cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PENERAPAN STRATEGI FORM FOLLOW FUNCTION PADA DESAIN SISTEM DAN FASILITAS PENGOLAHAN SAMPAH KAIN, PLASTIK DAN KERTAS DI KECAMATAN GAMBIR Jessica Eleora; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22156

Abstract

The Gambir District, which is one of the oldest areas in the city of Jakarta, is an area which has many characteristics in it. This area has a variety of culinary places, tourist attractions, offices, etc., whereas each sector has its own different charm. One of the problems in the Gambir area lies in the lack of waste management, with garbage collection sites that are still openly dumped and not maintained as well as waste management facilities that are not functional. This design aims to improve and provide an example that recycling is a facility  can be implemented for the city of DKI Jakarta. Using the Form Follow Function method, this design study provides an architectural prototype design which can meet the needs of fabric, plastic, and paper waste processing which has its own characteristics in the Gambir area. Keywords:  Fabric; Gambir, Paper; Plastik; Waste Processing Abstrak Kecamatan Gambir, merupakan salah satu wilayah tertua di kota Jakarta, merupakan sebuah wilayah yang memiliki banyak ke-khasan di dalamnya. Kawasan ini memiliki beragam tempat kuliner, tempat wisata, perkantoran, dsb, dimana masing-masing sektor memiliki ke-khasan masing-masing. Salah satu permasalahan kawasan Gambir terletak dalam segi pengolahan sampah yang sangat kurang, dengan tempat penampungan sampah yang masih terbuka dan tidak terawat serta fasilitas-fasilitas pengelolaan sampah yang kurang fungsional. Perancangan ini bertujuan untuk memperbaiki dan memberikan contoh bahwa daur ulang adalah suatu fasilitas yang dapat diimplementasikan untuk kota DKI Jakarta. Menggunakan metode “Form Follow Function”, studi perancangan ini memberikan sebuah desain prototipe arsitektural yang dapat memenuhi kebutuhan pengolahan sampah kain, plastik dan kertas yang memiliki ke-khasan tersendiri pada kawasan Gambir.
HARMONI CENTER (PUSAT TRANSPORTASI DAN MAKANAN) DENGAN PENERAPAN STRATEGI INFILL DI KAWASAN HARMONI, JAKARTA PUSAT Nadira Rosa; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22158

Abstract

Transit Oriented Development (TOD) is an architectural design concept that emerged in the late 1980s. This concept is a combination of architectural design and transportation that considers how an architectural design can contribute to the principles of an efficient and sustainable city program. This design has been widely implemented in the world with different results. This is evidence that this design depends on various factors in the surrounding environment such as social, cultural, and environmental conditions. One application of this design concept which is influenced by environmental conditions is in the Harmoni area which is accommodated by various types of transportation such as Transjakarta, MRT, KRL, to city transportation (ANGKOT). This design concept can be combined using the Infill strategy, which is a design strategy that can fill unused land or buildings into an architectural design. The infill strategy is an effort to overcome excessive development so that conservation is carried out as an effort to maintain what we have wisely. Its application can be in the location of vacant land to unused buildings. The implementation of the infill strategy in the Harmoni area aims to revive activities in the area and its surroundings that are experiencing degradation or known as the Urban Acupuncture concept. Keywords: acupuncture; infill; transit; urban Abstrak Perancangan pusat transportasi adalah konsep perancangan arsitektur yang muncul pada tahun diakhir 1980-an. Konsep ini merupakan gabungan antara perancangan arsitektur dan transportasi yang mempertimbangkan bagaimana sebuah desain arsitektur dapat berkontribusi di prinsip program kota yang efisien dan berkelanjutan. Perancangan ini sudah banyak diimplementasikan di dunia dengan hasil yang berbeda-beda. Hal tersebut merupakan bukti bahwa perancangan ini bergantung  dari berbagai macam faktor di lingkungan sekitarnya seperti keadaan sosial, budaya, hingga keadaan lingkungannya. Salah satu penerapan konsep perancangan ini yang dipengaruhi oleh keadaan lingkunganya berada di kawasan Harmoni yang diakomodasi oleh berbagai macam transportasi seperti transjakarta, MRT, KRL, hingga angutan kota (ANGKOT). Konsep perancangan ini dapat digabungkan dengan menggunakan strategi Infill yaitu strategi desain yang dapat mengisi lahan atau bangunan tidak terpakai menjadi sebuah desain arsitektur. Strategi infill merupakan upaya dari mengatasi pembangunan yang berlebihan sehingga dilakukan konservasi sebagai upaya untuk memelihara apa yang kita punya secara bijaksana. Penerapannya dapat berada di lokasi lahan kosong hingga bangunan yang tidak terpakai. Penerapan strategi infill dalam kawasan Harmoni ini bertujuan untuk menghidupkan kembali aktivitas di kawasan dan sekitarnya yang mengalami degradasi atau dikenal sebagai konsep Urban Acupuncture.
PERANCANGAN PUSAT KEBUDAYAAN SUNDA DENGAN STRATEGI AKUPUNTUR PERKOTAAN DI JALAN MERDEKA KOTA BOGOR Daniel Danish Francelo; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22185

