cover
Contact Name
Brury Eko Saputra
Contact Email
brury@sttaletheia.ac.id
Phone
+62341-426617
Journal Mail Official
brury@sttaletheia.ac.id
Editorial Address
Jl. Argopuro No.28-34, Lawang, Kec. Lawang, Malang, Jawa Timur 65211
Location
Kab. malang,
Jawa timur
INDONESIA
Sola Gratia: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
ISSN : 27232786     EISSN : 27232794     DOI : https://doi.org/10.47596/sg.v1i2
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi di bidang Teologi Biblika dan Praktika. Focus dan Scope penelitian SOLA GRATIA adalah: 1. Teologi Biblikal 2. Teologi Pastoral 3. Teologi Kontemporer
Articles 161 Documents
BERLAKU ADIL DALAM KEMEWAHAN: PEMBACAAN ATAS AM 6:1-7 Kartono .
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 2, No 2
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v2i2.169

Abstract

Abstract:  In the Book of Amos, the picture of social life is so factual. Unfortunately, this situation is dominated by a problematic situation where people are being oppressed by the authorities, whoever they are. But what needs to be looked at is whether social justice was possible at that time? The answer is perhaps as championed by the prophets, including the Prophet Amos. So, what does fairness mean? The story of the Prophet Amos, who preached among the Israelites, offered a perspective of being fair amid luxury for humans today. This study aims to present the theme of justice in luxury life. The writing of this article uses the synchronic method with the help of G. Lenski’s theory and analyses the world of the text and the world in front of the text, then adds the repertoire of searching expert opinions synthesized by the author. It’s acceptable to live a luxurious life if it doesn’t hurt others; that’s the message of the Prophet Amos, the messenger of God. Living in luxury is not wrong; it’s just not right when it is obtained from the sacrifices and suffering of others and even exhibited for the needy (Am 4:1-3, 5:11-12, 8:4-6). The Israelites forgot that the luxury they got was a gift from God. Abstrak: Dalam Kitab Amos gambaran hidup sosial itu begitu nyata. Sayangnya gambaran itu didominasi oleh situasi yang memprihatinkan yakni masyarakat mengalami penindasan oleh penguasa. Tetapi yang perlu dicermati ialah apakah mungkin keadilan sosial itu terjadi di masa itu? Jawabannya jelas mungkin sebagaimana diperjuangkan oleh para nabi, termasuk oleh Nabi Amos. Lalu, berlaku adil yang seperti apa yang dimaksud? Kisah Nabi Amos yang mewartakan di antara orang-orang Israel menawarkan kaca pandang berlaku adil di tengah kemewahan bagi manusia zaman ini. Penelitian ini hendak menyajikan tema keadilan dalam kemewahan. Penulisan artikel ini menggunakan metode sinkronis dengan bantuan teori G. Lenski dan menganalisa dunia di dalam teks dan di luar teks, kemudian menambah khasanah dari penelusuran pendapat para ahli yang disintesiskan oleh penulis. Hidup mewah boleh, asal tidak menyengsarakan sesama, seperti itu pesan Nabi Amos, sang utusan Allah. Hidup dalam kemewahan itu tidak salah, hanya saja tidak tepat di kala didapatkan dari pengorbanan dan penderitaan orang lain bahkan dipamerkan bagi yang berkekurangan (Am 4:1-3, 5:11-12, 8:4-6). Bangsa Israel lupa kalau kemewahan yang didapatkannya itu merupakan pemberian dari Allah. 
KEBERHASILAN SEORANG PEMIMPIN GEREJA SEBAGAI SEORANG PANUTAN DAN DAMPAKNYA DALAM PERTUMBUHAN GEREJA Darren Kristandi
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 2, No 2
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v2i2.148

