cover
Contact Name
Brury Eko Saputra
Contact Email
brury@sttaletheia.ac.id
Phone
+62341-426617
Journal Mail Official
brury@sttaletheia.ac.id
Editorial Address
Jl. Argopuro No.28-34, Lawang, Kec. Lawang, Malang, Jawa Timur 65211
Location
Kab. malang,
Jawa timur
INDONESIA
Sola Gratia: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
ISSN : 27232786     EISSN : 27232794     DOI : https://doi.org/10.47596/sg.v1i2
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi di bidang Teologi Biblika dan Praktika. Focus dan Scope penelitian SOLA GRATIA adalah: 1. Teologi Biblikal 2. Teologi Pastoral 3. Teologi Kontemporer
Articles 161 Documents
RESENSI BUKU : JESUS, CRITERIA, AND THE DEMISE OF AUTHENTICITY STEFANUS KRISTIANTO
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 6, No 1 (2018): MARET 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v6i1.74

Abstract

Buku ini dibuka dengan pengantar dari Morna Hooker yang mengisahkan perdebatannya dengan Norman Perrin (dan Reginald H. Fuller) sekitar tahun 1970. Di sana, Hooker menyampaikan kritiknya mengenai pembedaan autentik dan tidak autentik (yang menurutnya merupakan warisan kritik bentuk), di samping juga mengritik fungsi kriteria autentisitas yang problematis. Berfokus pada detil-detil demikian, menurutnya, hanya akan membuat sarjana kehilangan gambaran menyeluruh tentang siapa Yesus.
RESENSI BUKU : A NEW TESTAMENT THEOLOGY BRURY EKO SAPUTRA
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 7, No 1 (2019): MARET 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v7i1.90

Abstract

Buku ini bukan dengan tidak sengaja dinamai dengan A New Testament Theology. Menurut Blomberg, ia tidak memilih judul The New Testament Theology karena ada banyak tema yang pontesial menjadi pusat bagi Teologi Perjanjian Baru (p. 11). Meskipun demikian, ia meyakini bahwa tema penggenapan (fulfilment) dapat menjelaskan kesatuan dan pesan utama dari setiap kitab di dalam Perjanjian Baru (cf. pp. 10-11). Di dalam menuliskan bukunya ini, Blomberg memanfaatkan setiap kekuatan dari semua pendekatan utama (historical description, redemptive history, worldview or story, canonical, theological-construction) dalam menulis Teologi Perjanjian Baru (pp. 6-7). Kendatipun demikian, Blomberg mengakui bahwa modelnya lebih dekat dengan pendekatan redemptive-historical (p.7). Berhubungan dengan struktur, Blomberg berusaha menelusuri tema penggenapan dalam teks Perjanjian Baru secara kronologis (p. 9).
RESENSI BUKU : ADAT ISTIADAT ALKITAB DAN KEUNIKANNYA DALAM GAMBAR SIA KOK SIN
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 17, No 9 (2015): SEPTEMBER 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v3i2.41

Abstract

Buku George W. Knight, Adat Istiadat Alkitab dan Keunikannya Dalam Gambar memberikan informasi-informasi penting tentang budaya, kebiasaan atau adat istiadat tertentu yang sangat menolong pembaca masa kini untuk memahami Alkitab. Buku ini disusun mulai Kejadian sampai Wahyu, sehingga dapat menjadi pendamping saat membaca Alkitab
KEKERASAN HATI FIRAUN DALAM KITAB KELUARAN : TINDAKAN PRIBADI ATAU TINDAKAN ALLAH SIA KOK SIN
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 1, No 1 (2013): Maret 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v1i1.3