Abstract

Indonesia is an archipelagic country consisting of several large and small islands, providing diversity from various aspects. Over time, the rapid development tends to have an impact on the fading of the identity character of cities in Indonesia. Therefore, the government has started a movement to preserve the city that has a strong history and culture through the heritage city preservation and arrangement program (P3KP). Bogor City is one of the affected cities which divides the city into six historical areas and tends to be located around the city center. The independent road area is one of the areas experiencing the phenomenon of the fading of regional identity, supported by new issues that hinder improvements by the government and result in reduced attractiveness of the area. This study aims to create a Sundanese cultural center that raises the potential of local wisdom and history on Jalan Merdeka, and is expected to be useful in educating visitors in terms of information and knowledge. This research was conducted in the field of Architectural Design Concentration, since the research was conducted during the COVID-19 pandemic, the research method used was a literature review approach with secondary data sources. Urban acupuncture strategies are used by utilizing local interventions to regenerate degraded city points. The design planning method used is locality in the form of an effort to lift phenomena or elements that stimulate the character of a modern identity. Based on the research conducted, it was concluded that this project aims to build a Sundanese cultural center that restores the faded character of the area and at the same time educates visitors about the history and culture of the Merdeka Street area so that the attractiveness of the area restored. Keywords:  Cultural Center; Diversity; Heritage City; Urban Acupuncture Abstrak Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari beberapa pulau besar maupun kecil, memberikan keanekaragaman dari berbagai aspek. Seiring waktu, perkembangan yang begitu pesat cenderung berdampak pada pudarnya karakter identitas terhadap kota-kota di Indonesia. Maka dari itu, pemerintah sudah memulai gerakan melestarikan kota yang memiliki sejarah dan budaya yang kental melalui program pelestarian dan penataan kota pusaka (P3KP). Kota Bogor merupakan salah satu kota terdampak yang membagi kotanya menjadi enam kawasan bersejarah dan cenderung berlokasi di sekitaran pusat kota. Kawasan jalan merdeka merupakan salah satu kawasan yang mengalami fenomena pudarnya identitas kawasan,  didukung oleh isu baru yang menghambat pembenahan oleh pemerintah serta mengakibatkan berkurangnya daya tarik kawasan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk membuat pusat kebudayaan sunda yang mengangkat potensi kearifan lokal dan sejarah di Jalan Merdeka, serta diharapkan dapat bermanfaat mengedukasi pengunjung dari segi informasi dan pengetahuannya. Penelitian ini dilakukan di bidang Konsentrasi Perancangan Arsitektur, berhubung penelitian dilakukan di masa pandemi COVID-19, metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kajian literatur dengan sumber data sekunder. Strategi akupuntur perkotaan digunakan dengan memanfaatkan intervensi lokal untuk meregenerasi titik kota terdegradasi. Metode perencanaan desain yang digunakan adalah lokalitas berupa upaya pengangkatan fenomena atau unsur yang merangsang karakter identitas secara modern. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, disimpulkan bahwa proyek ini bertujuan untuk membangun pusat kebudayaan sunda yang mengembalikan karakter kawasan yang pudar dan sekaligus mengedukasi pengunjung tentang sejarah dan budaya yang ada di Kawasan Jalan Merdeka sehingga daya tarik kawasan bangkit kembali.
PENGHIDUPAN KEMBALI TAMAN PANATAYUDA SEBAGAI TITIK AWAL MEMBANGKITKAN KECAMATAN KARAWANG BARAT DI KABUPATEN KARAWANG Novia Christian Wijaya; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22190

