cover
Contact Name
Brury Eko Saputra
Contact Email
brury@sttaletheia.ac.id
Phone
+62341-426617
Journal Mail Official
brury@sttaletheia.ac.id
Editorial Address
Jl. Argopuro No.28-34, Lawang, Kec. Lawang, Malang, Jawa Timur 65211
Location
Kab. malang,
Jawa timur
INDONESIA
Sola Gratia: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
ISSN : 27232786     EISSN : 27232794     DOI : https://doi.org/10.47596/sg.v1i2
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi di bidang Teologi Biblika dan Praktika. Focus dan Scope penelitian SOLA GRATIA adalah: 1. Teologi Biblikal 2. Teologi Pastoral 3. Teologi Kontemporer
Articles 161 Documents
MERESPONI “NEW PERSPECTIVE ON PAUL" STEFANUS KRISTIANTO
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 1, No 1 (2013): Maret 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v1i1.23

Abstract

Sumbangsih gerakan reformasi ternyata tidak hanya mencakup area doktrinal namun juga pembacaan hermeneutis terhadap surat-surat Paulus, khususnya Surat Roma. Cara membaca mereka telah menjadi cara membaca mayoritas orang Kristen sejak jaman mereka. Namun, sejak abad lalu cara membaca yang diwariskan reformator ini mulai digugat keabsahannya. Dimulai dari Krister Stendahl, kritik ini mencapai kulminasinya pada mazhab new perspective yang dimotori oleh orangorang seperti Ed Parish Sanders, James Dunn dan, di kalangan Injili, Nicholas Wright. Tulisan ini akan mencoba menguraikan sejarah dan konsep mendasar dari mazhab new perspective, serta menunjukkan kepada pembaca bahwa meskipun dalam beberapa hal mereka memberikan sumbangsih positif dan kritik konstruktif bagi studi Paulinisme, namun dalam banyak hal, para reformator tetap lebih baik dalam memahami tulisan Paulus.
KAJIAN TEOLOGIS TERHADAP AJARAN PREDESTINASI Adi Putra
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v1i2.128

Abstract

This research was conducted to provide theological clarification on the teachings of Predestination. Where not all churches believe this teaching. In this study, researchers used a qualitative method using theological studies based on each theological literature to understand the experts' arguments about the teachings of predestination. After going through a careful study and paying close attention to the biblical witness regarding this teaching, the researcher concludes that the doctrine of predestination is a biblical teaching. In addition, this teaching also places sovereignty and determination in the most decisive place in the context of salvation. Conversely, human will is limited to responding only. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan klarifikasi teologis terhadap ajaran Predestinasi. Di mana tidak semua gereja mempercayai ajaran ini. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan kajian teologis yang didasarkan pada setiap literatur teologi untuk memahami argumentasi para ahli tentang ajaran predestinasi. Setelah melalui sebuah kajian yang teliti dan memperhatikan dengan seksama kesaksian Alkitab tentang ajaran ini, maka peneliti menyimpulkan bahwa ajaran predestinasi merupakan ajaran yang alkitabiah. Selain itu, ajaran ini juga menempatkan kedaulatan dan ketetapan pada tempat yang paling menentukan dalam konteks keselamatan. Sebaliknya, kehendak manusia hanya sebatas merespons saja. 
RESENSI BUKU : BECOMING A HEALTHY CHURCH, 10 CIRI PELAYANAN YANG VITAL SIA KOK SIN
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 1 (2017): MARET 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v5i1.57

