku-pelaku kreatif dan masyarakat lainnya dapat berkumpul, mengingat kembali kawasan yang dulu terkenal, dapat bertukar ide, menginspirasi dan mendapat inspirasi, serta dapat dijadikan tempat untuk memulai bisnis. Konsep arsitekturalnya mengedepankan teknologi dan kontekstual lingkungan.

Page 84 of 134 | Total Record : 1332