Abstract

West Karawang Regency was originally referred to as the “Barn of Rice” because it produces rice in large quantities even to foreign countries. However, in 1980 Karawang changed its function into an industrial area which resulted in lowering the green area in Karawang. As a result, there is degradation between sub-districts in Karawang Regency. Including in West Karawang District, especially the city park, namely Panatayuda Park, which is increasingly quiet due to the lack of urban development. In fact, this sub-district is passed directly by the Pantura Road which incidentally is always passed by vehicles and people from various regions. Panatayuda Park is getting more and more shabby and not well maintained which results in a bad image of the Regency and a decline in the welfare of the local community. The method applied in the design uses case study observations, field conservation and interviews, in order to understand and apply urban acupuncture, architecture and everyday life in design. The results of this program are functions in Panatayuda Park in the form of sports areas, culinary centers, and green open spaces. Keywords: Architecture and Daily Life; City Image; Degradation;  Karawang Regency; Urban Acupuncture Abstrak Kabupaten Karawang Barat pada mulanya disebut sebagai “Lumbung Padi” karena menghasilkan beras dalam jumlah yang besar bahkan sampai ke mancanegara. Namun, pada tahun 1980 Karawang beralih fungsi menjadi kawasan industri yang mengakibatkan menurunkan area hijau di Karawang. Akibatnya, terjadi degradasi antar kecamatan di Kabupaten Karawang. Termasuk pada Kecamatan Karawang Barat terutama taman kota yakni Taman Panatayuda yang kian tahun semakin sepi akibat kalahnya perkembangan kota. Padahal kecamatan ini dilewati secara langsung oleh Jalan Pantura yang notabenenya selalu dilewati kendaraan maupun orang dari berbagai daerah. Taman Panatayuda pun semakin kumuh dan tidak terawat yang berakibat pada buruknya gambaran Kabupaten dan menurunnya kesejahteraan masyarakat setempat. Metode yang diterapkan dalam rancangan menggunakan pengamatan studi kasus, konservasi lapangan dan wawancara, agar paham dan menerapkan urban akupuntur, arsitektur dan keseharian dalam desain. Hasil program ini adalah fungsi-fungsi di Taman Panatayuda yang berupa area olahraga, pusat kuliner, dan ruang terbuka hijau.
PENERAPAN PRINSIP HEALING THERAPEUTIC ARCHITECTURE DALAM PERANCANGAN WADAH PEMBELAJARAN DAN REHABILITASI KARYA WANITA DI RAWA BEBEK DENGAN METODE PERILAKU Divina Laurentia; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22192

