cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
HUNIAN KELAS MENENGAH DENGAN FASILITAS PENJUALAN ONDERDIL MOBIL DI KARANG ANYAR Vinshen Cristian; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22138

Abstract

Uncontrolled population growth have become one of the major affecting factors towards the well being of society. The uncontrolled population growth is disproportionate with the wellbeing [A1] of society, especially to own a housing unit in Jakarta. This makes it so that lower class citizens have decided to settle in the slums as an alternative for housing. The slums are a part of the city that have been neglected from the overall city planning and construction with the environment conditions that have been degrading physically, socially, and economically with a growing population density and unkempt facilities. Karang Anyar have been one of the areas with a high population density in which the majority of the dwellings have been designed without considering other supporting facilities and spaces. Besides that, there have been many problems found in the surrounding area that also have an effect towards the well being of the surrounding society, one of which is the low income of the people living there where most of them work as laborers and car auto parts merchants. The absence of the needed facilities to trade have forced them to sell their products in illegal areas such as on the sidewalk. As time goes, the peddlers are eventually evicted from selling in the illegal area which causes their overall income to decrease. This leads to the growth of criminal activities and the decrease of the well being in Karang Anyar. This research is made to identify the characteristics of the slums in Kelurahan Karang Anyar, Sawah Besar District, Central Jakarta and to produce a vertical housing design that is habitable for the people there to affect the area positively and providing a central auto parts dealership for the people of Karang Anyar and the wider area of Jakarta.For the method used in making observations and analysis of the area, namely by using the secondary method. Keywords: DKI Jakarta; Eviction; Kelurahan Karang Anyar; Population Density; Vertical Housing Abstrak Pesatnya pertumbuhan penduduk menjadi salah satu permasalahan yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan penduduk yang begitu pesat dan tidak diseimbangkan dengan kesejahteraan masyarakat terutama untuk memiliki hunian khususnya di kawasan Jakarta. Akibatnya muncul permukiman kumuh yang menjadi salah satu jalan alternatif agar masyarakat menengah kebawah memiliki hunian. Permukiman kumuh merupakan kawasan yang cenderung terabaikan yang mengalami penurunan kualitas sosial budaya, ekonomi, penurunan kualitas fisik dan sarana prasarana yang buruk. Karang Anyar menjadi salah satu daerah pemukiman padat penduduk yang mayoritas huniannya didirikan tanpa memikirkan ruang dan fasilitas penunjang bagi hunian. Selain itu banyak sekali permasalahan di kawasan Karang Anyar yang tentu saja berdampak pada kesejahteraan masyarakat sekitar salah satunya adalah tingkat pendapatan penduduk yang rendah dimana sebagian besar penduduk bekerja sebagai buruh dan pedagang onderdil mobil. Namun tidak adanya fasilitas berdagang yang memadai memaksa mereka berjualan di area ilegal seperti di atas trotoar jalan. Seiring berjalanya waktu para pedagang kaki lima mengalami penggusuran karena berjualan di area ilegal. Akibatnya pendapatan masyarakat Karang Anyar menjadi berkurang. Akibatnya terjadi degradasi tindakan kriminal dan berkurangnya tingkat kesejahteraan di kawasan Karang Anyar. Tujuan dari adanya penulisan [A1] ini adalah mengidentifikasi karakteristik permukiman kumuh Kelurahan Karang Anyar Kecamatan Sawah Besar Jakarta Pusat kemudian menghasilkan rancangan hunian vertikal yang layak bagi masyarakat serta rancangan area niaga pusat onderdil mobil demi memberikan dampak kesejahteraan yang baik terhadap masyarakat dan membantu menggerakan perekonomian masyarakat Karang Anyar. Untuk metode yang digunakan dalam melakukan pengamatan yaitu dengan menggunakan metode sekunder dalam melakukan pengamatan dan analisis kawasan.
PERANCANGAN HUNIAN VERTIKAL DENGAN FASILITAS “INDUSTRI KECIL KONVEKSI” UNTUK MENGURANGI KEPADATAN PENDUDUK DI KELURAHAN JEMBATAN BESI Yongky Heryanto Wijaya; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22141

