cover
Contact Name
Brury Eko Saputra
Contact Email
brury@sttaletheia.ac.id
Phone
+62341-426617
Journal Mail Official
brury@sttaletheia.ac.id
Editorial Address
Jl. Argopuro No.28-34, Lawang, Kec. Lawang, Malang, Jawa Timur 65211
Location
Kab. malang,
Jawa timur
INDONESIA
Sola Gratia: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
ISSN : 27232786     EISSN : 27232794     DOI : https://doi.org/10.47596/sg.v1i2
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi di bidang Teologi Biblika dan Praktika. Focus dan Scope penelitian SOLA GRATIA adalah: 1. Teologi Biblikal 2. Teologi Pastoral 3. Teologi Kontemporer
Articles 161 Documents
Pelayanan Konseling Terhadap Remaja Kristen Yang Berniat Bunuh Diri David Eko Setiawan; Nitani Harita; Ima Dewi Prianti; Nemensri Selan
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 3, No 2 (2023): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v3i2.155

Abstract

Abstract:This writing strives for solutions to the problems of adolescents who intend to commit suicide. The authors use literature research by reviewing various writings and previous studies. Suicide is often seen negatively, and it is found among teenagers in many countries. Many things can cause this behaviour, and there are also many negative impacts. The current world offering pleasure cannot be a solution for those who lost their passion for living, including teenagers. Teenagers thinking, which is still relatively narrow, makes many of them unable to accept the situation and the surrounding environment, causing them to do dangerous things, such as ending their lives. The study results show that many Christian youths have the potential to commit suicide, and the church can provide counselling services to Christian youths who are suicidal. This counselling service directs youth Christians to understand themselves in Christ as individuals who are valuable and worthy of life. Abstrak: Penulisan ini mengupayakan solusi dari permasalahan yang terjadi pada remaja yang berniat untuk bunuh diri. Penulis menggunakan metode literature research dengan meninjau kembali berbagai tulisan dan penelitian-penelitian terdahulu. Bunuh diri merupakan suatu perilaku yang dinilai negatif dan di berbagai negara hal ini menjadi permasalahan yang sering terjadi terkhususnya yang dilakukan di kalangan remaja. Banyak hal yang dapat menjadi sumber dari perilaku ini dan banyak pula dampak negatif yang diakibatkan. Situasi dunia sekarang yang banyak menawarkan kesenangan bagi manusia tidak dapat menjadi solusi bagi mereka yang kehilangan gairah untuk menjalani hidup, termasuk di kalangan remaja. Pemikiran remaja yang masih tergolong sempit membuat banyak dari mereka tidak mampu menerima situasi yang terjadi pada diri mereka sendiri dan lingkungan sekitar mengakibatkan mereka dapat melakukan hal yang berbahaya yaitu dengan mengakhiri hidupnya. Hasil penelitian menunjukkan banyak remaja Kristen berpotensi untuk bunuh diri dan gereja dapat melakukan pelayanan konseling terhadap remaja Kristen yang bernitan bunuh diri. Pelayanan konseling ini mengarahkan remaja Kristen untuk memahami dirinya di dalam Kristus sebagai individu yang berharga dan layak untuk hidup.
Pastor Sebagai Teolog di Dalam Komunitas Kristen Clement Hiu
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 3, No 2 (2023): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v3i2.199