Abstract

Kekerasan hati Firaun dalam kitab Keluaran merupakan topik perdebatan teologis yang hangat. Permasalahan yang muncul adalah apakah kekerasan hati itu merupakan kehendak bebas Firaun atau “predetermination” Allah. Kekerasan hati Firaun merupakan salah satu persoalan teologis dalam kitab Keluaran. khususnya kalau kekerasan hati itu merupakan akibat dari tindakan Allah yang mengeraskannya. Apakah adil jika Allah yang mengeraskan hati Firaun, Ia juga yang menghukum Firaun oleh karena kekerasan hati itu? Urutan pemunculan ungkapan “Allah mengeraskan hati Firaun” (Kel. 4:21; 7:3) yang mendahului ungkapan “Hati Firaun berkeras” (Kel. 7:13) atau “Firaun tetap berkeras hati” (Kel. 8:15) menimbulkan kesan bahwa Allah yang pertama-tama mengeraskan hati Firaun dan bukannya tindakan atau pribadi Firaun untuk mengeraskan hatinya. Pemecahan terhadap masalah ini ada pada pertama, penyelidikan  ungkapan “Allah mengeraskan Firaun” (Kel. 4:21, 7:3) atau lebih tepatnya “Allah akan mengeraskan hati Firaun itu” muncul dalam bentuk YQTL (imperfect). Bentuk ini menyatakan bahwa memang Allah sedang atau akan membuat hati Firaun keras, tetapi tak menunjuk secara khusus kapan Ia melakukannya. Kedua, Kel. 3:19 menyatakan bahwa dalam kemahatahuan-Nya Allah telah tahu bahwa raja Mesir atau Firaun akan “mengeraskan hatinya” dengan tidak membiarkan Israel pergi dari Mesir. Firaun hanya akan melepaskan Israel setelah melewati penghukuman yang keras. Ayat ini penting oleh karena menyatakan bahwa Allah telah mengetahui bahwa Firaun akan mengeraskan hatinya. Perihal bahwa Allah juga akan mengeraskan hati Firaun tidak lagi menjadi masalah, oleh karena Firaun sendiri yang memulai mengeraskan hatinya. Tindakan Allah mengeraskan hati Firaun akan menambah kekerasan hati Firaun.Kata Kunci: kekerasan hati, Firaun, Allah
RESENSI BUKU : USING OLD TESTAMENT HEBREW IN PREACHING A GUIDE FOR STUDENTS AND PASTORS SIA KOK SIN
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 2 (2017): SEPTEMBER 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v5i2.64

Abstract

Melalui buku ini Paul D. Wegner mendorong dan memberikan langkah-langkah yang penting dan praktis untuk menggunakan pengetahuan bahasa Ibrani dalam mempersiapkan khotbah. Walau Wegner menghargai karya terjemahan Alkitab yang diusahakan para ahli, namun ia tetap mendorong setiap mahasiswa teologi dan pendeta untuk mempergunakan teks Alkitab dalam bahasa Ibrani atau Yunani. (pp. 7-9)
HAMBA TUHAN DAN KELUARGA AGUNG GUNAWAN
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 3, No 1 (2015): MARET 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v3i1.31

Abstract

Kehidupan keluarga Hamba Tuhan tidak akan pernah lepas dari sorotan orang-orang Kristen maupun orang non Kristen. Keluarga Hamba Tuhan dituntut untuk dapat menjadi teladan dan berkat bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Namun fakta menunjukkan bahwa banyak keluarga hamba-hamba Tuhan yang gagal menjadi panutan bagi banyak orang. Mulai dari ketidakharmonisan dalam keluarga hingga perceraian banyak dialami oleh keluarga-keluarga hamba Tuhan.  Mengapa hal ini bisa terjadi? Bukankah hamba Tuhan sangat mengerti tentang Firman Tuhan, khususnya dalam hal kehidupan berkeluarga? Masalahnya adalah tidak semua hamba Tuhan mengerti tentang hakekat dari sebuah pernikahan. Hakekat pernikahan Kristen adalah prakarsa Allah, proses pemulihan, pendewasaan, pemulihan dan penerimaan bagi pasangan suami istri. Hakekat pernikahan ini sering dilupakan dan diabaikan oleh pasangan hamba Tuhan. Selain daripada itu, hamba Tuhan juga tidak tahu bagaimana mengaplikasikan kasih, yang adalah dasar dari sebuah pernikahan Kristen, dalam praktik hidup sehari-hari. Akibat dari ketidakmengertian dan ketidaktahuan ini, banyak hamba Tuhan gagal mempertahankan pernikahannya, sehingga keluarganya menjadi batu sandungan bagi orang lain. Oleh sebab itu, hamba Tuhan harus belajar mengerti tentang hakekat pernikahan serta mau mengaplikasikan kasih dalam kehidupan keluarganya. Pemahaman tentang hakekat pernikahan Kristen serta kemauan untuk mengaplikasikan kasih di dalam keluarga hamba Tuhan, maka dengan demikian keluarganya akan mampu menjadi saksi, terang dan berkat bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.  Kata Kunci: Hamba Tuhan, Keluarga, Hakekat Pernikahan, Kasih.
RESENSI BUKU : PREACHING WITH VARIETY SIA KOK SIN
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 2, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v2i1.21

