cover
Contact Name
M. Arifki Zaianro
Contact Email
m.arifkiz@yahoo.com
Phone
+6285366376666
Journal Mail Official
m.arifkiz@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Imam Bonjol Gang Sultan Anom Perumahan Sultan Anom Residence Blok D No 1
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
MAHESA : Malahayati Health Student Journal
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 2746198X     EISSN : 27463486     DOI : 10.3324
Core Subject : Health,
MAHESA : Malahayati Health Student Journal, dengan nomor ISSN 2746-198X (Cetak) dan ISSN 2746-3486 (Online) adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh DIII Keperawatan Universitas Malahayati Lampung. MAHESA : Malahayati Health Student Journal merupakan jurnal yang memiliki fokus utama pada hasil penelitian dan ilmu-ilmu di bidang kesehatan yang dikembangkan dengan pendekatan interdispliner dan multidisiplin. Proses penerimaan naskah selalu terbuka setiap waktu, naskah yang sudah disubmit oleh penulis akan direview oleh reviewer yang ahli dalam bidang keperawatan dan kesehatan. MAHESA : Malahayati Health Student Journal telah menggunakan Open Journal System dimana penulis, editor dan reviewer bisa memantau proses naskah secara online. Dalam satu tahun MAHESA : Malahayati Health Student Journal terbit sebanyak 4 kali yaitu pada bulan Maret, Juni, September, Desember.
Articles 1,781 Documents
Hubungan Antara Karakteristik Sosiodemografi dengan Kondisi Kesehatan Rumah di Desa Sukamulya Nida Nabilatuz Zahra; Laili Rahayuwati; Kosim Kosim; Iqbal Pramukti; Mamat Lukman
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 6 (2026): Volume 6 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i6.23116

Abstract

ABSTRACT Housing health conditions contribute to the improvement of health status. Unhealthy housing conditions can increase the risk of various health problems. Sociodemographic characteristics are among the factors influencing this. Identifying the relationship between sociodemographic characteristics and housing health condition is the primary purpose of this research. The study employs a quantitative strategy using a cross-sectional correlational design for analysis. The study population and sample consisted of households residing in rural areas, totaling 207 households. The Chi-Square statistical test and Spearman’s rank correlation were used for data analysis. The study found a significant relationship between sociodemographic characteristics and housing health conditions, specifically age (p= 0,001), education level (p= 0,000), occupation (p= 0,000), and income (p= 0,044). No significant association was observed with gender (p= 0,115). This could result from the majority of respondents being in the early adulthood age group, who typically have limited experience in maintaining housing health conditions. While the majority employed as agricultural or factory laborers may contribute to household economic limitations in maintaining housing health conditions. In addition, relatively low levels of education tend to hinder understanding and access to information related to housing health conditions. Most respondents also have low income, which may limit the availability of resources to achieve adequate housing health conditions. Meanwhile, the predominance of female respondents indicates greater concern for maintaining housing health conditions. The overall housing health conditions are generally good. Sociodemographic characteristics that show a significant relationship are age, education level, occupation, and income. However, continuous improvement efforts are still needed to support the improvement of public health. Keywords: Housing health, Rural areas, Sociodemographic.  ABSTRAK Kondisi kesehatan rumah berkontribusi terhadap peningkatan derajat kesehatan. Kondisi kesehatan rumah yang tidak memenuhi standar kesehatan dapat meningkatkan resiko gangguan kesehatan. Faktor yang mempengaruhinya adalah karakteristik sosiodemografi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara karakteristik sosiodemografi dengan kondisi kesehatan rumah. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan analitik kuantitatif korelasional cross-sectional. Populasi dan sampel penelitian ini adalah rumah tangga yang tinggal di rumah tersebut di wilayah pedesaan, berjumlah 207 rumah tangga. Data dianalisis melalui Uji Chi Square dan Rank-Spearman. Dari hasil penelitian, terdapat hubungan antara karakteristik sosiodemografi dengan kondisi kesehatan rumah, yaitu usia (p= 0,001), tingkat pendidikan (p= 0,000), pekerjaan (p= 0,000), dan pendapatan (p= 0,044). Akan tetapi, tidak ada hubungan dengan jenis kelamin (p= 0,115). Hal ini dimungkinkan karena mayoritas berada pada kelompok usia dewasa awal, yang umumnya memiliki pengalaman terbatas dalam menjaga kondisi kesehatan rumah, tingkat pendidikan yang rendah cenderung kurang mendukung pemahaman dan akses informasi terkait kondisi kesehatan rumah. Sebagian besar responden bekerja sebagai buruh tani/buruh pabrik yang dapat berkontribusi pada keterbatasan ekonomi rumah tangga dalam memenuhi kondisi kesehatan rumah. Mayoritas responden juga memiliki pendapatan rendah sehingga dapat membatasi sumber daya dalam mewujudkan kondisi kesehatan rumah. Sementara itu, jenis kelamin yang didominasi oleh perempuan menunjukkan lebih peduli dalam menjaga kondisi kesehatan rumah. Kondisi kesehatan rumah secara umum tergolong baik. Karakteristik sosiodemografi yang menunjukkan hubungan signifikan dengan kondisi kesehatan rumah adalah usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan. Meskipun demikian, upaya perbaikan berkelanjutan tetap diperlukan untuk mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Kata Kunci: Kesehatan Rumah, Pedesaan, Sosiodemografi.
Pengaruh Edukasi Kesehatan melalui Media Audio Visual Terhadap Tingkat Pengetahuan Orang Tua tentang Faktor Resiko Stunting Pada Batita di Wilayah Kecamatan Kedung Waringin Dhea Natasha Putri; Nafiza Dewi Pertiwi; Beatrix Elizabeth; Triseu Setianingsih
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 6 (2026): Volume 6 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i6.23469