Abstract

Indonesia is a country with a very high population density, especially in some of the major metropolitan cities which can cause problems relating to limited land use. One of these cities with a high population growth is Jakarta, especially in Tambora District, Kelurahan Jembatan Besi where this area has a high level of population density. Some areas in this district consist of highly populated villages where the majority of people depend on industrial works, especially convectional works in their own homes as a source of income. The high-density villages in the Kelurahan Jembatan Besi have been degraded by unmaintained environment by the surrounding communities which causes most housing to be uninhabitable. The method used during the design process is to collect secondary data from journals, articles, books, and other online media. Besides collecting data, Urban Acupuncture is also implemented in this project by designing a vertical housing structure which can also provide facilities for convectional works. The concept used in this design is Adaptable Space which provides each room with some added flexibility. From the data gathered, the found architectural design solution by implementing Urban Acupuncture is done by combining each housing unit with a proper convectional workspace to maximize land use as efficient and effective as possible while maintaining the project's sustainability to help combat the highly growing population density. Keywords: Urban Acupuncture; Kelurahan Jembatan Besi; Population Density; Convection; Vertical Housing Abstrak Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, terutama di beberapa kota-kota besar dan metropolitan yang dapat menyebabkan masalah keterbatasan terhadap ketersediaan lahan. Salah satu kota besar yang mengalami masalah pertambahan penduduk yang tinggi adalah kota DKI Jakarta, terutama di kawasan Kecamatan tambora, Kelurahan Jembatan Besi, dimana daerah ini memiliki tingkat kepadatan penduduk yang tinggi. Beberapa daerah di Kelurahan Jembatan Besi merupakan kawasan kampung padat penduduk, yang pekerjaan terbanyak di daerah tersebut adalah pekerjaan industri rumahan konveksi. Kawasan perkampungan padat di Kelurahan Jembatan Besi mengalami degradasi yang disebabkan akibat lingkungan yang tidak dirawat dengan baik oleh masyarakat sekitar, sehingga menyebabkan kebanyakan perumahan warga menjadi tidak layak untuk dihuni. Metode yang digunakan adalah dengan cara mengumpulkan data secara sekunder, dimana proses pengumpulan data bersumber dari jurnal, artikel, buku, dan media online. Selain pengumpulan data, Pendekatan Urban Akupunktur dilakukan dengan cara perancangan hunian vertikal yang menyediakan fasilitas untuk pekerjaan konveksi. Konsep yang digunakan adalah Adaptable Space, dimana memberikan fleksibilitas dalam ruangan. Melalui kajian yang telah dilakukan, solusi desain arsitektur menggunakan pendekatan Urban Acupuncture, dengan cara merancang “rumah susun”, yang menggabungkan unit hunian sebagai tempat tinggal dan usaha konveksi sebagai tempat kerja yang layak bagi masyarakat, untuk memaksimalkan fungsi lahan secara efektif dan efisien, serta memberikan efek berkelanjutan untuk mengatasi masalah kepadatan penduduk yang terus meningkat.
FASILITAS PENGOLAHAN DAUR ULANG SAMPAH DI TANAH MERAH JAKARTA DENGAN FASILITAS EDUKASI Bimo Dwi Hannanto; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22142