Abstract

Hal yang menjadi dasar pemikiran penulis adalah Allah adalah Komunikator yang Agung itu selalu berkomunikasi dengan manusia dalam kesegaran dan kreativitas-Nya. (h. 23-24). Oleh karena itu Alkitab yang merupakan wahyu khusus-Nya melimpah dengan berbagai bentuk (genre) sastra, seperti: puisi, hukum, perumpamaan, cerita, dll. (h. 24). Oleh karena dua hal itu, maka seseorang perlu berkhotbah dengan variasi melalui memperhatikan dan memanfaatkan bentuk (genre) bagian yang akan dikhotbahkan (h. 24). Seseorang harus berkhotbah dengan variasi, karena teks yang dipakainya juga menggunakan variasi. (h. 34).
MEMBACA TEKS KEKERASAN DALAM YOSUA 11 DAN IMPLIKASINYA BAGI KEKERASAN ATAS NAMA AGAMA DI INDONESIA Stefanus Suheru
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v1i2.120

Abstract

AbstractThis research addresses the problem of violence in the name of religion increasingly widespread in Indonesia. Ironically, the violence is getting legitimacy of scriptural texts, including the Bible. This means, that violence is not only driven by external motives such as political, economic and social development. Internal motives can also make a major contribution, even a major problem. Violence has theological roots, one of them, related to the interpretation of religious texts which, when understood literally, is able to present the figure of a violent religion. Solutions offered in this study is the reading of narratives of violence, with the text of Joshua 11 as an example, using the method of narrative analysis. The results showed that the text of Joshua 11 violence can not justify a Christian to be violent. The image of God as the Divine Warrior is ambiguous, kherem implementation that does not ignore the grace of salvation for outsiders to be insiders, and Israel's war put the violence in the name of religion in a position that is not relevant to the lives of Indonesia plural. Violence texts as core testimonies need to be matched with texts of peace as counter testimonies.AbstrakPenelitian ini membahas masalah kekerasan atas nama agama yang semakin marak di Indonesia. Ironisnya, kekerasan ini mendapatkan legitimasi dari teks-teks kitab suci, termasuk Alkitab. Hal ini berarti, kekerasan tidak hanya dipicu oleh motif-motif eksternal seperti kepentingan politik, ekonomi dan sosial.  Motif internal juga dapat memberikan kontribusi yang besar, bahkan merupakan masalah utama.  Kekerasan memiliki akar teologis, yang salah satunya, terkait dengan interpretasi teks-teks keagamaan yang ketika dipahami secara literal, mampu menghadirkan sosok agama yang penuh kekerasan. Solusi yang penulis tawarkan dalam penelitian ini adalah pembacaan narasi kekerasan, dengan teks Yosua 11 sebagai contoh, dengan menggunakan metode analisis naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teks kekerasan Yosua 11 tidak bisa dijadikan pembenaran orang Kristen untuk melakukan kekerasan. Citra Allah sebagai Divine Warrior yang ambigu, pelaksanaan kherem yang tidak menutup anugerah keselamatan bagi outsiders sehingga menjadi insiders, dan perang Israel yang bersifat kasuistik, menempatkan kekerasan atas nama agama pada posisi yang tidak relevan dengan kehidupan Indonesia yang majemuk.Teks-teks kekerasan sebagai core testimony perlu ditandingkan dengan teks-teks perdamaian sebagai counter testimony.
PEMURIDAN MELALUI PENDEKATAN KONSELING PASTORAL MARTHEN NAINUPU
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 1 (2017): MARET 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v5i1.55