Abstract

ABSTRACT Stunting is a condition that indicates failure of physical growth and brain development due to prolonged malnutrition. This study aims to determine the effect of health education delivered through audio-visual media on parental knowledge of stunting risk factors in toddlers in Kedung Waringin District. The method applied is quantitative with a pre-experimental one group pretest-posttest design. The study sample consisted of 63 parents who had children aged 1 to 3 years, taken using a saturated sample technique. Measurement of knowledge levels was carried out with a questionnaire before and after the intervention. The results showed that the average knowledge score increased from 46.0% to 71.4% after education. The Wilcoxon Signed-Rank test showed a p value 0.001, which indicated a significant increase in parental knowledge after participating in health education. The conclusion of this study is that health education through audio-visual media has proven effective in increasing parental knowledge of stunting risk factors. Keywords: Health Education, Audio Visual Media, Parental Knowledge, Stunting.  ABSTRAK Stunting merupakan suatu kondisi yang menunjukkan kegagalan pertumbuhan fisik dan perkembangan otak akibat kekurangan gizi yang berkepanjangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi kesehatan yang disampaikan melalui media audio visual terhadap pengetahuan orang tua mengenai faktor resiko stunting pada batita di Kecamatan Kedung Waringin. Metode yang diterapkan adalah kuantitatif dengan desain pre-eksperimental onegroup pretest-posttest. Sampel penelitian berjumlah 63 orang tua yang memiliki anak berusia 1 hingga 3 tahun, diambil menggunakan teknik sampel jenuh. Pengukuran tingkat pengetahuan dilakukan dengan kuesioner sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 46,0% menjadi 71,4% setelah edukasi. Uji Wilcoxon Signed-Rank menunjukkan nilai p 0,001, yang menandakan adanya peningkatan signifikan dalam pengetahuan orang tua setelah mengikuti edukasi kesehatan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa edukasi kesehatan melalui media audio visual terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan orang tua tentang faktor resiko stunting. Kata Kunci: Edukasi Kesehatan, Media Audio Visual, Pengetahuan Orang Tua, Stunting.
Studi Komparatif: Dukungan Keluarga dan Kepatuhan Minum Obat dengan Kualitas Hidup Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Waluya Cikarang Utara Diana Nur Azizah; Indrianada Zahra Nurrahma; Yulta Kadang; Ananda Patuh Padaallah
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 6 (2026): Volume 6 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i6.23376

