cover
Contact Name
Brury Eko Saputra
Contact Email
brury@sttaletheia.ac.id
Phone
+62341-426617
Journal Mail Official
brury@sttaletheia.ac.id
Editorial Address
Jl. Argopuro No.28-34, Lawang, Kec. Lawang, Malang, Jawa Timur 65211
Location
Kab. malang,
Jawa timur
INDONESIA
Sola Gratia: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
ISSN : 27232786     EISSN : 27232794     DOI : https://doi.org/10.47596/sg.v1i2
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi di bidang Teologi Biblika dan Praktika. Focus dan Scope penelitian SOLA GRATIA adalah: 1. Teologi Biblikal 2. Teologi Pastoral 3. Teologi Kontemporer
Articles 161 Documents
MENIMBANG ULANG RELASI YESUS DAN MARIA Stefanus Kristianto
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 1, No 1 (2020): SOLA GRATIA
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v1i1.105

Abstract

Most of the Bible readers of course concur that the relationship between Jesus and Mary, his mother, is an example of the harmonious relationships in the Bible. Admittedly, this idea is pervasive and could be found both in academic and popular writings, as well as in various artwork. Unlike that dominant idea, through this work, the writer is trying to show that the Gospel writers perform a different picture. The writer will investigate three key texts, namely John 2:3-4; Mark 3:20-35; and Luke 11:27-38, in order to show that, according to the Gospel writers, there is a relational tension between Jesus and Mary during Jesus’s ministry, which is apparently caused by a gap between Mary’s expectation and Jesus’s way of serving. As to the methodology, the writer will use an eclectic method, by drawing insight from some approaches to understand those texts better.Hampir semua pembaca Alkitab pasti setuju bahwa relasi antara Yesus dan Maria, ibu-Nya, merupakan salah satu contoh relasi harmonis dalam Alkitab. Harus diakui, ide ini sangat pervasive dan bisa ditemukan baik dalam tulisan akademis, populer, maupun beragam karya seni. Berbeda dengan ide dominan tersebut, melalui tulisan ini penulis akan mencoba menunjukkan bahwa penulis Injil justru menampilkan gambaran yang berbeda. Penulis akan meneliti tiga teks kunci, yaitu Yohanes 2:3-4; Markus 3:20-35, dan Lukas 11:27-28, untuk menunjukkan bahwa, menurut penulis Injil, ada ketegangan relasional di antara Yesus dan Maria selama masa pelayanan Yesus, yang tampaknya muncul karena kesenjangan di antara ekspektasi Maria dan cara kerja Yesus. Mengenai metodologi,  penulis akan menggunakan metode eklektik, dengan cara menarik pengertian-pengertian dari beberapa pendekatan untuk memahami teks-teks tersebut dengan lebih baik.
"YESUS SEBAGAI PENGGENAP TEMPAT IBADAH" DALAM INJIL YOHANES STEFANUS KRISTIANTO
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 4, No 1 (2016): MARET 2016
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v4i1.51

Abstract

Abstrak: Salah satu karakteristik yang kerap muncul dalam Injil Yohanes ialah menampilkan Yesus sebagai penggenap ritual, figur, atau nubuatan dalam Perjanjian Lama. Bertolak dari dasar itu, tulisan ini akan mencoba berfokus pada bagaimana Injil Yohanes menampilkan Yesus sebagai penggenap tempat ibadah di dalam Perjanjian Lama. Untuk mencapai tujuan itu, penulis akan mulai dengan menunjukkan bahwa Perjanjian Lama merupakan latar belakang konseptual di balik Injil Yohanes. Setelah itu, penulis akan meneliti perkembangan konseptual tempat ibadah di dalam Perjanjian Lama untuk mengetahui aspek apa saja yang digenapi dan bagaimana Yesus menggenapinya. Pada akhirnya, penulis akan menarik beberapa implikasi praktis penggenapan tersebut bagi kehidupan Kristen kontemporer.  Kata Kunci: Yesus, Perjanjian Lama, Injil Yohanes, Penggenapan, Tempat Ibadah.
PENYELIDIKAN MAZMUR AKROSTIK SIA KOK SIN
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 6, No 2 (2018): SEPTEMBER 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v6i2.75