Abstract

Buku ini adalah tentang pertumbuhan gereja yang membahas tentang menjadi gereja yang sehat dan bertumbuh. Stephen A. Macchia mengungkapkan 10 ciri pelayanan yang vital untuk menjadi gereja yang sehat, yaitu:  1. Hadirat Tuhan yang memberdayakan2. Penyembahan yang meninggikan Tuhan3. Disiplin rohani4. Belajar dan bertumbuh dalam komunitas5. Komitmen untuk hubungan yang penuh kasih6. Pengembangan kepemimpinan-hamba7. Fokus ke luar8. Administrasi dan akuntabilitas yang bijaksana9. Pembentukan jaringan dengan tubuh Kristus10. Kepengurusan dan kemurahan hati  Dalam membahas karakteristik pertama tentang “hadirat Tuhan yang memberdayakan”, Macchia mengingatkan pentingnya bagi gereja yang mengalami kebutuhan untuk bergantung kepada Roh Kudus dalam kehidupan dan pelayanannya. Kebergantungan pada Roh Kudus akan menolong gereja untuk dapat menampakkan buah Roh dan menggunakan karunia Roh dalam kehidupan dan pelayanannya (halaman 15-34).
SIAPA YANG BENAR? “TAFSIR MISIONAL ATAS IMAMAT 19:15 UNTUK MENCARI TITIK TEMU MASALAH BURUH MIGRAN INDONESIA YANG DICAP ILEGAL DI MALAYSIA” Alvian Apriano
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 2, No 1 (2021): SOLA GRATIA
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v2i1.149

Abstract

The pattern of illegal migration that is chosen by some immigrants in Malaysia brings new issues in Indonesia. Such immigrants are considered illegal immigrants or PATI (foreigners without permission) by the Malaysian authority, so their existential rights as a human are being defended. Christian faith recognizes the logic of love in mission, and the measure of the logic of love is the centrifugal act of love. In this case, the PATI who becomes depressed is the center of the act of love. However, the Christian faith also recognizes the text of Leviticus 19:15, which emphasizes justice by acting accordingly. If it is connected with the text, the proper action is that the PATI’s existential rights do not need to be defended because they are “irregular immigrants.” Therefore, by rereading the text of Leviticus 19:15 and tracing it with the perspective of the logic of love in mission and Christian ethics, we can see this issue as indispensable. Pola migrasi ilegal yang dipilih oleh beberapa imigran di Malaysia menjadi persoalan rumit yang berkembang di Indonesia. Bahkan, para imigran yang demikian dianggap pendatang haram atau PATI (Pendatang Asing Tanpa Izin) oleh pihak Malaysia, sehingga dalam dasar itu, hak eksistensial mereka mulai dibela. Iman Kristen mengenal logika kasih dalam bermisi dan tolok ukur logika kasih tersebut ialah tindakan kasih yang sentrifugal, sehingga dalam hal ini para PATI yang menjadi tertekan itu merupakan pusat tindakan kasih. Akan tetapi, iman Kristen juga mengenal teks Imamat 19:15 yang menekankan keadilan dengan tindakan yang sewajarnya. Jika dihubungkan dengan teks tersebut, maka tindakan yang sewajarnya ialah hak eksistensial para PATI tidak perlu dibela, karena mereka imigran yang tidak wajar (tanpa izin). Oleh karena itu, membaca ulang teks Imamat 19:15 dan menelusurinya dengan perspektif logika kasih dalam bermisi dan etika Kristiani memandang persoalan itu sangat diperlukan.
ESKATOLOGI ERA REFORMASI INDONESIA: PEMBACAAN POSKOLONIAL TERHADAP WAHYU 21-22:5 DALAM MEMIKIRKAN ESKATOLOGI DARI INDONESIA Christo Antusias Davarto Siahaan
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 2, No 1 (2021): SOLA GRATIA
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v2i1.166

Abstract

Eschatology is an essential concept in New Testament studies with great complexity, debate, and significance. However, the studies are dominated by western context and traditions. Applying the Postcolonial Criticism method of scripture on the text of Revelation 21-22 and Indonesian reformation context, this article shows that it is possible to construct an Indonesian Eschatology that stresses the people’s hope. In conclusion, this article highlights that God will resolve any oppressions and corruptions in Indonesia, making the country prosper. Eskatologi adalah sebuah konsep yang sangat penting dalam studi Perjanjian Baru dengan kompleksitas, perdebatan dan signifikansi yang besar.  Namun demikian, studi eskatologi lebih banyak didominasi oleh konteks dan tradisi Barat. Dengan menerapkan metode Kritik Poskolonial terhadap Wahyu 21-22:5 dalam konteks reformasi di Indonesia, artikel ini menunjukkan bahwa mungkin untuk membentuk eskatologi khas Indonesia yang menekankan pengharapan umat Indonesia. Di bagian kesimpulan, artikel ini menggarisbawahi bahwa Allah akan membebaskan Indonesia dari penindasan dan korupsi, serta membuat bangsa ini hidup dalam kesejahteraan.
MENIMBANG REGULASI SKB 2 MENTERI DALAM TERANG SEJARAH GEREJA Deky Nofa Aliyanto
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 2, No 1 (2021): SOLA GRATIA
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v2i1.114

