cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 1,332 Documents
PENGEMBANGAN MELALUI PEMAHAMAN EMPATIK HALTE TRANSJAKARTA GROGOL 2 UNTUK MENINGKATKAN KENYAMANAN PENGALAMAN PENGGUNA Gerald Revell Nur Asan; Maria Veronica Gandha
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24191

Abstract

Congestion in urban environments like Jakarta is inevitable due to rapid population growth and increased vehicle usage. The conventional approach of seeking new land for development is unsustainable. This work and research focus on the Grogol 2 bus stop, aiming to understand its current state and learn from past mistakes. The design objective is to reduce passenger fluctuations during peak hours by providing a comfortable waiting area. This study involves research and design, incorporating interviews, relevant precedent studies, and the practical application of architectural principles. An empathic architecture approach is used, serving as a vessel for human activity. Keywords: congestion; empathic architecture; Grogol 2 bus stop; growing population; urban environment Abstrak Kemacetan di lingkungan perkotaan seperti Jakarta tidak dapat dihindari karena pertumbuhan penduduk yang pesat dan peningkatan penggunaan kendaraan. Pendekatan konvensional dalam mencari lahan baru untuk pembangunan tidak berkelanjutan. Karya dan penelitian ini berfokus pada halte bus Grogol 2, dengan tujuan memahami kondisinya saat ini dan belajar dari kesalahan masa lalu. Tujuan desainnya adalah untuk mengurangi fluktuasi penumpang pada jam sibuk dengan menyediakan area tunggu yang nyaman. Studi ini melibatkan penelitian dan desain, dengan melibatkan wawancara, studi preseden relevan dalam kolaborasi dengan prinsip-prinsip arsitektur dengan terapan praktis. Pendekatan arsitektur empatik digunakan, yang berperan sebagai wadah bagi aktivitas manusia.
PROTOTIPE FASILITAS PELATIHAN KEWIRAUSAHAAN CENGKEH DI PERKEBUNAN JAMBELAER Indika Kamara Putra; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24194

Abstract

Starting from the issues faced by a group of young people from Jambelaer village, Sukabumi, who are seeking work in the city with only junior high school and vocational school diplomas. Some of these youths claim that their fathers were former successful clove entrepreneurs in their village, but went bankrupt due to limited facilities, sales access, and knowledge about clove farming. The farming methods and facilities used by the villagers are still very conventional and highly dependent on weather conditions, resulting in declining harvest yields and selling prices that no longer cover their expenses. Moreover, the farmers lack sufficient knowledge about clove plant care and how to optimize production from clove harvests. As a result, the young farmers have shifted to seeking work in the city, and their clove plantations in the village have been left neglected, as they are considered to have lost their value. This has become a problem because if they are no longer dependent on their natural resources, over time, the importance of clove farming may be forgotten. This project takes the clove plants in their village as the subject of empathy and aims to revitalize clove farming as the main source of income for the village. Therefore, they need a facility for learning and education about clove farming, as well as a processing facility to process their harvests without being too dependent on weather conditions. The proposed architectural solution in this case is a prototype, a building for educational and learning facilities dedicated to everything about clove farming, along with a processing facility. This prototype will be built in the location of the clove plantations owned by the villagers. The "fill in" method will be used, filling in empty areas without significantly cutting down existing clove trees, using locally available building materials from the village to minimize costs and, at the same time, aiming to increase the awareness of the village's youth regarding the richness of their local resources. Keywords: architecture; awareness; clove; empathy; education Abstrak Berangkat dari permasalahan sekelompok anak muda asal kampung Jambelaer, Sukabumi, yang mencari kerja di kota dan hanya berbekal ijazah SMP dan SMK, padahal beberapa anak mengaku ayahnya adalah bekas seorang pengusaha cengkeh yang dulu sukses dikampungnya, tetapi bangkrut karena keterbatasan fasilitas, akses jual dan pengetahuan tentang cengkeh. Metode dan fasilitas yang digunakan para petani kampung tersebut masih sangat konvensional dan sangat tergantung dengan cuaca, akibatnya hasil panen terus menurun dan harga jual sudah tidak menutupi modal mereka. Petani kampung tersebut juga tidak dibekali pengetahuan yang cukup tentang perawatan tanaman cengkeh dan bagaimana mengoptimalkan produksi dari hasil panen cengkeh. Karena hal itu maka para petani beralih mencari kerja ke kota dan kebun cengkeh di kampung mereka dibiarkan terlantar begitu saja karena dianggap sudah tidak memiliki value bagi mereka. Hal ini menjadi masalah karena jika mereka sudah tidak bergantung akan alamnya maka lama kelamaan cengkeh akan dilupakan. Proyek ini menjadikan tanaman cengkeh pada kampung mereka sebagai subjek empati dan mencoba mengangkat kembali tanaman cengkeh sebagai penghasilan utama kampung tersebut. Untuk itu, mereka membutuhkan sebuah fasilitas pembelajaran, pendidikan dan juga pengolahan cengkeh. Solusi arsitektural pada kasus ini merupakan prototype, sebuah bangunan fasilitas pendidikan dan pembelajaran segala hal tentang cengkeh, juga fasilitas pengolahan untuk memproses hasil panen mereka tanpa terlalu tergantung dengan keadaan cuaca. Prototype ini akan dibangun pada lokasi kebun cengkeh warga kampung Jambelaer. Dengan metode fill in, mengisi area kosong tanpa banyak menebang pohon cengkeh yang sudah ada dengan pemakaian material bangunan yang mudah ditemukan pada area kampung mereka untuk meminimalisir biaya dan juga bertujuan untuk meningkatkan kepedulian para pemuda kampung tersebut akan kekayaan sumberdaya kampung mereka.
PENYEMBUHAN DAN PERBAIKAN MORAL WANITA PENGHIBUR Jodi Adam; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24203