Abstract

Rawa Bebek, Penjaringan sub-district, Gang Royal to be exact, is known to this day as a prostitution area mixed with densely populated houses. Even though enforcement has been carried out, it is still not complete. The residents of Rawa Bebek themselves are affected in their lives, such as children after elementary school who do not want to continue their education and are vulnerable to the negative impacts of prostitution activities. Plus there is a negative stigma against Rawa Duck. Likewise, ex-prostitute women, especially victims of exploitation who were framed, received treatment that was despised by the community. To increase their dignity, it is necessary to provide a place for rehabilitation of women's work for them to receive rehabilitation, services, and skills guidance. In addition, to reduce the negative stigma of society, awareness and education efforts are needed in the form of learning programs for self-development according to their expertise, such as non-formal learning spaces in the form of skills activities. And the gallery is also designed as a facility that can be used by the general public with material about the education of the human body. In addition, considering the condition of the population, such as children from under the village who have not received education, an equivalency education class is prepared. In the design, applying behavioral methods by paying attention to users so that the learning and rehabilitation forum for women's work is expected to be urban acupuncture in Rawa Bebek, that the community and the surrounding environment are not as bad as the stigma attached so far. Keywords: Child; Learning; Prostitution; Rehabilitation; Stigma; Teens Abstrak Rawa Bebek, daerah kelurahan Penjaringan, tepatnya Gang Royal dikenal hingga kini masih menjadi area prostitusi yang bercampur dengan rumah padat penduduk. Sekalipun telah dilakukan penertiban, namun tetap tidak tuntas. Warga Rawa Bebek sendiri terdampak dalam menjalani kehidupan, seperti anak-anak selepas SD tidak ingin melanjutkan pendidikan dan rentan terpengaruh dampak negatif dari aktivitas prostitusi. Ditambah adanya stigma negatif terhadap Rawa Bebek. Begitu pula dengan eks-wanita tuna susila terutama korban eksploitasi yang dijebak, mendapat perlakuan yang direndahkan oleh masyarakat. Untuk meningkatkan martabat mereka, perlu disediakan wadah rehabilitasi karya wanita bagi mereka untuk mendapatkan rehabilitasi, pelayanan, dan bimbingan keterampilan. Selain itu, untuk mengurangi stigma negatif masyarakat, dibutuhkan upaya penyadaran dan edukasi berupa program pembelajaran untuk pengembangan diri sesuai keahlian mereka, seperti ruang belajar nonformal dalam bentuk kegiatan keterampilan. Serta galeri juga dirancang sebagai fasilitas yang dapat digunakan masyarakat umum dengan materi mengenai edukasi tubuh manusia.  Disamping itu, melihat kondisi penduduk seperti anak-anak dari kolong belum mendapat pendidikan, disiapkan kelas pendidikan kesetaraan. Dalam perancangan menerapkan metode perilaku dengan memperhatikan penggunanya sehingga wadah pembelajaran dan rehabilitasi karya wanita diharapkan menjadi akupuntur urban di Rawa Bebek, bahwa masyarakat dan lingkungan kawasan sekitarnya tidak seburuk stigma yang melekat selama ini.
SENTRA KERAJINAN KERAMIK DENGAN PENERAPAN ARSITEKTUR EKSPRESIONISME DI JALAN IR. HAJI JUANDA REMPOA, TANGERANG SELATAN Isra Wahyudin; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22194

Abstract

Jalan Ir. Haji Juanda is the main access that connects the city of South Tangerang with South Jakarta, resulting in high density and potential opportunities for business people. Seeing business opportunities and interest in fine art objects, in 1974 a fine art shop appeared called an "art shop". The development of art shops gives birth to positive identities and impacts socially, economically and culturally for society. Over time, the identity of the area began to fade and there was degradation in the art shop, it seemed that some shops still survived, others labeled "temporarily closed shops". The physical condition of the art shop building was damaged, unkempt due to inactivity of function so that a negative image arose in the area. It is hoped that the center for the craft of ceramic art as an attractor is a form of micro-scale intervention in urban structures, seeing the growing trend of ceramic workshops and the demand for the manufacturing process, the application of the architectural method of expressionism looks at the expressions formed from the process of making ceramics, which are poured through the façade elements that become the points of the face of the building, the inner space and the mass composition in the form of a circle base that moves following the direction of the rotary technique. The design aims to increase the identity and enthusiastic drive of the development of art shops, both for the local community, especially business people, art actors and tourists Keywords: Businessman; Fine arts crafts; Regional identity Abstrak Jalan Ir. Haji Juanda merupakan akses utama yang menghubungkan kota Tangerang Selatan dengan Jakarta Selatan, sehingga terjadi kepadatan tinggi dan potensial peluang bagi pebisnis. Melihat peluang bisnis dan ketertarikan benda seni rupa, tahun 1974 muncullah toko karya seni rupa dengan sebutan “art shop”. Berkembangnya art shop melahirkan identitas dan dampak positif secara sosial, ekonomi dan budaya bagi masyarakat. Seiring berjalan waktu, identitas kawasan mulai pudar dan terjadi degradasi pada art shop, nampak ada toko masih bertahan, yang lainnya berlabelkan “toko tutup sementara”. Kondisi fisik bangunan art shop mengalami kerusakan, tidak terawat karena tidak aktifnya fungsi sehingga timbul citra negatif pada kawasan. Diharapkan Sentra kerajinan seni rupa keramik sebagai atraktor wujud dari intervensi skala mikro pada struktur perkotaan, melihat tren workshop keramik yang sedang berkembang dan diminati akan proses pembuatannya, penerapan metode arsitektur ekspresionisme melihat dari ekspresi yang terbentuk dari proses pembuatan keramik, yang dituangkan melalui elemen fasad yang menjadi poin wajah bangunan, ruang dalam dan gubahan massa yang berbentuk dasar lingkaran yang bergerak mengikuti arah teknik putar. Perancangan bertujuan meningkatkan identitas dan penggerak antusias berkembangnya art shop, baik bagi masyarakat lokal khususnya pebisnis, pelaku seni hingga wisatawan.
REDESAIN PASAR CINDE PALEMBANG DENGAN PENDEKATAN URBAN ACUPUNCTURE Muhammad Farish Arrahman; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22195