Abstract

Abstract:The role of the pastor as a theologian is getting eroded. This can be seen in the ministry of pastors who do not prioritize preaching the word of God, do not think critically about contemporary issues and do not contribute to scholarly work. As a result, the teaching in the church weakens, the congregation’s spiritual needs are not satisfied, and the people’s faith is shallow. In the end, church growth will become stagnant and will be displaced by the changing world. Therefore, the pastor must be faithful to his role as a theologian for the Christian community. Pastors need to realize their calling as theologians and find out where the Christian community is the burden of their ministry as theologians. To carry out his vocation as a theologian, the pastor should equip himself with the correct method of theology; achieve biblical, cultural and human literacy; and apply the four spheres of theological scholarship, namely research, systemization, ecclesial significance articulation and ecclesial implementation. In realizing his role as a theologian, the pastor should return to his ministerial focus as a preacher of God’s word and rethink his pastoral ministry. And considering the breadth of theological scholarly disciplines, pastors need to collaborate with qualified colleagues or institutions to produce theological scholarly works. Abstrak: Peranan pastor sebagai teolog semakin terkikis. Hal ini terlihat dari pelayanan para pastor yang tidak mengutamakan pemberitaan firman Tuhan, tidak berpikir kritis terhadap isu-isu kontemporer dan tidak adanya sumbangsih mereka dalam karya ilmiah. Akibatnya, pengajaran gereja menjadi lemah, kebutuhan rohani jemaat tidak terpenuhi dan dangkalnya iman jemaat. Pada akhirnya, pertumbuhan gereja akan menjadi stagnan dan akan tergusur oleh perubahan zaman. Karena itu, pastor harus setia pada peranannya sebagai teolog bagi komunitas Kristen. Pastor perlu menyadari panggilannya sebagai teolog dan menemukan di mana komunitas Kristen yang menjadi beban pelayanannya sebagai teolog. Untuk menjalankan panggilannya sebagai teolog, pastor hendaknya memperlengkapi diri dengan metode berteologi yang benar; mencapai literasi biblikal, budaya dan manusia; serta menerapkan empat bidang keilmuan teologi, yaitu penelitian, sistematisasi, artikulasi signifikansi gerejawi dan implementasi gerejawi. Dalam mewujudnyatakan peranannya sebagai teolog, pastor hendaknya kembali kepada fokus pelayanannya sebagai pemberita firman Tuhan dan memikir ulang pelayanan pastoralnya. Dan mengingat luasnya disiplin keilmuan teologi, maka dalam usaha menghasilkan karya ilmiah yang teologis, pastor perlu berkolaborasi dengan rekan atau institusi yang mumpuni.
Mengkaji Ulang Konsep Self-Acceptance Menurut Albert Ellis Dalam Pendekatan Pastoral Konseling Bagi Lansia Randy Ezra Beriajaya
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 3, No 2 (2023): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v3i2.210

Abstract

Abstract:The vulnerability phase experienced by the elderly group needs to receive special attention to make it better, more comfortable and prosperous by providing assistance in the form of counselling services by presenting self-acceptance. The type of ability that must be possessed by a pastoral counsellor is to provide counselling service assistance by presenting nuances of self-acceptance in every counselling conversation for elderly groups. This assistance is carried out by pastoral counsellors who are part of the ecclesiastical pastoral duties. The purpose of this research study is to offer the concept of self-acceptance that has been initiated by Albert Ellis as a thinking construct that can be penetrated into counselling conversations with elderly groups. This research uses a qualitative method with a descriptive approach supported by literacy studies, with a counselling approach from Albert Ellis and the concept of self-acceptance he initiated to be able to be discussed in the lives of the elderly with their problems and can be applied by pastoral counsellors. In this case, the REBT counselling theory is synthesized to take its core values. The conclusion of the concept of self-acceptance that is built simply in counselling talks with the elderly is expected to be an alternative that will help the lives of the elderly in the vulnerability phase. Abstrak: Fase kerentanan yang dialami oleh kelompok lansia perlu untuk mendapat perhatiaan khusus agar lebih baik, nyaman dan sejahtera  dengan cara diberikan bantuan berupa layanan konseling dengan menghadirkan penerimaan diri. Jenis kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang konselor pastoral adalah memberikan bantuan layanan konseling dengan menghadirkan nuansa penerimaan diri self acceptance dalam setiap percakapan konseling untuk kelompok lansia. Bantuan ini dilakukan oleh konselor pastoral yang menjadi bagian dari tugas penggembalaan gerejawi. Tujuan yang hendak dicapai dari kajian penelitan ini adalah menawarkan konsep self acceptance yang  telah digagas oleh Albert Ellis sebagai konstruk berpikir yang dapat dipenetrasikan kedalam percakapan konseling dengan kelompok lansia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang didukung kajian literatur, dengan pendekatan konseling dari Albert Ellis dan konsep self acceptance yang digagasnya, untuk dapat dibidilk dalam kehidupan lansia dengan problematikanya, dan dapat diaplikasikan oleh konselor pastoral. Dalam hal ini teori konseling REBT disaripatikan untuk diambil nilai intinya. Kesimpulkan dari konsep self acceptance yang dibangun secara sederhana dalam pembicaraan konseling dengan lansia diharapkan akan manjadi alternatif yang akan membantu kehidupan lansia dalam fase keretananan.
Tetap Bertahan Dan Berkiprah Sebagai Garam Dunia: Sentralitas Panggilan Dan Signifikansi Formasi Spiritual Bagi Para Profesional Kristen Lidanial .
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 3, No 2 (2023): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v3i2.227