Abstract

Globalization has brought many significant changes and impacts to the world, both positive and negative. On the one hand, globalization has brought technological advances and information that enable access to faster and easier information and communication, as well as increasing international trade and foreign investments that can drive economic growth. On the other hand, globalization is also potentially exacerbating the social and economic disparity between strong and weak countries, as well as strengthening the influence of multinational forces and global organizations to make decisions that can affect human life. And free association is one of the effects of globalization itself. Promiscuity is a social phenomenon with such a variety of forms as murder, alcoholic beverages, smoking, brawling, and sexual promiscuity. Casual sex is one form of free association and the effects of casual sex: premature marriage, abortion, and HIV. HIV is a very lethal impact. The spread of HIV is free of the three factors: female entertainers, drug use, and poor dipper. Female entertainers are a form of sexual promiscuity. On the other hand, a lack of empathy for society leads to mental, psychological and biological problems for prostitutes. In this regard, empathy for female entertainers also plays a key role in promoting more inclusive and friendly social changes for individuals involved in tuna. In building empathy for female comforters, society needs to treat them with respect, tolerance, and understanding. Thus, it is hoped that a more inclusive and friendly social environment will be created for all individuals in society, through architecture. The project employs methods of juhani pallasmaa's theory "an architecture of seven sense" and "the eyes of the skin: architecture and sense" and through data collecting from BPS's internal media, e.book, surveys, interviews and semisters, and analysis of the needs of the surrounding communities. It is to be expected that empathy remains and remains until recently, with a design consistent with the characteristics of empathy. Keywords:  Free association, Sex workers, Rehabilitation Abstrak Globalisasi telah membawa banyak perubahan dan dampak signifikan bagi dunia, baik positif maupun negatif. Di satu sisi, globalisasi telah membawa kemajuan teknologi dan informasi yang memungkinkan akses informasi dan komunikasi yang lebih cepat dan mudah, serta meningkatkan perdagangan internasional dan investasi asing yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, globalisasi juga berpotensi memperburuk kesenjangan sosial dan ekonomi antara negara-negara yang kuat dan lemah, serta memperkuat pengaruh kekuatan multinasional dan organisasi global dalam mengambil keputusan yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia. Dan pergaulan bebas salah satu dampak dari globalisasi itu sendiri. Pergaulan bebas adalah fenomena sosial memiliki beragam bentuk seperti : pembunuhan, minuman berakohol, merokok, tawuran, dan sex bebas. Sex bebas salah satu bentuk pergaulan bebas dan dampak dari sex bebas adalah: pernikahan dini, aborsi, dan hiv. Hiv adalah dampak yang sangat mematikan. Penyebaran hiv di sebebkan dari tiga faktor yaitu : tuna Susila, penggunaan narkotika suntik, dan pendudduk miskin. Tuna Susila salah satu bentuk korban dari sex bebas. Di sisi lain kurangnya empati terhadap masyarakat sehingga menimbulkan masalah mental, psikologis dan biologis pada tuna Susila. Dalam hal ini, empati terhadap tuna susila juga berperan penting dalam mempromosikan perubahan sosial yang lebih inklusif dan ramah bagi individu yang terlibat dalam tuna susila. Dalam membangun empati terhadap tuna susila, masyarakat perlu memperlakukan mereka dengan penuh rasa hormat, toleransi, dan pengertian. Dengan begitu, diharapkan akan tercipta lingkungan sosial yang lebih inklusif dan ramah bagi semua individu dalam masyarakat, melalui arsitektur. Proyek ini menggunakan metode dari teori Juhani Pallasmaa “An architecture of seven sense” dan “The eyes of the skin: architecture and sense” dan melalui pengumpulan data dari BPS DKI Jakarta, jurnal ilmiah, e-book, survei, wawancara dan kuisioner, serta analisis kebutuhan masyarakat sekitar. Dengan ini diharapkan rasa empati tetap terasa dan terjaga sampai kapanpun, dengan desain sesuai dengan karakteristik empati.
FASILITAS BELAJAR WIRAUSAHA DAN KERAJINAN TANGAN UNTUK MANTAN PEGAWAI GERBANG TOL Jeremy Ariandi Setyolisdianto; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24204