Abstract

ABSTRAK Diabetes Mellitus menyebabkan masalah kecacatan fisik dan mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Kulaitas hidup pasien DM dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu dukungan keluarga, kepatuhan minum obat dan tingkat stres. Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) merupakan salah satu penyakit kronis yang jika tidak dikendalikan dengan baik dapat menimbulkan komplikasi serius dan berdampak pada kualitas hidup penderita. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan dukungan keluarga dan kepatuhan minum obat dengan kualitas hidup penderita DMT2 di Puskesmas Waluya Cikarang Utara. Desain penelitian ini menggunakan desain korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh pasien DM Tipe II di wilayah kerja Puskesmas Waluya Cikarang Utara sebanyak 56 orang, dengan jumlah sampel 49 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner HDFSS (dukungan keluarga), MARS-5 (kepatuhan minum obat), dan DQOL (kualitas hidup). Analisis data menggunakan uji statistik chi-square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup (p = 0,000; PR = 2,602; CI = 1,062–6,373) serta antara kepatuhan minum obat dengan kualitas hidup (p = 0,004; PR = 3,733; CI = 0,683–20,419). Pasien dengan dukungan keluarga rendah memiliki risiko 2,6 kali lebih besar mengalami kualitas hidup rendah dibandingkan pasien dengan dukungan keluarga tinggi, sedangkan pasien dengan tingkat kepatuhan rendah memiliki peluang 3,7 kali lebih besar mengalami kualitas hidup rendah dibandingkan pasien yang patuh. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi dukungan keluarga dan kepatuhan minum obat, semakin baik pula kualitas hidup penderita DMT2. Oleh karena itu, temuan penelitian ini dapat dijadikan dasar bagi tenaga kesehatan dalam mengembangkan intervensi berbasis keluarga untuk meningkatkan kualitas hidup pasien Diabetes Melitus Tipe 2 melalui peningkatan dukungan keluarga dan kepatuhan terhadap pengobatan. Kata Kunci: Diabetes Melitus Tipe 2, Dukungan Keluarga, Kepatuhan Minum Obat, Kualitas Hidup.   ABSTRACT Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is a chronic disease that affects the quality of life of sufferers, where family support and medication adherence play an important role for its improvement. This study aims to analyse the relationship between family support and medication adherence with the quality of life of patients with T2DM at Puskesmas Waluya Cikarang Utara. This study design uses a correlational design with a cross-sectional approach. The study population consisted of all Type II DM patients in the working area of the Waluya Cikarang Utara Community Health Centre, totalling 56 people, with a sample size of 49 respondents selected using purposive sampling. Data collection was conducted using the HDFSS (family support) questionnaire, MARS-5 (medication adherence), and DQOL (quality of life). Data analysis was performed using the chi-square statistical test with a significance level of 0.05. The results showed a significant relationship between family support and quality of life (p = 0.000; PR = 2.602; CI = 1.062–6.373) and between medication adherence and quality of life (p = 0.004; PR = 3.733; CI = 0.683–20.419). Patients with low family support had a 2.6 times greater risk of experiencing low quality of life compared to patients with high family support, while patients with low adherence had a 3.7 times greater chance of experiencing low quality of life compared to patients who were compliant. These results indicate that the higher the family support and medication adherence, the better the quality of life of DMT2 patients. Therefore, the findings of this study can be used as a basis for healthcare professionals in developing family-based interventions to improve the quality of life of Type 2 Diabetes patients through increased family support and adherence to treatment. Keywords: Type 2 Diabetes Mellitus, Family Support, Medication Adherence, Quality of Life. 
Analisis Penerimaan Diri dengan Kualitas Hidup Pasien Kanker Payudara yang telah Menjalani Mastektomi Titi Astuti; Aprina Aprina; Angelika Rabsanjani; Kodri Kodri
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 7 (2026): Volume 6 Nomor 7 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i7.26373

Abstract

ABSTRACT Breast cancer is one of the types of cancer with a high global prevalence. According to data from the Breast Cancer Research Foundation, in 2020, 2.3 million women worldwide were diagnosed with breast cancer, with 670,000 dying from this disease (Arnold, 2022)Breast cancer is the most common cancer among women and significantly impacts physical, psychological aspects, and the quality of life of patients. One of the efforts to combat breast cancer is mastectomy, which involves removing part or all of the infected breast tissue. This research aims to examine the relationship between self-acceptance and the quality of life of breast cancer patients who have undergone mastectomy at RSUD Jenderal Ahmad Yani Kota Metro in 2025.The research was conducted from April 21 to May 19 using a quantitative descriptive analytic design with a cross-sectional approach. A total of 51 respondents were selected through purposive sampling.The results of the study show a significant relationship between self-acceptance and the quality of life of breast cancer patients who have undergone mastectomy, with a p-value of 0.001 (p 0.05).This research provides in-depth information about the impact of self-acceptance on the quality of life of breast cancer patients through a psychological approach that supports their self-acceptance. Keywords: Breast Cancer, Mastectomy, Quality Of Life, Self-Acceptance.  ABSTRAK Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker dengan prevalensi tinggi secara global. Menurut data dari Breast Cancer Research Foundation, pada tahun 2020 terdapat 2,3 juta perempuan di seluruh dunia yang didiagnosis menderita kanker payudara, dengan 670 ribu di antaranya meninggal dunia akibat penyakit ini (Arnold, 2022). Kanker payudara merupakan jenis kanker yang paling banyak terjadi pada perempuan dan berdampak besar pada aspek fisik, psikologis, serta kualitas hidup pasien. Salah satu dampak pengobatan kanker payudara adalah tindakan mastektomi yang dapat memengaruhi penerimaan diri pasien.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penerimaan diri dan kualitas hidup pada pasien kanker payudara yang telah menjalani mastektomi di RSUD Jenderal Ahmad Yani Kota Metro tahun 2025. Penelitian ini lakukan pada tanggal 21 April-19 Mei 2025 dengan menggunakan menggunakan desain kuantitatif deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 51 responden, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan terdiri dari kuesioner penerimaan diri dan kuesioner kualitas hidup. Analisa data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara penerimaan diri dan kualitas hidup dengan nilai p-value sebesar 0,001 (lebih kecil dari 0,05). Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan kontribusi dalam Upaya meningkatkan kualitas hidup pasien kanker payudara yang telah menjalani  mastektomi melalui pendekatan psikologis yang mendukung penerimaan diri mereka. Kata kunci: Kanker Payudara, Kualitas Hidup, Mastektomi, Penerimaan Diri
Aktivitas Antimikroba Ekstrak Daun Tin (Fieus carica L.) terhadap Streptococcus mutans dan Porphyromonas gingivalis Rachmat Faisal Syamsu; Moch. Erwin Rachman; Siska Nuryanti; Muhammad Alief Akbar; Annisa Ancha
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 6 (2026): Volume 6 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i6.23538