Abstract

Abstract:The call to be the salt of the world in the midst of pressure and influence from various views, beliefs, and practices that are contrary to the truth of God’s word in the world of work has become a struggle that is not easy along the vocational journey of Christian professionals. Several cases of violations of moral ethics, even those that have entered the realm of law, which were committed by Christian professionals and have become widespread coverage in various mass media, are portraits of a very concerning condition. How can a Christian professional survive in the face of various ethical and moral challenges while carrying out their profession? Through analysis of interview data with a number of Christian professionals from various professional fields, followed by a literature review of the results of the analysis, it was found that the centrality of belief in the vocation and role of spiritual formation has a very significant impact on their professionalism and commitment in facing various pressures to compromise with the world. Understanding and firm belief in God’s calling to collaborate with Him through the profession one pursues, coupled with a commitment to self-discipline in building relationships with God and His word and being involved in a community of faith that strengthens and empowers one another, are two important factors for Christian professionals to be able to survive and take part in carrying out their vocation as the salt of the world. Abstrak: Panggilan untuk menjadi garam dunia di tengah tekanan dan pengaruh bebagai pandangan, keyakinan, dan praktik yang bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan dalam dunia kerja menjadi pergumulan yang tidak mudah di sepanjang perjalanan vokasional para profesional Kristen. Beberapa kasus pelanggaran etika moral, bahkan yang sudah masuk dalam ranah hukum, yang dilakukan oleh para profesional Kristen dan telah menjadi pemberitaan yang marak di berbagai media massa menjadi potret dari sebuah kondisi yang sangat memprihatinkan. Bagaimana seorang profesional Kristen dapat tetap bertahan dalam menghadapi berbagai tantangan etika moral selama menjalankan profesi mereka? Melalui analisis data wawancara terhadap sejumlah profesional Kristen dari berbagai bidang profesi, yang dilanjutkan dengan kajian pustaka terhadap hasil analisis tersebut, ditemukan bahwa sentralitas keyakinan akan panggilan dan peranan formasi spiritual berdampak sangat signifikan terhadap profesionalitas dan komitmen mereka dalam menghadapi berbagai desakan untuk berkompromi dengan dunia. Pemahaman dan keyakinan yang teguh akan panggilan Tuhan untuk berkolaborasi dengan-Nya melalui profesi yang ditekuni, yang dibarengi dengan komitmen untuk mendisiplin diri dalam membangun relasi dengan Tuhan dan firman-Nya, serta melibatkan diri dalam komunitas iman yang saling menguatkan dan memberdayakan, merupakan dua faktor penting bagi para profesional Kristen untuk dapat tetap bertahan dan berkiprah dalam mengemban panggilan sebagai garam dunia.
“Aku Menatap ke Dalam Biji Matamu dan Mencintaimu di Dalam Ruang Tanpa Batas" Stephen Rehmalem Eliata
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 4, No 1 (2023): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v4i1.219