Abstract

Abstrak: Pola akrostik merupakan salah satu pola yang terdapat dalam puisi Ibrani, di antaranya terdapat dalam kitab Mazmur. Mazmur yang mempunyai pola Akrostik ini disebut sebagai mazmur akrostik. Pola ini biasanya diartikan sebagai pola yang menggunakan urutan alfabet Ibrani dari huruf awal kata pertama dari tiap baris disusun. Para ahli mengungkapkan beberapa fungsi pola akrostik dalam mazmur-mazmur akrostik, yaitu untuk menyampaikan sesuatu yang lengkap atau sempurna, alat pendidikan yang memudahkan untuk menghafal dan suatu bentuk artistik yang menunjukkan keahlian penyairnya.  Kata Kunci: Mazmur Akrostik, Pengertian Umum, Fungsi
RESENSI BUKU : DEFENDING SUBSTITUTION, AN ESSAY ON ATONEMENT IN PAUL STEFANUS KRISTIANTO
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 7, No 1 (2019): MARET 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v7i1.91

Abstract

Secara keseluruhan, buku ini terdiri atas lima bab, yakni tiga bab utama ditambah dengan bab pendahuluan dan kesimpulan. Di dalam bagian pendahuluan, Gathercole mulai dengan memaparkan pentingnya pembahasan mengenai teori penebusan pengganti. Selain soal kejelasan makna bagi gereja dan kesarjanaan, dia melihat aspek pastoral doktrin ini sebagai hal yang penting. Setelah itu, Gathercole mencoba merumuskan apa sebenarnya teori penebusan pengganti itu. Secara positif, ia menjelaskan bahwa doktrin ini mengajarkan bahwa Kristus mati menanggung dosa atau kesalahan atau hukuman umat Allah, sehingga mereka tidak perlu lagi mengalami hal tersebut (hal. 15-18). Secara negatif, ia memberikan beberapa kualifikasi yang membedakan doktrin ini khususnya dari konsep representasi, pendamaian (propitiation), dan pemuasan (satisfaction) (hal. 18-23). Di akhir bab pendahuluan ini (hal. 23-28), Gathercole meresponi secara singkat beberapa keberatan terhadap teori ini. Secara khusus, dia berfokus pada keberatan teologis (mis. bukankah doktrin ini doktrin yang imoral?), filosofis (bagaimana bisa dosa dialihkan?), dan logis (bila Kristus sudah menggantikan, mengapa orang percaya masih mengalami kematian?).
RESENSI BUKU : LEADING BEYOND THE SECOND CHAIR. A CERTAIN KIND OF LEADERSHIP SIA KOK SIN
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 17, No 9 (2015): SEPTEMBER 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v3i2.42

Abstract

Buku ini adalah buku tentang kepemimpinan yang unik, karena buku ini tidak bertujuan untuk mengupayakan para pemimpin yang kuat untuk menjadi kuat, tetapi lebih berkaitan dengan tujuan untuk menghargai panggilan kepemimpinan, menerima tugas kepemimpinan dan menumbuhkan karakter yang dikehendaki oleh Tuhan (p. 23) Buku ini adalah tentang kepemimpinan dari pemimpin "the second chair" (yang duduk  sebagai orang kedua, ketiga dst.) serta bukan pemimpin tertinggi ("first chair" atau "top leader"). Pemimpin semacam ini mempunyai tugas untuk memimpin, tetapi juga bertugas untuk menopang dan menaati pemimpin yang ada di atasnya. Buku ini mengingatkan yang terutama bukanlah kedudukan sebagai pemimpin yang pertama atau kedua, tetapi bagaimana kepemimpinan yang "God-centered and others-centered" dan bukannya "self-centered') (p. 24).
ANALISA PANGGILAN YUNUS DALAM KITAB YUNUS 1:1-17 GUMULYA DJUHARTO
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 2, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v2i1.16