Abstract

ABSTRACT This study aimed to determine the antimicrobial activity of ethanol extract of fig leaves (Ficus carica L.) against Streptococcus mutans and Porphyromonas gingivalis, the main bacteria causing oral infections. The study was conducted experimentally using the agar diffusion method with variations of dried (DK) and fresh (DS) fig leaf extracts at concentrations of 25%, 50%, 75%, and 100%. The observed parameter was the diameter of the bacterial inhibition zone formed around the paper disc. The results showed that increasing extract concentration correlated with greater antibacterial activity. The dried leaf extract exhibited stronger inhibition against S. mutans, with the largest inhibition zone of 13,2 mm at 100% concentration, while inhibition against P. gingivalis reached 12,5 mm at the same level. The fresh leaf extract also showed moderate activity, with an inhibition zone of 10,6 mm against S. mutans at 100% concentration. These findings indicate that ethanol extract of fig leaves has potential as a natural antimicrobial agent against oral pathogens, particularly S. mutans, with increasing effectiveness at higher concentrations. Keywords: Ficus Carica L., Ethanol Extract, Antimicrobial, Streptococcus Mutans, Porphyromonas Gingivalis  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antimikroba ekstrak etanol daun tin (Ficus carica L.) terhadap Streptococcus mutans dan Porphyromonas gingivalis sebagai penyebab utama infeksi mulut. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan metode difusi agar dengan variasi konsentrasi ekstrak daun tin kering dan daun tin segar yaitu 25%, 50%, 75%, dan 100%. Parameter yang diamati ialah diameter zona hambat pertumbuhan bakteri yang terbentuk di sekitar kertas cakram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi ekstrak sebanding dengan peningkatan aktivitas antibakteri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun kering memiliki aktivitas lebih kuat terhadap S. mutans dengan zona hambat terbesar 13,2 mm pada konsentrasi 100%, sedangkan terhadap P. gingivalis sebesar 12,5 mm pada konsentrasi yang sama. Ekstrak daun segar juga menunjukkan aktivitas sedang dengan zona hambat 10,6 mm terhadap S. mutans pada konsentrasi 100%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun tin memiliki potensi menjadi agen antimikroba alami terhadap bakteri penyebab infeksi mulut, terutama S. mutans, dan efektivitasnya meningkat dengan konsentrasi ekstrak yang lebih tinggi. Kata Kunci: Ficus Carica L., Ekstrak Etanol, Antimikroba, Streptococcus Mutans, Porphyromonas Gingivalis.
Hubungan Stunting Dengan Perkembangan Anak Usia Batita Ahsan Fillah El Faiz; Nadia Luthfi Rahman; Yulta Kadang; Beatrix Elizabeth
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 7 (2026): Volume 6 Nomor 7 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i7.23628