Abstract

Cinde area is a place that is identical as a commercial area with the Cinde Market Building as a regional landmark and the city of Palembang. This market is one of the destinations for local people and tourists who sell various types of souvenirs such as food, songket, and handicrafts that can be obtained in this market. However, in 2017 this market was dismantled because this building has experienced physical degradation which can be seen from the loss of the building structure. Thus this area has lost one of its main attractors and made this area experience a decline. So there is an urgency to rebuild the market building. Therefore, the author proposes to redesign the Palembang cinde market with an open market concept that combines market and community functions. Its application can be applied to all buildings both inside and outside. This design concept can be applied with an open space method that can maximize negative spaces by turning them into public open areas. The implementation of the public open space strategy in the Cinde Market aims to give a new impression on the existing market in the city of Palembang by not destroying the function of the market.This building can meet the needs of the community and at the same time become a community forum in the city of Palembang with the hope that in the next 20 years this project can restore lost regional image.  Keywords : Attractor; Cinde Market; Landmark; Regional Image; Urgency Abstrak Kawasan Cinde merupakan sebuah tempat yang identik sebagai kawasan komersil dengan Bangunan Pasar Cinde sebagai Landmark kawasan dan kota Palembang. Pasar ini menjadi salah satu tujuan masyarakat lokal dan turis yang menjual berbagai jenis buah tangan seperti makanan, songket, dan kerajinan tangan dapat diperoleh di pasar ini. Namun Pada tahun 2017 pasar ini dibongkar dikarenakan bangunan ini telah mengalami degradasi fisik yang dapat terlihat dari mengeroposnya struktur bangunan. Dengan demikian kawasan ini mengalami kehilangan salah satu attractor utamanya dan membuat kawasan ini mengalami penurunan. Sehingga timbulah urgensi untuk membangun kembali bangunan pasar. Maka dari itu, penulis mengusulkan untuk meredesain kembali pasar cinde Palembang dengan konsep bangunan terbuka yang menggabungkan fungsi pasar dan berkomunitas. Penerapannya dapat diaplikasikan kedalam seluruh bangunan baik bagian dalam mauapun luar. Konsep perancangan ini dapat diterapkan dengan metode ruang terbuka yang dapat memaksimalkan ruang-ruang negatif dengan merubahnya menjadi area terbuka publik. Penerapan strategi ruang terbuka publik dalam Pasar Cinde ini bertujuan untuk  memberikan kesan baru terhadap pasar yang ada di kota Palembang dengan tidak merusak fungsi berupa pasar. Bangunan ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan sekaligus menjadi wadah komunitas yang ada di kota Palembang dengan harapan dalam 20 tahun kedepan proyek ini dapat mengembalikan citra kawasan yang telah hilang.
RUANG INTERAKTIF KAMPUNG BEKELIR TANGERANG Careen Leo; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22199