Abstract

The problem of waste is a serious matter in Indonesia because the amount is already excessive. Most of the current waste is plastic waste that comes from households. Currently, Indonesia is an upper-middle class country, which means it is capable of becoming an independent industrial country. Previously, Indonesia had always imported waste as industrial raw material. It makes the waste problem even worse in Indonesia. Waste management in Indonesia is not managed sustainably. This has caused the Bantargebang TPA as a waste disposal site for DKI Jakarta to run out of land. Therefore, urban acupuncture is used as a method for selecting locations that have the most waste problems. The location of Tanah Merah in North Jakarta is the main focus, due to the degradation of the Tanah Merah TPS which makes the surrounding area unproductive. The existence of this problem gave the idea of ​​​​designing "Facilities for Recycling into Energy and Maggot Cultivation". Where the design aims to accommodate processing in the Tanah Merah TPS area to be used as energy and also to make animal feed from processing with the maggot method. Keyword: energy; maggot; recycle; urban acupuncture; waste Abstrak Permasalahan sampah menjadi hal serius di indonesia dikarenakan jumlah yang sudah berlebihan. Sampah terbanyak saat ini merupakan sampah plastik yang berasal dari rumah tangga. Saat ini Indonesia merupakan Negara Kelas Menengah Atas yang berarti mampu menjadi negara industri mandiri. Sebelumnya Indonesia selalu melakukan impor sampah sebagai bahan baku industri. Hal ini yang membuat semakin parahnya masalah sampah di Indonesia. Pengelolaan sampah di Indonesia tidak dikelola secara berkelanjutan. Hal ini yang menyebabkan TPA Bantargebang sebagai pembuangan sampah DKI Jakarta kehabisan lahan. Oleh karenanya akupunktur perkotaan digunakan sebagai metode untuk pemilihan lokasi yang memiliki permasalahan sampah terbanyak. Lokasi Tanah Merah di Jakarta Utara menjadi penitikan utama, dikarenakan adanya degradasi pada TPS Tanah Merah yang membuat kawasan sekitar menjadi tidak produktif. Adanya permasalahan ini memberikan gagasan perancangan “Fasilitas Daur Ulang Menjadi Energi dan Budidaya Maggot”. Dimana rancangan bertujuan untuk mewadahi pengolahan di wilayah TPS Tanah Merah untuk dijadikan energi dan juga menjadikan pakan ternak dari pengolahan dengan metode maggot.
PENGEMBANGAN PUSAT NIAGA TERPADU MELALUI PENDEKATAN URBAN ACUPUNCTURE PADA KAWASAN PERDAGANGAN CENGKARENG Felicia Wijaya; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22144

Abstract

A number of traders began to complain about their declining sales in the last 5 years. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) reported that the retail industry grew below five percent during January - June 2017. Chairman of Aprindo Roy Mandey, the factors that influenced were the high inflation rate, people's behavior change in shopping and people also refrained from shop. Minister of Trade Agus Suparmanto considered that the retail industry has an important role to support national economic growth in terms of trade and consumption. Therefore, the retail industry should be maintained. Since the COVID-19 pandemic, people's behavior also changed a lot. The government's policy about social distancing cause offline shopping avoided and shopping centers lost their visitors. Chairman of Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja said that retail businesses must make innovations to attract visitors. But unfortunately, there are those who are unlucky. Some are forced to close their shops because there were only few buyers or even shopping centers are forced to close the building because there were only few visitors. One of them is Puri Agung building which is located in the Cengkareng trading area. Through urban acupuncture with everyday architecture methods that study the daily lives and collect data from various sources, the idea is to maintain the identity of the area as a trading center and develop it. The development through programs that can liven up the atmosphere to keep it busy the whole day. Additional programs will increase the quality of this area so visitors will have more activity. Keywords:  cengkareng; shopping center; trading area Abstrak Sejumlah pedagang mulai mengeluhkan penjualan mereka yang menurun dalam 5 tahun terakhir. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) melansir bahwa industri ritel pertumbuhannya di bawah lima persen sepanjang Januari - Juni 2017. Ketua Umum Aprindo Roy Mandey faktor yang mempengaruhi penurunan adalah tingkat inflasi yang tinggi, adanya perubahan perilaku masyarakat dalam berbelanja dan masyarakat juga menahan diri untuk tidak berbelanja. Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menilai bahwa industri ritel memiliki peran penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dari sisi perdagangan dan konsumsi. Maka dari itu, perlu diusahakan agar industri ritel tetap bisa dipertahankan. Sejak adanya Pandemi COVID-19, perilaku masyarakat juga banyak yang berubah. Kebijakan pemerintah untuk menjaga jarak menyebabkan warga menghindari berbelanja secara offline dan mengakibatkan banyaknya pusat perbelanjaan yang sepi pengunjung. Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan bahwa pelaku usaha ritel harus melakukan sejumlah inovasi untuk menarik pengunjung. Namun sayangnya, ada saja yang kurang beruntung. Ada yang terpaksa harus menutup toko karena sepi pembeli atau bahkan pusat perbelanjaan yang terpaksa menutup gedung karena semakin hari semakin sedikit yang berjualan sehingga pengunjungnya juga semakin sedikit. Salah satunya adalah Gedung Puri Agung yang berada di kawasan perdagangan Cengkareng. Melalui urban acupuncture dengan metode keseharian yang mempelajari keseharian kawasan dan mengumpulkan data dari berbagai sumber, muncullah ide untuk mempertahankan identitas kawasan sebagai pusat perdagangan dan mengembangkannya. Pengembangannya melalui program-program yang dapat menghidupkan suasana agar tetap ramai dari pagi sampai malam hari. Program tambahan juga perlu menambah kualitas dari kawasan ini sehingga pengunjung tidak hanya datang untuk berbelanja.
EDUWISATA LINGKUNGAN SEBAGAI SOLUSI DARI PERMASALAHAN SAMPAH RUANG PERKOTAAN Jeremy Mahaputra Duta Pamungkas; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22147