Abstract

SKB 2 Menteri concerning the Establishment of House of Worship is stipulated on March 21, 2006, by the Minister of Religion and Minister of Home Affairs. Since its establishment, there are some churches affected by the regulations. This study attempts to construct the church's current attitude towards this reality based on church history in 30-500 AD. This study uses a qualitative approach with interactive analysis, namely data collection, data presentation, and data reduction, to draw a conclusion. The results of the study include: based on history, the church today must view the Joint Ministerial Decree on the Establishment of Houses of Worship as regulations aimed at maintaining tolerance among religious communities in Indonesia. However, it was found that this regulation was used by people or persons who were not responsible for suppressing the existence of some churches in Indonesia. Reflecting on history, today's church should make the challenge a stepping stone to experience the quality of faith growth in the congregation. The church also has the right to struggle through legal channels as stipulated in the law. Whatever the outcome, the church must guard against being involved in anarchic actions. SKB 2 Menteri Tentang Pendirian Rumah Ibadah ditetapkan pada tanggal 21 Maret 2006 oleh Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri. Sejak ditetapkan, terdapat sebagian gereja yang terdampak regulasi peraturan itu. Penelitian ini berupaya membangun sikap gereja masa kini terhadap realitas ini berdasarkan sejarah gereja tahun 30-500 M. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisa interaktif yaitu penggumpulan data, penyajian data, reduksi data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian mencakup: berdasarkan sejarah, gereja masa kini harus memandang SKB 2 Menteri Tentang Pendirian Rumah Ibadah sebagai peraturan yang bertujuan menjaga toleransi antar umat beragama di Indonesia. Kendatipun demikian, ditemukan bahwa peraturan ini dimanfaatkan oleh orang-orang atau oknum yang tidak bertanggung jawab untuk menekan eksistensi sebagian gereja di Indonesia. Berkaca dari sejarah, hendaknya gereja masa kini menjadikan tantangan tersebut sebagai batu loncatan untuk mengalami kualitas pertumbuhan iman jemaat. Meskipun demikian, gereja juga memiliki hak untuk berjuang melalui jalur hukum sebagaimana telah diatur dalam undang-undang. Apapun hasilnya gereja harus menjaga diri supaya tidak terlibat aksi anarkis.
AKTUALISASI PEMAKNAAN NARASI ALLAH SEBAGAI GEMBALA BAGI ORANG PERCAYA MASA KINI DARI TITIK TOLAK TEOLOGI PENTAKOSTA Kosma Manurung
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 2, No 1 (2021): SOLA GRATIA
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v2i1.137

Abstract

According to Psalm 23, to King David, God was the shepherd. In the New Testament, the Lord Jesus Himself stated that He was the good shepherd. Another story that the Bible writes about is how God shepherded the Israelites out of Egypt to the Promised Land for forty years. This research article aims to elaborate on the Pentecostal theological view of the meaning of God as a shepherd. The methodology used in this research is text analysis and literature review. Based on the research results of this article, God as a shepherd is interpreted as God’s leadership in the life of the believer, where God leads the believer to enter into His perfect plan. God as shepherd also means that there is God’s real protection and care for believers. God shepherds believers because it is motivated by His love for believers who will not bear to let believers walk alone. Menurut Mazmur 23, bagi raja Daud, Tuhan itu adalah gembalanya. Di Perjanjian Baru Tuhan Yesus sendiri menyatakan bahwa Dia adalah gembala yang baik. Cerita lainnya yang Alkitab tulis adalah bagaimana selama empat puluh tahun Allah menggembalakan bangsa Israel keluar dari Mesir menuju tanah Perjanjian. Penelitian artikel ini bertujuan menjabarkan pandangan teologi Pentakosta memaknai Allah sebagai gembala. Adapun metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis teks dan kajian literatur. Berdasarkan hasil penelitian artikel ini Allah sebagai gembala dimaknai berupa pimpinan Allah dalam kehidupan orang percaya dimana Allah memimpin orang percaya untuk masuk dalam rencana-Nya yang sempurna. Allah sebagai gembala juga berarti ada perlindungan dan pemeliharaan Allah yang nyata bagi orang percaya. Allah menggembalakan orang percaya karena didorong oleh cinta kasih-Nya pada orang percaya yang tidak akan tega membiarkan orang percaya berjalan sendiri. 
STUDI EKSPLANATORI DAN KONFIRMATORI TENTANG PENYEMBAH YANG BENAR BERDASARKAN YOHANES 4:1-26 DI KALANGAN JEMAAT ARAS GEREJA NASIONAL SE-KOTA JEMBER Yudi Handoko; Ana Lestari Uriptiningsih
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 2, No 1 (2021): SOLA GRATIA
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v2i1.147