Abstract

Starting from the phenomenon of factors related to unemployment, the author refers to the factor of digitalization. The author observes the rapid technological developments worldwide. The impact can lead to human workers in offices being replaced by advanced technology-operated robots. The author conducted interviews and concluded that former toll gate workers actually want to start their own businesses. However, they face obstacles such as a lack of understanding about entrepreneurship and insufficient skills for the business they want to start, which ultimately leads them to choose unemployment since they cannot return to work in the toll gate subsidiary. Seeing the increasing developments in architecture, the author sees an opportunity to try entrepreneurship in the furniture craft field. Toll gate operators who didn't get the chance to work as staff in Jasa Marga could receive training to develop the business they want to start and also try creating their products in the provided workshop. Plastic waste has potential as another material for home decor or furniture due to its termite-resistant nature. Former toll gate employees can easily start a craft business using plastic waste, from its collection to the processing until it becomes a product. Considering the current trend where many cafes or hangout places use simple and modern furniture, it aligns with the current building concepts. Keywords: architecture; emphaty; entrepreneur; jobless Abstrak Berangkat dari fenomena faktor yang mengacu ke pengangguran, penulis mengacu pada faktor digitalisasi. Penulis melihat sekarang ini perkembangan teknologi yang melaju sangat cepat di seluruh dunia. Dan dampaknya bisa menyebabkan tenaga manusia yang tadinya bekerja di kantoran, diganti dengan tenaga robot yang menggunakan teknologi canggih. Penulis melakukan metode wawancara dan menyimpulkan bahwa mantan pekerja gerbang tol sebenarnya ingin memulai merintis berwirausaha. Dikarenakan halangan seperti tidak paham mengenai wirausaha dan tidak ada cukup skill mereka di usaha yang akan di mulainya, maka mereka akhirnya memilih untuk menganggur. Karena tidak dapatnya kembali bekerja di anak perusahaan gerbang tol tersebut. Melihat perkembangan di pembangunan arsitektur lagi meningkat, saya melihat peluang untuk mencoba pada entreprenuer craft di bidang furniture. Dimana operator-operator gerbang tol yang tidak dapat kesempatan bekerja menjadi staf di Jasa Marga bisa mendapatkan pelatihan untuk bisa berkembang di usaha yang ingin mereka buat dan dapat juga mencoba membuat suatu produknya dalam workshop yang juga disediakan di dalamnya. Sampah plastik memiliki potensi sebagai bahan lainnya untuk home decor atau furniture. Dikarenakan bahan ini sifat anti rayap. Para mantan pegawai gerbang tol bisa memulai bisnis kerajinan berbahan sampah plastik dengan mudah. Dari mulai pengumpulan sampah plastiknya dan pengolahannya hingga jadi produknya. Dilihat trend sekarang ini banyak cafe atau tempat tempat hangout banyak menggunakan bahan perabotnya yang terlihat simpel dan modern, menyesuaikan dengan konsep bangunan sekarang ini.
PERANCANGAN BANGUNAN BAGI LANSIA PENSIUNAN BEREKONOMI RENDAH DI JAKARTA BARAT Brian Patrick; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24205