Abstract

Tulisan ini berupaya untuk memberikan solusi terhadap gugatan Freud bahwa Hukum yang Terutama adalah hukum yang absurd (credo, quid absurdum). Untuk menjawab permasalahan ini, penulis menandasrkan bahwa gugatan Freud dapat diselesaikan, yaitu: ketika individu memandang sesamanya sebagai sesame manusia yang rapuh, tepat ke dalam biji matanya, di mana tempat tersebut menyimpan sebuah kedalaman cinta. Penulis akan memaparkan pendapat penulis melalui tiga tahap pembahasan. Yang pertama, penulis akan menganalisa kembali konsep Id dari Freud. Yang kedua, penulis akan memaparkan kerapuhan sebagai kondisi dasariah manusia. Yang ketiga, penulis akan menggunakan gagasan dari Marion mengenai cinta yaitu dengan memandang biji mata sesama sebagai solusi terhadap masalah yang penulis angkat pada tulisan ini. Yang terakhir, penulis akan menarik kesimpulan dan refleksi terhadap tulisan ini.
Urgensi Tugas Gembala Dalam Pemuridan Bagi Pertumbuhan Jemaat: Suatu Konfirmasi Atas Urgensi Pendidikan Dalam Gereja Leniwan Darmawati Gea; Ruslin Ruslin; Romelus Blegur
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 4, No 1 (2023): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v4i1.211

Abstract

AbstractCongregational growth is an important goal in congregational life, and that's why the church is trying to achieve this target. One of the important and urgent efforts is discipleship. Discipleship is important because, through it, the congregation is educated to become similar to Christ in the growth of their faith. The most important and foremost foundation of discipleship is Christ and His work which is then prepared, carried out and continued through the process of discipleship. The church should preserve this process through the role of the pastor, but it seems that this is still a problem for the church. Therefore, the main point of the investigation regarding this issue is whether the pastor understands the importance of a pastor's status and the urgency of his responsibility in education through discipleship. This study uses the library research method with reference to library sources. The results of this study are: first, discipleship is a vehicle for education in the church. Second, in its realization, the role of the church pastor is very necessary. Third, discipleship confirms education as an urgent matter for church growth. The author hopes that the results of the research can be an important contribution to pastors in their efforts to develop congregational growth. AbstrakPertumbuhan jemaat merupakan tujuan penting dalam hidup berjemaat, karena itulah gereja pun berupaya untuk mencapai target tersebut. Salah satu upaya yang penting dan mendesak adalah pemuridan. Pemuridan penting sebab melaluinya jemaat dididik untuk menjadi serupa dengan Kristus dalam pertumbuhan iman mereka. Landasan terpenting dan terutama dari pemuridan adalah Kristus dan karya-Nya yang kemudian disiapkan, dilaksanakan, dan dilanjutkan melalui proses pemuridan. Proses inilah yang seharusnya tetap dilestarikan oleh gereja melalui peran gembala jemaat, namun tampaknya masih menjadi masalah gereja. Karena itu yang menjadi pokok penyelidikan terkait masalah tersebut adalah apakah gembala sudah memahami pentingnya status gembala, serta urgensi tanggung jawabnya dalam pendidikan melalui pemuridan?  Penelitian ini menggunakan metode library research dengan rujukan pada sumber-sumber pustaka. Hasil dari penelitian ini adalah: pertama, pemuridan adalah wadah bagi pendidikan dalam gereja. Kedua, dalam perwujudannya, peran gembala jemaat sangat diperlukan. Ketiga, pemuridan mengonfirmasi pendidikan sebagai hal yang urgen bagi pertumbuhan jemaat. Harapan penulis agar hasil dari penelitian dapat menjadi kontribusi penting bagi gembala dalam upayanya mengembangkan pertumbuhan jemaat. 
Menangkal Radikalisme Agama Berdasarkan Paradigma Misi Kristen Yang Berlandaskan Doktrin Allah Trinitas Alvary Exan Rerung
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 4, No 1 (2023): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v4i1.213