Abstract

Penelitian terhadap panggilan Yunus pada dasarnya adalah pelajaran dari kegagalan Yunus memahami isi hati Tuhan yang luas, yang menyimpan kesempatan bagi orang-orang non Yahudi untuk mengalami keselamatan di dalam TUHAN; kontras dengan sikap eksklusivisme sebagian orang Yahudi yang menganggap keselamatan hanya bagi orang Yahudi belaka. Intinya bukan konsep keselamatan universal, tetapi pengakuan terhadap TUHAN, Pencipta langit dan bumi, laut dan darat, yaitu TUHAN yang universal, bukan ilah-ilah lokal seperti keyakinan umum di Timur Dekat Kuno. Panggilan kepada Yunus adalah panggilan universal kepada para hamba-Nya untuk terlibat dalam rencana keselamatan Allah bagi dunia ini dan tidak sibuk pada tindakan-tindakan berorientasi pada diri sendiri. Keterlibatan dalam rencana Allah menuntut para hamba-Nya untuk hidup berpadanan dengan kehendak-Nya yang agung dan mulia, suatu hidup yang penuh dengan kedamaian meskipun kadang harus melewati ‘badai’ kehidupan yang keras menghadang. Ini didasari oleh keyakinan bahwa kehadiran Allah lebih penting dari sarana terbaik yang ditawarkan dunia namun tanpa kehadiran Allah di dalamnya!   Kata kunci : panggilan, kedaulatan Tuhan, Tuhan yang universal, kehadiran Tuhan, memahami isi hati Tuhan  
RESENSI BUKU : THE BIBLICAL HEBREW COMPANION FOR BIBLE SOFTWARE USERS SIA KOK SIN
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 2 (2017): SEPTEMBER 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v5i2.65

Abstract

Dalam buku ini Michael Williams berupaya menjembatani 2 ekstrem dalam kaitan studi bahasa Ibrani. Ekstrem yang pertama tetap berpendapat bahwa studi bahasa Ibrani dengan pola ―lama‖ yang meliputi penguasaan paradigma, tata bahasa, sintaks dan kosa kata dengan tidak mempedulikan perkembangan teknologi yang dapat mempermudahkan studi bahasa. Ekstrem yang lain sangat bergantung pada teknologi dan mempersamakan mempelajari perangkat lunak (software) Alkitab dengan mempelajari bahasa asli Alkitab. (p. 5)  Buku ini ditujukan bagi mereka yang menggunakan program perangkat lunak Alkitab (Accordance Bible Software, BibleWorks atau  Logos Bible Software). Perangkat lunak tersebut memberikan informasi teknis tata bahasa Ibrani, dan buku ini memberikan penjelasan informasi teknis tata bahasa yang sedang diselidiki, sehingga seseorang sungguh mendapatkan manfaat yang maksimal dari perangkat lunak Alkitab yang digunakannya. (p. 7)
ANALISA NARASI TENTANG RELASI DAUD DENGAN ABSALOM DALAM 2 SAMUEL 13-19 GUMULYA DJUHARTO
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 3, No 1 (2015): MARET 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v3i1.32