Abstract

from the Tangerang district which is bordered by the Cisadane River. South Tangerang City was built with the main function designation, namely settlement because of its strategic location with the capital city area so that many urbanists who come from other areas can live in the South Tangerang area with a more affordable cost of living. With the increase in population, the level of production and consumption is definitely higher which results in the amount of waste production increasing in South Tangerang. If it is not accompanied by a good lifestyle, waste production will be excessive to the point of polluting the environment and this has happened in this city until South Tangerang City is given the nickname as one of the cities with the highest pollution in Southeast Asia. The phenomenon that occurs is due to excessive loading, the TPA in South Tangerang, namely the Cipeucang TPA, has overcapacity so that the sheet pile on the TPA is broken and the waste enters the Cisadane river which causes severe pollution. There are many solutions, but the solution after the accumulation of waste is that the population is growing if it is not corrected from the mindset of each individual, the problem of accumulation will still occur. So using the Urban Acupuncture method, to turn off some illegal TPS points in South Tangerang is to build an Eduwsiata facility that can provide socialization to the community in an interesting way so that people want to come and learn about the environment. Keywords: Education; Environmental Pollution; Garbage; Residential Abstrak Tangerang selatan merupakan salah satu daerah otonom baru pada tahun 2008 yang memisahkan diri dari kabupaten Tangerang yang dibatasi dengan sungai Cisadane. Kota Tangerang Selatan dibangun dengan peruntukan fungsi utama yaitu pemukiman karena letaknya yang strategis dengan daerah ibu kota sehingga banyak urbanis yang datang dari daerah lain dapat tinggal di daerah Tangerang Selatan dengan biaya hidup yang lebih terjangkau. Dengan bertambahnya penduduk, tingkat produksi dan konsumsi pun sudah pasti semakin tinggi yang mengakibatkan jumlah produksi sampah semakin banyak di Tangerang Selatan. Jika tidak disertai dengan pola hidup yang baik, produksi sampah akan berlebih hingga mencemari lingkungan dan hal tersebut terjadi di Kota ini hingga Kota Tangerang Selatan diberi julukan salah satu kota dengan polusi tertinggi di Asia Tenggara. Fenomena yang terjadi adalah karna muatan yang berlebih, TPA di Tangerang Selatan yaitu TPA Cipeucang mengalami over kapasitas sehingga turap pada TPA jebol dan sampah masuk ke sungai Cisadane yang menyebabkan pencemaran cukup parah. Dilakukan banyak solusi namun solusi pasca penumpukan sampah yang semakin bertumbuhnya penduduk jika tidak diperbaiki dari pola pikir masing-masing individu, masalah penumpukan tetap akan terjadi. Dengan menggunakan metode Urban Acupuncture, untuk mematikan beberapa titik TPS ilegal yang ada di Tangerang Selatan adalah dengan membangun sebuah fasilitas Eduwsiata yang dapat memberi sosialisasi kepada masyarakat dengan cara yang menarik sehingga masyarakat mau datang dan belajar mengenai lingkungan.
PENERAPAN MIXED USE SEBAGAI PEMECAHAN PERMASALAHAN GHOST TOWN DI KAWASAN PERDAGANGAN DAN JASA TANJUNG DUREN UTARA Cinthia Adila; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22149