Abstract

The reality of the number of radicalism in Indonesia is news that creates a dilemma for the diversity in it. In Christianity itself, religious radicalism is also evident when reading the pattern of Christian missions which is based on the text of the Great Commission as an order for Christianity. This pattern of mission also makes other religions increasingly suspicious of Christianity. They are wary of such a pattern of Christian teachings. Especially in Christianity, many say that such a mission is what Jesus wants according to his command in the great commission. Seeing this reality, an effort is needed to be able to see whether these teachings are still in line with the values of Pancasila and the 1945 Constitution which uphold tolerance. This paper uses descriptive qualitative methods and a literature study approach in providing answers to these problems. This paper offers a pattern of Christian missions based on the doctrine of God the Trinity as an effort to counter religious radicalism. This mission pattern sees missions centered on the Trinitarian God and leaves the mission pattern based on the Church. This mission will provide values of tolerance and will be a shield in countering religious radicalism in Indonesia.Realitas angka radikalisme di Indonesia merupakan berita yang membuat dilema bagi kemajemukan yang ada di dalamnya. Pada agama Kristen sendiri, radikalisme agama juga nyata ketika membaca pola misi Kristen yang berlandasakan pada teks amanat agung sebagai perintah kristenisasi.  Pola misi ini juga yang membuat agama-agama lain semakin mencurigai agama Kristen. Mereka was-wasa terhadap pola ajaran agama Kristen yang demikian. Apalagi dalam agam Kristen banyak yang mengatakan misi yang seperti itulah yang Yesus kehendaki sesuai dengan perintahnya dalam amanat agung. Melihat realitas tersebut, maka diperlukan usaha untuk dapat melihat ajaran-ajaran tersebut apakah masih sejalan dengan nilai Pancasila dan UUD 1945 yang menjunjung tinggi toleransi. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif deskriptip dan pendekatan studi pustaka dalam memberikan jawaban atas masalah tersebut. Tulisan ini menawarkan pola misi Kristen yang berlandaskan doktrin Allah Trinitas sebagai upaya untuk menangkal radikalisme agama. Pola misi ini melihat misi yang berpusat pada Allah Trinitas dan meninggalkan pola misi yang berlandaskan pada Gereja. Misi ini akan memberikan nilai-nilai toleransi dan akan menjadi tameng dalam menangkal radikalisme agama di Indonesia.
Alam, Manusia, Dan Teknologi: Analisis Filosofis Dan Refleksi Teologis Terhadap Krisis Modern Andreas Maurenis Putra
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 4, No 1 (2023): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v4i1.214

Abstract

Abstract:This article is a philosophical context analysis and theological reflection on the relationship between nature, humanity and technology within the framework of modern crises, which began in the Enlightenment era. When scientific thinking began to eliminate religious thinking. Since then, the world has not been seen as a sacred entity so that nature is disrespectfully objectified in order to advance the narrative of progress that Enlightenment rationality glorifies through its tools: science and technology. Crises were inevitable. On the basis of this analysis and reflection, the author sees that Enlightenment rationality has no future if its application is devoid of certain values. Thus the author proposes a new principle of technology, namely humanistic technology with a theocentric dimension. This method allows modern life to choose the spirit of life “for all” Abstrak:Artikel ini adalah sebuah analisis konteks secara filosofis dan refleksi teologis tentang hubungan antara alam, manusia, dan teknologi dalam bingkai krisis-krisis modern, yang dimulai sejak era Pencerahan. Ketika pemikiran ilmiah mulai mengeliminasi pemikiran religius. Sejak itu dunia tidak dilihat sebagai sebuah entitas yang sakral sehingga tanpa rasa hormat alam diobjekkan demi melajukan narasi kemajuan yang diagungkan rasionalitas Pencerahan melalui alat-alatnya: sains dan teknologi. Krisis-krisis pun tak terhindarkan. Atas dasar analisis dan refleksi ini penulis melihat bahwa rasionalitas Pencerahan tidak memiliki masa depan jika pengaplikasiannya lepas nilai tertentu. Dengan demikian penulis mengusulkan suatu prinsip berteknologi secara baru yaitu teknologi humanistik dengan disertai dimensi teosentris. Cara ini memungkinkan kehidupan modern memilih spirit hidup “bagi semua”
Mengapa Ayub Berbeda? Mengkaji Pemberian Nahala Bagi Anak-Anak Perempuan Dalam Teks Ayub 42:15 (Sebuah Tinjauan Dengan Perspektif Feminis) Gabriella Tara Yohanessa
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 4, No 1 (2023): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v4i1.216