Abstract

Every human being will experience a phase of aging as well as us, from children to adults to old age is a natural process that humans experience. Elderly is a phase where humans are free from the responsibility to care for and provide for their children, whereas the elderly need care and assistance from their children and grandchildren. However, not all elderly people get the care and assistance they need and on the other hand, there are still elderly people who earn a living to meet their personal needs. There are still many elderly people who live with a low level of welfare, around 11.51% of the elderly population in Jakarta live in poverty according to BPS data in 2022. Elderly people who live within the poverty line usually find it difficult to meet their daily needs, which is caused several factors such as lack of income, and loss of income which causes a decrease in bodily functions which causes less productivity. There are also low-income elderly who receive social assistance from the government (KLJ), but can only reach the elderly who are physically and psychologically ill. Therefore, providing programs for the elderly to generate income is very important for the survival and well-being of the elderly. Empathize with creating jobs that suit the needs and abilities of the elderly and housing so that they can help the survival and welfare of the elderly, as well as commercial for the daily needs of the elderly. By applying the Healing Environment which is supported by natural, sensory, and psychological elements. Keywords:  elderly; empathy; housing; income; low econom; work Abstrak Setiap manusia akan mengalami fase penuaan begitu juga dengan kita, mulai dari anak menjadi dewasa hingga menjadi tua merupakan proses alamiah yang dialami manusia. Lansia merupakan fase dimana manusia telah bebas dari tanggung jawab untuk merawat dan menafkahi anak mereka, yang sebaliknya lansia butuh perawatan dan pendampingan dari anak maupun cucu mereka. Akan tetapi, tidak semua lansia dapat perawatan dan pendampingan yang dibutuhkan dan sebaliknya masih ada lansia yang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Masih banyak penduduk lansia yang hidup dengan tingkat kesejahteraan yang rendah, sekitar 11,51% penduduk lansia di Jakarta yang hidup dalam kemiskinan menurut data BPS pada tahun 2022. Lansia yang hidup dalam garis kemiskinan biasanya sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, yang disebabkan beberapa faktor seperti kurangnya pendapatan, dan kehilangan pendapatan yang menyebabkan terjadinya penurunan fungsi tubuh yang menyebabkan kurang produktif. Ada pula lansia berekonomi rendah yang mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah (KLJ), akan tetapi hanya dapat menjangkau lansia yang sakit secara fisik dan psikis. Oleh karena itu, Penyediaan program bagi lansia untuk menghasilkan pendapatan sangatlah penting untuk keberlangsungan hidup dan kesejahteraan lansia. Berempati dengan menciptakan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan lansia dan hunian agar dapat membantu keberlangsungan hidup dan kesejahteraan lansia, serta komersial untuk kebutuhan sehari dari lansia. Dengan mengaplikasikan Healing Environment yang didukung oleh unsur alam, indera, serta psikologis.
SARANA ASUHAN BAGI ANAK YATIM PIATU AKIBAT COVID-19 Felix Jonathan; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24206