Abstract

ABSTRACT Stunting is a condition of growth retardation caused by chronic nutritional deficiencies over a prolonged period, resulting in a child’s height being lower than that of peers of the same age. This condition is considered a serious public health issue as it is associated with an increased risk of morbidity and mortality among children. This study aims to identify the relationship between stunting and child development, which includes aspects of gross motor skills, fine motor skills, language and speech abilities, social interaction, and independence among toddlers in the working area of Cikarang Utara Public Health Center, Bekasi Regency. The research employed a quantitative approach with a correlational design and a cross-sectional method. The study population consisted of 1,945 toddlers, with a sample of 96 children determined using the Slovin formula and selected through a non-probability purposive sampling technique. Data collection utilized the Developmental Pre-Screening Questionnaire (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan/KPSP), and data analysis was conducted using the Chi-Square test. The results showed a significant relationship between stunting and child development across several domains, namely gross motor skills (p=0.028; PR=1.483; CI=1.042–2.109; CC=0.240), fine motor skills (p=0.020; PR=1.580; CI=1.070–2.335; CC=0.251), language and speech (p=0.022; PR=1.435; CI=1.048–1.996; CC=0.248), as well as socialization and independence (p=0.044; PR=1.448; CI=1.015–2.066; CC=0.222). Based on these findings, it can be concluded that stunting has a significant correlation with child development across multiple domains, including motor, language, and socio-independence aspects. Keywords: Stunting, Toddler Development.  ABSTRAK Stunting merupakan suatu kondisi terhambatnya pertumbuhan yang disebabkan oleh defisiensi gizi kronis dalam jangka waktu panjang, yang berdampak pada tinggi badan anak yang lebih rendah dibandingkan dengan anak seusianya. Keadaan ini menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius karena berhubungan dengan peningkatan risiko morbiditas, mortalitas dan kematian pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara kejadian stunting dan perkembangan anak yang meliputi aspek motorik kasar, motorik halus, kemampuan berbahasa dan berbicara, interaksi sosial, serta kemandirian pada anak usia batita di wilayah kerja Puskesmas Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional dan metode potong lintang (cross-sectional). Populasi penelitian terdiri atas 1.945 anak batita, dengan jumlah sampel sebanyak 96 anak yang ditentukan menggunakan rumus Slovin serta diambil melalui teknik non-probability purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP), sedangkan analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara stunting dan perkembangan anak pada berbagai aspek, yakni motorik kasar (p=0,028; PR=1,483; CI=1,042–2,109; CC=0,240), motorik halus (p=0,020; PR=1,580; CI=1,070–2,335; CC=0,251), bahasa dan bicara (p=0,022; PR=1,435; CI=1,048–1,996; CC=0,248), serta sosialisasi dan kemandirian (p=0,044; PR=1,448; CI=1,015–2,066; CC=0,222). Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa kejadian stunting memiliki korelasi yang signifikan dengan perkembangan anak dalam berbagai domain, meliputi kemampuan motorik, bahasa, serta aspek sosial dan kemandirian. Kata Kunci: Stunting, Perkembangan Anak Usia Batita.
Tradisi Bapukung Suku Banjar Dalam Asuhan Keperawatan Anak: Kajian Etnografi Interpretatif dan Analisis Efektivitas Siklus Tidur Rapid Eye Movement (Rem) Pada Bayi Erliana Puteri; Abdus Salam; Uswatun Hasanah; Khalidah Khalidah; Herman Ariadi; M. Irfan Naufal; Dian Yuliazahra
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 6 (2026): Volume 6 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i6.24928

Abstract

ABSTRACT Sleep is a basic need for infants and plays a crucial role in the development of the nervous, cognitive, and emotional systems, particularly during the Rapid Eye Movement (REM) phase. Among the Banjar people in South Kalimantan, the Bapukung tradition is still practiced as a method of lulling infants to sleep, passed down through generations and believed to provide a sense of security and calm. This study aims to examine the Bapukung tradition in the context of childcare through an interpretive ethnographic approach and its effectiveness on infant sleep quality, particularly during the REM phase. The study employed a qualitative design using in-depth interviews and participant observation with ten informants: mothers who practice Bapukung, health workers, traditional leaders, and village officials in Kuin Village, Banjarmasin. Data analysis was conducted thematically using NVivo 12 software. The results indicate that the Bapukung tradition still exists and is interpreted as a form of affection, protection, and spiritual practice in infant care. Physiologically, Bapukung positively contributes to infant sleep quality by helping infants fall asleep faster, maintaining a stable sleep duration, and increasing the proportion of REM sleep, which plays a crucial role in brain development and emotional regulation. This study concludes that the Bapukung tradition has the potential to be developed as a safe, effective, and contextual non-pharmacological intervention based on local wisdom to support infant health and development. Keywords: Bapukung, Banjar Tribe, Infant Sleep, Rapid Eye Movement (REM) Sleep, Pediatric Nursing, Local Wisdom.  ABSTRAK Tidur merupakan kebutuhan dasar bayi yang berperan penting dalam perkembangan sistem saraf, kognitif, dan emosional, terutama pada fase Rapid Eye Movement (REM). Pada masyarakat Suku Banjar di Kalimantan Selatan, tradisi Bapukung masih dipraktekkan sebagai metode menidurkan bayi yang diwariskan secara turun-temurun dan diyakini memberikan rasa aman serta ketenangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tradisi Bapukung dalam konteks asuhan keperawatan anak melalui pendekatan etnografi interpretatif serta menganalisis efektivitasnya terhadap kualitas tidur bayi, khususnya fase REM. Penelitian menggunakan desain kualitatif dengan teknik wawancara mendalam dan observasi partisipatif terhadap sepuluh informan yang terdiri dari ibu pelaku Bapukung, tenaga kesehatan, tokoh adat, dan aparat desa di Desa Kuin, Banjarmasin. Analisis data dilakukan secara tematik dengan bantuan perangkat lunak NVivo 12. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Bapukung masih eksis dan dimaknai sebagai bentuk kasih sayang, perlindungan, serta praktik spiritual dalam pengasuhan bayi. Secara fisiologis, Bapukung berkontribusi positif terhadap kualitas tidur bayi dengan membantu bayi lebih cepat tertidur, mempertahankan durasi tidur yang stabil, serta meningkatkan proporsi fase REM yang berperan penting dalam perkembangan otak dan regulasi emosi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tradisi Bapukung berpotensi dikembangkan sebagai intervensi keperawatan non farmakologis berbasis kearifan lokal yang aman, efektif, dan kontekstual dalam mendukung kesehatan dan tumbuh kembang bayi. Kata Kunci: Bapukung, Suku Banjar, Tidur Bayi, Rapid Eye Movement (Rem), Keperawatan Anak, Kearifan Lokal.
Pengembangan Media Edukasi Video Animasi Sebagai Pendamping Ibu dan Kader Dalam Pemberian Makan Balita Sri Lestari Kartikawati; Intan Yusita; Ina Sugiharti
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 7 (2026): Volume 6 Nomor 7 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i7.23819