Abstract

Kampung Bekelir, which was originally a tourism village, succeeded in attracting newcomers with several interesting and educational attractions. The village is very focused on the tourism aspect and in the end ignores the needs of its residents. The imbalance between communal space and tourism sites in Kampung Bekelir has resulted in the programs losing their value and attractiveness. It is caused by many activities that have not been accommodated and the lack of space for the community. This issue is quite crucial because Kampung Bekelir, which is initially a tourism village, slowly being degraded and losing its function and identity. Therefore, it is necessary to apply urban acupuncture which aims to touch the collective soul of the city. The collective soul is reflected through the collective consciousness of the community which can eventually become a reality. By using the guidelines in the 11th points of Sustainable Development Goals, environtmental-focused design is carried out using the in-fill method and the application of typology with programs that focus on aspects of education, economy, people's welfare to achieve an area with sustainable settlements. Keywords:  Degradation in an environtment; Urban Acupuncture; In fill methods Abstrak Kampung Bekelir yang pada awalnya merupakan kampung pariwisata berhasil memikat pendatang baru dengan beberapa atraksi yang menarik dan edukatif. Kampung tersebut sangat berfokus pada aspek pariwisatanya dan pada akhirnya mengabaikan kebutuhan warganya. Ketidakseimbangan antara ruang komunal dan situs pariwisata di Kampung Bekelir Tangerang karena banyaknya kegiatan belum terakomodasi dan kurangnya ruang untuk komunitas mengakibatkan objek pariwisata di kawasan Kampung Bekelir kehilangan nilai dan daya tarik. Isu ini menjadi cukup krusial karena kampung Bekelir yang merupakan kampung pariwisata perlahan-lahan mengalami degradasi dan kehilangan fungsi serta identitasnya sebagai sebuah kampung wisata. Maka itu diperlukannya penerapan akupunktur perkotaan yang bertujuan untuk menyentuh jiwa kolektif kota. Jiwa kolektif direfleksikan melalui kesadaran kolektif dari masyarakat yang pada akhirnya dapat menjadi kenyataan. Dengan menggunakan panduan dalam tujuan ke-11 dari pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals), perancangan kawasan dilakukan dengan metode in fill dan penerapan tipologi dengan program yang berfokus pada aspek edukasi, ekonomi, kesejahteraan warga untuk mencapai sebuah kawasan dengan pemukiman berkelanjutan.
PENDEKATAN URBAN AKUPUNTUR PADA RUANG REKREASI OCARINA BATAM SEBAGAI UPAYA PENGEMBANGAN KOTA Jessica Yassmin; Doddy Yuono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22201

Abstract

Ocarina Batam located at Jalan Gajah Mada, Bengkong Sadai, Batam City, is a recreational destination  which has not been developed and is degradated in a long time so as this region is needed to be revitalize as an effort to an urban development that has potential in terms of social, economic, and existing concepts to attracts local and international citizen. This project is made to establish Entertainment Hub that compiles various amusement designed with the use of technology. Programs in this project provide public spaces in the outdoor-indoor part of the entertainment center as a place to gather and interact with each other through the available space. Through the urban acupuncture method by analyzing the potential, demographics, needs and shortcomings that characterize the area. Design approch is using contextual contrast approach, where as the approach attain new form that align with urban acupuncture (known as Contrast). Building development plan in this project will be design with new appearance, however still supports current surroundings. Keywords: Contextual Contrast; Entertainment Hub; Recreational Destination; Urban Acupuncture; Urban Development Abstrak Ocarina Batam berada di Jalan Gajah Mada, Bengkong Sadai Kota Batam, merupakan destinasi rekreasi yang sudah lama tidak dikembangkan dan terdegradasi sehingga kawasan ini diperlukan  untuk di hidupkan kembali sebagai upaya pengembangan kota dengan potensi dari segi sosial, ekonomi, serta konsep agar menarik orang lokal maupun luar Batam. Proyek ini bertujuan untuk  menciptakan Entertainment Hub guna mengumpulkan hiburan yang dirancang dengan penggunaan teknologi.  Program dalam proyek ini menyediakan ruang publik bagian outdoor-indoor dari pusat hiburan sebagai tempat berkumpul dan saling berinteraksi melalui ruang yang tersedia. Melalui metode urban akupuntur dengan meganalisis potensi, demografi, kebutuhan dan kekurangan yang menjadi ciri khas kawasan Ocarina Batam. Pendekatan desain menggunakan pendekatan Kontekstual Kontras, dimana bentuk pendekatannya dapat mengenalkan bentuk baru yang selaras dengan urban akuputur (dikenal dengan istilah kontras) dari desain bangunan yang sudah ada sebelumnya. Perencanaan bangunan dalam proyek ini akan dirancang dengan gaya baru namun tetap mendukung lingkungan sekitar.
PUNYA KITE: IDENTITAS BARU PRINSEN PARK DALAM LOKALITAS KAWASAN MANGGA BESAR Angelica Kosasi; Agnatasya Listianti Mustaram
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22202