Abstract

Grogol is one of the areas that has always been crowded even since the colonial era because it is one of the largest nodes in Jakarta. But over time, there are points in the area that are now experiencing degradation / decline in function that can be seen physically and are now starting to be occupied. One of them is a trade & service district in North Tanjung Duren. Where the existing shopping area, which was originally successful, is now starting to be abandoned by its owners or used as a warehouse, hostel-class accommodation. In the end, these programs causes the death to the area due to the absence of people activities. The abandonment of this area eventually caused a new problem, namely crime, especially at night, and it is not uncommon for this area to be known as the 'dark area'. Therefore, this research is intended to help solve problems and rejuvenate the ‘ghost town’ in this area by using urban acupuncture intervention assistance. From this study, it was found that one of the interventions to solve this problem is to implement a mixed use program to revive this area. Starting from residences, offices, commercial areas for the local community that can be packaged in the form of open spaces for the public to bring back mass to the area and make the area safer and more comfortable. Keywords: Mixed-use ; North Tanjung Duren; Rejuvenation; Urban Acupuncture Abstrak Kecamatan Grogol merupakan salah satu kawasan yang selalu ramai bahkan sejak zaman penjajahan karena merupakan salah satu simpul terbesar di Jakarta. Namun seiring berjalannya waktu, terdapat titik pada kawasan yang kini mengalami degradasi / penurunan fungsi yang dapat dilihat secara fisik dan kini mulai ditinggali. Salah satunya merupakan kawasan perdagangan & jasa di Tanjung Duren Utara. Dimana kawasan eksisting pertokoan yang semula berjaya ini, kini mulai ditinggali oleh para penggunanya atau dijadikan gudang, atau penginapan sekelas hostel. Program program eksisting ini menyebabkan matinya kawasan karena tidak adanya aktivitas masyarakat. Matinya kawasan ini akhirnya menimbulkan masalah baru yaitu tindak kejahatan terutama pada malam hari, bahkan tak jarang bila kawasan ini dikenal dengan istilah ‘kawasan gelap’. Oleh karena itu, penelitian ini ditujukan untuk membantu memecahkan permasalahan dan meremajakan ‘ghost town’ pada kawasan ini dengan menggunakan bantuan intervensi akupunktur perkotaan (urban acupuncture). Dari penelitian ini, didapat bahwa salah satu intervensi untuk dapat memecahkan masalah tersebut adalah dengan menerapkan program mixed use untuk menghidupkan kembali kawasan ini. Mulai dari hunian, perkantoran, area komersial bagi masyarakat setempat yang dapat dikemas dalam bentuk ruang ruang terbuka bagi publik untuk kembali mendatangkan massa kepada kawasan dan menjadikan kawasan lebih aman dan nyaman.
KEBUTUHAN SISTEM MODULAR PADA BANGUNAN HIGH DENSITY Marchelinus Marchelinus; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22150