Abstract

Penelitian terhadap relasi Daud dengan Absalom menjadi pelajaran berharga terkait relasi orang tua dengan anak, khususnya relasi seorang ayah dengan anak laki-lakinya. Setelah membaca teks seputar Daud dan Absalom, penulis diyakinkan bahwa masalah relasi yang tidak terjalin konstruktif di antara keduanya diakibatkan oleh hilangnya komunikasi langsung dua arah di antara mereka berdua. Hilangnya jenis komunikasi seperti itu coba dilengkapi oleh narator melalui berbagai cara. Pertama, menampilkan peran Absalom terhadap Tamar pasca pemerkosaan yang dilakukan Amnon, yang sebenarnya lebih tepat bila peran tersebut dilakukan oleh Daud sebagai ayah kandung Tamar : memahami permasalahan yang terjadi dan perasaan Tamar; menolong Tamar melewati masa sulit dan membelanya; memberikan ketenangan emosional kepada Tamar. Kedua, menampilkan ketidakpekaan Daud terhadap permintaanpermintaan Absalom yang berujung pada pembunuhan terhadap Amnon. Penulis melihat jika Daud memenuhi permintaan untuk hadir dalam acara pengguntingan bulu domba, pertumpahan darah tidak akan terjadi. Ketiga, melalui nasihat tidak langsung dari perempuan Tekoa melalui rekayasa kasus yang sebenarnya mengandung tindakan-tindakan penting yang seharusnya dilakukan Daud, antara lain: menjadi penengah di tengah konflik yang terjadi; mencegah agar konflik tidak makin meluas; menyelesaikan masalah dengan bijak; menyampaikan kata-kata yang menenangkan hati; dan memberikan teladan hidup. Penulis melihat semuanya ini adalah pemaparan tentang sisi melankolis Daud yang justru melemahkan kepemimpinan Daud, khususnya kepemimpinan dalam keluarga. Ironisnya, melalui pemaparan relasi dengan anak buah dan rekan-rekannya, Daud justru menampilkan sisi melankolis, yang bukan melemahkan, melainkan justru memperkuat sisi kolerik kepemimpinan Daud. Akhirnya, penulis melihat bahwa semua tragedi di tengah keluarga Daud Penelitian terhadap relasi Daud dengan Absalom menjadi pelajaran berharga terkait relasi orang tua dengan anak, khususnya relasi seorang ayah dengan anak laki-lakinya. Setelah membaca teks seputar Daud dan Absalom, penulis diyakinkan bahwa masalah relasi yang tidak terjalin konstruktif di antara keduanya diakibatkan oleh hilangnya komunikasi langsung dua arah di antara mereka berdua. Hilangnya jenis komunikasi seperti itu coba dilengkapi oleh narator melalui berbagai cara. Pertama, menampilkan peran Absalom terhadap Tamar pasca pemerkosaan yang dilakukan Amnon, yang sebenarnya lebih tepat bila peran tersebut dilakukan oleh Daud sebagai ayah kandung Tamar : memahami permasalahan yang terjadi dan perasaan Tamar; menolong Tamar melewati masa sulit dan membelanya; memberikan ketenangan emosional kepada Tamar. Kedua, menampilkan ketidakpekaan Daud terhadap permintaanpermintaan Absalom yang berujung pada pembunuhan terhadap Amnon. Penulis melihat jika Daud memenuhi permintaan untuk hadir dalam acara pengguntingan bulu domba, pertumpahan darah tidak akan terjadi. Ketiga, melalui nasihat tidak langsung dari perempuan Tekoa melalui rekayasa kasus yang sebenarnya mengandung tindakan-tindakan penting yang seharusnya dilakukan Daud, antara lain: menjadi penengah di tengah konflik yang terjadi; mencegah agar konflik tidak makin meluas; menyelesaikan masalah dengan bijak; menyampaikan kata-kata yang menenangkan hati; dan memberikan teladan hidup. Penulis melihat semuanya ini adalah pemaparan tentang sisi melankolis Daud yang justru melemahkan kepemimpinan Daud, khususnya kepemimpinan dalam keluarga. Ironisnya, melalui pemaparan relasi dengan anak buah dan rekan-rekannya, Daud justru menampilkan sisi melankolis, yang bukan melemahkan, melainkan justru memperkuat sisi kolerik kepemimpinan Daud. Akhirnya, penulis melihat bahwa semua tragedi di tengah keluarga Daud Penelitian terhadap relasi Daud dengan Absalom menjadi pelajaran berharga terkait relasi orang tua dengan anak, khususnya relasi seorang ayah dengan anak laki-lakinya. Setelah membaca teks seputar Daud dan Absalom, penulis diyakinkan bahwa masalah relasi yang tidak terjalin konstruktif di antara keduanya diakibatkan oleh hilangnya komunikasi langsung dua arah di antara mereka berdua. Hilangnya jenis komunikasi seperti itu coba dilengkapi oleh narator melalui berbagai cara. Pertama, menampilkan peran Absalom terhadap Tamar pasca pemerkosaan yang dilakukan Amnon, yang sebenarnya lebih tepat bila peran tersebut dilakukan oleh Daud sebagai ayah kandung Tamar : memahami permasalahan yang terjadi dan perasaan Tamar; menolong Tamar melewati masa sulit dan membelanya; memberikan ketenangan emosional kepada Tamar. Kedua, menampilkan ketidakpekaan Daud terhadap permintaanpermintaan Absalom yang berujung pada pembunuhan terhadap Amnon. Penulis melihat jika Daud memenuhi permintaan untuk hadir dalam acara pengguntingan bulu domba, pertumpahan darah tidak akan terjadi. Ketiga, melalui nasihat tidak langsung dari perempuan Tekoa melalui rekayasa kasus yang sebenarnya mengandung tindakan-tindakan penting yang seharusnya dilakukan Daud, antara lain: menjadi penengah di tengah konflik yang terjadi; mencegah agar konflik tidak makin meluas; menyelesaikan masalah dengan bijak; menyampaikan kata-kata yang menenangkan hati; dan memberikan teladan hidup. Penulis melihat semuanya ini adalah pemaparan tentang sisi melankolis Daud yang justru melemahkan kepemimpinan Daud, khususnya kepemimpinan dalam keluarga. Ironisnya, melalui pemaparan relasi dengan anak buah dan rekan-rekannya, Daud justru menampilkan sisi melankolis, yang bukan melemahkan, melainkan justru memperkuat sisi kolerik kepemimpinan Daud. Akhirnya, penulis melihat bahwa semua tragedi di tengah keluarga Daud seharusnya dapat diselesaikan dan tidak makin melebar apabila Daud meneladani mentalitas Ahimaas yang bertindak bukan untuk memuaskan pribadi tertentu, atau bukan untuk mendapatkan keuntungan, atau bahkan bukan untuk mendapatkan posisi penting atau penghargaan orang lain melainkan kerinduan yang besar untuk menyatakan kebenaran yang bila semuanya ini dilakukan dengan bijaksana, dia akan menjadi pemimpin yang tidak pernah menggadaikan kebenaran yang diyakininya. Bahkan, dia berpotensi menjadi pemimpin yang menjadi agen perubahan bagi orang-orang dan lingkungan sekitarnya.  Kata kunci :  Relasi orang tua dengan anak, Sisi melankolis dan   kolerik Daud, Kepemimpinan Daud, Kebijaksanaan
RESENSI BUKU : CREATIVITY, INC. : OVERCOMING THE UNSEEN FORCES THAT STAND IN THE WAY OF TRUE INSPIRATION AMOS WINARTO
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 2, No 2 (2014): September 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v2i2.22