Abstract

Abstract:  Does a good leader put vision and mission to be the primary goal in his or her leadership? A leader has a particular vision, mission, and leadership style. Hence, he or she will not be a “puppet” controlled by others. A leader should be capable of influencing others, not otherwise. Because of the dynamic nature of leadership, a leader must always keep learning. This article uses a qualitative method focusing on the literature research. The article concludes that a Christian leader’s quality is known, at least, by how others consider him or her to be an example because of his quality, potential, loyalty, and honesty. Abstrak: Apakah sebagai pemimpin yang baik itu harus menjadikan visi dan misi menjadi tujuan utama dalam mencapai hasil dalam kepemimpinan? Pemimpin adalah orang yang memiliki visi dan misi serta gaya kepemimpinan sendiri.  Dengan demikian, dia tidak menjadi “boneka” yang hanya menjalankan kemauan dan tuntutan orang lain. Pemimpin adalah orang yang mampu mempengaruhi orang lain, bukan sebaliknya. Mengingat kepemimpinan bersifat dinamis, seorang pemimin perlu terus belajar. Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan fokus pada studi literatur. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa kualitas pemimpin Kristen dapat diketahui, setidaknya, dari apakah pemimpin sudah menjadi dijadikan panutan oleh mereka yang dipimpin karena mutu/kualitas, potensi, loyalitas dan kejujurannya teruji dan terbukti. 
INVESTIGATING TEXTUAL VARIANTS OF MARK 1:1 Do Ngoc Hoa
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 2, No 2
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v2i2.182

Abstract

Abstract: This article revisits a classical case in textual criticism, textual variants of Mark 1:1. It presents all the variants from the available manuscripts and their respective dating. After that, it investigates all the variants using the textual criticism approach, focusing on the external and internal evidence. While affirming that this paper does not solve the problem since evidence for at least two readings is equally convincing, it concludes by confirming that the variant with longer reading is preferable and more likely to be the original.   Abstrak: Artikel ini membahas kembali kasus klasik dalam studi Kritik Teks, yaitu berbagai variasi teks dalam Markus 1:1. Artikel ini memaparkan semua varian dari pelbagai manuskrip berserta dengan pentarikhannya masing-masing. Setelah itu, artikel ini menginvestigasi semua varian tersebut berdasarkan pendekatan Kritik Teks, dengan fokus pada bukti eksternal dan internal. Mengafirmasi bahwa kajian ini tidak menyelesaikan masalah tekstual dalam teks yang diselidiki karena bukti bagi kedua bacaan yang dominan sama-sama meyakinkan, artikel ini menyimpulkan bahwa varian dengan bacaan yang lebih panjang lebih meyakinkan dan kemungkinan besar asli.
Meneropong Spiritualitas Disabilitas bagi Keadilan Disabilitas Paulus Eko Kristianto
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 3, No 1 (2022): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v3i1.181

Abstract

Abstract:Disability spirituality is part of the study of disability theology. Disability justice is the hope of all persons with disabilities. The problem that arises is how does disability spirituality enable disability justice? This article tries to formulate this model based on literature research in related books and journals. The results of the study show that spirituality with disabilities at least touches their relationship with themselves, others, and God. This relationship is integrative and related to each other. This insight into disability spirituality is expected to give birth to disability justice by enriching the scientific community in the field of disability theology and the formation of disability spirituality in faith communities. Abstrak: Spiritualitas disabilitas menjadi bagian dari kajian teologi disabilitas. Keadilan disabilitas merupakan harapan semua penyandang disabilitas. Persoalan yang muncul ialah bagaimana spiritualitas disabilitas memungkinkan keadilan disabilitas? Artikel ini mencoba merumuskan model ini dengan berpijak dari penelitian pustaka terhadap buku dan jurnal terkait. Hasil penelitian menunjukkan spiritualitas disabilitas sekurangnya menyentuh relasinya dengan diri sendiri, orang lain, dan Tuhan. Relasi ini bersifat integratif dan berkaitan satu sama lain. Peneropongan spiritualitas disabilitas ini diharapkan melahirkan keadilan disabilitas dengan memperkaya keilmuan rumpun bidang teologi disabilitas dan formasi spiritualitas disabilitas di komunitas iman.
Book Review. Konseling Kristen Yang Efektif, Gary Collins. Yudi Jatmiko
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 3, No 1 (2022): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v3i1.139

Abstract

Book Review. Konseling Kristen Yang Efektif, Gary Collins.
Makna Teologis Busana Liturgis dalam Gereja Herman Punda Panda
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 3, No 1 (2022): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v3i1.183