Abstract

ABSTRACT Nutrition during the First 1,000 Days of Life (DOHaD) is crucial for growth and development and is key to stunting prevention. However, field observations indicate that mothers and Posyandu cadres (community health workers) often face limited knowledge, educational media, and communication skills. The primary challenge is the low adherence to Complementary Feeding MP-ASI (guidelines regarding timely initiation, texture, portion size, food variety, and responsive feeding). This necessitates a concise, engaging, and easily reproducible educational approach. This study proposes the development of an animated video as a supplementary educational medium for mothers and a job-aid tool for cadres, utilizing a modified Research Development approach (Borg Gall). To create a media that is feasible, effective in increasing knowledge, and well-received by users. Methods: Included Focus Group Discussions (FGD) for needs analysis, script and storyboard design, production, expert validation, revision, and a limited pre-post-test trial involving mothers of toddlers (n=58) and cadres (n=21). Results: The media was rated as highly feasible (average 3.96/5); mothers knowledge significantly increased (61,07±15,65 → 68,39±12,18; p=0,0032; dz=0,40), and cadres' knowledge showed an greater improvement (57,88±16,43 → 71,97±11,41; p=0,0004; dz=0,92); cadre attitude was very positive (4.38/5). Discussion findings confirm that the video facilitates understanding and standardizes key messages, thereby having the potential to improve MP-ASI practices in the community. The animated video is feasible, effective, and acceptable. Recommended for integration into Posyandu Standard Operating Procedures (SOP) through short viewing/booster sessions and a one-page job-aid. Scientific article (target Sinta 1–4 journal), ready-to-use animated video product, concise job-aid sheet, and potential for Intellectual Property Rights (IPR)/cadre training module. Keywords: Animated Video, Toddler Mother’s, Cadres, Development.  ABSTRAK Pemberian makan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menentukan tumbuh kembang dan pencegahan stunting, di lapangan ibu dan kader posyandu masih menghadapi keterbatasan pengetahuan, media edukasi, serta keterampilan komunikasi. Permasalahan utama adalah rendahnya kesesuaian praktik MP-ASI (waktu mulai, tekstur, porsi, variasi, responsivitas) dengan pedoman, sehingga diperlukan pendekatan edukasi yang ringkas, menarik, dan mudah diulang. Penelitian ini mengusulkan pengembangan video animasi sebagai media pendamping ibu dan alat bantu kader, dengan pendekatan Research Development (Borg Gall, dimodifikasi). Tujuan: menghasilkan media yang layak dan efektif meningkatkan pengetahuan serta diterima pengguna. Metode meliputi FGD untuk analisis kebutuhan, perancangan naskah–storyboard, produksi, validasi ahli, revisi, dan uji terbatas pra–pasca pada ibu balita (n=58) dan kader (n=21). Hasil menunjukkan media dinilai sangat layak (rerata 3,96/5); pengetahuan ibu meningkat (61,07±15,65 →68,39±12,18; p=0,0032; dz=0,40) dan kader meningkat lebih besar (57,88±16,43 → 71,97±11,41; p=0,0004; dz=0,92); sikap kader sangat positif (4,38/5). Pembahasan menegaskan video memfasilitasi pemahaman dan menyeragamkan pesan kunci, sehingga berpotensi memperbaiki praktik MP-ASI di komunitas. video animasi layak, efektif, dan diterima; disarankan integrasi dalam SOP posyandu melalui pemutaran singkat/booster dan job-aid satu halaman. Realisasi output: artikel ilmiah (target jurnal Sinta 1–4), produk video animasi siap pakai, lembar bantu ringkas, dan potensi HKI/modul pelatihan kader. Kata Kunci: Video Animasi, Ibu Balita, Kader,  Pengembangan.
Efektivitas Senam Anemiaction Terhadap Peningkatan Kadar Hemoglobin pada Remaja Putri Meda Yuliani; Tika Lubis; Lia Novita
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 7 (2026): Volume 6 Nomor 7 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i7.23951