Abstract

The population density in big cities like Jakarta always increases every year. If this continues, the need for housing will be increasingly challenging to meet. Dukuh Atas is the sub-district with the highest proportion of slums and dense settlements in DKI Jakarta. The Dukuh Atas area is located between the Jakarta business triangle area, which is traversed by three modes of transportation, and there are residential areas that have the potential to become a place for various community functions and activities to meet. According to the DKI Jakarta Spatial Planning (RTRW), the Dukuh Atas area is directed to become a Transit Oriented Development (TOD) area. However, the application of the TOD concept in the Dukuh Atas area is still not optimal because low-intensity settlement functions still dominate it. Vertical housing is one solution to the problem of density and housing needs in big cities, but vertical housing (rusunawa) in the Dukuh Atas area is still not optimal. In addition to lighting and ventilation, the type that does not vary and its massive shape causes residents who are already married to be forced to live in dwellings with a limited area and not following their needs. Therefore, this research will investigate how the architectural program can provide flexible housing for the community to be comfortable and livable. The urban acupuncture approach can increase productivity in empowering residents of sustainable settlements and is expected to become a residence with positive synergy. Keywords:  Flexibility; Urban Acupuncture; Vertical Residential Houses Abstrak Kepadatan penduduk di kota besar seperti Jakarta selalu meningkat setiap tahunnya. Dimana jika hal ini terus berlanjut maka kebutuhan tempat tinggal akan semakin sulit terpenuhi. Dukuh Atas merupakan kecamatan dengan proporsi pemukiman kumuh dan padat tertinggi di DKI Jakarta. Kawasan Dukuh Atas berada diantara kawasan segitiga bisnis Jakarta yang dilalui oleh tiga moda transportasi dan terdapat hunian yang berpotensi menjadi wadah untuk bertemunya berbagai fungsi dan aktivitas masyarakat. Menurut Rencana Tata Ruang Wilayah DKI (RTRW) Jakarta Kawasan Dukuh Atas diarahkan menjadi kawasan Transit Oriented Development (TOD). Namun penerapan konsep TOD di kawasan Dukuh Atas masih belum optimal karena masih didominasi oleh fungsi permukiman dengan intensitas rendah. Hunian vertikal merupakan salah satu solusi dari masalah kepadatan dan kebutuhan hunian di kota besar, tetapi perumahan vertikal (rusunawa) yang ada di Kawasan Dukuh Atas masih belum optimal. Selain penerangan dan ventilasi, tipe yang tidak bervariasi dan bentuknya yang masif menyebabkan penghuni yang sudah berkeluarga terpaksa tinggal di hunian dengan luas yang terbatas dan tidak sesuai dengan kebutuhannya. Oleh karena itu, riset ini akan menginvestigasi bagaimana program arsitektur mampu menyediakan tempat tinggal yang fleksibel bagi masyarakat sehingga nyaman dan layak untuk dihuni. Dengan pendekatan urban acupuncture dapat meningkatan produktivitas dalam pemberdayaan penghuni permukiman yang berkelanjutan dan diharapkan dapat menjadi hunian yang bersinergi positif.
PENATAAN KEMBALI PERMUKIMAN KUMUH SERTA PEMANFAATAN BUDIDAYA MANGROVE PADA KAWASANA MUARA ANGKE Richard Christian; Timmy Setiawan
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22151