Abstract

Abstract: De facto liturgical vestments are an integral part of the liturgical ministry in the churches. However, there are differences in understanding and interpreting the history which has been developed after the apostles' time. In terms of the use of liturgical clothing, each church has a unique perspective and practice, although there are a number of elements in common. Through the study of the literature on liturgical vestments, the author discusses the development of these garments, both the various types that have existed and those that are currently used in churches. The author analyzes past events related to the origin, development, and theological understanding of the subject to understand the peculiarities of how they are viewed today. In addition, the author also makes a comparison of the use of liturgical clothing from different ecclesiastical contexts. This research shows that the different attitudes towards liturgical vestments are closely related to the different understandings of the priesthood. Churches which maintain the doctrine of in persona Christi in ordained ministers tend to maintain the majesty of the liturgical vestments of the medieval heritage. On the other hand, churches that do not accept this doctrine use minimalistic liturgical clothing and even consider it optional. In this case, Luther's adiaphora principle is quite influential in the freedom to use or not to use liturgical clothing. Abstrak: Busana liturgis, de facto, merupakan bagian integral dari pelayanan liturgi dalam gereja-gereja. Walaupun demikian, terdapat perbedaan dalam memahami dan menafsirkan sejarah yang berkembang sesudah era para rasul. Dalam hal penggunaan busana liturgis, masing-masing gereja memiliki cara pandang dan praktek yang khas, walaupun terdapat pula sejumlah unsur yang sama. Melalui studi pustaka, penulis mengangkat perkembangan penggunaan busana liturgis, baik ragam jenis pakaian yang pernah ada maupun yang saat ini digunakan di gereja-gereja. Penulis menganalisis peristiwa masa lalu yang berkaitan dengan asal, perkembangan, dan makna teologis busana liturgis untuk memahami kekhasan pandangan masa kini tentang pakaian tersebut. Selain itu, penulis juga membuat perbandingan penggunaan busana liturgis dari konteks gerejawi yang berbeda-beda. Penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan sikap gereja-gereja terhadap busana liturgis berkaitan erat dengan pemahaman yang berbeda atas imamat. Gereja-gereja yang mempertahankan doktrin in persona Christi dalam diri pelayan tertahbis cenderung mempertahankan pula keagungan busana liturgis warisan abad pertengahan. Sebaliknya gereja-gereja yang tidak menerima doktrin tersebut menggunakan busana liturgis secara minimalis bahkan menganggapnya tidak wajib. Dalam hal ini prinsip adiaphora dari Luther cukup berpengaruh dalam kebebasan menggunakan atau pun tidak menggunakan busana liturgis.
Spiritualitas Ekologis Abad Pertengahan dan Implikasinya bagi Pemeliharaan Lingkungan Masa Kini Sony Kristiantoro
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 3, No 1 (2022): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v3i1.184

Abstract

Abstract:  The current ecological crisis is caused by various factors that influence each other, including political, economic, cultural, and religious factors. Religious factors include spirituality that underlies people's behavior in everyday life. This paper is obtained through qualitative research using literature studies and is intended to provide some historical descriptions of ecological spirituality that began to emerge in the Middle Ages. The study results show that the medievals appreciated the earth and God's creation so well. The spirituality lived by the people in the Middle Ages can be an inspiration for us today. So people today do not treat the environment and creation as objects and exploit them to the full, but maintain, green the earth, make them friends, and want to actively participate in making this earth a better place for all.Abstrak: Krisis ekologi pada masa sekarang ini disebabkan oleh berbagai macam faktor yang saling memengaruhi, di antaranya adalah faktor politik, faktor ekonomi, faktor budaya, dan juga faktor agama. Faktor agama di antaranya berupa spiritualitas yang mendasari orang-orang berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Tulisan ini didapatkan melalui penelitian kualitatif dengan memakai studi literatur, dan dimaksudkan untuk memberikan beberapa gambaran historis mengenai spiritualitas ekologis yang sudah mulai muncul pada abad-abad pertengahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para tokoh pada abad pertengahan ternyata sangat menghargai bumi dan ciptaan Tuhan sedemikian baiknya. Spiritualitas yang dihidupi oleh para ahli pada abad pertengahan itu, dapat menjadi inspirasi bagi tindakan yang dilakukan oleh manusia pada zaman ini, sehingga tidak memperlakukan lingkungan hidup dan ciptaan sebagai objek dan mengeksploitasinya habis-habisan, melainkan memelihara, menghijaukan bumi, menjadikannya sahabat, dan mau berpartisipasi secara aktif dalam menjadikan bumi ini sebagai tempat yang lebih baik bagi semuanya.
Kaum Injili dan Pericope Adulterae (Yoh. 7:53-8:11): Sebuah Usulan Stefanus Kristianto
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 3, No 1 (2022): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v3i1.187