Abstract

ABSTRACT Anemia remains a significant global public health issue affecting adolescent girls and contributing to reduced physical endurance, lowered cognitive focus, and long‑term reproductive risks. This study aims to evaluate the effectiveness of Anemiaction exercise as a low‑intensity aerobic activity designed to stimulate erythropoietin and improve hemoglobin levels. Using a one‑group pretest–posttest design involving 30 adolescent girls, hemoglobin levels were measured before and after four weeks of exercise performed three times weekly. Results showed an increase from 11.2 g/dL to 12.1 g/dL, indicating significant improvement. Anemiaction exercise can serve as an effective, non‑pharmacological school‑based intervention for anemia prevention. Keywords: Hemoglobin, Anemiaction Exercise, Anemia, Adolescent Girls.  ABSTRAK Anemia merupakan masalah kesehatan global yang banyak dialami remaja putri dan berdampak pada penurunan konsentrasi belajar, daya tahan tubuh, serta risiko kesehatan reproduksi jangka panjang. Penelitian ini bertujuan menilai efektivitas senam Anemiaction sebagai aktivitas aerobik intensitas ringan yang dapat merangsang eritropoietin dan meningkatkan kadar hemoglobin. Desain penelitian menggunakan one‑group pretest–posttest dengan 30 remaja putri. Kadar hemoglobin diukur sebelum dan sesudah intervensi selama empat minggu. Hasil menunjukkan peningkatan dari 11,2 g/dL menjadi 12,1 g/dL. Senam Anemiaction efektif sebagai intervensi non‑farmakologis untuk pencegahan anemia berbasis sekolah Kata Kunci: Hemoglobin, Senam Anemiaction, Anemia, Remaja Putri.
Hubungan Derajat Cedera Kepala dengan Kadar Gfap pada Pasien Cedera Kepala di RSUP Dr. M. Djamil Padang Rika Susanti; Raisya Ivana; Rizki Rahmadian
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 6 (2026): Volume 6 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i6.25486

Abstract

ABSTRACT Traumatic Brain Injury (TBI) is a condition resulting from external mechanical forces that impair brain function and remains a leading cause of high morbidity and mortality rates. The Glasgow Coma Scale (GCS) is commonly employed to determine the severity of TBI. However, GCS does not always reflect the actual extent of brain tissue damage, as it can be influenced by various confounding factors. Consequently, biomarkers such as Glial Fibrillary Acidic Protein (GFAP) are being investigated to assess the severity of brain injury. This study aims to determine the correlation between the severity of head injury and GFAP levels in patients at RSUP Dr. M. Djamil Padang. This research is an analytic observational study with a cross-sectional approach. A total of 95 patients who met the inclusion and exclusion criteria were selected using a consecutive sampling method. Data analysis using the Spearman correlation test revealed that the majority of patients sustained mild head injuries (65.3%), followed by moderate (21.1%) and severe injuries (13.7%). The median GFAP level was 2.251 ng/mL (range 0.050–16.412 ng/mL). The results indicated that there was no significant correlation between head injury severity based on GCS and GFAP levels (r = -0.088; p = 0.396). This outcome may be influenced by variations in injury characteristics, the timing of sample collection, and the distribution of injury severity across the sample. Keywords: Head Injury Severity, GCS Score, GFAP.  ABSTRAK Cedera kepala adalah kondisi yang terjadi akibat adanya gaya mekanik eksternal yang mengganggu fungsi otak serta menjadi salah satu penyebab tingginya angka morbiditas dan mortalitas. Penentuan tingkat keparahan derajat cedera kepala umumnya menggunakan skor Glasgow Coma Scale (GCS). Akan tetapi, GCS tidak selalu merepresentasikan derajat kerusakan jaringan otak yang sebenarnya karena dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Oleh karena itu, biomarker, seperti Glial Fibrillary Acidic Protein (GFAP) mulai diteliti untuk menilai keparahan derajat cedera kepala. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara derajat cedera kepala dengan kadar GFAP pada pasien cedera kepala di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 95 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dan dipilih menggunakan metode consecutive sampling. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa mayoritas pasien mengalami cedera kepala ringan (65,3%), diikuti sedang (21,1%) dan berat (13,7%). Median kadar GFAP adalah 2,251 ng/mL (rentang 0,050–16,412 ng/mL). Hasil uji menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara derajat cedera kepala berdasarkan GCS dengan kadar GFAP (r = -0,088; p = 0,396). Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh variasi karakteristik cedera, waktu pengambilan sampel, serta distribusi derajat cedera kepala. Kata Kunci: Derajat Cedera Kepala, Skor GCS, GFAP.