Abstract

Muara Angke is an area in North Jakarta which is directly adjacent to the Java Sea. The Muara Angke area is declared a slum area along with all the unique architecture, spatial formations and the environment. This condition of slum settlements occurs because many low-income urbanists are looking for a place to live in more affordable suburban areas. In the end, unplanned settlements emerged and did not have infrastructure facilities which were growing naturally and uncontrollably into slums. The rearrangement of the Muara Angke area is the best way to overcome these slums to create a clean, hygienic, orderly and safe environment. In addition, the realignment of this area can also be followed by the development of the potential that exists in the Muara Angke area. On the west side of the Muara Angke area, there is a mangrove cultivation area that has the potential to be used as a new tourist attraction. Utilization of the mangrove cultivation area as a new tourist attraction does not mean changing the function of cultivation and replacing it with other functions, but rather inviting the community to learn and participate in conserving mangrove cultivation while traveling. Therefore, the realignment of the Muara Angke area will eventually solve the problem of existing slum settlements and improve the economy of this region with the addition of functions that can accommodate the community's needs for tourism. Keywords:  Mangrove Cultivation; New Recreational; Rearrangement; Slum Areas Abstrak Muara Angke merupakan suatu kawasan di Jakarta Utara yang berbatasan langsung dengan laut Jawa. Kawasan Muara Angke ini dinyatakan sebagai kawasan permukiman kumuh bersamaan dengan segala keunikan arsitektur, bentukan tata ruang dan lingkungannya. Kondisi permukiman kumuh ini terjadi karena banyaknya kaum urbanis berpenghasilan rendah yang mencari tempat tinggal pada kawasan pinggir kota yang lebih terjangkau. Pada akhirnya, muncul permukiman tidak terencana dan tidak memiliki fasilitas infrastruktur yang semakin lama berkembang secara alami dan tidak terkendali menjadi permukiman kumuh. Penataan kembali kawasan Muara Angke ini merupakan jalan terbaik untuk mengatasi permukiman kumuh ini untuk menciptakan lingkungan yang bersih, higienis, tertib, dan aman. Selain itu, penataan kembali kawasan ini juga dapat diikuti dengan pengembangan potensi yang ada pada kawasan Muara Angke. Pada sisi barat kawasan Muara Angke ini terdapat kawasan budidaya mangrove yang berpotensi sekaligus dapat dimanfaatkan untuk menjadi objek wisata baru. Pemanfaatan kawasan budidaya mangrove sebagai objek wisata baru ini bukan berarti mengubah fungsi budidaya dan menggantikannya dengan fungsi lain, melainkan mengajak masyarakat untuk belajar dan ikut serta dalam melestarikan budidaya mangrove sembari berwisata. Oleh karena itu, penataan kembali kawasan Muara Angke ini pada akhirnya akan menyelesaikan permasalahan permukiman kumuh yang ada dan meningkatkan perekonomian wilayah ini dengan adanya penambahan fungsi yang dapat mewadahi kebutuhan masyarakat untuk berwisata.
PERANCANGAN TEMPAT HIBURAN CAMPURAN PADA KAWASAN TANAH ABANG TIMUR Ronald Emillio; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22152

Abstract

Urban acupuncture is a method to restore degraded urban areas, through identification of urban system problems. If problems are successfully identified, then design interventions can be made. Tanamur is a discotheque that operated from 1970 to 2005. Tanamur stands for Tanah Abang Timur, which is also the name of the area where the Tanamur building is located. The purpose of this study, among others, is to identify the success factors of the Tanamur discotheque, as well as to examine discotheque buildings in general, to find urban acupuncture solutions that can be applied to restore the iconic function of the Tanamur area as a place of entertainment. The methodology used is content analysis. The findings of this study are then used to form design concepts and architectural programs. Through the studies that have been carried out, the architectural design solution to carry out urban acupuncture in the Tanamur area is to create an attractor in the form of a building for various entertainment functions, as a place of recreation for residents and immigrants who stop by the Tanah Abang Timur area. Keywords:  Architecture; Discotheque; Urban acupuncture; Tanamur Abstrak Urban acupuncture merupakan suatu metode untuk memulihkan area urban yang mengalami degradasi, melalui identifikasi permasalahan sistem urban. Apabila permasalahan ditemukan, maka dilanjutkan dengan intervensi desain. Tanamur merupakan sebuah diskotek yang beroperasi dari tahun 1970 hingga 2005. Tanamur merupakan singkatan dari Tanah Abang Timur, yang juga merupakan nama dari kawasan tempat bangunan Tanamur berada. Tujuan dari kajian ini antara lain adalah untuk mengidentifikasi faktor kesuksesan diskotek Tanamur, serta mengkaji bangunan diskotek secara umum, untuk menemukan solusi urban acupuncture yang dapat diterapkan untuk mengembalikan fungsi ikonik kawasan Tanamur sebagai tempat hiburan. Metodologi yang digunakan adalah analisis isi. Kemudian temuan dimanfaatkan untuk membentuk konsep desain dan program arsitektur. Melalui kajian yang telah dilakukan, solusi desain arsitektur untuk melakukan urban acupuncture pada kawasan Tanamur adalah dengan menciptakan atraktor kawasan berupa bangunan untuk beragam fungsi hiburan, sebagai tempat rekreasi untuk penghuni maupun pendatang yang singgah ke kawasan Tanah Abang Timur.
DESAIN KAMPUNG SUSUN DENGAN PENERAPAN ARSITEKTUR MODULAR SEBAGAI CITRA BARU PERMUKIMAN DAN AKUPUNKTUR KAWASAN MUARA BARU Amanda Augustine; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22153