Abstract

Abstract:  Pericope Adulterae, commonly known as “The Story of the Adulterous Woman” (John 7:53-8:11), is one of the famous stories in the Gospel of John. However, this story turns out to have serious problems regarding its authenticity. So, how should Evangelicals deal with this passage? This paper will begin with a textual analysis to show that the Pericope Adulterae is not an integral part of the Gospel of John. Afterwards, the authors turn to historical analysis to show that Pericope Adulterae probably originated from an oral tradition that was then preserved in three different written forms. Lastly, the writer tries to look at this text from a theological perspective, especially the Evangelical doctrine of inspiration. The author concludes that Pericope Adulterae is not part of the inspired word of God. Therefore, this passage should not be the norma normans for the Evangelicals. However, this passage is a beautiful legacy of church tradition, which to some extent can still be used in the spiritual life of the Evangelicals.  Abstrak: Pericope Adulterae, atau yang lazim dikenal sebagai “Kisah Perempuan yang Berzinah” (Yoh. 7:53-8:11), adalah salah satu kisah terkenal dalam Injil Yohanes. Meski demikian, kisah ini ternyata memiliki problem serius mengenai autentisitasnya. Lantas, bagaimanakah Kaum Injili harus menyikapi perikop ini? Tulisan ini akan mulai dengan analisa tekstual untuk menunjukkan bahwa Pericope Adulterae bukanlah bagian integral dari Injil Yohanes. Selanjutnya, penulis berpindah ke analisa historis untuk menunjukkan bahwa Pericope Adulterae kemungkinan berasal dari tradisi lisan yang lantas dipelihara dalam tiga bentuk tertulis yang berbeda. Terakhir, penulis mencoba memandang teks ini dengan kacamata teologis, khususnya doktrin Kaum Injili mengenai inspirasi. Kesimpulan penulis, Pericope Adulterae bukan bagian dari firman Allah yang diinspirasikan. Karena itu, bagian ini tidak seharusnya menjadi norma normans bagi Kaum Injili. Meski demikian, perikop ini adalah warisan yang indah dari tradisi gereja, yang dalam batas tertentu masih bisa digunakan dalam kehidupan rohani Kaum Injili.
Sisi Gelap Allah dalam Kitab Ayub Sia Kok Sin
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 3, No 1 (2022): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v3i1.190