Abstract

Abstrak: Pemuridan adalah bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan pelayanan penggembalaan gereja. Pemuridan adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh dan dari gereja secara terencana dan sistematis agar membantu setiap orang percaya atau anggota gereja dapat berakar kuat di dalam Kristus (Kolose 2:7), dan mencapai kedewasaan penuh serta tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Efesus 4:13). Pemuridan sebagai suatu usaha sadar berlangsung dalam suatu proses yang lama dan panjang bahkan seumur hidup dengan tujuan akhir ialah agar seluruh warga jemaat dapat melatih dan memuridkan orang lain lagi. Proses pemuridan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan dan cara. Salah satu cara atau pendekatan yang disajikan dalam tulisan ini ialah melalui konseling pastoral. Konseling pastoral sebagai suatu pendekatan pemuridan dibangun di atas dasar atau pola pemuridan Tuhan Yesus. Pola pemuridan Tuhan Yesus telah memberikan inspirasi dan panduan yang mendasar bagi keseluruhan proses konseling pastoral pada umumnya, terutama dalam kaitannya dengan konseling pastoral sebagai suatu pendekatan pemuridan. Konseling pastoral sebagai suatu pendekatan pemuridan mengandung makna membangkitkan kesadaran kritis terhadap dosa, mewujudkan pemulihan, perubahan dan pertumbuhan rohani menuju kepada kedewasaan dalam Kristus. Makna lainnya ialah meneruskan karya pemuridan Tuhan Yesus sebagaimana Ia amanatkan kepada gereja sampai Ia datang kembali. Dengan adanya konseling pastoral sebagai suatu pendekatan pemuridan akan dapat memperkaya kehidupan gereja dengan berbagai pendekatan untuk meningkatkan pemuridan dan kerohanian warga jemaat.  Kata-kata kunci: Panggilan pemuridan, konseling pastoral.
FAKTOR MEME DALAM PENGINJILAN : SEBUAH PENDEKATAN INTERATIF DALAM MEMAHAMI ROMA 10:14-15 BERDASARKAN PERSPEKTIF MEME MACHINE LINUS BAITO
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 6, No 2 (2018): SEPTEMBER 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v6i2.79

Abstract

Abstrak: Meme muncul hampir di setiap aspek kehidupan manusia. Hal itu bisa ditemukan dalam bahasa, lagu, politik, komunikasi di dunia medsos, dan bahkan dalam agama. Sehingga dalam banyak hal, seseorang sebenarnya melakukan sesuatu karena sebelumnya ia mendapat ide, kesan ataupun pengalaman sebagai stimulator. Kondisi tersebut bersifat dinamis dan transferabel. Seseorang cenderung meneruskan lagi kepada orang lain. Orang yang menerima hal tersebut, dengan sengaja ataupun tidak, meneruskannya lagi kepada orang lain hingga terjadi penggandaan dan bahkan multiplikasi ide, informasi, perasaan, reaksi yang berkembang dan hampir tidak dapat dikendalikan. Kondisi tersebut dikenal sebagai meme. Seperti mesin, meme memiliki daya dorong yang efektif untuk melakukan replikasi.   Berkaitan dengan kehidupan beragama, sejauh mana faktor meme/mimetik memainkan peran penting dalam kiprah penyebaran suatu ajaran? Khususnya dalam kekristenan, apakah ada korelasi antara pernyataan Paulus dalam Roma 10: 14-15 dengan faktor meme secara langsung? Adakah aspek lain, selain meme, yang menjadi kunci dari efektifitas pewartaan Kabar Baik yang dilakukan dalam kekristenan di seluruh dunia? Hal-hal itulah yang coba dikembangkan melalui tulisan kecil ini.Kata kunci: Meme, Replikator, Duplikasi, Pengulangan, Agama, Penginjilan, Pembawa Pesan, Kekristenan

Page 6 of 17 | Total Record : 161