Abstract

The identity of a city is formed by the conditions, character, and competitive advantages possessed by the city, which makes a city different from other cities because of its uniqueness and distinctiveness, as well as its features. Nowadays, the identity of the city is often lost in the flow of modernization and the development of the times which demands that everything is fast and instant, leading to uniformity. Prinsen Park, located in Mangga Besar, has been an entertainment center since the Dutch era, which can be said to be the forerunner of many modern cinemas. Tankwood or formerly known as the artist village is the Hollywood version of Jakarta in the 1940s. However, modernization eliminates this positive entertainment center. Prinsen Park which is now the Lokasari area, has turned into a nightlife center that has lost its initial identity and becomes negative. Shop houses that are partially abandoned can also be seen in the Lokasari area at this time. This degradation in terms of physical, social, and mental needs to be restored to restore the lost Lokasari identity. Urban acupuncture method is used to restore this area. The architectural program that is carried out is expected to form a new Lokasari identity as an entertainment center with its uniqueness that is friendly to all ages, with programs that are adapted to the circumstances and preferences of the local community. Keywords:  Architecture, Degradation, Identity, Locality, Prinsen Park, Urban acupuncture Abstrak Identitas dari sebuah kota terbentuk oleh kondisi, karakter, dan keunggulan kompetitif yang dimiliki kota tersebut, yang menjadikan suatu kota berbeda dengan kota-kota lain karena keunikan dan kekhasannya, serta keistimewaannya. Sekarang ini, identitas kota seringkali hilang terbawa arus modernisasi dan perkembangan zaman yang menuntut segala sesuatu serba cepat dan instan, hingga berujung pada keseragaman. Prinsen Park yang berada di Mangga Besar, merupakan pusat hiburan sejak era Belanda, yang dapat dikatakan sebagai cikal bakal dari banyak bioskop di zaman modern ini. Tangkiwood atau yang dulu dikenal sebagai kampung artis merupakan Hollywood versi Jakarta pada tahun 1940an. Namun, modernisasi menghilangkan pusat hiburan yang bersifat positif ini. Prinsen Park yang sekarang merupakan kawasan Lokasari, berubah menjadi pusat hiburan malam yang menghilangkan identitas awal dan menjadi negatif. Ruko-ruko yang sebagian terbengkalai juga terlihat pada kawasan Lokasari saat ini. Degradasi baik dari segi fisik, sosial, dan mental ini perlu dipulihkan untuk mengembalikan identitas Lokasari yang hilang. Metode urban acupuncture digunakan untuk memulihkan kawasan ini. Program arsitektur yang diusung diharapkan dapat membentuk identitas Lokasari yang barusebagai pusat hiburan dengan kekhasannya yang ramah bagi semua umur, dengan program yang disesuaikan dengan keadaan dan kegemaran masyarakat setempat.

Page 86 of 134 | Total Record : 1332