Abstract

Entering the Covid 19 era, it is estimated that more than 40,000 children will lose their parents. This created a generation of orphans. The problem of orphans has become a significant issue. Without parents, cognitive, affective, and motor needs are not fulfilled. Children also lose the figure of fulfilling economic needs and also direction for their future. Thus a generation with a bad moral perspective is formed where individuals do things that cross legal boundaries such as stealing, killing, etc. These criminal acts are a form of escape from feelings of trauma that have not yet been healed. Through the Empathy Architecture approach, the empathetic approach focuses on the main users, namely orphans. Human Centered Design is a design approach that takes into account creative ideas that solve the problems of orphans. Target users are separated into 2 categories, namely elementary school children and junior high school students. Prior to that, research was conducted with efforts to focus on orphans on how the role of architecture can meet the cognitive, affective, and motor needs of orphans. Interviews with psychology lecturers were carried out in an effort to add insight into the differences in the behavior of children who have a sense of trauma at this young age. Thus, it is hoped that understanding will lead to the implementation of the designs needed in healing the trauma problems of orphans, as well as providing direction for the child's future. The design will be based on the application of the Stimulating Environment concept, which is the design of a stimulating environment which encourages users to carry out body interaction activities with each other. With this approach the development of 3 ideas namely a stimulating environment, a multi-sensory environment, and positive distractions is used as a reference for whether the orphanage is architecturally effective in influencing the psychological problems of orphans. Design will stimulate the human senses which include the senses of sight, hearing, smell, taste, and touch. Thus it is hoped that the research process can produce designs that can be a means of care, a means of healing, and prepare children for their future. Keywords:   Child’s needs; Orphans; Trauma Abstrak Memasuki masa covid 19, diperkirakan lebih dari 40.000 anak akan kehilangan orangtuanya. Hal tersebut menciptakan generasi anak yatim piatu. Permasalahan anak yatim piatu telah menjadi isu yang signifikan.Tanpa adanya sosok orang tua, kebutuhan kognitif, afektif, dan motorik tidaklah terpenuhi. Anak juga kehilangan sosok pemenuhan kebutuhan segi ekonomi dan juga arahan atas masa depannya. Demikian terbentuklah generasi dengan perspektif moral yang buruk yang dimana individu melakukan hal yang melewati batas hukum seperti mencuri, membunuh, dll.Tindakan krimininalitas tersebut merupakan bentuk pelarian akan perasaan trauma yang belum sembuh. Melewati pendekatan Emphaty Architecture, pendekatan empati berfokus pada pengguna utama yaitu anak yatim piatu.Human Centered Design adalah pendekatan desain dengan memperhatikan ide kreatif yang menyelesaikan permasalahan anak yatim piatu.Target pengguna dipisahkan menjadi 2 kategori yaitu anak SD dan anak SMP.Sebelum itu penelitian dilakukan dengan upaya berfokus pada anak yatim piatu akan bagaimana peran arsitektur dapat memenuhi kebutuhan kognitif, afektif, dan motorik anak yatim piatu.  Wawancara pada dosen psikologi dilakukan dengan upaya menambah wawasan akan perbedaan tingkah laku anak yang memiliki rasa trauma pada usia muda ini. Dengan demikian diharapkan mendapatkan pemahaman mengarah pada implementasi desain yang diperlukan dalam menyembuhkan permasalahan trauma anak yatim piatu, serta memberikan arahan akan masa depan anak. Perancangan akan berprinsip pada penerapan konsep Stimulating Environment yang dimana perancangan lingkungan yang merangsang yang dimana mendorong pengguna untuk melakukan kegiatan interaksi tubuh satu sama lain. Dengan pendekatan tersebut pengembangan 3 gagasan yaitu lingkungan yang merangsang, lingkungan multi-indera, dan gangguan positif digunakan sebagai acuan akan apakah panti asuhan tersebut secara arsitektur efektif dalam mempengaruhi masalah psikologis anak yatim piatu. Desain akan merangsang indera-indera manusia yang meliputi indera pengelihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan sentuhan. Dengan demikian diharapkan proses penelitian dapat menghasilkan perancangan yang dapat menjadi sarana asuhan, sarana penyembuhan, serta menyiapkan anak untuk masa depannya.
PUSAT KOMUNITAS BAGI LANSIA KALANGAN MENENGAH KEATAS Alvian Tan; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24207