Abstract

Muara Baru area is experiencing housing class disparities, overcrowding, a lack of inclusive facilities, and the degradation of the movement and physical image of the settlements that are getting worse. Some residents of Muara Baru live on the edge of the reservoir. It is necessary to relocate the residents of illegal settlements from the edge of the reservoir to order settlements; have supporting facilities to fulfill their needs; improve the image of the area. One of the architectural solutions that can be applied is an housing complex with social and public facilities, and is located in a new site. The purpose of the design is to propose: architectural solutions that can accommodate all residents of illegal settlements on the edge of the reservoir; the spatial and design elements of the Modular Vertical Housing that can improve the welfare of the residents of the reservoir edge, the quality and image of the settlements; Modular Vertical Housing which can create a new image of the Muara Baru settlement by processing the mass of the building and its outer space The literature review contains theories about slum housing, urban acupuncture, city’s image, and vertical rental housing that can be applied as a basis for designing. The design method departs from the existing varied patterns of illegal settlements, then makes 3 types of residential modules, and the embodiment of varied and order arrangement of modules. With the creation of an order residential area through the Modular Vertical Housing, this project can become acupuncture of the area and a new image of the settlement, as well as the value of the area, residents' economy, movement can be increased. Keywords:  Modular Vertical Housing; Muara Baru; New image of the settlement Abstrak Kawasan Muara Baru mengalami kesenjangan kelas perumahan, kepadatan yang terlalu tinggi, kurangnya jumlah fasilitas yang inklusif, dan degradasi pergerakan serta citra fisik permukiman yang semakin buruk. Sebagian warga Muara Baru bermukim di bibir waduk. Diperlukan relokasi warga permukiman ilegal dari bibir waduk ke permukiman beraturan; adanya fasilitas pendukung untuk memenuhi kebutuhan mereka; peningkatan citra kawasan. Salah satu solusi arsitektur yang dapat diterapkan adalah kampung susun dengan fasilitas sosial dan umum, serta terletak di tapak baru. Tujuan perancangan adalah mengusulkan: solusi arsitektur yang dapat mewadahi seluruh warga permukiman ilegal bibir waduk; keruangan dan elemen desain Kampung Susun Modular yang dapat meningkatkan kesejahteraan warga bibir waduk, kualitas dan citra permukiman; Kampung Susun Modular yang dapat membuat citra baru permukiman Muara Baru dengan pengolahan massa bangunan dan ruang luarnya. Kajian literatur berisi teori mengenai perumahan kumuh, akupunktur perkotaan, citra kota, dan rumah susun sederhana sewa yang dapat diterapkan sebagai dasar perancangan. Metode desain berangkat dari pola permukiman ilegal eksisting yang bervariatif, kemudian membuat 3 tipe modul hunian, dan perwujudan susunan modul yang variatif dan beraturan. Dengan terciptanya kawasan permukiman beraturan melalui Kampung Susun Modular, proyek ini dapat menjadi akupunktur kawasan dan citra baru permukiman, serta nilai kawasan, ekonomi warga, pergerakan dapat ditingkatkan.

Page 85 of 134 | Total Record : 1332