Abstract

By and large, human beings are worshiping creatures (homo adorance). Hence, there is a need for human beings to worship an entity greater and more prominent than themselves. The need is more apparent in religious communities. Religious persons identify such an entity as GOD/ALLAH. However, in its development, practices of worship are no longer centered on GOD/ALLAH. For example, the essence of worship does not conform to the will of God as written in John 4:1-26. This study will analyze the implementation of true worship according to John 4:1-26 in mainstream churches in Jember. It will use explanatory and confirmatory survey methods, which combine the literature survey and interpretation of 150 samples. The result highly suggests that the mainstream churches in Jember have been implementing the worship in spirit and truth. Out of two dimensions implied by John 4:1-26, the most effective one is worship in spirit. In addition, the most significant category influencing true worship is service. Secara umum, manusia adalah makhluk penyembah (homo adorance).  Dalam diri manusia secara universal terdapat kebutuhan untuk menyembah sesuatu yang diyakini lebih besar dan tinggi dari dirinya.  Kebutuhan ini semakin nyata dalam diri umat beragama.  Manusia beragama menyebut sosok atau oknum yang lebih besar dan tinggi dari dirinya sebagai TUHAN/ALLAH. Dalam perkembanganya, penyembahan melenceng dan tidak lagi berpusat pada TUHAN/ALLAH. Hakikat ibadah pun tidak lagi sesuai dengan yang dikehendaki Allah dalam Yohanes 4:1-26. Studi ini akan meneliti implementasi penyembahan yang benar berdasarkan Yoh. 4:1-26 di Aras Gereja Nasional se-kota Jember. Penelitian ini akan menggunakan metode survei eksplanatori dan konfirmatori melalui studi kepustakaan sebagai landasan teori dan angket pernyataan terhadap 150 sampel dari kalangan jemaat Aras Gereja Nasional se-Kota Jember. Hasilnya, ditemukan bahwa Gereja Nasional se-kota Jember telah melakukan penyembahan dalam roh dan kebenaran dengan perolehan angka yang tinggi. Dari dua dimensi yang termaktub dalam Yohanes 4:1-26 diperoleh bahwa dimensi yang paling memengaruhi tingkat implementasi penyembah yang benar di kalangan jemaat Aras Gereja Nasional se-kota Jember adalah “Penyembah Dalam Roh” dan kategori yang paling berpengaruh terhadap tingkat implementasi penyembah yang benar berdasarkan Yohanes 4:1-26 di kalangan jemaat Aras Gereja Nasional se-kota Jember adalah kategori latar belakang “Jenis Pelayanan”.
GEREJA RAMAH ANAK MEMBUKA PINTU GEREJA BAGI ANAK-ANAK DENGAN DISABILITAS DAN KELUARGA MEREKA Lidanial .
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 2, No 2
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v2i2.160