Abstract

Currently, 500 million people worldwide with an average age of 60 are suffering from depression in old age. In the year of 2000, there were 22.3 million elderly people in Indonesia with a life expectancy of 65 to 75 years. By 2020, with a life expectancy of 70 to 75 years, it increased by 11.09 percent (more than 29.12 million) and is projected to reach 1.2 billion by 2025. This research aims to provide design ideas for the elderly to feel comfortable and content by accommodating their needs for a community center for the elderly. This study was conducted using qualitative descriptive research method and design method based on phenomena. Through this research, it can be concluded that the design of a community center with a healing environment concept can be an alternative that helps the elderly overcome depression by applying the principles of a healing environment, which include determining appropriate programs for the elderly, such as a functional senior park, walking garden, communal area, creativity space, doctor's consultation room, health clinic, and open area designed with the principles of a healing environment, including independence, consciousness, connectedness, purpose, physical activities, and restorative elements. By creating an environment of a community center for the elderly, a sense of togetherness is fostered through interactions among the elderly, preventing depression caused by loneliness, which impacts both physical and psychological health. Keywords: community centre; depression; elderly Abstrak Saat ini, 500 juta orang di seluruh dunia dengan usia rata-rata 60 tahun menderita depresi di usia tua. Pada tahun 2000, terdapat 22,3 juta lansia di Indonesia dengan harapan hidup 65 sampai 75 tahun. Pada tahun 2020, dengan angka harapan hidup 70-75 tahun, meningkat menjadi 11,09 persen (29,12 juta lebih) dan diperkirakan mencapai 1,2 miliar pada tahun 2025. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan ide perancangan untuk para lansia agar para lansia betah dan nyaman dengan mewadahi kebutuhan akan pusat komunitas para lansia. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif serta metode desain berdasarkan fenomena. Melalui penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perancangan pusat komunitas dengan konsep healing environment dapat menjadi alternatif yang mampu membantu lansia dalam mengatasi depresi dengan menerapkan prinsip prinsip healing environment yang mencakup penentuan program yang sesuai dengan lansia, di antaranya functional senior park, walking garden, area komunal, creativity space, ruang konsultasi dokter, health clinic, dan open area yang dirancang dengan prinsip-prinsip healing environment, meliputi independence, consciousness, connectedness, purpose, physical activities, dan restorative. Dengan menciptakan lingkungan pusat komunitas lansia, tercipta rasa kebersamaan melalui interaksi orang lanjut usia dengan sebayanya supaya bisa terhindar dari depresi karena kesepian yang berdampak pada kesehatan fisik maupun psikis.
RUANG TERAPI SENI BAGI PENYANDANG DISABILITAS TUNADAKSA Julio Anderson; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24208

Abstract

People with disabilities are often seen as class two in everyday life. They are often hampered from accessing public buildings due to inadequate accessibility of space and supporting facilities. They are also often discriminated against and negatively stigmatized because of their physical limitations, which in turn causes them to not get the same rights and life opportunities as other normal human beings. This ultimately causes stress and mental disorders in persons with disabilities, especially physical impairment. To overcome this, people with disabilities need to take medication or therapy to maintain and improve their mental health. One of many other therapy methods that can be done to overcome these problems is art therapy. Using art as a healing medium, it is hoped that it can reduce stress and become a place for people with disabilities to express and develop their abilities. The research method used is a descriptive qualitative method that begins with observing the phenomena of persons with disabilities such as their daily lives, conditions, and needs in-depth based on standards and space requirements. And then equipped with supporting theory and related precedent studies. This research will later produce a design parameter for disability-friendly art galleries, especially for the physically disabled with an art therapy program to address their mental health problems. Keywords:  accesibility; art therapy; physical impairment Abstrak Penyandang disabilitas sering kali dianggap sebagai masyarakat golongan dua dalam kehidupan sehari-hari. Mereka sering kali terhambat untuk mengakses bangunan-bangunan publik karena masalah aksesibilitas ruang dan fasilitas pendukung yang tidak memadai. Mereka juga sering kali mendapat diskriminasi dan stigma negatif karena keterbatasan fisik mereka, yang akhirnya menyebabkan mereka tidak mendapatkan hak dan kesempatan hidup yang sama seperti manusia normal lainnya. Hal ini akhirnya menyebabkan stress dan ganguan mental pada penyandang disabilitas, khususnya tunadaksa. Untuk mengatasi hal ini, penyandang disabilitas tunadaksa perlu melakukan pengobatan atau terapi untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan mental mereka. Salah satu bentuk terapi yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah terapi seni. Dengan menggunakan seni sebagai sarana penyembuhan, tujuannya adalah untuk mengurangi tingkat stres dan memberikan wadah bagi penyandang disabilitas tunadaksa untuk berekspresi dan mengembangkan potensi mereka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang dimulai dengan pengamatan menyeluruh terhadap fenomena penyandang disabilitas, termasuk kehidupan sehari-hari, kondisi mereka, dan kebutuhan yang mendalam. Penelitian ini didasarkan pada standar dan kebutuhan ruang gerak serta dilengkapi dengan teori pendukung dan studi sebelumnya yang relevan. Hasil penelitian ini akan menciptakan parameter desain untuk bangunan galeri seni yang ramah disabilitas, khususnya untuk penyandang tunadaksa, dengan program terapi seni untuk mengatasi masalah kesehatan mental mereka.
RUANG HUNIAN DAN KREATIF ANAK-ANAK YATIM PIATU Gavin Hanli Lim; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24209