Abstract

Dalam buku ini Catmull mengungkapkan, “keaslian itu masa depan yang belum dibuat”  (halaman 231). Untuk menciptakan originalitas tersebut, kita harus mengusahakan relasi dengan orang-orang yang lebih pandai dari diri kita sendiri, mendesak mereka untuk menyediakan masukan-masukan yang tulus dan terus terang. Ketakutan akan kegagalan janganlah justru mematikan kreativitas untuk membuat keaslian atau masa depan. Malah, kegagalan sebenarnya adalah “sebuah investasi di masa depan” (halaman 120).
ANALISA WACANA KRITIS IDEOLOGI NARASI KEPAHLAWANAN ESTER PEREDAKSIAN PERTAMA PERSPEKTIF NORMAN FAIRLOUGH Mahattama Banteng Sukarno
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v1i2.111

Abstract

Abstrak Sebagai media pengajaran umat, narasi dalam Kitab Suci termasuk dalam media komunikasi massa sekaligus merupakan bagian dari kebudayaan. Sebagai media dan kebudayaan, narasi dalam Kitab Suci tidak bisa dilepaskan dari ideologi yang menjadi bagian utama dalam proses produksi dan peredaksian narasi Kitab Suci, termasuk juga narasi dalam Kitab Ester. Analisa wacana kritis dalam perspektif Norman Fairlough dipergunakan untuk menganalisa bahasa sebagai praktik kekuasaan atau ideologis. Wacana ideologi narasi Kitab Ester pada peredaksian pertama bertujuan menjadi media propaganda bagi integrasi dan kohesi masyarakat Yahudi sekaligus sebagai counter ideologi yang perkembang dan mempengaruhi bangsa Yahudi pada masa peredaksian pertama. Kata Kunci: Ideologi; Narasi; Ester; Peredaksian; Mitologi; Babel; Elam

Page 8 of 17 | Total Record : 161