Filter by Year

2021 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 6, No 9 (2026): Volume 6 Nomor 9 (2026) Vol 6, No 8 (2026): Volume 6 Nomor 8 (2026) Vol 6, No 7 (2026): Volume 6 Nomor 7 (2026) Vol 6, No 6 (2026): Volume 6 Nomor 6 (2026) Vol 6, No 5 (2026): Volume 6 Nomor 5 (2026) Vol 6, No 4 (2026): Volume 6 Nomor 4 (2026) Vol 6, No 3 (2026): Volume 6 Nomor 3 (2026) Vol 6, No 2 (2026): Volume 6 Nomor 2 (2026) Vol 6, No 1 (2026): Volume 6 Nomor 1 (2026) Vol 5, No 12 (2025): Volume 5 Nomor 12 (2025) Vol 5, No 11 (2025): Volume 5 Nomor 11 (2025) Vol 5, No 10 (2025): Volume 5 Nomor 10 (2025) Vol 5, No 9 (2025): Volume 5 Nomor 9 (2025) Vol 5, No 8 (2025): Volume 5 Nomor 8 (2025) Vol 5, No 7 (2025): Volume 5 Nomor 7 (2025) Vol 5, No 6 (2025): Volume 5 Nomor 6 (2025) Vol 5, No 5 (2025): Volume 5 Nomor 5 (2025) Vol 5, No 4 (2025): Volume 5 Nomor 4 (2025) Vol 5, No 3 (2025): Volume 5 Nomor 3 (2025) Vol 5, No 2 (2025): Volume 5 Nomor 2 (2025) Vol 5, No 1 (2025): Volume 5 Nomor 1 (2025) Vol 4, No 12 (2024): Volume 4 Nomor 12 (2024) Vol 4, No 11 (2024): Volume 4 Nomor 11 (2024) Vol 4, No 10 (2024): Volume 4 Nomor 10 (2024) Vol 4, No 9 (2024): Volume 4 Nomor 9 (2024) Vol 4, No 8 (2024): Volume 4 Nomor 8 (2024) Vol 4, No 7 (2024): Volume 4 Nomor 7 (2024) Vol 4, No 6 (2024): Volume 4 Nomor 6 (2024) Vol 4, No 5 (2024): Volume 4 Nomor 5 (2024) Vol 4, No 4 (2024): Volume 4 Nomor 4 (2024) Vol 4, No 3 (2024): Volume 4 Nomor 3 (2024) Vol 4, No 2 (2024): Volume 4 Nomor 2 (2024) Vol 4, No 1 (2024): Volume 4 Nomor 1 (2024) Vol 3, No 12 (2023): Volume 3 Nomor 12 (2023) Vol 3, No 11 (2023): Volume 3 Nomor 11 (2023) Vol 3, No 10 (2023): Volume 3 Nomor 10 (2023) Vol 3, No 9 (2023): Volume 3 Nomor 9 (2023) Vol 3, No 8 (2023): Volume 3 Nomor 8 (2023) Vol 3, No 7 (2023): Volume 3 Nomor 7 (2023) Vol 3, No 6 (2023): Volume 3 Nomor 6 (2023) Vol 3, No 5 (2023): Volume 3 Nomor 5 (2023) Vol 3, No 4 (2023): Volume 3 Nomor 4 (2023) Vol 3, No 3 (2023): Volume 3 Nomor 3 (2023) Vol 3, No 2 (2023): Volume 3 Nomor 2 (2023) Vol 3, No 1 (2023): Volume 3 Nomor 1 (2023) Vol 2, No 4 (2022): Volume 2 Nomor 4 (2022) Vol 2, No 3 (2022): Volume 2 Nomor 3 (2022) Vol 2, No 2 (2022): Volume 2 Nomor 2 (2022) Vol 2, No 1 (2022): Volume 2 Nomor 1 (2022) Volume 1 Nomor 4 Desember 2021 Volume 1 Nomor 3 September 2021 Volume 1 Nomor 2 Juni 2021 Volume 1 Nomor 1 Maret 2021 More Issue