Abstract

As of September 2021, the Ministry of Social Affairs received reports that the number of orphans had reached 28 thousand people which was caused by the main impact, namely Covid-19. The DKI Jakarta Provincial Government held a meeting and stated openly about the number of people who died of more than 13 thousand people and resulted in 9 thousand children in Jakarta becoming orphans or orphans. As orphans who are also affected by Covid-19, some have received assistance and have foster parents. But this does not mean that the problem has been solved. In terms of empathy with the suffering of orphans, emotional contagion will evoke an intense state within oneself, just as someone who is experiencing distress by softening the boundaries between himself and others. Modern empathetic architectural design focuses on design that engages the community. An understanding of how the built environment will have an impact on social change. Establish design with past and future societies in a close relationship. Orphans are included in the category of vulnerable children or children who need special protection (children in need of special protection). They are said to be neglected because their basic needs are not met spiritually, physically, or socially. The Covid-19 pandemic has had a huge impact on all sectors of life. The death toll from the corona virus is still falling to this day. Orphans often have stunted physical growth due to their inadequate nutritional needs. In addition to psychological barriers, orphans also experience emotional barriers. In healthy families, children will fear that their parents "disappear" in their lives. Orphans need a place where they can feel love and prosperity. This container adjusts to the daily life of orphans and ergonomics so that it can provide a sense of comfort and security with assurance. With containers and programs that are in accordance with activities, activities and needs, it is hoped that orphans can be free from feelings of loneliness, mental illness, depression and be replaced by a sense of family, live healthy and smart, and be wiser. Orphans need a place where they can feel love and prosperity. This container adjusts to the daily life of orphans and ergonomics so that it can provide a sense of comfort and security with assurance. With containers and programs that are in accordance with activities, activities and needs, it is hoped that orphans can be free from feelings of loneliness, mental illness, depression and be replaced by a sense of family, live healthy and smart, and be wiser. Keywords: empathy; empathy architecture; orphans; psychological Abstrak Hingga September 2021, Kementerian Sosial menerima laporan bahwa jumlah anak yatim piatu mencapai 28 ribu orang yang disebabkan oleh dampak utamanya yaitu Covid-19. Pemprov DKI Jakarta mengadakan rapat serta menyatakan secara terbuka tentang jumlah orang yang meninggal lebih dari 13 ribu jiwa dan mengakibatkan 9 ribu anak di Jakarta menjadi yatim atau yatim piatu. Sebagai anak yatim piatu yang juga terdampak covid-19 sebagian telah mendapatkan bantuan serta mempunyai orang tua asuh. Tetapi ini bukannya berarti bahwa persoalan telah selesai. Dalam empati kaitannya dengan kesusahan anak-anak yatim piatu, maka penularan emosi akan membangkitkan keadaan intens dalam diri seperti halnya seseorang yang mendapatkan kesusahan dengan cara memperlembut batasan antara dirinya dengan orang lain. Desain arsitektur empati modern memfokuskan pada desain yang melibatkan komunitas. Pemahaman bagaimana lingkungan bangunan akan memiliki dampak pada perubahan sosial. Menjalin desain dengan masyarakat masa lalu dan masa depan dalam suatu hubungan yang erat. Anak yatim piatu termasuk kategori anak rawan atau anak-anak yang membutuhkan perlindungan khusus (children in need of special protection). Mereka dikatakan terlantar karena tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya baik secara rohani, jasmani, maupun sosial. Pandemi Covid-19 telah berdampak sangat besar dalam seluruh sektor kehidupan. Korban jiwa akibat virus corona itu pun masih terus berjatuhan hingga saat ini. Anak yatim piatu sering terhambat pertumbuhan fisiknya karena kebutuhan gizi yang kurang. Selain hambatan psikologis, anak-anak yatim piatu juga mengalami hambatan emosional. Dalam keluarga yang sehat, anak-anak akan merasa takut apabila orang tua mereka "menghilang" dalam kehidupan mereka. Anak-anak yatim piatu membutuhkan sebuah wadah dimana dirinya dapat merasakan kasih sayang dan sejahtera. Wadah ini menyesuaikan dengan keseharian anak-anak yatim piatu dan ergonomi agar dapat memberikan rasa nyaman dan aman dengan terjamin. Dengan wadah serta program yang sesuai dengan kegiatan, aktivitas dan kebutuhan diharapkan anak-anak yatim piatu dapat bebas dari rasa kesepian, penyakit mental, depresi dan digantikan menjadi rasa kekeluargaan, hidup sehat dan pintar, dan lebih bijaksana.
PENERAPAN DINDING INTERAKTIF PADA SARANA EDUKASI BAGI KOMUNITAS ANAK JALANAN Sella Serina; Sutrisnowati Machdijar
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24210