Abstract

Abstract:  The church as a community of embodiment of God’s love and acceptance should be a place where children with disabilities and their families can feel accepted, loved, valued, and considered part of the church regardless of their conditions. However, it is scarce to find a church with a particular ministry or accompaniment program where children with disabilities and their families, especially their parents or caregivers, get services and opportunities to participate in the ministry. How should the church address the presence of children with disabilities and their families from a biblical perspective? This article results from a literature review that is integrated with the author’s experience in assisting children with disabilities and their families. Local churches need to immediately respond to God’s calling to serve children with disabilities and their families by starting to think seriously and plan particular service and accompaniment programs for children with disabilities and their families that God presents amid church life. Abstrak: Gereja sebagai komunitas perwujudan kasih dan penerimaan Allah seharusnya menjadi tempat di mana anak-anak dengan disabilitas dan keluarga mereka dapat merasa diterima, dikasihi, dihargai, dan dianggap sebagai bagian dari gereja, bagaimana pun kondisi mereka. Tetapi, sangat jarang ditemukan gereja yang mempunyai program pelayanan atau pendampingan khusus di mana anak-anak dengan disabilitas dan keluarga mereka, khususnya orang tua atau pengasuh (care giver) mereka, mendapatkan pelayanan dan kesempatan untuk mengambil bagian dalam pelayanan. Bagaimana seharusnya gereja menyikapi kehadiran anak-anak dengan disabilitas dan keluarga mereka berdasarkan perspektif Alkitab? Artikel ini merupakan hasil kajian literatur yang diintegrasikan dengan pengalaman penulis dalam pelayanan pendampingan anak-anak dengan disabilitas dan keluarga mereka. Gereja-gereja lokal perlu segera merespons panggilan Tuhan untuk melayani anak-anak dengan disabilitas dan keluarga mereka dengan mulai memikirkan secara serius serta merencanakan program pelayanan dan pendampingan khusus bagi anak-anak dengan disabilitas dan keluarga mereka yang Tuhan hadirkan di tengah kehidupan bergereja.
PERAN EKSKLUSIF ORANG TUA DALAM MEMBENTUK KONSEP DIRI REMAJA KRISTEN Sostenis Nggebu
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 2, No 2
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v2i2.154

Abstract

Abstract:  The study of this article is directed at shaping the self-concept of Christian youth. The self-concept is so essential to their existence that its fulfillment requires the active role of their parents. According to God’s will, the formation of youth self-concept is an exclusive call from God for parents to build youth into the likeness of Jesus Christ. The author uses the literature study method to explain adolescents’ healthy self-concepts to deepen the discussion. Through this study, the authors found an essential fact that adolescents’ self-concept is closely related to the coaches of adolescents in a constructive and applicable manner. Parents have the primary responsibility in guiding youth to become accustomed to hearing God’s word and obeying the requirements of Jesus Christ for their lives. In managing a harmonious relationship with God, they learn to discover for themselves the dynamics of life by walking in God’s word and are able to apply God’s truth in their lives. In this aspect, they will grow into the likeness of Jesus Christ and mature in faith as a tangible manifestation of the actualization of a healthy and true self-concept according to the Christian faith. Abstrak: Kajian artikel ini diarahkan pada pembentukan konsep diri para remaja Kristen. Konsep diri begitu penting bagi eksistensi mereka maka pemenuhannya memerlukan peran aktif orang tua mereka. Pembentukan konsep diri remaja yang sesuai dengan kehendak Allah merupakan panggilan yang eksklusif dari Allah bagi  orang tua untuk membina para remaja menjadi milik Yesus Kristus. Untuk mendalami pembahasannya, penulis menggunakan metode studi pustaka dalam menjelaskan konsep diri yang sehat bagi para remaja. Melalui studi tersebut, penulis menemukan fakta penting bahwa dalam konsep diri remaja erat kaitan dengan pembina terhadap para remaja secara konstruktif dan aplikatif. Orang tua memiliki tanggung jawab utama dalam menuntun para remaja agar membiasakan diri dengar-dengaran akan firman Allah dan taat pada tuntutan Yesus Kristus bagi hidup mereka. Dalam menata hubungan yang harmonis dengan Tuhan, mereka belajar menemukan sendiri dinamika hidup dengan berjalan dalam firman Allah dan mampu menerapkan kebenaran Allah itu di dalam hidup mereka. Dalam aspek inila mereka akan bertumbuh menjadi serupa dengan Yesus Kristus dan menjadi dewasa dalam iman sebagai wujud nyata dari aktualisasi dari konsep diri yang sehat dan benar sesuai iman Kristen. 

Page 11 of 17 | Total Record : 161