Abstract

Abstract:  A careful reading of the book of Job will reveal the dark side of God. God acted as if it were against His nature. God is merciful and kind, but he is the cause of Job’s suffering and does not provide answers to Job’s questions about the reason for his suffering. Some experts discuss this, but others ignore it. Through examining the book of Job, the author tries to explain the dark side of God in the book of Job. The author divides the book of Job into several parts, namely Job 1-2, 3-37, 38-41 and 42, as a basis for discussion and seeks to provide a theological review of God’s attitude and character towards Job in dealing with his suffering, interaction with his friends, or even with God himself. God was willing to “bet” with Satan, thus bringing tragedy in the life of Job, a godly man. God was silent totally in the midst of the theological debates of Job and his friends. God who spoke through His wisdom and omnipotence yet did not answer Job’s questions about the reasons for the tragedy in his life. Instead, God restored Job with his partial compensation. This article aims to remind readers of the dark side of God that will remain a mystery. The believer has to embrace this dark side of God with a faith that is not based on knowledge, feelings and experience but a total commitment to God. Total trust in God regardless of everything God allows to happen in his life. Abstrak: Pembacaan yang teliti terhadap kitab Ayub akan menghadirikan sisi gelap Allah. Allah bertindak seolah-olah bertentangan dengan natur-Nya. Allah yang maha murah dan baik justru yang menjadi penyebab penderitaan Ayub yang saleh dan tidak memberikan jawaban atas pertanyaan Ayub tentang alasan penderitaannya. Ada ahli yang membahas hal ini, tetapi ada ahli yang mengabaikannya. Melalui penyelusuran kitab Ayub penulis berupaya memaparkan sisi gelap Allah dalam kitab Ayub. Penulis membagi kitab Ayub menjadi beberapa bagian, yaitu Ayub 1-2, 3-37, 38-41 dan 42 sebagai dasar pembahasan dan berupaya memberikan tinjauan teologis sikap dan karakter Allah terhadap Ayub dalam menghadapi penderitaannya, interaksi dengan teman-temannya, atau bahkan dengan Allah sendiri. Allah yang mau “bertaruh” dengan Iblis, sehingga membawa tragedi dalam kehidupan Ayub, seorang yang saleh. Allah yang membisu di tengah perdebatan teologis Ayub dan teman-temannya. Allah yang berbicara melalui hikmat dan kemahakuasaan-Nya, namun tidak memberikan jawaban atas pertanyaan Ayub tentang alasan tragedi dalam hidupnya. Allah yang memulihkan Ayub dengan kompensasi parsialnya. Artikel ini bertujuan untuk mengingatkan pembaca akan sisi gelap Allah yang akan tetap menjadi suatu misteri. Hal ini perlu disikapi oleh orang percaya dengan iman yang tidak didasarkan atas pengetahuan, perasaan dan pengalaman, tetapi pada komitmen total kepada Allah. Kepercayaan total kepada Allah terlepas dari segala hal yang Allah izinkan terjadi dalam kehidupannya.
Pengembangan Spiritualitas Melalui Berbagi Pengalaman di Dalam Komunitas Intergenerasional Chong Lindawati
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 3, No 2 (2023): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v3i2.194

Abstract

Abstract:Sharing experiences within the intergenerational community is something valuable for spiritual development. Unfortunately, there are various obstacles to making it happen. Among them, the individualistic lifestyle dominating the nature and existence of the community tends to be ignored. Not to mention the tendency in society that separates people based on age groups or generations, where the opportunity to understand each other and share experiences between different generations is intentionally becoming less and less. A faith community or church may be the only place where all generations gather regularly. Unfortunately, society’s trend toward generational fragmentation has moved within the church. Through a practical theological approach, this paper attempts to show how empirical experience with the support of historical and biblical traditions, as well as support from psychosocial theories, including generation theory, sociocultural learning theory, developmental theory and ecological systems theory, demonstrates the significance of sharing experiences in intergenerational communities for the developmental process of a human being. Abstrak: Berbagi pengalaman di dalam komunitas intergenerasi adalah sesuatu yang berharga bagi pengembangan spiritualitas. Sayangnya ada berbagai hambatan untuk mewujudkannya. Di antaranya, gaya hidup individualistis yang telah mendominasi sehingga hakikat dan keberadaan komunitas sendiri cenderung diabaikan. Belum lagi kecenderungan di tengah masyarakat yang memisahkan manusia berdasarkan kelompok usia atau generasi, di mana kesempatan untuk saling memahami sekaligus berbagi pengalaman antargenerasi yang berbeda secara intensional menjadi makin minim. Komunitas iman atau gereja mungkin satu-satunya tempat di mana semua generasi berkumpul secara teratur. Sayangnya, tren masyarakat menuju fragmentasi generasi telah pindah ke dalam gereja. Melalui pendekatan teologi praktis, tulisan ini berupaya menunjukkan bagaimana pengalaman empiris dengan dukungan tradisi historis dan Alkitab serta dukungan dari teori psikososial termasuk teori generasi, teori pembelajaran sosiokultural, teori perkembangan dan teori sistem ekologi menunjukkan signifikansi berbagi pengalaman di dalam komunitas intergenerasi bagi proses perkembangan seorang manusia.