Abstract

The number of street children continues to increase due to the tendency of children who are easily influenced to become street children due to their surroundings. Street children are in a vulnerable phase and are easily influenced by their environment to become street children, so some of them have to drop out of school because the majority prefer to help their parents make a living. This causes street children to grow up with educational values instilled from an early age so they have a lack of interest in learning. The educational needs of street children require learning methods that are appropriate to their behavior and activities. The majority of street children's activities are in the form of working to earn money, causing them to be less able to channel their hobbies and express themselves. Activities to channel their hobbies, talents and interests related to the arts and sports by forming a community. The research method used is in the form of a third place as a community builder and behavioral architecture to determine learning adapted to the nature, character and behavior of street children. The learning method is in the form of learning while playing with learning phases based on the level of focus of children's learning through interactive and adaptive learning media with interactive wall media. Types of interactive learning include academic in the form of learning to read, count, and color; non-academic in the form of arts and skills, and physical activities to train children's sensory and motor development. The application of interactive walls through the use of materials and spatial concepts that are flexible so that they can change functions according to needs and form concepts that describe the character of street children. Keywords:  Behaviour Architecture; Community; Education; Interactive Wall; Street Children Abstrak Jumlah anak jalanan terus meningkat akibat kecenderungan anak yang mudah terpengaruh menjadi anak jalanan akibat lingkungan sekitarnya. Anak jalanan berada di fase yang rentan dan mudah terpengaruh oleh lingkungannya untuk menjadi anak jalanan sehingga beberapa di antaranya harus putus sekolah karena mayoritas lebih memilih membantu orang tuanya mencari nafkah. Hal ini menyebabkan anak jalanan tumbuh dengan nilai pendidikan yang tertanam sejak dini sehingga memiliki kurangnya minat dalam belajar. Kebutuhan pendidikan anak jalanan ini membutuhkan metode pembelajaran yang sesuai dengan perilaku dan aktivitasnya. Mayoritas aktivitas anak jalanan berupa bekerja untuk mencari uang sehingga menyebabkan mereka kurang dapat menyalurkan hobi dan mengekspresikan diri mereka. Kegiatan untuk menyalurkan hobi, bakat, dan minatnya terkait bidang seni dan olahraga dengan suntuk membentuk komunitas. Metode penelitian yang digunakan berupa tempat ketiga sebagai pembentuk komunitas serta arsitektur perilaku untuk menentukan pembelajaran disesuaikan dengan sifat, karakter, serta perilaku anak jalanan. Metode pembelajaran berupa belajar sambil bermain dengan fase pembelajaran berdasarkan tingkat fokus belajar anak melalui sarana pembelajaran yang interaktif dan adaptif dengan media dinding interaktif. Jenis pembelajaran interaktif meliputi akademik berupa belajar membaca, berhitung, dan mewarnai; non akademik berupa seni dan keterampilan, dan aktivitas fisik untuk melatih perkembangan sensorik dan motorik anak. Penerapan dinding interaktif melalui penggunaan material  serta konsep ruang yang bersifat fleksibel sehingga dapat berubah fungsi sesuai kebutuhan serta konsep bentuk yang menggambarkan karakter anak jalanan.

Page 98 of 134 | Total Record : 1332