Abstract

Abstract: The world of the Old Testament was a patriarchal one with a number of rules that were detrimental to women, both in family and community life. One of the practices that made it difficult for women to get their rights fairly was the division of inheritance. This paper, from a feminist perspective, seeks to examine Job's action in distributing nahala (LAI: milik pusaka) to his three daughters. Job's decision was unusual, because ideally, daughters do not received nahala as long as there are sons who are legally considered more entitled to receive it. In order to obtain comprehensive data, the research was conducted qualitatively through a literature study to find out that Job's unusual action was motivated by the renewal of mind that God granted him during his suffering. Then, the research findings will also seek implications for the lives of believers today. Abstrak: Dunia Perjanjian Lama kental dengan nuansa patriarkat yang diikuti sejumlah aturan yang bersifat merugikan perempuan, baik dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat. Salah satu praktik hidup yang membuat perempuan sukar mendapatkan haknya secara adil ialah pembagian milik pusaka. Tulisan ini dengan perspektif feminis ingin mengkaji tindakan Ayub yang membagikan nahala (LAI: milik pusaka) bagi ketiga anak perempuannya. Keputusan Ayub menjadi tidak lazim, sebab idealnya anak perempuan tidak mendapat nahala selama masih ada anak laki-laki yang secara hukum dipandang lebih berhak untuk menerima itu. Demi memperoleh data yang komprehensif, penelitian dilakukan secara kualitatif melalui studi kepustakaan untuk mengetahui bahwa tindakan tidak lazim Ayub dilatarbelakangi oleh pembaruan pikiran yang dikaruniakan Allah kepadanya semasa penderitaan terjadi. Lalu, temuan penelitian juga akan dicari implikasinya bagi kehidupan orang percaya masa kini.
Refigurasi Daud Sebagai Pahlawan: Analisis Narasi Terhadap Teks 1 Samuel 16-18 Dengan Konsep Refigurasi Paul Ricoeur Setiawan, Yohanes
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 1 (2024): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v5i1.244

Abstract

Abstract:This study aims to understand the refiguration of David as a hero through narrative analysis in 1 Samuel 16–18, using Paul Ricoeur's concept with a qualitative-descriptive approach. The analysis results show that readers in the prefiguration understand the hero, who is often described as a physically strong, brave, and heroic person born from a noble or knightly family. Configuration shows that each narrative part significantly shapes David's heroic character. Key themes such as divine election and power conflict and how tension is built through the contrast between Saul's decline and David's ascension also clearly influence the development of David's heroic character. Refiguration shows that David's heroism and leadership were a divine calling. David combined physical strength with spiritual strength, courage with wisdom, and humility with leadership charisma. David's internal character (faith, honesty, sincerity, experiences, and humility) also played a crucial role in his success as a hero or leader. Abstrak: Studi ini bertujuan untuk memahami refigurasi Daud sebagai pahlawan melalui analisis narasi dalam 1 Samuel 16-18 menggunakan konsep Paul Ricoeur dengan pendekatan kualitatif-deskriptif. Hasil analisis menunjukkan bahwa pembaca dalam prefigurasi memahami tentang pahlawan yang sering kali digambarkan sebagai seorang yang kuat secara fisik, berani, dan heroik yang lahir dari kalangan keluarga bangsawan atau ksatria. Konfigurasi menunjukkan setiap bagian narasi secara signifikan membentuk karakter kepahlawanan Daud. Tema-tema utama seperti pemilihan ilahi dan konflik kekuasaan, serta bagaimana ketegangan dibangun melalui kontras antara penurunan Saul dan kenaikan Daud juga sangat jelas mempengaruhi perkembangan karakter kepahlawanan Daud. Refigurasi menunjukkan bahwa kepahlawanan dan kepemimpinan Daud merupakan panggilan ilahi. Daud menggabungkan kekuatan fisik dengan kekuatan spiritual, keberanian dengan kebijaksanaan, dan kerendahan hati dengan karisma kepemimpinan. Karakter internal Daud (keyakinan, kejujuran, ketulusan, pengalaman dan kerendahan hati) juga memainkan peran krusial dalam menentukan keberhasilannya sebagai pahlawan atau pemimpin.